Wapres Gibran kunjungi Papua, Gorontalo, dan NTT, fokus pada program prioritas di daerah 3T, dorong industri kakao, dan tinjau isu pendidikan serta kesehatan. [1,400] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Terik matahari menyorot Bandara Rendani Papua, tempat landasan Wakil Presiden Gibran Rakabuming bersama dengan rombongannya pada Sabtu (20/6/2026).
Di Bumi Cendrawasih, Gibran dan rombongan tiba 14.35 WIT. Mereka melanjutkan perjalanan setelah bertolak ke dua provinsi yakni Gorontalo dan NTT dalam rangka kunjungan kerja (kunker).
Ada yang berbeda dalam kunker kali ini. Sebab, Gibran tak hanya membawa rombongan Setwapres dan awak media, namun dia juga mengajak lima mahasiswa dari UI, ISBI, Unsoed, UPH dan Sanata Dharma.
Langkah ini sebagai tindak lanjut atas berbagai aspirasi dari mahasiswa terkait implementasi program prioritas pemerintah. Oleh sebab itu, ajakan ini ditujukan agar mahasiswa bisa melihat langsung implementasi program pemerintah secara riil di lapangan.
Di NTT misalnya. Gibran meninjau langsung program MBG di SMPN 1 Ndona Papua dan lokasi viral terkait isu penggusuran sekolah oleh pembangunan KDMP di SDN 1 Wolomoni.
Di Gorontalo, Gibran berkunjung ke SDN 07 Bulango yang sempat kebakaran pada 2022, meninjau pembangunan Bendungan Bulango Ulu hingga membuka Penas Petani Nelayan XVII.
Dorong Mansel jadi Pemain Utama Kakao
Di Papua, Gibran blusukan selama dua hari satu malam atau 2D1N. Persinggahan perdana di Tanah Papua, Gibran langsung melihat perkebunan Kakao dan pabrik coklat yang dikelola Koperasi Ebier Suth Cokran Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Papua Barat, Sabtu (20/06/2026).
Setibanya di lokasi, Gibran disambut warga Mansel dari berbagai kalangan baik anak-anak hingga orang dewasa. Di perkebunan, Gibran bersama Wamendagri Ribka dan pejabat daerah lainnya melakukan penanaman serentak bibit kakao.
Bibit yang ditanam merupakan kakao klon Trinitario varietas unggulan CKR-40, CKR-13, CKR-14, dan CKR-12. Kegiatan ini menjadi simbol percepatan program rehabilitasi kebun kakao Kementerian Pertanian TA 2026 di Kabupaten Manokwari Selatan.
Melalui program tersebut, sebanyak 2.000 hektare lahan akan dikelola untuk pengembangan kakao, dengan alokasi 1.800 hektare oleh petani kakao Manokwari Selatan dan 200 hektare oleh Koperasi Ebier Suth Cokran.
Adapun, saat ini sekitar 88 hingga 90 persen tenaga kerja PT Ebier Suth Cokran berasal dari masyarakat adat Papua yang terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pembibitan, budidaya, panen, hingga pengolahan pascapanen dan pengendalian mutu.
Direktur Manajemen Pemasaran dan Komunikasi PT Ebier Suth Cokran, Febri Sumbung, mengatakan kunjungan Wapres menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong industri kakao nasional yang produktif dan berkelanjutan.
“Wakil Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama kakao dunia, namun hal tersebut harus dibangun melalui peningkatan produktivitas, kualitas, hilirisasi, serta pengelolaan kebun yang ramah lingkungan,” ujar Febri di lokasi.
Kunjungi Pesparawi Nasional XIV
Seusai tinjau pabrik coklat, Gibran membuka acara Pespawari Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Pesparawi merupakan ajang kompetisi paduan suara gerejawi yang diikuti oleh 5.434 peserta, tamu, dan penggembira dari 38 provinsi. Pada acara ini, Gibran membagikan sepeda serta alat musik untuk peserta Pesparawi.
Total ada lima peserta, tiga masih anak-anak dan dua sudah remaja. Mereka satu persatu ditanya oleh Gibran soal keahlian yang bakal ditampilkan di Pespawari. Keahliannya cukup beragam, ada soal tarian, ikut parade devile, hingga bernyanyi.
Setelah memamerkan keahliannya itu, kelima anak mendapatkan hadiah dari Gibran. Khusus tiga anak diberikan sepeda, sementara dua remaja menerima alat musik.
"Ini yang kecil-kecil saya kasih sepeda ya. Mau sepeda? Kamu bisa naik sepeda? Bisa?" tanya Gibran.
"Bisa," jawab anak itu.
"Sepedanya gede-gede. Bisa? Bener? Kamu bisa naik sepeda?" ujar Gibran, dan disanggupi ketiga anak.
"Nah, untuk yang gede-gede, ini ada alat musik. Keyboard atau gitar?" tanya Gibran, dua remaja ini pun mendapatkan masing-masing satu alat musik.
Keliling Asmat
Setelah seharian di Manokwari, Gibran bersama mahasiswa mengunjungi salah satu kabupaten di Papua Selatan yakni Asmat. Lokasi ini sempat dikunjungi oleh ayahnya yang juga Presiden ke-7 Joko Widodo pada 2018.
Kala itu, jalanan masih berbahan kayu-kayu yang disusun. Namun demikian, kini jalanan di lokasi sudah sebagian dilapisi beton. Selama di Asmat, Gibran dan rombongan menggunakan sepeda motor yang ditenagai listrik.
Titik pertama yang disinggahi Gibran yaitu Museum di Asmat. Di sini, terdapat momen haru lantaran salah satu mahasiswa yang diajak Gibran adalah warga Asmat yakni Kaletus Sakaro bertemu dengan ayahnya setelah tidak pulang selama dua tahun.
Di hadapan Kaletus dan ayahnya, Gibran berjanji akan memfasilitasi ayah Kaletus untuk menghadiri wisuda di Yogyakarta jika anaknya sudah lulus.
Di samping itu, Gibran juga diperlihatkan karya seni ukir hasil tangan-tangan warga Asmat. Tak hanya itu, Gibran juga diperlihatkan satu motor listrik bersejarah yang sempat digunakan Jokowi untuk mengelilingi Asmat.
Motor listrik yang ditunggangi Jokowi itu berkelir merah dengan pelat RI. Motor listrik ini pun menjadi menjadi salah satu barang yang dipajang di dalam museum
Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo mengatakan, Jokowi dan Gibran adalah Presiden dan Wakil Presiden RI pertama yang datang langsung ke Asmat di Agats.
Dia pun menyatakan bahwa kedatangan Jokowi merupakan kebanggan bagi warga Asmat lantaran telah meninggalkan legasi yang berkesan saat kunjungan delapan tahun silam.
"Presiden pertama yang berkunjung ke sini Pak Jokowi. Wakil presiden pertama Bapak Gibran," kata Thomas kepada Gibran di Museum Asmat, Minggu (21/6/2026).
Setelah di Museum, Gibran beranjak mengunjungi progres pembangunan Gereja Katedral Salib Suci Baru, pembuatan sagu di Sekolah Sagu hingga mengakhiri kunjungan di RSUD Perpetua J. Safanpo.
Perjuangkan Program Prioritas di 3T
Usai melakukan kunker dan menyerap aspirasi masyarakat dari NTT, Gorontalo dan Papua. Gibran menyatakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti MBG harus diprioritaskan di daerah terluar, terdepan dan tertinggal atau 3T.
Hal tersebut disampaikan oleh Gibran saat melakukan kunjungan kerja ke Asmat, Papua Selatan pada Minggu (21/6/2026).
"Empat hari terakhir ini kan sudah saya ajak ke Ende, Gorontalo, Manokwari, dan ini hari Minggu ini kita di Asmat. Perlu kita highlight di sini bahwa kami memperjuangkan program-program prioritas dari Bapak Presiden di area-area 3T. MBG misalnya, harus kita perjuangkan di sini di Asmat," ujar Gibran.
Khusus di Asmat, Gibran menyatakan telah berdialog dengan tokoh agama agar bisa berkolaborasi dengan gereja keuskupan maupun kantin sekolah untuk mengoptimalkan program MBG.
Selain pembahasan MBG, eks Wali Kota Solo ini juga menyoroti persoalan lain seperti kesehatan agar nantinya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.
"Jadi nanti untuk masalah kesehatan akan kita lakukan intervensi juga. Dan program-program lain apa pun itu kalau dari saya pribadi siap untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama. Dan yang paling mengerti kondisi lapangan," imbuhnya.
Lebih jauh, Gibran juga memastikan bakal mendukung pengelolaan sagu di Asmat agar bisa lebih berkembang untuk nantinya bisa mengangkat perekonomian lokal. Selain itu, Gibran juga menyatakan untuk menindaklanjuti persoalan lain dari setiap daerah selama kunker dari mulai 18 Juni hingga 21 Juni 2026.
Testimoni Mahasiswa
Rapid Rapid Bena Matin salah satu mahasiswa yang diajak dalam kunker ini menyatakan bahwa program prioritas MBG perlu diprioritaskan di wilayah 3T. Mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed ini menjelaskan kondisi masyarakat khususnya di 3T sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat agar menekan angka stunting.
"Secara pribadi saya setuju MBG ini perlu diprioritaskan dan didahulukan untuk daerah daerah 3T dengan manfaat untuk mencegah stunting, meningkatkan asupan gizi anak yang layak, membawa dampak perekonomian yang positif bagi masyarakat sekitar, membantu mengurangi beban masyarakat disana," ujar Rapid.
Namun demikian, Rapid menekankan bahwa pemerintah juga sebaiknya bisa memperhatikan lebih dulu kebutuhan fundamental bagi sektor pendidik. Misalnya, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah hingga kesejahteraan tenaga pendidik
Dia pun mengharapkan agar pemerintah bisa mempertimbangkan agar penyelenggaraan MBG di wilayah yang sudah maju agar ditinjau ulang agar tidak terjadi pemborosan anggaran.
"Sehingga keuangan negara juga membaik dan penerimanya tepat sasaran. Lebih jelasnya dilakukan pemetaan ulang sesuai dengan wilayah. Dan dalam pelaksanaannya nanti bisa melibatkan kantin kantin sekolah, dapur dapur umum masyarakat yang sudah ada, sehingga biayanya lebih efisien dan efektif," imbuhnya.
Selain itu, dia juga menyoroti soal pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar bisa dikaji untuk dibangun di titik-titik yang tepat. Tentunya, penentuan titik ini sudah dikoordinasikan dengan masyarakat.
Senada, Mahasiswa Ilmu Sejarah UI, Daffa Ulhaq menyatakan agar pemerintah bisa menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar sebelum melaksanakan program MBG.
"Pemerintah mesti sadar bahwa mungkin selama ini target MBG itu tidak sesuai, dan dalam pelaksanaannya juga banyak kesenjangan serta ketimpangan," ujarnya.
Lebih jauh, menurutnya, penentuan pelaksanaan program MBG ini lebih kompleks karena harus memikirkan karakteristik masing-masing daerah. Pada intinya, Daffa berharap agar program ini bisa dikaji ulang pemerintah.
"Setiap daerah punya persoalannya masing-masing yang jauh lebih kompleks. Jadi, apakah program ini bisa berjalan efektif? Belum tentu di setiap daerah bisa sama. Makanya pemerintah perlu mengkaji ulang hal ini," pungkasnya.
Adapun, keduanya menyatakan bakal membuat laporan terkait dengan kunjungan ini secara objektif yang menggambarkan kondisi riil di lapangan serta aspirasi dari perspektif masing-masing mahasiswa.
Wapres Gibran menekankan pentingnya program MBG dan dukungan ekonomi lokal di daerah 3T, seperti Asmat, dengan kolaborasi tokoh agama dan pemerintah. [217] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti MBG harus diprioritaskan di daerah terluar, terdepan dan tertinggal atau 3T.
Hal tersebut disampaikan oleh Gibran saat melakukan kunjungan kerja ke Asmat, Papua Selatan pada Minggu (21/6/2026).
"Perlu kita highlight di sini bahwa kami memperjuangkan program-program prioritas dari Bapak Presiden di area-area 3T. MBG misalnya, harus kita perjuangkan di sini di Asmat," ujar Gibran.
Khusus di Asmat, Gibran menyatakan telah berdialog dengan tokoh agama agar bisa berkolaborasi dengan gereja keuskupan maupun kantin sekolah untuk mengoptimalkan program MBG.
Selain pembahasan MBG, eks Wali Kota Solo ini juga menyoroti persoalan lain seperti kesehatan agar nantinya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.
"Jadi nanti untuk masalah kesehatan akan kita lakukan intervensi juga. Dan program-program lain apa pun itu kalau dari saya pribadi siap untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama. Dan yang paling mengerti kondisi lapangan," imbuhnya.
Lebih jauh, Girban juga memastikan bakal mendukung pengelolaan sagu di Asmat agar bisa lebih berkembang untuk nantinya bisa mengangkat perekonomian lokal.
"Apalagi kemarin kita baru saja membuka Penas di Gorontalo. Ya jadi komoditas-komoditas seperti ini yang nanti ke depan harus kita dukung. Jadi komoditas lokal seperti sagu harus kita dukung dan sebenarnya ini sudah berjalan lama dan sudah didukung oleh keuskupan," pungkasnya.
Di tengah wacana pemerintah memberikan subsidi kendaraan hybrid dan mobil listrik di kota-kota besar, Kabupaten Asmat justru memberikan contoh nyata bagaimana kendaraan listrik lebih dibutuhkan di da [700] url asal
Jakarta: Di tengah wacana pemerintah memberikan subsidi kendaraan hybrid dan mobil listrik di kota-kota besar, Kabupaten Asmat justru memberikan contoh nyata bagaimana kendaraan listrik lebih dibutuhkan di daerah yang mengalami krisis distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Wilayah yang berada di ujung timur Indonesia itu telah lama menggunakan kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas masyarakat sehari-hari. Bahkan, Kota Agats di Kabupaten Asmat dikenal sebagai “Kota Seribu Motor Listrik” karena mayoritas warganya menggunakan motor listrik jauh sebelum tren kendaraan listrik berkembang di kota besar.
“Transisi kendaraan listrik ternyata tidak harus dimulai dari kota metropolitan. Asmat membuktikan bahwa kendaraan listrik justru paling relevan diterapkan di daerah yang kesulitan BBM,” ujar Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno.
Menurut Djoko, penggunaan kendaraan listrik di Asmat lahir dari kebutuhan nyata masyarakat terhadap moda transportasi yang murah, efisien, dan sesuai dengan kondisi geografis wilayah rawa.
Kota Agats sendiri dibangun di atas jalan panggung berbahan kayu dan beton karena kondisi tanah berawa. Kendaraan listrik dinilai lebih cocok karena memiliki bobot lebih ringan dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.
“Motor listrik mengurangi beban pada struktur jalan panggung. Selain itu ukurannya lebih ringkas sehingga cocok untuk jalan-jalan sempit di Agats,” katanya.
Tidak hanya itu, kendaraan listrik juga membantu masyarakat mengurangi ketergantungan pada BBM yang selama ini mahal dan sulit didistribusikan ke wilayah pedalaman Papua Selatan. Djoko mengungkapkan, sebelum ada kebijakan BBM satu harga, harga BBM di Asmat bahkan pernah mencapai Rp60 ribu per liter.
“Karena distribusi BBM sulit dan mahal, masyarakat akhirnya beradaptasi menggunakan kendaraan listrik. Ini justru menjadi bentuk kemandirian energi masyarakat,” ujarnya.
Saat ini hampir seluruh warga Agats menggunakan motor listrik dengan empat hingga enam baterai berkapasitas sekitar 20–22 ampere-hour (Ah). Pengisian daya dilakukan secara mandiri di rumah selama 8–10 jam per hari.
Selain itu, ojek listrik juga menggeliat di Agats yang bahkan dilindungi kebijakan, seperti Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Selain itu, ada juga Perda Nomor 7 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha dan Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2017 tentang Angkutan Darat dan Sungai.
Data Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat menyebutkan, terdapat 22 pangkalan ojek listrik. Ojek yang beroperasi di Kota Agats menggunakan pelat kendaraan berwarna kuning. Regulasi itu, mengatur retribusi kendaraan bermotor listrik (ojek) yang disewakan sebesar Rp 500.000 per tahun, retribusi kendaraan bermotor listrik pribadi Rp 150.000 per tahun, dan sewa lahan untuk ojek Rp 1 juta per tahun.
Ia menilai pengalaman Asmat seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan subsidi kendaraan listrik nasional. Menurutnya, daerah yang mengalami keterbatasan distribusi BBM justru lebih membutuhkan dukungan pengembangan kendaraan listrik dibanding kota besar.
“Subsidi kendaraan listrik jangan hanya berorientasi pada masyarakat perkotaan. Wilayah yang kesulitan BBM seperti Asmat justru lebih membutuhkan kendaraan listrik,” tegasnya.
Djoko mengatakan sektor transportasi saat ini masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi BBM nasional. Di sisi lain, populasi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data BPS, Kementerian Perhubungan, dan Kompas, jumlah kendaraan listrik nasional baru mencapai sekitar 333.561 unit atau sekitar 0,19 persen dari total kendaraan pada 2025. Padahal pemerintah menargetkan penggunaan kendaraan listrik mencapai 10 persen untuk menekan konsumsi BBM nasional.
Menurut Djoko, antrean panjang di SPBU yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil. Karena itu, pengembangan kendaraan listrik di daerah terpencil dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi ongkos distribusi BBM sekaligus meningkatkan mobilitas ekonomi masyarakat.
“Kalau Asmat yang wilayahnya rawa dan distribusi energinya sulit saja bisa berhasil menggunakan kendaraan listrik, daerah lain tentu juga bisa,” kata dia.
Data Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat mencatat jumlah motor listrik di Agats terus meningkat. Pada 2018 tercatat sekitar 1.280 unit, sedangkan saat ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 4.000 unit. Selain kendaraan pribadi, ojek listrik juga berkembang pesat di Agats dan didukung regulasi daerah melalui sejumlah peraturan daerah dan peraturan bupati. Bagi Djoko, keberhasilan Asmat merupakan contoh penting bahwa transisi energi nasional harus dimulai dari kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren global.
Dia menuturkan transformasi di ujung timur Indonesia ini memberikan pelajaran berharga bagi peta jalan transportasi nasional. Jika sebuah wilayah dengan tantangan geografis yang kompleks mampu melepaskan diri dari ketergantungan BBM, maka adopsi kendaraan listrik di wilayah lain bukanlah hal yang mustahil untuk mewujudkan kedaulatan energi Indonesia.
Michael Rockefeller, anak dari keluarga kaya, hilang misterius saat penelitian suku Asmat di Papua. Berbagai teori muncul, namun jasadnya tak pernah ditemukan. [631] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia — Pada beberapa tahun silam, pria asal Amerika Serikat, Michael Rockefeller, hilang misterius dalam misi penelitian suku Asmat di pedalaman Papua. Pencarian besar-besaran pun dilakukan, namun hingga detik ini jasadnya tak pernah ditemukan.
Sebagai antropolog muda, Michael sangat tertarik mempelajari kehidupan sosial dan budaya di wilayah-wilayah terpencil dunia. Ketika mendengar tentang ekspedisi yang akan meneliti suku-suku pedalaman Papua dan mendokumentasikan kehidupan mereka, dia tak ragu untuk ikut serta.
Siapa sangka, Michael berasal dari trah Rockefeller, salah satu keluarga terkaya di dunia yang menguasai bisnis minyak Amerika Serikat. Ayahnya, Nelson Rockefeller, adalah Gubernur New York era 1959-1973.
Kelak, dia menjabat sebagai Wakil Presiden AS periode 1974-1978. Sementara sang ibu berprofesi sebagai perawat.
Pada November 1961, Michael akhirnya tiba di Papua setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari AS. Dia datang bersama tim dari Universitas Harvard. Mereka memulai penelitian dengan mendatangi Suku Dani. Lalu dilanjutkan memproduksi film dokumenter berjudul Dead Birds.
Di film itu, Michael bertugas sebagai teknisi suara dan fotografer. Setelah proyek selesai, Michael juga mengumpulkan artefak dan karya seni buatan Suku Dani. Kebetulan, ayahnya punya museum yang bakal menampung temuan anaknya.
Namun, minatnya mempelajari kehidupan Papua belum surut. Sebagaimana diceritakan saudara kembarnya, Mary Rockefeller, dalam When Grief Calls Forth the Healing (2014), dia kembali lagi ke pedalaman Papua usai pulang menaruh barang di tempat istirahat.
Kali ini, dia akan menyambangi Suku Asmat di wilayah yang lebih terpencil. Dalam ekspedisi kedua, dia ditemani oleh pakar seni asal Belanda, Rene Wassing, dan dua pemandu, yakni Simon dan Leo. Keempat orang itu pergi menggunakan perahu sebab sangat sulit menembus hutan hujan tropis khas Papua.
Masalahnya, Sungai Betsj yang akan mereka susuri dipenuhi tantangan. Permukaannya tertutup vegetasi hijau lebat, arusnya deras, dan dihuni oleh banyak buaya. Jika perahu sampai terbalik, bisa dipastikan maut akan datang lebih cepat. Namun, Michael dan timnya tetap menyanggupi risiko tersebut.
Mereka memutuskan untuk berangkat. Namun, pada 18 November 1961, petaka pun datang. Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi buruk dan badai. Hujan deras membuat arus sungai semakin kuat. Perahu mereka tak sanggup menahan derasnya arus, hingga akhirnya terbalik.
Untuk menyelamatkan diri, mereka menaiki perahu yang terbalik sembari menyusun strategi penyelamatan diri. Ketika cuaca sudah normal esok pagi, Michael tidak sabar untuk mencari tempat aman. Dia ngotot ingin ke daratan. Padahal, rekan-rekan yang lain berupaya menahan keinginan pria berkacamata itu sebab sangat beresiko.
Michael akhirnya mengikat jerigen kosong ke pinggang lalu berenang menuju pantai. Dia berkata keputusan ini bakal menyelamatkan rekan-rekannya. Jika selamat, maka pasti bantuan besar akan datang.
Setelah beberapa hari, Rene Wassing, Simon dan Leo berhasil mencapai daratan dan tempat istirahat. Ternyata, setelah dicari-cari di tempat aman, anak orang terkaya dunia itu tak ada. Orang-orang pun mengaku tidak melihat Michael datang. Di sinilah, dia dinyatakan hilang. Michael yang awalnya ingin mencarikan teman-temannya bantuan, malah berakhir dia yang dicari banyak orang.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Saya yakin dia tak sampai daratan sebab arusnya luar biasa deras," tutur Wassing kepada wartawan, dikutip dari Indonesian New Guinea Adventure Guide (2001).
Masih Misterius
Saat Michael hilang, beberapa anggota inti keluarga Rockefeller langsung terbang ke Papua, termasuk ayahnya, yakni Nelson. Mereka datang untuk memantau langsung proses pencarian oleh tim gabungan pemerintah AS dan Belanda. Sayang, setelah beberapa hari mencari hasilnya nihil. Michael tak berhasil ditemukan sampai sekarang. Bahkan, jasadnya pun tidak ada.
Dari sini berbagai teori bermunculan. Salah satu paling populer diutarakan jurnalis AS, Carlf Hoffman dalam Savage Harvest (2014) yang menyebut, Michael tewas dibunuh suku lokal. Lalu mayatnya dimakan. Namun, teori ini lemah dan tak ada pembuktian.
Selain itu, banyak orang percaya Michael tenggelam, tewas dimakan buaya, hingga sengaja menghilangkan diri demi membaur dengan suku lokal. Lagi-lagi semuanya tak bisa dibuktikan. Sampai sekarang, peristiwa hilangnya anak dari orang terkaya di dunia itu masih diselimuti misteri.
(lih/mkh)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56