Bisnis.com, JAKARTA – Penyusutan jumlah kelas menengah mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi belum terdistribusi secara optimal. Kondisi itu perlu menjadi perhatian serius karena kelas menengah merupakan backbone perekonomian dan berkontribusi lebih dari 80% terhadap total konsumsi masyarakat.
Sekadar catatan, Mandiri Institute melaporkan bahwa sebanyak 1,2 juta penduduk kelas sosial 'turun kasta' sepanjang 2025. Populasi penduduk kelas menengah menyusut dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa pada tahun ini.
Penurunan ini menyebabkan proporsi kelas menengah terhadap total populasi tergerus menjadi 16,6%, dari posisi 17,1% pada tahun sebelumnya.
Data menunjukkan, ketika kelas menengah menyusut, kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class justru membengkak tajam. Kelompok ini bertambah 4,5 juta jiwa, naik dari 137,5 juta jiwa pada 2024 menjadi 142,0 juta jiwa pada 2025.
Perkembangan tersebut menempatkan aspiring middle class sebagai kelompok mayoritas yang mendominasi 50,4% dari total penduduk Indonesia. Sejalan, kelompok rentan (24,1%) meningkatkan sekitar 200 ribu orang, dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta.
Konsekuensi Pelambatan Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa fenomena kontraksi jumlah kelas menengah terus merupakan konsekuensi logis dari perlambatan ekonomi, terutama sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Menurutnya, pandemi telah memukul sektor formal, tempat mayoritas kelas menengah menggantungkan hidup.
"Kan sejak Covid-19 melambat terus tuh [perekonomian], otomatis yang punya kerja [pekerjaan] formal kan hilang karena perusahaan tutup," ungkapnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Menariknya, alih-alih memberikan bantuan sosial tambahan atau insentif pajak khusus kelas menengah, Purbaya menekankan bahwa strategi utama pemerintah adalah menggenjot pertumbuhan ekonomi makro.
Dia cukup yakin bahwa, jika ekonomi tumbuh maka ruang bagi usaha baru akan terbuka sehingga diharapkan dapat menyerap kembali tenaga kerja ke sektor formal, yang pada akhirnya akan melahirkan kembali kelas menengah baru.
"Jadi strategi utamanya adalah penciptaan pertumbuhan ekonomi, yang menciptakan ruang bagi usaha baru bangkit, dan ada orang-orang yang berpenghasilan lebih formal lagi. Itu adalah penciptaan kelas menengah," jelasnya.
Saat dikonfirmasi kembali mengenai apakah ada alokasi insentif fiskal khusus tahun ini untuk menjaga eksistensi kelas yang mendorong konsumsi utama tersebut, Purbaya memastikan tidak ada. "Enggak ada. Insentifnya pertumbuhan ekonomi, biar mereka gampang cari kerja," ucapnya.
Ketimpangan Pengeluaran
Terlepas dari naik turunnya kelas menengah yang saat ini sedang menjadi perhatian banyak pihak, ketimpangan pengeluaran masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Kelompok 20% penduduk teratas, masih mendominasi total pengeluaran penduduk Indonesia kendati angkanya mulai mengecil.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 sebanyak 5,11%. Meski tercatat tumbuh, distribusi pendapatan masyarakat masih cukup timpang kendati ada perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
BPS mencatat sampai dengan September 2025, 20% penduduk teratas setidaknya memiliki 44,80% dari total pengeluaran penduduk Indonesia.
Secara tren jumlah ini sebenarnya mengalami penyusutan dibanding September 2024 dimana penduduk 20% ke atas mampu berkontribusi sebesar 46,24% dari total pengeluaran penduduk.
Sementara itu, berbanding terbalik dengan 20% penduduk teratas, masyarakat yang masuk kategori penduduk 40% menengah mengalami peningkatan peranannya. Kelompok ini tercatat memiliki kontribusi sebesar 35,92% dari total pengeluaran. Ada kenaikan kontribusi dibandingkan September 2024 yang hanya 35,35%.
Tren tersebut juga terjadi di dalam kelompok penduduk 40% terbawah. Kontribusi mereka naik dari 18,41% pada September 2024 menjadi 19,28% pada September 2025.
Pertumbuhan Belum Berkualitas?
Di sisi lain, BPS juga melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada November 2025 sebesar 4,74 persen, terus menurun sejak Agustus 2024. Pada Agustus 2024, angka pengangguran sebesar 4,91 persen.
Sementara itu, dari total 155,27 juta orang angkatan kerja, sebanyak 147,91 juta orang bekerja dan 7,35 juta orang menganggur.
Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal pun terus mengalami peningkatan dari 40,83 persen pada Februari 2024, 42,05 persen pada Agustus 2024, 40,60 persen di Februari 2025, 42,20 persen pada Agustus 2025, menjadi 42,30 persen di November 2025.
Sebaliknya, proporsi penduduk yang bekerja informal terus menyusut. Pada Agustus 2025 porsi penduduk yang bekerja informal tercatat sebesar 57,8%. Pada bulan November 2025 angkanya menurun menjadi 57,7%.
Meski demikian, proporsi kualitas pekerjaan penduduk bekerja berdasarkan jam kerjanya justru mengalami penurunan. Pada Agustus 2025 lalu, sebanyak 32,68% pekerja masuk dalam kategori pekerja tidak penuh. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Agustus 2024 yang tercatat sebesar 31,94%.
Ada Problem Struktural
Sementara itu, Koordinator Bidang Kajian Pengentasan Kemiskinan dan Ketimpangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho menilai pandangan pemerintah yang menganggap fenomena ini semata-mata akibat dampak residu Covid-19 adalah diagnosis yang kurang lengkap.
Menurutnya, data Mandiri Institute yang menunjukkan proporsi kelas menengah tergerus menjadi 16,6%, sementara kelompok aspiring middle class (calon kelas menengah) membengkak menjadi 50,4% dari total populasi, mengindikasikan adanya kerentanan struktural yang serius. "Masalah kita bukan sekadar kelas menengah menyusut, tetapi bahwa mesin mobilitas sosial kita sedang melambat," ujar Wisnu kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).
Dia menjelaskan bahwa struktur kelas menengah Indonesia relatif tipis dan mayoritas berada di batas bawah atau lower middle class. Kondisi ini membuat mereka sangat sensitif terhadap guncangan pendapatan: sedikit saja ada gejolak ekonomi, mereka akan langsung 'turun kasta' menjadi kelompok calon kelas menengah atau bahkan rentan.
Wisnu membedah empat faktor fundamental yang menyebabkan erosi kelas menengah ini terus berlanjut, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi agregat sebagaimana dicanangkan Purbaya.
Pertama, deformalisasi pasar kerja. Wisnu mengakui pandemi mempercepat hilangnya pekerjaan formal, namun masalah utamanya lebih dalam dari itu. Berdasarkan risetnya, penciptaan lapangan kerja di Indonesia belakangan ini cenderung berbasis pada kemampuan bertahan hidup (survivability), bukan pekerjaan yang mendorong mobilitas sosial.
"Banyak pekerjaan baru berada di sektor informal, gig economy, atau sektor berproduktivitas rendah. Jenis pekerjaan ini umumnya tidak memberikan stabilitas pendapatan jangka panjang," jelasnya.
Kedua, stagnasi produktivitas dan upah riil. Terjadi fenomena income squeeze atau himpitan pendapatan, di mana upah riil kelas menengah bawah relatif jalan di tempat, sementara biaya hidup—khususnya perumahan, pendidikan, dan transportasi—terus merangkak naik.
Laporan World Bank (Bank Dunia) bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025 mengonfirmasi fenomena tersebut. Lembaga berbasis di Washington DC itu mengungkapkan bahwa rata-rata upah riil di Indonesia mengalami kontraksi sebesar 1,1% per tahun sepanjang periode 2018—2024.
Ketiga, peningkatan pekerjaan rumahan dan pekerjaan rentan. Wisnu mencatat bahwa banyak dari pekerjaan ini tidak dilengkapi jaminan sosial, sehingga tidak menciptakan tangga untuk naik kelas. Keempat, absennya peredam kejut (shock absorber) bagi kelompok 'hampir menengah'. Kelompok calon kelas menengah yang kini menjadi mayoritas penduduk (142 juta jiwa) sangat rentan
Banyak dari mereka yang sebelumnya sudah masuk kelas menengah, namun tergelincir turun sedikit di bawah ambang batas karena tidak ada jaring pengaman yang memadai. "Jadi, ini bukan semata dampak Covid-19 yang tertunda, tetapi cerminan bahwa struktur ekonomi kita belum cukup menghasilkan pekerjaan produktif dan stabil," jelas Wisnu.