Bisnis.com, JAKARTA — Emiten BUMN farmasi, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) telah meracik strategi mempertahankan kinerja di tengah pelemahan rupiah yang semakin dalam.
Berdasarkan data TradingView, Pada Kamis (4/6/2026), rupiah di pasar spot dibuka di level Rp 17.983 per dolar AS.
Namun, rupiah terus melemah dan pada pukul 09.04 WIB, rupiah akhirnya tembus ke atas level Rp 18.000 per dolar AS usai bertengger ke level Rp 18.004 per dolar AS.
Hingga pukul 09.28WIB, rupiah pun terus melemah ke level Rp 18.029 per dolar AS.
Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa mengatakan perseroan mencatatkan perbaikan kinerja pada kuartal I/2026 dan berhasil membukukan laba. Namun, dia mengingatkan bahwa tantangan bisnis farmasi sepanjang sisa tahun ini masih sangat besar.
Dia memaparkan jetidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Iran, berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan biaya produksi industri farmasi yang masih bergantung pada berbagai bahan baku turunan petrokimia.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi ancaman bagi margin perusahaan, mengingat 90% bahan baku farmasi perseroan masih berasal dari impor.
"Kami melihat harga minyak, biaya logistik, dan nilai tukar dolar menjadi faktor yang sulit diprediksi. Karena itu kami menyikapi dengan cautious optimism," ujarnya usai RUPST, Rabu (3/5/2026).
Untuk menghadapi tekanan tersebut, perseroan bersama seluruh anak usahanya menjalankan program transformasi internal yang berfokus pada efisiensi operasional dan penguatan aspek komersial.
Program tersebut tidak hanya menyasar penghematan biaya, tetapi juga peningkatan pendapatan, optimalisasi proses bisnis, serta efisiensi rantai pasok dan manufaktur.
Direktur Keuangan KAEF Willy Meridian menilai langkah tersebut menjadi kunci agar perusahaan tetap mampu menjaga kinerja di tengah berbagai tekanan eksternal yang sulit dikendalikan.
"Kalau kami tidak melakukan apa-apa, outlook ke depan akan sangat sulit. Karena itu fokus kami adalah memperkuat efisiensi dan produktivitas di seluruh lini bisnis," katanya.
Di sisi lain, Kimia Farma juga menyambut positif langkah pemerintah yang mulai menyusun peta jalan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan obat nasional.
Menurutnya pada pekan lalu pemerintah mengumpulkan berbagai pelaku industri farmasi nasional, termasuk perusahaan farmasi BUMN dan swasta, guna membahas strategi pengembangan industri kesehatan dalam jangka panjang.
Djagad menjelaskan salah satu fokus utama adalah penguatan produksi bahan baku obat (BBO) dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.
"Kami melihat ada komitmen yang kuat dari pemerintah untuk membangun ketahanan obat nasional dalam jangka panjang. Pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya kemandirian industri farmasi," ujarnya.
Saat ini sejumlah fasilitas produksi bahan baku obat yang dimiliki grup Kimia Farma disebut telah beroperasi mendekati kapasitas penuh.
Selain efisiensi, Kimia Farma juga menyiapkan sejumlah sumber pertumbuhan baru untuk menopang kinerja 2026.
Salah satunya berasal dari pengembangan bisnis stem cell yang kini mulai bekerja sama dengan berbagai rumah sakit vertikal di Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses layanan sekaligus meningkatkan utilisasi fasilitas produksi stem cell yang dimiliki perseroan.
Di sektor farmasi, perusahaan juga menyiapkan peluncuran sejumlah produk baru yang akan melengkapi produk-produk yang telah diperkenalkan sepanjang 2025.
"Bisnis stem cell dan peluncuran produk baru akan menjadi salah satu growth driver kami pada 2026," terangnya.
Selama periode kuartal I/2026 telah berhasil membukukan laba menjadi Rp123,6 miliar dari rugi sepanjang tahun 2025 dengan nilai Rp443,35 miliar. Perseroan juga mencetak pendapatan bersih sebesar Rp2,03 triliun.
KAEF juga berhasil menekan beban pokok penjualan (COGS) dan beban usaha di awal 2026. Adapun COGS perseroan tercatat sebesar Rp1,2 triliun dengan beban usaha sebesar Rp270 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.