Fifin Suprianti, mantan bankir, sukses berbisnis keripik kentang "Kriken" di Medan sejak 2019, menjual ribuan bungkus per bulan secara offline dan online. [655] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Profesi sebagai bankir tak membuat Fifin Suprianti mantap memutuskan untuk menjalani pekerjaan yang menghidupi dia dan keluarganya tersebut seumur hidup.
Pada 2019, dia dan suami nekat resign dari pekerjaan mereka untuk memulai bisnis keripik kentang ‘Kriken’ dengan hanya bermodalkan keyakinan bahwa keripik buatan mereka akan disukai banyak orang. Alasannya sederhana, yakni karena sang anak yang masih usia sekolah dasar tak bosan-bosan makan nasi hanya dengan lauk keripik kentang.
Semua bermula dari peran ganda yang disandang Fifin. Suami dan anak yang lebih senang makan masakan rumahan membuat Fifin yang juga bekerja harus memutar otak agar tak perlu memasak setiap hari. Pilihannya jatuh pada keripik kentang.
“Kami semua sibuk, harus berangkat pagi. Saya dan suami bekerja, anak-anak sekolah. Keripik kentang inilah yang sering saya bikin sebagai penyelamat menu makanan kami,” tutur Fifin.
Dari dapur kecil di kediaman mereka di Kecamatan Medan Sunggal, Fifin dan suami mulai memproduksi keripik kentang dalam skala yang lebih besar untuk memenuhi pesanan konsumen. Saat itu, kata dia, pesanan sudah mulai ramai datang dari orang-orang terdekat. Namun Fifin tak mau hanya menunggu konsumen datang. Pasca resign, dia aktif mengikuti berbagai kelompok pengajian hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya. Di dalam tas, tak ketinggalan sekotak keripik kentang sebagai tester kepada kenalan-kenalan baru di pengajian, beserta kartu nama sebagai penyambung orderan.
Fifin mengaku merambah segala cara untuk memasarkan keripik kentang ‘Kriken’ yang dia produksi. Dia menyadari, keripik kentang sering dianggap cemilan ‘kuno’ dan identik dengan orang tua meski rasanya enak dan bisa dinikmati semua usia. Kegagapannya terhadap fitur jualan online (daring) saat itu justru memunculkan ide pemasaran Kriken yang tak biasa. Dia menggandeng anak-anak muda untuk ikut memasarkan Kriken.
“Kebetulan keponakan saya saat itu masih mahasiswa. Setiap akhir pekan, saya ajak dia dan teman-temannya jualan Kriken di Merdeka Walk ke orang-orang yang olahraga dengan sistem bagi hasil. Ternyata, laku keras,” ujarnya.
Tempat-tempat keramaian seperti taman kota maupun taman terbuka hijau adalah target pasar Fifin. Perempuan berdarah Sunda-Minang ini bahkan mengaku jadi sering berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar untuk sakit ringan seperti flu yang dideritanya demi dapat menawarkan tester Kriken yang selalu dibawa kepada calon konsumen di sana.
Aksi jemput bola Fifin sempat terhenti saat pandemi mewabah. Tak hilang akal, dia mengubah strategi pemasaran Kriken. Puluhan bungkus keripik kentang dibawanya ke rumah sakit sebagai penyemangat bagi tenaga kesehatan yang sibuk menangani pasien COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Saya titip ke satpam rumah sakit untuk dibagikan kepada nakes (tenaga kesehatan) di IGD. Tentu saja lengkap dengan stiker dan kontak yang bisa dihubungi untuk pemesanan,” kenangnya sambil tertawa.
Usaha keras Fifin tak berkhianat. Saat ini, ribuan bungkus Kriken kemasan 230 gram seharga Rp30.000 per bungkus berhasil terjual setiap bulan, baik secara offline maupun online melalui marketplace. Dia mengatakan pesanan berdatangan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk dari para pejabat dan instansi/ lembaga yang kerap memesan dalam jumlah besar. Fifin pun mengaku tak lagi memiliki data pasti reseller Kriken seiring membludaknya permintaan menjadi reseller.
Kegigihan membesarkan Kriken membuat Fifin hampir dengan mudah diterima menjadi mitra sejumlah instansi/ lembaga yang semakin membawanya ke pusaran konsumen. Kesempatan mengikuti pameran dia ambil, hingga Kriken mampu berpameran di Penang Malaysia.
Dari 30 kilogram (kg) kentang di awal produksi, saat ini dia menyebut sebanyak 800 kg kentang rutin dipasok distributor dari ‘Tanah Karo’ setiap minggu ke dapur produksi Kriken di Jalan Perwira No.50 Kecamatan Medan Sunggal. Fifin pun kini memiliki 6 (enam) orang pekerja di dapur yang merupakan warga sekitar komplek.
Tak hanya itu, Fifin juga mendapat makna lain nama Kriken dari pertemuannya dengan petani-petani kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumut, selain hanya singkatan dari keripik kentang.
“Mereka bilang, kriken dalam Bahasa Karo artinya habiskan. Makna ini yang sekarang selalu saya bawa setiap kali mengenalkan Kriken terutama di pameran-pameran,” tandasnya.
1772718395_4543711c-db6b-49d4-9df0-77760f0dd555.
Fifin Suprianti, owner Kriken berpose di depan produk keripik kentang yang siap jual di rumah produksinya./ Delfi Rismayeti
Fifin Suprianti, mantan bankir, sukses berbisnis keripik kentang "Kriken" di Medan sejak 2019, menjual ribuan bungkus per bulan secara offline dan online. [655] url asal
Bisnis.com, MEDAN - Profesi sebagai bankir tak membuat Fifin Suprianti mantap memutuskan untuk menjalani pekerjaan yang menghidupi dia dan keluarganya tersebut seumur hidup.
Pada 2019, dia dan suami nekat resign dari pekerjaan mereka untuk memulai bisnis keripik kentang ‘Kriken’ dengan hanya bermodalkan keyakinan bahwa keripik buatan mereka akan disukai banyak orang. Alasannya sederhana, yakni karena sang anak yang masih usia sekolah dasar tak bosan-bosan makan nasi hanya dengan lauk keripik kentang.
Semua bermula dari peran ganda yang disandang Fifin. Suami dan anak yang lebih senang makan masakan rumahan membuat Fifin yang juga bekerja harus memutar otak agar tak perlu memasak setiap hari. Pilihannya jatuh pada keripik kentang.
“Kami semua sibuk, harus berangkat pagi. Saya dan suami bekerja, anak-anak sekolah. Keripik kentang inilah yang sering saya bikin sebagai penyelamat menu makanan kami,” tutur Fifin.
Dari dapur kecil di kediaman mereka di Kecamatan Medan Sunggal, Fifin dan suami mulai memproduksi keripik kentang dalam skala yang lebih besar untuk memenuhi pesanan konsumen. Saat itu, kata dia, pesanan sudah mulai ramai datang dari orang-orang terdekat. Namun Fifin tak mau hanya menunggu konsumen datang. Pasca resign, dia aktif mengikuti berbagai kelompok pengajian hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya. Di dalam tas, tak ketinggalan sekotak keripik kentang sebagai tester kepada kenalan-kenalan baru di pengajian, beserta kartu nama sebagai penyambung orderan.
Fifin mengaku merambah segala cara untuk memasarkan keripik kentang ‘Kriken’ yang dia produksi. Dia menyadari, keripik kentang sering dianggap cemilan ‘kuno’ dan identik dengan orang tua meski rasanya enak dan bisa dinikmati semua usia. Kegagapannya terhadap fitur jualan online (daring) saat itu justru memunculkan ide pemasaran Kriken yang tak biasa. Dia menggandeng anak-anak muda untuk ikut memasarkan Kriken.
“Kebetulan keponakan saya saat itu masih mahasiswa. Setiap akhir pekan, saya ajak dia dan teman-temannya jualan Kriken di Merdeka Walk ke orang-orang yang olahraga dengan sistem bagi hasil. Ternyata, laku keras,” ujarnya.
Tempat-tempat keramaian seperti taman kota maupun taman terbuka hijau adalah target pasar Fifin. Perempuan berdarah Sunda-Minang ini bahkan mengaku jadi sering berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar untuk sakit ringan seperti flu yang dideritanya demi dapat menawarkan tester Kriken yang selalu dibawa kepada calon konsumen di sana.
Aksi jemput bola Fifin sempat terhenti saat pandemi mewabah. Tak hilang akal, dia mengubah strategi pemasaran Kriken. Puluhan bungkus keripik kentang dibawanya ke rumah sakit sebagai penyemangat bagi tenaga kesehatan yang sibuk menangani pasien COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Saya titip ke satpam rumah sakit untuk dibagikan kepada nakes (tenaga kesehatan) di IGD. Tentu saja lengkap dengan stiker dan kontak yang bisa dihubungi untuk pemesanan,” kenangnya sambil tertawa.
Usaha keras Fifin tak berkhianat. Saat ini, ribuan bungkus Kriken kemasan 230 gram seharga Rp30.000 per bungkus berhasil terjual setiap bulan, baik secara offline maupun online melalui marketplace. Dia mengatakan pesanan berdatangan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk dari para pejabat dan instansi/ lembaga yang kerap memesan dalam jumlah besar. Fifin pun mengaku tak lagi memiliki data pasti reseller Kriken seiring membludaknya permintaan menjadi reseller.
Kegigihan membesarkan Kriken membuat Fifin hampir dengan mudah diterima menjadi mitra sejumlah instansi/ lembaga yang semakin membawanya ke pusaran konsumen. Kesempatan mengikuti pameran dia ambil, hingga Kriken mampu berpameran di Penang Malaysia.
Dari 30 kilogram (kg) kentang di awal produksi, saat ini dia menyebut sebanyak 800 kg kentang rutin dipasok distributor dari ‘Tanah Karo’ setiap minggu ke dapur produksi Kriken di Jalan Perwira No.50 Kecamatan Medan Sunggal. Fifin pun kini memiliki 6 (enam) orang pekerja di dapur yang merupakan warga sekitar komplek.
Tak hanya itu, Fifin juga mendapat makna lain nama Kriken dari pertemuannya dengan petani-petani kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumut, selain hanya singkatan dari keripik kentang.
“Mereka bilang, kriken dalam Bahasa Karo artinya habiskan. Makna ini yang sekarang selalu saya bawa setiap kali mengenalkan Kriken terutama di pameran-pameran,” tandasnya.
1772718395_4543711c-db6b-49d4-9df0-77760f0dd555.
Fifin Suprianti, owner Kriken berpose di depan produk keripik kentang yang siap jual di rumah produksinya./ Delfi Rismayeti
Endang Susylowati memulai KhumKhum Jamur Crispy di 2020, mengolah jamur tiram berlebih menjadi camilan bernilai tinggi. Kini, produk ini menembus pasar modern dan ekspor. [628] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah pandemi 2020, ketika sebagian besar usaha terpukul dan banyak orang kehilangan pendapatan, Endang Susylowati justru menemukan peluang baru dari masalah yang dialami para petani jamur tiram di kawasan sekitar rumahnya di Kulon Progo.
Menurutnya, saat panen raya, jumlah jamur tiram sangat melimpah tetapi banyak yang terbuang sia-sia karena masa simpan yang hanya tiga hari. Dari situ, Endang berpikir agar jamur tiram ini bisa lebih awet dan aman dikonsumsi dalam waktu yang lama.
Akhirnya dia pun mencoba mengolah jamur tersebut menjadi camilan renyah dan krispi yang diberi nama KhumKhum Jamur Crispy, camilan berbahan dasar jamur tiram yang kini menembus pasar modern hingga peluang ekspor.
Endang memulai bisnis ini pada April 2020 berbekal pengetahuan yang dia pelajari dari video daring seperti YouTube, website, hingga forum-forum UMKM. Ketika itu, Endang menghabiskan hampir satu bulan untuk melakukan riset mulai dari teknik mengolah jamur agar tetap renyah, pemilihan bumbu, hingga daya simpan.
“Kami berpikir jika bisa mulai bisnis di tengah pandemi, maka setelah pandemi bisnis ini pasti bisa lebih besar,” ujarnya saat berbincang dengan bisnis di sela Pertamina SMEXPO 2025 di Bintaro Xchange yang berlangsung 25 – 30 November 2025.
KhumKhum Jamur Crispy hadir dengan lima varian rasa yakni original, balado, pedas manis, barbeque, dan super pedas dengan harga yang cukup terjangkau Rp17.000. Adapun dua varian yang paling digemari adalah original dan barbeque.
Seiring meningkatnya permintaan, Endang berinovasi dalam hal kemasan sehingga bisa menarik pasar lebih luas terutama untuk kalangan pasar menengah atas. Jika di awal, produk ini hanya dikemas dalam standing pouch bening sederhana, kini KhumKhum hadir dengan kemasan full aluminium foil full printing, lengkap dengan sertifikasi P-IRT. Di dalamnya, ditambahkan gas nitrogen untuk menjaga kerenyahan dan memperpanjang daya simpan hingga 12 bulan.
“Biasanya orang lihat kemasannya dulu. Kalau menarik, meskipun harganya sedikit mahal, mereka akan beli,” jelasnya.
Pemberdayaan Petani dan Rencana Integratif Farming
Tak hanya mengolah, KhumKhum juga memberdayakan para petani jamur tiram di Kulon Progo dengan memberikan modal dan membeli jamur segar mereka. Ke depan, Endang bahkan berencana mengembangkan integrative farming yakni menanam jamur secara mandiri sekaligus mengolah limbah baglog menjadi pakan maggot.
“Harapannya ekosistemnya bisa berputar. Kami menanam, petani sejahtera, produksi jalan, limbah pun bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Kini produk KhumKhum Jamur Crispy sudah masuk ke berbagai gerai ritel modern seperti Hypermart, Sarinah, Transmart, Total Buah, dan AEON.
Tak hanya di dalam negeri, KhumKhum juga sudah mulai mencicipi pasar ekspor melalui pengiriman skala kecil bersama beberapa UMKM lain ke Australia. Diakui olehnya bahwa minat dari negara lain, seperti Korea Selatan dan Vietnam, mulai berdatangan.
Namun keduanya mensyaratkan sertifikat HACCP, yang saat ini sedang disiapkan Endang sebagai tiket masuk pasar internasional. “Insya Allah tahun depan kami urus HACCP, supaya bisa lebih siap ekspor,” ujarnya optimistis.
KhumKhum Jamur Crispy resmi menjadi Mitra Binaan Pertamina sejak Agustus tahun lalu. Melalui program PF Trainer dan UMK Academy, Endang mendapat pelatihan kurasi, pemasaran digital, branding, hingga strategi mempersiapkan produk untuk ekspor.
Setelah bergabung, perubahan yang dirasakan cukup signifikan. “Yang pertama jadi lebih dikenal, apalagi di luar Jogja. Kami bisa ikut banyak expo, termasuk SMEXPO Pertamina. Bahkan produk kami pernah diborong panitianya,” katanya.
Dari sisi penjualan, peningkatannya terasa jelas. Rata-rata penjualan KhumKhum mencapai 4.000 bungkus per bulan, diproduksi dari fasilitas home industry yang sudah tertata.
Keikutsertaannya di Pertamina SMEXPO 2025 di Bintaro memberikan wawasan baru tentang digital marketing dan membuka jejaring yang lebih luas. “Terima kasih untuk Pertamina. Dari sini kami makin tahu dunia luar dan cara meningkatkan pemasaran. Semoga ke depan bisa terus diajak ke pameran yang lebih besar,” harap Endang.
Dengan inovasi dan keberanian memulai usaha dari nol di masa krisis, Endang membuktikan bahwa produk lokal, bila dikelola dengan serius dan dikemas apik, bisa melangkah jauh.
KhumKhum Jamur Crispy merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56