Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka genap berjalan satu tahun pada Senin (20/10/2025).
Setahun setelah menahkodai pemerintahan, laju ekonomi Indonesia masih berkutat di kisaran 5%. Angka ini masih jauh dari target ambisius 8% yang dijanjikan dalam masa kampanye.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,02% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal IV/2024, atau triwulan pertama pemerintahan Prabowo.
Pada kuartal I/2025 pertumbuhan bahkan melambat ke 4,87% YoY sebelum kembali naik tipis ke 5,12% YoY pada kuartal II/2025. Rata-rata pertumbuhan selama tiga kuartal awal pemerintahan ini berada di level 5%.
Padahal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, Bappenas menargetkan pertumbuhan sebesar 5,3% pada tahun pertama sebagai landasan menuju target 8% pada 2029.
Proyeksi itu mensyaratkan pertumbuhan bertahap: 5,3% pada 2025, 6,3% pada 2026, 7,5% pada 2027, 7,7% pada 2028, dan akhirnya 8% di 2029.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, jalan menuju pertumbuhan 8% tidak mudah. Ia mencatat setidaknya ada delapan pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan pemerintahan Prabowo–Gibran.
Pertama, percepat realisasi belanja yang berkualitas. Josua mengingatkan bahwa hingga 30 September, realisasi belanja kementerian/lembaga baru mencapai 62,8% dari outlook sepanjang tahun—belanja modal bahkan baru sekitar separuh.
"Perlu percepatan pengadaan, fokus ke infrastruktur dasar, dan proyek yang cepat memberi dampak ke investasi swasta daerah," jelas Josua kepada Bisnis, Minggu (19/10/2025).
Kedua, Prabowo-Gibran perlu menurunkan 'biaya modal' perekonomian sehingga investasi lebih efisien dan ICOR incremental capital-output ratio) Indonesia membaik. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong transmisi penurunan suku bunga lebih cepat ke kredit korporasi dan rumah tangga, sekaligus jaga stabilitas nilai tukar dengan instrumen bank sentral (DNDF, SRBI, pembelian SBN sekunder).
Ketiga, mendorong momentum investasi swasta. Josua menekankan pentingnya menjaga kepastian pasokan energi bersih untuk industri, melanjutkan deregulasi impor bahan baku, dan jaminan perizinan berbasis risiko (PP 28/2025) agar biaya berusaha turun.
"Selesaikan proyek PSN yang siap dikerjakan dan lepaskan yang tidak layak agar ruang fiskal dan manajemen proyek lebih fokus," ujarnya.
Keempat, perkuat ekspor dan diplomasi dagang. Dia mendorong agar pemerintah terus maksimalkan hasil negosiasi tarif dengan AS, percepat implementasi kesepakatan dagang komprehensif dengan Uni Eropa (IEU-CEPA), sinkronkan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) agar tidak menekan arus kas eksportir yang padat modal, serta diversifikasi produk ekspor manufaktur bernilai tambah dan pertanian olahan untuk memperkecil ketergantungan komoditas.
Kelima, menjaga disiplin fiskal sambil memperlebar ruang penerimaan. Josua mengingatkan bahwa rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yaitu di di kisaran 10%.
"Sehingga perlu penguatan basis pajak, digitalisasi pemungutan, serta penataan PNBP [pendapatan negara bukan pajak] yang tertekan karena moderasi harga komoditas," katanya.
Keenam, dorong kredit ke sektor produktif dan UMKM. Dia mengakui bahwa pertumbuhan kredit investasi sudah dua digit, tetapi kredit UMKM baru naik 1,35% secara tahunan.
Oleh sebab itu, Josua menilai perlunya target penyaluran yang terukur berbasis penjaminan dan data alternatif, penurunan biaya dana, serta kemitraan rantai pasok daerah.
Ketujuh, sinkronkan pusat–daerah. Dia mengingatkan bahwa belanja APBD masih terkontraksi dan dana pemerintah daerah di bank meningkat yang menandakan eksekusi daerah tertahan.
Josua pun menggarisbawahi pentingnya sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD–RPJMN). Selain itu, percepatan belanja infrastruktur daerah perlu dikawal agar dampak kebijakan pusat cepat terasa di daerah.
Kedelapan, memastikan agar program sosial besar memberi hasil jangka panjang. Menurutnya, program-program seperti makan bergizi gratis, Sekolah Rakyat, dan intervensi kesehatan harus terhubung dengan ekosistem pangan lokal, UKM katering, petani–nelayan, serta indikator gizi dan mutu pendidikan yang terukur.
Dengan demikian, efek jangka pendeknya menjaga daya beli, tetapi sasaran akhirnya adalah kualitas sumber daya manusia dan produktivitas yang menopang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Jika percepatan belanja berkualitas, efisiensi investasi, dan pembesaran basis penerimaan pajak konsisten dikerjakan serentak, serta kredit produktif dan ekspor bernilai tambah terus dipacu, jalur menuju 8% menjadi lebih kredibel daripada sekadar target pada kertas," rangkum Josua.
Kebijakan yang Berbeda
Meski menawarkan keberlanjutan kebijakan pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya, Prabowo-Gibran telah mengambil sejumlah pendekatan ekonomi yang berbeda.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (FEB Unand) Syafruddin Karimi melihat bahwa Prabowo dan pendahulunya Joko Widodo (Jokowi) memiliki prioritas dan instrumen ekonomi yang berbeda.
Syafruddin mencontohkan, Jokowi menaruh bobot besar pada infrastruktur fisik dan hilirisasi mineral seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, irigasi, serta larangan ekspor bijih nikel untuk menarik smelter.
Kebijakan itu, sambungnya, ditopang penerbitan Omnibus Law untuk menyederhanakan regulasi tenaga kerja dan investasi.
Sementara itu, dia melihat pemerintahan Prabowo memutar fokus ke program kesejahteraan skala nasional seperti makan bergizi gratis hingga sekolah rakyat.
Selain itu, pemerintahan Prabowo membentuk Danantara untuk konsolidasi aset dan investasi strategis, membuka kembali pasar karbon bagi pembeli asing, menambah opsi pembiayaan termasuk dim sum bond, dan insentif diskon 100%pajak pertambahan nilai (PPN) properti sampai 2027.
"Pendekatan baru ini lebih menekankan permintaan domestik dan mobilisasi aset negara, dibanding dorongan fisik infrastruktur yang mendominasi dekade sebelumnya," jelas Syafruddin kepada Bisnis, Minggu (19/10/2025).