#30 tag 24jam
BSI (BRIS) Cetak Laba Rp2,20 Triliun, Tumbuh 17% di Kuartal I/2026
BSI (BRIS) mencatat laba Rp2,20 triliun di kuartal I/2026, naik 17% YoY, didorong peningkatan pendapatan dan pembiayaan bagi hasil. [368] url asal
#bsi-laba #bsi-kuartal-i-2026 #bank-syariah-indonesia #bris-laba-bersih #pertumbuhan-laba-bsi #pendapatan-bsi #bsi-pendapatan-komisi #bsi-laba-operasional #pembiayaan-bagi-hasil-bsi #dana-simpanan-wadi
(Bisnis.Com - Finansial) 12/05/26 06:50
v/218462/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,20 triliun pada kuartal I/2026. Capaian itu tumbuh 17,10% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,87 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia, perolehan laba bersih bank syariah terbesar di Indonesia ini didorong oleh pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang meningkat sebesar 15,77% YoY, dari Rp4,77 triliun pada kuartal I/2025 menjadi Rp5,52 triliun pada kuartal I/2026.
Selain itu, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi mencapai Rp918,58 miliar, meningkat 15,58% YoY dibandingkan posisi kuartal I/2025 yang sebesar Rp794,75 miliar.
Perseroan juga membukukan kinerja positif dari sisi laba operasional. Tercatat, laba operasional emiten bank dengan kode BRIS itu mengalami pertumbuhan sebesar 16,85% YoY menjadi Rp2,90 triliun. Pada kuartal I/2025, laba operasional BSI berada di posisi Rp2,48 triliun.
Kemudian, laba tahun berjalan sebelum pajak juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,77% YoY, mencapai Rp2,83 triliun hingga akhir Maret 2026, setelah pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar Rp2,42 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, bank yang dinahkodai Anggoro Eko Cahyo ini membukukan pembiayaan bagi hasil senilai Rp151,72 triliun atau meningkat 22,83% YoY pada kuartal I/2026. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan menyalurkan pembiayaan bagi hasil sebesar Rp123,52 triliun.
Adapun dari sisi penghimpunan dana, perseroan mencatatkan pertumbuhan, baik pada dana simpanan wadiah maupun dana investasi non profit sharing.
Perinciannya, dana simpanan wadiah tumbuh 18,72% YoY menjadi Rp89,01 triliun dan dana investasi non profit sharing meningkat 17,77% YoY menjadi Rp287,77 triliun hingga akhir Maret 2026.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) turun dari 21,39% pada kuartal I/2025 menjadi 20,95% pada kuartal I/2026.
Untuk kualitas pembiayaan, terdapat perbaikan dengan NPF gross tercatat 1,80% dari periode yang sama tahun lalu 1,88% dan NPF net sebesar 0,38% dari 0,51%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Adu Kinerja 10 Bank dengan Laba Terbesar RI Berdasarkan Lapkeu 2025
Industri perbankan RI catat laba bersih Rp262,18 triliun di 2025, naik 2,74% YoY. Berikut 10 bank dengan laba terbesar sepanjang 2025. [1,381] url asal
#bank-terbesar #laba-bank #kinerja-bank #laba-bersih #pertumbuhan-laba #pendapatan-bunga #kredit-bank #dana-pihak-ketiga #simpanan-bank #bca-laba #bri-laba #bank-mandiri-laba #bni-laba #bsi-laba #cimb
(Bisnis.Com - Finansial) 04/03/26 08:30
v/154241/
Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan Tanah Air membukukan kinerja yang beragam hingga akhir 2025. Kendati mayoritas bank yang masuk dalam daftar ini membukukan pertumbuhan, tidak sedikit yang mencatatkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan Portal Data Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa bank umum mengantongi laba bersih senilai Rp262,18 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 2,74% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal IV/2024 yang sebesar Rp255,19 triliun.
Perolehan laba perbankan pada periode tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,09% YoY, dari kuartal IV/2024 sebesar Rp549,75 triliun menjadi Rp572,21 triliun hingga Desember 2025.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank mencapai Rp707,46 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 5,01% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp673,72 triliun.
Pada saat yang sama, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun bank umum tumbuh 6,62% YoY dari Rp247,27 triliun pada kuartal IV/2024 menjadi Rp263,64 triliun pada kuartal IV/2025.
Pertumbuhan DPK pada periode tersebut didorong oleh simpanan giro bank umum yang meningkat 12,67% YoY menjadi Rp68,05 triliun per Desember 2025. Simpanan tabungan dan berjangka juga mencatatkan kinerja positif, masing-masing tumbuh sebesar 6,31% YoY dan 4,47% YoY.
Berikut rangkuman 10 bank pencetak laba terbesar di Indonesia sepanjang 2025:
BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan raihan laba konsolidasian sepanjang 2025 senilai Rp57,56 triliun. Realisasi itu meningkat 4,94% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp54,85 triliun.
Perolehan laba sebesar Rp57,56 triliun pada 2025 turut menempatkan BCA sebagai bank dengan laba terbesar di Indonesia.
Dari sisi intermediasi, total kredit perseroan mencapai Rp979,69 triliun, meningkat 7,53% YoY dari realisasi 2024 yang sebesar Rp911,10 triliun. Pada saat yang sama, DPK BCA tumbuh 10,18% YoY dari Rp1.133,61 triliun pada 2024 menjadi Rp1.249,04 triliun.
BRI
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Pada 2024, perseroan membukukan laba senilai Rp60,30 triliun sehingga terjadi koreksi sebesar 5,26% YoY.
“Hingga akhir 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,13 triliun,” ungkap Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
Kinerja keuangan dan profitabilitas positif BRI didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai. Hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio atau LDR yang bank berada di level yang ample sebesar 91,4%. Angka ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.
BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berada di urutan berikutnya dengan perolehan laba konsolidasian sebesar Rp20,11 triliun. Raihan laba pada 2025 menyusut 7,19% YoY dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp21,66 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan DPK sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama dalam keterangannya.
BSI
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) berada di posisi kelima dengan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun, meningkat 8,02% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp7,00 triliun.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, kinerja solid BSI sepanjang 2025 ditopang oleh berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi.
“Didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Anggoro.
CIMB Niaga
Urutan keenam diisi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp6,93 triliun pada 2025. Realisasi itu tumbuh tipis 0,53% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,89 triliun.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa hasil kinerja CIMB Niaga pada 2025 mencerminkan konsistensi performa serta kesehatan fundamental bisnis bank.
“Di tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent, menjaga kualitas aset, memperkuat basis dana murah, serta menjalankan pengelolaan biaya yang disiplin,” ungkap Lani dalam keterangannya.
OCBC NISP
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp5,05 triliun sepanjang 2025. Dengan raihan tersebut, OCBC NISP berada di posisi ketujuh dalam daftar ini. Realisasi laba pada 2025 meningkat 3,92% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,86 triliun.
Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, pihaknya tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent.
“Sepanjang 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi,” kata Parwati dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Parwati mengungkapkan, penguatan DPK dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja OCBC NISP ke depan.
Permata Bank
Selanjutnya, ada PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp3,58 triliun sampai dengan akhir 2025. Raihan laba tersebut naik tipis 0,59% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,56 triliun.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan, di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang 2025.
Dia mengatakan, kinerja Permata Bank sepanjang 2025 mencerminkan fundamental yang resilien. Hal ini tecermin dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari -hari, bisnis, dan keluarga mereka,” kata Meliza dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).
Bank Danamon
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berada di urutan selanjutnya dengan perolehan laba konsolidasian senilai Rp3,58 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu naik tipis 0,59% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,56 triliun.
Sepanjang 2025, Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengatakan bahwa Danamon telah mengimplementasikan prioritas strategisnya dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas, dengan kualitas aset yang tetap terjaga.
“Danamon menyambut 2026 dengan tekad yang lebih kuat untuk menjadi penyedia solusi finansial yang terus berupaya mendapatkan kepercayaan nasabah serta untuk terus berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Daisuke.
BTN
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menutup daftar ini dengan perolehan laba bersih konsolidasian senilai Rp3,50 triliun sepanjang 2025. Dibandingkan tahun sebelumnya, raihan laba tersebut meningkat 16,42% YoY dari sebelumnya Rp3,00 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini.
“Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon, Senin (9/2/2026).
Top 10 Bank RI Pencetak Laba Terbesar Kuartal III/2025, Cek Juaranya!
Simak top 10 bank pencetak laba terbesar di Indonesia hingga kuartal III/2025. [2,087] url asal
#bank-laba-terbesar #bank-laba-kuartal-iii-2025 #bca-laba-terbesar #bank-mandiri-laba #bri-laba #bni-laba #bsi-laba #cimb-niaga-laba #ocbc-nisp-laba #bank-danamon-laba #bank-permata-laba #btn-laba #ban
(Bisnis.Com - Finansial) 11/11/25 10:30
v/34848/
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank telah merilis laporan keuangan pada kuartal III/2025. Kinerja laba bersih tahun berjalan masing-masing bank pun beragam, ada yang membukukan pertumbuhan, ada pula yang mencatatkan penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di antara bank-bank yang telah melaporkan kinerja keuangannya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp43,41 triliun hingga September 2025. Capaian ini menjadikan BCA sebagai bank dengan laba terbesar pada kuartal III/2025. Realisasi itu tumbuh 5,66% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41,08 triliun.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menduduki posisi kedua dalam daftar ini dengan perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,37 triliun pada kuartal III/2025. Kendati begitu, raihan laba pada periode ini turun 10,22% YoY dibanding kuartal III/2024 yang sebesar Rp46,08 triliun.
Di posisi selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati urutan berikutnya dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,23 triliun hingga September 2025. Angka itu turun 9,10% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp45,36 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menduduki urutan keempat dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp15,23 triliun. Bila dibandingkan dengan kuartal III/2024, capaian pada kuartal III/2025 turun 7,32% YoY dari sebelumnya Rp16,43 triliun.
Posisi kelima ditempati oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), menjadikannya satu-satunya bank syariah yang berada dalam daftar ini. Hingga September 2025, bank syariah terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,56 triliun, tumbuh 9,04% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,10 triliun.
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) berada di posisi selanjutnya dengan raihan laba Rp5,33 triliun, disusul PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP), PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), PT Bank Permata Tbk. (BNLI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).
Berikut daftar top 10 bank dengan laba terbesar pada kuartal III/2025:
BCA

Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Bank swasta terbesar di Indonesia ini menempati posisi pertama sebagai bank dengan laba bersih tahun berjalan terbesar pada kuartal III/2025. Dalam laporan keuangannya, bank milik Djarum Group itu membukukan laba bersih sebesar Rp43,41 triliun, tumbuh 5,66% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41,08 triliun.
Perolehan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,93% YoY menjadi Rp64,09 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,08 triliun.
Hingga September 2025, BCA tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp931,87 triliun, tumbuh 7,52% YoY dibanding kuartal III/2024 yang mencapai Rp866,66 triliun.
Pada saat yang sama, bank dengan kode emiten BBCA itu menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.204,73 triliun hingga September 2025, meningkat 7,03% YoY dari kuartal III/2024 sebesar Rp1.125,58 triliun.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BCA meningkat dari 29,31% menjadi 29,94% pada kuartal III/2025. NPL gross tercatat turun dari 2,11% menjadi 2,10%, sedangkan NPL nett meningkat dari 0,72% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 0,77% pada kuartal III/2025.
Bank Mandiri

Gedung Bank Mandiri/Bisnis-Annisa S. Rini
Bank Mandiri berada di urutan kedua dalam daftar ini. Bank berlogo pita emas itu mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,37 triliun, turun 10,22% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,08 triliun.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat tumbuh 3,50% YoY menjadi Rp78,55 triliun. Pada kuartal III/2025, bank pelat merah ini membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp75,90 triliun.
Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 11,56% YoY menjadi Rp1.720,25 triliun hingga September 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, kredit yang disalurkan perseroan mencapai Rp1.541,98 triliun.
DPK Bank Mandiri mencatatkan kinerja positif. Pada kuartal III/2025, DPK Bank Mandiri tumbuh 13,00% YoY, dari periode yang sama tahun lalu Rp1.667,49 triliun menjadi Rp1.884,18 triliun.
KPMM bank pelat merah itu menyusut dari 20,08% menjadi 19,04% pada kuartal III/2025. NPL gross tercatat meningkat dari 0,97% menjadi 1,03%, dan NPL nett meningkat dari 0,33% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 0,40% pada kuartal III/2025.
BRI

Gedung Bank BRI Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Bank spesialis kredit wong cilik menduduki posisi ketiga dengan raihan laba Rp41,23 triliun hingga September 2025. Capaian itu menurun 9,10% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp45,36 triliun.
Perolehan laba bersih tahun berjalan pada periode tersebut didorong oleh capaian pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp111,97 triliun, tumbuh 1,93% YoY dari kuartal III/2024 sebesar Rp109,85 triliun.
Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp1.379,68 triliun. Angka itu tumbuh 7,65% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp1.281,67 triliun.
Pada saat yang sama, DPK bank pelat merah itu tumbuh 8,25% YoY menjadi Rp1.474,78 triliun. Pada kuartal III/2024, DPK BRI tercatat mencapai Rp1.362,41 triliun.
Sementara itu, KPMM bank dengan kode emiten BBRI itu turun dari 24,96% menjadi 23,01%. NPL gross tercatat meningkat dari 3,04% menjadi 3,29%, dan NPL nett naik dari 0,84% menjadi 1,04%.
BNI

Nasabah melakukan transaksi menggunakan anjungan tunai mandiri di kantor cabang BNI, Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp15,23 triliun pada kuartal III/2025 menempatkan BNI dalam daftar keempat dengan laba terbesar di Indonesia. Raihan itu turun 7,32% YoY bila dibandingkan kuartal III/2024 yang sebesar Rp16,43 triliun.
Bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp29,25 triliun hingga September 2025. Angka itu menyusut 0,63% YoY dibanding kuartal III/2024 yang sebesar Rp29,43 triliun.
Dari sisi intermediasi, BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp812,19 triliun pada kuartal III/2025. Angka itu tumbuh 10,50% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp735,01 triliun.
Pada saat yang sama, DPK yang berhasil dihimpun oleh BNI mencapai Rp934,32 triliun tumbuh 21,38% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp769,73 triliun.
Sementara itu, KPMM BNI turun dari 21,83% menjadi 21,09%. NPL gross tercatat menyusut dari 1,97% menjadi 1,96%, dan NPL nett meningkat dari 0,63% menjadi 0,78%.
BSI

Nasabah bertransaksi di salah satu pusat anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Senin (9/1/2022). /Bisnis-Arief Hermawan P
BSI meraih laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,56 triliun, menempatkannya pada posisi kelima dalam daftar ini. Perolehan laba pada kuartal III/2025 itu tumbuh 9,04% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp5,10 triliun.
Capaian positif ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 13,99% YoY menjadi Rp15,33 triliun hingga September 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, BSI membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp13,45 triliun.
Adapun BSI membukukan pembiayaan bagi hasil sebesar Rp134,53 triliun. Angka itu tumbuh 22,72% YoY dari kuartal III/2024 yang mencapai Rp109,62 triliun. Pada saat yang sama, dana simpanan wadiah tercatat mencapai Rp77,07 triliun, tumbuh 9,12% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp70,63 triliun.
Sementara itu, KPMM BSI tercatat meningkat dari 21,38% menjadi 21,59% pada kuartal III/2025. NPF gross BSI menyusut dari 1,97% menjadi 1,84%, dan NPF nett turun dari 0,56% menjadi 0,55%.
CIMB Niaga

Nasabah bertransaksi menggunakan Super App OCTO milik PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) di Jakarta, Rabu (19/1/2022). Bisnis/Abdurachman
CIMB Niaga menempati urutan keenam dengan perolehan laba sebesar Rp5,33 triliun hingga September 2025. Angka itu tumbuh 2,93% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,18 triliun.
Kinerja positif itu salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 0,71% YoY menjadi Rp10,07 triliun. Pada kuartal III/2024, pendapatan bunga bersih CIMB Niaga mencapai Rp10,00 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank dengan kode emiten BNGA itu telah menyalurkan kredit sebesar Rp170,42 triliun pada kuartal III/2025. Angka itu tumbuh 7,97% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp157,85 triliun.
Pada saat yang sama, DPK yang berhasil dihimpun oleh BNGA mencapai Rp278,01 triliun tumbuh 8,61% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp255,97 triliun.
Sementara itu, KPMM CIMB Niaga naik dari 23,44% menjadi 24,73%. NPL gross tercatat menyusut dari 2,00% menjadi 1,98%, dan NPL nett meningkat dari 0,72% menjadi 0,80%.
OCBC NISP

Petugas berbincang dengan nasabah di kantor cabang PT Bank OCBC NISP Tbk di Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Dedi Gunawan
Bank OCBC NISP membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp3,82 triliun pada kuartal III/2025, tumbuh tipis 0,17% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,81 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih OCBC NISP mencapai Rp8,10 triliun, turun 0,10% YoY dibandingkan kuartal III/2024 mencapai Rp8,11 triliun.
Hingga September 2025, OCBC NISP tercatat telah menyalurkan kredit senilai Rp158,52 triliun. Angka itu tumbuh 2,00% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp155,42 triliun.
Pada saat yang sama, DPK OCBC NISP tumbuh 15,41% YoY menjadi Rp230,12 triliun. Pada kuartal III/2024, DPK OCBC NISP tercatat mencapai Rp199,40 triliun.
Sementara itu, KPMM bank dengan kode emiten NISP itu meningkat dari 23,50% menjadi 24,88%. NPL gross tercatat meningkat dari 1,79% menjadi 2,00%, dan NPL nett juga naik dari 0,72% menjadi 0,77%.
Bank Danamon

Karyawati melayani nasabah di salah satu kantor cabang Bank Danamon, Jakarta, Rabu (21/2/2024)./Bisnis - Arief Hermawan.
Selanjutnya, ada Bank Danamon dengan perolehan laba bersih tahun berjalan senilai Rp2,90 triliun. Capaian itu tumbuh signifikan 20,08% YoY dari kuartal III/2024 yang sebesar Rp2,41 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih Bank Danamon menyusut 0,10% YoY menjadi Rp11,91 triliun. Pada kuartal III/2024, Bank Danamon membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp11,93 triliun.
Dari sisi intermediasi, Bank Danamon tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp151,08 triliun hingga September 2025. Realisasi itu tumbuh 7,23% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp140,89 triliun.
Pada saat yang sama Bank Danamon berhasil membukukan DPK sebesar Rp167,71 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu tumbuh 14,52% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp146,44 triliun.
Sementara itu, KPMM Bank Danamon meningkat dari 26,14% menjadi 26,56%. NPL gross tercatat turun dari 2,05% menjadi 1,83%, dan NPL nett juga turun dari 0,37% menjadi 0,25%.
Bank Permata

Logo Bank Permata (BNLI)./Istimewa.
Bank Permata menempati posisi kesembilan. Pada kuartal III/2025, Bank Permata membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,88 triliun, tumbuh 3,49% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp2,78 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, bank dengan kode saham BNLI itu mencatatkan penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 0,45% YoY menjadi Rp7,57 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan bunga bersih Rp7,60 triliun.
Hingga September 2025, Bank Permata menyalurkan kredit sebesar Rp134,71 triliun, meningkat 7,17% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp125,69 triliun.
Pada saat yang sama Bank Permata berhasil membukukan DPK sebesar Rp195,87 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu tumbuh 6,87% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp183,28 triliun.
Sementara itu, KPMM Bank Permata tercatat meningkat dari 33,15% menjadi 34,96%. Adapun NPL gross meningkat dari 2,05% menjadi 2,14%, dan NPL nett turun dari 0,36% menjadi 0,35%.
BTN

Gedung Bank Tabungan Negara (BTN)/dok. BTN
BTN membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,30 triliun, tumbuh 10,58% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp2,08 triliun. Raihan laba bersih tersebut menempatkan BTN di posisi kesepuluh dalam daftar ini.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, bank pelat merah itu mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp12,76 triliun hingga September 2025. Capaian itu tumbuh 43,55% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp8,89 triliun.
Tercatat hingga September 2025, BTN menyalurkan kredit sebesar Rp329,92 triliun, tumbuh 5,29% YoY dari kuartal III/2024 yang mencapai Rp313,35 triliun. Pada saat yang sama, DPK perseroan tumbuh 15,96% YoY menjadi Rp429,92 triliun dari sebelumnya Rp370,75 triliun.
Melihat indikator keuangan, KPMM Bank Permata tercatat menurun dari 18,70% menjadi 18,00%. Adapun NPL gross meningkat dari 3,24% menjadi 3,45%, dan NPL nett naik dari 1,57% menjadi 2,00%.
Bos BSI Perkirakan Tekanan Likuiditas Mereda, Efek Guyuran Jumbo Purbaya?
BSI prediksi tekanan likuiditas mereda berkat penurunan BI Rate 4,75% dan dana Rp10 triliun dari pemerintah, mendorong pertumbuhan ekonomi dan kinerja solid. [292] url asal
#bi-rate #tekanan-likuiditas #bsi-likuiditas #dana-pemerintah #injeksi-dana #bsi-laba #kinerja-keuangan-bsi #dana-pihak-ketiga #pembiayaan-bsi #aset-bsi #ekspansi-bisnis-bsi #rencana-bisnis-bank #bsi-k
(Bisnis.Com - Finansial) 19/10/25 13:33
v/8642/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memperkirakan tekanan likuiditas mulai mereda seiring adanya sejumlah kebijakan dan stimulus dari pemerintah.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan perkiraan itu muncul seiring penurunan BI Rate hingga 4,75% serta penempatan dana pemerintah pusat dengan BSI mendapat injeksi sebesar Rp10 triliun.
“Setelah semester I, tekanan likuiditas diprediksi mulai mereda seiring penurunan BI Rate hingga 4.75% ditambah terdapat penempatan dana pemerintah SAL di mana BSI memeroleh Rp10 triliun,” kata Anggoro kepada Bisnis, dikutip Minggu (19/10/2025).
Pada semester I/2025, bank syariah terbesar di Indonesia itu membukukan laba senilai Rp3,74 triliun, naik 10,21% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Rerata indikator kinerja keuangan BSI tumbuh double digit atau di atas industri. Di antaranya dana pihak ketiga (DPK) pada posisi Rp323 triliun naik 8,83% dan pembiayaan BSI tumbuh lebih tinggi dari industri perbankan nasional yakni pada level 13,93% YoY dengan outstanding mencapai Rp293,24 triliun. Capaian ini juga mendorong aset mencapai Rp401 triliun.
Memasuki kuartal III/2025, Anggoro mengatakan bahwa BSI terus memacu ekspansi bisnis agar sesuai dengan rencana bisnis yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
“Harapannya akan tetap dapat membukukan kinerja yang solid hingga akhir tahun,” ujar Anggoro.
Saat ini, Anggoro menuturkan bahwa BSI terus mengakselerasi bisnis terutama berbasis Konsumer dan Ritel, serta produk yang memiliki unique sharia proposition seperti haji dan emas.
Untuk menjaga pembiayaan yang sehat, BSI juga terus meningkatkan manajemen dan pemantauan profil risiko yang tepat sesuai segmen bisnisnya. Tercermin dari non performing financing (NPF) gross pada level 1,87%.
Adapun BSI optimistis pertumbuhan pembiayaan akan meningkat, seiring dengan kebijakan dan stimulus dari pemerintah yang mendorong daya beli masyarakat sehingga memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56