#30 tag 24jam
Kredit Bank Mandiri naik 20,6 persen capai Rp1.580 T per Mei 2026
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat kinerja penyaluran kredit secara bank only tumbuh sebesar 20,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai ... [418] url asal
#bank-mandiri #bmri #kinerja-bank-mandiri #kredit #dana-pihak-ketiga #laba-bank-mandiri
merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat kinerja penyaluran kredit secara bank only tumbuh sebesar 20,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp1.580 triliun per Mei 2026 yang mayoritas tersalurkan ke sektor produktif.
Sektor tersebut mulai dari hilirisasi industri hingga segmen UMKM yang menopang pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan perluasan lapangan kerja di berbagai daerah di Indonesia.
“Kinerja ini merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang,” kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Sementara dari sisi penghimpunan dana, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara bank only sebesar 22,0 persen (yoy) menjadi Rp1.716 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh dana murah (current account and saving account/CASA) dengan giro mencapai Rp664 triliun dan tabungan sebesar Rp559 triliun.
Adapun total aset bank only Bank Mandiri tercatat Rp2.306 triliun, tumbuh 20,0 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara laba bersih yang dibukukan Bank Mandiri per akhir Mei 2026 mencapai Rp23,3 triliun, tumbuh 18,6 persen (yoy).
Tren pertumbuhan profitabilitas yang positif tersebut turut mendorong return on equity (ROE) Bank Mandiri terjaga stabil di kisaran 20 persen.
Perseroan menyampaikan kinerja positif tersebut tidak terlepas dari kinerja berkelanjutan layanan digital melalui Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri yang terus mencatat peningkatan penggunaan.
Selain mendorong pertumbuhan transaksi digital, menurut perseroan, peningkatan pengguna kedua platform tersebut turut memperkuat literasi keuangan, serta memperluas akses terhadap layanan keuangan berbasis teknologi.
Hal ini sejalan dengan visi Danantara dalam memastikan aset negara dikelola secara efektif, produktif, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
Novita menambahkan bahwa sinergi yang terintegrasi antara ekosistem digital dan jaringan fisik memungkinkan nasabah mengelola keuangan secara menyeluruh dalam satu platform layanan.
Perseroan pun menyatakan akan terus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah melalui pembiayaan program prioritas nasional, mencakup KUR, penguatan UMKM dan koperasi, KPR subsidi, serta sektor strategis dan hilirisasi industri guna mendorong penciptaan lapangan kerja.
"Melalui sinergi integrasi ekosistem Bank Mandiri yang menghubungkan layanan digital, jaringan distribusi, dan pembiayaan produktif, kami berkomitmen untuk terus hadir bagi seluruh lapisan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan," kata Novita.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Laba BPR Tata Asia Naik Jadi Rp14,51 Miliar pada 2025
Bank Tata Asia mencatat laba bersih Rp14,51 miliar di 2025, naik 12 kali lipat dari 2024, didorong ekspansi kredit dan pendapatan non-bunga. Total aset naik 89%. [265] url asal
#bank-tata-asia #laba-bank-tata-asia #peningkatan-laba-bank #ekspansi-kredit-bank #pendapatan-non-bunga #kinerja-bank-tata-asia #pertumbuhan-aset-bank #penyaluran-kredit-produktif #penguatan-digitalisa
(Bisnis.Com - Finansial) 22/06/26 20:13
v/256689/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Tata Asia membukukan laba bersih sebesar Rp14,51 miliar sepanjang 2025. Berdasarkan Laporan Keuangan Audited per 31 Desember 2025, laba ini meningkat lebih dari 12 kali lipat dibandingkan 2024 sebesar Rp1,19 miliar.
Direktur Utama Bank Tata Asia TB Frandy Priya Purwanto menyebut peningkatan kinerja tersebut ditopang oleh ekspansi kredit dan optimalisasi pendapatan non-bunga.
“Kami sangat bersyukur atas kinerja tahun 2025 yang melampaui target. Ini membuktikan kepercayaan nasabah dan fundamental bisnis Bank Tata Asia yang terus menguat di tengah dinamika ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Ia menambahkan, perseroan optimistis tren pertumbuhan dapat berlanjut pada 2026 dengan fokus pada penyaluran kredit produktif dan konsumtif, serta penguatan digitalisasi layanan terutama di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
Dari sisi neraca, kinerja perseroan juga menunjukkan pertumbuhan. Total aset Bank Tata Asia naik 89% menjadi Rp712,43 miliar pada akhir 2025, dari Rp376,79 miliar pada tahun sebelumnya.
Penyaluran kredit (gross) tumbuh 97% menjadi Rp449,73 miliar, dibandingkan Rp229,09 miliar pada 2024. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 72% menjadi Rp554,09 miliar, dari sebelumnya Rp324,12 miliar. Frandy menyebut komposisi deposito dan tabungan yang relatif seimbang.
Dari sisi efisiensi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) membaik menjadi 83,22% pada 2025, dari 95,15% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL neto) tercatat 1,58%, masih dalam batas yang terkelola.
Adapun permodalan bank dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 26,02%. Dia menyebut besaran CAS jauh di atas ketentuan minimum regulator dan menjadi pertanda ruang ekspansi bisnis yang masih terbuka ke depan.
Pelemahan Rupiah dan Suku Bunga Tinggi Diproyeksi Tekan Laba Perbankan 2026
Pertumbuhan laba agregat bank-bank diproyeksi turun menjadi 1,8 persen secara tahunan (yoy) pada 2026, dari sebelumnya 4,6 persen. [752] url asal
#rupiah #suku-bunga #perbankan #laba-bank #rupiah-melemah
(IDX-Channel - Market News) 14/06/26 15:03
v/249643/
IDXChannel - Samuel Sekuritas memangkas proyeksi pertumbuhan laba sektor perbankan pada 2026 di tengah tekanan rupiah dan tren kenaikan suku bunga.
Pertumbuhan laba agregat bank-bank diproyeksi turun menjadi 1,8 persen secara tahunan (yoy) pada 2026, dari sebelumnya 4,6 persen.
Analis Samuel Sekuritas, Ahnaf Yassar Lilo menilai, lingkungan operasional sektor perbankan memburuk signifikan sejak kuartal I-2026.
Rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.178 per USD pada 8 Juni 2026 atau terdepresiasi sekitar 9 persen sejak awal tahun.
Pelemahan mata uang domestik tersebut terutama dipicu oleh tekanan defisit kembar (twin deficits), yakni defisit anggaran dan defisit neraca pembayaran.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) telah membalikkan arah kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali.
Kenaikan tersebut terdiri dari 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 dan tambahan 25 basis poin melalui keputusan di luar jadwal pada 9 Juni 2026, sehingga suku bunga acuan kini berada di level 5,50 persen.
Menurut Samuel Sekuritas, kombinasi suku bunga tinggi dan rupiah yang melemah akan memberikan tekanan terhadap sektor perbankan melalui tiga jalur utama.
Pertama, biaya dana (cost of fund/CoF) berpotensi meningkat, terutama bagi bank yang masih bergantung pada deposito berjangka.
Kedua, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) diperkirakan terus tertekan karena kenaikan bunga simpanan berlangsung lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit.
Ketiga, risiko kualitas aset meningkat seiring naiknya biaya pinjaman di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.
Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan inflasi impor sehingga memperkuat skenario suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
"Di tengah tingginya biaya pendanaan, tekanan terhadap NIM, dan potensi kenaikan biaya pencadangan, kami menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank menjadi 1,8 persen pada 2026," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya Jumat (12/6/2026).
Kinerja Empat Bank Besar Masih Solid
Meski prospek ke depan lebih menantang, kinerja empat bank terbesar nasional masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat hingga empat bulan pertama 2026.
Laba bersih agregat empat bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencapai Rp62,1 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan.
Capaian tersebut setara dengan 37 persen dari proyeksi laba setahun penuh yang telah direvisi, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata realisasi empat bulan pertama dalam empat tahun terakhir yang berada di kisaran 30 persen.
Namun demikian, tekanan terhadap margin bunga mulai terlihat. Pada periode Januari-April 2026, NIM gabungan empat bank besar turun 18 basis poin menjadi 5,1 persen. Penurunan tersebut terjadi karena imbal hasil aset turun 46 basis poin, lebih besar dibandingkan penurunan biaya dana yang hanya mencapai 31 basis poin.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit masih cukup kuat sebesar 14 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 13 persen. Kondisi ini mendorong rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) empat bank besar naik menjadi 89 persen, tertinggi dalam 11 bulan terakhir.
Samuel Sekuritas mencatat kualitas aset hingga April 2026 masih relatif terjaga. Kinerja laba yang melampaui ekspektasi sebagian besar ditopang oleh biaya kredit (credit cost) yang lebih rendah dari perkiraan.
Meski demikian, pertumbuhan laba diperkirakan melambat pada sisa tahun berjalan. Samuel memperkirakan pertumbuhan laba bersih yang mencapai 7,5 persen pada empat bulan pertama akan melandai menjadi hanya 1,8 persen pada akhir tahun akibat tekanan NIM dan kenaikan biaya kredit.
Rekomendasi Sektor Diturunkan
Seiring revisi proyeksi laba tersebut, Samuel Sekuritas menurunkan rekomendasi sektor perbankan menjadi neutral.
Kendati demikian, valuasi saham perbankan dinilai sudah cukup menarik karena sebagian besar saham bank dalam cakupan riset diperdagangkan mendekati atau bahkan di bawah level minus dua standar deviasi berdasarkan rasio price to book value (PBV).
Di antara saham perbankan, Samuel tetap menjadikan Bank Mandiri sebagai pilihan utama dengan target harga Rp6.000 per saham.
Saham BMRI dinilai memiliki potensi kenaikan (upside) tertinggi sekitar 41 persen, didukung pertumbuhan laba dan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang kuat masing-masing sebesar 19 persen dan 14 persen secara tahunan hingga April 2026.
Selain itu, pertumbuhan kredit BMRI mencapai 18 persen secara tahunan dan biaya kredit masih berada di bawah panduan manajemen, sehingga membuka peluang adanya kejutan positif pada kinerja mendatang.
Basis pendanaan murah (CASA) yang besar juga dinilai memberikan keunggulan bagi BMRI dalam menghadapi tekanan biaya dana yang lebih tinggi.
Meski prospek jangka pendek masih dibayangi tantangan, pemulihan nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, penurunan suku bunga, perbaikan NIM, serta pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dapat menjadi katalis positif bagi sektor perbankan.
(DESI ANGRIANI)
Bank Aladin Syariah bukukan laba Rp150,7 miliar pada 2025
Bank syariah digital PT Bank Aladin Syariah Tbk membukukan laba sebesar Rp150,7 miliar sepanjang 2025 atau meningkat 304,48 persen dibandingkan tahun ... [442] url asal
#bank-aladin-syariah #bank-syariah #perbankan-digital #laba-bank #inklusi-keuangan-syariah
Jakarta (ANTARA) - Bank syariah digital PT Bank Aladin Syariah Tbk membukukan laba sebesar Rp150,7 miliar sepanjang 2025 atau meningkat 304,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Koko Rachmadi mengatakan pertumbuhan kinerja tersebut ditopang pengembangan produk dan layanan serta penguatan sistem digital untuk mendukung akses perbankan syariah bagi nasabah.
“Bank Aladin Syariah mencatatkan kinerja yang positif di tahun 2025. Hal ini sejalan dengan pengembangan produk dan layanan, serta penguatan sistem digital yang mendukung kemudahan akses perbankan bagi para nasabah,” kata Koko dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), perseroan melaporkan total aset hingga akhir 2025 mencapai Rp14,4 triliun atau tumbuh 53,89 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp10,4 triliun atau meningkat 92,18 persen yoy.
Sementara itu, penyaluran pembiayaan mencapai Rp5,2 triliun atau tumbuh 9,58 persen yoy dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) terjaga di level 49,3 persen.
Hingga akhir 2025, jumlah nasabah Bank Aladin Syariah mencapai 3,7 juta pengguna atau tumbuh 12,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Koko, perseroan akan terus memperkuat posisi sebagai bank syariah digital melalui inovasi layanan dan perluasan kolaborasi ekosistem strategis.
“Kami percaya bahwa perluasan akses layanan keuangan syariah melalui inovasi digital dan kolaborasi ekosistem dapat menjadi bagian penting dalam mendorong inklusi keuangan syariah serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan strategi offline-to-online melalui kerja sama dengan berbagai mitra strategis.
Salah satu kolaborasi dilakukan bersama Alfa Group yang memiliki lebih dari 23 ribu jaringan minimarket di seluruh Indonesia guna memperluas akses layanan perbankan syariah digital.
Selain itu, perseroan juga memperluas kerja sama dengan sejumlah mitra strategis seperti Flip, Mekari, Persis Solo, Muhammadiyah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Bank Aladin Syariah juga ditunjuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS BPIH) pada 2025.
Memasuki 2026, perseroan menargetkan penguatan kerja sama dengan mitra bisnis potensial, ekspansi produk dan layanan melalui aplikasi digital, jaringan offline mitra strategis, dan jaringan ATM BCA untuk layanan tarik tunai tanpa kartu.
Perseroan juga membidik pertumbuhan current account saving account (CASA) melalui akuisisi pendanaan secara organik, integrasi dengan ekosistem mitra strategis, serta optimalisasi kategori nasabah Aladin Premier yang menyasar segmen ritel menengah atas.
Pada kuartal I 2026, Bank Aladin Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp23,3 miliar.
Perseroan juga menyatakan akan terus memperkuat infrastruktur teknologi informasi, tata kelola perusahaan, serta kualitas sumber daya manusia guna mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Memasuki Usia 64 Tahun, Bank BPD Bali Target Masuk KBMI Dua
Bank BPD Bali, di usia 64 tahun, menargetkan masuk KBMI 2 pada 2026 dengan modal inti Rp5,98 triliun. Fokus pada pertumbuhan terukur dan inovasi. [743] url asal
#bank-bpd-bali #kbmi-2 #modal-inti #ekspansi-bisnis #inovasi-bank #hut-ke-64 #pertumbuhan-ekonomi #kredit-umkm #dana-pihak-ketiga #laba-bank #rasio-keuangan #harmoni-bertumbuh #stabilitas-institusi #ma
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/06/26 18:00
v/241429/
Bisnis.com, DENPASAR – PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali menargetkan masuk Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 di usianya ke-64 tahun.
Direktur Utama Bank Bali I Nyoman Sudharma menjelaskan total modal disetor per Mei 2026 mencapai Rp3,63 triliun dan modal inti sebesar Rp5,98 triliun, yang memproyeksikan Bank BPD Bali untuk naik kelas menjadi bank kategori KBMI 2 pada 2026.
Sudharma menjelaskan Bank BPD Bali berfokus untuk menjadi lebih besar dan lebih baik melalui langkah yang terukur. Ekspansi bisnis dijalankan tidak sekadar untuk mengejar angka, melainkan untuk memperkuat sistem, menyelaraskan seluruh elemen serta memastikan inovasi berjalan beriringan dengan pengendalian risiko demi kemajuan bank secara jangka panjang.
Sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial, peringatan HUT ke-64 ini diisi dengan berbagai kegiatan humanis maupun kekeluargaan. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi persembahyangan bersama, penyerahan punia, pemberian bantuan langsung kepada panti asuhan, serta kunjungan silaturahmi kepada para pendiri dan pensiunan pengurus Bank BPD Bali. Selain itu, diselenggarakan pula kegiatan donor darah, turnamen tenis meja dan kompetisi frontliner untuk menjaga serta meningkatkan kualitas layanan.
Mewakili manajemen dan seluruh insan Bank BPD Bali, kami mengucapkan terima kasih kepada nasabah, Pemegang Saham, Pemerintah serta seluruh lapisan masyarakat atas kepercayaan maupun dukungan yang senantiasa diberikan. Kepercayaan inilah yang menjadi pondasi utama bagi Bank BPD Bali untuk dapat terus bertahan, bertumbuh dan berupaya memberikan layanan yang terbaik," jelas Sudharma, Jumat (5/6/2026).
Memasuki usia baru, Bank BPD Bali kembali mengukuhkan komitmennya yang tertuang dalam visi perusahaan, yakni menjadi bank yang kuat, berdaya saing tinggi, dan terkemuka dalam melayani serta berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Komitmen untuk bertumbuh secara terukur ini tercermin dari kinerja keuangan Bank BPD Bali per 31 Mei 2026 yang mencatatkan hasil positif. Total aset tumbuh sebesar 8,19 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp43,12 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp25,63 triliun atau tumbuh 8,46 persen (yoy), dengan porsi kredit UMKM mencapai Rp13,51 triliun (tumbuh 12,55 persen (yoy)). Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan sebesar 5,68 persen (y-o-y) menjadi Rp35,40 triliun. Adapun laba per Mei 2026 tercatat sebesar Rp670 miliar, tumbuh 16,50 persen (yoy).
Rasio keuangan Bank BPD Bali menunjukkan indikator yang sehat, di mana Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada level 30,34 persen, Return on Assets (ROA) 4,29 persen, Return on Equity (ROE) 28,39 persen, NPL Gross terjaga di angka 0,96 persen, BOPO 59,09 persen, serta Net Interest Margin (NIM) mencapai 5,89 persen. Posisi keuangan ini diperkuat oleh penambahan modal dari pemegang saham di tahun 2026 sebesar Rp746 miliar.
Menginjak usia ke-64 tahun pada 5 Juni 2026, PT Bank Pembangunan Daerah Bali menyelenggarakan rangkaian peringatan hari ulang tahun dengan mengusung tema "Harmoni Bertumbuh Menjaga Stabilitas". Tema ini merupakan manifestasi dari filosofi manajemen dan tata kelola perusahaan yang menekankan pada keseimbangan dinamis antara kemajuan bisnis maupun ketahanan institusi.
Makna dari harmoni bertumbuh adalah sebuah pertumbuhan kolektif, di mana setiap sektor saling mendukung secara selaras. Pertumbuhan ini juga berpegang teguh pada regulasi yang berlaku, sehingga kemajuan yang dicapai tetap terukur, aman dan berkelanjutan.
Sementara itu, menjaga stabilitas dimaknai sebagai jangkar institusi dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Bank BPD Bali berkomitmen memastikan seluruh kondisi fundamental, mulai dari kesehatan finansial, permodalan, kepatuhan hukum, hingga keamanan data, tetap terjaga dengan mengedepankan manajemen risiko pada setiap langkah strategisnya.
Kinerja yang stabil ini mendapat apresiasi di tingkat nasional saat Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR RI bersama Menteri Dalam Negeri dan mitra kerja di Jakarta pada Rabu (3/6/2026). Rapat yang dihadiri oleh Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, ini membahas perkembangan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) BUMD serta dukungan regulasi bagi BPD sebagai BUMD sektor jasa keuangan.
Dalam forum tersebut, I Nyoman Sudharma bersama Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA) menyampaikan terima kasih kepada Menteri Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri, serta seluruh pemangku kepentingan atas dukungannya terhadap penguatan peran BPD. "Regulasi yang kuat bagi BUMD, khususnya BPD, sangat penting untuk menjaga keberlanjutan fungsi intermediasi, memperluas akses pembiayaan masyarakat, dan mendukung pembangunan daerah," jelas Sudharma.
Apresiasi khusus juga datang dari Anggota Komisi II DPR RI, Wahyudin Noor Aly. Ia menyoroti rasio profitabilitas Bank BPD Bali yang efisien. "Kita mengapresiasi Bank BPD Bali. Dengan aset di kisaran Rp40 triliun, labanya mencatatkan hasil yang sangat baik sebesar Rp1,1 triliun. Hal ini membuktikan bahwa bank dengan aset yang relatif tidak terlalu besar tetap dapat dikelola secara optimal untuk menghasilkan keuntungan yang baik bagi daerah," tuturnya.
Laba Bank Korea di RI Terbelah, Siapa yang Melaju dan Tertinggal?
Bank Oke Indonesia memimpin dengan laba tumbuh 112,54%, sementara Bank KB Indonesia mengalami penurunan laba terbesar. [1,159] url asal
#bank-korea #laba-bank-korea #bank-korea-di-indonesia #pertumbuhan-laba-bank #bank-oke-indonesia #bank-nationalnobu #hana-bank-indonesia #laba-bersih-bank #return-on-equity #return-on-asset #transforma
(Bisnis.Com - Finansial) 02/06/26 09:33
v/237219/
Bisnis.com, JAKARTA — Peta persaingan bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia semakin beragam pada kuartal I/2026. Dari tujuh bank yang beroperasi di Tanah Air, hanya sebagian yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba, sedangkan sisanya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan triwulan, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) berada di posisi pertama dengan pertumbuhan laba bersih 112,54% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp64,67 miliar pada kuartal I/2026. Bank besutan korporasi keuangan asal Korea Selatan, APRO Financial Co. Ltd. itu pada kuartal I/2025 mencetak laba senilai Rp30,43 miliar.
PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) berada di posisi kedua. Bank Nobu, yang sebagian kepemilikannya berada di tangan Hanwha Life Insurance Co., Ltd. dengan porsi 40% saham, membukukan laba sebesar Rp153,95 miliar, meningkat 39,82% YoY dari Rp110,10 miliar pada kuartal I/2025.
Kemudian, ada PT Bank KEB Hana Indonesia alias Hana Bank mencetak laba bersih sebesar Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026. Realisasi itu meningkat 23,84% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp162,13 miliar.
Capaian ini menempatkan perseroan sebagai bank milik investor Korea Selatan dengan raihan laba bersih tertinggi di antara bank-bank asal Negeri Ginseng lainnya.
Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan menyampaikan, perseroan pada tahun ini menargetkan laba bersih sebesar Rp650,11 miliar. Dengan demikian, realisasi laba pada awal tahun sudah sekitar 30,88% dari total laba yang ditargetkan Hana Bank pada 2026.
Adapun perseroan optimistis dapat mencapai target 2026 dengan target laba bersih sebesar Rp650,11 miliar, aset, kredit Rp43,30 triliun, DPK Rp29,50 triliun, dan aset sebesar Rp56,65 miliar. Untuk mencapai target tersebut, Hendri mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui jaringan kantor cabang.
“Kami fokus mendorong pertumbuhan aset, pertumbuhan pendapatan operasional bruto, efisiensi dan produktivitas, serta memperkuat tata kelola di cabang,” kata Hendri beberapa waktu lalu.
Sementara itu, tidak semua bank yang berada dalam genggaman investor Korea Selatan yang membukukan keuntungan pada awal 2026. PT Bank Shinhan Indonesia misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 12,69% YoY menjadi Rp54,25 miliar hingga Maret 2026, setelah pada periode yang sama tahun lalu meraup laba Rp62,14 miliar.
Laba bersih PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) milik Woori Bank juga menyusut 30,78% YoY dari Rp154,33 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp106,82 miliar pada kuartal I/2026. PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) yang dikendalikan oleh Industrial Bank of Korea turut mencatatkan penurunan laba sebesar 31,90% YoY menjadi Rp37,17 miliar dari Rp54,58 miliar pada kuartal I/2025.
Di antara bank-bank tersebut, laba bersih PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) mencatatkan penurunan terdalam. Hingga Maret 2026, KB Bank membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,67 miliar, turun 96,97% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp352,12 miliar.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyampaikan, pihaknya menyadari masih terdapat ruang untuk perbaikan, utamanya dalam kualitas kredit, fundamental bisnis secara keseluruhan, serta penguatan struktur permodalan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Fokus kami ke depan adalah menjaga momentum ini melalui pertumbuhan berkualitas, pengelolaan risiko yang disiplin, serta penguatan sinergi dengan KB Financial Group,” ujar Kunardy dalam keterangan resminya, dikutip pada Senin (1/6/2026).
Rasio Profitabilitas Bank Korsel di Indonesia
Dilihat dari tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE), Bank Nobu menempati posisi teratas di antara bank-bank milik investor Korea Selatan.
Sebagai catatan, rasio ini menunjukkan tingginya keuntungan yang dihasilkan oleh bank dari setiap nilai yang diinvestasikan pemegang sahamnya. Semakin tinggi nilai ROE, semakin baik kinerja bank dalam menghasilkan laba bersih melalui modalnya.
Hingga Maret 2026, bank dengan kode saham NOBU itu membukukan ROE sebesar 15,47%, mengungguli ROE Hana Bank 6,91%, OK Bank 6,78%, Bank Shinhan 4,35%, Bank Woori Saudara 4,01%, IBK 2,60%, dan KB Bank 0,16%.
Sementara itu dari sisi tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA), OK Bank menjadi yang terdepan. Rasio ini mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Semakin tinggi ROA, semakin efisien bank dalam mendayagunakan asetnya untuk mencetak keuntungan.
Pada kuartal I/2026, OK Bank membukukan ROA sebesar 2,42%, disusul Hana Bank 1,93%, Bank Nobu 1,91%, Bank Shinhan dan Bank Woori Saudara 0,97%,, IBK 0,80%, dan KB Bank 0,02%.
Transformasi Belum Seragam
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, perbedaan kinerja laba bank-bank Korea di Tanah Air pada periode ini lebih mencerminkan perbedaan tahap transformasi dan kualitas fundamental masing-masing bank daripada faktor kepemilikan.
“Bank yang mampu menjaga kualitas kredit, menekan biaya dana, dan meningkatkan efisiensi operasional cenderung mencatat pertumbuhan laba,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, tercermin pada Hana Bank yang membukukan laba bersih Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026, tumbuh 23,84% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja itu ditopang oleh rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang rendah sebesar 0,72% serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11,78%.
Di sisi lain, sejumlah bank masih menghadapi tekanan dari tingginya biaya pencadangan, proses penyehatan portofolio kredit, hingga biaya transformasi bisnis yang belum sepenuhnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Kondisi tersebut pada akhirnya menekan kemampuan bank dalam membukukan pertumbuhan laba.
Trioksa menilai fenomena tersebut menunjukkan proses transformasi bank-bank Korea di Indonesia belum berlangsung secara seragam. Sebagian bank telah memasuki fase pemanenan hasil (harvesting) setelah menjalankan berbagai upaya perbaikan bisnis dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan sebagian lainnya masih berada pada tahap konsolidasi dan penguatan fundamental.
Ke depan, Trioksa menyebut bahwa kemampuan menjaga kualitas aset dan efisiensi pendanaan akan menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan profitabilitas bank-bank tersebut. Terlebih, industri perbankan saat ini dihadapkan pada kondisi likuiditas yang semakin ketat dan persaingan penghimpunan dana yang kian intens.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai strategi bisnis turut memengaruhi perbedaan kinerja bank Korea Selatan.
Dia menuturkan, bank yang fokus pada niche market seperti ekosistem perusahaan Korea, supply chain industri, atau pembiayaan korporasi cenderung lebih stabil dibanding bank yang terlalu agresif masuk ke segmen retail berisiko tinggi atau digital lending tanpa mitigasi risiko kuat.
Di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya suku bunga, menurutnya strategi ekspansi yang terlalu agresif justru dapat meningkatkan tekanan NPL dan kebutuhan pencadangan.
“Artinya, kondisi saat ini memperlihatkan bahwa kemampuan manajemen risiko menjadi faktor yang semakin menentukan daya tahan profitabilitas bank,” jelas Rizal kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa proses transformasi dan ekspansi sejumlah bank Korea di Indonesia memang nampak belum sepenuhnya menghasilkan profitabilitas optimal.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia menjelaskan bahwa investor Korea cukup agresif melakukan akuisisi, digitalisasi, hingga injeksi modal besar di Indonesia. Kendati begitu, transformasi perbankan membutuhkan waktu panjang karena harus diikuti pembentukan basis nasabah, penguatan dana murah, efisiensi operasional, serta kualitas kredit yang sehat.
Karena itu, dia menilai bank Korea yang berpotensi bertahan dan tumbuh bukan hanya yang agresif berekspansi, tetapi yang mampu membangun model bisnis yang efisien, fokus, dan resilien terhadap tekanan likuiditas maupun volatilitas ekonomi global.

Laba Bank Mandiri tumbuh 18,9 persen capai Rp18,1 triliun per April
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan berkelanjutan pada awal tahun dengan laba bersih bank only tumbuh sebesar 18,9 persen secara tahunan (year ... [411] url asal
#bank-mandiri #bmri #kinerja-bank-mandiri #laba-bank-mandiri #kredit #kinerja-bank
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan berkelanjutan pada awal tahun dengan laba bersih bank only tumbuh sebesar 18,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp18,1 triliun per 30 April 2026.
Menurut perseroan, kinerja tersebut tidak terlepas dari fokus bisnis dengan memperkuat peran sebagai penggerak ekonomi negeri melalui penguatan ekosistem bisnis, pemberdayaan UMKM, serta dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan efektivitas strategi penguatan ekosistem yang dijalankan secara terintegrasi di seluruh segmen bisnis.
“Bank Mandiri terus memperluas akses layanan finansial yang nyaman dan menyeluruh bagi masyarakat, sekaligus menjaga keunggulan berkelanjutan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Novita.
Pada periode yang sama, total aset perseroan menyentuh Rp2.245 triliun secara bank only atau tumbuh 16,2 persen (yoy) dari posisi April 2025 sebesar Rp1.933 triliun.
Penyaluran kredit tumbuh 18,5 persen (yoy) menjadi Rp1.550 triliun. Menurut perseroan, pembiayaan utamanya tersalurkan ke sektor produktif, mulai dari pelaku usaha skala besar hingga pelaku UMKM, yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16,6 persen (yoy) menjadi Rp1.650 triliun. Menurut perseroan, pertumbuhan DPK selaras dengan aktivitas ekonomi nasional yang tetap terjaga, di mana Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri berperan sebagai penggerak layanan transaksi dan pengelolaan keuangan di berbagai segmen.
“Sinergi yang terintegrasi secara digital tersebut memungkinkan nasabah bertransaksi secara cepat, mudah, dan menyeluruh dalam satu ekosistem layanan keuangan,” kata Novita.
Ia menambahkan, disiplin penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas pertumbuhan perseroan.
“Diversifikasi sumber pendapatan dan disiplin pengelolaan risiko terus kami jaga untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah situasi yang menantang,” kata dia.
Perseroan menyatakan komitmennya untuk melanjutkan akselerasi peran sebagai mitra strategis pemerintah melalui pembiayaan program-program prioritas nasional.
Beberapa di antaranya kredit usaha rakyat (KUR), program makan bergizi gratis (MBG), penguatan pembiayaan UMKM, dukungan sektor strategis dan hilirisasi untuk mendorong penciptaan lapangan kerja serta peningkatan daya saing nasional, hingga pemberdayaan koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Menurut perseroan, sinergi tersebut menjadi wujud kontribusi dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan dari hulu ke hilir yang berdampak positif terhadap perluasan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Bank Mandiri akan terus menghadirkan layanan finansial yang nyaman, andal, dan menyeluruh, serta memperkuat ekosistem yang mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Novita.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Laba sebelum pajak Bank Mega Syariah pada Q1 2026 tumbuh 51,67 persen
PT Bank Mega Syariah membukukan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 51,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp52,72 miliar pada kuartal I 2025 ... [377] url asal
#bank-mega-syariah #bank-syariah #kinerja-bank #perbankan #laba-bank-mega-syariah
Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana..,
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Syariah membukukan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 51,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp52,72 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp79,97 miliar pada kuartal I 2026.
Peningkatan kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp191,60 miliar, meningkat lebih dari 20 persen (yoy).
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari fokus perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional.
“Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem,” kata Hanie.
Per akhir Maret 2026, total penyaluran pembiayaan perseroan tercatat lebih dari Rp9,26 triliun, atau tumbuh lebih dari 7,2 persen dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar Rp8,64 triliun.
Sejalan dengan itu, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perseroan mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Perseroan menyatakan, pihaknya terus memperkuat bisnis pembiayaan yang tercermin dari pertumbuhan pendapatan berbasis piutang dan bagi hasil.
Pendapatan dari piutang meningkat menjadi lebih dari Rp118 miliar atau tumbuh sekitar 40,9 persen (yoy). Sementara itu, pendapatan bagi hasil juga mengalami kenaikan tumbuh sekitar 4,7 persen (yoy) atau menjadi lebih dari Rp114,73 miliar.
Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mega Syariah menyampaikan pihaknya secara konsisten melakukan optimalisasi struktur pendanaan guna menjaga efisiensi biaya dana.
Strategi ini turut berkontribusi terhadap peningkatan margin, tercermin dari kenaikan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85 persen dari sebelumnya 4,04 persen.
Selain itu, efisiensi operasional juga menunjukkan perbaikan dengan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menjadi 76,90 persen dari sebelumnya 85,08 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, permodalan bank tetap kuat dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 27,63 persen. Perseroan juga tetap mencermati dinamika risiko pembiayaan.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan. Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun,” tutup Hanie.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Laba Bank Besar Tumbuh, BRI dan Mandiri Pimpin Kinerja
Empat bank besar RI mencatat laba positif pada kuartal I-2026. BRI unggul nominal, Mandiri pimpin pertumbuhan tertinggi. [592] url asal
(Kompas.com - Money) 04/05/26 08:46
v/209895/
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank-bank besar di Indonesia mencatat kinerja positif pada kuartal I-2026. Laba bersih tetap tumbuh. Kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV masih menjadi penopang utama industri perbankan.
Bank KBMI IV merupakan bank dengan modal inti di atas Rp 70 triliun. Kelompok ini terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI).
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba tertinggi secara tahunan. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6 persen.
BRI mencetak laba bersih terbesar secara nominal. Laba mencapai Rp 15,5 triliun atau naik 13,74 persen. BNI dan BCA mencatat pertumbuhan single digit. BNI membukukan Rp 5,68 triliun atau naik 5,04 persen. BCA mencatat Rp 14,7 triliun atau naik 3,8 persen.
Secara nominal, peringkat laba bersih dimulai dari BRI, disusul Bank Mandiri, BCA, dan BNI.
BRI mencatat laba Rp 15,5 triliun. Angka ini membaik dari penurunan 13,92 persen pada kuartal I-2025 sebesar Rp 13,67 triliun. Kinerja ditopang pendapatan bunga bersih dan penurunan beban bunga.
Pendapatan bunga BRI mencapai Rp 52,83 triliun atau naik 5,94 persen. Beban bunga turun 9,31 persen menjadi Rp 12,68 triliun.
Penyaluran kredit mencapai Rp 1.497 triliun atau tumbuh 13 persen. Kredit tetap kuat di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah melalui Kredit Usaha Rakyat sebesar Rp 47,09 triliun kepada 947.000 nasabah. Pembiayaan perumahan melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan mencapai Rp 17,13 triliun kepada sekitar 125.000 debitur.
Dana pihak ketiga BRI mencapai Rp 1.555 triliun atau tumbuh 9,4 persen. Porsi dana murah mencapai 68,1 persen. Total aset naik 7,2 persen menjadi Rp 2.249 triliun.
Bank Mandiri mencatat laba Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6 persen. Kinerja ditopang pertumbuhan kredit dan efisiensi operasional.
Kredit mencapai Rp 1.530 triliun atau tumbuh 17,4 persen. Return on Equity berada di level 22,1 persen.
Dana pihak ketiga mencapai Rp 1.675 triliun atau naik 21,1 persen. Dana murah mencapai Rp 1.201 triliun atau tumbuh 12,7 persen. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional turun ke 58,0 persen.
BCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun atau naik 3,8 persen. Kinerja didorong pendapatan nonbunga yang mencapai Rp 6,6 triliun atau tumbuh 14,2 persen.
Pendapatan bunga bersih tercatat Rp 21,1 triliun. Total pendapatan operasional mencapai Rp 27,8 triliun atau naik 3,3 persen. Biaya operasional sebesar Rp 8,5 triliun.
Penyaluran kredit mencapai Rp 994 triliun atau tumbuh 5,6 persen. Dana murah mencapai Rp 1.089 triliun atau naik 11,2 persen. Porsi dana murah mencapai 85,2 persen dari total dana pihak ketiga sebesar Rp 1.292,4 triliun.
BNI mencatat laba Rp 5,68 triliun atau naik 5,04 persen. Kinerja ditopang pendapatan bunga bersih dan pendapatan nonbunga.
Pendapatan nonbunga tumbuh 12,6 persen. Pertumbuhan ini didorong peningkatan transaksi digital. Pendapatan bunga bersih naik 12,1 persen menjadi Rp 11,02 triliun.
Pendapatan operasional sebelum pencadangan mencapai Rp 9,3 triliun. Angka ini menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal I.
Dana murah BNI tumbuh 26,6 persen menjadi Rp 731,6 triliun. Giro tumbuh 39,7 persen. Tabungan naik 10,4 persen.
Penyaluran kredit mencapai Rp 919,3 triliun atau tumbuh 20,1 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangLaba Bank Jumbo BBCA, BMRI Cs Merekah, Intermediasi Belum Bergairah
Laba bank besar BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI naik di Q1 2026, namun intermediasi kredit belum optimal. Fokus bergeser ke pengelolaan aset dan efisiensi. [1,452] url asal
#bank-jumbo #laba-bank #intermediasi-bank #pertumbuhan-laba #bank-mandiri #bank-bri #bank-bca #bank-bni #pertumbuhan-kredit #pendapatan-bunga #biaya-dana #likuiditas-bank #aset-bank #fungsi-intermedias
(Bisnis.Com - Finansial) 01/05/26 10:00
v/208390/
Bisnis.com, JAKARTA — Laba bank-bank jumbo tumbuh solid pada kuartal I/2026, namun belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan fungsi intermediasi.
Empat bank kategori KBMI IV yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) kompak mencatatkan kenaikan laba secara tahunan (yoy), dengan pertumbuhan yang bervariasi.
Bank Mandiri membukukan laba Rp16,21 triliun atau tumbuh 11,6% yoy dari Rp14,53 triliun. BRI mencatat laba Rp15,63 triliun atau naik 13,8% yoy dari Rp13,74 triliun.
Sementara itu, BCA mencetak laba Rp14,69 triliun atau meningkat 5,2% yoy dari Rp14,14 triliun, dan BNI membukukan laba Rp5,68 triliun atau tumbuh 5,0% yoy dari Rp5,41 triliun.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit menunjukkan pola yang tidak seragam. BRI mencatat ekspansi kredit paling agresif dengan pertumbuhan sekitar 13,9% yoy menjadi Rp1.558 triliun dari Rp1.367 triliun. BNI bahkan mencatat lonjakan lebih tinggi sebesar 20,1% yoy menjadi Rp919 triliun dari Rp765 triliun.
Di sisi lain, BCA mencatat pertumbuhan kredit yang lebih moderat sebesar 5,6% yoy menjadi Rp993 triliun dari Rp941 triliun. Sementara itu, Bank Mandiri justru mengalami kontraksi kredit sekitar 5,9% yoy menjadi Rp1.568 triliun dari Rp1.666 triliun.
Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga mencerminkan dinamika tersebut. BRI mencatat kenaikan NII sebesar 11,9% yoy menjadi Rp40,15 triliun dari Rp35,88 triliun, sementara BNI naik 12,1% yoy menjadi Rp11,02 triliun dari Rp9,83 triliun.
Sebaliknya, NII BCA relatif stagnan di Rp21,15 triliun atau hanya naik sekitar 0,04% yoy, sedangkan Bank Mandiri mengalami penurunan sekitar 1,8% yoy menjadi Rp25,04 triliun dari Rp25,50 triliun.
Dari sisi biaya dana, tren efisiensi terlihat pada beberapa bank. Beban bunga BRI turun 9,3% yoy menjadi Rp12,68 triliun, dan Bank Mandiri turun 12,7% yoy menjadi Rp12,32 triliun.
Sebaliknya, BCA mencatat kenaikan beban bunga 7,3% yoy menjadi Rp3,48 triliun, dan BNI naik 15,9% yoy menjadi Rp7,97 triliun.
Likuiditas juga menunjukkan perbedaan tekanan. BCA mencatat dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,3% yoy menjadi Rp1.292 triliun dari Rp1.193 triliun, dengan CASA naik 11,2% yoy menjadi Rp1.089 triliun.
BRI menghimpun DPK Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4% yoy, dengan CASA meningkat 13,2% yoy menjadi Rp1.058 triliun.
BNI mencatat pertumbuhan paling tinggi, dengan DPK melonjak 34,3% yoy menjadi Rp1.100 triliun dari Rp819 triliun, dan CASA naik 26,6% yoy menjadi Rp731 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri mengalami tekanan likuiditas dengan DPK turun 1,1% yoy menjadi Rp1.730 triliun dan CASA turun 4,3% yoy menjadi Rp1.214 triliun.
Dari sisi aset, BRI mencatat pertumbuhan total aset sebesar 7,2% yoy menjadi Rp2.249 triliun, BCA naik 7,0% yoy menjadi Rp1.640 triliun, dan BNI mencatat lonjakan aset sebesar 24,4% yoy menjadi Rp1.426 triliun. Sebaliknya, total aset Bank Mandiri turun tipis sekitar 1,3% yoy menjadi Rp2.432 triliun.
Inefisiensi Fungsi Intermediasi
Melihat kinerja Bank KBMI IV, Direktur Riset Core Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai bahwa pertumbuhan laba perbankan, khususnya bank-bank Himbara, perlu dicermati lebih dalam karena terjadi di tengah perlambatan penyaluran kredit.
“Kenaikan laba Himbara di tengah kredit yang melambat menandakan adanya gejala inefisiensi fungsi intermediasi. Laba tersebut kemungkinan besar didorong oleh penempatan dana di instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI, bukan sektor riil. Tren ini semu; bank terlihat sehat secara profit, namun belum tentu menggerakkan ekonomi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).
Dia menambahkan, kondisi tersebut juga memperlihatkan perbedaan pendekatan yang cukup kontras dengan BCA. Menurutnya, BCA cenderung lebih skeptis terhadap daya beli dan memilih menjaga likuiditas dibanding memaksakan ekspansi kredit.
“BCA lebih memilih memarkir likuiditas yang melimpah dibanding mendorong kredit ke sektor riil yang sedang berisiko. Sementara Himbara masih membawa mandat penyaluran kredit meski permintaan belum kuat,” jelasnya.
Etika juga menegaskan bahwa BCA sangat disiplin dalam menjaga kualitas aset, meskipun konsekuensinya adalah pertumbuhan laba yang lebih moderat.
“BCA sangat disiplin menjaga kualitas aset, meski itu berarti pertumbuhan laba harus melambat demi menghindari lonjakan NPL di masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia melihat adanya pergeseran strategi industri perbankan dari fungsi intermediasi kredit ke pengelolaan aset (asset management).
“Strategi bank saat ini bergeser dari lending menjadi asset management. Dalam kondisi risiko kredit meningkat, bank akan agresif menekan bunga simpanan untuk menjaga margin. Namun, hal ini berisiko membuat nasabah memindahkan dana ke instrumen investasi lain,” katanya.
Menurutnya, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank dapat kembali menyalurkan likuiditas yang menganggur ke sektor produktif sebelum beban bunga dana justru menekan profitabilitas.
“Strategi menjaga momentum sangat bergantung pada kemampuan bank menyalurkan likuiditas ke sektor produktif sebelum beban bunga DPK yang tinggi berbalik menekan laba operasional,” tuturnya.

Margin Tertekan, Pertumbuhan Berpotensi Moderat
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai keberlanjutan pertumbuhan laba bank-bank Himbara masih akan berlanjut, namun dengan kecenderungan melambat.
“Penopangnya masih ada, terutama dari kredit yang mulai pulih dan likuiditas domestik, termasuk penempatan dana pemerintah di perbankan. Namun tekanan juga meningkat dari cost of fund, kompetisi DPK, serta yield SBN yang masih tinggi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).
Dia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah oleh indikator ekonomi riil yang mulai melemah, seperti PMI yang turun mendekati batas ekspansi serta penurunan indeks menabung masyarakat.
“Artinya ruang ekspansi margin semakin sempit dan pertumbuhan laba ke depan berpotensi lebih moderat,” jelasnya.
Rizal juga menilai kinerja bank KBMI IV secara keseluruhan masih solid, tetapi tidak merata. Bank Mandiri dan BRI dinilai unggul karena ekspansi kredit yang agresif serta faktor basis kinerja yang lebih rendah sebelumnya.
Sementara BNI masih berada dalam fase konsolidasi kualitas kredit, dan BCA mencatat pertumbuhan lebih moderat karena strategi konservatif.
“BCA bukan melemah, tetapi memilih menjaga stabilitas dengan likuiditas kuat, CASA tinggi, dan risk appetite yang lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, strategi perbankan ke depan akan semakin selektif di tengah tekanan likuiditas dan biaya dana. Bank dengan pertumbuhan tinggi berpotensi menghadapi kenaikan biaya kredit jika ekspansi tidak terkendali.
“Ke depan, fokus akan bergeser ke efisiensi, optimalisasi CASA, serta diversifikasi fee-based income. Dalam kondisi seperti ini, bank yang mampu menjaga kualitas aset dan margin, bukan sekadar volume kredit, akan lebih sustain,” katanya.
Program Pemerintah
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, melihat kinerja bank-bank besar, khususnya Himbara, masih menunjukkan daya tahan yang kuat dan bahkan relatif lebih unggul dari sisi pertumbuhan dibandingkan BCA.
Menurutnya, pertumbuhan laba dua digit pada Bank Mandiri dan BRI mencerminkan kuatnya dukungan faktor fundamental, terutama sinergi dengan program pemerintah yang bersifat strategis.
Bank-bank Himbara dinilai menjadi motor utama dalam penyaluran kredit ke sektor prioritas, termasuk pembiayaan infrastruktur dan pengembangan sektor produktif.
Selain itu, penguatan ekosistem digital melalui berbagai layanan transaksi juga dinilai turut menopang pertumbuhan dana murah dan aktivitas bisnis perbankan.
Di sisi lain, transmisi penurunan suku bunga acuan sepanjang 2025 membantu menjaga biaya dana tetap terkendali, sehingga margin bunga tetap terjaga.
“Kinerja bank Himbara relatif lebih baik karena ditopang sinergi dengan program pemerintah, efisiensi biaya dana, serta ekspansi kredit ke sektor produktif dan UMKM,” ujarnya.
Namun demikian, dia mengingatkan bahwa tantangan tetap membayangi, terutama dari faktor eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya risiko geopolitik global yang dapat berdampak pada profil risiko perbankan.
Lebih lanjut, dia menilai perbedaan kinerja dengan BCA juga dipengaruhi oleh strategi yang lebih konservatif serta efek basis tinggi (high base effect) dari kinerja sebelumnya, sehingga pertumbuhan laba BCA terlihat lebih moderat.
Nafan menyebut ke depan bahwa masing-masing bank dinilai perlu menjaga momentum dengan mengoptimalkan penghimpunan dana murah (CASA) serta tetap selektif dalam penyaluran kredit.
Bank Himbara diperkirakan akan tetap fokus pada sektor produktif dan UMKM, sementara BCA cenderung menggarap segmen korporasi berkualitas tinggi (blue chip) dengan pendekatan yang lebih berhati-hati, tapi tidak menutup mata tetap menyelami sektor UMKM.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
RUPST Bank Mandiri sepakati dividen Rp44,47 T atau 79 persen dari laba
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (kode saham: BMRI) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (29/4) menyepakati pembagian dividen senilai ... [473] url asal
#bank-mandiri #bmri #laba-bank-mandiri #dividen #dividen-bmri #rasio-dividen
Hal ini mencerminkan komitmen perseroan dalam menghadirkan nilai optimal bagi negara dan seluruh pemegang saham
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (kode saham: BMRI) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (29/4) menyepakati pembagian dividen senilai Rp44,47 triliun atau setara dengan 79 persen dari laba bersih tahun buku 2025.
Adapun dividen total per saham (total dividend per share/DPS) atas kinerja tahun buku 2025 sebesar Rp476,95, tumbuh dibandingkan DPS tahun buku 2024 senilai Rp466,18 per lembar saham.
“Hal ini mencerminkan komitmen perseroan dalam menghadirkan nilai optimal bagi negara dan seluruh pemegang saham, tanpa mengurangi kapasitas Bank Mandiri untuk terus tumbuh sebagai institusi keuangan nasional berdaya saing global,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri Riduan dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dari total dividen, sebesar Rp9,3 triliun telah dibayarkan lebih awal sebagai dividen interim pada 14 Januari 2026. Sedangkan sisanya akan didistribusikan kepada pemegang saham pascapenyelenggaraan RUPST.
Riduan menambahkan bahwa keputusan pemegang saham hari ini mencerminkan kepercayaan atas fundamental yang dijaga dan dibangun perseroan.
“Dividen ini sekaligus menjadi wujud tekad kami untuk Melayani Sepenuh Hati, sebagai mitra negara dan bagian dari ekosistem Danantara yang memperkuat kontribusi BUMN bagi masyarakat,” kata dia.
Perseroan mencatat, harga saham penutupan pada tanggal penyelenggaraan RUPST mencapai Rp4.430 per lembar saham, setara dengan dividend yield pada level 10,77 persen.
Selain kesepakatan pembagian dividen, RUPST Bank Mandiri juga merestui rencana pembelian kembali saham perseroan dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp1,17 triliun yang akan dilakukan hingga 12 bulan setelah persetujuan RUPST, yaitu 29 April 2027.
Saham hasil buyback akan disimpan sebagai saham treasuri dan dialihkan melalui Program Kepemilikan Saham bagi karyawan, Direksi, dan anggota Dewan Komisaris Non-Independen, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut perseroan, langkah ini ditempuh untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perseroan yang ditopang fundamental solid.
Selanjutnya, RUPST juga menyepakati agenda strategis lainnya termasuk perubahan susunan pengurus.
Dalam hal ini, pemegang saham melalui RUPST menyetujui pemberhentian dengan hormat Muhammad Yusuf Ateh dari jabatan Komisaris Bank Mandiri, sekaligus memberhentikan dan mengangkat kembali Timothy Utama sebagai Direktur Operations Bank Mandiri.
Dengan demikian, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mandiri menjadi sebagai berikut.
Dewan Komisaris
• Komisaris Utama/Independen: Zulkifli Zaini
• Wakil Komisaris Utama: Rudy Salahuddin Ramto*
• Komisaris: Luky Alfirman
• Komisaris: Yuliot
• Komisaris Independen: Mia Amiati
• Komisaris Independen: Bintoro K. Pardewo
Direksi
• Direktur Utama: Riduan
• Wakil Direktur Utama: Henry Panjaitan
• Direktur Operations: Timothy Utama
• Direktur Human Capital & Compliance: Eka Fitria
• Direktur Risk Management: Danis Subyantoro
• Direktur Commercial Banking: Totok Priyambodo
• Direktur Corporate Banking: Mochamad Rizaldi
• Direktur Consumer Banking: Saptari
• Direktur Treasury & International Banking: Ari Rizaldi
• Direktur Finance & Strategy: Novita Widya Anggraini
• Direktur Network & Retail Funding: Jan Winston Tambunan
• Direktur Information & Technology: Sunarto
*) Efektif berlaku setelah lulus Uji Kemampuan dan Kepatutan (fit and proper test) Otoritas Jasa Keuangan dan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Kinerja positif 2025, Bank Banten targetkan laba Rp75 miliar pada 2026
Bank Banten mencatatkan peningkatan kinerja finansial yang signifikan sepanjang tahun buku 2025 dengan capaian aset di atas Rp10 triliun atas capaian ... [401] url asal
#banten #rkud #bank-banten #rupst #sekda-banten #laba-bank-banten
Keikutsertaan kabupaten dan kota dalam mempercayakan pengelolaan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) kepada Bank Banten memberikan implikasi langsung terhadap peningkatan kinerja, terutama pada penyaluran kredit ASN dan PPPK,
Serang (ANTARA) - Bank Banten mencatatkan peningkatan kinerja finansial yang signifikan sepanjang tahun buku 2025 dengan capaian aset di atas Rp10 triliun atas capaian tersebut, manajemen optimistis membidik laba bersih sebesar Rp75 miliar pada tahun 2026.
Direktur Utama Bank Banten, Muhammad Busthami, di Serang, Selasa, mengungkapkan bahwa peningkatan kinerja tahun 2025 mencakup seluruh lini keuangan dengan pertumbuhan rata-rata di atas 30 persen dibandingkan tahun 2024.
Berdasarkan laporan kinerja tahun 2025, Bank Banten mencatatkan total aset menembus angka di atas Rp10 triliun, kredit yang diberikan mencapai Rp5,07 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) Sebesar Rp6,42 triliun. Kualitas kredit perbaikan signifikan pada rasio Gross Non-Performing Loan (NPL) yang kini berada di bawah 5 persen.
"Keikutsertaan kabupaten dan kota dalam mempercayakan pengelolaan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) kepada Bank Banten memberikan implikasi langsung terhadap peningkatan kinerja, terutama pada penyaluran kredit ASN dan PPPK," jelasnya usai RUPST dan Public Expose.
Memasuki tahun 2026, Busthami optimistis kinerja perseroan akan semakin solid seiring bertambahnya jumlah kabupaten dan kota yang bekerja sama dalam pengelolaan RKUD. Pihaknya memproyeksikan tambahan potensi pengelolaan kredit mencapai hampir Rp3 triliun.
"Sesuai rencana bisnis bank tahun 2026, proyeksi laba bersih kami di akhir tahun adalah Rp75 miliar. Namun, kami berupaya sungguh-sungguh untuk mencapai di atas target tersebut," tegasnya.
Untuk mencapai target tersebut, Bank Banten telah menyiapkan sejumlah strategi utama, di antaranya yakni melakukan akselerasi digital pengembangan produk dan layanan digital sebagai suatu keniscayaan perbankan modern.
Serta efisiensi operasional, perbaikan proses bisnis, pengelolaan biaya yang lebih ketat dan peningkatan sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, dan produktif.
"Dengan penguatan sinergi daerah dan transformasi digital, Bank Banten berkomitmen untuk terus berbenah guna memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Banten," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, Deden Apriandhi Hartawan, menyatakan bahwa Banten harus terus meningkatkan produktivitas ekonomi dari tahun ke tahun.
Ia berharap Bank Banten menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui sinergi dengan pemerintah kabupaten dan kota.
"Apa yang dicapai di 2025 adalah sesuatu yang baik. Harapannya Banten memang harus bisa menjadi motor penggerak ekonomi. Saat ini sudah ada empat daerah yakni Lebak, Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang yang bergabung RKUD. Ini akan terus kita upayakan agar daerah lain juga berkontribusi," ujar Deden.
Pewarta: Desi Purnama Sari
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56