#30 tag 24jam
Adu Kinerja 10 Bank dengan Laba Terbesar RI Berdasarkan Lapkeu 2025
Industri perbankan RI catat laba bersih Rp262,18 triliun di 2025, naik 2,74% YoY. Berikut 10 bank dengan laba terbesar sepanjang 2025. [1,381] url asal
#bank-terbesar #laba-bank #kinerja-bank #laba-bersih #pertumbuhan-laba #pendapatan-bunga #kredit-bank #dana-pihak-ketiga #simpanan-bank #bca-laba #bri-laba #bank-mandiri-laba #bni-laba #bsi-laba #cimb
(Bisnis.Com - Finansial) 04/03/26 08:30
v/154241/
Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan Tanah Air membukukan kinerja yang beragam hingga akhir 2025. Kendati mayoritas bank yang masuk dalam daftar ini membukukan pertumbuhan, tidak sedikit yang mencatatkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan Portal Data Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa bank umum mengantongi laba bersih senilai Rp262,18 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 2,74% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal IV/2024 yang sebesar Rp255,19 triliun.
Perolehan laba perbankan pada periode tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,09% YoY, dari kuartal IV/2024 sebesar Rp549,75 triliun menjadi Rp572,21 triliun hingga Desember 2025.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank mencapai Rp707,46 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 5,01% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp673,72 triliun.
Pada saat yang sama, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun bank umum tumbuh 6,62% YoY dari Rp247,27 triliun pada kuartal IV/2024 menjadi Rp263,64 triliun pada kuartal IV/2025.
Pertumbuhan DPK pada periode tersebut didorong oleh simpanan giro bank umum yang meningkat 12,67% YoY menjadi Rp68,05 triliun per Desember 2025. Simpanan tabungan dan berjangka juga mencatatkan kinerja positif, masing-masing tumbuh sebesar 6,31% YoY dan 4,47% YoY.
Berikut rangkuman 10 bank pencetak laba terbesar di Indonesia sepanjang 2025:
BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan raihan laba konsolidasian sepanjang 2025 senilai Rp57,56 triliun. Realisasi itu meningkat 4,94% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp54,85 triliun.
Perolehan laba sebesar Rp57,56 triliun pada 2025 turut menempatkan BCA sebagai bank dengan laba terbesar di Indonesia.
Dari sisi intermediasi, total kredit perseroan mencapai Rp979,69 triliun, meningkat 7,53% YoY dari realisasi 2024 yang sebesar Rp911,10 triliun. Pada saat yang sama, DPK BCA tumbuh 10,18% YoY dari Rp1.133,61 triliun pada 2024 menjadi Rp1.249,04 triliun.
BRI
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Pada 2024, perseroan membukukan laba senilai Rp60,30 triliun sehingga terjadi koreksi sebesar 5,26% YoY.
“Hingga akhir 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,13 triliun,” ungkap Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
Kinerja keuangan dan profitabilitas positif BRI didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai. Hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio atau LDR yang bank berada di level yang ample sebesar 91,4%. Angka ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.
BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berada di urutan berikutnya dengan perolehan laba konsolidasian sebesar Rp20,11 triliun. Raihan laba pada 2025 menyusut 7,19% YoY dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp21,66 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan DPK sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama dalam keterangannya.
BSI
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) berada di posisi kelima dengan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun, meningkat 8,02% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp7,00 triliun.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, kinerja solid BSI sepanjang 2025 ditopang oleh berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi.
“Didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Anggoro.
CIMB Niaga
Urutan keenam diisi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp6,93 triliun pada 2025. Realisasi itu tumbuh tipis 0,53% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,89 triliun.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa hasil kinerja CIMB Niaga pada 2025 mencerminkan konsistensi performa serta kesehatan fundamental bisnis bank.
“Di tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent, menjaga kualitas aset, memperkuat basis dana murah, serta menjalankan pengelolaan biaya yang disiplin,” ungkap Lani dalam keterangannya.
OCBC NISP
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp5,05 triliun sepanjang 2025. Dengan raihan tersebut, OCBC NISP berada di posisi ketujuh dalam daftar ini. Realisasi laba pada 2025 meningkat 3,92% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,86 triliun.
Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, pihaknya tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent.
“Sepanjang 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi,” kata Parwati dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Parwati mengungkapkan, penguatan DPK dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja OCBC NISP ke depan.
Permata Bank
Selanjutnya, ada PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp3,58 triliun sampai dengan akhir 2025. Raihan laba tersebut naik tipis 0,59% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,56 triliun.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan, di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang 2025.
Dia mengatakan, kinerja Permata Bank sepanjang 2025 mencerminkan fundamental yang resilien. Hal ini tecermin dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari -hari, bisnis, dan keluarga mereka,” kata Meliza dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).
Bank Danamon
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berada di urutan selanjutnya dengan perolehan laba konsolidasian senilai Rp3,58 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu naik tipis 0,59% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,56 triliun.
Sepanjang 2025, Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengatakan bahwa Danamon telah mengimplementasikan prioritas strategisnya dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas, dengan kualitas aset yang tetap terjaga.
“Danamon menyambut 2026 dengan tekad yang lebih kuat untuk menjadi penyedia solusi finansial yang terus berupaya mendapatkan kepercayaan nasabah serta untuk terus berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Daisuke.
BTN
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menutup daftar ini dengan perolehan laba bersih konsolidasian senilai Rp3,50 triliun sepanjang 2025. Dibandingkan tahun sebelumnya, raihan laba tersebut meningkat 16,42% YoY dari sebelumnya Rp3,00 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini.
“Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon, Senin (9/2/2026).
Rekap Kinerja Cuan Bank Jumbo 2025 (BCA, BRI, Mandiri, & BNI), Siapa Paling Moncer?
Bank jumbo seperti BRI, BCA, Bank Mandiri, dan BNI telah merilis kinerja sepanjang 2025. Simak rangkumannya. [1,092] url asal
#bank-jumbo #kinerja-bank #laba-bersih #pertumbuhan-laba #bca-laba #bri-laba #mandiri-laba #bni-laba #kredit-perbankan #dpk-perbankan #ojk-perbankan #bca-pertumbuhan #bri-pertumbuhan #mandiri-pertumbuh
(Bisnis.Com - Finansial) 26/02/26 10:30
v/147918/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank-bank jumbo RI dengan modal inti di atas Rp70 triliun telah merilis kinerja keuangan sepanjang tahun lalu. Kinerjanya beragam, ada yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih, tetapi terdapat pula yang mengalami tekanan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, BCA membukukan laba terbesar sepanjang tahun lalu dengan raihan senilai Rp57,5 triliun. Disusul oleh bank pelat merah, BRI yang mencetak laba bersih Rp57,13 triliun dan Bank Mandiri sebesar Rp56,3 triliun. Lalu BNI meraih laba bersih senilai Rp20,11 triliun.
Dari sisi pertumbuhan, selain mencatatkan peraih laba terbesar, BBCA juga melaporkan pertumbuhan laba tertinggi di antara bank jumbo lainnya, yaitu sebesar 4,9% YoY.
Di sisi lain, terdapat pula bank yang mengalami tekanan pada kinerja sepanjang tahun lalu, seperti BNI dan BRI yang membukukan penyusutan laba bersih.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kondisi global masih menjadi tantangan dan mempengaruhi kinerja perbankan pada 2025. Meskipun diliputi ketidakpastian, OJK memprediksi kinerja penyaluran kredit perbankan masih positif sepanjang tahun lalu.
Adapun, realisasi pertumbuhan kredit perbankan hingga Desember 2025 sebesar 9,69% YoY dan berada pada kisaran prakiraan Bank Indonesia (BI) yang sebesar 8%-11% YoY. Sementara himpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,83% YoY.
Berikut rangkuman kinerja bank jumbo (BCA, BRI, Mandiri, dan BNI) sepanjang 2025:
BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025.
Selain itu, BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% secara year on year (YoY) menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. BCA juga menyampaikan giro dan CASA naik 13,1% YoY hingga mencapai Rp1.045 triliun.
Per Desember 2025, total DPK BCA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp1.249 triliun. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% YoY mencapai 42 miliar. Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari.
Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY. Pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY. Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4% YoY.
Lalu, rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun.
BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang terbit di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (26/2/2026), laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp207,78 triliun, meningkat 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada 2024. Sementara, pada tahun sebelumnya, laba bersih BRI mencapai Rp60,3 triliun.
Dari sisi beban bunga, tercatat senilai Rp57,28 triliun atau terdapat kenaikan sebesar 1,20% dari Rp56,61 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) senilai Rp150,50 triliun, naik 5,52% dari Rp142,65 triliun pada tahun sebelumnya.
Jika termasuk pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih mencapai Rp151,79 triliun, meningkat 5,54% dari Rp143,82 triliun.
Bank berkapitalisasi jumbo tersebut, tetap menjaga ekspansi fungsi intermediasi sepanjang 2025. Secara konsolidasian, kredit yang diberikan dan pembiayaan syariah tercatat Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.348,2 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit yang diberikan yang mencapai Rp1.460,72 triliun, meningkat 12,5% dari Rp1.298,31 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pembiayaan syariah tercatat Rp56,35 triliun, naik 12,9% dibandingkan Rp49,88 triliun.
Kinerja penghimpunan dana BBRI tercatat tetap solid sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, dana pihak ketiga (DPK) yang berasal dari giro, tabungan, dan deposito mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.365,45 triliun.
Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat senilai Rp106 triliun atau naik 4,38% YoY dengan pendapatan non-bunga senilai Rp48,5 triliun atau naik 14,5% YoY.
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.
BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Raihan tersebut menyusut 7,15% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.
Dikutip dari laporan kinerja perseroan yang dipublikasikan, bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga sebesar Rp69,39 triliun, meningkat 4,22% YoY dari tahun sebelumnya Rp66,58 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga juga naik 11,33% YoY menjadi Rp29,06 triliun.
Dengan realisasi tersebut, pendapatan bunga bersih yang diperoleh BNI sepanjang 2025 mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,36% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp40,48 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Sepanjang 2024, BNI menyalurkan kredit senilai Rp775,87 triliun.
Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BNI menyusut dari 21,40% menjadi 20,66% hingga akhir 2025. Untuk kualitas kredit, NPL gross tercatat turun dari 1,97% menjadi 1,93%, dan NPL Net turun menjadi 0,70% dari 0,74%.
Adapun, pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) menyusut menjadi 3,80% dari periode yang sama tahun lalu 4,24%, sedangkan biaya operasional terhadap pendapatan operasional meningkat dari 70,05% sepanjang 2024 menjadi 72,94% hingga akhir 2025.
Rapor Kinerja Grup Djarum Q3: BBCA dan TOWR Kinclong, BELI & RANC Masih Tertekan
Emiten Djarum Grup menunjukkan hasil yang bervariasi sepanjang kuartal III/2025. BBCA & TOWR kompak bukukan laba, sementara BELI dan RANC masih merugi. [698] url asal
#bbca-kinerja #towr-pertumbuhan #beli-rugi #ranc-kerugian #djarum-grup #bbca-laba #towr-laba #beli-blibli #ranc-ritel #bbca-pendapatan #towr-pendapatan #heal-laba #supr-pertumbuhan #michael-hartono #in
(Bisnis.Com - Market) 06/11/25 14:42
v/29794/
Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja keuangan emiten terafiliasi konglomerasi Djarum Grup milik Hartono bersaudara dalam periode sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan hasil yang bervariasi.
Sebanyak empat dari enam perusahaan grup membukukan laba bersih, yang dipimpin BBCA hingga HEAL. Sedangkan, emiten teknologi dan peritel, BELI dan RANC kompak menderita kerugian.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan laba bersih Rp43,4 triliun dalam Januari-September 2025. Angka ini tumbuh 5,7% secara year on year (YoY) dibanding laba bersih Januari-September 2024 Rp41,1 triliun.
Dari sisi top line, Bank BCA meraup pendapatan bunga dan syariah bersih senilai Rp63,95 triliun, meningkat dibanding Rp60,93 triliun dalam periode yang sama 2024.
Sementara itu, emiten menara PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) membukukan pertumbuhan laba bersih 4,41% YoY menjadi Rp2,55 triliun. Pertumbuhan ini selaras dengan kinerja top line yang membaik, di mana pendapatan perseroan per kuartal III/2025 tumbuh 2,52% YoY menjadi Rp9,68 triliun.
Kemudian, emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR) juga membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 26% YoY dari Rp743,17 miliar menjadi Rp936,44 miliar.
Adapun, pendapatan SUPR dalam periode ini sebenarnya turun tipis 0,2% YoY dari Rp1,37 triliun menjadi Rp1,36 triliun. Namun, perseroan secara signifikan mampu menekan beban umum dan administrasi dari Rp65,62 miliar menjadi hanya Rp39,76 miliar. Alhasil, laba usaha perseroan mampu naik dari Rp944,66 miliar menjadi Rp955,91 miliar.
Seluruh pendapatan yang diraup perseroan merupakan pendapatan sewa menara telekomunikasi dari pihak ketiga. Pelanggan dengan pembelian terbesar adalah PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) dengan nilai Rp630,94 miliar.
Sementara itu, emiten rumah sakit terafiliasi dengan Grup Djarum, PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) tetap membukukan laba bersih meski nilainya susut. Hingga akhir September 2025, laba bersih HEAL susut 23,95% YoY dari Rp468,16 miliar menjadi Rp356,01 miliar.
Padahal, pendapatan HEAL dalam periode tersebut tumbuh 5,20% YoY dari Rp5,03 triliun menjadi Rp5,28 triliun. Namun, beban pokok pendapatan yang dibukukan perseroan naik 11,71% YoY menjadi Rp3,51 triliun, membuat laba bruto HEAL susut 5,70% YoY menjadi Rp1,77 triliun.
Berbeda dengan perusahaan Djarum Grup lainnya yang sukses membukukan laba, emiten teknologi PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli menunjukkan hal sebaliknya.
Blibli sepanjang Januari-September 2025 membukukan rugi bersih Rp1,84 triliun. Meski begitu, rugi ini menyusut 1,61% YoY dibanding rugi bersih periode yang sama 2024 senilai Rp1,87 triliun.
Padahal, dari sisi top line Blibli membukukan pertumbuhan pendapatan neto 25,62% YoY dari Rp12,13 triliun menjadi Rp15,23 triliun. Namun, perseroan turut menanggung beban penjualan senilai Rp1,53 triliun, beban pokok pendapatan Rp12,56 triliun, hingga beban umum dan administrasi Rp2,84 triliun, membuat Blibli membukukan rugi usaha senilai Rp1,68 triliun.
Nasib serupa juga dialami oleh emiten Grup Djarum di sektor ritel, PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). Bahkan, torehan rugi bersih yang dibukukan perusahaan hingga akhir September 2025 berbalik dari kinerja laba bersih pada periode yang sama tahun lalu.
RANC membukukan rugi bersih sebesar Rp40,25 miliar, capaian ini berbalik dari laba bersih Rp45,80 miliar pada periode sembilan bulan pertama 2024. Sebenarnya, RANC membukukan pertumbuhan pendapatan neto 0,83% YoY menjadi Rp2,18 triliun.
Namun, di saat yang sama perseroan menanggung beban pokok pendapatan sebesar Rp1,65 triliun, beban penjualan Rp402,86 miliar, sampai beban umum dan administrasi mencapai Rp184,10 miliar. Dari sini, perseroan sudah membukukan rugi usaha senilai Rp19,34 miliar.
Selain itu, perbedaan signifikan antara kinerja per kuartal III/2025 dengan kuartal III/2024 adalah di periode tahun ini RANC tidak mencatatkan realisasi laba dari investasi, yang periode tahun lalu membukukan Rp110,71 miliar. Hasilnya, laba periode berjalan Januari-September 2024 mencapai Rp45,26 miliar, dibanding rugi periode berjalan Rp40,77 miliar di periode tahun ini.
Sebagai informasi, posisi Michael Hartono sebagai orang terkaya di Indonesia awal tahun ini lengser ke posisi kelima. Menurut data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Michael Hartono di posisi awal 2025 mencapai US$1,3 miliar atau sekitar Rp21,19 triliun.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rapor Kinerja Laba Bank Jumbo Kuartal III/2025, Siapa Paling Moncer?
Simak rapor kinerja bank-bank penghuni KBMI 4 (BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI) per kuartal III/2025. [809] url asal
#bank-jumbo #laba-bank #kuartal-iii-2025 #bca-laba #bri-laba #bank-mandiri-laba #bni-laba #kinerja-bank #ekspansi-kredit #pertumbuhan-casa #kredit-korporasi #kredit-ukm #aset-bri #pinjaman-bank-mandiri
(Bisnis.Com - Finansial) 01/11/25 10:00
v/23652/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank-bank jumbo di Indonesia yang masuk kategori bank dengan modal inti (KBMI) 4 telah merilis kinerja keuangan hingga kuartal III/2025. Siapa peraih laba terbesar di antara Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA)?
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari tiga bank Himbara dan satu swasta besar yang masuk KBMI 4, hanya satu yang berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih.
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) mencatat laba bersih terbesar di industri sepanjang sembilan bulan tahun ini, mencapai Rp43,4 triliun atau naik 5,7% dibandingkan Rp41,1 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
"Kinerja ini ditopang oleh ekspansi kredit yang berkualitas dan terjaganya likuiditas perseroan," ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam paparan kinerjanya.
Dari sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) per akhir September 2025, terdapat pertumbuhan sebesar 7% secara tahunan yang ditopang utamanya oleh pendanaan murah atau current account saving account (CASA).
Lebih rinci terkait penyaluran kredit, sektor korporasi menjadi yang tertinggi dibanding segmen lain, tumbuh 10,4% YoY mencapai Rp436,9 triliun per September 2025.
Kredit komersial naik 5,7% YoY menjadi Rp142,9 triliun, dan kredit UKM tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp129,3 triliun. Pertumbuhan kredit konsumer menyentuh 3,3% YoY menjadi Rp223,6 triliun, didorong kenaikan KPR sebesar 6,4% YoY menjadi Rp138,8 triliun.
Adapun, CASA BCA tumbuh 9,1% YoY mencapai Rp999 triliun. "Pertumbuhan CASA selaras dengan total frekuensi transaksi BCA yang naik 78% dalam tiga tahun terakhir," kata Hendra.
BRI
Di bawahnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasi sebesar Rp41,23 triliun hingga akhir kuartal III/2025. Raihan laba tersebut tidak lepas dari kontribusi anak usaha BBRI.
Wakil Direktur Utama BRI Agus Noorsanto menyampaikan kinerja 10 perusahaan anak BRI, Pegadaian, PNM, BRI Life, BRI Insurance, Bank Raya, BRI Finance, BRI Dana Sekuritas, BRI Manajemen Investasi, BRI Ventures, dan BRI Global Financial Services memberikan kontribusi positif terhadap BRI.
“Kinerja 10 perusahaan anak BRI tersebut, tercatat semakin baik dan memberikan kontribusi positif terhadap BRI,” kata Agus dalam konferensi pers Paparan Kinerja Kuartal III/2025, Kamis (30/10/2025).
Agus mengatakan laba bersih perusahaan anak BRI mencapai Rp8,19 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu meningkat 27,6% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp6,42 triliun.
Dalam paparan yang disampaikan Agus, total kontribusi laba bersih Pegadaian terhadap BRI mencapai 69,2%, disusul oleh PNM 13,4%, BRILife 9,5%, BRI Insurance 5,8%, dan lainnya sebesar 2,1%.
Sementara itu hingga September 2025, Agus menyebut bahwa total aset perusahaan anak BRI tumbuh 15,0% YoY menjadi Rp244,5 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp212,6 triliun.
Bank Mandiri
BMRI melaporkan raihan laba bersih konsolidasian kuartal III/2025 senilai Rp37,7 triliun. Laba ini di atas konsensus para analis yang dihimpun Bloomberg. Meski demikian, sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun sebelumnya, bank dengan logo pita emas itu membukukan penurunan laba bersih 10,25% dari Rp42,01 triliun.
Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri mengatakan perusahaan menyalurkan pinjaman konsolidasi Rp1.764,24 triliun per September 2025, tumbuh 11% secara tahunan atau year on year (YoY).
Adapun, capaian ini disebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,70% YoY menurut data Bank Indonesia.
"Hasilnya, hingga akhir September 2025, total aset konsolidasi Bank Mandiri turut meningkat dan mencapai Rp2.563 triliun, naik 10,3% secara YoY. Kinerja ini mencerminkan keunggulan intermediasi Bank Mandiri dalam memperluas pembiayaan yang berorientasi pada produktivitas dan penciptaan nilai tambah ekonomi," kata Novita dalam konferensi pers laporan keuangan Bank Mandiri, Senin (27/10/2025).
BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan laba Rp15,12 triliun, terkoreksi dari Rp16,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BBNI mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp51,16 triliun hingga September 2025, tumbuh 4,77% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp48,83 triliun dengan beban bunga tercatat Rp21,91 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih BBNI tercatat sebesar Rp29,25 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap tangguh menghadapi volatilitas, sekaligus menjaga keseimbangan pertumbuhan di seluruh segmen bisnis.
“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangannya, Jumat (24/10/2025).
BNI mencatat rasio permodalan cukup solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat.
Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Kualitas aset pun tetap terjaga. BNI melaporkan rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%.
Kinerja Laba BCA (BBCA) jelang Rilis Lapkeu Kuartal III/2025
BCA catat laba bersih Rp39,05 triliun per Agustus 2025, naik 8,52% YoY. Pendapatan bunga bersih Rp53,11 triliun, kredit tumbuh 9,28% YoY. Rilis lapkeu Q3/2025 pada 20 Oktober. [380] url asal
#bca-laba #bbca-kinerja #laporan-keuangan-bca #laba-bersih-bca #pendapatan-bunga-bca #beban-operasional-bca #kredit-bca #dana-pihak-ketiga-bca #simpanan-casa-bca #deposito-bca #laporan-kuartal-bca #bca
(Bisnis.Com - Finansial) 19/10/25 13:53
v/8662/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) telah merilis laporan keuangan bulanan pada Agustus 2025. Raihan laba BBCA pada bulan kedelapan tahun ini masih melanjutkan tren positif.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp39,05 triliun. Angka itu naik 8,52% secara tahunan (year on year/YoY) dibanding Agustus 2024 yang mencapai Rp50,54 triliun
Bank swasta terbesar di Indonesia itu mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp53,11 triliun, tumbuh 5,08% YoY dibandingkan Agustus 2024 yang tercatat sebesar Rp50,54 triliun.
Pendapatan bunga bersih itu ditopang oleh pendapatan bunga BBCA yang mencapai Rp61,38 triliun, tumbuh 5,34% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp58,27 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga perseroan tumbuh 6,98% YoY menjadi Rp8,26 triliun pada Agustus 2025.
Beban operasional lainnya dilaporkan menyusut dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Agustus 2025, laporan keuangan bulanan BBCA menunjukkan beban operasional lainnya mencapai Rp5,05 triliun, turun signifikan 17,97% YoY dibanding Rp6,16 triliun pada Agustus 2024.
Kendati menyusut, beberapa komponen beban operasional meningkat, diantaranya beban promosi naik 3,90% YoY menjadi Rp680,28 miliar, beban tenaga kerja naik 1,42% YoY menjadi Rp10,72 triliun, dan beban lainnya meningkat 2,66% YoY menjadi Rp9,24 triliun pada Agustus 2025.
BBCA juga mencatatkan peningkatan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment). Dalam laporan keuangan bulanan, impairment BBCA meningkat 106,79% YoY, dari Rp1,28 triliun menjadi Rp2,66 triliun pada Agustus 2025.
Dari sisi intermediasi, BBCA mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,28% YoY menjadi Rp920,87 triliun pada Agustus 2025. Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.160,13 triliun, tumbuh 5,25% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp1.102,28 triliun.
Laporan keuangan BMRI menunjukkan, simpanan dana murah (CASA) meningkat 7,21% YoY menjadi Rp969,29 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp904,13 triliun.
Sementara, simpanan deposito bank milik Djarum Group itu terpantau menyusut 3,69% YoY menjadi Rp190,83 triliun, dari Agustus 2024 yang tercatat sebesar Rp198,14 triliun.
Adapun, BCA dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III/2025 pada Senin (20/10/2025). Dalam undangan yang diterima Bisnis, paparan kinerja kuartal III/2025 BCA akan dihadiri oleh Presiden Direktur BCA Hendra Lembong, jajaran direksi, serta jajaran komisaris BCA.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56