Bisnis.com, JAKARTA - Obesitas masih menjadi masalah besar bagi peradaban manusia di seluruh dunia saat ini. Terdapat 1 miliar jiwa yang mengalami obesitas, artinya sekitar satu dari tiga orang dewasa dipastikan mengalami hal tersebut tanpa kita sadari secara langsung.
Tidak hanya orang biasa, tenaga medis yang tentunya memahami kondisi tubuh yang ideal juga pernah membagikan pengalamannya menjalani keseharian dengan obesitas.
Pengalaman tersebut dibagikan oleh influencer kesehatan yang saat ini sedang naik ke permukaan publik, dr. Gia Pratama.
dr. Gia mengaku bahwa dirinya pernah mengalami obesitas dengan bobot tubuh sempat menyentuh angka 100 kilogram.
Dirinya mengaku baru memahami bahaya langsung dari obesitas ketika tengah menangani pasien yang terkena serangan jantung di IGD.
Sebelumnya, dirinya tidak sadar bahwa obesitas yang dideritanya sudah mencapai tahap kronis yang berisiko untuk diabetes, stroke hingga serangan jantung. Sehingga, dengan melihat kejadian tersebut menimbulkan niat dr. Gia untuk melakukan diet dan mengubah pola hidupnya.
"Yang memacu saya untuk turun berat badan itu saat di IGD menerima pasien terkena serangan jantung di hadapan saya langsung. Saya lihat kok umurnya sama, tanggal ulang tahun sama, tapi sudah terkena serangan jantung depan mata saya langsung, alhamdulillah masih bisa diselamatkan dengan pacu jantung," ungkapnya saat talkshow memperingati hari obesitas sedunia di Kemenkes, Kamis (7/5/2026).
"Lalu saya mikir dalam hati, apakah saya nanti seperti ini berikutnya atau gimana? Apa nanti saya serangan jantung ada yang bantu nolongin, dengan tekad bulat wah gak bisa, akhirnya saya ambil komitmen untuk enam bulan diet," lanjut dr. Gia.
Dalam talkshow tersebut dirinya menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan obesitas, mulai dari dua organ yakni jantung dan lambung yang bekerja keras memenuhi nafsu makan, tata cara makan, hingga peran hormonal.
"Banyak yang tidak sadar, memberikan banyak asupan ke dalam mulut yang jantung tidak butuhkan, malah memperberat kinerja jantung. Begitupun dengan lambung, karena sensor kenyang kita ada di bagian kubahnya, jadi kalau dipaksa terus diisi makanan, lambung kita bisa turun memanjang ke bawah terus hingga akhirnya menjauh dari sensor kenyang yang menyebabkan akhirnya kita lapar terus," tuturnya.
Selain itu, dr. Gia mengatakan tata cara makan yang salah secara tidak langsung dapat mempengaruhi proses terjadinya obesitas.
"Cara makan yang tidak sadar, makan harus pelan-pelan, jangan tidak dikunyah langsung telan, karena organ paling keras di diri kita hanya gigi jadi usahakan makan dikunyah dulu, biar lambung gak kerja terlalu keras, dengan ngunyah pelan-pelan, dinikmati jadi rasa kenyang bisa muncul," ungkapnya.
Faktor hormon juga berpengaruh untuk menentukan diri kita mengalami obesitas atau tidak. Jika hormon tiroid kita normal atau berlebih, maka akan terhindar dari obesitas, sebaliknya jika kekurangan maka kecenderungan untuk mengidap obesitas semakin besar.
"Hormon tiroid yang kebanyakan, umpamanya apinya kebesaran, jadi jantung berdebar, keringetan, gak bisa gemuk, akan terus kurus. Makan apapun terbakar oleh hormon ini," jelasnya.
"Sebaliknya hipotiroid, umpamanya apinya kekecilan, jadi makan apapun tidak terbakar oleh tubuh, langsung lemah, jadinya mudah gemuk padahal gak makan sama sekali. Oleh karenanya perlu kita periksa apakah kadar hormon tiroid kita normal, biar kita tahu ada masalah hormonal atau tidak," sambungnya.
Pengalaman Dokter Gia untuk Turun Berat Badan
Dokter Gia mengaku tidak ada jenis diet spesifik yang dilakukannya. Dirinya hanya fokus pada defisit kalori atau pengurangan asupan kalori untuk tubuh yang semula berlebih, hal tersebut secara konsisten dilakukan olehnya karena untuk turun berat badan secara ideal tidak bisa dilakukan secara instan.
"Aku yakin kalau menggemuk itu tidak dalam sehari, berarti untuk turun berat badan juga tidak dalam sehari, jadi butuh proses," ungkapnya.
"Tidak ada jenis spesifik diet yang aku lakukan, cuma defisit kalori, aku tidak puasa nutrisi, tapi puasa kalori, jadi menghindari makanan yang tinggi kalori tapi nggak ada nutrisinya, nggak ada vitaminnya, nggak ada mineralnya. Contohnya apa? Maaf gorengan, seblak, ada nggak vitamin dan mineral? Tetapi tetap kita konsumsi, ini yang saya kurangi, bukan nutrisi tapi kalorinya saja," katanya.