Bisnis.com, BANDUNG--Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar naik kelas melalui peningkatan kualitas dan daya saing produk.
Dalam momentum Workshop Standardisasi dan Akselerasi Wirausaha Berdampak (AKSARA) yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Bulan Mutu Nasional (BMN) 2025, DPMPTSP Jabar menggandeng Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk memperluas jangkauan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pelaku UMKM di Jawa Barat.
Kepala DPMPTSP Jabar Dedi Taufik, menegaskan bahwa kolaborasi antara DPMPTSP dan BSN telah terjalin erat dan berperan penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif dan berdaya saing.
Menurutnya, sinergi ini menjadi langkah strategis dalam mengakselerasi pengembangan UMKM agar mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri.
“Kolaborasi ini sudah berjalan cukup lama dan semakin memperkuat komitmen kami untuk menciptakan ekosistem bisnis yang mendorong UMKM menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri,” ujarnya.
Jawa Barat hingga kini masih mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi secara nasional, dengan capaian mencapai Rp218,2 triliun pada periode Januari hingga September 2025.
Dedi menegaskan bahwa sektor UMKM merupakan pilar penting yang menopang pertumbuhan investasi dalam negeri (PMDN) di Jawa Barat.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi berkomitmen memperkuat UMKM melalui berbagai program peningkatan kapasitas, kualitas produk, dan daya saing di pasar lokal maupun global. “Kita punya harapan besar bahwa UMKM di Jawa Barat harus naik kelas,” tegasnya.
Sebagai wujud nyata dukungan terhadap UMKM, DPMPTSP Jawa Barat sudah meluncurkan berbagai inisiatif terpadu.
Di antaranya Program Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi (P2TP) — Mengintegrasikan layanan penting seperti HAKI, SNI, Sertifikat Halal, dan BPOM dalam satu pintu di kantor DPMPTSP Jawa Barat.
Lalu ada program SAKICEUP BOSS dan SAMPERIN UMK — Memberikan layanan on-the-spot bagi pelaku UMKM di berbagai daerah untuk memudahkan pengurusan perizinan dan sertifikasi.
Program AKSARA Jabar — Kolaborasi bersama BSN yang berfokus pada standardisasi dan akselerasi wirausaha berbasis mutu," katanya.
Sistem Informasi Kemitraan (SI KERTAS) — Platform digital yang menghubungkan industri besar dengan UMKM agar dapat bermitra dalam rantai pasok industri.
"Melalui berbagai program tersebut, diharapkan UMKM di Jawa Barat mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya, sekaligus berperan aktif dalam ekosistem investasi yang berdaya saing tinggi," katanya.
Selain fasilitasi sertifikasi, DPMPTSP juga aktif memberikan pendampingan melalui pelatihan, kurasi produk, serta peningkatan kualitas kemasan dan standar mutu.
“Kami melakukan pembinaan dan pelatihan, mulai dari packaging hingga mendapatkan standar mutu,” ungkap Dedi.
Tidak berhenti di situ, DPMPTSP juga memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dengan pembeli lokal maupun internasional, membuka peluang ekspor dan kemitraan jangka panjang.
Dedi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia menilai bahwa penguatan UMKM bukan sekadar soal peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan dan inklusif.
“Ke depan, kuncinya adalah kolaborasi dan sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta pemerintah pusat. Masyarakatlah yang harus kita angkat agar naik kelas,” pungkasnya.
DPMPTSP Jabar juga tengah mendorong pengembangan model usaha inti–plasma sebagai strategi keberlanjutan.
Melalui pola ini, UMKM yang telah berkembang diharapkan dapat menjadi penggerak bagi usaha kecil di sekitarnya, sehingga rantai pasok, penyediaan bahan baku, dan suplai produk tetap terjaga.
“Jika keseimbangan antara supply dan demand dapat dijaga, artinya UMKM kita benar-benar naik kelas, dan masyarakat sekitar turut merasakan manfaatnya,” tutup Dedi.