REPUBLIKA.CO.ID, CILEGON -- Pengalaman langsung di lingkungan industri menjadi pelengkap penting bagi mahasiswa teknik sebelum memasuki dunia kerja. Melalui kunjungan industri, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam proses produksi, keselamatan kerja, hingga pengelolaan operasional perusahaan.
Salah satu upaya memperkuat pengalaman tersebut dilakukan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) dengan menerima kunjungan 50 mahasiswa yang tergabung dalam American Institute of Chemical Engineers Universitas Indonesia (AiChE UI) di area operasional perusahaan di Cilegon, Banten.
Kegiatan company visit itu memberikan gambaran mengenai proses operasional industri petrokimia, budaya keselamatan kerja, serta peran industri petrokimia dalam mendukung rantai pasok industri nasional.
Selama kunjungan, mahasiswa mengikuti sesi pengenalan perusahaan, diskusi interaktif bersama perwakilan LCI, serta site tour untuk melihat langsung lingkungan kerja dan proses operasional di fasilitas perusahaan.
Presiden Direktur Lotte Chemical Indonesia Yim Dong Hee mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri diperlukan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan sektor industri di masa depan.
“Kami meyakini bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan industri merupakan kunci dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi dunia yang semakin kompleks dan dinamis. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dan wawasan praktis bagi mahasiswa, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang siap berkontribusi bagi industri di masa depan,” kata Yim dalam siaran pers, Jumat (26/6/2026).
Menurut LCI, kegiatan seperti company visit juga menjadi sarana memperkenalkan pentingnya keselamatan kerja, inovasi, keberlanjutan, dan tata kelola operasional dalam industri petrokimia.
Perusahaan menyatakan akan terus menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi sebagai upaya mendukung pengembangan sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing industri petrokimia nasional.
Vice President AiChE UI Rasiendriya Sajna Rafi Nugroho mengatakan, kunjungan ini memberikan pengalaman yang bermanfaat dalam memahami penerapan ilmu teknik kimia di dunia industri.
“Melalui kunjungan ini, kami dapat melihat langsung bagaimana ilmu teknik kimia yang dipelajari di kampus diterapkan dalam industri petrokimia. Kegiatan ini juga membantu kami memahami proses industri secara lebih menyeluruh, mulai dari operasional, supply chain, hingga pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam dunia kerja,” ujar Rasien.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Banten menghadirkan layanan sistem operasional yang terintegrasi di Pelabuhan Ciwandan untuk memastikan kelancaran ... [395] url asal
Upaya ini dilakukan untuk memastikan kelancaran aktivitas kepelabuhanan di rantai pasok sektor industri mulai dari sandar kapal, bongkar muat barang, hingga proses administrasi.
Jakarta (ANTARA) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Banten menghadirkan layanan sistem operasional yang terintegrasi di Pelabuhan Ciwandan untuk memastikan kelancaran aktivitas pelabuhan yang mendukung kelancaran rantai pasok berbagai sektor industri.
General Manager Pelindo Regional 2 Banten Benny Ariadi mengatakan bahwa pelayanan yang berkualitas tidak hanya diukur dari kecepatan proses, tetapi juga dari kemampuan perusahaan dalam memahami kebutuhan pengguna jasa dan memberikan solusi yang tepat.
"Momentum Hari Pelayanan Publik menjadi pengingat bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang memberikan kemudahan, kepastian, dan kenyamanan bagi pelanggan. Kami berupaya memastikan setiap proses pelayanan berjalan efektif sehingga pengguna jasa dapat menjalankan aktivitas bisnisnya dengan lancar," ujar Benny dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Selasa.
Sistem operasional yang responsif ini diwujudkan melalui penerapan standar pelayanan yang terukur berdasarkan Service Level Agreement (SLA) dan Service Level Guarantee (SLG), serta didukung fasilitas operasional dan koordinasi layanan yang efektif.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan kelancaran aktivitas kepelabuhanan di rantai pasok sektor industri mulai dari sandar kapal, bongkar muat barang, hingga proses administrasi.
Sebagai salah satu pelabuhan strategis di Provinsi Banten, Pelabuhan Ciwandan memiliki sembilan dermaga yang terdiri dari Dermaga 1, Dermaga 2, Dermaga 3, Dermaga 4, Dermaga 5A, Dermaga 5B, Dermaga 5C, Dermaga 6, dan Dermaga 7.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi penopang tingginya aktivitas bongkar muat berbagai komoditas industri yang berlangsung setiap hari yang menuntut pelayanan cepat, tepat, dan mampu menyesuaikan kebutuhan pelanggan secara dinamis agar arus logistik dapat berjalan dengan lancar.
Dalam menjalankan operasional pelabuhan, Pelindo Regional 2 Banten juga menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten di seluruh area kerja. Penerapan aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran operasional pelabuhan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman bagi seluruh pekerja, mitra usaha, dan pengguna jasa.
"Kami meyakini bahwa pelayanan yang andal harus berjalan seiring dengan budaya keselamatan yang kuat. Karena itu, setiap aktivitas operasional dilakukan dengan mengedepankan kepatuhan terhadap prosedur kerja dan prinsip kehati-hatian agar layanan dapat berlangsung aman, lancar, dan berkelanjutan," ujar Benny pula.
Melalui momentum Hari Pelayanan Publik, Pelindo Regional 2 Banten terus berkomitmen menghadirkan layanan kepelabuhanan yang responsif, andal, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan sehingga Pelabuhan Ciwandan dapat terus berkontribusi dalam mendukung kelancaran logistik nasional dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Banten.
Industri tekstil Indonesia mengalami paradoks: sektor garmen tumbuh berkat ekspor, namun sektor hulu tertekan oleh ketergantungan impor bahan baku dan pelemahan rupiah. [1,638] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Mei 2026 memperlihatkan geliat baru sektor manufaktur nasional, terutama dari subsektor pakaian jadi yang mencatatkan ekspansi tertinggi.
Namun di balik optimisme tersebut, industri tekstil nasional masih menghadapi paradoks yakni, sektor garmen tumbuh ditopang permintaan ekspor, sementara industri tekstil hulunya masih tertekan akibat tingginya ketergantungan impor bahan baku, pelemahan rupiah, hingga beban bunga yang meningkat.
Diketahui, Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 mencapai 53,56 atau meningkat dibandingkan April 2026 sebesar 51,75. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi dan berkontribusi sebesar 97,8% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan I/2026.
Subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Mei 2026 tercatat slah satunya berasal dari industri pakaian jadi. Namun, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, capaian tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi ketimbang indikasi pemulihan penuh industri padat karya nasional.
Menurutnya, penguatan IKI belum terjadi secara merata di seluruh rantai industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Industri pakaian jadi memang mencatat pertumbuhan paling tinggi, tetapi industri tekstil hulu serta subsektor kulit dan alas kaki masih mengalami kontraksi.
“Ini menunjukkan bahwa ekspansi baru terjadi di level hilir, sementara fondasi industrinya belum benar-benar ikut menguat,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (28/5/2026).
Yusuf menjelaskan, pemulihan industri TPT yang sehat seharusnya terlihat sejak industri serat, benang, kain, hingga garmen bergerak dalam arah yang sama. Namun, kondisi saat ini menunjukkan rantai pasok industri masih terfragmentasi.
Dia menyebut, pertumbuhan industri pakaian jadi terjadi karena kenaikan order, sementara industri hulunya belum memperoleh dorongan permintaan yang setara.
Yusuf mengatakan, kenaikan IKI subsektor pakaian jadi dipicu oleh kombinasi membaiknya permintaan ekspor dan pola musiman menjelang puncak konsumsi global pada semester II. Kenaikan variabel pesanan baru dan produksi menunjukkan bahwa pabrik tengah merespons order riil, bukan sekadar optimisme pelaku usaha.
Selain itu, strategi diversifikasi rantai produksi global atau Cina Plus One turut memberi keuntungan bagi negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh karena banyak merek internasional mulai mengurangi ketergantungan produksi dari Cina.
Kendati demikian, Yusuf menilai terdapat persoalan struktural yang masih membayangi industri garmen nasional. Dia menuturkan, industri pakaian jadi saat ini masih sangat bergantung pada bahan baku impor, terutama melalui fasilitas kawasan berikat.
“Dengan kondisi seperti itu, tingginya IKI lebih mencerminkan daya saing tenaga kerja dan kapasitas produksi jahit Indonesia, bukan berarti rantai pasok domestiknya sudah kuat,” katanya.
Dia menambahkan, ketergantungan impor bahan baku membuat industri rentan terhadap tekanan nilai tukar dan gejolak ekonomi global. Apalagi, banyak pabrik tekstil nasional masih beroperasi dengan tingkat utilisasi sekitar 40% hingga 70%.
Karena itu, lanjutnya, momentum penguatan ini belum bisa disebut sebagai pemulihan struktural. Ada faktor musiman yang cukup besar di balik kenaikan tersebut, terutama karena periode Mei hingga Juli biasanya menjadi fase peningkatan order untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa menjelang musim gugur dan akhir tahun.
Kekhawatiran pelaku usaha terhadap enam bulan ke depan juga masih cukup tinggi, terutama akibat pelemahan rupiah dan kondisi suku bunga global yang belum benar benar longgar. Pelemahan rupiah menurutnya memperbesar tekanan terhadap industri TPT karena bahan baku seperti benang, kain greige, bahan kimia, hingga aksesori masih banyak diimpor.
Tekanan tersebut diperberat oleh kenaikan BI Rate menjadi 5,25% yang berdampak pada kenaikan biaya modal kerja industri padat karya. Jika tekanan eksternal membesar sementara kurs belum stabil, pertumbuhan subsektor pakaian jadi berpotensi melambat pada kuartal IV nanti.
“Di sinilah paradoks industri tekstil nasional terlihat jelas. Dari luar terlihat ekspansif karena garmen tumbuh, tetapi di dalam struktur industrinya masih rapuh,” tegas Yusuf.
Dia memperkirakan, dampak kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah baru akan terasa penuh dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Jika kurs belum stabil, risiko efisiensi tenaga kerja dan pengurangan kapasitas produksi dinilai akan meningkat, terutama bagi pabrik yang orientasi ekspornya lemah.
Pekerja di Pabrik Tekstil
Akan tetapi, Yusuf menilai subsektor pakaian jadi tetap memiliki peran penting bagi perekonomian nasional karena daya serap tenaga kerjanya besar, terutama di kawasan industri di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, dia mengingatkan bahwa dalam kondisi saat ini, subsektor pakaian jadi lebih tepat diposisikan sebagai stabilisator lapangan kerja ketimbang motor penciptaan pekerjaan baru.
“Penyerapan tenaga kerja yang signifikan hanya akan terjadi jika ada investasi baru dan pembangunan pabrik tambahan, bukan sekadar kenaikan order di fasilitas produksi yang sudah ada,” katanya.
Untuk menjaga keberlanjutan ekspansi industri TPT, Yusuf mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan kawasan berikat agar pasar domestik tidak terus dibanjiri produk impor berfasilitas yang melemahkan industri tekstil hulu nasional. Selain itu, dia menilai industri padat karya membutuhkan skema pembiayaan berbunga rendah untuk menahan dampak kenaikan suku bunga terhadap potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di samping itu, pemerintah juga diminta mempercepat pendalaman industri hulu seperti petrokimia dan serat sintetis guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku, serta memperketat pengawasan terhadap impor ilegal dan pakaian bekas yang dinilai terus menggerus pasar produsen loka
Sektor Hulu Hadapi Tekanan Berlapis
Di sektor hulu, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) meminta pemerintah segera mengambil langkah intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, memperkuat perlindungan industri tekstil domestik, serta menahan laju impor pakaian jadi yang dinilai mulai menekan industri kecil hingga sektor hulu tekstil nasional.
Sekretaris Jenderal APSyFI Farhan Aqil Syauqi mengatakan, pemerintah perlu bergerak cepat agar momentum kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada subsektor pakaian jadi tidak hanya menjadi pertumbuhan semu yang ditopang ekspor semata.
Menurutnya, penguatan subsektor pakaian jadi saat ini belum mencerminkan kondisi industri tekstil nasional secara keseluruhan karena sektor hulu dan industri kecil menengah (IKM) masih menghadapi tekanan berat.
“Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan nilai tukar dulu. Baru bicara insentif ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (28/5/2026).
Aqil menilai, kenaikan IKI yang ditopang subsektor pakaian jadi lebih mencerminkan pertumbuhan ekspor industri garmen yang banyak beroperasi di kawasan berikat dan menggunakan bahan baku impor. Dia menjelaskan, industri pakaian jadi di kawasan berikat memang masih bertumbuh seiring meningkatnya permintaan ekspor.
“Kalau melihat kenaikan di pakaian jadi, saya melihat itu ditopang pertumbuhan ekspor. Karena pakaian jadi sekarang banyak di kawasan berikat yang notabene bahan bakunya impor. Jadi, Indeks Kepercayaan Industri itu mencerminkan pertumbuhan ekspor dari sisi pakaian jadinya.” jelasnya.
Akan tetapi, lanjutnya, industri tekstil domestik yang memasok pasar lokal justru menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi dan membanjirnya produk impor. Adapun data impor pakaian jadi pada 2025 bahkan meningkat hampir 70% setelah kebijakan safeguard berakhir pada tahun lalu.
“Kami khawatir yang paling terdampak itu industri kecil, baik rumahan maupun yang hanya punya 10 sampai 15 mesin,” katanya.
Aqil menyebut, banjir impor pakaian jadi berpotensi memicu pengurangan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama pada pelaku usaha kecil yang memiliki daya tahan terbatas terhadap persaingan harga.
Dampak PHK pun akan berimbas langsung terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
PHK di Industri Tekstil
Oleh karena itu, APSyFI meminta pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan industri dalam negeri, termasuk melalui evaluasi kebijakan impor dan penerapan kembali instrumen safeguard untuk produk tekstil tertentu. Pemerintah juga diminta memberikan insentif bagi industri padat karya seperti diskon biaya energi maupun pengurangan pajak agar pelaku usaha dapat bertahan di tengah tekanan biaya produksi.
Aqil mengatakan, persoalan terbesar industri saat ini adalah tingginya harga bahan baku dan pelemahan rupiah yang membuat biaya impor semakin mahal.
Dia menyebut, harga polyester meningkat hingga sekitar 40%, sementara sejumlah produsen bahan baku mulai menahan pasokan akibat ketidakpastian pasar. “Masalah utama sekarang itu harga dan stabilitas kurs,” tegasnya.
Tekanan industri juga datang dari kenaikan harga gas industri berbasis LNG yang disebut mencapai US$21 hingga US$24 per MMBTU. Di sisi lain, pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara atau PGN disebut belum terpenuhi penuh karena adanya perebutan alokasi antara sektor industri dan pembangkit listrik.
Menurut Aqil, kondisi tersebut semakin membebani industri tekstil yang selama ini memiliki margin usaha tipis dan ketergantungan tinggi terhadap energi serta bahan baku impor. Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat segera melakukan pembenahan kebijakan impor, menjaga stabilitas rupiah, serta memperkuat dukungan terhadap industri tekstil domestik agar ekspansi subsektor pakaian jadi dapat berlanjut secara berkelanjutan dan tidak hanya bersifat sementara.
Sektor Hilir Minta Jaga Daya Saing
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia Anne Patricia Sutanto mengatakan, ekspor tekstil dan garmen Indonesia pada 2025 menunjukkan kenaikan tipis, hampir US$12 miliar. Sementara itu, volume perdagangan pada Januari 2026 juga mengalami pertumbuhan.
Anne menyebut ekspor tekstil dan garmen pada Januari 2026 meningkat sekitar 4,38% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Namun, impor juga naik lebih tinggi yakni sekitar 16,71% YoY.
Menurutnya, kondisi geopolitik di Timur Tengah turut memicu ketidakpastian terhadap harga energi yang sangat memengaruhi industri tekstil, khususnya sektor hulu. “Di hulu, industri tekstil sangat membutuhkan energi. Kalau di hilir kitia sangat membutuhkan labor intensive,” katanya saat menyambangi kantor Bisnis Indonesia, pekan lalu.
AGTI juga meminta pemerintah memperbaiki biaya logistik, distribusi, hingga akses pembiayaan ekspor agar produk tekstil nasional lebih kompetitif di pasar global.
Lebih lanjut, Anne menjelaskan industri tekstil nasional memang masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Sekitar 70% kebutuhan bahan baku industri tekstil dari hulu hingga hilir masih berasal dari luar negeri. Karena itu, kebijakan pembatasan impor maupun hambatan administrasi dinilai harus dirancang secara hati-hati agar tidak justru membebani industri domestik.
“Kalau bahan bakunya tidak diproduksi di dalam negeri tetapi impornya dibatasi, tentu akan ada biaya tambahan yang akhirnya dibayar konsumen,” katanya.
Dia juga menyoroti tingginya beban administrasi dan dokumentasi impor yang dinilai menambah biaya produksi industri nasional. Menurut Anne, kondisi tersebut membuat industri tekstil Indonesia sulit bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asean yang sudah terintegrasi dalam berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Indonesia, sebut Anne, tidak bisa hanya mengandalkan kampanye penggunaan produk lokal tanpa memperbaiki struktur biaya industri secara menyeluruh. Lebih lanjut, dia menilai, apabila Indonesia mampu meningkatkan daya saing domestik, industri tekstil nasional berpotensi menjadi bagian penting dalam rantai pasok regional di kawasan Asean dan negara mitra RCEP seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
“Kalau kita kompetitif secara domestik, sebenarnya Indonesia bisa menjadi supply chain untuk negara-negara RCEP maupun Asean,” sebutnya.
Pemerintah Indonesia memulai hilirisasi aspal Buton di Karawang untuk mengurangi impor dan meningkatkan kemandirian konstruksi. Namun, Kesultanan Buton meminta proyek dipusatkan di Buton demi manfaat [1,065] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Republik Indonesia resmi memulai hilirisasi aspal Buton (Asbuton) perdana yang dipusatkan di wilayah Karawang, Jawa Barat. Langkah strategis ini menandai babak baru pemanfaatan potensi komoditas lokal guna mewujudkan kemandirian sektor konstruksi dan mengurangi ketergantungan pada material impor.
Adapun, hilirisasi Asbuton tersebut merupakan bagian dari Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang digelar pada Rabu (29/4/2026). Dalam perkembangannya, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian mempertegas kesiapan sektor infrastruktur dalam menyerap hasil hilirisasi komoditas domestik secara masif.
Dia mengatakan, akan menggunakan Asbuton perdana pada pilot project Jalan Tol Pemalang-Batang. Namun sayangnya Wilan belum memerinci kapan upaya tersebut akan dilaksanakan. “BPJT akan melaksanakan pilot project pengimplementasian Asbuton di jalan tol Pemalang – Batang bekerja sama dengan BUJT PT Pemalang – Batang Toll Road dalam waktu dekat,” jelas Wilan dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (17/5/2026).
Pengembangan hilirisasi Asbuton diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri, meningkatkan efisiensi, serta mendukung keberlanjutan pembangunan jalan dan jalan tol di Indonesia.
Pasalnya, ketersediaan Aspal Buton sebagai material dalam negeri akan memberikan dampak bagi industri jalan tol, baik dari sisi efisiensi biaya konstruksi maupun keberlanjutan rantai pasok.
Namun perlu digaris bawahi, tambah Wilan, penerapan Asbuton harus dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan seluruh aspek secara menyeluruh. Otoritas mengingatkan agar ekosistem produksi benar-benar matang sebelum dilakukan perluasan pemanfaatan di koridor jalan tol lainnya.
Adapun, beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni kesiapan teknologi, standar kualitas, kapasitas produksi, hingga kesesuaian spesifikasi teknis di lapangan. Hal ini mutlak diperlukan sehingga pemanfaatan Asbuton benar-benar dapat berjalan optimal dan memberikan hasil maksimal bagi pembangunan infrastruktur Indonesia.
“Ketersediaan material konstruksi yang berkualitas, kompetitif, dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung layanan jalan tol yang andal, aman, dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya.
Catatan dari Masyarakat Adat Buton
Di balik ambisi besar akselerasi proyek tersebut, penentuan lokasi fasilitas hilirisasi memicu tanggapan kritis dari daerah asal komoditas. Sultan Buton ke-40, Laode Muhammad Kariu, secara terbuka menyatakan keberatannya apabila proyek hilirisasi tersebut dilaksanakan di Karawang.
Pihak Kesultanan Buton melayangkan surat terbuka guna menyuarakan keresahan masyarakat adat setempat. Langkah ini diambil demi menjaga marwah serta memastikan dampak ekonomi dari kekayaan alam tersebut mengalir langsung ke daerah asalnya.
"Dengan hormat, perkenankan saya, Drs. Haji La Ode Muhammad Kariu, Sultan Buton beserta perangkat menyampaikan surat terbuka kepada Bapak Presiden Republik Indonesia terkait hilirisasi Aspal Buton. Bahwa Aspal Buton merupakan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala yang menempati ruang dan tempat di bumi persada Pulau Buton yang memiliki sejarah dan kedaulatan bagi kesatuan masyarakat adat Kesultanan Buton." tulisnya.
Dia menegaskan bahwa negara dalam Undang-Undang Dasar 1945 mengakui kesatuan masyarakat adat beserta hak tradisionalnya. Oleh sebab itu, aspirasi lokal dari daerah penghasil utama sudah selayaknya menjadi pertimbangan utama dalam penentuan kebijakan hilirisasi.
Laode mengingatkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia sejak 27 September 2022 ketika Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo berkunjung ke Pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara, telah bertekad mendorong Buton kembali bangkit.
Kala itu, Jokowi menekankan wilayah Buton akan ditetapkan sebagai kawasan industri penghasil aspal yang potensial melalui instruksi hilirisasi produk tambang yang nantinya dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat Buton dan bangsa Indonesia.
Dalam relevansinya, pemerintah bahkan sempat merencanakan penghentian impor aspal dalam 2 tahun sejak akhir tahun 2022. Kebijakan tersebut sedianya mewajibkan kebutuhan aspal nasional disuplai secara penuh dari aspal Buton.
Sehubungan dengan hal itu, pihak Kesultanan meminta kepada Presiden Republik Indonesia saat itu, Joko Widodo (Jokowi) untuk berkomitmen meneruskan dan menindaklanjuti kebijakan tersebut.
"Janganlah mengabaikannya dan membiarkan kesatuan masyarakat adat Kesultanan Buton menjadi dalam realita yang tidak pasti, berada di persimpangan jalan antara harapan dan kenyataan." tegas La Ode Muhammad Kariu.
Terakhir, dia menekankan Kesatuan Masyarakat Adat Kesultanan Buton meminta kepada Bapak Presiden untuk memindahkan hilirisasi aspal Buton di Karawang untuk dipusatkan dan dibangun di Pulau Buton.
Kebijakan ini diharapkan meningkatkan pendapatan negara dan menciptakan lapangan kerja di Pulau Buton, sehingga memiliki nilai tambah khususnya bagi masyarakat Pulau Buton dan Indonesia pada umumnya.
Tantangan Implementasi Asbuton
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Aspal Buton Indonesia (Aspabi) Dwi Putranto mengungkapkan bahwa secara mutu Asbuton memiliki kandungan kimia yang lebih unggul dibandingkan dengan aspal minyak impor. Bahkan, kualitasnya diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia oleh para pengguna di pasar China.
Keunggulan kimiawi ini menyebabkan jalan yang menggunakan Asbuton lebih tahan terhadap kerusakan rutting (alur) dan cracking (retak). Hal ini berdampak langsung pada daya tahan atau usia pakai jalan yang menjadi lebih panjang dan efisien secara biaya perawatan.
"Secara mutu, asbuton memiliki kandungan kimia yang lebih unggul dibandingkan aspal minyak impor, bahkan digadang-gadang sebagai aspal terbaik di dunia [oleh pemakai di China]," jelas Dwi Putranto kepada Bisnis.
Menurutnya, Asbuton juga terbukti tangguh terhadap suhu ekstrem, mulai dari suhu tinggi di Indonesia hingga suhu beku di wilayah Harbin, China. Dari sisi aplikasi, penggunaan Asbuton pada umumnya serupa dengan aspal minyak impor sehingga tidak memerlukan perubahan radikal pada metode kerja kontraktor.
Terkait kesanggupan suplai, Dwi menyebut industri Asbuton olahan sebenarnya masih berada dalam kondisi under utility dengan utilisasi di bawah 5%. Artinya, masih banyak potensi produksi yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Adapun, yang masih menjadi persoalan, imbuh Dwi, adalah terbatasnya kapasitas pelabuhan di Pulau Buton. Selain itu, percepatan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sangat dibutuhkan agar pasokan bahan baku tidak terkendala di tingkat hulu.
Di sisi lain, rencana peningkatan pemakaian aspal lokal ini turut disambut baik oleh para pelaku konstruksi. Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman Karumpa menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan ini.
Langkah pemerintah yang hendak meningkatkan penggunaan Asbuton hingga 30% dinilai sangat strategis menuju kemandirian material konstruksi nasional. Sektor hilir siap menyerap komoditas ini demi menekan biaya logistik infrastruktur.
"Saat ini, penggunaan Asbuton masih sekitar 4% dari konsumsi nasional, dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 30% dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, secara arah kebijakan, ini langkah yang tepat dan visioner," ujar Andi Rukman.
Dia melihat kebijakan ini dapat memberikan efek ekonomi berantai (multiplier effect) hingga Rp22,67 triliun serta mendorong penciptaan lapangan kerja baru. Namun, Andi mengingatkan bahwa keberhasilan di lapangan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem konstruksi secara utuh.
Adapun, sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi mencakup penyesuaian metode kerja serta kesiapan teknologi pengolahan di setiap wilayah. Konsistensi kualitas dan kelancaran distribusi material juga menjadi kunci utama agar para kontraktor dapat bekerja dengan tenang di lapangan.
Gapensi berharap pemerintah memastikan rantai pasok Asbuton tersedia secara merata di seluruh daerah. "Dari sisi Gapensi, kami melihat ini sebagai peluang besar. Namun, implementasinya tetap perlu memperhatikan kesiapan di lapangan," katanya.
Bisnis.com, JAKARTA — PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) menyiapkan arah bisnis baru di industri komponen mekanikal dan permesinan (machining) setelah diakuisisi oleh PT PIMSF yang merupakan bagian dari Tjokro Group.
Direktur Utama Geoprima Solusi Dionysius Tjokro mengatakan PIMSF telah merampungkan akuisisi perseroan pada November 2025. Selanjutnya, pada 13 Februari 2026, PIMSF melaksanakan Penawaran Tender Wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO) kepada publik sehingga resmi menjadi pemegang saham pengendali (PSP) baru GPSO.
Masuknya PIMSF menjadi bagian dari strategi transformasi dan konsolidasi bisnis Tjokro Group untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus memperluas lini usaha perseroan.
“PIMSF bersama perseroan memiliki arah bisnis baru untuk menjadi pemain utama dan pemimpin di industri komponen mekanikal dan permesinan dengan melakukan penguasaan sektor hulu hingga hilir,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (18/5/2026)
Dia menjelaskan, melalui konsolidasi tersebut, GPSO akan diarahkan menjadi perusahaan solusi mekanikal terpadu atau one stop solution for mechanical yang menguasai seluruh rantai produksi dan jasa.
Tjokro Group sendiri disebut telah memiliki pengalaman lebih dari 57 tahun di industri mekanikal dan menjadi salah satu pemain utama di sektor tersebut di Indonesia.
Ke depan, perseroan bersama PIMSF akan fokus mengamankan rantai pasok industri solusi mekanikal komponen mulai dari sektor hulu (upstream) hingga hilir (downstream). Strategi ini ditempuh untuk menjaga ketersediaan bahan baku di dalam grup usaha sekaligus memperluas penguasaan pasar.
Selain itu, konsolidasi juga ditujukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan, memperkuat kepercayaan pasar, serta mengembangkan produk mekanikal dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi.
Dionysius menambahkan, langkah konsolidasi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing perseroan di tengah kompetisi industri yang semakin ketat, baik di pasar domestik maupun global.
Adapun implementasi tahap awal arah bisnis baru tersebut ditargetkan mulai berjalan setelah perseroan memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juni 2026 terkait aksi korporasi tahap pertama.
ESG
PT Geoprima Solusi Tbk. (GPSO) menunjukkan komitmennya terhadap praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) sepanjang 2025 melalui berbagai langkah efisiensi energi, penguatan inklusivitas tenaga kerja, hingga pengelolaan risiko keberlanjutan secara terintegrasi.
Dionysius Tjokro mengatakan perseroan terus mengidentifikasi dan mengelola isu-isu keberlanjutan yang berpotensi memengaruhi ketahanan usaha maupun kinerja operasional.
Sepanjang 2025, GPSO membukukan penjualan sebesar Rp5,33 miliar dengan rugi usaha Rp3,17 miliar.
“Capaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus menyusun strategi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Dionysius.
Di sisi lingkungan, GPSO mencatat keberhasilan menurunkan total penggunaan energi sebesar 16,65%. Tak hanya itu, konsumsi listrik kantor juga berhasil ditekan hingga 32,37% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Dionysius, pencapaian tersebut menjadi bukti konsistensi perseroan dalam menjalankan langkah efisiensi energi secara terukur dan berkelanjutan.
Sementara dari aspek sosial, GPSO terus mendorong penerapan kesempatan kerja yang setara tanpa diskriminasi. Perseroan juga mempertahankan komposisi tenaga kerja perempuan sebagai bagian dari upaya membangun organisasi yang inklusif dan kompetitif.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), GPSO turut memfokuskan inisiatif pada pemberdayaan perempuan, pengurangan emisi, serta dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 5 tentang Kesetaraan Gender, TPB 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta TPB 13 terkait Penanganan Perubahan Iklim.
Ke depan, GPSO melihat peluang pertumbuhan melalui penguatan kemitraan strategis dan pengembangan inisiatif rendah emisi. Strategi tersebut dinilai dapat mendukung daya saing usaha sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab keberlanjutan.
Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief meminta kepada pemerintah daerah untuk mengintegrasikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan pemilik rantai ... [176] url asal
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief meminta kepada pemerintah daerah untuk mengintegrasikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan pemilik rantai pasok industri besar.
Menurut dia, pemerintah daerah juga perlu mengalihkan porsi belanja barang Pemda untuk menyerap produk UMKM.
"Permudah perizinan, adanya insentif dan subsidi hingga kemudahan investasi," kata Hendry dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Dalam kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Riau, dia mengatakan tantangan utama daerah tersebut bukan pada potensi sumber daya, tetapi pada kualitas perencanaan, alokasi anggaran dan keberanian eksekusi atas potensi sumber daya yang ada.
Untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dia merekomendasikan adanya koridor eco tourism terpadu dan inkubasi digital bagi pelaku industri kreatif lokal untuk menjangkau pasar internasional dan memangkas jalur distribusi.
"Kita juga berharap Pemprov Riau dapat mendorong sektor swasta untuk terus bergerak maju," katanya.
Di sisi lain, Hendry menambahkan langkah yang telah diambil seperti kebijakan baru terhadap kendaraan bermotor, kontrol BBM bersubsidi, pajak air permukaan, merupakan hal positif dan mampu untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Lonjakan harga bahan baku akibat tekanan geopolitik mengancam industri tekstil Indonesia, berisiko memicu PHK jika pemerintah tidak segera bertindak. [354] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan harga bahan baku akibat tekanan geopolitik mulai berdampak langsung terhadap kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri. Pelaku usaha mencatat kenaikan biaya produksi yang signifikan dalam waktu singkat, di tengah kondisi pasar yang cenderung stagnan.
Pimpinan PT Prima Fara Textile Lukas L. Prawoto mengungkapkan harga bahan baku tekstil melonjak dari sekitar 30% menjadi 42% hanya dalam kurun dua minggu terakhir. Sementara itu, bahan kimia (chemical) juga mengalami kenaikan sekitar 20%.
Tak ayal, kenaikan harga barang baku turut mengerek biaya produksi. “Sudah kena ke 15%, bahan baku material benangnya sendiri sekitar 35% sampai 40%,” ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Kenaikan biaya tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan daya serap pasar. Lukas memperkirakan kondisi ini telah berdampak pada penurunan penjualan di kisaran 10%–15%. Dengan demikian, ruang pelaku usaha untuk menjaga margin semakin terbatas.
Bisa dikatakan, industri menghadapi dilema dalam menentukan strategi harga. Kenaikan harga jual berisiko tidak diterima pasar, sementara mempertahankan harga berarti menanggung lonjakan biaya produksi.
Tekanan tersebut juga berpotensi memicu efek berantai di sepanjang rantai pasok industri. Ketika konsumen menunda pembelian akibat kenaikan harga, produk berisiko tertahan di tingkat hilir. Kondisi ini kemudian mendorong produsen menahan produksi, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan permintaan di sektor hulu.
“Pasar nggak mau terima, menunda beli, akhirnya nanti stuck. Bahaya untuk industri,” tegas Lukas.
Kondisi ini menurutnya dapat menimbulkan efek domino lebih luas. Tidak menutup kemungkinan perusahaan akan mengambil langkah efisiensi, termasuk merumahkan pekerja, jika tekanan berlanjut.
“Kita bisa rumahin itu. Jadi, ini kayak berantai, kalau nggak cepet diambil tindakan,” tuturnya.
Tekanan terhadap industri TPT diperkirakan semakin berat menjelang pertengahan tahun, seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga untuk biaya pendidikan pada tahun ajaran baru. Kondisi tersebut berpotensi menekan konsumsi produk tekstil lebih lanjut.
Oleh karena itu, Lukas mengimbau agar pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, khususnya di sektor hulu yang masih bergantung pada impor. Dia juga mendorong adanya dialog antara pemerintah dan asosiasi industri guna mencari solusi jangka pendek.
“Seperti hal-nya pemerintah turun tangan ngatasin bensin, industri coba dong. Tolong. Kalau nggak, justru industri-nya yang bahaya karena tenaga kerja kena habis,” tegas Lukas.
Jakarta: Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Sucofindo (Persero) dan PT Surveyor Indonesia (Persero) menjalin kerja sama untuk memperkuat peran industri dalam negeri di sektor hulu minyak dan gas bumi di Aceh.
Kolaborasi ini difokuskan pada optimalisasi penggunaan produk dan jasa dalam negeri secara terukur dan transparan dalam kegiatan hulu migas. Langkah tersebut ditujukan agar aktivitas industri tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah dan nasional.
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia, Fajar Wibhiyadi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa aktivitas industri migas mampu memberikan nilai tambah yang lebih luas.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap aktivitas di sektor hulu migas tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Ketika penggunaan produk dan jasa lokal meningkat, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh pelaku usaha, tenaga kerja, hingga rantai pasok di daerah,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.
Ia menyebut, peningkatan penggunaan produk dan jasa dalam negeri akan berdampak pada pelaku usaha, tenaga kerja, serta rantai pasok di daerah.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal di Aceh untuk terlibat lebih luas dalam rantai pasok industri migas. Peningkatan partisipasi tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk peningkatan kapasitas industri dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, dampak ekonomi diperkirakan meluas ke wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, seiring keterkaitan rantai pasok dan distribusi industri di kawasan tersebut.
Kolaborasi ini juga diarahkan untuk menciptakan sistem yang transparan dan akuntabel, sehingga pemerintah, pelaku industri, dan investor dapat melihat kontribusi sektor migas secara jelas terhadap perekonomian.
Ke depan, sinergi antara BPMA, Sucofindo, dan Surveyor Indonesia diharapkan menjadi model penguatan sektor energi sekaligus mendorong kemandirian industri nasional dan pertumbuhan ekonomi regional yang berkelanjutan.
Indonesia mempercepat hilirisasi bauksit untuk menguatkan rantai pasok industri, mengurangi ekspor bijih mentah, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional [466] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Pemanfaatan dan hilirisasi bauksit semakin krusial untuk memperkuat rantai pasok industri dalam negeri. Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium merupakan bahan baku strategis bagi berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga energi terbarukan.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,7 miliar ton di antaranya berstatus siap ditambang. Besarnya cadangan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki modal mineral yang sangat kuat untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi nasional.
Namun demikian, pemanfaatan cadangan bauksit tersebut selama ini belum optimal. Hal ini tercermin dari pola produksi yang masih sangat bergantung pada ekspor bijih mentah. Produksi bijih bauksit nasional sempat mencapai 31,8 juta ton pada 2022. Setelah penerapan larangan ekspor bahan mentah, produksi menurun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa percepatan pengembangan fasilitas pengolahan bauksit di dalam negeri menjadi semakin mendesak. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis agar cadangan mineral nasional mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian, sekaligus memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase krusial pada 2026. Menurutnya, Indonesia perlu terus mempercepat transformasi ekonomi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah.
“Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan berbagai komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang semakin mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium. Integrasi ini dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri nasional tanpa ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Bahan baku aluminium yang dihasilkan dari pengolahan terintegrasi tersebut diharapkan menjadi fondasi terbentuknya rantai pasok industri yang kuat, mendukung sektor manufaktur, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandi Arif. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi global.
“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.
Kajian International Aluminium Institute juga menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina merupakan indikator utama dalam memperkuat daya saing industri suatu negara. Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium, baik bagi pasar domestik maupun global.
Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan nasional, memperkuat struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi dan industrialisasi masa depan Indonesia.
DPMPTSP Jabar dan BSN berkolaborasi dorong UMKM raih sertifikasi SNI, tingkatkan daya saing dan kualitas produk, serta dukung ekosistem bisnis inklusif. [529] url asal
Bisnis.com, BANDUNG--Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar naik kelas melalui peningkatan kualitas dan daya saing produk.
Dalam momentum Workshop Standardisasi dan Akselerasi Wirausaha Berdampak (AKSARA) yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Bulan Mutu Nasional (BMN) 2025, DPMPTSP Jabar menggandeng Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk memperluas jangkauan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pelaku UMKM di Jawa Barat.
Kepala DPMPTSP Jabar Dedi Taufik, menegaskan bahwa kolaborasi antara DPMPTSP dan BSN telah terjalin erat dan berperan penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif dan berdaya saing.
Menurutnya, sinergi ini menjadi langkah strategis dalam mengakselerasi pengembangan UMKM agar mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri.
“Kolaborasi ini sudah berjalan cukup lama dan semakin memperkuat komitmen kami untuk menciptakan ekosistem bisnis yang mendorong UMKM menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri,” ujarnya.
Jawa Barat hingga kini masih mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi secara nasional, dengan capaian mencapai Rp218,2 triliun pada periode Januari hingga September 2025.
Dedi menegaskan bahwa sektor UMKM merupakan pilar penting yang menopang pertumbuhan investasi dalam negeri (PMDN) di Jawa Barat.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi berkomitmen memperkuat UMKM melalui berbagai program peningkatan kapasitas, kualitas produk, dan daya saing di pasar lokal maupun global. “Kita punya harapan besar bahwa UMKM di Jawa Barat harus naik kelas,” tegasnya.
Sebagai wujud nyata dukungan terhadap UMKM, DPMPTSP Jawa Barat sudah meluncurkan berbagai inisiatif terpadu.
Di antaranya Program Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi (P2TP) — Mengintegrasikan layanan penting seperti HAKI, SNI, Sertifikat Halal, dan BPOM dalam satu pintu di kantor DPMPTSP Jawa Barat.
Lalu ada program SAKICEUP BOSS dan SAMPERIN UMK — Memberikan layanan on-the-spot bagi pelaku UMKM di berbagai daerah untuk memudahkan pengurusan perizinan dan sertifikasi.
Program AKSARA Jabar — Kolaborasi bersama BSN yang berfokus pada standardisasi dan akselerasi wirausaha berbasis mutu," katanya.
Sistem Informasi Kemitraan (SI KERTAS) — Platform digital yang menghubungkan industri besar dengan UMKM agar dapat bermitra dalam rantai pasok industri.
"Melalui berbagai program tersebut, diharapkan UMKM di Jawa Barat mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya, sekaligus berperan aktif dalam ekosistem investasi yang berdaya saing tinggi," katanya.
Selain fasilitasi sertifikasi, DPMPTSP juga aktif memberikan pendampingan melalui pelatihan, kurasi produk, serta peningkatan kualitas kemasan dan standar mutu.
“Kami melakukan pembinaan dan pelatihan, mulai dari packaging hingga mendapatkan standar mutu,” ungkap Dedi.
Tidak berhenti di situ, DPMPTSP juga memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dengan pembeli lokal maupun internasional, membuka peluang ekspor dan kemitraan jangka panjang.
Dedi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia menilai bahwa penguatan UMKM bukan sekadar soal peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan dan inklusif.
“Ke depan, kuncinya adalah kolaborasi dan sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta pemerintah pusat. Masyarakatlah yang harus kita angkat agar naik kelas,” pungkasnya.
DPMPTSP Jabar juga tengah mendorong pengembangan model usaha inti–plasma sebagai strategi keberlanjutan.
Melalui pola ini, UMKM yang telah berkembang diharapkan dapat menjadi penggerak bagi usaha kecil di sekitarnya, sehingga rantai pasok, penyediaan bahan baku, dan suplai produk tetap terjaga.
“Jika keseimbangan antara supply dan demand dapat dijaga, artinya UMKM kita benar-benar naik kelas, dan masyarakat sekitar turut merasakan manfaatnya,” tutup Dedi.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56