Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan bahwa sumber kerentanan global saat ini tidak lagi semata berasal dari konflik terbuka, melainkan juga dari perubahan cepat yang dipicu oleh perkembangan teknologi baru dan teknologi yang sedang tumbuh (new and emerging technologies).
Dia menyampaikan bahwa ketahanan nasional kini menuntut kepekaan membaca perubahan, kecepatan beradaptasi, serta kemampuan membentuk ruang kebijakan sebelum risiko berkembang menjadi krisis.
Hal tersebut disampaikan Sugiono dalam agenda Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 pada Rabu (14/1/2026).
“Salah satu arena yang semakin menentukan ketahanan nasional adalah new and emerging technologies. Kecerdasan artificial intelligence (AI), ruang cyber, dan teknologi dual use juga telah mengubah landscape kekuatan global. Di hadapan Dewan Keamanan PBB, saya menekankan bahwa teknologi seperti kecerdasan artificial harus tetap menjadi servant of humanity, never its master,” ujarnya dalam forum itu.
Dia menilai isu teknologi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan telah menjadi isu strategis yang menentukan arah kepentingan nasional.
Oleh karena itu, Sugiono melanjutkan diplomasi Indonesia harus hadir secara aktif untuk menjaga kepentingan nasional di ruang global yang baru serta memastikan Indonesia ikut berperan dalam menentukan aturan main internasional.
“Diplomasi harus hadir sebagai penjaga kepentingan nasional di ruang global yang baru dan memastikan Indonesia ikut menentukan rules of the game. Seluruh upaya berpangkal pada satu kebutuhan, yaitu kapasitas diplomasi yang jauh lebih siap, lebih tangguh, dan lebih profesional,” katanya.
Sugiono menekankan bahwa seluruh upaya tersebut berpangkal pada kebutuhan untuk membangun kapasitas diplomasi yang lebih siap, tangguh, dan profesional. Dalam konteks ini, penguatan infrastruktur diplomasi dinilainya sebagai sebuah keniscayaan dan bukan sekadar agenda administratif, melainkan investasi langsung bagi ketahanan nasional.
Dia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak dalam mode bertahan (survival mode), negara yang lambat dan tidak siap berisiko terpinggirkan. Karena itu, diplomat Indonesia diposisikan sebagai penjaga dan pengarah ketahanan nasional melalui diplomasi yang adaptif dan berorientasi jangka panjang.
Penguatan infrastruktur diplomasi, lanjut Sugiono, difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, kepastian kerangka hukum, serta percepatan transformasi digital.
Selain itu, dia mengatakan bahwa kesejahteraan dan dukungan operasional bagi jajaran Kementerian Luar Negeri, baik di pusat maupun di perwakilan luar negeri, menjadi perhatian langsung pimpinan kementerian.
Dia menyebutkan bahwa perhatian tersebut mencakup penyesuaian penghasilan pegawai setempat di perwakilan, serta pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan bagi pegawai Kementerian Luar Negeri beserta keluarganya.
Pada masa pemerintahan saat ini, Kementerian Luar Negeri juga akan menjalankan transformasi manajemen sumber daya manusia secara fundamental, termasuk dalam sistem pendidikan, pengembangan kapasitas, dan pola karier pegawai.
Untuk menjaga kesinambungan kebijakan, Kementerian Luar Negeri telah menyusun Peta Jalan Postur Diplomasi Tangguh menuju Indonesia Emas 2045 sebagai arah jangka panjang diplomasi Indonesia yang modern, adaptif, dan berdaya saing.
Penguatan tersebut, menurut Sugiono, disertai dengan komitmen terhadap integritas melalui pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas dari korupsi serta birokrasi yang bersih dan melayani, guna menjaga kepercayaan publik terhadap diplomasi Indonesia.
“Penguatan ini disertai komitmen integritas melalui zona integritas menuju wilayah bebas dari korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani untuk menjaga kepercayaan publik terhadap diplomasi Indonesia,” pungkas Sugiono.