Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan pertimbangan secara ilmiah kepada Kementerian Agama dan pihak terkait dalam penentuan awal bulan hijriyah.
Pihak BMKG memberikan prediksi terkait pengamatan rukyatul hilal sebagai bahan pertimbangan penentuan awal bulan Ramadan 1447 H/2026 M.
BMKG pun turut melakukan observasi (rukyat) hilal di 37 lokasi di Indonesia yang bisa disaksikan secara online atau live streaming di situs hilal.bmkg.go.id.
Dalam data yang dirilis pada 29 Januari 2026, BMKG mencatatkan bahwa konjungsi berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB. Waktu tersebut menunjukkan posisi Bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
"Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada tanggal 17 Februari 2026, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Ramadan 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 18 Februari 2026. Dan bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Ramadan 1447 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 18 Februari 2026 tersebut," tulis BMKG.
Berdasarkan perhitungan BMKG, ketinggian hilal pada 17 Februari 2026 berkisar antara minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Kondisi ini membuat hilal belum memungkinkan untuk diamati.
Sementara ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 7.62⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 10.03⁰ di Sabang, Aceh. Hal ini diperkirakan posisi bulan sudah cukup tinggi untuk dilakukan pengamatan.
Kemudian BMKG juga menyoroti elongasi Bulan terhadap Matahari. Pada 18 Februari 2026, nilai elongasi di Indonesia diperkirakan berada pada rentang 10,7 derajat hingga 12,21 derajat, jauh di atas batas minimal kriteria imkanur rukyat.
Namun pada tanggal 17 dan 18 Februari 2026, BMKG memastikan bahwa tidak terdapat objek astronomis lain di sekitar Bulan yang berpotensi mengganggu proses pengamatan hilal pada tanggal tersebut.
Jadwal Pelaksanaan Sidang Isbat
Kementerian Agama mengumumkan sidang isbat penentu awal Ramadan 1447 H/2026 M dilakukan pada Selasa (17/2/2026) di Auditorium H M Rasjidi dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar.
"Sidang Isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak, perwakilan ormas Islam, perwakilan kedubes negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR dan perwakilan Mahkamah Agung," kata Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad dalam keterangan, Kamis (29/1), dikutip dari MUI.
Abu Rokhmad menjelaskan ada tiga rangkaian pelaksanaan sidang Isbat, yaitu pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia.
"Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat," ujar Abu Rokhmad.
Dirjen menambahkan, dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri 1 Syawal dan Idul Adha Kemenag mengintegrasikan metode Hisab dan Rukyah.
Abu Rokhmad mengajak masyarakat menunggu hasil sidang isbat dan pengumuman pemerintah terkait awal Ramadan 1447 H nanti. Menurutnya, ini sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 2 tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah.
Direktur Urusan Agama Islam Arsad Hidayat menambahkan, Kemenag akan mengirimkan sejumlah ahli ke lokasi atau titik rukyah yang potensial melihat hilal jelas. Termasuk di lokasi atau tempat observasi bulan.
"Kalau memungkinkan, tahun ini kita menjadikan masjid IKN yang telah diresmikan beberapa waktu lalu sebagai tempat pelaksanaan rukyatul hilal," kata Arsyad.
Selain itu pada tahun ini, Kemenag akan menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) sebagai dasar hukum pelaksanaan sidang Isbat.
"PMA ini akan menjadi pijakan dan menjawab pertanyaan masyarakat tentang dasar pelaksanaan sidang Isbat," kata dia.