#30 tag 24jam
Harga Bitcoin Turun 50 Persen, Pintu Futures Perkuat Fitur Manajemen Risiko
Lima fitur disiapkan untuk bantu trader kelola volatilitas pasar. [180] url asal
#bitcoin #btc #kripto-2026 #trading-derivatif #pintu-futures #manajemen-risiko #ojk #harga-bitcoin-turun #leverage-25x #likuidasi-kripto
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC), setelah sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang masa di kisaran 126.210 dolar AS pada Oktober 2025, kini mengalami tekanan harga. Per 16 Februari 2026, BTC berada di kisaran 68.000 dolar AS atau turun hampir 50 persen dari level tertingginya.
Di tengah volatilitas tersebut, perdagangan derivatif kripto dinilai dapat menjadi alternatif bagi trader untuk memaksimalkan potensi keuntungan di berbagai kondisi pasar.
Untuk mendukung strategi trading sekaligus meminimalkan risiko, Pintu Futures menyediakan lima fitur manajemen risiko, yakni Take Profit dan Stop Loss, Adjustable Leverage hingga 25 kali (25x), Price Protection, Initial Margin (IM) Buffer, dan Stop Order. Produk trading derivatif aset kripto milik PT Pintu Kemana Saja (PINTU) ini telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad mengatakan, perdagangan derivatif kripto tidak hanya soal mengejar potensi keuntungan, tetapi juga bagaimana trader mengontrol dan mengantisipasi risiko.
“Sepanjang 2025 kami terus menghadirkan fitur untuk mendukung manajemen risiko trading derivatif yang kini dapat dimaksimalkan oleh pengguna Pintu Futures,” ujar Iskandar dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
Harga Bitcoin Turun ke 69.037 Dollar AS, Pasar Kripto Masih Gelisah
Harga bitcoin (BTC) kembali turun ke bawah 70.000 dollar AS pada perdagangan Senin (9/2/2026) [459] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #harga-btc #harga-btc-hari-ini
(Kompas.com - Money) 09/02/26 20:56
v/131102/
KOMPAS.com – Harga bitcoin (BTC) kembali turun ke bawah 70.000 dollar AS pada perdagangan Senin (9/2/2026), setelah mengalami pergerakan liar pada akhir pekan lalu.
Mengutip Bloomberg, aset kripto terbesar di dunia itu sempat bergerak stabil. Namun, sekitar pukul 07.20 waktu New York, harga bitcoin terkoreksi sekitar 2 persen ke level 69.037 dollar AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin tercatat berada di level 69.113,78 dollar AS atau turun 2.179,19 dollar AS (3,06 persen) pada pukul 13.21 UTC.
Meski demikian, pelemahan kali ini masih lebih moderat dibandingkan gejolak yang terjadi sebelumnya.
Harga Bitcoin Sempat Anjlok dan Bangkit
Pada Kamis pekan lalu, harga bitcoin sempat merosot tajam ke 60.033 dollar AS. Level tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 2024. Namun sehari berselang, harga kembali melonjak hingga menembus 70.000 dollar AS.
Aksi jual besar-besaran itu turut mendorong lonjakan volatilitas. Indeks Volatilitas Tersirat Bitcoin Volmex melonjak di atas 97 persen.
Kenaikan intraday tersebut menjadi yang terbesar sejak runtuhnya bursa kripto FTX milik Sam Bankman-Fried pada 2022.
Volatilitas tinggi memang bukan hal baru di pasar kripto. Namun, penurunan harga bitcoin dari puncaknya di 126.000 dollar AS pada Oktober tahun lalu menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar.
Kondisi itu terjadi di tengah latar belakang Gedung Putih yang dinilai ramah terhadap kripto serta meningkatnya adopsi institusional.
Selain itu, bitcoin juga dinilai belum mampu berperan sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Hal ini memunculkan keraguan atas narasi Bitcoin sebagai “emas digital”.
Investor Masih Berhati-hati
Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar masih bersikap waspada.
Chris Beauchamp, chief market analyst di platform investasi dan perdagangan IG, mengatakan bahwa meskipun harga kripto berhasil bangkit dari level terendah pekan lalu, belum terlihat dorongan kuat untuk kembali membeli saat harga murah.
Ia menilai, mata uang kripto membutuhkan momentum bullish. Namun, meski sempat pulih pekan lalu, momentum tersebut dinilai masih belum terbentuk secara kuat.
Pandangan serupa disampaikan Jeff Anderson, head of Asia di STS Digital. Ia memperkirakan likuiditas pasar akan menurun dan kondisi pasar yang gelisah dapat memicu pergerakan harga yang lebih besar dalam jangka pendek.
Menurut dia, penurunan kembali ke bawah 70.000 dollar AS tidak terlalu signifikan. Pelaku pasar kini menunggu pergerakan lanjutan yang lebih berkelanjutan, baik jika harga turun di bawah 62.000 dollar AS maupun menembus di atas 76.000 dollar AS.
Meski pasar masih diliputi kehati-hatian, terdapat sinyal awal kembalinya optimisme. Pada 6 Februari 2026, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk dana sebesar 221 juta dollar AS.
Arus masuk ini terjadi ketika investor memanfaatkan penurunan harga setelah aksi jual tajam sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Harga Bitcoin Anjlok Tajam, Sempat Jebol 61.000 Dollar AS
Harga bitcoin kembali terperosok dan sempat menyentuh 60.062 dollar AS. Dalam sepekan, harga kripto terbesar dunia ini sudah anjlok hampir 30 persen. [689] url asal
#bitcoin #harga-bitcoin #aset-kripto #harga-bitcoin-turun #bitcoin-anjlok #pasar-kripto #harga-btc #harga-btc-hari-ini
(Kompas.com - Money) 06/02/26 11:41
v/128009/
KOMPAS.com - Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan pada Kamis (5/2/2026) waktu setempat atau Jumat (6/2026) pagi. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat jatuh di bawah 61.000 dollar AS, menandai kian dalamnya aksi jual di pasar aset digital.
Dikutip dari CNBC, harga bitcoin sempat menyentuh 60.062,00 dollar AS. Pada pukul 19.37 ET, harganya tercatat turun sekitar 15 persen ke level 62.448,00 dollar AS.
Sepanjang pekan ini saja, harga BTC sudah merosot hampir 30 persen. Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan aksi jual tajam saham teknologi AS, memperlihatkan korelasi yang semakin kuat antara kripto dan aset berisiko.
Narasi “Emas Digital” Kian Dipertanyakan
Tekanan di pasar kripto muncul ketika investor kembali menilai ulang peran Bitcoin. Selama ini, Bitcoin kerap dipromosikan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian makroekonomi, sekaligus alternatif mata uang fiat dan aset safe haven seperti emas.
Namun dalam praktiknya, pergerakan harga tidak mencerminkan narasi tersebut. Sejak mencapai puncak di atas 126.000 dollar AS pada awal Oktober, harga bitcoin terus melemah.
Pada perdagangan Kamis, Bitcoin lebih dulu menembus level kunci 70.000 dollar AS sebelum tekanan jual meningkat dan membawa harga mendekati level sebelum pemilu.
“Penjualan yang stabil ini dalam pandangan kami menandakan investor tradisional mulai kehilangan minat, dan pesimisme terhadap kripto secara keseluruhan meningkat,” ujar analis Deutsche Bank Marion Laboure.
Menurut pengamat, sejumlah klaim besar terkait bitcoin belum terwujud. Dalam beberapa gejolak geopolitik dan makroekonomi di Venezuela, Timur Tengah, dan Eropa, bitcoin justru bergerak searah dengan saham. Adopsinya sebagai alat pembayaran barang dan jasa pun masih terbatas.
Tertinggal dari Emas, Kripto Lain Ikut Terseret
Dalam setahun terakhir, harga bitcoin turun hampir 40 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka emas naik 61 persen pada periode yang sama.
Tekanan juga melanda kripto lain. Ether terkoreksi 33 persen pekan ini. Solana sempat menyentuh 88,42 dollar AS pada Kamis (5/2/2026), mendekati level terendah dua tahun, dan turun hampir 40 persen dalam sepekan.
Sejumlah pelaku pasar menyoroti level 70.000 dollar AS sebagai batas penting. Penembusan di bawah level tersebut dinilai berpotensi memicu pelemahan lanjutan.
Kepala riset Coinshares James Butterfill menyebut 70.000 dollar AS sebagai “level psikologis penting”. Ia menambahkan, “jika gagal bertahan, pergerakan menuju kisaran 60.000 hingga 65.000 dollar AS menjadi cukup mungkin.”
Likuidasi Membengkak, Permintaan Institusi Berbalik
Tekanan di pasar kripto juga diperberat likuidasi paksa, yakni ketika posisi trader otomatis ditutup saat harga menyentuh batas tertentu. Data Coinglass menunjukkan lebih dari 2 miliar dollar AS posisi long dan short kripto telah dilikuidasi sepanjang pekan ini.
Pada saat yang sama, saham teknologi AS turut melemah. State Street Technology Select Sector SPDR ETF (XLK) turun 1,8 persen pada Kamis dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut.
Di sisi lain, pasar logam mulia juga bergerak volatil. Harga perak kembali merosot dan emas berada dalam tekanan.
Bitcoin sendiri telah turun lebih dari tiga bulan berturut-turut dan kini berada lebih dari 50 persen di bawah puncak Oktober. Kripto lain seperti Ether dan XRP bahkan mencatat penurunan lebih dalam.
“Lonjakan pasar bullish dalam garis lurus yang diharapkan banyak orang belum benar-benar terwujud. Bitcoin tidak lagi diperdagangkan berdasarkan hype, ceritanya sudah kehilangan daya tarik, kini diperdagangkan murni berdasarkan likuiditas dan arus modal,” kata CEO digital assets FG Nexus, Maja Vujinovic.
Perubahan sikap investor institusi turut menjadi sorotan. Jika sebelumnya mereka disebut menopang harga, kini justru terindikasi melakukan penjualan.
“Permintaan institusional telah berbalik secara material,” tulis CryptoQuant dalam laporan Rabu.
Menurut CryptoQuant, exchange-traded fund (ETF) di AS yang membeli 46.000 Bitcoin pada periode yang sama tahun lalu, kini menjadi penjual bersih pada 2026.
Laporan tersebut juga mencatat, “Bitcoin telah menembus di bawah rata-rata pergerakan 365 hari untuk pertama kalinya sejak Maret 2022 dan turun 23 persen dalam 83 hari sejak penembusan — lebih buruk dibanding fase awal pasar bearish 2022.”
Rata-rata pergerakan adalah indikator yang melacak harga aset dalam periode tertentu untuk meredam fluktuasi jangka pendek dan mengidentifikasi tren.
CryptoQuant menilai pelemahan terbaru ini membuka potensi penurunan lanjutan menuju kisaran 70.000 hingga 60.000 dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangHarga Bitcoin Ambles di Bawah US$63.000, Hapus Keuntungan Era Trump
Harga Bitcoin jatuh di bawah US$63.000, menghapus keuntungan era Trump, dipicu ketegangan geopolitik dan aksi jual berantai, berdampak luas pada pasar kripto. [664] url asal
#bitcoin-harga #bitcoin-anjlok #aset-kripto #emas-digital #harga-bitcoin-turun #keuntungan-era-trump #token-jatuh #penurunan-bitcoin #pasar-kripto #ketegangan-geopolitik #aksi-jual-berantai #likuidasi
(Bisnis.Com - Market) 06/02/26 08:04
v/127738/
Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin anjlok pada perdagangan kemarin. Aset kripto yang digadang sebagai emas digital itu turun hingga di bawah US$63.000, menghapus keuntungan yang dipupuk pada era pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Token tersebut jatuh hingga 14% pada hari Kamis menjadi $62.267, terendah sejak Oktober 2024. Sedangkan pada perdagangan pagi ini, Jumat (6/2/2026), pada pukul 07.52 WIB, aset kripto ini diperdagangkan pada level US$63.086,55 per keping.
Penurunan tajam ini telah menghapus setengah dari nilai Bitcoin sejak mencapai rekor tertinggi empat bulan lalu dan telah menyebar ke token lain. Kenaikan harga Bitcoin dan aset kripto sebelumnya didorong oleh kembalinya Presiden AS yang dikenal pro-kripto ke Gedung Putih. Realitas yang memicu masuknya spekulasi besar-besaran ke aset digital dan instrumen keuangan berbasis kripto di Wall Street.
Namun, sejak awal tahun ini, pasar mulai goyah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang menekan selera risiko investor. Kondisi tersebut memicu penurunan Bitcoin sejak pertengahan Januari dan mendorong siklus aksi jual berantai, ketika dana-dana investasi melikuidasi aset untuk memenuhi penarikan dan menutup posisi margin yang dolakukan.
“Ketakutan dan ketidakpastian di seluruh pasar sangat jelas terlihat. Tanpa pembeli yang memiliki keyakinan dan bersedia untuk menekan harga jual, setiap gelombang penarikan dan likuidasi ETF akan berantai,” ” kata Chris Newhouse, kepala pengembangan bisnis di Ergonia dikutip dari Bloomberg.
Ia menambahkan, kondisi tersebut melipatgandakan setiap penurunan dan memperkuat posisi defensif yakni keluar dari pasar. Tekanan di pasar kripto kali ini mengingatkan pada kejatuhan tahun 2022, ketika harga aset digital anjlok tajam menyusul pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) setelah periode likuiditas longgar selama pandemi.
Dampaknya juga dirasakan oleh perusahaan perantara kripto, seperti Coinbase Global Inc., yang sahamnya telah merosot lebih dari 30% sepanjang tahun ini. Sementara itu, Gemini Space Station Inc. menyatakan berencana memangkas hingga 25% tenaga kerjanya serta menghentikan operasinya di Inggris, Uni Eropa, dan Australia.
Berbeda dengan siklus sebelumnya, Bitcoin kini juga menghadapi persaingan dari bentuk spekulasi lain, termasuk perjudian olahraga yang telah dilegalkan serta pasar prediksi yang mencakup isu politik hingga hiburan. Di saat yang sama, investor ritel masih agresif mengejar opsi zero-day di pasar saham serta instrumen kripto berimbal hasil tinggi di bursa terdesentralisasi.
Penurunan terbaru ini kembali memunculkan keraguan atas kegunaan aset digital di dunia nyata. Bitcoin yang sempat dipromosikan sebagai lindung nilai inflasi atau alternatif emas dan dolar AS, masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi dan belum berfungsi sebagai aset lindung nilai saat tekanan pasar meningkat. Bahkan, meningkatnya kepemilikan institusional justru membuat Bitcoin lebih rentan terhadap aksi de-risking secara luas.
“Momentum telah mengambil alih saat ini dan pasar bearish kripto cenderung berakhir lebih pada sikap apatis daripada keputusasaan,” kata Ryan Rasmussen, direktur dan kepala penelitian di Bitwise Asset Management.
“Saat ini kita berada dalam fase keputusasaan dari penarikan dana,” katanya.
Tekanan juga terlihat pada arus dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Sepanjang 2025, produk-produk tersebut sempat menopang harga Bitcoin berkat masuknya dana puluhan miliar dolar. Namun, arus tersebut kini berbalik. Bloomberg mencatat sekitar US$2 miliar dana keluar dari ETF Bitcoin hanya dalam satu bulan terakhir, dan lebih dari US$5 miliar ditarik dalam 3 bulan terakhir.
Kejatuhan Bitcoin berdampak luas ke seluruh pasar aset digital. Token spekulatif berkapitalisasi kecil dan kurang likuid mengalami tekanan lebih dalam. Indeks MarketVector Digital Assets 100 Small-Cap tercatat telah anjlok sekitar 70% dalam setahun terakhir.
Di pasar derivatif, pedagang semakin defensif. Permintaan perlindungan terhadap penurunan harga meningkat di kisaran $70.000. Sementara kontrak berjangka jangka menengah menunjukkan pandangan yang lebih bearish, dengan konsentrasi minat terbuka di sekitar level $60.000 dan $20.000, berdasarkan data Deribit.
Ilan Solot, ahli strategi pasar global senior di Marex, menyebut aksi jual dipicu kombinasi sejumlah faktor, mulai dari pelemahan saham teknologi, kinerja emas yang lebih kuat, hingga sentimen penghindaran risiko secara global.
“Prospeknya mungkin masih bearish untuk saat ini, tetapi yang terburuk mungkin sudah berlalu, namun demikian, pergerakan seperti ini secara historis selalu menjadi peluang pembelian bagi investor jangka panjang dan banyak yang akan melihatnya seperti itu,” katanya.
Harga Bitcoin Ambles ke Bawah 70.000 Dollar AS, Apa Penyebabnya?
Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan di tengah aksi jual aset berisiko. Pada Kamis (5/2/2026), harga bitcoin anjlok ke bawah 70.000 dollar AS [571] url asal
#harga-bitcoin #harga-bitcoin-hari-ini #harga-bitcoin-anjlok #aset-kripto #harga-bitcoin-turun #pasar-kripto #harga-btc
(Kompas.com - Money) 05/02/26 20:31
v/127417/
KOMPAS.com - Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan di tengah aksi jual aset berisiko. Pada Kamis (5/2/2026), harga bitcoin anjlok ke bawah 70.000 dollar AS, level yang terakhir kali disentuh pada November 2024.
Berdasarkan data CoinMetrics, harga bitcoin sempat merosot hingga 69.055,46 dollar AS. Pada pukul 08.09 waktu timur AS (ET), harganya berada di kisaran 69.552 dollar AS.
Pada pukul 08.16 ET, bitcoin tercatat di 69.377,30 dollar AS atau turun 4.061,29 poin (-5,53 persen).
Dikutip dari CNBC, Kamis (5/2/2026), penurunan harga bitcoin menjadi sorotan pelaku pasar. Sejumlah analis menilai 70.000 dollar AS merupakan level kunci yang perlu dicermati.
Jika harga bitcoin bertahan di bawah titik tersebut, tekanan lanjutan dinilai berpotensi terjadi.
James Butterfill, Head of Research CoinShares, menyebut 70.000 dollar AS sebagai “key psychological level”.
"Jika level ini gagal dipertahankan, maka pergerakan menuju kisaran 60.000 hingga 65.000 dollar AS menjadi cukup mungkin terjadi," ujarnya.
Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan di tengah aksi jual aset berisiko. Pada Kamis (5/2/2026), harga bitcoin anjlok ke bawah 70.000 dollar ASTertekan Aksi Jual dan Likuidasi
Pelemahan harga bitcoin terjadi setelah aksi jual besar pada saham teknologi di Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/2/2026). Tekanan tersebut kemudian merambat ke pasar kripto.
Pada saat yang sama, pasar komoditas juga bergerak fluktuatif. Harga perak kembali anjlok pada Kamis (5/2/2026), sementara harga emas berada dalam tekanan.
Faktor lain yang membebani pasar adalah likuidasi, yakni ketika posisi trader otomatis ditutup karena harga menyentuh batas tertentu.
Data Coinglass menunjukkan lebih dari 2 miliar dollar AS posisi beli (long) dan jual (short) di pasar kripto telah dilikuidasi sepanjang pekan ini hingga Kamis (5/2/2026).
Turun dari Rekor 126.000 Dollar AS
Secara tren, harga bitcoin telah mengalami penurunan sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas 126.000 dollar AS pada Oktober 2025 lalu. Saat ini, posisinya sekitar 40 persen di bawah level puncak tersebut.
Aset kripto lain bergerak lebih dalam. Ether dan XRP tercatat mengalami pelemahan yang lebih besar dibandingkan bitcoin.
Maja Vujinovic, CEO Digital Assets FG Nexus, mengatakan reli kenaikan lurus yang sebelumnya diharapkan banyak pelaku pasar belum terwujud.
"Reli kenaikan lurus yang diharapkan banyak orang belum benar-benar terwujud. Bitcoin tidak lagi diperdagangkan berdasarkan hype. Narasinya sudah sedikit kehilangan daya tariknya, dan kini lebih diperdagangkan murni berdasarkan likuiditas serta arus modal," ujarnya.
Permintaan Institusi Berbalik
Di tengah kondisi ini, peran investor institusi juga menjadi perhatian. Jika sebelumnya investor besar dinilai menopang harga, kini tren tersebut disebut berubah.
“Permintaan dari institusi telah berbalik secara signifikan,” tulis CryptoQuant dalam laporannya pada Rabu (4/2/2026).
CryptoQuant mencatat, exchange-traded funds (ETF) di AS yang pada periode sama tahun lalu membeli 46.000 bitcoin, kini justru melakukan aksi jual bersih pada 2026.
Laporan itu juga menyoroti indikator teknikal penting. Bitcoin disebut telah menembus ke bawah rata-rata pergerakan 365 hari untuk pertama kalinya sejak Maret 2022.
Sejak penembusan tersebut, harga bitcoin telah turun 23 persen dalam 83 hari, lebih buruk dibandingkan fase awal pasar bearish 2022.
Rata-rata pergerakan (moving average) merupakan istilah teknikal yang merujuk pada rata-rata harga penutupan aset dalam periode tertentu.
Menurut CryptoQuant, kondisi tersebut mengindikasikan potensi penurunan lanjutan menuju kisaran 70.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bitcoin Jatuh ke Level Terendah Sejak April, Investor Waspadai Tekanan Lanjutan
Harga Bitcoin (BTC) terus tertekan. Dalam lima hari terakhir, aset kripto terbesar itu melemah 13 persen dan menyentuh level terendah sejak April 2025 [534] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #pasar-kripto #harga-btc
(Kompas.com - Money) 05/02/26 07:44
v/126239/
KOMPAS.com – Harga Bitcoin (BTC) terus tertekan. Dalam lima hari terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu melemah 13 persen dan menyentuh level terendah sejak April tahun lalu.
Pada Rabu (5/2/2026), Bitcoin turun 2 persen ke sekitar 73.000 dollar AS per token. Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin berada di level 72.996,45 dollar AS, turun 2.865,88 poin atau 3,78 persen.
Akhir pekan lalu, Bitcoin jatuh tajam dan mencatat bulan keempat berturut-turut mengalami penurunan.
Pernyataan Menteri Keuangan AS Tekan Pasar
Pelemahan harga BTC terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah AS tidak memiliki kewenangan untuk membeli bitcoin atau aset kripto lainnya.
Dalam sidang Komite Jasa Keuangan DPR AS, Bessent ditanya apakah Departemen Keuangan memiliki otoritas untuk membeli bitcoin maupun kripto lain.
"Saya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan itu, dan sebagai ketua FSOC, saya juga tidak memiliki kewenangan tersebut," ujar Bessent, dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (5/2/2026).
Tekanan juga datang dari kondisi pasar yang lebih luas. Investor Michael Burry memperingatkan bahwa penurunan berkepanjangan harga bitcoin dapat "memicu spiral kematian yang berujung pada kehancuran nilai secara besar-besaran."
"Bitcoin telah terbukti sebagai aset yang murni spekulatif, dan tidak mendekati fungsi lindung nilai terhadap pelemahan mata uang seperti emas dan logam mulia lainnya," tulis Burry di Substack.
Ether (ETH-USD) dan sejumlah token digital lainnya juga ikut melemah.
Sorotan Level Support 73.000 Dollar AS
Strategis 10X Research menyebut level support berikutnya berada di 73.000 dollar AS.
"Dengan level support berikutnya di 73.000 dollar AS, arus dana saat ini menunjukkan sentimen telah berubah secara signifikan," tulis mereka dalam catatan terbaru.
Berdasarkan data arus dana dan posisi investor, disebutkan bahwa investor belum berada pada posisi untuk membeli saat harga turun.
"Meskipun sentimen dan indikator teknikal mendekati level ekstrem, tren penurunan yang lebih luas masih tetap utuh," tulis para peneliti.
"Tanpa adanya katalis yang jelas, belum ada urgensi untuk masuk ke pasar," lanjutnya.
Menurut mereka, pelaku pasar masih fokus melakukan pengurangan leverage dan melepas posisi, bukan bersiap menghadapi reli pemulihan cepat.
Tekanan Sejak Oktober
Tekanan pada aset digital mencerminkan rapuhnya pasar kripto. Selain sempat rebound singkat bulan lalu, Bitcoin kesulitan bangkit sejak Oktober ketika aksi jual investor besar (whale) dan likuidasi paksa melanda industri.
Pelemahan juga bertepatan dengan pengumuman Presiden Donald Trump yang menunjuk Kevin Warsh untuk memimpin Federal Reserve menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang. Pasar menilai pencalonan tersebut bernada hawkish.
Kepala aset digital Fundstrat, Sean Farrell, menilai area pertengahan 70.000 dollar AS sebagai zona support yang logis.
Level sekitar 74.000 dollar AS sebelumnya menjadi harga tertinggi intraday pada Maret 2024 dan harga terendah intraday pada April 2025 saat aksi jual dipicu tarif.
"Dengan asumsi faktor lain tetap sama, level yang dicapai akhir pekan lalu serta tingkat kapitulasi yang terlihat menciptakan rasio risiko dan imbal hasil jangka pendek yang lebih menarik," tulis Farrell dalam catatan pada Senin.
Ia menyebut koreksi ini bisa membuka peluang penempatan dana secara moderat. Namun, ia mengingatkan kondisi masih bergerak turun dengan risiko posisi yang cukup besar di pasar tradisional yang dapat berdampak negatif terhadap pasar kripto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangHarga Bitcoin Kian Jeblok imbas Kehilangan Momentum dan Kepercayaan Pasar
Harga Bitcoin turun 40% dari puncaknya pada 2025, kehilangan momentum dan kepercayaan pasar. [634] url asal
#bitcoin-harga #bitcoin-koreksi #bitcoin-momentum #kepercayaan-pasar #harga-bitcoin-turun #bitcoin-investor #bitcoin-permintaan #bitcoin-likuiditas #bitcoin-pasar-global #bitcoin-geopolitik #bitcoin-pe
(Bisnis.Com - Market) 02/02/26 10:40
v/122294/
Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin terus terkoreksi dan mencapai level di bawah US$80.000. Koreksi Bitcoin disebabkan oleh hilangnya tiga pilar utama penopang, yakni harga, relevansi, dan keyakinan investor.
Berdasarkan data Coinmarketcap pada Senin (2/2/2026), harga Bitcoin turun 4,44% ke level US$75.248,78, atau anjlok sekitar 40% dari puncaknya pada 2025. Posisi tersebut membawa Bitcoin kembali ke level yang terakhir terlihat setelah gejolak tarif bertajuk “Liberation Day”.
Koreksi yang bermula dari kejatuhan tajam pada Oktober kini berkembang menjadi tekanan yang lebih menggerogoti. Aksi jual kali ini bukan dipicu kepanikan, melainkan minimnya pembeli, momentum, dan kepercayaan pasar.
Berbeda dengan penurunan pada Oktober, tidak ada pemicu besar, likuidasi berantai, maupun guncangan sistemik. Yang terlihat justru permintaan yang memudar, likuiditas yang menipis, serta Bitcoin yang semakin terlepas dari dinamika pasar keuangan global.
Melansir Bloomberg, aset kripto terbesar ini gagal merespons ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, maupun reli aset berisiko. Bahkan ketika harga emas dan perak bergejolak tajam dalam beberapa pekan terakhir, tidak terlihat rotasi dana ke kripto.
Sepanjang Januari, Bitcoin turun hampir 11%, mencatatkan penurunan bulanan keempat secara beruntun. Ini menjadi rentetan koreksi terpanjang sejak 2018, setelah runtuhnya gelembung penawaran koin perdana (initial coin offering/ICO) pada 2017.
“Saya tidak berpikir Bitcoin akan mencetak rekor tertinggi baru pada 2026,” ujar Direktur market maker Wincent, Paul Howard.
Faktor lain yang menyebabkan koreksi Bitcoin dalah minimnya optimisme di media sosial. Di pasar yang dikenal dengan sikap percaya diri berlebihan dan narasi “harga pasti naik”, pelemahan Bitcoin kali ini nyaris tanpa sorak-sorai ataupun euforia aksi beli saat harga turun.
Tekanan ini terjadi meskipun pemerintahan Presiden AS Donald Trump mendorong kebijakan yang lebih ramah kripto serta meningkatnya investasi institusional.
Sejumlah pelaku pasar menilai sentimen positif tersebut telah diantisipasi lebih awal, sehingga harga lebih dulu reli sebelum akhirnya kehilangan tenaga.
Di sisi lain, instrumen exchange traded funds (ETF) berbasis Bitcoin spot di bursa masih mencatatkan arus keluar, mencerminkan melemahnya keyakinan investor arus utama, banyak di antaranya kini berada dalam posisi rugi setelah membeli di harga yang lebih tinggi.
Investor institusional besar, termasuk perusahaan dengan neraca aset kripto, juga mengendurkan pembelian setelah gelembung harga saham mereka pecah tahun lalu, sehingga menggerus permintaan dari segmen atas pasar.
Data Kaiko menunjukkan kedalaman pasar Bitcoin, indikator besaran modal yang tersedia untuk menyerap transaksi besar—masih lebih dari 30% di bawah puncaknya pada Oktober. Kondisi likuiditas serendah ini terakhir kali terjadi setelah kolapsnya FTX pada 2022.
Pola historis juga belum memberi banyak harapan. Setelah puncak 2021, Bitcoin membutuhkan waktu 28 bulan untuk pulih. Pasca-boom ICO 2017, pemulihan memakan hampir tiga tahun. Dengan acuan tersebut, fase penurunan saat ini dinilai masih berada di tahap awal.
“Berdasarkan kontraksi volume perdagangan kripto sebelumnya, dari puncak 2017 hingga musim dingin 2018–2019, volume di bursa spot turun sekitar 60%–70%,” ujar analis Kaiko, Laurens Fraussen.
Sebagai perbandingan, koreksi pada periode 2021–2023 hanya mencatat kontraksi volume sekitar 30%–40%. “Jika melihat posisi kita dalam siklus saat ini, kemungkinan baru sekitar 25% berjalan. Secara siklus, penurunan terdalam biasanya terjadi di sekitar 50%,” katanya.
Fraussen memperkirakan dibutuhkan enam hingga sembilan bulan lagi sebelum pemulihan yang berarti mulai terbentuk, dengan volume perdagangan yang kemungkinan tetap lemah pada fase akhir koreksi dan akumulasi ulang.
Sebagian pelaku pasar melihat tantangan yang lebih mendasar, yakni persaingan memperebutkan modal. Pendiri Ferro BTC Volatility Fund, Richard Hodges, mengaku telah mengingatkan para pemegang Bitcoin besar agar bersabar.
“Saya berbicara dengan banyak whale Bitcoin dan mengatakan secara tegas bahwa mereka tidak akan melihat rekor tertinggi baru dalam 1.000 hari ke depan,” ujarnya.
Menurut Hodges, dana investor kini lebih banyak mengalir ke saham berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kebangkitan logam mulia yang menarik minat trader makro dan pemburu momentum.
“Bitcoin itu seperti cerita tiga tahun lalu, bukan hari ini. Saham AI melesat tinggi. Kita melihat awal reli emas, lalu perak bergerak eksplosif," katanya.
Harga Bitcoin Turun Terus, Kapan Akan Pulih?
Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini. [581] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #pasar-kripto #harga-btc
(Kompas.com - Money) 01/02/26 22:32
v/121884/
KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.
Aset kripto terbesar dunia tersebut sudah anjlok sekitar 40 persen dari level tertinggi (ATH) tahun 2025 lalu, sekaligus menyamai posisi terendah yang terakhir kali terlihat saat gejolak “Liberation Day” mengguncang pasar.
Berbeda dengan crash tajam yang terjadi pada Oktober 2025, penurunan harga BTC kali ini tidak dipicu oleh kepanikan mendadak, likuidasi besar-besaran, atau guncangan sistemik.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (1/2/2026), penurunan harga Bitcoin terjadi karena menipisnya minat beli, berkurangnya likuiditas, dan melemahnya keyakinan investor.
Bitcoin gagal merespons berbagai sentimen global seperti ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, maupun reli aset berisiko.
Bahkan, ketika harga emas dan perak bergejolak, Bitcoin tak mendapatkan keuntungan dari rotasi modal ke aset safe haven tersebut.
Pada Januari 2026, harga Bitcoin turun hampir 11 persen. Ini menjadi bulan keempat berturut-turut mengalami penurunan, atau periode paling lama sejak 2018, saat pasar kripto ambruk setelah booming penawaran koin awal (ICO) di 2017.
Direktur market maker Wincent, Paul Howard, menilai tahun ini Bitcoin sulit kembali ke rekor harga tertingginya. “Saya tidak yakin Bitcoin akan mencetak harga tertinggi baru pada 2026,” ujarnya.
Optimisme di Media Sosial Meredup
Ironisnya, di tengah penurunan ini, semangat di media sosial juga sangat minim. Biasanya, ruang kripto ramai dengan semangat optimistis dan meme “harga naik terus”.
Namun kali ini, penurunan Bitcoin lebih disambut dengan sikap tenang dan minim dukungan. Tidak banyak yang antusias membeli saat harga turun.
Kondisi ini terjadi meski ada beberapa keberhasilan regulasi pro-kripto dari pemerintahan Trump dan kenaikan investasi institusional.
Namun, optimisme itu tampaknya sudah terhitung di awal, sehingga rally harga Bitcoin hanya sebentar lalu berhenti.
ETF dan Investor Besar Mulai Menahan Diri
Dana ETF Bitcoin di pasar spot terus mengalami arus keluar, menandakan melemahnya keyakinan investor besar, yang banyak kini mengalami kerugian setelah membeli di harga tinggi.
Investor institusional seperti dana aset digital juga mengurangi pembelian setelah harga saham mereka anjlok tahun lalu. Hal ini membuat permintaan di pasar atas ikut melemah.
Data dari Kaiko menunjukkan kedalaman pasar Bitcoin, yaitu jumlah modal yang tersedia untuk menyerap transaksi besar, masih 30 persen di bawah puncak Oktober lalu. Kondisi ini mirip dengan yang terjadi pasca-kejatuhan FTX pada 2022.
Perbandingan dengan Penurunan Sebelumnya
Melihat sejarah, pemulihan Bitcoin pasca-puncak 2021 butuh waktu sampai 28 bulan. Setelah ledakan ICO 2017, butuh hampir tiga tahun. Artinya, penurunan saat ini mungkin masih di tahap awal siklus.
“Dari puncak 2017 sampai musim dingin 2018-2019, volume perdagangan di bursa spot turun 60-70 persen. Sedangkan penurunan 2021-2023 lebih ringan, sekitar 30-40 persen,” ujar analis Kaiko, Laurens Fraussen.
Ia menilai pasar kripto saat ini baru melewati 25 persen dari siklus penurunan. “Biasanya titik terburuk datang saat penurunan mencapai 50 persen,” katanya.
Pemulihan yang berarti kemungkinan baru datang dalam 6-9 bulan ke depan, dengan volume pasar tetap rendah selama masa koreksi dan re-akumulasi.
Tantangan dari Persaingan Modal
Richard Hodges, pendiri Ferro BTC Volatility Fund, mengingatkan para pemilik Bitcoin besar agar bersabar.
“Saya katakan kepada para ‘paus’ Bitcoin, mereka tidak akan melihat harga tertinggi baru dalam 1.000 hari ke depan,” ujarnya.
Menurut Hodges, saat ini modal banyak mengalir ke saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan logam mulia yang sedang naik daun.
“Bitcoin sudah jadi berita lama, bukan sekarang. Saham AI sedang melonjak, emas mulai naik, dan perak melejit,” tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bitcoin Tertekan, Investor Lama Terus Lepas Kepemilikan
Harga Bitcoin terus melemah setelah investor jangka panjang melakukan aksi jual. Tekanan meningkat seiring menyusutnya permintaan di pasar kripto [586] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #pasar-kripto
(Kompas.com - Money) 18/12/25 08:15
v/76815/
KOMPAS.com - Tekanan di pasar kripto terus berlanjut seiring investor lama Bitcoin masih melakukan aksi jual. Kondisi ini mulai berdampak nyata pada pergerakan harga aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (18/12/2025), lebih dari dua bulan setelah mencetak rekor di atas 126.000 dollar AS, harga Bitcoin telah turun hampir 30 persen dan kesulitan menemukan level penopang. Salah satu penyebabnya adalah aksi jual berkelanjutan dari pemegang jangka panjang.
Data blockchain terbaru menunjukkan koin yang disimpan selama bertahun-tahun dilepas dengan laju tercepat dalam beberapa waktu terakhir. Pada saat yang sama, kemampuan pasar untuk menyerap pasokan tersebut semakin melemah.
Laporan K33 Research mencatat, jumlah Bitcoin yang tidak berpindah selama setidaknya dua tahun turun sebanyak 1,6 juta koin sejak awal 2023, atau setara sekitar 140 miliar dollar AS. Data tersebut mengindikasikan penjualan berkelanjutan oleh investor jangka panjang.
Sepanjang 2025, hampir 300 miliar dollar AS Bitcoin yang sebelumnya tidak aktif selama lebih dari satu tahun kembali beredar.
CryptoQuant melaporkan, 30 hari terakhir mencatat salah satu distribusi terbesar dari pemegang jangka panjang dalam lebih dari lima tahun.
“Pasar mengalami penurunan perlahan yang ditandai dengan penjualan spot secara stabil di tengah likuiditas beli yang tipis, sehingga menciptakan penurunan bertahap yang lebih sulit dibalikkan dibandingkan peristiwa likuidasi berbasis leverage,” ujar Direktur Riset Ergonia, Chris Newhouse.
Selama sebagian besar tahun lalu, tekanan jual masih mampu diserap oleh permintaan dari exchange-traded fund (ETF) kripto dan perusahaan investasi kripto. Namun, permintaan tersebut kini melemah.
Arus dana ETF berbalik negatif, volume perdagangan derivatif menurun, dan partisipasi ritel menyusut. Pasokan yang sama kini masuk ke pasar dengan jumlah pembeli yang lebih terbatas.
Tekanan terbesar terjadi sejak 10 Oktober, ketika likuidasi senilai 19 miliar dollar AS tercatat setelah pernyataan tak terduga Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait tarif hukuman. Peristiwa tersebut menjadi likuidasi leverage harian terbesar dalam sejarah kripto.
Sejak itu, pelaku pasar menarik diri dari perdagangan derivatif tanpa tanda pemulihan yang jelas.
Bitcoin sempat naik singkat ke level 90.000 dollar AS pada Rabu, yang dikaitkan dengan likuidasi posisi jual. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Harga Bitcoin kembali melemah hingga turun 2,8 persen ke level 85.278 dollar AS, mendekati batas bawah kisaran perdagangan pascakrisis Oktober.
Analis Senior K33 Research, Vetle Lunde, menilai reaktivasi pasokan Bitcoin kali ini berbeda dibandingkan siklus sebelumnya.
“Tidak seperti siklus sebelumnya, reaktivasi ini tidak didorong oleh perdagangan altcoin atau insentif protokol, melainkan oleh likuiditas dari ETF AS dan permintaan treasury, yang memungkinkan investor awal merealisasikan keuntungan pada harga enam digit dan mengurangi konsentrasi kepemilikan,” ujar Lunde.
Ia menambahkan, jumlah reaktivasi pasokan tahun ini dan tahun lalu merupakan yang terbesar kedua dan ketiga dalam sejarah Bitcoin, setelah 2017.
Sementara itu, data Coinglass menunjukkan open interest untuk opsi dan perpetual futures Bitcoin masih berada jauh di bawah level sebelum kejatuhan Oktober.
Kondisi ini mencerminkan sebagian besar trader masih memilih menepi, meski pasar derivatif menyumbang porsi utama volume perdagangan kripto.
Strategi basis trade yang memanfaatkan selisih harga spot dan futures juga menjadi tidak menguntungkan bagi hedge fund.
Meski demikian, Lunde menilai tekanan jual dari investor lama mendekati titik jenuh.
“Ke depan, tekanan jual dari pemegang jangka panjang terlihat mendekati titik jenuh, dengan sekitar 20 persen pasokan BTC telah direaktivasi selama dua tahun terakhir,” tulis Lunde.
“Ekspektasinya, aksi jual investor awal akan mereda pada 2026, sehingga pasokan dua tahun kembali meningkat seiring Bitcoin beralih menuju permintaan beli bersih di tengah integrasi institusional yang lebih dalam,” pungkas dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Harga Bitcoin Turun Lagi ke Level Terendah, Apa Sebabnya?
Harga bitcoin (BTC) merosot ke level terendah, yakni 85.422 dollar AS pada Jumat (21/11/2025). [1,786] url asal
#bitcoin #btc #indepth #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #pergerakan-harga-bitcoin
(Kompas.com - Money) 21/11/25 16:25
v/45847/
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga bitcoin (BTC) merosot ke level terendah, yakni 85.422 dollar AS pada Jumat (21/11/2025).
Harga bitcoin terus bertahan tepat di atas level 85.000 dollar AS, diredam oleh harapan penurunan suku bunga AS berikutnya pada Desember 2025 mendatang.
Dikutip dari Trading View, Jumat (21/11/2025), fluktuasi harga bitcoin kali ini signifikan, hampir 8 persen, dalam 24 jam terakhir, dan merupakan yang terendah sejak April 2025 ketika harganya turun tepat di bawah 75.000 dollar AS.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin.Penyebab harga bitcoin turun lagi
Menurut Edul Patel, CEO Mudrex, pasar kripto sedang berkonsolidasi seiring meningkatnya ketidakpastian makroekonomi di AS.
Data ketenagakerjaan bulan September 2025 menunjukkan tingkat pengangguran yang lebih tinggi dari perkiraan, yaitu 4,4 persen, yang memengaruhi keputusan pemangkasan suku bunga.
Di saat yang sama, ketiadaan data bulan Oktober 2025 karena shutdown pemerintah AS telah menciptakan kesenjangan informasi, yang mendorong para pedagang untuk bersikap hati-hati.
Selain itu, imbuh Patel, aksi jual besar-besaran bitcoin senilai 11.000 BTC juga memengaruhi sentimen, yang semakin berkontribusi pada momentum penurunan.
"Pembeli kini perlu mempertahankan level support 84.500 dollar AS untuk mencegah pergerakan lebih dalam menuju 80.000 dollar AS sementara 91.000 dollar AS tetap menjadi resistance utama,” ujar Patel.
Mata uang kripto utama lainnya mengikuti pola pergerakan harga bitcoin. Harga ethereum turun 7,44 persen, sementara harga XRP 6,67 persen, Binance Coin 5,13 persen, dan harga solana turun sekitar 7,15 persen dalam 24 jam terakhir.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi bitcoin.Harga bitcoin sempat naik, lalu merosot lagi
Harga bitcoin merosot ke level 85.000 dollar AS setelah sempat naik ke 92.000 dollar AS menyusul hasil pendapatan raksasa chip Nvidia.
Investor disarankan untuk berhati-hati dan menghindari keputusan agresif yang didorong oleh emosi.
Pendekatan terukur, yang berfokus pada manajemen risiko dan strategi jangka panjang, tetap penting seiring pasar bereaksi terhadap sinyal ekonomi yang sedang berlangsung.
"Level psikologis utama yang perlu diperhatikan adalah 80.000 dollar AS. Secara historis, zona support yang kuat cenderung menarik minat beli," kata Ashish Singhal, Co-founder CoinSwitch.
Menurut CoinSwitch, kisaran harga bitcoin antara 89.000 hingga 92.000 dollar AS tetap menjadi area likuiditas terdekat dan zona potensial untuk pemulihan jangka pendek.
"Sementara penurunan lebih lanjut mungkin bergantung pada apakah 85.000 dollar AS akan bertahan," tutur Singhal.
Pergerakan harga bitcoin sepanjang November 2025
Harga bitcoin sepanjang November 2025 bergerak turun tajam setelah sempat bertahan di atas level psikologis 100.000 dollar AS di awal bulan.
Dikutip dari Investing.com, pada 1 November 2025, bitcoin masih ditutup di sekitar 110.103 dollar AS per koin, namun pada perdagangan Jumat (21/11/2025) sore waktu Asia nilainya merosot ke kisaran 84.000 sampai 85.000 dollar AS.
Dengan kurs mendekati Rp16.700 per dollar AS, level tersebut setara sekitar Rp1,4 miliar per BTC.
Artinya, dalam waktu tiga pekan, kapitalisasi pasar bitcoin merosot lebih dari 20 persen dan praktis menghapus seluruh kenaikan harga yang terbentuk sejak awal tahun.
PIXABAY/MICHAELWUENSCH Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin kembali mencetak rekor tertinggi baru pada awal Oktober 2025. Lonjakan ini dipicu penguatan ETF BlackRock dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.Dari puncak Oktober 2025 ke terendah enam dan tujuh bulan
Koreksi tajam harga bitcoin di November 2025 datang hanya sebulan setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru di atas 126.000 dollar AS pada awal Oktober 2025.
Reuters mewartakan, dibanding puncak tersebut, harga bitcoin kini sudah turun sekitar 27 sampai 30 persen, menempatkan aset kripto terbesar itu secara teknikal di zona bear market.
Tekanan jual mulai menguat pada pekan kedua November 2034. Pada 14 dan 15 November 2025, harga bitcoin untuk pertama kalinya dalam lebih dari enam bulan tembus ke bawah 96.000 dollar AS.
Menurut Reuters, pasar kripto tertekan sentimen risk-off ketika investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Penurunan belum berhenti di situ. Pada 18 November 2025, harga bitcoin jatuh di bawah 90.000 dollar AS, level terendah dalam tujuh bulan, sebelum sedikit rebound ke kisaran 93.000 dollar AS pada penutupan.
Di titik ini seluruh kenaikan harga bitcoin sepanjang 2025 sudah terhapus, dengan total nilai pasar kripto kehilangan sekitar 1,2 triliun dollar AS dalam enam pekan terakhir.
Memasuki 21 November 2025, tekanan jual kembali menguat. Laporan Investing.com menyebut harga bitcoin sempat tergelincir ke bawah 86.000 dollar AS, dan terakhir diperdagangkan di sekitar 85.700 dollar AS.
Ini menandai penurunan sekitar 6 hingga 7 persen hanya dalam satu hari dan penurunan mingguan lebih dari 8 persen.
Suku bunga The Fed dan data tenaga kerja AS tekan harga bitcoin
Salah satu pemicu utama koreksi harga bitcoin di November 2025 adalah berubahnya ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
SHUTTERSTOCK/MDART10 Ilustrasi gedung bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve.Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir memberi sinyal kehati-hatian terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan karena inflasi dinilai masih “terlalu panas”.
Laporan Reuters menyebut, peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025 yang sebelumnya mendekati 90 persen kini menyusut ke sekitar 40 persen.
Kondisi ini membuat investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk kripto.
Data tenaga kerja AS yang dirilis terlambat akibat penutupan pemerintahan (shutdown) selama 43 hari juga menambah ketidakpastian.
Laporan pekerjaan September 2025 menunjukkan pertumbuhan upah yang moderat dan kenaikan tingkat pengangguran ke 4,4 persen, sehingga gambaran pasar tenaga kerja menjadi tidak jelas dan memicu spekulasi baru mengenai arah kebijakan The Fed.
Dalam laporan pasar yang dikutip Investing.com, analis mencatat bahwa “data pekerjaan yang campuran mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga bulan depan dan memicu gelombang penjualan” di Bitcoin.
Ketika imbal hasil instrumen berisiko rendah seperti obligasi pemerintah AS tetap menarik, sebagian pelaku pasar memilih menyeimbangkan portofolio dari aset berisiko tinggi seperti kripto.
Kekhawatiran gelembung AI dan tekanan dari pasar saham teknologi
Selain faktor suku bunga, kekhawatiran mengenai potensi gelembung di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga membayangi pergerakan Bitcoin.
Mengutip The Guardian, lebih dari 1 triliun dollar AS nilai pasar kripto terhapus dalam enam pekan, seiring melemahnya saham-saham teknologi global dan meningkatnya kekhawatiran bahwa reli berbasis AI selama ini terlalu berlebihan.
Sejumlah tokoh di sektor teknologi dan perbankan investasi, seperti CEO Alphabet Sundar Pichai dan eksekutif JPMorgan, mengingatkan risiko penilaian yang “tidak berkelanjutan” di saham-saham AI.
UNSPLASH/KANCHANARA Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.Kekhawatiran itu merembet ke aset kripto yang selama dua tahun terakhir kerap bergerak searah dengan indeks saham teknologi utama seperti Nasdaq.
Juan Perez, Direktur Perdagangan Monex USA, yang dikutip Reuters, menilai korelasi tersebut membuat bitcoin belum sepenuhnya berfungsi sebagai aset lindung nilai ketika sentimen risiko memburuk.
"Jika tidak ada antusiasme terhadap pengambilan risiko, keraguan itu juga terlihat pada Bitcoin dan aset kripto lain,” ujarnya.
Likuidasi leverage, outflow ETF, dan deleveraging global
Tekanan jual bitcoin di November 2025 juga diperparah oleh faktor teknikal di pasar derivatif dan produk investasi kripto.
Sejumlah laporan riset mencatat likuidasi besar-besaran posisi long Bitcoin yang menggunakan leverage, menyusul jebolnya level-level support teknikal seperti 100.000 dan 96.000 dollar AS.
Business Insider menulis bahwa outflow dari ETF Bitcoin yang diperdagangkan di pasar AS menembus 1,8 miliar dollar AS sejak pertengahan November 2025, memaksa pengelola ETF melakukan penjualan bitcoin fisik dan menambah tekanan di pasar spot.
Di pasar derivatif, data dari CoinDesk menunjukkan opsi jual (put) mulai mendominasi dibanding opsi beli (call), mencerminkan meningkatnya perlindungan terhadap risiko penurunan harga lebih lanjut.
Harga bitcoin turun di bawah 85.500 dollar AS, menandai penurunan sekitar 20 persen dalam sebulan terakhir,” sekaligus menyoroti pergeseran posisi trader menuju skenario bearish.
CEO Binance Richard Teng menggambarkan koreksi tersebut sebagai bagian dari proses deleveraging global.
Ia menilai penurunan tajam dalam sebulan terakhir dipicu oleh investor yang mengurangi posisi leverage dan bergeser ke mode risk-off, pola yang juga terlihat di banyak kelas aset lain.
Teng menambahkan, volatilitas seperti ini merupakan bagian dari “siklus alami” pasar kripto.
UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.Suara analis global: kekhawatiran jangka pendek, peluang jangka panjang
Jean-David Pequignot, Chief Commercial Officer Deribit, platform derivatif kripto yang dikutip Reuters, menilai bahwa tekanan jual saat ini masih bisa berlanjut.
“Secara keseluruhan, kekhawatiran penurunan harga masih masuk akal dalam jangka pendek dan jalur paling mudah saat ini memang masih ke bawah,” tulisnya dalam catatan kepada klien.
Namun ia mengingatkan, setup ekstrem seperti ini di masa lalu sering kali justru menguntungkan investor yang berani.”
Sementara itu, Joshua Chu, Co-Chair Hong Kong Web3 Association, mengingatkan risiko efek rambatan dari aksi jual institusional.
Menurut dia, aksi keluar institusi dan perusahaan publik setelah masuk besar-besaran saat reli “menggandakan risiko kontagion di seluruh pasar”, dan ketika likuiditas menipis serta ketidakpastian makro meningkat, “kepercayaan bisa terkikis dengan sangat cepat”.
Meskipun demikian, sejumlah analis menilai bahwa posisi harga saat ini belum mengubah tren besar adopsi kripto.
Laporan Reuters mengenai keterkaitan pasar kripto dengan sistem keuangan global mencatat bahwa, kendati volatil, nilai pasar kripto yang mencapai sekitar 3,2 triliun dollar AS masih relatif kecil dibanding keseluruhan pasar keuangan, dan eksposur langsung perbankan terhadap kripto masih terbatas.
Respons pelaku pasar di Indonesia
Di Indonesia, pelaku pasar melihat penurunan harga bitcoin di November 2025 sebagai bagian dari dinamika pasar di tengah ketidakpastian global.
DOK. INDODAX Vice President Indodax Antony Kusuma.Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai koreksi harga di bawah 100.000 dollar AS tidak terlepas dari sejumlah faktor makro yang bersifat eksternal” dan mencerminkan dinamika pasar aset digital di era ketidakpastian.
Antony menyebut fluktuasi harga seperti sekarang perlu dilihat sebagai fase konsolidasi menuju pematangan pasar, dengan kebijakan suku bunga The Fed sebagai salah satu penentu utama arah pergerakan harga bitcoin ke depan.
Menurut dia, selama arah kebijakan moneter belum jelas, volatilitas pasar kripto akan cenderung tetap tinggi karena investor memilih menunggu kepastian.
Di sisi lain, ia menilai fundamental jangka panjang aset digital belum berubah. Antony mengatakan, pergerakan harga saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global jangka pendek, sementara fundamental aset digital dinilai tetap kuat.
Ia mengingatkan pentingnya keputusan yang “tenang dan terukur” di tengah gejolak harga.
Apa yang perlu dicermati ke depan?
Sejumlah faktor masih akan menentukan arah harga bitcoin menjelang akhir 2025, antara lain sebagai berikut.
1. Keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember 2025
Bila bank sentral mengindikasikan penundaan pemangkasan lanjutan, tekanan pada aset berisiko bisa berlanjut.
2. Perkembangan di sektor AI dan saham teknologi
Ini mengingat tingginya korelasi bitcoin dengan indeks saham teknologi global.
3. Arus dana ETF Bitcoin di AS dan Eropa
Outflow lanjutan dapat memicu penjualan lanjutan di pasar spot, sementara kembalinya inflow bisa menjadi sinyal stabilisasi.
4. Likuiditas dan posisi leverage di pasar derivatif kripto
Ini sering menjadi pemicu pergerakan harga mendadak ketika level teknikal penting ditembus.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Harga Bitcoin (BTC) Ambrol, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Prospeknya?
Harga bitcoin (BTC) merosot di bawah 90.000 dollar AS untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada Selasa (18/11/2025). [1,042] url asal
#bitcoin #aset-kripto #indepth #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #kenapa-harga-bitcoin-turun
(Kompas.com - Money) 18/11/25 18:48
v/42466/
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga bitcoin (BTC) merosot di bawah 90.000 dollar AS untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada Selasa (18/11/2025).
Anjloknya harga bitcoin kali ini menandai penurunan terbaru minat investor terhadap pengambilan risiko di pasar keuangan.
Dikutip dari Reuters, bitcoin menghapus keuntungan yang diraup sejak awal tahun 2025. Harga bitcoin kini turun hampir 30 persen dari puncaknya di atas 126.000 dollar AS pada Oktober 2025.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin.Harga bitcoin diperdagangkan turun 2 persen ke level 89.953 dollar AS pada sesi sore di pasar Asia, setelah menembus support di sekitar 98.000 dollar AS pada minggu lalu.
Kenapa harga bitcoin turun drastis?
Para pelaku pasar mengatakan bahwa kombinasi keraguan seputar pemangkasan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang dan sentimen di pasar yang lebih luas, yang telah goyah setelah reli yang panjang, telah menyeret harga kripto.
"Aksi jual berjenjang ini diperkuat oleh perusahaan-perusahaan dan institusi yang tercatat yang keluar dari posisi mereka setelah masuk selama reli, memperparah risiko penularan di seluruh pasar," kata Joshua Chu, salah satu ketua Asosiasi Web3 Hong Kong.
"Ketika dukungan menipis dan ketidakpastian makro meningkat, kepercayaan dapat terkikis dengan kecepatan yang luar biasa," ujar Chu.
Bursa saham di kawasan Asia juga melemah pada penutupan perdagangan hari ini. Secara rinci, tekanan khusus terjadi pada saham teknologi di Jepang dan Korea Selatan.
Mengekor bitcoin, mata uang kripto ethereum (ETH) juga telah berada di bawah tekanan selama berbulan-bulan dan telah kehilangan hampir 40 persen nilainya dari puncaknya di atas 4.955 dollar AS pada Agustus 2025.
PEXELS/RDNE STOCK PROJECT Ilustrasi aset kripto. Aturan pajak kripto baru resmi berlaku mulai 1 Agustus 2025.Hari ini, ethereum diperdagangkan 1 persen lebih rendah di harga 2.997 dollar AS.
Penurunan harga bitcoin di awal tahun menandakan aksi jual yang lebih luas yang melanda pasar ekuitas pada April 2025, setelah pengumuman tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penurunan nilai kripto bisa menjadi indikator utama atau dampak lanjutan.
"Secara keseluruhan, sentimen dalam kripto cukup rendah dan telah demikian sejak penghapusan leverage pada bulan Oktober," kata Matthew Dibb, kepala investasi di Astronaut Capital.
"Tingkat support berikutnya adalah 75.000 dollar AS, yang dapat tercapai jika volatilitas pasar tetap tinggi," terang Dibb.
Ketidakpastian bikin investor ketakutan
Dikutip dari Decrypt, direktur fraksional CEX.IO Yaroslav Patsira menyebut, penyebab harga bitcoin sebagian besar disebabkan oleh ketidakpastian.
Menurut dia, pasar sedang berada dalam ketidakpastian karena beberapa laporan ekonomi penting AS belum dirilis, meskipun pemerintah AS telah memutuskan untuk membuka kembali aktivitas ekonomi setelah shutdown lebih dari 40 hari.
"Tidak ada lagi gambaran yang jelas tentang apa yang mungkin dilakukan The Fed pada bulan Desember, dan ekspektasi penurunan suku bunga telah menurun tajam," terang Patsira.
Koreksi harga bitcoin ini telah mendorong sentimen dalam Fear and Greed Index alias Indeks Ketakutan dan Keserakahan Kripto ke level "Ketakutan Ekstrem".
Ini menunjukkan bahwa investor panik di tengah tren penurunan berkelanjutan yang telah menjatuhkan harga bitcoin dari rekor tertingginya.
PIXABAY/MICHAELWUENSCH Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin kembali mencetak rekor tertinggi baru pada awal Oktober 2025. Lonjakan ini dipicu penguatan ETF BlackRock dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed."Ketakutan ekstrem adalah sinyal perilaku," ujar Rachel Lin, CEO dan Co-Founder Synfutures, kepada Decrypt.
"Investor sedang menghindari risiko saat ini, dan hal itu biasanya bertepatan dengan likuiditas yang terkompresi dan volatilitas jangka pendek yang lebih tinggi," tutur Lin.
Indikator sentimen menunjukkan apa yang kita lihat di rantai, tambah Lin, menyoroti permintaan ETF yang lebih lemah, peningkatan penjualan yang terealisasi, dan likuidasi cepat posisi leverage.
Bagaimana nasib harga bitcoin selanjutnya?
Para ahli menunjukkan periode volatilitas dan konsolidasi yang meningkat.
Menurut mereka, pergerakan harga bitcoin dalam jangka pendek sangat bergantung pada data makroekonomi dan arus institusional.
“Berakhirnya penutupan seharusnya meredakan sebagian tekanan likuiditas. Hal ini mendukung pasar, tetapi tampaknya tidak akan mengubah permainan,” papar Patsira.
Ia menyatakan, meskipun penjualan agresif mungkin melambat, “mungkin perlu waktu bagi bitcoin untuk berkonsolidasi sebelum perubahan tren terjadi.”
Tahun rollercoaster bitcoin
Hingga beberapa minggu lalu, tahun 2025 merupakan tahun yang relatif kuat bagi bitcoin. Bitcoin diperdagangkan pada level sekitar 69.000 dollar AS menjelang terpilihnya kembali Trump pada November 2024.
Kemudian, menurut warta CNN, harga bitcoin melonjak sekitar 83 persen, di tengah fluktuasi volatilitas, ke rekor tertingginya di atas 126.000 dollar AS pada awal Oktober 2025.
Bitcoin melampaui 100.000 dollar AS untuk pertama kalinya pada awal Desember 2024 karena investor optimistis terhadap pemerintahan Trump yang akan menerapkan regulasi yang ramah terhadap kripto.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.Trump telah merangkul industri mata uang kripto, dan pemerintahannya telah melonggarkan pengawasan dan mengadvokasi undang-undang yang pro-kripto.
Undang-Undang GENIUS disahkan oleh Kongres dan ditandatangani menjadi undang-undang oleh Trump pada Juli 2025 silam, menandai dimulainya era baru regulasi untuk stablecoin.
Trump juga menunjuk Paul Atkins, seorang regulator pro-kripto, untuk memimpin Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC).
Pun mata uang kripto terus memasuki arus utama, dengan produk-produk baru yang diperdagangkan di bursa yang memberikan akses lebih mudah bagi investor untuk membeli dan menjual kripto.
Bitcoin diperdagangkan di kisaran 94.000 dollar AS memasuki tahun ini. Kini, keuntungannya selama 11 bulan terakhir menguap.
Sebagai perbandingan, indeks acuan S&P 500 naik 13,4 persen tahun ini. Sementara itu, harga emas naik 53 persen.
Beberapa analis mengatakan pasar kripto berada di titik kritis, di mana katalis positif tahun ini telah diperhitungkan, dan dengan meningkatnya ketidakpastian tentang prospek harga aset kripto.
"Bagaimana pasar berperilaku selama beberapa hari ke depan akan memberi sinyal apakah ini akan menjadi pemulihan yang lebih dalam atau hanya penurunan tajam sementara dalam siklus yang seharusnya utuh," ujar Haider Rafique, global managing partner di OKX.
Beberapa investor kripto masih optimis. Harga bitcoin pada April 2025 lalu sempat jatuh hingga mencapai level sekitar 74.500 dollar AS sebelum melonjak menjadi di atas 126.000 dollar AS pada awal Oktober 2025.
"Saat ini, beberapa investor melihat pergerakan harga yang tidak menentu dan merasa khawatir," tutur Ryan Rasmussen, kepala riset di Bitwise Asset Management.
"Namun menurut kami, ini adalah kesempatan yang tepat bagi investor untuk membangun posisi bitcoin yang ada, dan bagi mereka yang sebelumnya terpinggirkan untuk memasuki pasar," lanjut dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Waspadai, Harga Bitcoin (BTC) Diprediksi Bisa Terus Turun
Pasar kripto anjlok dalam beberapa hari terakhir, termasuk pada hari ini, Selasa (4/11/2025), di mana harga bitcoin (BTC) lagi-lagi merosot. [1,194] url asal
#btc #indepth #bitcoin #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun #penyebab-harga-bitcoin-turun
(Kompas.com - Money) 04/11/25 19:21
v/27459/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar kripto anjlok dalam beberapa hari terakhir, termasuk pada hari ini, Selasa (4/11/2025), di mana harga bitcoin (BTC) lagi-lagi merosot.
Dikutip dari Trading View, harga bitcoin kesulitan mempertahankan level support kunci meskipun bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga pada pekan lalu.
Harga BTC telah turun ke sekitar 107.000 dollar AS, memicu kekhawatiran luas di kalangan trader dan investor.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi bitcoin.Hari ini, harga bitcoin kembali mengalami tekanan, turun 8,21 persen dalam sepekan terakhir ke level 104.000 dollar AS, setelah menembus level support 108.000 dollar AS.
Para analis kini memperingatkan bahwa penurunan harga bitcoin akan semakin parah. Harga bitcoin kemungkinan jatuh hingga 88.000 dollar AS jika sentimen pasar tidak segera membaik.
Mengapa harga bitcoin turun?
Berikut beberapa penyebab harga bitcoin turun dalam beberapa hari terakhir.
1. Sikap hati-hati The Fed
Pemicu utama di balik aksi jual bitcoin baru-baru ini adalah sikap hati-hati The Fed setelah keputusan suku bunga acuan.
Meskipun The Fed menurunkan suku bunga pada minggu lalu dan mengisyaratkan akan mengakhiri pengetatan kuantitatif alias quantitative easing (QT) pada Desember 2025, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga lagi pada Desember 2025 tidak dijamin.
Pernyataan ini mengecewakan pasar dan langsung mengubah sentimen.
Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga The Fed untuk kedua kalinya pada Desember 2025 turun dari 90 persen menjadi 63 persen.
SHUTTERSTOCK/MDART10 Ilustrasi gedung bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve.Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga berikutnya pada Januari 2026 turun menjadi 19,5 persen.
Perubahan mendadak ini menyebabkan aksi jual besar-besaran di seluruh aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Selain itu, Indeks Ketakutan dan Keserakahan Kripto (Crypto Fear and Greed Index) masih berada di zona ketakutan, saat ini di angka 35. Ini menunjukkan ketidakpastian yang terus berlanjut.
Investor institusional juga tampaknya kehilangan kepercayaan, dengan hampir 800 juta dollar AS ditarik dari ETF Bitcoin dan Ethereum pada pekan lalu.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan aksi jual bitcoin secara besar-besaran adalah sebagai berikut.
2. Penjualan oleh pemegang jangka panjang
Data dari Coinglass menunjukkan bahwa pemegang bitcoin jangka panjang menjual lebih dari 100.000 BTC pada Oktober 2025, menambah tekanan ke bawah pada pasar.
3. Kinerja Oktober yang lemah
Secara historis dikenal sebagai "Uptober", Oktober ini mengakhiri tren bullish tujuh tahun. Harga bitcoin jatuh 3,7 persen dalam sebulan.
4. Ketegangan ekonomi global
Sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China, ditambah dengan ketidakpastian seputar harga minyak dan risiko geopolitik, telah mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dollar AS dan emas.
Prediksi harga bitcoin: bisa anjlok ke 88.000 dollar AS
FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.Menurut Coinglass, harga bitcoin bisa jatuh ke 88.000 dollar AS jika gagal bertahan di atas level resistensi 113.000 dollar AS, yang merupakan basis biaya bagi pemegang jangka pendek.
Ketika harga BTC diperdagangkan di bawah level ini, seringkali menyebabkan kapitulasi, di mana investor jangka pendek menjual dengan kerugian, yang memicu tekanan ke bawah yang lebih besar.
Zona 88.000 dollar AS mewakili harga realisasi bitcoin, basis biaya rata-rata investor aktif.
Secara historis, level ini telah bertindak sebagai dasar selama koreksi sebelumnya, menunjukkan bahwa level ini dapat berfungsi sebagai support yang kuat jika tren saat ini berlanjut.
Namun, para analis juga mencatat bahwa harga penutupan yang berkelanjutan di atas 113.000 dollar AS dapat membatalkan prospek bearish dan membuka pintu bagi reli pemulihan harga BTC.
Prediksi harga bitcoin November 2025
Dengan sedikit katalis makro di November 2025 dan ketidakpastian atas data ekonomi AS karena kemungkinan penutupan alias shutdown pemerintah AS, bitcoin dapat terus diperdagangkan secara sideways antara 107.500 hingga 123.000 dollar AS.
Namun, beberapa analis tetap optimistis tentang potensi "Santa Rally" di bulan Desember.
Berakhirnya QT dan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed lagi dapat meningkatkan likuiditas dan mengembalikan momentum bullish di minggu-minggu terakhir tahun 2025.
Untuk saat ini, para trader dan investor disarankan untuk mencermati level resistance 113.000 dollar AS dan support 100.000 dollar AS.
Breakdown yang jelas dari kisaran ini kemungkinan akan menentukan pergerakan besar harga bitcoin selanjutnya.
Dok. Shutterstock/Mega Bintang Ilustrasi BitcoinBitcoin masih layak dibeli?
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai pelemahan di pasar kripto saat ini disebabkan oleh semakin ketatnya likuiditas global di tengah meningkatnya sentimen risk-off.
Hal ini terjadi setelah paparan The Fed yang menegaskan belum adanya kepastian pemangkasan suku bunga pada Desember 2025 mendatang.
Menurutnya, dengan kombinasi likuiditas yang ketat dan gejolak makroekonomi global, bitcoin sebagai aset berisiko tinggi mengalami tekanan yang cukup serius, terlebih di tengah situasi shutdown pemerintah AS.
“Dengan kombinasi likuiditas ketat dan gejolak makro, terlebih di tengah kondisi shutdown pemerintah AS, bitcoin sebagai aset risk-on mengalami tekanan yang cukup serius,” ujar Fahmi.
Meski demikian, data dari Glassnode menunjukkan indikator puncak bull market masih memberikan sinyal kuat untuk tetap mempertahankan posisi (hold).
Dari 30 metrik utama yang digunakan, belum satu pun mengonfirmasi berakhirnya siklus bullish Bitcoin. Artinya, bitcoin belum mencapai level harga puncaknya dalam siklus kali ini.
Namun, terdapat tujuh metrik yang menunjukkan tingkat ketercapaian di atas 70 persen, mendekati kondisi yang biasanya menjadi tanda akhir dari fase bullish.
"Menurut indikator tersebut, bitcoin saat ini belum mencapai level harga puncaknya pada siklus kali ini. Akan tetapi, terdapat 7 metrik dalam kompilasi 30 indikator tersebut yang saat ini telah memiliki progres ketercapaian lebih dari 70 persen, di mana ketercapaian 100 persen mengindikasikan kondisi yang biasanya menjadi puncak dari fase bullish bitcoin dalam suatu siklus,” papar Fahmi.
Fahmi menjelaskan bahwa bitcoin kini berada dalam zona distribusi awal dalam siklus jangka menengah, di mana sebagian investor yang telah menikmati keuntungan mulai merealisasikan profit di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi ini belum menandakan bahwa fase bullish telah berakhir, tetapi investor konservatif cenderung memilih untuk menunggu kejelasan arah kebijakan makro sebelum kembali masuk ke pasar.
UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.Akan tetapi, di tengah tekanan harga, jumlah bitcoin yang tersimpan di bursa perdagangan justru menurun. Artinya, semakin banyak investor menarik aset mereka dari exchange untuk disimpan dalam jangka panjang.
Fenomena ini mengindikasikan meningkatnya minat terhadap penyimpanan jangka panjang dan potensi kelangkaan bitcoin, yang dapat menjadi faktor positif bagi nilai aset tersebut di masa mendatang.
“Meskipun kondisi ini belum mengindikasikan telah tercapainya level harga puncak siklus, dan potensi kenaikan lanjutan masih sangat terbuka, investor konservatif mungkin akan lebih memilih untuk mengamankan posisi sambil menunggu kejelasan lebih dari faktor-faktor yang dapat mendukung pertumbuhan instrumen risk-on seperti bitcoin,” tutur Fahmi.
Terlepas dari penurunan harga yang terjadi, beberapa indikator menunjukkan bahwa BTC masih memiliki prospek menarik bagi investor jangka menengah dan panjang.
Fahmi menjelaskan, tren akumulasi yang terus berlanjut serta narasi bitcoin sebagai cadangan aset institusional menjadi penopang utama daya tariknya.
Bagi trader maupun investor baru, fase koreksi ini juga bisa menjadi peluang untuk memanfaatkan potensi rebound, meski risiko volatilitas masih tinggi.
Fahmi menambahkan bahwa struktur pasar saat ini masih akan sangat dipengaruhi oleh faktor likuiditas dan narasi makro global.
Dengan tren akumulasi yang terus berlanjut dan belum adanya tanda bahwa puncak harga telah tercapai, banyak analis menilai koreksi saat ini bisa menjadi fase jeda sebelum kenaikan berikutnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56