#30 tag 24jam
Sektor Transportasi hingga AI Jadi Fokus Investasi INA
Indonesia Investment Authority (INA) terus memperkuat investasi pada sektor-sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang. [539] url asal
#indonesia-investment-authority-ina #logistik #kecerdasan-buatan #investasi #ekonomi-nasional
Jakarta: Indonesia Investment Authority (INA) terus memperkuat investasi pada sektor-sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Hingga memasuki tahun kelima operasionalnya, sovereign wealth fund Indonesia tersebut memfokuskan penyaluran modal ke lima sektor unggulan, yakni transportasi dan logistik, energi hijau, digital dan kecerdasan buatan (AI), kesehatan, serta advanced materials.Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, mengatakan strategi investasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan pembangunan nasional sekaligus menarik investasi jangka panjang dari mitra global.
"Di tengah kompleksitas ekonomi global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin. Ke depan kami akan terus memperkuat kemitraan investasi dan menghubungkan modal jangka panjang dengan berbagai peluang investasi strategis di Indonesia," ujar Oki.
Berdasarkan portofolio investasi INA, sektor transportasi dan logistik masih menjadi penerima alokasi investasi terbesar dengan porsi mencapai 44 persen. Bersama para mitra investasinya, INA telah mendukung pembangunan lebih dari 250 kilometer jalan tol, infrastruktur pelabuhan dan logistik, serta sekitar 200.000 meter persegi kawasan logistik modern.
Sementara itu, sektor digital dan AI menempati posisi kedua dengan kontribusi sekitar 29,5 persen dari total portofolio investasi. Investasi tersebut mencakup pengembangan infrastruktur digital, mulai dari menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga pusat data hyperscale yang menjadi fondasi pengembangan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.
INA juga telah berinvestasi pada salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara yang mengelola lebih dari 40.000 menara, didukung jaringan serat optik sepanjang lebih dari 57.000 kilometer.
Di sektor energi hijau, INA turut mendukung pengembangan salah satu portofolio pembangkit listrik panas bumi terbesar di Indonesia. Proyek tersebut menghasilkan sekitar 395 GWh listrik bersih setiap bulan dan berkontribusi mengurangi emisi karbon sekitar 300 ribu ton setara CO₂ per bulan.
Adapun pada sektor kesehatan, investasi INA diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan nasional melalui pengembangan jaringan rumah sakit, platform farmasi ritel, serta pembangunan fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia yang juga menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas pemrosesan hingga 600.000 liter plasma darah per tahun.
Sementara pada sektor advanced materials, INA mendukung pembangunan platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) yang menjadi salah satu terbesar di dunia di luar China. Kapasitas produksinya telah mencapai 30.000 ton per tahun pada 2025 dan ditargetkan meningkat secara bertahap menjadi 140.000 ton pada 2026 serta 260.000 ton pada 2027 untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Secara keseluruhan, hingga pertengahan 2026 INA bersama para mitra investasinya telah merealisasikan investasi sekitar Rp74,5 triliun atau setara USD4,7 miliar. Dari jumlah tersebut, investasi langsung INA mencapai Rp33,3 triliun, sedangkan kontribusi dalam menarik penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp41,2 triliun.
Seiring berkembangnya portofolio investasi, total aset kelolaan (Assets Under Management/AUM) INA juga meningkat menjadi Rp146,2 triliun atau sekitar USD9,1 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan saat lembaga tersebut pertama kali dibentuk.
Hingga saat ini, INA telah memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari 40 mitra strategis yang berasal dari 15 negara. Mitra tersebut terdiri atas sovereign wealth fund, dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, korporasi strategis, hingga perusahaan private equity yang berperan dalam memperkuat investasi jangka panjang di berbagai sektor prioritas Indonesia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)
Sektor Transportasi hingga AI Jadi Fokus Investasi INA, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang
Indonesia Investment Authority (INA) terus memperkuat investasi pada sektor-sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang. [539] url asal
#indonesia-investment-authority-ina #logistik #kecerdasan-buatan #investasi #ekonomi-nasional
Jakarta: Indonesia Investment Authority (INA) terus memperkuat investasi pada sektor-sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Hingga memasuki tahun kelima operasionalnya, sovereign wealth fund Indonesia tersebut memfokuskan penyaluran modal ke lima sektor unggulan, yakni transportasi dan logistik, energi hijau, digital dan kecerdasan buatan (AI), kesehatan, serta advanced materials.Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, mengatakan strategi investasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan pembangunan nasional sekaligus menarik investasi jangka panjang dari mitra global.
"Di tengah kompleksitas ekonomi global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin. Ke depan kami akan terus memperkuat kemitraan investasi dan menghubungkan modal jangka panjang dengan berbagai peluang investasi strategis di Indonesia," ujar Oki.
Berdasarkan portofolio investasi INA, sektor transportasi dan logistik masih menjadi penerima alokasi investasi terbesar dengan porsi mencapai 44 persen. Bersama para mitra investasinya, INA telah mendukung pembangunan lebih dari 250 kilometer jalan tol, infrastruktur pelabuhan dan logistik, serta sekitar 200.000 meter persegi kawasan logistik modern.
Sementara itu, sektor digital dan AI menempati posisi kedua dengan kontribusi sekitar 29,5 persen dari total portofolio investasi. Investasi tersebut mencakup pengembangan infrastruktur digital, mulai dari menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga pusat data hyperscale yang menjadi fondasi pengembangan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.
INA juga telah berinvestasi pada salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara yang mengelola lebih dari 40.000 menara, didukung jaringan serat optik sepanjang lebih dari 57.000 kilometer.
Di sektor energi hijau, INA turut mendukung pengembangan salah satu portofolio pembangkit listrik panas bumi terbesar di Indonesia. Proyek tersebut menghasilkan sekitar 395 GWh listrik bersih setiap bulan dan berkontribusi mengurangi emisi karbon sekitar 300 ribu ton setara CO₂ per bulan.
Adapun pada sektor kesehatan, investasi INA diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan nasional melalui pengembangan jaringan rumah sakit, platform farmasi ritel, serta pembangunan fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia yang juga menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas pemrosesan hingga 600.000 liter plasma darah per tahun.
Sementara pada sektor advanced materials, INA mendukung pembangunan platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) yang menjadi salah satu terbesar di dunia di luar China. Kapasitas produksinya telah mencapai 30.000 ton per tahun pada 2025 dan ditargetkan meningkat secara bertahap menjadi 140.000 ton pada 2026 serta 260.000 ton pada 2027 untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Secara keseluruhan, hingga pertengahan 2026 INA bersama para mitra investasinya telah merealisasikan investasi sekitar Rp74,5 triliun atau setara USD4,7 miliar. Dari jumlah tersebut, investasi langsung INA mencapai Rp33,3 triliun, sedangkan kontribusi dalam menarik penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp41,2 triliun.
Seiring berkembangnya portofolio investasi, total aset kelolaan (Assets Under Management/AUM) INA juga meningkat menjadi Rp146,2 triliun atau sekitar USD9,1 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan saat lembaga tersebut pertama kali dibentuk.
Hingga saat ini, INA telah memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari 40 mitra strategis yang berasal dari 15 negara. Mitra tersebut terdiri atas sovereign wealth fund, dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, korporasi strategis, hingga perusahaan private equity yang berperan dalam memperkuat investasi jangka panjang di berbagai sektor prioritas Indonesia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)
Sah! INA Angkat 3 Petinggi Baru, Oki Ramadhana hingga Laksono Widodo
Indonesia Investment Authority atau INA resmi mengangkat tiga petinggi baru. Ketiga orang itu masuk jajaran Dewan Direktur INA untuk periode 2026–2031. [394] url asal
Indonesia Investment Authority atau INA resmi mengangkat tiga petinggi baru. Ketiga orang itu masuk jajaran Dewan Direktur INA untuk periode 2026–2031.
Oki Ramadhana ditunjuk sebagai ketua Dewan Direktur sekaligus chiefexecutiveofficer (CEO), dan; Laksono Widito Widodo sebagai anggota Dewan Direktur dan chiefinvestmentofficer (CIO). Sementara Adhiputra Tanoyo sebagai anggota Dewan Direktur dan chiefriskofficer (CRO).
Tiga direktur baru itu ditunjuk oleh Dewan Pengawas INA di Kantor INA, Jakarta, pada 13 Mei lalu. Pengangkatan tersebut mengakhiri rangkap jabatan Eddy Porwanto sebagai pengganti sementara CEO dan pengganti sementara CRO INA. Kini, Eddy tetap menjalankan tugas sebagai chief financial officer (CFO) badan pengelola investasi nasional itu.
Ketua Dewan Pengawas INA, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, transisi kepemimpinan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan mandat jangka panjang INA sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia.
Menurutnya, penunjukan ketiga nama tersebut diharapkan dapat memperkuat profesionalisme dan kapasitas institusional INA. Ini sekaligus memastikan strategi investasi tetap dijalankan disiplin dan mengedepankan prinsip kehati-hatian demi mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Ridha Wirakusumah, Andry Setiawan, dan Thomas Oentoro atas dedikasi dan kontribusinya terhadap pertumbuhan dan perkembangan INA selama ini,” ucap Purbaya dalam keterangan resminya, Selasa (19/5).
Rekam Jejak Oki dkk
Oki Ramadhana memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di bidang investment banking dan pasar modal, baik di tingkat domestik maupun internasional. Sebelum bergabung dengan INA, ia menempati berbagai posisi kepemimpinan senior di sektor jasa keuangan.
Oki meraih gelar doktor di bidang Strategic Management dan gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, serta gelar MBA dari University of Colorado. Ia menggantikan Ridha Wirakusumah, CEO pertama INA yang telah menyelesaikan masa kepemimpinannya selama lima tahun pada awal 2026.
Sementara itu, Laksono Widito Widodo memiliki pengalaman di sektor pasar modal Indonesia, dengan perjalanan karier di bidang sekuritas, saham, hingga regulasi pasar modal. Sebelum bergabung dengan INA, ia juga menempati sejumlah posisi kepemimpinan senior, baik dalam fungsi eksekutif maupun regulator.
Laksono meraih gelar MBA dari University of Hawaii at Manoa dan gelar sarjana Akuntansi dari Universitas Indonesia. Ia akan menggantikan Andry Setiawan yang dalam waktu dekat meninggalkan jabatannya sebagai CIO INA.
Adapun Adhiputra Tanoyo memiliki rekam jejak di bidang manajemen risiko pada sektor perbankan dan jasa keuangan. Ia pernah menjabat dengan posisi konsultasi di bidang risk advisory.
Adhiputra meraih gelar Master of Science in Financial Economics dari Erasmus Universiteit Rotterdam. Ia menggantikan Thomas Oentoro yang telah meninggalkan posisinya sebagai CRO INA pada tahun lalu.
Manajemen INA Respons Kabar Ridha Wirakusumah Mundur dari Kursi CEO
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya buka suara menyusul kabar Ridha Wirakusumah yang disebut mundur dari jabatannya sebagai CEO. [373] url asal
#ina #indonesia-investment-authority-ina #lembaga-pengelola-investasi-lpi #update-me
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya buka suara menyusul kabar Ridha Wirakusumah yang disebut mundur dari jabatannya sebagai petinggi di lembaga pengelola investasi nasional itu.
"Ridha Wirakusumah akan menyelesaikan masa jabatannya sebagai CEO INA sesuai pengangkatan pada 2021," tulis manajemen INA kepada Katadata.co.id, pada Jumat (13/2).
Selama kepemimpinan Ridha, aset kelolaan INA meningkat dari sekitar US$ 5 miliar menjadi mendekati US$ 10 miliar. Adapun total investasi yang telah disalurkan hampir US$ 5 miliar.
Manajemen menilai torehan itu menjadi bagian dari fondasi kelembagaan INA sebagai pengelola dana kekayaan negara yang kredibel, didukung tim profesional yang siap melanjutkan misi kedepannya.
“INA tetap berkomitmen pada mandat jangka panjangnya untuk memobilisasi modal, memberikan dampak nasional, dan mendukung prioritas strategis Indonesia,” tulis mereka.
Sebelumnya, beberapa sumber Katadata.co.id mengatakan Ridha telah menyampaikan pengunduran dirinya sebagai CEO INA. Padahal, dia semestinya masih menjabat hingga 16 Februari 2026.
Adapun pemerintah kini tengah mencari kandidat untuk mengisi kursi Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau INA. Ketua Komisi XI Dewan DPR, Mukhamad Misbakhun, menyebut Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi menjadi kandidat di Dewan Pengawas INA.
“Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi (calon anggota Dewan Pengawas INA),” kata Misbakhun kepada wartawan, Jumat (13/2).
Mengutip laman resmi INA, Ridha adalah salah satu eksekutif senior nasional di bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai institusi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebelum bergabung dengan INA, Ridha menjabat sebagai direktur utama Bank Permata pada 2017 hingga 2021; head of Indonesia di KKR & Co pada 2011 hingga 2014, serta direktur utama Bank Maybank Indonesia dari 2009 hingga 2011.
Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di perusahaan multinasional. Di antaranya sebagai CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, head of corporate Finance Bankers Trust, serta head of public sector Citibank Indonesia.
Ridha meraih gelar doktor Administrasi Bisnis dari City University of Hong Kong. Ia juga menyandang gelar MBA di bidang Finance and International Business, serta sarjana Electrical Engineering dari Ohio University.
Selain itu, ia mengikuti Program Manajemen Lanjutan di University of California Berkeley. Sementara itu, berdasarkan laman Linkedin pribadinya, Ridha tercatat menjabat sebagai CEO INA sejak Februari 2021.
Kata INA soal Kabar Ridha Wirakusumah Mundur dari Kursi CEO
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya buka suara menyusul kabar Ridha Wirakusumah yang disebut mundur dari jabatannya sebagai CEO. [391] url asal
#ina #indonesia-investment-authority-ina #lembaga-pengelola-investasi-lpi #update-me
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya buka suara menyusul kabar Ridha Wirakusumah yang disebut mundur dari jabatannya sebagai petinggi di lembaga pengelola investasi nasional itu.
Manajemen INA menyatakan, kabar seputar pengunduran diri Ridha perlu dikoreksi. "Ridha Wirakusumah akan menyelesaikan masa jabatannya sebagai CEO INA sesuai pengangkatan melalui Keputusan Presiden Nomor 1/2021 tertanggal 15 Februari 2021," tulis manajemen INA kepada Katadata.co.id, pada Jumat (13/2).
Selama kepemimpinan Ridha, aset kelolaan INA meningkat dari sekitar US$ 5 miliar menjadi mendekati US$ 10 miliar. Adapun total investasi yang telah disalurkan hampir US$ 5 miliar.
Manajemen menilai torehan itu menjadi bagian dari fondasi kelembagaan INA sebagai pengelola dana kekayaan negara yang kredibel, didukung tim profesional yang siap melanjutkan misi kedepannya.
“INA tetap berkomitmen pada mandat jangka panjangnya untuk memobilisasi modal, memberikan dampak nasional, dan mendukung prioritas strategis Indonesia,” tulis mereka.
Sebelumnya, beberapa sumber Katadata.co.id mengatakan Ridha telah menyampaikan pengunduran dirinya sebagai CEO INA. Padahal, dia semestinya masih menjabat hingga 16 Februari 2026.
Adapun pemerintah kini tengah mencari kandidat untuk mengisi kursi Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau INA. Ketua Komisi XI Dewan DPR, Mukhamad Misbakhun, menyebut Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi menjadi kandidat di Dewan Pengawas INA.
“Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi (calon anggota Dewan Pengawas INA),” kata Misbakhun kepada wartawan, Jumat (13/2).
Mengutip laman resmi INA, Ridha adalah salah satu eksekutif senior nasional di bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai institusi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebelum bergabung dengan INA, Ridha menjabat sebagai direktur utama Bank Permata pada 2017 hingga 2021; head of Indonesia di KKR & Co pada 2011 hingga 2014, serta direktur utama Bank Maybank Indonesia dari 2009 hingga 2011.
Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di perusahaan multinasional. Di antaranya sebagai CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, head of corporate Finance Bankers Trust, serta head of public sector Citibank Indonesia.
Ridha meraih gelar doktor Administrasi Bisnis dari City University of Hong Kong. Ia juga menyandang gelar MBA di bidang Finance and International Business, serta sarjana Electrical Engineering dari Ohio University.
Selain itu, ia mengikuti Program Manajemen Lanjutan di University of California Berkeley. Sementara itu, berdasarkan laman Linkedin pribadinya, Ridha tercatat menjabat sebagai CEO INA sejak Februari 2021.
Profil Ridha Wirakusumah yang Dikabarkan Mundur dari CEO INA
Menurut laman resmi INA, Ridha adalah sosok eksekutif senior di Indonesia yang lama bergelut di bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi. Sebelum menjadi CEO INA, dia punya karier mentereng. [268] url asal
#ceo #indonesia-investment-authority-ina #lembaga-pengelola-investasi-lpi #update-me
Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority (INA) Ridha DM Wirakusumah dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya.
Berdasarkan sumber Katadata.co.id, Ridha telah menyampaikan pengunduran dirinya ke dewan direksi dan vice president atau wakil presiden. Padahal, seharusnya Ridha masih menjabat hingga 16 Februari 2026.
“Bener Mas, official sebenarnya 16 Februari (baru berakhir), sesuai masa jabatannya,” ujar sumber tersebut, Jumat (13/2).
Hingga berita ini dipublikasikan, Ridha belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang telah disampaikan Katadata.co.id. Lantas bagaimana profil orang nomor satu di INA tersebut?
Profil Ridha Wirakusumah
Mengacu pada laman resmi INA, Ridha adalah salah satu eksekutif senior di Indonesia di bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai institusi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebelum bergabung dengan INA, Ridha menjabat sebagai direktur utama Bank Permata pada 2017 hingga 2021; head of Indonesia di KKR & Co pada 2011 hingga 2014, serta; direktur utama Bank Maybank Indonesia dari 2009 hingga 2011.
Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di perusahaan multinasional, antara lain sebagai CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, head ofcorporate Finance Bankers Trust, serta head ofpublicsector Citibank Indonesia.
Ridha meraih gelar doktor Administrasi Bisnis dari City University of Hong Kong. Ia juga menyandang gelar MBA di bidang Finance and International Business, serta sarjana Electrical Engineering dari Ohio University. Selain itu, ia mengikuti Program Manajemen Lanjutan di University of California Berkeley.
Sementara itu, berdasarkan laman Linkedin pribadinya, Ridha tercatat menjabat sebagai CEO INA sejak Februari 2021 hingga dikabarkan mundur hari ini.
Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi Disebut Jadi Kandidat Kuat CEO INA
Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi sebagai kandidat kuat untuk memimpin Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA). [351] url asal
Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mukhamad Misbakhun menyebut Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi sebagai kandidat kuat untuk memimpin Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA).
“Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi (calon CEO INA),” kata Misbakhun kepada wartawan saat dimintai konfirmasi, dikutip Jumat (13/2).
Adapun Fauzi Ichsan dikenal sebagai praktisi ekonomi dan keuangan dengan rekam jejak panjang di sektor perbankan dan kebijakan publik. Ia pernah memegang peran strategis sebagai pimpinan di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tak hanya itu, Fauzi Ichan juga meniti karier senior di Standard Chartered Bank.
Di sisi lain, berdasarkan profil linkedin-nya, Michael Tjoajadi adalah sosok senior di industri manajemen investasi. Dia kini menjabat presiden direktur Schroders Indonesia sejak 1996 dan kini sudah menjabat selama 29 tahun.
Sebelumnya Ridha DM Wirakusumah dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Direktur atau CEO Indonesia Investment Authority (INA). Berdasarkan sumber Katadata.co.id, Ridha telah menyampaikan pengunduran dirinya ke jajaran Dewan Direksi dan Wakil Presiden. Padahal, seharusnya Ridha masih menjabat hingga 16 Februari 2026.
“Benar, official sebenarnya 16 Februari, sesuai masa jabatannya,” ucap sumber Katadata.co.id, Jumat (13/2).
Katadata.co.id telah meminta konfirmasi ke Ridha, namun belum menjawab hingga berita ini ditayangkan.
Selain CEO INA, Ridha DM Wirakusumah juga dikenal sebagai salah satu eksekutif senior di Indonesia dalam bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di institusi terkemuka, baik global dan Indonesia. Sebelum bergabung di INA, ia pernah menjabat sebagai direktur utama Bank Permata, head of Indonesia KKR & Co, dan direktur utama Bank Maybank Indonesia.
Ia juga pernah menjabat di beberapa perusahaan multinasional, yaitu sebagai CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, serta sebagai head of corporate finance di Bankers Trust dan Head of Public Sector di Citibank Indonesia.
Ridha Wirakusumah memperoleh gelar doktor di bidang Administrasi Bisnis dari City University Hong Kong; MBA di bidang Finance and International Business dari Ohio University, dan; sarjana bidang Electrical Engineering, Electronic, and Science dari Ohio University, serta Program Manajemen Lanjutan dari University California, Berkeley.
Bukan Sekadar Pabrik, Kehadiran Fraksionasi Plasma Pertama di Indonesia Jadi Kunci Transfer Teknologi Biofarmasi Pertama di Indonesia
Pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia menjadi pintu masuk transfer teknologi biofarmasi, sekaligus langkah strategis menuju kemandirian obat [1,238] url asal
#plasma-darah #teknologi-medis #ina #indonesia-investment-authority-ina #biofarmasi #kemandirian-kesehatan #sk-plasma #fraksionasi-plasma-darah
(Kompas.com - Money) 23/12/25 18:22
v/83045/
KOMPAS.com - Pembangunan fasilitas fraksionasi plasma di Karawang, Jawa Barat, yang ditargetkan beroperasi pada 2026 menjadi penanda penting dimulainya era kemandirian Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.
Buah dari kolaborasi strategis antara Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma Korea itu bukan sekadar proyek industri, melainkan gerbang utama bagi Indonesia untuk mengakses dan menguasai teknologi biofarmasi kelas dunia.
Selama ini, Indonesia menghadapi tantangan besar di sektor kesehatan. Utamanya, terkait ketersediaan dan aksesibilitas PODP, seperti albumin dan imunoglobulin, yang 100 persen bergantung pada impor. Hal ini disebabkan absennya infrastruktur pengolahan plasma darah—salah satu bahan baku utama PODP.
Padahal, Indonesia memiliki ketersediaan stok plasma darah yang cukup besar. Berdasarkan data Palang Merah Indonesia (PMI), sekitar 200.000 liter plasma darah harus terbuang setiap tahun.
Fasilitas fraksionasi plasma PT SK Plasma Core Indonesia di Karawang pun hadir untuk memutus rantai ketergantungan tersebut melalui hilirisasi teknologi bioteknologi tingkat lanjut.
Dalam proyek tersebut, INA berperan sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia yang terbilang vital sekaligus katalisator foreign direct investment (FDI) berkualitas tinggi ke Tanah Air.
Vice President of Investment INA Andre Jonathan Cahyadi memaparkan bahwa sejak berdiri pada 2021, INA menempatkan diri sebagai mitra strategis dalam menarik investasi berkualitas ke Indonesia.
Sebagai SWF yang bermandat ganda, yakni meraih imbal hasil terukur dan menciptakan dampak berkelanjutan lintas generasi, INA memfasilitasi masuknya investasi asing yang tidak hanya membawa kapital, tetapi juga standar operasional global.
Dalam kurun waktu sekitar empat tahun terakhir, INA telah menanamkan modal di sejumlah sektor prioritas, mulai dari kesehatan, infrastruktur, energi terbarukan hijau, hingga sektor digital. Terbaru, INA juga masuk ke sektor advanced materials yang berkaitan dengan rantai nilai baterai.
Di sektor kesehatan, salah satu investasi yang kini menjadi sorotan adalah proyek fraksionasi plasma bersama SK Group asal Korea Selatan. Proyek ini dinilai sejalan dengan mandat utama INA, yakni berinvestasi untuk kepentingan generasi masa depan sekaligus menarik investasi asing ke Indonesia.
Melalui investasi tersebut, INA menjalankan mandat untuk meningkatkan FDI sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional (national health security).
Oleh karena itu, dalam setiap proyeknya, INA selalu berinvestasi bersama mitra strategis, baik dalam skema dana kesejahteraan, investasi strategis, maupun investasi komersial. Kerja sama dengan SK Plasma menjadi salah satu contoh konkret pendekatan tersebut.
“Misi kami adalah berinvestasi pada sektor yang krusial bagi generasi mendatang. Kehadiran SK Group melalui SK Plasma membawa modal, keahlian, dan teknologi manufaktur biofarmasi yang sebelumnya belum dimiliki Indonesia,” kata Andre.
Jamin ketersediaan pasokan, ciptakan nilai sosial
Terkait pasokan plasma darah, Andre menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang memadai. Selama ini, plasma darah kerap terbuang karena ketidakhadiran fasilitas pengolahan. Padahal, setiap tahun PMI mengumpulkan sekitar empat juta kantong darah.
Pada tahap awal, kata dia, proyek tersebut akan memanfaatkan pasokan yang sudah tersedia. Ke depan, pasokan akan diperkuat melalui kontrak jangka panjang dengan PMI.
Pihaknya juga akan mendorong inisiatif lain, seperti pembentukan bank plasma, termasuk membuka peluang peran sektor swasta dalam pengembangan pusat pengumpulan plasma.
“Indonesia memiliki keunggulan populasi lebih dari 250 juta jiwa. Dengan partisipasi donor yang tinggi, kita memiliki pasokan plasma yang melimpah. Semakin banyak yang berdonor, semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan,” katanya.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Tempat penampungan plasma.Selain dampak di sektor kesehatan, proyek tersebut juga dinilai memberikan nilai sosial yang luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga alih teknologi dan pengetahuan. Ribuan tenaga kerja Indonesia terlibat dalam tahap konstruksi fasilitas.
Sementara itu, sebagian tenaga ahli telah mendapatkan pelatihan langsung di Korea Selatan dan siap mengoperasikan fasilitas produksi.
“Ini bukan hanya soal investasi, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM nasional,” ujar Andre.
Indonesia punya potensi besar
Di sisi lain, keputusan SK Group untuk menanamkan investasi di Indonesia tidak lepas dari pertimbangan strategis jangka panjang.
SK Group melalui anak usahanya, SK Plasma, memiliki rekam jejak lebih dari 50 tahun di bisnis plasma derivatif. Perusahaan ini mengoperasikan fasilitas fraksionasi plasma berstandar Good Manufacturing Practice (GMP) di Andong, Korea Selatan.
President Director PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh memaparkan, Indonesia memiliki kombinasi unik antara kebutuhan pasar yang besar, ketersediaan bahan baku, serta dukungan kebijakan pemerintah.
“Saat ini, Indonesia masih mengimpor 100 persen produk obat derivat plasma. Padahal, plasma darah sebagai bahan baku tersedia melimpah di dalam negeri. Namun, selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Ted.
Ted menambahkan, Indonesia memiliki potensi bahan baku yang sangat besar dengan populasi penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Ketersediaan plasma darah yang belum dimanfaatkan berpotensi diolah menjadi produk obat bernilai tinggi, seperti albumin dan imunoglobulin.
Selain itu, dukungan regulasi dan kolaborasi erat dengan pemerintah Indonesia juga dinilai menjadi faktor penting. Menurutnya, perubahan kebijakan dalam beberapa tahun terakhir telah membuka jalan bagi pengembangan industri fraksionasi plasma di dalam negeri.
“Teknologi fraksionasi plasma merupakan teknologi maju yang hanya dimiliki kurang dari 20 negara di dunia. Dengan dukungan pemerintah dan INA, Indonesia kini memiliki kesempatan untuk masuk ke kelompok tersebut,” kata Ted.
Transfer teknologi
Salah satu nilai utama dari proyek ini adalah transfer teknologi biofarmasi secara menyeluruh. Transfer tersebut tidak hanya terjadi pada tahap operasional, tetapi juga sejak perencanaan, desain, hingga pembangunan fasilitas.
Ted menjelaskan, seluruh desain pabrik, proses engineering, hingga standar operasional mengacu pada fasilitas SK Plasma di Korea Selatan. Fasilitas tersebut telah memenuhi standar internasional dan mengekspor produk ke lebih dari 20 negara.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. President Director PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh.Sebagai bagian dari program tersebut, kata Ted, 15 tenaga ahli Indonesia telah dikirim ke Korea Selatan untuk mengikuti pelatihan intensif selama beberapa bulan pada Juli hingga Desember 2025. Mereka dipersiapkan sebagai personel kunci yang nantinya akan mengoperasikan fasilitas di Karawang.
SK Plasma juga akan mengirim 14 tenaga ahli dan 12 tenaga ahli untuk mengikuti pelatihan lanjutan selama periode 2026–2027.
“Pelatihan ini akan berlanjut secara bertahap. Teknologi dan keahlian yang ditransfer akan sepenuhnya dikuasai oleh tenaga kerja Indonesia,” kata Ted.
Serap tenaga kerja, tingkatkan aksesibilitas PODP
Kehadiran fasilitas fraksionasi plasma di Karawang diprediksi akan memberikan efek berganda bagi Indonesia.
Ted melanjutkan bahwa selama masa konstruksi, hampir 1.000 pekerja lokal terlibat dalam proses pembangunan fasilitas tersebut. Saat beroperasi penuh, fasilitas ini akan menyerap hingga 300 tenaga kerja ahli biofarmasi.
Secara makro, produksi PODP lokal akan menekan biaya kesehatan. Menurutnya, harga produk derivat plasma diproyeksikan akan lebih kompetitif, yakni sekitar 8-10 persen lebih murah ketimbang produk impor.
“Hal ini tentu akan memperluas akses pasien, terutama pengguna layanan BPJS Kesehatan, terhadap obat-obatan esensial,” kata Ted.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Para pekerja tampak memasang instalasi di pabrik fraksionasi plasma SK Plasma.Dengan infrastruktur yang dapat dikembangkan hingga kapasitas satu juta liter per tahun, Indonesia berpeluang besar untuk mengekspor produk PODP ke negara tetangga di Asia Tenggara dan pasar global.
"Kami sudah menerima permintaan dari lebih dari lima negara yang ingin mengimpor hasil pengolahan kami. Tujuan utama kami adalah memenuhi kebutuhan domestik terlebih dahulu. Meski demikian, potensi ekspor sangat terbuka lebar karena kualitas plasma donor Indonesia sangat baik," ungkapnya.
Melalui sinergi antara modal strategis dari INA dan keunggulan teknologi dari SK Plasma, pabrik di Karawang itu bukan sekadar fasilitas industri, melainkan simbol kebangkitan teknologi medis Indonesia di panggung dunia. Ini menjadi era kemandirian dan penguasaan bioteknologi masa depan di Indonesia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Siap Beroperasi pada 2026, Mengintip Standar Global Pabrik Fraksionasi Plasma Pertama di Indonesia
Pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia akan beroperasi 2026 dan olah 600.000 liter per tahun [1,133] url asal
#albumin #ina #indonesia-investment-authority-ina #ketahanan-kesehatan #pt-sk-plasma-core-indonesia #produk-obat-derivat-plasma
(Kompas.com - Money) 19/12/25 18:14
v/79046/
KOMPAS.com - Sektor kesehatan menjadi salah satu pilar prioritas pembangunan masa depan Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Alokasi Transfer ke Daerah (TKD), Selasa (24/10/2024), menyampaikan bahwa kesehatan merupakan prioritas utama dalam alokasi anggaran tahun 2025, di samping bidang pendidikan.
“Pendidikan dan pelayanan kesehatan inilah jalan keluar sesungguhnya dari kemiskinan,” tegasnya dilansir laman resmi Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.
Namun, di balik komitmen tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural di sektor kesehatan. Salah satunya adalah ketergantungan penuh terhadap Produk Obat Derivat Plasma (PODP) impor.
Hingga saat ini, kebutuhan nasional terhadap PODP, seperti albumin dan imunoglobulin intravena (IVIG), masih dipenuhi 100 persen dari luar negeri.
Padahal, PODP merupakan obat-obatan vital yang digunakan dalam penanganan berbagai kondisi serius, mulai dari sirosis hati, luka bakar, pascaoperasi, gangguan autoimun, hingga terapi pasien dengan defisiensi imun.
Ketergantungan terhadap impor pun berdampak langsung pada tingginya harga obat berbasis plasma. Ini membuat akses masyarakat terhadap terapi esensial menjadi terbatas.
Ketika pasokan bergantung pada impor, fluktuasi harga global, gangguan logistik, hingga kebijakan proteksionisme negara produsen dapat langsung memengaruhi ketersediaan obat di dalam negeri.
Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi suplai plasma darah yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia memiliki basis donor darah yang luas dibandingkan banyak negara lain. Potensi ini semestinya dapat menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri obat berbasis plasma di dalam negeri.
Namun, ketiadaan fasilitas pengolahan plasma membuat potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal.
Setiap tahun, Indonesia tercatat membuang hingga 200.000 liter plasma darah karena ketidaktersediaan infrastruktur fraksionasi plasma yang memenuhi standar internasional.
Plasma yang seharusnya dapat diolah menjadi produk obat bernilai tinggi justru tidak termanfaatkan, sementara kebutuhan nasional terus dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut membuat penguatan kapasitas pengolahan plasma di dalam negeri didorong menjadi agenda strategis nasional.
Mewujudkan kedaulatan kesehatan
Sebagai langkah nyata mewujudkan kedaulatan di bidang kesehatan, Indonesia Investment Authority (INA) menjalin kemitraan strategis dengan SK Plasma untuk mendirikan fasilitas fraksionasi plasma berskala besar pertama di Indonesia di Karawang, Jawa Barat.
Sebagai informasi, SK Plasma merupakan perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan yang berfokus pada pengembangan dan produksi Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Perusahaan ini merupakan bagian dari SK Group, salah satu konglomerasi terbesar di Korea Selatan.
SK Plasma memiliki pengalaman panjang di industri pengolahan plasma dengan sejarah bisnis yang dimulai sejak 1970. Fasilitas fraksionasi plasma modern di Korea Selatan telah beroperasi dengan standar internasional serta mengekspor produknya ke lebih dari 20 negara.
Fasilitas yang mulai beroperasi penuh pada 2026 itu diproyeksikan menjadi pabrik pengolahan plasma terbesar di Asia Tenggara.
Dengan kapasitas pengolahan hingga 600.000 liter plasma per tahun, pabrik ini menjadi solusi konkret atas tantangan kesehatan nasional, khususnya terkait ketersediaan PODP.
Vice President of Investment Indonesia Investment Authority (INA) Andre Jonathan Cahyadi mengatakan, proyek tersebut menjadi bagian penting dari agenda strategis nasional di sektor kesehatan, khususnya dalam membangun kapasitas manufaktur biofarmasi berstandar global di dalam negeri.
Dari perspektif INA, sektor kesehatan merupakan salah satu prioritas utama investasi. Proyek ini tidak hanya menghadirkan investasi asing langsung, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Tangki penampungan etanol."Kami ingin berhenti bergantung pada impor. Selama pandemi Covid-19, kami belajar betapa berisikonya (sektor kesehatan Indonesia) saat pasokan global terhenti. Dengan memproduksi secara lokal, kami tidak hanya menjamin pasokan domestik, tetapi juga menempatkan Indonesia di peta global bersama 20 negara lainnya yang memiliki teknologi ini," ujar Andre di fasilitas fraksionasi SK Plasma Indonesia, Kamis (18/12/2025).
Melalui proyek tersebut, Andre menilai pemangku kepentingan medis di Indonesia berpeluang menyelamatkan lebih banyak nyawa sekaligus meningkatkan keamanan kesehatan nasional. Hal ini juga sejalan dengan misi Kementerian Kesehatan dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
Dari sisi kemitraan, INA menegaskan komitmennya untuk selalu bekerja sama dengan institusi kelas dunia. Andre menyebut SK Group sebagai mitra strategis yang memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun di bidang ini, termasuk fasilitas produksi serupa di Korea Selatan.
“Peran kami sebagai investor finansial dan mitra lokal adalah mendukung penuh kehadiran SK di Indonesia. Kami sangat menghargai komitmen mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bangsa,” ucapnya.
Progres pembangunan
Kompas.com berkesempatan mengunjungi fasilitas fraksionasi plasma PT SK Plasma Core Indonesia di Karawang, Jawa Barat, Kamis (18/12/2025). Dari luar, kawasan pabrik terlihat seperti kompleks manufaktur farmasi modern.
Sistem keamanan yang diterapkan pun berlapis. Ini tampak dari pengaturan akses keluar-masuk yang ketat. Setiap pengunjung wajib terverifikasi serta mengenakan alat pelindung diri sebelum memasuki area produksi.
Saat berkeliling area pabrik, terlihat rangkaian bangunan utama yang telah berdiri hampir sepenuhnya, mulai dari area fraksionasi, ruang pemurnian, hingga fasilitas pengisian steril.
Beberapa peralatan berteknologi tinggi tampak sudah terpasang dan siap memasuki tahap pengujian. Di sejumlah titik, aktivitas penyempurnaan instalasi masih berlangsung. Ini menandai fase akhir pembangunan fasilitas biofarmasi berskala besar tersebut.
Pihak pengelola juga memperlihatkan area pendukung, seperti sistem rantai dingin (cold chain), ruang pengendalian mutu, serta fasilitas penunjang yang dirancang untuk memenuhi standar produksi farmasi global. Seluruh alur produksi dirancang terintegrasi untuk menjaga mutu plasma donor sejak tahap awal hingga menjadi produk obat derivat plasma.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Presiden Direktur PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh (kanan).Presiden Direktur PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh memaparkan, kesiapan pembangunan fisik pabrik fraksionasi plasma sudah 98,72 persen.
Fasilitas di Karawang dirancang untuk mencakup seluruh rantai produksi PDMP, mulai dari proses fraksionasi plasma, pemurnian (purification), pengisian steril (aseptic filling), pengeringan beku, dan pengemasan.
“Pabrik ini dibangun dengan teknologi yang sama dengan fasilitas SK Plasma di Andong, Korea Selatan. Fasilitas di sana telah beroperasi secara komersial dan memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP) internasional,” ujar Ted Roh.
Dengan kapasitas pengolahan hingga 600.000 liter plasma per tahun, kata Ted, pabrik ini melampaui fasilitas serupa di Thailand yang hanya memiliki kapasitas 200.000 liter.
Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Ini sekaligus membuka ruang ekspansi kapasitas hingga satu juta liter per tahun melalui pengaturan sistem kerja tambahan.
Menuju produksi dalam negeri 2026
Setelah seluruh tahapan validasi, kualifikasi, dan inspeksi GMP rampung pada 2026, fasilitas ini ditargetkan mulai memproduksi PDMP secara lokal. Produk awal yang akan dihasilkan mencakup albumin dan IVIG, dua produk plasma yang saat ini paling dibutuhkan dalam layanan kesehatan nasional.
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Instalasi penampungan plasma.Andre menegaskan, kesiapan fasilitas dan penerapan standar global menjadi fondasi penting sebelum Indonesia benar-benar memasuki fase produksi mandiri. Ia melihat proyek ini sebagai langkah strategis membangun kemampuan industri kesehatan nasional dengan standar internasional.
“Saat ini, kami fokus memastikan fasilitas ini siap beroperasi dengan kualitas terbaik,” kata Andre.
Dengan rampungnya pembangunan fisik dan dimulainya tahapan validasi, Indonesia bersiap memasuki babak baru dalam pengelolaan plasma darah. Untuk pertama kalinya, plasma donor dalam negeri akan diolah secara komprehensif di fasilitas berstandar global langsung dari Karawang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Dampak Positif dari Investasi INA di Ruas Jalan Tol Trans Sumatra dan Pelabuhan Internasional Belawan
Indonesia Investment Authority (INA) bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM UI), hari ini merilis Laporan Dampak Sosial dan Ekono [1,055] url asal
#dampak-sosial-dan-ekonomi-dari-investasi-ina #lpem-ui #indonesia-investment-authority-ina #pelabuhan #jalan-tol
Jakarta: Indonesia Investment Authority (INA) bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM UI), hari ini merilis Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi dari Portofolio Investasi INA yang menyajikan kajian berbasis data atas dua investasi jangka panjang INA, yaitu ruas Jalan Tol Trans Sumatra Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatra Utara.Laporan ini menegaskan mandat ganda INA untuk membangun kesejahteraan bagi generasi mendatang serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Laporan ini menekankan efektivitas intervensi investasi jangka panjang yang dijalankan oleh INA bersama para mitra global, serta menggambarkan bagaimana kemitraan tersebut menciptakan efek catalytic (efek pemicu perubahan) dengan dampak lebih luas dari sekadar imbal hasil investasi.
Dirancang untuk memberikan penilaian yang terstruktur dan mendalam atas investasi jangka panjang INA, studi ini mengukur kontribusi di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, sekaligus memberikan wawasan strategis untuk memperkuat tata kelola dan memastikan keberlanjutan dampak dari kemitraan tersebut.
Pada proyek Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar, INA bermitra dengan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan APG Asset Management (APG) untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang proyek, sekaligus mendukung Hutama Karya, pengembang awal proyek, untuk mengimplementasikan prioritas pembangunan nasional lainnya.
Sementara itu, pada proyek Belawan New Container Terminal (BNCT), INA bermitra dengan DP World dan Pelindo untuk meningkatkan kinerja operasional dan mentransformasi Belawan menjadi gerbang perdagangan internasional yang lebih kompetitif.
Melalui kedua proyek tersebut, kolaborasi ini menghadirkan modal jangka panjang, keahlian global, serta penerapan standar tata kelola yang kuat, yang dapat semakin memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem investasi Indonesia, dan menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh LPEM UI, laporan ini memberikan gambaran mendalam mengenai kepentingan strategis dan signifikansi ekonomi dari aset-aset tersebut.
Studi ini menganalisis potensi kontribusi makroekonomi, implikasi fiskal, serta dampaknya terhadap kinerja keuangan badan usaha milik negara dan juga hasil mikroekonomi bagi pelaku usaha lokal dan rumah tangga.
Laporan ini juga mempertimbangkan aspek kelayakan ekonomi, value-for-money, serta keselarasan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Secara keseluruhan, berbagai dimensi ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana kemitraan investasi jangka panjang yang kolaboratif berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan pembangunan inklusif di Indonesia.
Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) sepanjang 141 kilometer merupakan ruas pertama yang beroperasi dari proyek Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) sekaligus ruas tol terpanjang kedua di Indonesia. Menghubungkan Pelabuhan Bakauheni, gerbang utama antara Sumatra dan Jawa, dengan Lampung Tengah, BTB berperan penting dalam mendorong konektivitas antar wilayah dan meningkatkan efisiensi logistik di seluruh Sumatra.
Berdasarkan analisis LPEM UI yang mencakup periode konstruksi dan operasional proyek (2015–2067), BTB diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar Rp400 triliun terhadap PDB Indonesia serta mendukung sekitar 20.000 lapangan kerja setiap tahun selama masa konsesinya. Proyek ini menunjukkan Rasio Manfaat-Biaya Ekonomi atau Economic Benefit-Cost Ratio (EBCR) sebesar 2,59, setara dengan IDR2,59 nilai ekonomi yang diciptakan untuk setiap IDR1 yang diinvestasikan, sehingga menegaskan nilai jangka panjang proyek ini bagi perekonomian nasional.
Di luar kontribusi makroekonominya, laporan ini juga menyoroti dampak sosial ekonomi dan lingkungan yang lebih luas dari keberadaan jalan tol tersebut. BTB berhasil mengurangi waktu tempuh antara Bakauheni dan Bandar Lampung dari sekitar lima jam menjadi hanya dua jam, yang berpotensi menghasilkan penghematan biaya total lebih dari Rp 170 triliun serta berkontribusi pada penurunan biaya logistik nasional.
Dari aspek sosial, BTB turut mendorong peningkatan pendapatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan publik. Sementara itu, dari aspek lingkungan, proyek ini diperkirakan dapat mengurangi emisi CO₂ sebesar sekitar 1,6 juta ton, dan meningkatkan tata kelola keselamatan jalan melalui penerapan sistem pemantauan keamanan berbasis teknologi.
Sementara itu, BNCT yang berlokasi di sepanjang Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, memegang peranan penting dalam memperkuat konektivitas perdagangan internasional Indonesia.
Terminal ini tengah dikembangkan menjadi pelabuhan internasional modern yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pelabuhan transshipment regional melalui penerapan layanan direct call.
Tujuan operasional utamanya adalah meningkatkan kapasitas dari 600 ribu TEUs (twenty-foot equivalent units) menjadi 1,4 juta TEUs, dengan dukungan jaringan, pengetahuan teknologi, dan keahlian operasional dari DP World, sehingga menempatkan BNCT sebagai pendorong utama efisiensi logistik dan daya saing Indonesia dalam perdagangan global.
Dorong Nilai Tambah
Berdasarkan analisis LPEM UI yang mencakup periode konstruksi dan operasional proyek dari tahun 2016 hingga 2072, BNCT diperkirakan akan menciptakan nilai tambah sekitar Rp82 triliun terhadap perekonomian Indonesia serta menciptakan sekitar 4.400 lapangan kerja setiap tahun di seluruh Indonesia.Proyek ini juga diperkirakan untuk menciptakan pendapatan fiskal sebesar Rp15 triliun dan menunjukkan EBCR sebesar 1,9, yang berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp1,9. Selama masa konsesi, studi ini memperkirakan total penghematan biaya sekitar Rp60 triliun, terdiri atas Rp20 triliun dari efisiensi waktu melalui penerapan layanan direct call dan Rp40 triliun dari penurunan biaya penanganan terminal.
Di luar kinerja ekonominya, revitalisasi BNCT turut mendorong peningkatan pendapatan UMKM, memperluas akses terhadap kebutuhan pokok, serta berkontribusi pada penurunan emisi CO₂ hingga sekitar 3,4 juta ton melalui rute pelayaran yang lebih singkat dan peningkatan efisiensi operasional.
Ketua Dewan Direktur INA, Ridha Wirakusumah, menyampaikan, laporan ini mencerminkan bagaimana kemitraan investasi strategis jangka panjang dapat mengubah modal menjadi nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Bagi INA, temuan ini menegaskan pentingnya kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan, transparansi, dan tujuan bersama. Peran kami adalah menjembatani potensi besar Indonesia dengan modal dan keahlian global, memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dapat terukur sekaligus berkelanjutan bagi generasi mendatang.”
Jahen F. Rezki, Wakil Direktur Riset LPEM FEB UI, menyampaikan, laporan ini sangat penting karena memberikan wawasan berbasis data mengenai dampak potensial dari kemitraan investasi jangka panjang INA terhadap pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia.
Laporan ini juga menyoroti manfaat lingkungan yang signifikan dari proyek tersebut serta menekankan peran pentingnya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Peluncuran laporan ini menandai langkah penting dalam membangun kerangka kerja yang terstruktur untuk mengevaluasi dampak sosial ekonomi dari portofolio investasi INA. Selain itu juga memastikan bahwa investasi jangka panjang tidak hanya menciptakan nilai finansial, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas dalam mendorong pertumbuhan inklusif dan keberlanjutan lingkungan. Metodologi yang dikembangkan bersama LPEM UI ini akan menjadi dasar bagi penilaian dampak di sektor-sektor prioritas INA pada masa mendatang.
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(SAW)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56