Bisnis.com, JAKARTA — Generasi Z dan anak-anak muda dapat melakukan berbagai transaksi keuangan dengan begitu mudah di era digital yang serba cepat dan praktis. Semua kebutuhan bisa terpenuhi dengan menyentuh layar ponsel, tetapi bisa menimbulkan masalah tersendiri jika terlalu konsumtif.
Promo dan diskon di e-commerce, membeli jajanan hanya dengan scan QR, hingga top-up game online membuat aktivitas belanja terasa semakin mudah. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memicu pola konsumtif.
Berdasarkan data Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), ternyata 20 juta generasi Z atau mereka yang berusia di bawah 28 tahun belum memiliki tabungan di bank. Hal ini juga menjadi alasan mengapa banyak dari mereka lebih menghabiskan uangnya untuk membeli sesuatu dibanding untuk disimpan.
Kondisi ini menjadi PR bersama pemerintah dan lembaga keuangan untuk membangun kesadaran gen Z agar mau menyisihkan belanja atau pendapatannya untuk ditabung.
Wakil Ketua LPS Farid Azhar Nasution menjelaskan idealnya setiap orang harus memiliki tabungan, sebagai dana cadangan yang bisa dipakai di saat mendesak atau menjadi simpanan dalam jangka panjang yang bisa digunakan di masa pensiun.
“Tabungan itu penting untuk jaga-jaga, ibaratnya kalau tidak memiliki tabungan dalam tiga bulan ke depan, ibarat main bola tanpa kiper [penjaga gawang],” kata Farid saat mengedukasi mahasiswa di Bali dalam acara Like It Bank Indonesia, dikutip pada Selasa (25/11/2025).
Tabungan juga akan menghindarkan generasi muda dari perilaku konsumtif. Karena jika perilaku konsumtif terus dibiarkan, remaja bisa kehilangan pemahaman tentang nilai uang. Akibatnya, uang saku cepat habis dan kebiasaan finansial yang tidak sehat dapat terbawa hingga dewasa.
Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk mencegah perilaku konsumtif pada remaja. Berikut beberapa cara mencegah pola konsumtif:
Adanya Pengawasan dari Orangtua
Saat ini, sebagian besar remaja jarang membawa uang tunai di dompet mereka. Banyak transaksi bisa dilakukan hanya dengan scan QR, sehingga mereka tidak perlu repot membawa uang cash ke mana-mana.
Namun, kemudahan ini juga menimbulkan kekhawatiran. Kasus penipuan digital yang semakin marak membuat remaja lebih rentan terhadap risiko penipuan khususnya dalam hal keuangan. Dalam situasi seperti ini, peran orang tua menjadi sangat penting.
“Sekarang anak-anak enggak pegang uang cash. Sekarang PR orang tua itu bagaimana caranya melatih anak agar enggak asal-asalan scan. Kita harus mengajari bahwa uang itu ada value-nya, jadi, tidak asal-asalan dipakai untuk apapun,” ujar Aktris sekaligus Presenter, Mona Ratuliu dalam acara Peluncuran DANA Premium Mini di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Limitasi Saldo
Pembatasan jumlah saldo di dompet digital remaja juga sangat penting. Dengan adanya batas tersebut, remaja akan memiliki kontrol lebih baik dan berpikir ulang sebelum membelanjakan uang mereka.
Melalui fitur terbaru aplikasi dompet digital DANA, remaja kini dapat membuka akun Premium. Namun, berbeda dengan akun Premium untuk pengguna dewasa, akun Premium untuk remaja membatasi saldo maksimal hanya hingga Rp2 juta. Kebijakan ini dibuat untuk membantu meminimalisir perilaku konsumtif di kalangan remaja.
“Remaja ini kan baru belajar ke ranah digital finansial, jadi kita menggunakan kustomisasi yang membedakan DANA Premium Mini [Premini] dengan DANA Premium [untuk dewasa]. Jadi, ada batasan-batasannya [untuk remaja],” ujar Head of Product DANA Indonesia, Stevanus Fanius.
Validasi Berlapis
Mengingat remaja masih tergolong anak di bawah umur, mereka belum sepenuhnya memahami pentingnya keamanan digital. Mereka bisa saja menjadi sasaran penipuan dan dengan mudah mentransfer uang kepada orang yang tidak dikenal, misalnya saat berbelanja online atau tergiur diskon yang ternyata merupakan modus penipuan.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, diperlukan proses validasi berlapis yang dapat memastikan bahwa penerima transaksi benar-benar orang yang dimaksud. Fitur seperti ini penting diterapkan dalam aplikasi dompet digital. Selain itu, pengguna juga harus lebih berhati-hati dan selalu mengecek kembali sebelum melakukan transfer uang.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, remaja dapat belajar mengelola uang dengan lebih bijak sejak dini dan membangun kebiasaan finansial yang baik untuk masa depan mereka. (Putri Astrian Surahman)