Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran pembiayaan multiguna mendominasi total pembiayaan baru di industri multifinance, dengan porsi 47,47% dari Rp78,16 triliun pada Januari 2026.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ada dua faktor utama yang membuat pembiayaan tersebut mendominasi.
“Kebutuhan dana cepat, kemudahan pengajuan pinjaman dengan agunan BPKB jadi dua faktor utama. Ada fenomena monetisasi BPKB dimana jumlah pengguna kendaraan yang besar terutama sepeda motor, menjadi ceruk debitur potensial,” ucapnya kepada Bisnis, belum lama ini.
Dari sisi perusahaan pembiayaan, ujarnya, imbal hasil multiguna jauh lebih tinggi dibanding jenis penyaluran kredit lainnya. Meskipun, di satu sisi memang risiko gagal bayar lebih tinggi dibanding ke sektor perdagangan atau industri.
“Namun, dari segi jumlah tren yang berkembang ke depan adalah kredit multiguna. Mungkin bersaingnya bukan lagi dengan KTA perbankan tapi paylaterplatform,” kata Bhima.
Dia meneruskan, tantangan yang akan dihadapi industri multifinance dalam mendongkrak penyaluran pembiayaan baru adalah situasi yang penuh risiko, baik dari sisi inflasi yang memengaruhi kemampuan bayar (ability to pay) debitur maupun perang yang pengaruhnya ke inflasi energi dan pangan.
Selain itu, Bhima menilai pasca Lebaran tekanan ekonomi diperkirakan akan meningkat. Sebab demikian, meski ada jaminan BPKB atau agunan lain, dia menyarankan perusahaan pembiayaan tetap harus melakukan background check, terutama lokasi calon debitur dengan kredit macet tinggi.
Adapun, selain menanggapi pembiayaan multiguna, Bhima melihat bahwa proyeksi pembiayaan modal kerja nampaknya masih terbatas. Di satu sisi, kemungkinan pembiayaan investasi akan bertahan karena outlook atau view-nya cukup panjang.
“Munculnya pabrik baru, butuh sarana pendukung dan vendor lokal, mereka butuh cashflow dan bisa di-support oleh lembaga pembiayaan. Pemerintah juga sedang dorong 100 GW panel surya di daerah, bisa bekerjasama dengan anak usaha PLN untuk kembangkan kerangka pembiayaan investasi,” ujarnya.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan baru oleh industri multifinance pada Januari 2026 sebesar Rp78,16 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menuturkan nilai itu didominasi oleh pembiayaan multiguna sebesar 47,47%.
“Secara nominal, multiguna mencapai Rp37,10 triliun, investasi Rp18,72 triliun, dan modal kerja Rp17,04 triliun,” katanya dalam lembar jawaban RDK OJK Februari 2026.