Bisnis.com, DENPASAR – Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bakal melakukan intervensi harga komoditas yang memberi andil terhadap inflasi.
Pj. Sekretaris Daerah NTB, Lalu Moh. Faozal menekankan perlunya intervensi sistematis terhadap komoditas penyumbang inflasi seperti cabai merah dan bawang merah melalui penyusunan Peraturan Gubernur (Pergub) tata kelola komoditas, pemetaan sentra produksi, kerja sama antardaerah, pengawasan distribusi, dan peningkatan produktivitas sebagai strategi jangka panjang menjaga stabilitas harga pangan.
"Identifikasi dan pemetaan produksi antar wilayah untuk mengurangi tekanan inflasi dan disparitas harga antardaerah pada komoditas utama penyumbang inflasi seperti cabai dan bawang merah harus dilakukan. Hal ini memerlukan dukungan koordinasi antar kepala daerah kabupaten/kota untuk memastikan kelancaran distribusi dan rantai pasok pangan," jelas Faozal dikutip dari siaran pers, Jumat (5/12/2025).
Selain itu, Sekda juga menyarankan TPID agar melakukan monitoring ke pasar-pasar untuk mendapatkan data perkembangan inflasi secara real time.
Hasil monitoring akan digunakan sebagai bahan rekomendasi untuk melakukan intervensi secara lebih efektif.
Usulan gerakan tanam cabai di seluruh tingkat lembaga pendidikan dasar-menengah perlu digalakkan untuk meningkatkan produksi lokal dan melatih siswa sebagai bagian dari pembelajaran dan membangun kesadaran pengendalian inflasi sejak dini, didukung dengan teknologi penyimpanan yang dapat memperpanjang usia simpan hasil produksi.
Terakhir, penguatan koordinasi antara pemerintah dan mitra swasta untuk memperluas jangkauan pengawasan dan intervensi.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, memaparkan perkembangan inflasi di NTB. Secara umum, tekanan inflasi di tahun 2025 cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kelompok pangan bergejolak (VF) dan inflasi inti (CI).
"Meski demikian, tekanan inflasi hingga November 2025 terpantau tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1%. Adapun pada bulan November 2025, NTB tercatat mengalami inflasi sebesar 0,34% (month-to-month/mtm), 2,74% (year-on-year/yoy), 2,27% (year-to-date/ytd). Sejumlah komoditas pangan (tomat, bawang merah, dan ikan teri) tercatat menyumbang inflasi November 2025, termasuk emas perhiasan seiring masih tingginya ketidakpastian global," kata Hario.
Meski tekanan inflasi cukup terkendali, kembali normalnya siklus cuaca pasca el nino turut mendorong kembali normalnya siklus pergerakan harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Berdasarkan data historis, komoditas aneka cabai dan bawang merah terpantau meningkat menjelang akhir tahun.
Selain itu, kecenderungan meningkatnya permintaan menjelang HBKN Nataru, diperkirakan turut mendorong kenaikan harga daging dan telur ayam.
Sementara itu, dukungan BI dalam rangka pengendalian TPID antara lain melanjutkan pelaksanaan OPM yang dapat menjangkau masyarakat secara luas, sinergi HLM dan capacity building TPID di Kab/Kota seluruh Provinsi NTB, dukungan sarana/prasarana bagi klaster ketahanan pangan dan komoditas inflasi, pembinaan klaster pertanian untuk peningkatan kapasitas salah satunya melalui perluasan benih padi varietas Gamagora 7.
Sampai dengan akhir tahun 2025, inflasi diperkirakan tetap terkendali pada rentang 2,5% ±1%. Meski demikian, seiring dengan kondisi cuaca yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga komoditas pangan sebagaimana tren inflasi 5 tahun terakhir pada bulan November dan Desember, kita tetap perlu waspada.
Beberapa rekomendasi yang diberikan BI NTB sebagai tindak lanjut untuk menjaga kestabilan harga pangan antara lain antisipasi komoditas tertentu yang harganya fluktuatif bahkan naik (aneka cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur ayam), pelaksanaan GPM harus dilakukan secara 3T (tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat sasaran) terutama untuk komoditas VF menjelang nataru, kemudian memastikan pengendalian harga tarif angkutan menjelang Nataru.
Kemudian memastikan kelancaran logistik dengan ketersediaan armada yang cukup termasuk rute dan frekuensi perjalanan serta memprioritaskan angkutan yang memuat bahan pangan, kemudian industrialisasi melalui penguatan berbagai sektor untuk menjamin ketersediaan serta kelancaran kebutuhan komoditas diarahkan untuk memperkuat rantai nilai dari hulu ke hilir.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk belanja dengan bijak," kata Hario.