Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat menyoroti distribusi beras yang tersendat di tengah lonjakan produksi beras dalam negeri yang diperkirakan mencapai 34,77 juta ton hingga akhir 2025. Bahkan, stok di gudang Bulog berisiko menumpuk dan mengalami penurunan mutu.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian mengatakan kapasitas maksimal gudang Bulog hanya 3 juta ton, sementara stok beras saat ini mencapai 3,9 juta ton.
Menurut Eliza, kapasitas penyimpanan maksimal 3 juta ton tersebut membuat Bulog harus menggandeng gudang lain milik kementerian/lembaga yang fasilitasnya bervariasi. Namun, kondisi ini menyebabkan kualitas beras yang disimpan menjadi tidak seragam.
“Perlu dilakukan pemantauan berkala untuk menyalurkan beras. Selain itu manajemen stoknya pun harus diperbaiki. Jangan sampai yang awal masuk malah jadi yang terakhir keluar karena ketumpuk terus,” ujar Eliza kepadaBisnis, Senin (3/11/2025).
Menurut Eliza, gudang yang digunakan untuk menyimpan cadangan beras pemerintah (CBP) harus memenuhi standar operasional prosedur (SOP), mulai dari infrastruktur hingga pemeliharaan. Selain itu, juga perlu adanya pemantauan berkala dan manajemen stok yang tepat agar beras tetap layak dikonsumsi.
Di samping itu, Eliza menilai meski ada penyemprotan untuk mencegah kutu dan jamur, tindakan ini tidak dapat menjangkau seluruh tumpukan beras, sehingga tata letak gudang perlu diatur ulang agar sirkulasi setiap karung beras baik, kualitas tetap terjaga, dan distribusi lebih mudah.
Pasalnya, sambung dia, jika beras menumpuk terlalu lama disimpan di gudang, maka akan mengalami penurunan mutu dan tidak layak dikonsumsi manusia. Adapun jika beras rusak, alternatif yang bisa dilakukan adalah mengalihkannya menjadi pakan ternak, sehingga kerugian anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) bisa diminimalkan.
Di sisi lain, Eliza menyatakan stok beras tinggi tidak menjadi masalah selama penyaluran dilakukan masif. Saat ini, dari total 3,9 juta ton, 3,2 juta ton merupakan penyerapan dalam negeri, sedangkan sisanya adalah limpahan stok tahun sebelumnya.
Komposisi CBP sempat didominasi beras impor dengan pasokan mencapai 80%, tetapi beras produksi dalam negeri kini berkontribusi 100% pada stok yang dikelola pemerintah. Selain itu, harga pembelian gabah kini dibanderol Rp6.500 per kilogram.
Kendati demikian, Eliza menyoroti beberapa hambatan dalam pendistribusian beras.Pertama, kemasan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) 5 kilogram dinilai terlalu berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga pemerintah perlu menyediakan kemasan lebih kecil, sekitar 1 kilogram.
Kedua, digitalisasi penebusan melalui aplikasi klik SPHP juga belum merata di kalangan pedagang, sehingga perlu transisi bertahap, pelatihan, pendampingan, dan mekanisme manual.Ketiga, penyaluran berbasis mobil keliling menjadi alternatif untuk mendekati titik-titik masyarakat menengah ke bawah yang belanja harian.
Untuk itu, dia menekankan pentingnya sistemfirst in, first out(FiFo), pemantauan berkala, dan prioritas penyaluran beras yang sudah lama tersimpan.
Adapun untuk jangka menengah, Core menyarankan adanya revitalisasi gudang Bulog agar beras bisa disimpan lebih lama tanpa menurunkan kualitas, dengan melibatkan perguruan tinggi dalam desain gudang yang efisien.
Menurutnya, jika gudang kurang memadai dan distribusi tidak optimal, maka mutu beras cepat rusak dan berdampak pada kerugian anggaran negara.
Apalagi, dia menambahkan, realisasi SPHP yang baru mencapai 552.000 ton dan bantuan pangan baru 364.000 ton. Alhasil, stok beras masih menumpuk di gudang.
Eliza mengingatkan, jika penyaluran tidak optimal, pemerintah akan kesulitan menyerap gabah petani saat panen berikutnya. Imbasnya, harga gabah di petani bisa anjlok.
“Kalau mau mendukung petani, tidak cukup hanya menyerap gabah, sementara penyalurannya tersumbat,” tuturnya.
Produksi Beras Melonjak
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan potensi produksi beras dalam negeri akan melimpah dan mencapai 34,77 juta ton sepanjang Januari–Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan perkiraan produksi beras dalam negeri yang melimpah itu sejalan dengan potensi produksi berassubroundIII, yaitu di September–Desember 2025 yang akan mencapai 9,50 juta ton.
Sepanjang September–Desember 2025, BPS memperkirakan produksi beras bakal meningkat sebanyak 0,76 juta ton atau 8,73% dibandingkan dengan periode yang sama 2024 yang sebanyak 8,74 juta ton beras.
“Potensi produksi beras sepanjang Januari–Desember 2025 diperkirakan akan mencapai 34,77 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 4,15 juta ton atau 13,54% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 [sebanyak 30,62 juta ton beras],” ujar Pudji dalam Rilis BPS, Senin (3/11/2025).
Dia menuturkan, peningkatan potensi produksi beras sepanjang Januari–Desember 2025 itu utamanya disumbang oleh peningkatan padasubroundI, yaitu pada Januari—April 2025 yang meningkat sebesar 26,54% menjadi 14,01 juta ton.
Adapun, potensi produksi 34,77 juta ton beras hingga akhir 2025 itu sejalan dengan potensi luas panen padi subround III yang mencapai 3,04 juta hektare. Luasnya mengalami peningkatan seluas 0,27 juta hektare atau 9,77% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Dengan begitu, potensi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 diperkirakan akan mencapai 11,35 juta hektare atau mengalami peningkatan seluas 1,30 juta hektare atau 12,98% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.
BPS mencatat, peningkatan potensi luas panen Januari–Desember 2025 ini utamanya disumbang oleh peningkatan luas panen pada subround I yang meningkat sebesar 25,82%.
Namun, angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang Oktober–Desember 2025, seperti serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun waktu pelaksanaan panen oleh petani.