Bisnis.com, JAKARTA — Influenza A menjadi salah satu flu musiman yang paling sering menyerang dan menyebar cepat di masyarakat, sementara berbagai fakta menunjukkan penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi serius sehingga tidak bisa dianggap sepele.
Dilansir dari World Health Organization (WHO), influenza musiman terjadi di seluruh dunia dengan perkiraan sekitar satu miliar kasus setiap tahun, di mana 3-5 juta kasus tergolong berat dan menyebabkan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat gangguan pernapasan. Angka tersebut menunjukkan besarnya beban penyakit ini secara global dan menjadi alasan mengapa influenza terus menjadi perhatian kesehatan dunia.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa influenza A merupakan salah satu virus utama penyebab flu musiman yang terus mengalami perubahan genetik. Kondisi ini membuat virus tetap mampu menginfeksi manusia setiap tahun meskipun seseorang sebelumnya pernah terpapar, sehingga risiko penularannya tidak pernah benar-benar hilang.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut situasi influenza A(H3N2) subclade K hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena varian ini telah menyebar ke lebih dari 80 negara dan menjadi bagian dari dinamika global influenza yang terus berkembang.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa gejala influenza A secara umum tidak jauh berbeda dengan flu biasa.
“Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya dalam pernyataan resmi, dikutip Senin (20/4/2026).
Gejala tersebut biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat disertai kelelahan berlebihan hingga gangguan pencernaan seperti muntah dan diare pada sebagian kasus. Kondisi ini kemudian membuat influenza kerap dianggap ringan, padahal pada kelompok tertentu bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Dalam klasifikasinya, influenza A termasuk dalam empat tipe virus influenza, yaitu A, B, C, dan D, namun tipe A dan B yang paling sering menyebabkan wabah pada manusia. Di antara keduanya, tipe A dikenal paling berisiko karena memiliki kemampuan bermutasi tinggi sehingga dapat menyebar luas dan dalam kondisi tertentu memicu pandemi.
Penyebaran virus ini terjadi dengan sangat cepat melalui droplet atau percikan saat seseorang batuk atau bersin, sehingga mudah menular terutama di lingkungan padat. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui tangan atau benda yang terkontaminasi virus, sehingga kebersihan menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan.
Masa inkubasi influenza berkisar antara 1 hingga 4 hari setelah seseorang terinfeksi, dengan gejala yang muncul secara tiba-tiba dan berlangsung sekitar satu minggu. Meski begitu, beberapa gejala seperti batuk dapat bertahan lebih lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sebagian besar orang dapat pulih tanpa perawatan khusus, tetapi influenza tetap berisiko bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak di bawah usia lima tahun, lansia, serta penderita penyakit kronis. Pada kelompok ini, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia hingga kondisi yang mengancam jiwa.
Selain itu, tenaga kesehatan juga termasuk kelompok yang rentan karena memiliki risiko tinggi terpapar virus dari pasien. Oleh karena itu, upaya pencegahan seperti vaksinasi menjadi penting tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk mencegah penularan ke orang lain.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kemenkes, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi hingga akhir 2025. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak, dengan wilayah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Dilansir dari CDC, vaksinasi influenza tahunan menjadi langkah paling efektif untuk mencegah infeksi serta mengurangi risiko komplikasi serius. Selain itu, vaksin juga terbukti dapat menurunkan angka rawat inap dan kematian akibat influenza setiap tahunnya.
Jika seseorang terinfeksi influenza, penanganan umumnya dilakukan dengan istirahat cukup dan menjaga asupan cairan agar tubuh dapat pulih dengan optimal. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat antivirus untuk mempercepat pemulihan dan menekan risiko komplikasi.
CDC juga menegaskan bahwa obat antivirus bekerja paling efektif jika diberikan dalam waktu dua hari sejak gejala muncul. Meski demikian, penggunaannya tetap harus sesuai dengan anjuran tenaga medis agar memberikan manfaat maksimal.
Masyarakat juga dihimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu guna mencegah penularan ke orang lain. Langkah sederhana ini dinilai efektif dalam memutus rantai penyebaran virus di lingkungan sekitar, terutama di area dengan mobilitas tinggi.
*Langkah Pencegahan Influenza A*
Untuk mengurangi risiko penyebaran influenza A, diperlukan langkah pencegahan yang dilakukan secara rutin dan disiplin, terutama ketika kasus flu sedang meningkat di masyarakat.
Berikut langkah pencegahan influenza yang dapat dilakukan:
- Melakukan vaksinasi influenza setiap tahun
- Mencuci tangan secara rutin dengan sabun atau hand sanitizer
- Menggunakan masker, terutama saat sedang sakit
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
- Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
- Menjaga kualitas udara dengan ventilasi yang baik
- Menghindari menyentuh wajah sebelum mencuci tangan