Bisnis.com, JAKARTA – Implementasi program mandatori biodiesel B50 resmi dimulai pada Rabu (1/7/2026). Ini menandai langkah baru pemerintah dalam memperkuat hilirisasi industri kelapa sawit sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.
Program B50 diperkirakan akan menyerap sekitar 16 juta ton minyak sawit per tahun. Kebutuhan tersebut diharapkan menjadi penopang permintaan domestik yang mampu menjaga kinerja industri sawit di tengah dinamika pasar global.
Di sisi lain, peningkatan konsumsi dalam negeri juga menjadi peluang untuk memperkuat nilai tambah komoditas sawit melalui hilirisasi.
Sejalan dengan itu, produksi biodiesel nasional terus menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, produksi biodiesel Indonesia mencapai 15,65 juta ton, naik signifikan dibandingkan 8,59 juta ton pada 2020. Peningkatan kapasitas tersebut menjadi modal penting dalam mendukung implementasi B50 secara penuh di seluruh Indonesia.
Selain mendukung ketahanan energi, program biodiesel juga memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar.
Sepanjang 2025, implementasi biodiesel tercatat mampu menghemat devisa hingga Rp132,81 triliun, meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO), menyerap sekitar 1,86 juta tenaga kerja, serta menekan emisi gas rumah kaca hingga 39,66 juta ton CO₂.
Meski demikian, implementasi B50 juga menghadirkan tantangan bagi industri sawit nasional. Peningkatan kebutuhan bahan baku berpotensi memperketat pasokan di tengah pertumbuhan produksi sawit yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca selengkapnya melalui epaper.bisnis.com