Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan asuransi yang memasarkan produk asuransi kendaraan bermotor didorong untuk mampu bersaing dalam harga, relevan dengan kebutuhan pasar, dan tetap menjaga profitabilitas.
Pengamat asuransi Dedi Kristianto berpendapat demikian lantaran ada sederet tantangan yang akan dihadapi perusahaan dalam memasarkan asuransi kendaraan bermotor pada 2026.
Dia membeberkan tantangan-tantangan itu mencakup permintaan melemah akibat penjualan kendaraan dan daya beli yang turun, persaingan harga yang ketat, dan nasabah sangat sensitif terhadap premi.
“Selain itu, adanya ketergantungan pada leasing karena segmen non-leasing belum optimal. Kemudian, literasi asuransi rendah, proteksi masih dianggap beban biaya, tekanan biaya klaim dan tuntunan digitalisasi yang menggerus margin,” bebernya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (3/3/2026).
Untuk menghadapi hal itu dan mendongkrak premi asuransi kendaraan bermotor, Dedi menyarankan perusahaan mendiversifikasi kanal distribusi, mengoptimalkan cross-selling dan renewal, inovasi produk dan pricing fleksibel, dan memperbaiki loss ratio.
“Intinya, pertumbuhan premi harus berbasis ekspansi distribusi dan pengelolaan risiko yang lebih presisi, bukan semata menunggu kenaikan penjualan kendaraan baru,” tegasnya.
Untuk diketahui, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat sepanjang 2025 pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor turun 4,2% (year on year/YoY) menjadi Rp19,01 triliun. Sementara itu, klaim juga turun 2,4% (YoY) menjadi Rp7,52 triliun.
Dedi menilai penurunan pendapatan premi dan klaim tidak lepas dari kombinasi faktor makro, industri, dan perilaku konsumen yang saling terikat. Misalnya, penjualan kendaraan baru melemah, sehingga bisnis baru dari leasing ikut turun. Kemudian, daya beli tertekan membuat nasabah menurunkan cakupan atau tidak memperpanjang polis.
Sementara itu untuk klaim, mobilitas lebih rendah membuat frekuensi kecelakaan dan klaim menurun, serta underwriting lebih selektif dan fraudcontrol lebih kuat membuat klaim lebih terkendali.
“Secara keseluruhan, ini mencerminkan kombinasi perlambatan ekonomi dan perbaikan manajemen risiko. Premi tertekan, tetapi klaim yang turun bisa membantu menjaga profitabilitas,” tutur Dedi.
Oleh karena itu, dia memperkirakan lini kendaraan bermotor akan tumbuh moderat (single digit) pada 2026, seiring stabilnya ekonomi dan penjualan kendaraan. Menurutnya, klaim kemungkinan akan tetap terkendali meski biaya per klaim bisa naik karena inflasi spare part kendaraan.
“Lini ini masih akan menjadi salah satu kontributor terbesar asuransi umum, karena bersifat mass market dan renewal tahunan. Namun, pertumbuhannya tidak akan agresif dan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi serta disiplin manajemen risiko,” ujarnya.