Bisnis.com, JAKARTA — Prospek pasar obligasi korporasi diperkirakan tetap bergairah pada paruh kedua 2026 di tengah tren suku bunga tinggi yang mengerek biaya pendanaan.
Nilai surat utang yang akan jatuh tempo mencapai Rp107,5 triliun diperkirakan menjadi katalis utama meningkatnya aksi refinancing emiten.
Data Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo pada semester II/2026 mencapai Rp107,5 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan semester I/2026 yang sebesar Rp55,2 triliun.
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengatakan besarnya nilai jatuh tempo tersebut akan menjaga aktivitas penerbitan obligasi korporasi hingga akhir tahun, meskipun biaya pendanaan terus meningkat.
"Tingginya surat utang jatuh tempo akan meningkatkan peluang refinancing di semester kedua dan menjaga soliditas penerbitan pada tahun ini," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (28/6/2026).
Menurut Suhindarto, kenaikan yield surat utang negara (SBN) acuan berpotensi mengubah strategi penerbitan emiten. Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun telah mencapai 7,24%, meningkat dibandingkan 6,11% pada Januari 2026 maupun 6,62% pada Juli 2025.
Dengan biaya dana yang semakin mahal, perusahaan diperkirakan akan menyesuaikan strategi pendanaan melalui pengurangan nilai emisi, pemendekan tenor obligasi, hingga menunda atau membatalkan penerbitan apabila kebutuhan dana tidak mendesak.
"Namun jika memang emiten memiliki alternatif sumber pendanaan atau tidak memiliki keperluan mendesak untuk mendapatkan dana melalui pasar surat utang korporasi, mereka akan cenderung melakukan penundaan atau bahkan sampai membatalkan rencana penerbitan mereka," katanya.
Sebaliknya, emiten yang membutuhkan dana untuk refinancing maupun ekspansi tetap diperkirakan akan masuk ke pasar meski harus menerima biaya pendanaan yang lebih tinggi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat (26/6), sebanyak 71 emisi dari 43 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) telah menghimpun dana Rp76,09 triliun sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, masih terdapat 48 emisi dari 33 penerbit yang berada dalam pipeline penerbitan.
Dari sisi sektoral, mengutip data Pefindo, perusahaan multifinance masih menjadi penerbit terbesar dengan nilai emisi Rp12,93 triliun sepanjang 2026.
Selanjutnya disusul sektor pertambangan sebesar Rp11,50 triliun, perbankan Rp11,14 triliun, perusahaan induk Rp10,57 triliun, serta industri pulp dan kertas Rp8,24 triliun. Adapun sektor lembaga keuangan khusus mencatat nilai penerbitan paling kecil, yakni Rp2,96 triliun.
Suhindarto menilai kinerja penerbitan sepanjang Januari—Mei yang telah tumbuh 30,26% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi modal yang cukup kuat untuk menjaga total penerbitan sepanjang 2026.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando. Menurutnya, kenaikan yield memang membuat emiten lebih selektif dalam menerbitkan surat utang, tetapi tidak mengurangi kebutuhan perusahaan yang harus melakukan refinancing maupun membiayai ekspansi.
"Hal ini tercermin dari aktivitas penerbitan obligasi korporasi yang masih cukup tinggi yaitu sekitar Rp75 triliun sepanjang tahun 2026," katanya kepada Bisnis.
Salvian menilai prospek pasar obligasi korporasi pada semester II tetap positif karena didukung tingginya kebutuhan pendanaan korporasi serta permintaan investor institusi domestik yang masih kuat untuk penempatan dana jangka panjang.
Selain itu, fundamental korporasi Indonesia yang relatif terjaga dinilai masih mampu mempertahankan kepercayaan investor terhadap surat utang korporasi.
Menurutnya, kenaikan suku bunga justru membuat obligasi korporasi semakin menarik bagi investor institusi karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan SBN.
Kondisi tersebut juga membuka peluang bagi investor yang ingin melakukan reinvestasi pada instrumen pendapatan tetap dengan tingkat kupon yang lebih menarik.