Bisnis.com, JAKARTA — Para orang tua diminta waspada terhadap kasus campak yang kini merebak di sejumlah wilayah jelang libur Hari Raya Idulfitri. Pasalnya, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi kesehatan serius, bahkan menyebabkan kematian.
Hingga minggu ke-8 awal tahun ini, Kementerian Kesehatan mencatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan 6 kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Dokter Spesialis Anak di Eka Hospital Cibubur dr. Meisy Grania Amalinda Salekede mengatakan, kewaspadaan orang tua penting karena campak dapat menimbulkan gejala berat, terutama pada anak yang belum memiliki kekebalan tubuh yang cukup.
Dia menjelaskan, gejala campak pada awalnya sering kali menyerupai flu biasa, sehingga kerap tidak langsung disadari oleh orang tua. Namun, penyakit ini memiliki pola gejala yang cukup khas.
Gejala awal yang paling umum adalah demam tinggi di atas 38 derajat Celsius dan dapat berlangsung selama empat hingga tujuh hari. Bahkan pasien yang ditanganinya mengalami demam tinggi selama 10 hari.
“Ini adalah gejala awal yang paling mencolok. Anak akan mengalami demam tinggi terus-menerus di atas 38°C selama kurang lebih 4 hingga 7 hari,” ujarnya dikutip Bisnis, Selasa (10/3/2026).
Kondisi demam biasanya diikuti batuk, pilek, serta mata merah atau konjungtivitis yang sensitif terhadap cahaya. Pada sebagian kasus, anak juga dapat mengalami diare.
Setelah beberapa hari demam, biasanya muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan leher, sering kali diawali dari area belakang telinga. Ruam tersebut kemudian menyebar ke seluruh tubuh hingga tangan dan kaki.
“Ruam biasanya bertahan sekitar tujuh hari. Uniknya, saat ruam mulai mereda, warnanya akan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) sebelum akhirnya mengelupas dan hilang,” tutur Meisy.
Jangan dianggap sepele, campak katanya dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat atau terjadi pada anak dengan kondisi imun lemah. Beberapa komplikasi yang dapat muncul antara lain pneumonia atau infeksi paru-paru yang menjadi penyebab kematian paling umum pada kasus campak.
“Penyakit ini juga berpotensi menimbulkan ensefalitis atau radang selaput otak. Komplikasi ini menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen,” jelasnya.
Campak juga dapat memicu diare berat yang berisiko menyebabkan dehidrasi akut pada balita. Dalam kondisi tertentu, komplikasi tersebut bahkan dapat berujung pada kegagalan organ dan kematian.
Bicara penyebab, Meisy menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dari famili Paramyxovirus. Virus ini menular dengan sangat mudah melalui droplet atau percikan air liur saat penderita batuk maupun bersin, serta melalui udara di ruangan tertutup.
Virus campak bisa bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa jam, sehingga anak-anak yang berada di ruangan yang sama dengan penderita sangat berisiko tertular jika belum memiliki kekebalan tubuh yang cukup.
HIngga saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk campak, sehingga langkah pencegahan menjadi sangat penting. Cara paling efektif menurut Meisy adalah melalui imunisasi sesuai jadwal yang ditetapkan oleh pemerintah dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Imunisasi campak pertama diberikan pada usia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan booster pada usia 18 bulan. Vaksinasi juga diberikan kembali melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) ketika anak memasuki usia sekolah dasar, sekitar 7 hingga 8 tahun.
Selain itu, orang tua juga disarankan memantau kondisi anak selama dan setelah infeksi, terutama karena campak dapat menyerang sistem saraf. “Jika Anda menemukan gejala mencurigakan atau ingin memastikan status perlindungan imunisasi anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahlinya,” tegas Meisy.