Menjelang Iduladha, bisnis hewan kurban ramai dengan fokus pada kualitas dan kepercayaan pelanggan. Pedagang seperti Ridwan dan Firman menjaga kualitas ternak dan menawarkan layanan tambahan untuk men [672] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Menjelang Iduladha, lapak penjualan hewan kurban mulai bermunculan di berbagai sudut kota. Dari pinggir jalan hingga lahan kosong di kawasan permukiman, para pedagang mulai mendatangkan sapi dan domba untuk memenuhi permintaan masyarakat yang meningkat setiap tahun.
Di balik ramainya musim kurban, para pelaku usaha mengaku bisnis ini bukan sekadar soal jual beli hewan, tetapi juga soal menjaga kualitas ternak, membangun kepercayaan pelanggan, hingga menghadapi persaingan harga yang semakin ketat.
Muhamad Ridwan Rizky Nugroho (26), pemilik Ridwan Farm, menjadi salah satu penjual hewan kurban yang rutin membuka lapak setiap musim Iduladha. Tahun ini, ia menyewa lapak di kawasan Cawang, Jakarta Timur, dan Ciputat, Tangerang Selatan.
Ridwan mengatakan usaha kurban keluarganya sebenarnya sudah berjalan sejak 2015. Namun, aktivitas jual beli hewan secara lebih serius baru mulai dikembangkan pada 2025. Ia menjual domba dan sapi lokal yang didatangkan dari Sumedang dan sekitarnya.
“Hewan biasanya baru kami kirim sekitar dua minggu sebelum Iduladha untuk display di Jakarta. Sebelumnya perawatan memang sudah dilakukan peternak di daerah asal,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Menurut Ridwan, menjaga kondisi hewan menjadi hal paling penting menjelang musim kurban. Ia rutin memastikan jadwal pakan, pemberian vitamin, hingga kondisi kandang agar hewan tidak mudah stres sebelum disembelih.
Selain itu, ia juga cukup selektif memilih peternak yang menjadi mitra pemasok ternak. Baginya, kualitas hewan menjadi faktor utama agar pelanggan kembali membeli setiap tahun.
Di Ridwan Farm, harga domba dijual mulai Rp3,8 juta hingga Rp4,3 juta per ekor. Sementara sapi lokal dipasarkan di kisaran Rp26 juta sampai Rp28 juta tergantung ukuran dan bobot.
Pada musim kurban tahun lalu, Ridwan mengaku mampu menjual sekitar 70 ekor domba dan dua ekor sapi. Meski persaingan antarlapak cukup ramai, ia tetap optimistis usahanya bisa bertahan.
“Kalau soal persaingan pasti ada, tapi yang penting tetap jaga kualitas dan pelayanan. Rezeki sudah ada yang atur,” katanya.
Muhamad Ridwan Rizky Nugroho (26) (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peternak di lapak Ridwan Farm, Ciputat, Tangerang Selatan./Dok. Istimewa
Hal serupa dirasakan Firmansyah (29), pemilik Althaf Qurban di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Berbeda dengan Ridwan, Firman memilih fokus menjual sapi lokal asal Bima, Nusa Tenggara Barat.
Ia mengatakan latar belakang keluarganya sebagai peternak sapi membuat dirinya lebih memahami pasar sapi kurban dibanding jenis hewan lain.
“Di Bima memang peternaknya banyak. Saya lihat potensinya besar kalau dibawa ke Jakarta karena pasarnya lebih luas,” ujarnya.
Firman mulai membuka lapak kurban pada 2023 setelah merantau ke Jakarta untuk mengembangkan usaha keluarga. Jenis sapi yang dijual terdiri dari sapi Bali atau Bima dan sapi Peranakan Ongole (PO), dengan sapi PO menjadi jenis yang paling banyak dicari pelanggan.
Harga jual sapi di lapaknya bervariasi mulai Rp20 juta hingga Rp50 juta tergantung ukuran dan bobot hewan.
Untuk menarik pembeli, Firman menawarkan sejumlah layanan tambahan seperti pengiriman gratis, pembayaran uang muka, hingga perawatan hewan tanpa biaya tambahan sampai hari penyembelihan. Ia juga memanfaatkan media sosial Instagram melalui akun @althaf.qurban untuk promosi dan penjualan.
Menurut Firman, menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak menjadi perhatian utama, terutama untuk mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat menjadi kekhawatiran para peternak dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam satu musim kurban, Althaf Qurban mampu menjual hampir 60 ekor sapi. Meski tren penjualan terus meningkat, ia mengaku risiko usaha tetap ada, mulai dari hewan sakit hingga stok yang belum terjual mendekati Iduladha.
Menariknya, Firman menilai persaingan antarpenjual hewan kurban di kawasan lapak justru berjalan cukup sehat. Para pedagang biasanya saling membantu jika ada pembeli yang mencari jenis sapi tertentu.
“Kalau ada yang cari sapi limosin biasanya saya arahkan ke lapak lain. Nanti kalau mereka cari sapi lokal, gantian diarahkan ke saya,” katanya.
Ke depan, Firman berencana menambah stok sapi dan membuka lapak di lokasi lain yang lebih ramai. Namun, ia mengaku tetap ingin fokus pada penjualan sapi lokal Bima yang dinilai lebih sesuai dengan kemampuan modal usahanya saat ini.
Pengalaman Ridwan dan Firman menunjukkan bahwa bisnis hewan kurban bukan hanya usaha musiman yang mengandalkan momen Iduladha.
Di balik ramainya penjualan, ada proses panjang menjaga kualitas ternak, membangun relasi dengan pelanggan, hingga mempertahankan kepercayaan di tengah persaingan pasar yang semakin ramai.
Ribuan sapi dari NTB dikirim ke Jawa jelang Iduladha 2026. Pemprov NTB bentuk Satgas dan atur distribusi untuk kelancaran pengiriman melalui Pelabuhan Gili Mas. [320] url asal
Bisnis.com, MATARAM – Ribuan sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai dikirim ke luar daerah jelang Iduladha 2026.
Sapi tersebut mayoritas berasal Kabupaten Bima dan Sumbawa, dikirim untuk memenuhi permintaan sapi di Pulau Jawa khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya. Setiap tahun NTB mengirim sekitar 20.000 sapi, yang dikirim melalui Pelabuhan Gili Mas, Lembar, Kabupaten Lombok Barat.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik menjelaskan untuk memastikan kelancaran distribusi, Pemprov NTB telah melakukan berbagai langkah strategis, antara lain membentuk Satuan Tugas (Satgas) Terpadu Lalu Lintas Hewan Kurban 2026 melalui Keputusan Gubernur NTB Nomor 100.3.3.1-127 Tahun 2026, yang melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, instansi vertikal, hingga asosiasi peternak.
Kemudian mengatur penerbitan rekomendasi, izin, dan sertifikat veteriner secara terjadwal guna menghindari pengiriman bersamaan, menetapkan pembatasan jumlah pengiriman maksimal 20 truk/tronton per kabupaten/kota per hari, disesuaikan dengan jadwal kapal.
"Kami juga melakukan edukasi kepada peternak dan pelaku usaha agar menyesuaikan waktu pengiriman dengan ketersediaan kapal dan memastikan pelayanan lapangan, termasuk kesehatan hewan oleh dokter hewan serta penyediaan air minum melalui dukungan BPBD dan Karantina," jelas Aka, Kamis (16/4/2026).
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTB juga telah berupaya menambah kapasitas angkutan laut dengan bersurat kepada Kementerian Perhubungan RI untuk penambahan armada kapal melalui Pelabuhan Lembar/Gili Mas serta optimalisasi jalur tol laut melalui Pelabuhan Bima.
“Upaya tersebut terus kami dorong, meskipun hingga saat ini penambahan armada belum sepenuhnya optimal. Namun demikian, pengaturan di daerah tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Aka menegaskan bahwa secara keseluruhan, distribusi ternak tahun ini berlangsung aman dan terkendali, serta tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap peternak. Menurutnya, tantangan utama selama ini bukan pada tata kelola di daerah, melainkan keterbatasan moda transportasi laut, khususnya kapal pengangkut truk dan tronton.
“Isu penumpukan di pelabuhan sebenarnya merupakan persoalan yang hampir terjadi setiap tahun. Namun pada 2026 ini, pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif sejak awal untuk meminimalkan hal tersebut,” ujarnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56