Bisnis.com, JAKARTA - Asma sering dikenal sebagai penyakit yang kambuh saat udara dingin, debu, atau aktivitas berat. Namun bagi sebagian remaja, pemicunya tidak selalu terlihat.
Tak jarang serangan itu muncul setelah ejekan teman di sekolah, tekanan sosial, atau rasa takut yang menumpuk. Sesuatu yang masih sering dianggap sepele yaitu bullying ternyata bisa memicu eksaserbasi asma yang serius.
Menurut buku pedoman dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), asma didefinisikan sebagai penyakit heterogen yang biasanya memiliki karakteristik inflamasi (radang) kronik saluran napas. Ditandai dengan gejala pernapasan seperti mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang bervariasi dalam hal waktu dan intensitas, disertai variasi hambatan aliran udara ekspirasi.
Gejala asma bisa muncul tiba-tiba, dan meskipun bersifat reversible (membaik dengan pemberian nebulasi), serangannya tetap dapat mengganggu aktivitas harian remaja, dan ada satu pemicu yang jarang disadari oleh banyak orang: stres emosional.
Stres: Pemicu yang Tak Terlihat, Tapi Nyata
dr Spesialis Paru, Dr. dr. Astari Pranindya Sari, MSc, SpP mengatakan stres adalah respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tuntutan atau tekanan internal maupun eksternal yang dianggap melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Saat seseorang mengalami stres (misalnya stress emosional akibat bullying), tubuh masuk ke mode “siaga”.
Sistem saraf dan hormon stress menjadi aktif. Kondisi ini melibatkan aktivasi sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal) yang bertanggung jawab mengatur respons tubuh terhadap stres dan pelepasan “hormon stress” seperti adrenalin dan kortisol.
Pada penderita asma, mekanisme ini dapat memperparah peradangan dan mempersempit saluran napas. Hasilnya: serangan asma yang muncul setelah kejadian emosional berat. Makin sering stress emosi terjadi, maka makin sering pula kekambuhan yang dialaminya.
Dia mengatakan penelitian menunjukkan bahwa: Stres dapat mengubah respons imun dan memperparah inflamasi saluran napas; remaja dengan stres berkepanjangan memiliki kontrol asma yang lebih buruk dan frekuensi kekambuhan lebih tinggi; pada anak dan remaja, stres juga terhubung dengan penurunan fungsi paru (misalnya penurunan FEV1). Dengan kata lain, stres bukan hanya “perasaan”, tetapi juga berdampak biologis langsung pada tubuh.
Dalam literatur psikiatri, bullying didefinisikan sebagai perilaku agresif berulang yang dilakukan dengan tujuan menyakiti (secara fisik, verbal, atau psikologis) di mana terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban, misalnya pelaku lebih kuat secara fisik, lebih populer, lebih dominan, atau memiliki dukungan sosial lebih besar.
Bullying dapat berupa kekerasan fisik, penghinaan, pengucilan sosial, penyebaran rumor, hingga intimidasi digital (cyberbullying) atau ejekan yang dianggap lucu oleh pelakunya. Bagi korban, tiap kata bisa memicu kecemasan yang menggerogoti ketenangan hati, menaikkan jumlah denyut nadi per menit dan mengaktifkan sumbu HPA sehingga hormon stress dalam tubuh pun dihasilkan dalam jumlah berlebihan.
Remaja yang mengalami bullying sering hidup dalam kondisi waspada terus-menerus. Mirip seperti seseorang yang mengalami kondisi peperangan, tidak tahu satu menit kedepan akan menghadapi bahaya apa. Kondisi inilah yang memicu respons stres berkepanjangan dan bagi penderita asma, respons ini bisa menjadi pemantik serangan. Tidak heran bila beberapa remaja “tiba-tiba” sesak setelah insiden tertentu, meski sebelumnya tampak baik-baik saja.
Yang menyedihkan, banyak remaja memilih diam. Mereka takut dianggap “baper”, “lemah”, yang justru dapat membuat pelaku makin berani. Akibatnya, tubuh mereka menanggung beban yang tidak semestinya mereka pikul seorang diri.
Pencegahan Proaktif
Mengatasi kekambuhan asma yang dipicu bullying tidak cukup hanya dengan menyediakan inhaler atau obat pengontrol. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang aman bagi manusianya. Hal tersebut impleementasinya bisa seperti peran pihak sekolah yang secara tegas membangun budaya anti-bullying yang konsisten, menyediakan layanan konseling yang mudah dijangkau, mengedukasi siswa bahwa kesehatan mental dan fisik saling berhubungan.
Teman sebaya juga memegang peran besar. Sering kali, bagi korban bullying, ada satu orang saja yang mau membela bisa menjadi kekuatan baginya sekaligus alasan dia merasa aman. Dan bagi remaja dengan asma, rasa aman itu bukan hanya soal perasaan tetapi soal napas.
Ada satu hal penting yang sering luput dalam pembahasan bullying: kita terlalu sering bergerak setelah luka terjadi. Padahal, sekolah memiliki peluang besar untuk mencegah insiden bullying jauh sebelum bentuk agresinya muncul. Caranya adalah dengan mengenali dinamika sosial siswa secara personal seperti bagaimana mereka berinteraksi, siapa yang cenderung dominan, siapa yang lebih pendiam, siapa yang tengah mengalami tekanan emosional, dan siapa yang menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok. Bapak dan ibu wali kelas akan dengan mudah membaca situasi ini bila pengataman beliau jeli.
Pendekatan ini bukan untuk memberi label “calon pelaku” atau “calon korban”, tetapi untuk membaca tanda-tanda risiko sejak dini. Dalam psikologi perkembangan dan psikiatri anak, kecenderungan agresif, impulsivitas, kesulitan mengatur emosi, atau riwayat kekerasan domestik dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak melakukan perundungan. Sebaliknya, anak yang cenderung menarik diri, memiliki harga diri rendah, atau minim dukungan sosial lebih rentan menjadi korban.
Ketika guru dan petugas sekolah jeli mengamati tanda-tanda tersebut, mereka dapat melakukan intervensi preventif: konseling emosional, mediasi pertemanan, peningkatan keterampilan sosial, hingga komunikasi dengan orang tua. Dengan kata lain, sekolah bukan hanya tempat meredakan masalah, tetapi tempat mencegah badai terjadi.
Bullying dan asma mungkin terlihat seperti dua isu yang berbeda. Namun kenyataannya, banyak remaja hidup di persimpangan keduanya: luka emosional yang memicu gangguan fisik. Ketika kita membantu menghentikan bullying, kita bukan hanya menyelamatkan perasaan seseorang tetapi juga menjaga kesehatannya. Dalam arti yang paling harfiah kita membantu mereka bernapas lebih lega. Karena setiap remaja berhak untuk hidup tanpa rasa takut. Setiap remaja berhak untuk bernapas dengan nyaman.