Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung (Sumsel Babel) mencatat realisasi serapan gabah dan beras petani mencapai 99.466 ton ... [345] url asal
Keberhasilan serapan ini bukan hanya angka, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani dan komitmen bersama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional
Palembang (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung (Sumsel Babel) mencatat realisasi serapan gabah dan beras petani mencapai 99.466 ton setara beras hingga awal Juni 2026 guna mendukung pengadaan pangan nasional dan memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel Ihsan di Palembang, Kamis, mengatakan capaian tersebut menunjukkan komitmen Bulog dalam menyerap hasil panen petani secara optimal sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
"Realisasi serapan sebesar 99.466 ton setara beras di wilayah kerja Kanwil Sumsel Babel menunjukkan komitmen kami untuk terus hadir di tengah petani, memastikan hasil panen terserap secara optimal, dan mendukung penguatan ketahanan pangan nasional," katanya.
Menurut dia, keberhasilan serapan gabah dan beras tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak, mulai dari petani, pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, hingga pelaku usaha penggilingan padi yang berperan dalam mendukung kelancaran pengadaan pangan.
Capaian tersebut juga menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga harga gabah petani melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram sehingga memberikan kepastian pasar bagi petani.
Secara nasional, realisasi serapan gabah dan beras petani yang dilakukan Bulog hingga 3 Juni 2026 telah mencapai 3.008.626 ton setara beras atau sekitar 75 persen dari target pengadaan nasional sebesar 4 juta ton pada tahun ini.
Hal itu juga turut berdampak pada penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah yang saat ini berada pada level tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional. Stok beras yang dikelola Bulog secara nasional telah melampaui 5 juta ton sehingga mampu mendukung berbagai kebutuhan pemerintah, mulai dari stabilisasi harga, penyaluran bantuan pangan, hingga antisipasi bencana dan gejolak pasar.
Bulog optimistis target pengadaan 4 juta ton setara beras pada 2026 dapat tercapai bahkan sebelum akhir tahun karena musim panen masih berlangsung di sejumlah daerah sentra produksi.
"Keberhasilan serapan ini bukan hanya angka, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani dan komitmen bersama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional," kata Ihsan.
Realisasi serapan gabah petani oleh Perum Bulog Jatim hingga tanggal 3 Juni mencapai 787.800 ton atau 89,13 persen dari target yang ditetapkan sebesar 883.912 ... [272] url asal
komitmen kami untuk terus hadir di tengah petani, memastikan hasil panen terserap secara optimal
Surabaya (ANTARA) - Realisasi serapan gabah petani oleh Perum Bulog Jatim hingga tanggal 3 Juni mencapai 787.800 ton atau 89,13 persen dari target yang ditetapkan sebesar 883.912 ton setara beras.
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Jawa Timur Langgeng Wisnu dalam keterangannya di Surabaya, Rabu mengatakan capaian serapan gabah-beras petani oleh Perum Bulog tersebut merupakan bagian dari kontribusi Kanwil Jawa Timur sebesar 26 persen dalam mendukung keberhasilan pengadaan gabah dan beras nasional serta penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
"Realisasi serapan sebesar787.800 ton setara beras di wilayah kerja Jawa Timur menunjukkan komitmen kami untuk terus hadir di tengah petani, memastikan hasil panen terserap secara optimal, serta mendukung penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Ia mengatakan, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga harga gabah kering petani melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram berjalan efektif dan mampu memberikan kepastian pasar bagi petani di seluruh Indonesia.
Ia mengatakan, keberhasilan serapan ini juga berdampak langsung terhadap penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini berada pada level tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional.
Ia menjelaskan, capaian ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Indonesia semakin kokoh menuju kemandirian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan global, kata dia, Bulog hadir sebagai instrumen negara yang memastikan hasil kerja keras petani terserap secara optimal, kesejahteraan petani meningkat, dan kebutuhan pangan masyarakat tetap terjamin.
“Keberhasilan serapan ini bukan hanya angka, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani dan komitmen bersama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Keheningan malam mendadak pecah oleh gelak tawa beberapa orang yang tengah bersantai dan berbincang di sebuah rumah di Desa Terusan Mulya, Kecamatan Bataguh, ... [887] url asal
Karena kami petani tentu ingin harga beli yang baik. Kita ingin bekerja agar modal dapat kembali, serta tentu memberi keuntungan
Palangka Raya (ANTARA) - Keheningan malam mendadak pecah oleh gelak tawa beberapa orang yang tengah bersantai dan berbincang di sebuah rumah di Desa Terusan Mulya, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Namun, seiring waktu, obrolan santai itu perlahan berubah menjadi diskusi serius mengenai pemetaan wilayah pertanian yang telah memasuki masa panen.
Malam itu, Angga May Chandra bersama tim dari Bulog Kantor Cabang Kapuas bermalam di rumah salah seorang petani setempat. Rutinitas menginap di rumah mitra yang juga merupakan petani tersebut kerap mereka lakukan saat menjalankan tugas penyerapan gabah di lapangan.
“Menginap di kawasan pertanian Kapuas seperti di wilayah Terusan ini biasa kami lakukan agar penyerapan hasil panen bisa maksimal,” ujar Angga, yang menjabat sebagai Asisten Manajer Pengadaan dan Operasi Bulog Kantor Cabang Kapuas.
Menurut Angga, dalam satu kali kegiatan penyerapan gabah, tim biasanya menargetkan hingga sekitar 30 ton gabah, menyesuaikan kemampuan mitra penggilingan.
“Misalnya dalam sehari mampu menyerap sekitar 10 ton, berarti perlu waktu kurang lebih tiga hari hingga terkumpul 30 ton gabah,” katanya.
Dalam proses penyerapan, hasil panen tidak langsung diangkut lalu diolah begitu saja. Gabah terlebih dahulu melalui pemeriksaan kualitas sebelum masuk ke tahapan pengangkutan dari lokasi pertanian, pengeringan, penggilingan, penyortiran, hingga pengemasan. Setelah itu, barulah beras disimpan di gudang dan didistribusikan kepada masyarakat.
Untuk menjadi beras yang siap dimasak di meja makan, ada proses panjang yang harus dilalui agar hasil panen petani dapat diterima masyarakat dengan kualitas terbaik.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada rangkaian tahapan yang harus dijalani dengan penuh kesabaran oleh para petugas lapangan seperti Angga dan timnya dalam menjemput hasil panen petani.
Menjaga Harga
Sekitar awal Februari tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa harga gabah kering panen yang dibeli dari petani ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram dan tidak boleh berada di bawah angka tersebut.
Kebijakan itu disambut penuh harapan oleh para petani di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Tengah. Penetapan harga tersebut diharapkan mampu menjaga nilai jual hasil panen petani, sekaligus menekan praktik permainan harga yang kerap terjadi di lapangan.
Seiring dengan harapan itu, Bulog memikul tanggung jawab besar untuk memastikan harga pembelian Rp6.500 per kilogram benar-benar diterapkan dengan baik di tingkat petani.
Tugas tersebut tentu bukan hal mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil diwujudkan. Di balik kebijakan itu, ada tujuan besar yang ingin dicapai negara, yakni meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sejak kebijakan harga pembelian ditetapkan pemerintah pusat, Kantor Bulog Wilayah Kalimantan Tengah segera membentuk dua tim guna mengoptimalkan penyerapan gabah petani di berbagai daerah, termasuk Kapuas dan sekitarnya.
Tim pertama adalah tim jemput gabah yang bertugas melakukan penyerapan hasil panen sekaligus memastikan harga pembelian tetap berada di angka Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, tim kedua merupakan tim monitoring atau pengawasan pengolahan yang bertugas mengawal gabah hasil serapan hingga diproses menjadi beras.
Di sisi lain, Bulog juga terus mendorong para petani bersama penyuluh pertanian dan para pemangku kepentingan terkait untuk menjaga kualitas gabah yang dihasilkan agar dapat diolah menjadi beras dengan mutu yang baik.
Tim Bulog Kapuas saat meninjau hasil pertanian di wilayah Dadahup Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-Bulog)
Angga menyampaikan, sejak awal 2026 hingga Mei ini, upaya penyerapan hasil pertanian di wilayah Kapuas dan sekitarnya terus dilakukan secara optimal oleh pihaknya.
“Sepanjang Januari sampai Mei 2026, serapan sudah mencapai sekitar 3.050 ton gabah. Dari jumlah itu, sekitar 2.600 ton berasal dari wilayah Terusan,” ujarnya.
Ia menegaskan, sejak pemerintah menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, Bulog selalu melakukan pembelian sesuai ketentuan tersebut.
Menurut Angga, kebijakan itu juga membawa dampak positif di lapangan. Kini, para pengepul selain Bulog turut membeli gabah petani dengan harga yang lebih baik.
“Alhamdulillah tahun ini hampir tidak ada lagi harga pembelian yang jatuh. Rata-rata sudah di angka Rp6.500, bahkan ada yang mencapai Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram,” katanya.
Senyum Petani
Para petani di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Kapuas dan Kalimantan Tengah, menaruh harapan besar pada kebijakan penetapan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Bagi mereka, berbagai penegasan pemerintah mengenai upaya mewujudkan ketahanan pangan dengan menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas, dipandang sebagai bentuk keberpihakan negara kepada petani.
Karena itu, para petani berharap berbagai kebijakan dan kabar baik yang telah disampaikan tidak berhenti sebatas wacana, melainkan benar-benar diwujudkan secara nyata di lapangan.
Darmaya, salah seorang petani di wilayah Terusan, Kabupaten Kapuas, mengaku kebijakan penetapan harga beli gabah sebesar Rp6.500 per kilogram sejak Februari 2025 membawa banyak manfaat bagi petani.
Menurutnya, adanya jaminan harga tersebut membuat potensi anjloknya harga gabah oleh para pengepul dapat semakin diminimalkan.
"Karena kami petani tentu ingin harga beli yang baik. Kita ingin bekerja agar modal dapat kembali, serta tentu memberi keuntungan," ucapnya.
Ia pun berharap berbagai kebijakan yang berpihak kepada petani dapat terus berlanjut dan diimplementasikan dengan baik.
Tidak hanya soal harga, para petani juga berharap adanya peningkatan sarana dan prasarana pertanian, termasuk penguatan daya serap hasil panen, khususnya di Kalimantan Tengah. Dengan begitu, berapa pun hasil panen yang dihasilkan petani, kapan pun waktunya, dan di mana pun lokasinya, dapat terserap secara optimal.
Harga beli hasil panen yang baik bukan hanya menghadirkan senyum bagi para petani, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan pangan yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat dan masa depan bangsa.
Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) mengerahkan tim untuk menyerap gabah kering hasil panen petani di wilayah kerja saat libur Lebaran ... [237] url asal
Meski libur Lebaran, kami tetap mengerahkan tim untuk menyerap gabah dari petani
Medan (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) mengerahkan tim untuk menyerap gabah kering hasil panen petani di wilayah kerja saat libur Lebaran 2026.
“Meski libur Lebaran, kami tetap mengerahkan tim untuk menyerap gabah dari petani,” ujar Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut Budi Cahyanto di Medan, Minggu.
Budi mengatakan tim penyerapan gabah tersebut disiapkan untuk mengantisipasi petani yang ingin menjual hasil panen ke Bulog selama libur Lebaran 2026.
Saat ini, kata dia, gabah relatif cepat kering karena sebagian besar wilayah Sumut memasuki musim panas.
Untuk itu, Ia meminta petani agar tidak khawatir untuk menjual gabah ke Bulog selama libur Lebaran 2026 karena penyerapan tetap dilakukan.
“Kami mengimbau petani yang akan panen untuk menjual gabah ke Bulog dengan harga Rp6.400 per kilogram di tingkat petani, atau Rp6.700 per kilogram di tingkat penggilingan. Kami siap membeli,” katanya.
Budi menyebutkan hingga 18 Maret 2026, pihaknya telah menyerap sebanyak 12.242 ton gabah kering panen dari petani di Sumut.
“Dari total 12.242 ton gabah tersebut, jika dikonversikan menjadi beras setara sekitar 6.121 ton,” ujarnya.
Penyerapan gabah kering panen itu berasal dari sejumlah daerah di Sumut, antara lain Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Batu Bara.
Ia menambahkan penyerapan terbesar berasal dari wilayah Langkat, Deli Serdang dan Simalungun, Serdang Bedagai.
Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) menyerap 1.117 ton ton gabah kering panen (GKP) dari petani di wilayah tersebut sepanjang Januari ... [250] url asal
Kami telah melakukan penyerapan sebanyak 1.117 atau 558 ton setara beras di berbagai daerah di Sumut
Medan (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) menyerap 1.117 ton ton gabah kering panen (GKP) dari petani di wilayah tersebut sepanjang Januari 2026.
"Kami telah melakukan penyerapan sebanyak 1.117 atau 558 ton setara beras di berbagai daerah di Sumut," ujar Pemimpin Wilayah Bulog Sumut Budi Cahyanto di Medan, Rabu.
Budi mengatakan penyerapan GKP tersebut di Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Simalungun, Kaupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah.
Lebih lanjut, ia mengatakan penyerapan gabah dari petani pada awal Januari itu belum maksimal karena panen dari petani di wilayah tersebut masih sedikit.
"Diprediksi masa panen padi dengan puncak panen diperkirakan berlangsung pada Maret hingga Mei 2026," ucapnya.
Budi mengatakan pembelian harga GKP sesuai yang telah ditetapkan pemerintah Rp6.500 per kilogram dari petani yang sudah dikemas dalam karung dan siap di angkut ke penggilingan terdekat.
Ia menambahkan gabah yang dibeli dari petani nantinya digunakan untuk kepentingan masyarakat melalui program bantuan pangan, SPHP dan untuk bantuan beras jika terjadi bencana alam.
"Saya imbau para petani untuk segera memanen padi jika sudah tiba waktunya agar hasilnya maksimal," ucapnya
Bulog Sumut menargetkan menyerap sebanyak 62.718 ton gabah kering panen guna menjaga stabilitas harga di wilayah tersebut pada 2026.
Pihaknya mencatat pada 2025 serapan GKP di Sumut sebanyak 54.000 ton atau setara 27.000 ton beras, untuk menjaga stabilitas harga.
Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung menyatakan telah melakukan penyerapan gabah hasil panen petani di wilayah tersebut sebanyak 202.564 ton setara ... [244] url asal
Bandarlampung (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung menyatakan telah melakukan penyerapan gabah hasil panen petani di wilayah tersebut sebanyak 202.564 ton setara beras selama 2025.
"Selama 2025 jumlah serapan gabah mencapai 202.654 ton setara beras. Itu kami dapatkan dari petani, Gapoktan (Gabungan kelompok tani), dan dari mitra yang tersebar di Provinsi Lampung," ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung Rindo Safutra di Bandarlampung, Selasa.
Ia mengatakan penyerapan gabah yang dilakukan selama 2025 tersebut memiliki persentase 130 persen di atas target yang telah ditentukan.
"Jadi kantor pusat memberikan target serapan panen petani selama 2025 bagi Lampung sebanyak 155 ribu ton, dan ternyata serapan dapat melebihi hingga mencapai 202.564 ton," ucap dia.
Dia menjelaskan dengan adanya capaian serapan yang tinggi di 2025, pihaknya akan terus melakukan penyerapan gabah panen petani untuk mendukung program swasembada pangan pemerintah.
"Sedangkan untuk target serapan tahun ini bagi Lampung belum ditentukan secara resmi, karena belum ada penugasan. Namun target sementara secara nasional sebanyak 4 juta ton, dan Lampung mendapatkan target sementara untuk penyerapan di 2026 sebanyak 250 ribu ton setara beras," katanya.
Menurut dia, target sementara untuk serapan gabah panen petani tersebut dapat berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Target serapan ini bersifat sementara, namun kami terus berupaya untuk terus melakukan penyerapan panen petani secara serentak di berbagai kabupaten, sesuai dengan harga serta ketentuan yang berlaku untuk mendukung kesejahteraan petani serta memenuhi ketersediaan pangan masyarakat," tambahnya.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56