DPR RI soroti bunga tinggi bank digital, OJK dan LPS pantau risiko dan strategi penjaminan simpanan nasabah agar tetap aman dan sesuai aturan. [360] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) buka suara usai Komisi XI DPR RI menyoroti bahkan melebihi tingkat bunga penjaminan LPS.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bank digital memiliki model bisnis yang berbeda dengan bank konvensional.
Umumnya, bank digital menyalurkan pembiayaan jangka pendek dengan tingkat risiko yang lebih tinggi. Kondisi inilah yang membuat penetapan suku bunga cenderung lebih mahal.
“Jadi memang kalau risiko tinggi, biasanya suku bunga tinggi,” kata Dian saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Kendati begitu, Dian memastikan bahwa pihaknya tetap memantau penetapan suku bunga bank digital. OJK juga akan mengambil langkah penanganan jika praktiknya dinilai berlebihan.
“Tapi itu dalam monitoring kita kok. Kalau sudah mulai eksesif kita akan tangani,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai bahwa bunga tinggi merupakan bagian dari strategi bank digital untuk menarik nasabah.
Kendati begitu, Anggito mengatakan bahwa LPS sebagai lembaga penjamin selalu mengimbau setiap bank untuk mengikuti program penjaminan LPS.
“Kalau nggak dijamin, saya biasanya mengimbau aja mereka supaya ikuti di program penjaminan,” ujar Anggito.
Untuk diketahui, LPS saat ini menetapkan tingkat bunga penjaminan (TBP) sebesar 3,50% untuk simpanan rupiah di bank umum, 2,00% untuk simpanan valuta asing (valas) di bank umum, serta 6,00% untuk simpanan rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR). TBP dapat berubah sewaktu-waktu.
Dalam program penjaminan simpanan, LPS memberikan jaminan simpanan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, dengan syarat tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, serta tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.
Di sisi lain, sejumlah bank digital menawarkan suku bunga simpanan tinggi, bahkan di atas tingkat bunga penjaminan LPS. Fenomena ini lantas mendapat sorotan Komisi XI DPR RI.
Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin mengatakan, penawaran bunga simpanan tinggi memang menjadi strategi bank digital dalam menghadapi persaingan untuk menarik dana nasabah. Kendati begitu, cara ini dinilai berisiko lantaran bunga yang tinggi tersebut melampaui batas penjaminan LPS.
“Praktik seperti ini berpotensi menimbulkan risiko, terutama terkait tidak terjaminnya simpanan nasabah apabila tingkat bunga yang ditawarkan melampaui batas penjaminan,” kata Putri, mengutip laman resmi DPR RI, Selasa (10/2/2026).
Merger GOTO-Grab berpotensi mengubah peta bank digital, memengaruhi Bank Jago dan Superbank. Dampaknya bisa positif atau negatif tergantung dominasi entitas. [1,174] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Isu rencana merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan Grab kembali menggema menimbulkan perhatian terhadap dua bank digital yang bernaung di bawah ekosistem masing-masing raksasa teknologi tersebut, yakni Superbank yang terafiliasi dengan Grab serta Bank Jago yang berada dalam ekosistem GOTO.
Isu merger sejatinya bukan baru sekali beredar. Pada 2024, misalnya, GOTO sempat dikabarkan tengah mengkaji kemungkinan merger dengan Grab. Namun, kala itu manajemen GOTO mengaku justru baru mengetahui kabar tersebut setelah isu tersebut beredar luas di media massa.
Lalu pada 7 November 2025, dinamika mengenai isu merger ini kembali menguat setelah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) tentang ojek online tengah memasuki tahap penyempurnaan akhir.
Pernyataan ini sontak menarik perhatian karena regulasi tersebut bukan hanya menyentuh aspek pembagian komisi mitra pengemudi, tetapi juga mencakup skema penggabungan dua raksasa aplikasi transportasi daring itu.
Prasetyo menjelaskan bahwa penyempurnaan aturan ini dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari perwakilan mitra pengemudi hingga para aplikator. Usai menghadiri arahan Presiden Prabowo Subianto terkait Komisi Percepatan Reformasi Polri di Istana Merdeka, dia menyebut bahwa regulasi ini terus dilengkapi untuk memastikan seluruh aspek kepentingan dapat diakomodasi.
Dia juga menegaskan bahwa pembahasan lintas kementerian dan lembaga berlangsung cukup intens. Bahkan Danantara disebut ikut terlibat karena adanya aspek korporasi yang harus dibahas secara komprehensif. Prasetyo meminta publik bersabar mengingat prosesnya memerlukan kehati-hatian sebelum diputuskan.
Ketika dikonfirmasi soal isu merger Grab dan GOTO, Prasetyo tidak menampik bahwa hal tersebut memang masuk dalam ruang diskusi pemerintah. Dia mengiyakan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan penggabungan kedua platform ride-hailing itu benar adanya.
Pengemudi ojek online (ojol) menunggu penumpang di dekat Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin (5/5/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha
Saat ditanya lebih jauh, termasuk mengenai kabar bahwa GoTo berpotensi mengambil alih Grab, Prasetyo menjawab singkat namun membenarkan arah pembicaraan tersebut.
Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa bentuk penggabungan masih dalam proses kajian. Namun, dia menegaskan bahwa intinya adalah penggabungan kedua entitas besar tersebut dalam satu skema yang masih dirumuskan pemerintah. “Dilihat dari bentuknya, iya. Intinya penggabungan mereka berdua,” ujarnya.
Dampak Merger Grab–GoTo di Industri Bank Digital
Wacana konsolidasi dua raksasa ini bukan hanya soal perubahan peta bisnis layanan transportasi online alias ride-hailing atau e-commerce. Namun demikian juga dianggap sebagai potensi game changer yang bisa memengaruhi strategi, akuisisi nasabah, pembiayaan, hingga posisi keduanya di industri bank digital.
Dalam prospektus rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), Superbank secara terbuka menyampaikan bahwa ketergantungan pada Grab dan OVO untuk distribusi produk serta pengembangan bisnis menjadi salah satu risiko paling material.
Superbank menegaskan bahwa memburuknya hubungan dengan salah satu mitra tersebut dapat berdampak negatif terhadap kinerja operasional dan keuangan.
Superbank juga menyebut dalam prospektusnya bahwa kemungkinan adanya rencana merger Grab dengan perusahaan lain dapat membawa dampak yang belum dapat dipastikan.
"Usaha perseroan dapat terpengaruh oleh rencana apabila terdapat rencana merger antara Grab dengan perusahaan lain, namun dampak yang mungkin timbul dari transaksi tersebut terhadap Perseroan masih belum dapat dipastikan," tulis dalam prospektus tersebut, Rabu (26/11/2025).
Pernyataan ini menjadi semakin relevan di tengah ramainya isu penggabungan Grab dan GOTO, yang secara langsung memunculkan pertanyaan besar tentang keberlangsungan ekosistem yang menjadi penopang utama bisnis mereka.
Advisor Banking & Finance Development Centre, Moch Amin Nurdin, menilai bahwa jika merger Gojek dan Grab benar terjadi, dampaknya justru lebih berpotensi negatif bagi Superbank.
Menurutnya, posisi Superbank sebagai mitra strategis Grab bisa menjadi inferior karena perubahan struktur ekosistem pascamerger berpotensi menggeser prioritas.
Dia menilai Superbank harus terdorong untuk mencari mitra baru atau membangun ekosistem berbeda. Hal ini, menurut Amin, sesuatu yang tidak mudah karena hampir seluruh e-commerce besar di Indonesia sudah memiliki pasangan bank digital masing-masing dalam model bisnis mereka.
“Jika isu merger Gojek dan Grab jadi dilaksanakan, ini akan mengubah peta dan kinerja Superbank. Dampaknya menurut saya cenderung negatif," kata Amin kepada Bisnis, Rabu (26/11/2025).
Sementara prospek Superbank masih diwarnai sejumlah ketidakpastian, Bank Jago justru tampil lebih stabil dalam kinerjanya. Hingga kuartal III/2025, Bank Jago membukukan laba bersih Rp199 miliar, melonjak 132% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga mencapai Rp23,9 triliun dengan pertumbuhan 41%, sementara total nasabah menembus 18,6 juta.
Kredit yang disalurkan mencapai Rp23,5 triliun dengan pertumbuhan 36%, diikuti kualitas aset yang terjaga dengan rasio NPL gross hanya 0,4%. Aset Bank Jago naik menjadi Rp34,5 triliun dan rasio kecukupan modal berada pada level kuat, yakni 32,9%.
Di sisi lain, Superbank baru menunjukkan titik balik pertumbuhan pada 2025. Setelah merugi selama tiga tahun berturut-turut hingga 2024, bank ini pertama kali mencatat laba bersih pada kuartal I/2025 sebesar Rp251 juta, berlanjut menjadi Rp20,1 miliar pada semester I dan melonjak menjadi Rp60,12 miliar pada kuartal III/2025.
Pertumbuhan pendapatan bunga bersih meningkat signifikan, sejalan dengan penyaluran kredit yang pertumbuhannya melesat lebih dari 120% pada sepanjang semester pertama 2025.
Gojek resmi mengumumkan kolaborasi dengan Bank Jago, Kamis (22/7/2021) /Dok. Bank Jago
Pada satu sisi, lanjut Amin, merger dapat membuka peluang sinergi karena dua ekosistem besar bersatu dalam satu rumah, sehingga layanan perbankan digital dapat terhubung lebih luas lintas platform.
Namun sisi lainnya, justru dapat memunculkan kompetisi internal karena Bank Jago dan Superbank bisa saja berebut peran sebagai bank utama dalam ekosistem gabungan tersebut.
Bank Jago memiliki basis nasabah dan performa keuangan yang lebih mapan, sementara Superbank mengandalkan momentum pertumbuhan pesat dan dukungan ekosistem Grab yang selama ini menjadi pendorong akuisisi nasabah dan produk pinjaman.
Dengan perbedaan posisi fundamental tersebut, potensi merger Gojek dan Grab dapat menjadi faktor penentu jalur masa depan kedua bank digital ini.
Sementara itu, Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menyebut Superbank baru menunjukkan titik balik pertumbuhan pada 2025 menilai bahwa Superbank justru menunjukkan posisi yang cukup menarik seiring langkahnya menuju IPO dengan kinerja bank ini terlihat makin membaik.
Menurut Trioksa Siahaan, jika melihat kinerja industri perbankan sepanjang tahun ini, pergerakan sahamnya memang cenderung menurun.
Terkait rumor penggabungan entitas ride-hailing besar seperti Gojek dan Grab, Trioksa menilai dampaknya terhadap Superbank akan bergantung pada entitas mana yang nantinya menjadi dominan.
Jika Grab menjadi entitas yang lebih kuat dan tetap memiliki afiliasi dengan Superbank, maka peluang peningkatan sinergi dan perluasan pasar bagi Superbank akan semakin besar. "Dampak dari merger Gojek dan Grab adalah tergantung pada entitas yang akan dominan nantinya," kata Trioksa kepada Bisnis.
Sebaliknya, jika dominasi beralih ke entitas lain yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Superbank, maka manfaat ekosistemnya mungkin tidak akan sebesar skenario sebelumnya.
Dengan semakin terarahnya kinerja dan dukungan ekosistem yang masih relevan, pasar kini menunggu, apakah momentum IPO ini menjadi langkah tepat bagi Superbank untuk memperkuat posisinya di lanskap bank digital yang semakin padat.
Isu merger GOTO dan Grab pun bukan hanya menjadi dinamika industri teknologi, tetapi kini menjadi variabel krusial bagi strategi dan prospek jangka panjang Superbank dan Bank Jago. Apapun arah keputusan dua raksasa teknologi ini, dampaknya diprediksi akan menjadi penentu babak baru persaingan bank digital di Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56