Bisnis.com, JAKARTA — Badan iklim PBB World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan fenomena El Niño akan mulai berkembang pada pertengahan 2026 dan memengaruhi pola hujan serta suhu global.
Berdasarkan laporan bulanan Global Seasonal Climate Update WMO, suhu permukaan laut di Pasifik Ekuator tercatat naik cepat. Hal ini mengindikasikan kemungkinan munculnya kondisi El Nino mulai Mei–Juli 2026. Prakiraan juga menunjukkan dominasi suhu permukaan daratan di atas normal secara hampir menyeluruh dalam tiga bulan ke depan yang disertai variasi pola curah hujan antarwilayah.
"Setelah periode kondisi netral pada awal tahun, model-model iklim kini menunjukkan keselarasan yang kuat, dan terdapat keyakinan tinggi terhadap onset El Nino, diikuti intensifikasi lebih lanjut pada bulan-bulan berikutnya," kata Kepala Prediksi Iklim WMO Wilfran Moufouma Okia, dikutip Senin (27/4/2026).
Okia menambahkan bahwa El Nino yang akan datang berpotensi menjadi kejadian yang masuk kategori kuat. Meski demikian, dia memberi catatan kepastian prakiraan masih terbatas karena hambatan prediktabilitas musim semi yang lazim terjadi pada periode ini.
"Model mengindikasikan bahwa ini mungkin merupakan kejadian El Nino yang kuat, tetapi hambatan prediktabilitas musim semi menjadi tantangan bagi kepastian prakiraan saat ini. Kepercayaan prakiraan umumnya meningkat setelah April," katanya.
El Niño merupakan salah satu pola iklim paling kuat di Bumi yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik Ekuator bagian tengah dan timur. Fenomena ini umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan.
Dampak El Nino terhadap pola cuaca berbeda-beda di setiap wilayah. Fenomena ini cenderung meningkatkan curah hujan di sebagian Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan berpotensi mengalami kekeringan.
Secara historis, El Nino memberi efek pemanasan pada iklim global. Kombinasi El Nino kuat 2023–2024 dan perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca telah menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.
Meski demikian, WMO menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas El Niño. Namun, suhu lautan dan atmosfer yang makin hangat dapat memperbesar dampak El Niño melalui ketersediaan energi dan kelembapan yang lebih tinggi untuk kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan hujan lebat.