Bisnis.com, JAKARTA — Film Backrooms mencetak sejarah baru bagi studio A24. Hanya dalam waktu sepuluh hari sejak dirilis, film arahan Kane Parsons tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan global sebesar US$212,6 juta per Senin (8/6/2026), sekaligus menjadi film terlaris yang pernah diproduksi studio tersebut.
Dari jumlah itu, pasar Amerika Utara menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan mencapai US$135 juta. Sementara itu, penayangan di berbagai negara lainnya secara global menyumbang tambahan US$77,6 juta, memperkuat posisi Backrooms sebagai salah satu film horor paling sukses secara komersial tahun ini.
Secara global, Backrooms mulai tayang di bioskop pada 29 Mei 2026. Di Indonesia, film ini dijadwalkan mulai diputar pada 10 Juni 2026 melalui jaringan bioskop utama seperti XXI, CGV, dan Cinepolis. Meski jadwal tayang resminya masih beberapa hari lagi, penjualan tiket pra-rilis telah dibuka dan mulai menarik minat penonton.
Sinopsis
Backrooms mengambil latar pada dekade 1990-an di kawasan pinggiran Santa Clara Valley, California. Dalam film ini, Chiwetel Ejiofor memerankan Clark, seorang pria paruh baya yang bergulat dengan kecanduan alkohol sekaligus menghadapi kehancuran bisnis toko furniturnya.
Suatu malam, ketika memeriksa gangguan listrik di ruang bawah tanah tokonya, Clark tanpa sengaja menemukan sebuah portal misterius yang menghubungkannya dengan dimensi asing yang kemudian dikenal sebagai Backrooms.
Pengalaman ganjil itu kemudian ia ceritakan kepada sejumlah orang terdekat, termasuk psikolognya, Marry. Ketika suatu hari kliennya itu mendadak menghilang dan tak kunjung datang ke sesi konsultasi, Marry memutuskan mencari tahu sendiri.
Keputusan tersebut membawanya memasuki dunia Backrooms, sebuah tempat asing yang perlahan mengungkap misteri sekaligus teror yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Review
Berawal dari sebuah thread dan foto sederhana yang beredar di internet, Backrooms berkembang menjadi salah satu mitologi horor digital paling populer dalam beberapa dekade terakhir. Kini, konsep yang melahirkan ribuan teori, cerita, dan video buatan penggemar tersebut hadir di layar lebar melalui film garapan Kane Parsons, sosok yang turut mempopulerkan kembali beberapa tahun terakhir.
Alih-alih mengubah Backrooms menjadi film horor konvensional, Parsons memilih mempertahankan elemen yang membuat konsep ini begitu memikat, yakni misteri.
Cerita mengikuti Clark, seorang pemilik toko furnitur yang tanpa sengaja menemukan portal menuju dimensi asing berisi lorong-lorong tak berujung. Dari titik inilah film membangun rasa penasaran penonton, perlahan mengungkap berbagai petunjuk tanpa pernah memberikan jawaban secara gamblang.
Dunia Backrooms dikenal sebagai dimensi misterius yang berada di luar batas realitas. Tempat ini digambarkan sebagai labirin raksasa yang dipenuhi ruangan-ruangan kosong seragam, lorong-lorong tanpa ujung, serta dengungan lampu neon yang sesekali membuat sensasi rasa mencekam yang berbeda.
Melalui sudut pandang Clark, penonton diajak menyusuri lorong demi lorong tanpa mengetahui apa yang menunggu di ujung perjalanan. Sang sutradaraa dengan sengaja membiarkan misteri berkembang perlahan, membuat setiap langkah terasa penuh ketidakpastian.
Film ini memainkan aspek ketakutan tidak selalu dengan dari apa yang terlihat di layar, tetapi juga dari kemungkinan-kemungkinan yang muncul di benak penonton.
Meski unggul dalam membangun atmosfer dan menghadirkan visual yang memikat, Backrooms tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan. Di beberapa sisi, alur ceritanya pun sesekali tampak kurang solid dibanding kekuatan dunia dan atmosfer yang ditawarkan.
Kendati demikian, ambiguitas menjadi hal menarik di film ini. Semakin lama cerita berjalan, semakin sulit menentukan apakah Backrooms merupakan tempat fisik, ruang psikologis, atau sesuatu di antara keduanya.
Sang sutradara tampaknya sengaja mempertahankan area abu-abu tersebut hingga akhir, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari labirin yang mereka saksikan. Ketika layar menghitam, yang tersisa bukanlah jawaban, melainkan serangkaian pertanyaan yang terus berputar di kepala.