#30 tag 24jam
Di Antara Cemas dan Harap, Ketika Anak Muda Belajar Lebih Terencana dengan Reksa Dana
Anak muda belajar investasi terencana dengan reksa dana untuk mengelola risiko dan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian pasar modal. [1,430] url asal
#berinvestasi #reksa-dana #pasar-modal #investor-muda #saham-bank #diversifikasi-investasi #risiko-investasi #manajer-investasi #edukasi-keuangan #literasi-keuangan #investasi-terencana #pasar-saham
(Bisnis.Com - Market) 08/05/26 21:41
v/216125/
Bisnis.com, JAKARTA - Senja baru turun di kawasan Sudirman ketika Bisnis dan dua pekerja muda yang juga berinvestasi di pasar modal bertemu di sebuah rumah makan kecil tak jauh dari Stasiun Sudirman akhir April lalu. Di jalanan, lampu kendaraan memantul seperti grafik saham yang naik-turun tanpa arah.
Ardi (31) tampak lebih diam. Jemarinya sesekali mengulir layar ponsel yang penuh warna merah. Portofolio sahamnya kembali longsor saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari itu Kamis (30/4/2026) tergelincir dan ditutup di bawah level 7.000.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang biasanya menjadi salah satu kebanggannya hari itu turut jatuh ke level 5.850, terendah dalam setahun terakhir. Selama ini BBCA menjadi salah satu andalannya menjaga portofolio.
“Awalnya saya pikir investasi di perbankan itu bakal aman, ternyata tetap saja bikin panik,” ujar Ardi bercerita.
Saham bank bukanlah satu-satunya aset yang ia miliki. Ardi termasuk tipe investor yang agresif. Ia rajin membeli saham-saham yang cukup likuid di pasar modal. Biasanya sektor tambang, energi, serta teknologi.
Menurut Ardi, saham-saham di sektor itu biasanya bergerak cepat sehingga peluang meraih keuntungan juga lebih besar. Tapi kali ini di tengah gejolak pasar yang tinggi akibat perang dan pergeseran poros ekonomi, ia justru mendapat kerugian cukup besar. Bahkan saham perbankan yang biasanya relatif aman di kala goncangan pun tak cukup kuat menahan badai di pasar modal.
Kepanikan yang dirasakan Ardi tak berdiri sendiri. Data Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih Rp45,38 triliun sepanjang tahun berjalan hingga akhir April 2026. Pasar saham Indonesia pun terperosok ke papan bawah bursa global dengan penurunan sekitar 19% sepanjang tahun berjalan.
“Ini namanya enggak rugi lagi, tapi sudah jadi donatur dan dermawan di pasar modal,” ujar Ardi sembari tertawa kecil menyindir posisi portofolionya yang sudah rugi dalam.

Demografi investor di Bursa Efek Indonesia./Sumber: KSEI
Di pasar modal, euforia memang sering membuat orang lupa bahwa grafik tidak selalu naik. Banyak investor baru mengenal risiko justru ketika pasar mulai runtuh. Apalagi bagi mereka yang tak cukup jeli dalam memilih investasi dan lebih banyak didorong faktor eksternal.
Namun pengalaman investor muda tak selalu sama seperti Ardi. Di hadapannya, Putra (36 tahun) tertawa kecil. Bukan karena merasa lebih hebat, melainkan karena pernah berada di posisi serupa beberapa tahun lalu. Bedanya, kali ini kerugian Putra tidak sedalam sahabatnya.
Sebagian uangnya memang tetap terseret penurunan pasar saham. Namun gejolak itu tak sampai membuat seluruh portofolionya babak belur. Hal itu lantaran ia menaruh sebagian besar dananya di reksa dana.
Sejak dua tahun silam, Putra mengaku mulai mendiversifikasi aset investasinya. Tak hanya saham, ia juga berinvestasi di emas dan reksa dana. Bahkan untuk reksa dana ia membagi dua pilihan, reksa dana saham untuk pertumbuhan jangka panjang hingga reksa dana pasar uang untuk menjaga likuiditas.
“Kalau semua ditaruh di saham, mental bisa habis duluan,” ujar Putra sambil menyeruput kopi hitamnya. “Makanya saya pecah risikonya.”
Ardi membenarkan pernyataan Putra. Namun ia sudah terlanjur rugi dalam. Saat ini ia hanya berharap ruginya menipis dan kembali menata portofolio investasi. Menurut Ardi, ketidakpastian di pasar modal memberi ia satu pelajaran. Investasi harus didiversifikasi.
Tak hanya Ardi, saat ini banyak investor pemula masuk pasar modal dengan ekspektasi tinggi, tetapi tanpa pemahaman memadai mengenai risiko. Ketika pasar sedang naik, semua tampak mudah. Namun saat IHSG terkoreksi tajam, banyak investor baru sadar bahwa investasi bukan sekadar soal mengejar keuntungan, melainkan juga mengelola risiko.
Belajar Mengelola Risiko
Pengalaman Ardi bukan kasus tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, ledakan investor muda membuat pasar modal dipenuhi investor pemula dengan ekspektasi tinggi. Kemudahan membuka rekening efek lewat aplikasi digital membuat investasi terasa semakin dekat. Namun di saat bersamaan, banyak investor belajar dari media sosial, mengikuti influencer, atau sekadar ikut arus saham yang sedang ramai dibicarakan.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal telah menembus lebih dari 26 juta single investor identification (SID) per April 2026. Mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.

Perencana keuangan independen sekaligus Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia Mohamad Andoko mengatakan banyak investor muda terjebak pada pola pikir ingin cepat kaya. Mereka masuk ke instrumen berisiko tinggi tanpa memahami profil risiko maupun tujuan keuangan pribadi.
“Jangan FOMO. Pelajari produknya, analisa, analisa, dan analisa,” kata Andoko saat berbincang dengan Bisnis.
Menurut dia, investasi sebaiknya dimulai sejak pertama kali memiliki penghasilan. Faktor waktu menjadi kunci karena berkaitan dengan efek bunga majemuk atau compounding interest.
“Kalau sudah mulai punya penghasilan, misalnya usia 22–23 tahun, wajib mulai investasi. Rumus utama investasi itu waktu,” ujarnya.
Andoko menyarankan alokasi investasi dilakukan di awal saat menerima penghasilan, bukan dari sisa belanja. Selain itu, investor juga perlu menyiapkan dana darurat dan memahami pentingnya diversifikasi agar seluruh aset tidak terpapar pada satu jenis risiko.
Menurut Andoko, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan investor pemula karena dikelola oleh manajer investasi profesional dengan modal yang relatif terjangkau. Meski begitu, komposisi investor menurut dia masih didominasi instrumen pendapatan tetap dan pasar uang.
“Sekitar 77% investor Indonesia masih memilih fixed income dan money market karena tidak terlalu pusing, dikelola profesional,” katanya.

Besaran investasi di pasar modal Tanah Air./Sumber: KSEI
Di sisi lain, meski dikelola profesional dan ditempatkan di bank kustodian, Andoko mengingatkan reksa dana tetap memiliki risiko, termasuk biaya pengelolaan dan kinerja manajer investasi yang bisa berada di bawah benchmark. Karena itu, investor diminta tetap selektif memilih produk dan manajer investasi.
“Jangan sampai waktu habis, return jelek, waktu habis untuk menunggu,” ujarnya.
Selain itu diversifikasi menjadi penting untuk menjaga aset sekaligus memaksimalkan imbal hasil. Reksa dana pasar uang, misalnya, relatif stabil dan likuid karena ditempatkan pada deposito dan obligasi jangka pendek. Sementara reksa dana saham menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, tetapi mengikuti fluktuasi pasar saham.
Seiring pertumbuhan investasi reksa dana, Otoritas Jasa Keuangan mencatat total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana mencapai Rp1.084 triliun per Maret 2026. Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK Sujanto mengatakan nilai tersebut tumbuh dibandingkan posisi Desember 2025. Meski demikian, kontribusi industri reksa dana terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.
“Jadi masih banyak ketimpangan, banyak yang sebenarnya masih bisa dikejar,” ujar Sujanto dalam acara edukasi wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk Indonesia mencapai 287 juta jiwa dengan sekitar 196 juta jiwa di antaranya masuk dalam kategori usia produktif (15-64 tahun).
“Artinya kalau dibandingkan dengan yang 23 juta investor tadi, peluang kita mengejar kelompok produktif menjadi investor masih banyak sekali,” tuturnya.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, OJK terus menekankan pentingnya penguatan edukasi dan literasi keuangan. Industri reksa dana dipandang sebagai instrumen investasi yang inklusif karena dapat diakses dengan modal yang sangat terjangkau, bahkan mulai dari Rp10.000 bagi investor pemula.

Investasi Terencana dengan Reksa Dana
Lebih jauh OJK menilai pemahaman masyarakat mengenai investasi menjadi tantangan besar di tengah derasnya pertumbuhan investor ritel. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan peningkatan jumlah investor harus diiringi penguatan kualitas literasi keuangan.
“Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor, akan tetapi juga upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar. Pelaku industri diharapkan terus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Hasan.
Karena itu, OJK meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana atau Pintar Reksa Dana pada April 2026. Program ini ditujukan untuk memperluas partisipasi masyarakat di pasar modal sekaligus membangun kebiasaan investasi rutin sejak dini.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasar modal Indonesia sebagai sumber pembiayaan jangka panjang ekonomi nasional.
“Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional,” kata Friderica.
Sementara Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana mengatakan budaya investasi sehat perlu dibangun melalui kebiasaan menabung dan berinvestasi secara rutin, bukan sekadar mengejar keuntungan instan.
“Program Pintar Reksa Dana diharapkan dapat menggerakkan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan,” kata Lolita.
Selain itu, Lolita menyampaikan bahwa pertumbuhan yang kuat ini mencerminkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Menurut dia momentum pertumbuhan perlu dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, khususnya di kalangan generasi muda yang saat ini mendominasi komposisi investor.
Sementara itu dari kawasan Sudirman, Ardi mulai menata niat. Angka merah di layar ponselnya memang belum berubah hijau. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pasar saham yang mudah berayun, semakin banyak investor muda mulai belajar bahwa ketenangan juga memiliki nilai. Bagi sebagian dari mereka, reksa dana bukan lagi sekadar alternatif investasi, melainkan cara menjaga mimpi keuangan tetap berjalan tanpa harus terus-menerus dihantui kepanikan pasar.
Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
Perencanaan keuangan sejak usia muda kerap disebut sebagai penentu stabilitas finansial di masa depan. [812] url asal
#warren-buffett #perencanaan-keuangan #berinvestasi #gen-z #orang-terkaya-di-dunia
(Kompas.com - Money) 11/02/26 14:29
v/133225/
JAKARTA, KOMPAS.com - Perencanaan keuangan sejak usia muda kerap disebut sebagai penentu stabilitas finansial di masa depan.
Bagi Generasi Z atau Gen Z yang mulai aktif bekerja dan berinvestasi, sejumlah pelajaran dari investor kawakan sekaligus salah satu orang terkaya Warren Buffett dinilai tetap relevan, meski lahir dari era berbeda.
Dikutip dari Nasdaq, Rabu (11/2/2026), berikut lima prinsip pengelolaan uang ala Buffett yang dapat diterapkan generasi muda saat ini.
PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi. Menjelang akhir 2025, pasar keuangan kembali bergejolak. Para analis menyarankan investor tetap tenang dan disiplin agar peluang cuan tidak hilang di tengah ketidakpastian.1. Mulai sejak dini: kekuatan bunga majemuk
Pelajaran pertama yang sering dikutip dari Buffett adalah pentingnya memanfaatkan compound interest atau bunga majemuk sejak dini.
Kevin Shahnazari, pendiri dan CEO FinlyWealth, mengatakan bahwa ia kerap menasihati klien-klien Gen Z untuk mulai berinvestasi sedini mungkin.
“Saya mengatakan kepada klien Gen Z saya bahwa pelajaran pertama Buffett adalah mulai dari bunga majemuk,” ujar Shahnazari.
Contoh yang disebutkan Shahnazari menunjukkan bahwa dengan menabung sekitar 200 dollar AS atau setara sekitar Rp 3,3 juta (asumsi kurs Rp 16.783 per dollar AS) per bulan sejak usia awal 20-an, portofolio investasi dapat berkembang secara signifikan dalam lima tahun.
Prinsip ini sejalan dengan salah satu ciri khas pandangan Buffett yang menekankan getting rich slowly, yaitu “menjadi kaya secara perlahan” daripada mencoba jalan pintas.
2. Hidup di bawah kemampuan finansial
Warren Buffett memperingatkan risiko perkembangan AI yang tak pasti arahnya dan membandingkannya dengan bahaya senjata nuklir yang sudah lama mengancam dunia.Pelajaran kedua berhubungan dengan gaya hidup adalah hidup di bawah kemampuan (live below your means). Buffett dikenal hidup sederhana, bahkan setelah menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Shahnazari menunjukkan fakta ini sebagai cerminan prinsip yang perlu dipahami Gen Z.
“Banyak klien muda saya terkejut ketika saya tunjukkan bahwa Buffett masih tinggal di rumah yang dia beli seharga 31.500 dollar AS (setara sekitar Rp 528,6 juta) pada 1958 meskipun dia seorang miliarder,” kata Shahnazari.
"Data platform saya menunjukkan pengguna Gen Z yang menjaga gaya hidup sederhana biasanya mencapai tujuan finansial mereka 40 persen lebih cepat," tutur dia.
Michael Benoit, pemilik California Contractor Bond & Insurance Services, juga menekankan pentingnya menghindari inflasi gaya hidup, yaitu kecenderungan meningkatkan pengeluaran seiring dengan meningkatnya penghasilan.
“Gaya hidup frugal Buffett menjadi pengingat bagi Gen Z bahwa kesuksesan finansial tidak memerlukan pengeluaran berlebihan,” ujar Benoit.
3. Prioritaskan belajar berkelanjutan
Buffett dikenal sebagai pembaca produktif sepanjang hidupnya. Prinsip kemampuan belajar yang terus-menerus juga diangkat oleh Shahnazari sebagai pelajaran ketiga untuk Gen Z.
“Klien Gen Z saya yang paling sukses menghabiskan sedikitnya lima jam per minggu membaca buku finansial dan mempelajari pasar,” tutur Shahnazari.
Menurut dia, Buffett memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang “berbunga majemuk” layaknya uang: semakin dini dan sering dipupuk, semakin kuat hasilnya.
Benoit setuju, menegaskan pernyataan Buffett bahwa investasi terbaik adalah investasi pada diri sendiri.
Dalam konteks praktik, Benoit menyatakan, mengembangkan keterampilan seperti mendapatkan sertifikasi profesional atau memperluas jaringan profesional bisa mendatangkan hasil finansial yang signifikan dalam jangka panjang.
THE GIVING PLEDGE Warren Buffett. Warren Buffett dikenal kaya raya, tapi gaya hidupnya jauh dari kemewahan. Berikut lima hal mengejutkan yang tidak pernah dia borong meski sudah jadi miliarder.4. Beli saham perusahaan berkualitas yang dipahami
Pelajaran keempat berkaitan langsung dengan strategi investasi Buffett yang terkenal: jangan berinvestasi pada sesuatu yang tidak Anda pahami.
Shahnazari menyampaikan prinsip ini kepada klien Gen Z.
“Saya menasihati Gen Z untuk berinvestasi pada perusahaan yang produknya mereka gunakan setiap hari,” ungkap dia.
Ia memberi contoh seorang klien berusia 22 tahun yang memulai portofolionya dengan saham perusahaan seperti Apple dan Nike karena produk-produk tersebut sudah dikenal secara pribadi olehnya, sehingga ia dapat menghindari spekulasi yang tidak perlu pada instrumen yang tidak familiar.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip inti Buffett tentang circle of competence, yakni berinvestasi dalam area yang benar-benar dipahami dari segi bisnis dan modelnya.
5. Miliki pola pikir jangka panjang
Pelajaran terakhir yang disorot adalah sikap terhadap waktu sebagai faktor investasi. Buffett sering menyebut pasar saham sebagai alat yang memindahkan uang dari yang tidak sabar kepada yang sabar.
Shahnazari mengutip prinsip ini kepada klien mudanya.
“Ketika volatilitas pasar membuat investor muda gugup, saya mengingatkan mereka pandangan Buffett bahwa pasar saham adalah perangkat untuk mentransfer uang dari yang tidak sabar ke yang sabar,” papar dia.
Data dari Shahnazari menunjukkan bahwa klien Gen Z yang menjaga strategi konsisten dalam masa turun pasar memiliki hasil investasi yang lebih baik daripada mereka yang memilih menjual saat panik.
Benoit juga menekankan pengambilan keputusan investasi yang selektif dan berorientasi jangka panjang menjadi bagian terbesar dari prinsip Buffett bagi setiap generasi.
“Pendekatan Buffett, (yakni) memprioritaskan kualitas dan nilai jangka panjang, adalah pelajaran hebat bagi Gen Z. Ia menyarankan memperlakukan setiap dollar seperti investasi masa depan, baik melalui saham, pendidikan, ataupun tabungan,” tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saham Teknologi Terguncang Isu AI, Investor Rotasi Portofolio ke Saham Small Cap
Investor di Wall Street beralih ke perusahaan yang lebih murah dan berkapitalisasi lebih kecil setelah gejolak pasar menghantam sejumlah sektor dan instrumen. [302] url asal
#wall-street #gejolak-pasar #portofolio #risiko-berinvestasi #ai
(IDX-Channel - Market News) 08/02/26 20:30
v/129852/
IDXChannel - Investor di Wall Street beralih ke perusahaan yang lebih murah dan berkapitalisasi lebih kecil setelah gejolak pasar menghantam sejumlah sektor dan instrumen.
Kewaspadaan dan sikap menghindari risiko kini mulai terasa di sejumlah sektor yang selama beberapa tahun terakhir paling bersinar. Pada saat yang sama, investor mulai merotasi portofolio mereka ke sektor lain yang kini mencatat kenaikan.
Sebagai contoh, indeks Dow Jones Industrial Average, acuan yang dirancang melacak perusahaan industri, mencetak rekor tertinggi pada Jumat, bahkan ketika saham perangkat lunak kehilangan nilai pasar USD1 triliun sepanjang pekan.
"Penjualan pada saham-saham yang sebelumnya mendorong pasar lebih tinggi mungkin telah mereda, tetapi kini kita justru melihat gelombang pembelian agresif pada saham-saham yang sama sekali berbeda," kata strategi pasar modal di T. Rowe Price, Tim Murray, dilansir Reuters, Minggu (8/2/2026).
Investor sedang mempertimbangkan kembali risiko berinvestasi pada hyperscaler AI, merujuk pada perusahaan seperti Amazon.com, Microsoft, dan Alphabet yang bisnisnya mendukung peluncuran kecerdasan buatan, serta potensi penurunan pada perusahaan yang model bisnisnya bisa terganggu oleh AI.
"Sekarang, mereka semua mengejar untuk membeli perusahaan yang lebih murah, mungkin tanpa banyak seleksi," kata Murray.
Meski indeks S&P 500 naik 1,78 persen pada Jumat dan Nasdaq 100 melonjak hampir 2 persen, indeks Russell 2000 justru mengungguli dengan kenaikan 3,5 persen.
Beberapa perusahaan Magnificent Seven tidak ikut dalam reli, saham Amazon anjlok di tengah kekhawatiran investor tentang bagaimana perusahaan itu akan memperoleh imbal hasil dari rencana belanja modal AI sebesar USD200 miliar.
SAHAM SMALL CAP MELONJAK
Investor dalam beberapa pekan terakhir bertaruh bahwa setelah bertahun-tahun saham teknologi mendorong reli pasar saham AS, penguatan akan meluas ke perusahaan industri, kesehatan, dan berkapitalisasi kecil.
Pandangan ini hadir dari cara investor menilai risiko pada segmen pasar yang sebelumnya melesat. Termasuk di dalamnya logam mulia, saham teknologi, dan aset yang lebih spekulatif seperti bitcoin.
(NIA DEVIYANA)
4 Prinsip Investasi Warren Buffett yang Wajib Diketahui Investor Muda
Nama Warren Buffett hampir selalu muncul dalam setiap diskusi tentang investasi jangka panjang. [960] url asal
#investasi #warren-buffett #investor-muda #berinvestasi #indepth
(Kompas.com - Money) 28/01/26 17:25
v/117423/
JAKARTA, KOMPAS.com - Nama Warren Buffett hampir selalu muncul dalam setiap diskusi tentang investasi jangka panjang.
Investor kawakan yang dijuluki Oracle of Omaha ini dikenal bukan karena strategi yang rumit, melainkan justru karena konsistensi pada prinsip-prinsip dasar yang ia pegang selama lebih dari tujuh dekade berinvestasi.
Buffett membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun.
Warren Buffett memperingatkan risiko perkembangan AI yang tak pasti arahnya dan membandingkannya dengan bahaya senjata nuklir yang sudah lama mengancam dunia.Sejak itu, ia menyaksikan berbagai siklus pasar, mulai dari krisis, euforia, hingga kejatuhan ekonomi global, namun tetap bertahan dengan pendekatan yang sama, yakni disiplin, rasional, dan berorientasi jangka panjang.
Ada beberapa prinsip investasi Warren Buffett yang bisa diterapkan oleh investor muda, berikut di antaranya.
1. Memulai lebih awal dan memberi waktu bagi bunga majemuk
Bagi Buffett, waktu adalah aset paling berharga dalam investasi. Ia kerap menyesali satu hal dalam perjalanan investasinya, yakni tidak memulai lebih cepat.
Dalam berbagai kesempatan, Buffett menekankan bahwa keuntungan terbesar investor muda bukanlah modal besar, melainkan waktu.
Dikutip dari Investopedia, Rabu (28/1/2026), Buffett membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun dan mulai serius membangun portofolio sejak remaja.
Menurutnya, setiap tahun tambahan dalam investasi memberi ruang lebih luas bagi bunga majemuk bekerja. Efek ini menjadi fondasi utama pertumbuhan kekayaan jangka panjang.
THE GIVING PLEDGE Warren Buffett. Warren Buffett dikenal kaya raya, tapi gaya hidupnya jauh dari kemewahan. Berikut lima hal mengejutkan yang tidak pernah dia borong meski sudah jadi miliarder.Bagi investor muda, keputusan sederhana untuk mulai menyisihkan dana investasi sejak awal karier dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan mencoba mengejar keuntungan cepat di kemudian hari.
Buffett sendiri berulang kali menegaskan, bunga majemuk adalah kekuatan yang sering diremehkan.
Dalam sejumlah pernyataan publiknya, ia menyebut bahwa membiarkan investasi tumbuh tanpa gangguan dalam jangka panjang sering kali lebih efektif dibandingkan upaya aktif mengatur portofolio secara berlebihan.
2. Kesabaran sebagai inti dari investasi jangka panjang
Prinsip kedua Buffett berkaitan erat dengan cara pandangnya terhadap waktu, yakni kesabaran.
Dalam dunia pasar modal yang dipenuhi fluktuasi harian dan arus informasi yang tak pernah berhenti, Buffett justru menganjurkan pendekatan yang tenang dan tidak reaktif.
Salah satu pernyataannya yang paling sering dikutip adalah, "Holding period favorit kami adalah selamanya."
Kalimat ini mencerminkan keyakinannya bahwa investasi terbaik adalah bisnis yang mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, bukan saham yang dibeli untuk diperjualbelikan dengan cepat.
Buffett memandang pasar saham bukan sebagai tempat untuk menebak arah harga, melainkan sebagai sarana kepemilikan bisnis.
Pendekatan ini membuatnya lebih fokus pada nilai fundamental perusahaan dibandingkan pergerakan harga jangka pendek.
Dalam rapat pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett juga menekankan pentingnya mengendalikan emosi.
Paul Morigi WASHINGTON, DC - OCTOBER 13: Warren Buffett speaks onstage during Fortune's Most Powerful Women Summit - Day 2 at the Mandarin Oriental Hotel on October 13, 2015 in Washington, DC. Paul Morigi/Getty Images for Fortune/Time Inc/AFP"Manusia mengalami emosi. Namun, Anda harus mengesampingkan emosi tersebut saat membuat keputusan investasi,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa ketakutan dan keserakahan sering kali menjadi musuh terbesar investor, terutama saat pasar bergejolak.
Bagi investor muda, pesan ini menjadi pengingat bahwa volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari pasar. Reaksi impulsif terhadap penurunan harga justru dapat menggerus potensi keuntungan jangka panjang.
3. Selektif memilih investasi, bukan sekadar mengikuti tren
Prinsip ketiga Buffett menekankan pentingnya selektivitas. Ia kerap menganalogikan keputusan investasi seperti seseorang yang hanya memiliki sejumlah terbatas kupon sepanjang hidupnya.
Setiap keputusan harus dipertimbangkan dengan serius, karena tidak semua peluang layak diambil.
Buffett pun memiliki konsep "20-slot punch card”. Gagasan ini mendorong investor untuk hanya memilih investasi yang benar-benar diyakini, bukan menyebar modal ke terlalu banyak instrumen tanpa pemahaman yang memadai.
Pendekatan selektif ini juga tercermin dalam pandangan Buffett terhadap diversifikasi. Ia tidak menolak diversifikasi, tetapi menekankan diversifikasi berlebihan sering kali menjadi perlindungan bagi investor yang tidak memahami apa yang mereka beli.
Dalam konteks ini, produk indeks berbiaya rendah kerap disebut sebagai alternatif yang masuk akal bagi investor yang tidak ingin atau tidak mampu menganalisis saham secara mendalam.
Buffett secara konsisten merekomendasikan indeks saham berbiaya rendah sebagai pilihan rasional bagi sebagian besar investor ritel, terutama mereka yang baru memulai.
4. Melakukan kajian mendalam dan berinvestasi dalam lingkup yang dipahami
Warren Buffett.Prinsip keempat Buffett berkaitan dengan apa yang ia sebut sebagai circle of competence. Konsep ini menggarisbawahi pentingnya memahami bisnis sebelum menanamkan modal.
Buffett berulang kali mengatakan bahwa investor tidak perlu memahami semua industri, tetapi harus mengetahui dengan jelas batas dari apa yang mereka pahami.
Dalam surat kepada pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 1996, Buffett menulis, “Anda tidak perlu menjadi ahli di setiap perusahaan, atau bahkan banyak perusahaan. Anda hanya perlu mampu mengevaluasi perusahaan-perusahaan dalam lingkup kompetensi Anda.”
Menurutnya, mengetahui batas pengetahuan sendiri justru lebih penting daripada mencoba mengikuti setiap peluang yang muncul.
Prinsip ini sebagai salah satu cara Buffett menghindari kesalahan mahal.
Dengan fokus pada bisnis yang model usahanya jelas, mudah dipahami, dan memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang, Buffett dapat mengambil keputusan investasi dengan keyakinan yang lebih tinggi.
Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa Buffett cenderung menghindari sektor-sektor yang tidak ia pahami sepenuhnya, meskipun sektor tersebut sedang populer di pasar.
Empat prinsip investasi Buffett tersebut tidak lahir dari teori akademik semata, melainkan dari pengalaman panjang menghadapi berbagai fase pasar.
Dari krisis keuangan hingga periode ekspansi ekonomi, pendekatan Buffett relatif tidak berubah.
Buffett juga sering mengaitkan investasi dengan disiplin hidup secara keseluruhan. Ia memperingatkan bahaya utang konsumtif dan menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang rasional, baik dalam keuangan pribadi maupun investasi.
Dalam wawancara dengan CNBC, Buffett mengatakan bahwa kebebasan finansial sering kali berawal dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Prinsip ini sejalan dengan pendekatannya terhadap investasi, yakni tidak tergesa-gesa, tidak spekulatif, dan berbasis pemahaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Survei Ungkap 39 Persen Warga Indonesia Masih Berutang demi Gaya Hidup
Utang konsumtif dan pembayaran minimum kartu kredit masih mendominasi. [247] url asal
#gaya-hidup #pinjam-uang #ketimpangan-keuangan #pengeluaran-dan-pendapatan #kartu-kredit #menabung-dan-berinvestasi #tekanan-sosial #fear-of-missing-out-fomo #spekulasi-finansial #kebiasaan-keuangan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 39 persen masyarakat Indonesia masih sering meminjam uang kepada teman atau keluarga untuk memenuhi gaya hidup, bukan kebutuhan mendesak. Kondisi ini menggambarkan pola “lebih besar pasak daripada tiang” yang masih mengakar di masyarakat.
“Masalah lain yang tak kalah serius adalah ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran. Sebanyak 14 persen masyarakat memiliki pengeluaran lebih besar daripada pendapatan,” berdasarkan Data OCBC Financial Fitness Index 2025, dikutip Rabu (14/1/2026).
Situasi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh penghasilan yang kecil, melainkan dipicu gaya hidup yang tidak sejalan dengan kemampuan finansial, sehingga menyulitkan upaya menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Survei OCBC juga menyoroti kebiasaan pembayaran kartu kredit.
“Sebanyak 56 persen responden hanya membayar tagihan minimum kartu kredit,” tulis Survei OCBC.
Praktik ini memang memberi rasa lega sementara, tetapi berisiko menumpuk beban bunga dalam jangka panjang dan menjadikan kartu kredit sebagai beban finansial. Tak hanya itu, tekanan sosial turut memperparah kondisi keuangan. Sebanyak 76 persen masyarakat menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup teman, mulai dari nongkrong, liburan, hingga tren belanja.
Kebiasaan tersebut membuat banyak orang kehilangan kendali atas tujuan keuangan jangka panjang demi menghindari rasa tertinggal atau fear of missing out (FOMO).
Selain itu, dorongan mencari keuntungan instan juga menjadi masalah. Sebanyak 10 persen responden melakukan spekulasi berlebihan demi cuan cepat, yang kerap berujung pada kerugian karena minimnya pemahaman risiko. Fenomena ini kian marak seiring derasnya narasi sukses instan di media sosial.
Rangkaian temuan tersebut menegaskan tantangan utama keuangan masyarakat bukan hanya soal pendapatan, melainkan kebiasaan.
Gen Z dan Uang: Strategi Menabung, Investasi, dan Kelola Pengeluaran
Tidak ada kata terlalu cepat untuk mulai membangun kebiasaan keuangan yang sehat. [994] url asal
#keuangan #berinvestasi #gen-z #indepth #stabilitas-keuangan
(Kompas.com - Money) 13/01/26 08:08
v/101543/
JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak ada kata terlalu cepat untuk mulai membangun kebiasaan keuangan yang sehat.
Semakin dini seseorang memulainya, semakin besar peluang kebiasaan itu bertahan dalam jangka panjang, mulai dari kemudahan menabung, kesiapan menghadapi keadaan darurat, hingga perencanaan tujuan jangka panjang seperti pensiun.
Bagi Gen Z, kelompok yang sebagian masih bersekolah atau baru memasuki dunia kerja, membangun kebiasaan mengelola uang sejak awal dinilai menjadi fondasi penting bagi keamanan finansial di masa depan.
Dok. Shutterstock/ Kmpzzz Ilustrasi Gen Z menyiapkan tabungan.Meski membutuhkan disiplin dan konsistensi, sejumlah perencana keuangan menilai upaya tersebut akan berdampak besar dalam jangka panjang.
Berbagai pakar keuangan menggarisbawahi sedikitnya sembilan kebiasaan yang dapat mulai diterapkan Gen Z untuk membangun tabungan dan menjaga stabilitas keuangan mereka.
1. Memahami arus kas sejak awal
Levi Sanchez, pendiri dan perencana keuangan di Millennial Wealth, menekankan pentingnya memahami arus kas sebagai langkah pertama dalam membangun tabungan.
“Pertama, tinjau semua sumber pendapatan dan tentukan berapa jumlah pendapatan yang Anda miliki setiap bulannya,” kata Sanchez, dikutip dari Nasdaq.
“Kemudian mulailah melacak pengeluaran menggunakan aplikasi keuangan untuk menentukan pengeluaran rata-rata bulanan. Itu harus mencakup biaya perumahan, pengeluaran gaya hidup variabel, dan pengeluaran tetap lainnya," imbuh Sanchez.
SHUTTERSTOCK/DRAGON IMAGES Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.Menurut Sanchez, kondisi ideal adalah ketika seseorang berada dalam posisi surplus arus kas.
“Setelah surplus tercapai, mulailah mengotomatiskan tabungan atau investasi sehingga terjadi setiap bulan tanpa pekerjaan manual. Ini memastikan Anda tetap berpegang pada rencana Anda,” kata dia.
2. Berinvestasi lebih dini
Di tengah kebutuhan hidup yang terus bertambah, menyisihkan sebagian kecil penghasilan untuk investasi sejak awal dinilai memberi dampak besar dalam jangka panjang.
Kelan Kline, pakar keuangan pribadi dan pemilik The Savvy Couple, menekankan peran waktu dalam pertumbuhan aset.
“Meskipun hanya sedikit, berinvestasi sejak dini berarti uang Anda memiliki lebih banyak waktu untuk tumbuh, berkat keajaiban bunga majemuk,” tutur Kline.
“Investasikan pada reksa dana saham berbiaya rendah atau robo-advisor untuk membuat rencana investasi yang cerdas dan beragam," sarannya.
Sanchez menambahkan, kenaikan penghasilan seharusnya juga diikuti dengan peningkatan tabungan dan investasi agar tidak terjebak dalam apa yang disebut sebagai inflasi gaya hidup.
“Aturan praktis yang baik adalah menyisihkan 50 persen dari peningkatan pendapatan di masa mendatang untuk tabungan atau investasi dan 50 persen sisanya dapat dibelanjakan,” ujar Sanchez.
3. Menerapkan gaya hidup minimalis
Pendekatan minimalis terhadap konsumsi juga disebut sebagai salah satu strategi penting.
Benjamin Stroh, penasihat keuangan di CNY Advisors, menilai pendekatan ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan.
“Mendorong pendekatan minimalis terhadap gaya hidup dan pengeluaran dapat menghasilkan penghematan yang signifikan,” ucap Stroh.
freepik.com Ilustrasi istilah YONO (You Only Need One) yang lagi ramai di kalangan Gen Z sebagai gaya hidup minimalis dan berkelanjutan.“Ini berarti menghargai pengalaman daripada harta benda, membuat keputusan pembelian yang bijaksana, dan mencari alternatif yang hemat biaya tanpa mengorbankan kualitas hidup," lanjutnya.
4. Mengelola utang secara bertanggung jawab
Penggunaan kartu kredit dan pinjaman juga menjadi perhatian. Kline mengingatkan bahwa instrumen ini memang bisa bermanfaat, tetapi berisiko bila tidak dikelola dengan disiplin.
“Kartu kredit dan pinjaman dapat bermanfaat, tetapi juga dapat menimbulkan masalah dengan biaya bunga yang tinggi,” kata Kline. “Jika Anda menggunakannya, pastikan untuk melunasi saldo setiap bulan untuk menghindari terjebak dalam perangkap utang.”
5. Memilih produk yang lebih hemat
Cody Sparks, mantan direktur perbankan ritel di UMB Bank, menilai penghematan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa berdampak besar dalam jangka panjang.
“Gen Z sedang membangun fondasi keuangan mereka, yang berarti setiap peluang kecil untuk berhemat dapat berdampak jangka panjang,” kata Sparks.
Salah satu contoh yang ia berikan adalah saat berbelanja kebutuhan pokok.
“Saat berbelanja untuk seminggu, carilah produk merek lain,” ujarnya.
“Toko bahan makanan mungkin memiliki merek sendiri yang lebih murah, dan biasanya kualitas produknya sama persis dengan merek terkenal. Selain itu, sebaiknya tetap berpegang pada daftar belanja dan rencana makan Anda sebisa mungkin untuk menghindari pemborosan makanan," saran Sparks.
SHUTTERSTOCK/JACOB LUND Ilustrasi Gen Z.6. Memanfaatkan program loyalitas
Program loyalitas juga dinilai bisa membantu menekan pengeluaran rutin. Banyak toko ritel menawarkan diskon atau imbalan khusus bagi pelanggan tetap.
“Periksa apakah SPBU yang paling sering Anda kunjungi menawarkan program loyalitas atau hadiah yang dapat memberikan potongan harga di SPBU,” kata Sparks.
7. Melacak pengeluaran, termasuk tagihan utilitas
Anggaran yang disusun sejak dini dapat membantu membangun kebiasaan pengelolaan uang yang sehat. Sparks menyarankan penggunaan aplikasi untuk mempermudah pelacakan.
“Gunakan aplikasi,” katanya.
“Ini juga dapat membantu untuk melacak tujuan keuangan, pengeluaran, dan tabungan Anda dalam sebuah aplikasi yang dapat Anda periksa secara berkala di ponsel Anda. Ini membuat keuangan Anda berada di ujung jari Anda," ucap Sparks.
Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan biaya utilitas, karena pengeluaran ini bisa memakan porsi besar dari anggaran bulanan.
“Penyedia utilitas Anda mungkin memiliki program bantuan yang dapat Anda ikuti atau rencana pembayaran yang dapat membantu Anda menganggarkan dan memprediksi biaya ini dengan lebih baik,” ujar Sparks.
“Anda juga dapat menghubungi perusahaan untuk melihat apakah Anda dapat menegosiasikan tagihan Anda, terutama untuk paket telepon seluler Anda," imbuh dia.
8. Menggunakan teknologi untuk berhemat
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memiliki banyak alat untuk membantu menghemat uang.
DOK. Shutterstock/SuPatMaN. Ilustrasi layanan digital, belanja online.Salah satunya adalah ekstensi browser gratis yang dapat menemukan penawaran terbaik saat berbelanja online.
Dengan menggunakan alat ini, Gene Z dapat mengakses kode diskon dan kupon secara otomatis saat melakukan pembelian daring, sehingga mengurangi biaya belanja mereka.
Selain ekstensi browser, teknologi lain yang disebutkan mencakup aplikasi penganggaran, rekening tabungan berbunga tinggi, dan program cashback digital.
9. Mengotomatiskan keuangan
Mengelola banyak tagihan dengan tanggal jatuh tempo yang berbeda sering kali menjadi tantangan, terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja. Sparks menyebut otomatisasi dapat menjadi solusi.
“Jika tagihan Anda jatuh tempo pada waktu yang berbeda sepanjang bulan, akan sangat membantu jika Anda mencatat jumlah yang harus dibayar dan tanggalnya di kalender atau aplikasi anggaran untuk membantu Anda merencanakan,” kata Sparks.
“Dengan melihat semuanya di atas kertas atau di aplikasi, Anda dapat melacak kapan penarikan akan terjadi dan mengalokasikan pengeluaran Anda dengan tepat," tuturnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Simak, Tips Investasi Warren Buffett Saat Pasar Saham Bergejolak
Khususnya bagi investor pemula, sulit untuk mengetahui apa yang harus dilakukan di tengah kondisi pasar yang bergejolak. [434] url asal
#berinvestasi #membeli-saham #strategi-investasi #warren-buffett #tips-investasi-warren-buffett
(Kompas.com - Money) 02/11/25 11:02
v/24313/
JAKARTA, KOMPAS.com - Berinvestasi di pasar saham kerap kali bagaikan naik rollercoaster.
Khususnya bagi investor pemula, sulit untuk mengetahui apa yang harus dilakukan di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Itulah sebabnya pendiri Berkshire Hathaway, legenda investasi, dan salah satu orang terkaya di dunia Warren Buffett, umumnya berpegang teguh pada pedoman investasi yang lugas.
Krista Kennell/Shutterstock.com Warren Buffett.Nah, apa tips investasi Buffett saat pasar saham bergejolak?
"Aturan sederhana mengatur pembelian saya: Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut," tulis Buffett dalam sebuah opini untuk New York Times pada tahun 2008, di tengah gejolak krisis keuangan global, dikutip dari CNBC, Minggu (2/11/2025).
Opini tersebut menjelaskan mengapa ia terus membeli saham AS selama masa resesi.
Manfaatkan rasa takut untuk membangun kekayaan
Bagi Buffett, berinvestasi adalah permainan jangka panjang, yang dimainkan selama beberapa dekade.
Jika Anda memiliki tujuan keuangan yang masih jauh, mengikuti filosofinya sangatlah mudah.
Ketika ketakutan investor lain mendorong harga saham turun, teruslah berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi secara luas dengan harga terjangkau.
Secara historis, strategi investasi Buffett berhasil berkat tren kenaikan jangka panjang bisnis-bisnis AS. Kekuatan yang mendorong pasar turun, tegasnya pada tahun 2008, seringkali bersifat sementara.
"Kekhawatiran mengenai kemakmuran jangka panjang banyak perusahaan yang sehat di negara ini tidak masuk akal," tulisnya.
SHUTTERSTOCK/TZIDO SUN Ilustrasi investasi."Bisnis-bisnis ini memang akan mengalami penurunan pendapatan, seperti yang selalu terjadi. Namun, sebagian besar perusahaan besar akan mencetak rekor laba baru 5, 10, dan 20 tahun mendatang," imbuh dia.
Pada titik terendah pasar saham bearish tahun 2007 hingga 2009, indeks saham S&P 500 telah mengalami kerugian lebih dari 50 persen. Investor panik dan menjual saham mereka karena takut keadaan akan semakin buruk.
Jadi, Buffett menjadi serakah dan mengalihkan portofolio investasi pribadinya yang didominasi obligasi ke saham-saham AS.
Benar saja, seiring waktu, bisnis-bisnis AS kembali menguntungkan, dan saham-saham naik ke level tertinggi baru.
Yang jelas, investor belum panik. Namun, jika keadaan memburuk, mereka yang mengikuti strategi Buffett akan terus membeli saham secara konsisten, meskipun berita utama mulai memburuk
Lagipula, investor pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya, dan akhirnya makmur.
"Dalam jangka panjang, berita pasar saham akan baik," tulis Buffett pada tahun 2008.
"Pada abad ke-20, Amerika Serikat mengalami dua perang dunia dan konflik militer traumatis dan mahal lainnya: Depresi Besar, sekitar selusin resesi dan kepanikan keuangan, guncangan harga minyak, epidemi flu; dan pengunduran diri presiden yang dipermalukan. Namun, (indeks) Dow Jones naik dari 66 menjadi 11.497," jelas dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Menteri PU Ajak Negara-Negara Arab Investasi Bangun Bendungan di RI
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengajak negara-negara Arab untuk berinvestasi membangun bendungan di Indonesia. [242] url asal
#dody-hanggodo #negara-negara-arab #berinvestasi #bendungan
(IDX-Channel - Economics) 27/10/25 18:39
v/17593/
IDXChannel - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengajak negara-negara Arab untuk berinvestasi membangun bendungan di Indonesia.
Hal tersebut dia lakukan saat menghadiri The 5th Islamic Conference of Ministers Responsible for Water yang diselenggarakan di Jeddah, Arab Saudi, pada 21-22 Oktober 2025.
Konferensi yang mengusung tema 'From Vision to Impact' ini mempertemukan para menteri negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta lembaga internasional untuk memperkuat kerja sama di bidang Sumber Daya Air.
"Nanti mereka (calon investor dari Arab) akan kesini untuk mengecek. Saya lagi nawarin, belum keluar datanya," ujarnya saat ditemui usai acara Peringatan Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2025 di Bekasi, Senin (27/10/2025).
Dody juga menyampaikan apresiasi atas peran Kerajaan Arab Saudi sebagai tuan rumah, serta kepemimpinan OKI dalam memperkuat kolaborasi negara-negara Islam di bidang pengelolaan Sumber Daya Air.
Dia menilai resolusi yang diadopsi dalam konferensi negara-negara anggota OKI merupakan tonggak penting dalam memperkuat komitmen bersama menghadapi tantangan air dan iklim.
"Rata-rata sih proyek air ya (minat investor Arab), bendungan, yang gitu-gitu," kata dia.
Sebelumnya Dody mengatakan investasi di bidang air bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi juga merupakan ekonomi kepercayaan yang berlandaskan etika, keadilan, dan kemanusiaan.
Kementerian PU membuka peluang seluasnya bagi investasi luar di sektor infrastruktur air, mengingat kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas.
"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, kami mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan air dan iklim," kata dia.
(NIA DEVIYANA)
Cerita ASN Papua dan Driver Ojol Aceh, Belajar Investasi dari Nol hingga Bisa Beli Rumah
Dua sosok dari datang dari timur dan barat Indonesia membuktikan bahwa berinvestasi tidak harus dimulai dengan modal besar. [480] url asal
#investasi #berinvestasi #membeli-saham #reksa-dana
(Kompas.com - Money) 18/10/25 18:31
v/8203/
JAKARTA, KOMPAS.com - Dua sosok dari datang dari timur dan barat Indonesia membuktikan bahwa berinvestasi tidak harus dimulai dengan modal besar atau latar belakang ekonomi tinggi.
Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Papua Hugo Rein Hard, dan pengemudi ojek online dari Aceh Selatan Khairil Huda, ialah bukti bahwa literasi keuangan bisa menjadi pintu menuju kemandirian finansial.
Hugo pertama kali mengenal investasi pada 2019, saat masih menjadi guru honorer di Sentani, Papua. Pandemi Covid-19 membuat aktivitas sekolah terhenti, dan ia menghabiskan banyak waktu di depan komputer.
Shutterstock/A9 STUDIO Ilustrasi investasi.“Saya mulai mencari cara menghasilkan uang dari internet, tapi banyak yang ternyata penipuan. Akhirnya saya temukan video edukasi tentang investasi di YouTube,” ujarnya ditemui di Jakarta pada Sabtu (18/10/2025).
Dari situ, Hugo mulai mengenal reksa dana dan memberanikan diri menanamkan modal kecil sebesar Rp 10.000 melalui platform investasi.
Ia kemudian memahami pentingnya manajemen risiko dan konsistensi dalam berinvestasi.
“Reksa dana cocok untuk pemula karena ada manajer investasi yang bantu kelola portofolio,” tutur Hugo.
Konsistensinya berbuah hasil. Pada 2023, ia berhasil membeli rumah pertamanya dari hasil investasi.
Kini, Hugo sering diundang Bursa Efek Indonesia (BEI) Papua untuk berbagi pengalaman dan mendorong anak muda agar berani memulai investasi sejak dini.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan BEI Papua, Kresna Payokwa, menyebutkan bahwa minat anak muda Papua terhadap pasar modal terus meningkat.
Saat ini sudah ada lebih dari 100 ribu investor pasar modal di Papua.
"Kami terus melakukan literasi keuangan ke sekolah dan kampus agar semakin banyak masyarakat memahami pentingnya investasi,” jelasnya.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investasi, produk investasi. Tak hanya saham, ada banyak pilihan investasi lain yang bisa memberi cuan. Simak 11 investasi non-saham yang menarik dicoba.Sementara itu, di Aceh, Khairil Huda menemukan jalan serupa meski berangkat dari profesi yang jauh dari dunia finansial.
Sehari-hari ia mengantar jemput penumpang, namun semangat belajar dan ingin berkembang membuatnya menonton video motivasi finansial dari tokoh-tokoh seperti Helmy Yahya, Gita Wirjawan, dan Rhenald Kasali.
Rasa ingin tahu membawanya pada pelatihan literasi keuangan yang digelar komunitas anak muda Banda Aceh bersama motivator Unggul Suprayitno.
“Saya diajarkan untuk menghitung penghasilan, mencatat pengeluaran, dan menyisihkan tabungan di awal, bukan dari sisa uang,” ujarnya.
Setelah mengikuti Sekolah Pasar Modal di BEI Banda Aceh, Khairil membuka akun sekuritas dengan modal Rp1,7 juta dan membeli saham pertamanya.
“Awalnya rugi 47 persen, tapi saya tidak menyerah. Saya belajar dari rugi itu,” katanya.
Kini, ia memiliki empat saham aktif dan hasilnya cukup membantu membayar cicilan rumah dan motor.
Khairil juga aktif mengajak rekan-rekannya sesama driver ojol untuk belajar investasi. Ia ingin mengubah cara pandang rekan-rekannya bahwa investasi bukan hanya untuk orang kaya.
“Kita tidak bisa selamanya di jalan. Kalau tidak mulai menabung dan investasi dari sekarang, nanti terlambat," katanya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56