Bisnis.com, PEKANBARU - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta akselerasi ekonomi digital melalui penyelenggaraan Karya Riau Bertuah 2026, di tengah upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah yang pada triwulan I/2026 tercatat sebesar 4,89 persen.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Riau Panji Achmad mengatakan Karya Riau Bertuah merupakan implementasi strategi BI dalam mengembangkan ekonomi daerah secara terintegrasi melalui penguatan UMKM, perluasan digitalisasi sistem pembayaran, hingga peningkatan literasi masyarakat terhadap kebanksentralan.
"Kegiatan ini menjadi wujud kontribusi BI Riau dalam mengimplementasikan upaya pengembangan ekonomi Provinsi Riau secara sinergis dan terintegrasi, khususnya pada sektor UMKM dan ekonomi digital," ujar Panji saat pembukaan Karya Riau Bertuah 2026 di Living World Pekanbaru, Selasa (30/6/2026).
Mengusung tema Harmoni Khazanah Bumi Lancang Kuning, kegiatan tersebut berlangsung hingga 5 Juli 2026 dengan melibatkan 50 UMKM dari berbagai kabupaten dan kota di Riau. Produk yang dipamerkan meliputi sektor makanan olahan, kriya, hingga wastra lokal.
Selain pameran UMKM, BI Riau menyelenggarakan berbagai agenda pendukung, antara lain edukasi penggunaan QRIS, perlindungan konsumen, sosialisasi program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, kampanye konsumsi pangan lokal, serta kompetisi barista, koki dessert, dan membatik khas Riau.
Panji mengatakan rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat daya saing UMKM sekaligus mempercepat adopsi ekonomi digital di Provinsi Riau.
Pemerintah Provinsi Riau menilai peran BI dalam pengembangan ekonomi daerah tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan kegiatan promosi UMKM, tetapi juga melalui pembinaan usaha, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga pengendalian inflasi.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Riau Helmi mengatakan hingga kini BI Riau telah membina 33 UMKM yang tersebar di Pekanbaru, Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi. Pendampingan tersebut mencakup penyediaan sarana produksi, digitalisasi pemasaran, peningkatan produktivitas, hingga pengembangan ekonomi syariah.
"UMKM binaan BI Riau bahkan telah mampu bersaing pada berbagai kompetisi tingkat Sumatera. Ini menunjukkan pembinaan yang dilakukan tidak berhenti pada penyelenggaraan event, tetapi berorientasi pada peningkatan kapasitas pelaku usaha," katanya.
Menurut Helmi, kontribusi BI juga terlihat dalam penyusunan rekomendasi kebijakan ekonomi bersama kalangan akademisi dan pemerintah daerah, serta melalui forum investasi yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon investor.
Ia menyebut berbagai langkah tersebut turut menopang ketahanan ekonomi Riau di tengah dinamika ekonomi global.
"Di tengah ketidakpastian global dan tensi politik, ekonomi Riau pada triwulan I 2026 masih mampu tumbuh 4,89 persen. Ini tidak terlepas dari sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk kontribusi BI sebagai strategic adviser pemerintah daerah," ujarnya.
Di sektor sistem pembayaran, Pemprov Riau juga mengapresiasi percepatan digitalisasi transaksi melalui QRIS yang disebut telah menjangkau sekitar 1,7 juta-2,5 juta pengguna dan sekitar satu juta merchant di seluruh Provinsi Riau.
Selain itu, sinergi BI bersama pemerintah daerah dalam pengendalian inflasi dinilai berhasil menjaga stabilitas harga. Hal tersebut antara lain tercermin dari capaian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Riau yang meraih predikat TPID Berkinerja Terbaik III Sumatera 2025, sementara TPID Kota Pekanbaru menjadi TPID Terbaik III Sumatera 2025 setelah sebelumnya meraih peringkat pertama pada 2024.