JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan teknologi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, untuk pertama kalinya membuka gambaran rinci kondisi keuangan internalnya ke publik menjelang penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Perusahaan yang nantinya diperdagangkan dengan kode saham SPCX di bursa Nasdaq itu telah mengajukan prospektus IPO atau dokumen S-1 kepada Securities and Exchange Commission (SEC) menjelang agenda roadshow investor yang dilaporkan dimulai pada 5 Juni 2026.
Dokumen tersebut menjadi gambaran pertama bagi investor mengenai kinerja bisnis SpaceX, termasuk sumber pendapatan utama perusahaan, tantangan operasional, hingga arah ekspansi bisnis ke depan.
Dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (21/5/2026), SpaceX sebelumnya telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada SEC pada April 2026 untuk mendapatkan masukan regulator terkait rencana pencatatan saham.
Perusahaan disebut membidik penghimpunan dana hingga 75 miliar dollar AS dengan valuasi mendekati 1,8 triliun dollar AS.
Jika terealisasi, nilai tersebut akan melampaui kapitalisasi pasar sejumlah perusahaan teknologi besar dunia, termasuk Tesla yang saat ini memiliki nilai pasar sekitar 1,4 triliun dollar AS.
Kinerja keuangan SpaceX mulai terbuka
Berdasarkan dokumen IPO, SpaceX membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 4,694 miliar dollar AS pada tiga bulan pertama 2026 atau periode yang berakhir pada 31 Maret 2026.
Namun perusahaan masih mencatat rugi operasional sebesar 1,943 miliar dollar AS.
Sementara itu, adjusted EBITDA SpaceX tercatat mencapai 1,127 miliar dollar AS.
Secara tahunan, sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 18,674 miliar dollar AS.
Meski pendapatan bertumbuh besar, SpaceX masih mencatat rugi operasional sebesar 2,589 miliar dollar AS.
Adapun adjusted EBITDA perusahaan pada 2025 mencapai 6,584 miliar dollar AS.
Dalam dokumen tersebut, SpaceX menyebut segmen Space dan Connectivity menjadi kontributor utama pendapatan konsolidasi perusahaan.
Starlink menjadi mesin utama pertumbuhan
Segmen Connectivity yang mayoritas ditopang layanan internet satelit Starlink menjadi bisnis paling menguntungkan SpaceX.
Pada kuartal I 2026, segmen tersebut membukukan pendapatan sebesar 3,257 miliar dollar AS.
Lini bisnis itu juga menghasilkan laba operasional 1,188 miliar dollar AS dan adjusted EBITDA sebesar 2,087 miliar dollar AS.
Sepanjang 2025, bisnis Connectivity menghasilkan pendapatan 11,387 miliar dollar AS.
Laba operasional unit tersebut mencapai 4,423 miliar dollar AS, sedangkan adjusted EBITDA tercatat 7,168 miliar dollar AS.
Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan yang signifikan.
Pendapatan tumbuh 49,8 persen secara tahunan, laba operasional melonjak 120,4 persen, sementara adjusted EBITDA meningkat 86,2 persen.
SpaceX juga mengungkapkan bahwa hingga akhir Maret 2026, Starlink telah mengoperasikan lebih dari 9.600 satelit dan melayani sekitar 10,3 juta pelanggan.
Pertumbuhan layanan internet satelit itu kini menjadi faktor utama yang menopang profitabilitas perusahaan dan dinilai menjadi alasan kuat mengapa SpaceX memilih momentum IPO saat ini.
Bisnis peluncuran roket masih menanggung beban besar
Di luar Starlink, SpaceX juga menjalankan segmen Space yang mencakup bisnis peluncuran roket.
Pada kuartal I 2026, unit tersebut menghasilkan pendapatan 619 juta dollar AS.
Namun segmen itu masih mencatat rugi operasional sebesar 662 juta dollar AS.
Sementara kerugian adjusted EBITDA mencapai 351 juta dollar AS.
Sepanjang 2025, segmen Space menghasilkan pendapatan 4,086 miliar dollar AS.
Unit bisnis tersebut membukukan rugi operasional 657 juta dollar AS.
Namun adjusted EBITDA masih tercatat positif sebesar 653 juta dollar AS.
SpaceX juga mengungkapkan besarnya biaya pengembangan Starship, roket generasi terbaru yang dirancang untuk mengangkut kargo dalam jumlah besar sekaligus berpotensi menjadi wahana pendaratan di Bulan.
Perusahaan telah menggelontorkan lebih dari 15 miliar dollar AS untuk proyek Starship.
Nilai investasi itu bahkan melampaui anggaran awal yang sebelumnya direncanakan perusahaan.
Starship dijadwalkan menjalani misi uji terbang ke-12 pada pekan ini.
Bisnis AI menjadi sumber kerugian terbesar
Selain bisnis luar angkasa dan internet satelit, SpaceX kini juga mengembangkan bisnis kecerdasan buatan atau AI.
Segmen tersebut kini disebut SpaceXAI dan mencakup bisnis xAI.
Pada kuartal I 2026 saja, lini AI membukukan pendapatan sebesar 818 juta dollar AS.
Namun bisnis tersebut mencatat rugi operasional sangat besar, yakni mencapai 2,469 miliar dollar AS.
Kerugian adjusted EBITDA juga mencapai 609 juta dollar AS.
Secara tahunan, bisnis AI SpaceX membukukan kerugian hingga 6,355 miliar dollar AS sepanjang 2025.
Dokumen IPO menunjukkan bahwa rugi operasional perusahaan saat ini sebagian besar dipicu investasi besar pada pengembangan AI.
Sementara bisnis inti SpaceX sebelumnya, yakni Connectivity dan Space, sudah mampu menghasilkan keuntungan operasional dan EBITDA secara gabungan.
Kuartal I 2026 bahkan menunjukkan kerugian operasional semakin dalam seiring dampak konsolidasi penuh bisnis xAI.
IPO SpaceX dan ambisi besar Elon Musk
Sesuai aturan SEC, SpaceX wajib membuka prospektus publik setidaknya 15 hari sebelum roadshow investor dimulai.
Tahapan roadshow merupakan proses ketika perusahaan bersama penjamin emisi menawarkan saham kepada investor institusi besar dan perusahaan pialang.
Pada fase tersebut, harga IPO final biasanya mulai ditentukan sebelum saham resmi diperdagangkan di bursa.
Setelah alokasi saham kepada investor institusi selesai dilakukan, prospektus final diterbitkan dan saham mulai diperdagangkan sehari setelah harga IPO ditetapkan.
Bagi Elon Musk, IPO SpaceX menjadi salah satu tonggak penting dari ambisi panjang yang dibangun sejak perusahaan berdiri pada 2002.
Pada 2012, SpaceX mulai mengirimkan kargo menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan roket buatannya.
Di balik cerita valuasi besar SpaceX, Starlink menjadi salah satu alasan utama yang menarik perhatian investor.
Layanan internet satelit yang mulai beroperasi pada 2019 tersebut kini menjadi sumber keuntungan terbesar perusahaan.
Di sisi lain, SpaceX bersama Tesla juga mengumumkan Terafab, perusahaan patungan yang dirancang untuk mengintegrasikan seluruh tahapan produksi semikonduktor dalam satu fasilitas.
Terafab akan mengembangkan dua jenis chip utama.
Pertama, prosesor edge inference untuk mendukung sistem full self-driving Tesla, robot humanoid Optimus, serta armada Robotaxi.
Kedua, chip berdaya tinggi yang dirancang untuk kebutuhan luar angkasa, termasuk mendukung satelit SpaceX, pusat data orbital, serta pengembangan AI.
Dana segar hasil IPO nantinya juga akan digunakan untuk mendukung pembangunan pusat data orbital yang menjadi salah satu prioritas Elon Musk.
Musk meyakini pengembangan komputasi AI di luar angkasa berpotensi lebih murah dibandingkan di Bumi.
Di sisi kepemilikan saham, Musk dilaporkan masih menguasai sekitar 42 persen saham SpaceX sebelum potensi dilusi dari IPO.
Jika valuasi perusahaan mampu mencapai 1,6 triliun dollar AS, Musk berpotensi menjadi orang pertama di dunia dengan kekayaan menembus 1 triliun dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang