Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah program unggulan yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% dinilai menyimpan risiko besar karena mengandalkan aktivitas-aktivitas tinggi emisi karbon.
World Resources Institute (WRI) Indonesia dalam analisisnya mencatat bahwa strategi pembangunan unggulan seperti food estate untuk mencapai swasembada pangan, peningkatan bauran biofuel dalam konsumsi bahan bakar guna menjamin ketahanan energi, hingga industrialisasi masih diiringi sejumlah catatan.
Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mencatat setidaknya ada tiga risiko yang dihadapi Indonesia dari pembangunan yang tinggi emisi. Pertama, kenaikan emisi yang mengiringi aktivitas ekonomi dapat memperburuk dampak perubahan iklim. Sektor pertanian dan pangan akan menjadi salah satu yang paling terimbas dari memburuknya kondisi iklim.
“Kedua, kualitas udara yang buruk akibat polusi menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk juga. Sehingga produktivitas masyarakat akan menurun, biaya kesehatan sebaliknya akan melonjak tinggi,” katanya dalam Stories to Watch Indonesia 2026, Selasa (3/3/2026).
Risiko ketiga menyangkut soal dampak yang muncul dari hilangnya jasa ekosistem karena kerusakan alam. Nirarta mengemukakan jasa ekosistem yang menyusut akan menjadi tantangan pada masa depan, seperti kualitas udara yang memburuk, pasokan air bersih yang terganggu, dan kualitas tanah yang menurun untuk aktivitas bercocok tanam.
“Akibatnya pertumbuhan ekonomi 8% tidak akan bisa dirasakan lagi,” kata dia.
Environmental Economist WRI Indonesia, Romauli Panggabean, secara spesifik menyoroti model pembangunan yang diadopsi di sektor pertanian untuk mencapai swasembada pangan. Dia mengatakan cara produksi dengan model sentralistik dan berbasis korporasi berisiko menambah beban biaya tersembunyi dalam sistem pangan Indonesia yang sudah tinggi. Beban biaya ini berbentuk tingkat kesehatan masyarakat yang memburuk, degradasi lingkungan, serta kualitas kondisi sosio-ekonomi yang menurun.
“Hal ini karena program KSPP [kawasan sentral produksi pangan] yang dilakukan dengan membuka lahan baru akan meningkatkan kontribusi emisi Indonesia. Tentunya, ini tidak sesuai dengan target pengurangan emisi kita,” katanya.
Romauli menuturkan, perbaikan desain KSPP perlu ditempatkan dalam kerangka trisula pembangunan, yakni pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan perlindungan lingkungan. Terlebih, sektor pertanian dan pangan masih memegang peran strategis dalam perekonomian nasional, baik dari sisi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), ketahanan saat pandemi, maupun penyerapan tenaga kerja yang mencapai sekitar sepertiga total angkatan kerja.
WRI Indonesia pun merekomendasikan agar KSPP dikelola dengan pendekatan berbasis komunitas dan terdesentralisasi, serta berfokus pada optimalisasi lahan terdegradasi. Berdasarkan kajian terbatas lembaga tersebut, terdapat sekitar 3 juta hektare lahan terdegradasi yang berpotensi dimanfaatkan untuk program KSPP.
Pemanfaatan lahan terdegradasi dinilai dapat menghindari pembukaan hutan dan lahan baru yang berisiko meningkatkan emisi karbon.
“Dengan memanfaatkan lahan-lahan ini, pembukaan lahan baru yang memunculkan emisi karbon sebenarnya dapat dihindari,” ujar Romauli.
Lebih lanjut, pendekatan berbasis komunitas dinilai berpotensi mendorong penciptaan 32% hingga 48,9% pekerjaan hijau konvensional dari target 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan pemerintah. Artinya, program swasembada pangan tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan, tetapi juga pada transformasi ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, pencapaian target tambahan produksi 10 juta ton beras pada 2029 juga perlu diiringi dengan penerapan prinsip agroekologi. Pendekatan ini menekankan intensifikasi berkelanjutan melalui perbaikan praktik budidaya, efisiensi input, dan penguatan sistem ekologi pertanian.
Berdasarkan pemodelan yang dikembangkan WRI Indonesia, kombinasi intensifikasi berbasis agroekologi, optimalisasi lahan terdegradasi, serta proteksi lahan sawah yang diperkuat melalui Perpres Nomor 4 Tahun 2025 dinilai mampu mendukung target peningkatan produksi beras tanpa perlu membuka kawasan hutan baru.
Tantangan Emisi dari Swasembada Energi
Selain sektor pangan, pemerintah juga menargetkan swasembada energi dalam beberapa tahun ke depan. Namun pendekatan yang ditempuh dinilai juga memiliki sejumlah risiko.
Senior Manager for Resilient Cities & Transport WRI Indonesia I Made Vikannanda menjelaskan bahwa salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah meningkatkan campuran biofuel dalam konsumsi diesel dari B40 menuju B50, bahkan dalam jangka panjang hingga B100. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.
Namun berdasarkan analisis WRI Indonesia, Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 47% kebutuhan diesel nasional. Sisanya masih dipenuhi melalui impor dan campuran biofuel berbasis minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Pemodelan lembaga tersebut menunjukkan bahwa skenario biodiesel B50 memang berpotensi membuat Indonesia tidak perlu mengimpor diesel pada 2026. Namun kebutuhan impor diperkirakan kembali muncul pada 2030 dan seterusnya seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan sistem logistik nasional.
Selain itu, penggunaan CPO untuk biofuel domestik juga berpotensi mengurangi ekspor komoditas tersebut yang selama ini menjadi sumber devisa penting bagi Indonesia.
“Ketika makin banyak CPO digunakan untuk biofuel domestik, sebagian potensi ekspor bisa berkurang. Ini berisiko menurunkan penerimaan devisa dari pasar global,” ujar Vikannanda.
Belum lagi potensi deforestasi akibat perluasan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biofuel. Menurutnya, penggunaan biofuel tidak dapat menjadi solusi jangka panjang bagi swasembada energi. Oleh karena itu, pengembangan teknologi alternatif seperti elektrifikasi kendaraan dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Dalam konteks ini, Vikannanda mengemukakan sistem logistik nasional menjadi sektor yang krusial tetapi sering terlewat dalam diskusi elektrifikasi transportasi.
Saat ini sekitar 80% hingga 90% sistem logistik nasional masih bergantung pada transportasi jalan raya yang didominasi truk. Meski hanya mencakup sekitar 3,7% dari total populasi kendaraan nasional, truk menyumbang sekitar 14% emisi transportasi darat.
Dari sisi fiskal, pemerintah juga mengeluarkan subsidi besar untuk konsumsi bahan bakar di sektor ini. Pada 2024, pemerintah menghabiskan lebih dari Rp90 triliun untuk mensubsidi 17,6 juta kiloliter solar, dengan sebagian besar dikonsumsi oleh truk logistik. Secara total, subsidi diesel dan bensin mencapai sekitar Rp140 triliun. Nilai tersebut setara dengan investasi subsidi operasional hingga 175.000 unit bus perkotaan.
Untuk mempercepat transisi menuju logistik rendah emisi, WRI Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mendorong pembentukan Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA). Platform multipihak tersebut dirancang untuk mempercepat adopsi angkutan barang rendah emisi melalui elektrifikasi truk dan pengembangan ekosistem pendukung.
Namun, tantangan elektrifikasi truk masih besar. Penelitian WRI Indonesia menunjukkan bahwa harga awal truk listrik saat ini sekitar dua hingga tiga kali lebih mahal dibandingkan truk diesel. Penyebab utamanya adalah harga baterai yang masih tinggi dan keterbatasan produsen domestik, sehingga Indonesia masih bergantung pada komponen impor.
“Akibatnya, periode pengembalian modal truk listrik diperkirakan 1,8–2,5 kali lebih lama dibandingkan truk diesel, terutama tanpa dukungan insentif pemerintah,” paparnya.
Tantangan lain datang dari sisi infrastruktur. Dalam empat tahun terakhir, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) meningkat hingga 6.278 unit di seluruh Indonesia. Namun, spesifikasi SPKLU yang ada saat ini umumnya belum memenuhi kebutuhan operasional truk listrik yang memerlukan pengisian daya berkapasitas tinggi.
“Situasi ini menyerupai dilema ayam dan telur. Penyedia jasa enggan membangun SPKLU khusus truk listrik karena permintaan masih rendah. Di sisi lain, pelaku industri ragu mengadopsi truk listrik karena infrastruktur pengisian belum memadai,” kata Vikannanda.
Selain itu, masih terdapat tantangan regulasi. Berbeda dengan kendaraan listrik roda dua dan roda empat, Indonesia belum memiliki peta jalan dan target nasional untuk elektrifikasi angkutan barang, khususnya truk listrik. WRI Indonesia mencatat bahwa tanpa kerangka regulasi yang komprehensif, penetapan insentif, disinsentif, dan instrumen kebijakan lainnya akan sulit dilakukan.
Agenda Industrialisasi Hijau Mendesak
Agenda industrialisasi juga menjadi pilar utama strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Engagement Manager for Energy & Sustainable Business WRI Indonesia Arief Utomo mengatakan industrialisasi nasional perlu dirancang agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan emisi.
Saat ini sektor manufaktur menyumbang sekitar 18,9% terhadap PDB dan menyerap sekitar 19,3 juta tenaga kerja.
Namun sektor industri juga menyumbang sekitar 34% emisi nasional, dengan 36% di antaranya berasal dari sembilan subsektor intensif energi, yakni semen, besi dan baja, kimia, pupuk, pulp dan kertas, tekstil, kaca dan keramik, makanan dan minuman, serta otomotif.
Dalam skenario business as usual, tanpa intervensi dekarbonisasi yang signifikan, emisi dari sembilan subsektor tersebut diperkirakan melonjak hingga 101% pada 2050 dibandingkan 2023, atau meningkat dari sekitar 153 juta ton CO₂ ekuivalen menjadi lebih dari 308 juta ton CO₂ ekuivalen.
“Industrialisasi tanpa transformasi energi dan teknologi hijau akan mempercepat pertumbuhan emisi pada skala yang sama cepatnya dengan pertumbuhan ekonomi,” kata Arief.
Karena itu, implementasi peta jalan dekarbonisasi untuk sembilan subsektor industri prioritas dinilai penting. Langkah ini diperkirakan mampu menurunkan emisi hingga 108,3 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2035 dan hingga 306,7 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2050.
Selain itu, pengembangan ekosistem industri hijau juga menjadi kunci agar transformasi tersebut dapat berjalan. Ekosistem tersebut mencakup ketersediaan energi dan teknologi rendah karbon yang terjangkau, mekanisme pendanaan dan insentif yang mudah diakses, serta kebijakan industri yang terpadu.
Sejumlah inisiatif dinilai mulai muncul. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru menargetkan sekitar 76% tambahan pembangkit listrik berasal dari energi baru dan terbarukan.
Di sisi lain, inovasi seperti Green Energy as a Service (GEAS) mulai menjembatani kebutuhan listrik hijau bagi industri. Sepanjang 2025, penjualan Renewable Energy Certificate (REC) melalui layanan tersebut mencapai 6,43 TWh atau meningkat 19,65% dibandingkan tahun sebelumnya.
Mayoritas pembeli berasal dari industri berskala besar di sektor manufaktur makanan, kimia, serta pulp dan kertas. Arief menilai perkembangan ini menunjukkan sektor industri mulai menjadi motor utama dalam pemanfaatan energi bersih.
Namun, di tengah ambisi industrialisasi dan ekspansi ekonomi, Indonesia perlu memastikan bahwa pertumbuhan tidak mengorbankan masyarakat dan lingkungan.
“Komitmen pada keberlanjutan harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan publik, ruang hidup masyarakat, serta masa depan iklim,” katanya.