Masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin ketahanan finansial jangka panjang. [1,628] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Konsep pensiun di berbagai negara tengah mengalami perubahan mendasar seiring dengan meningkatnya harapan hidup, perubahan pola karier, dan ketidakpastian ekonomi yang semakin tinggi. Kondisi ini mendorong perlunya transformasi sistem pensiun agar mampu menjawab tantangan masa depan.
Dalam laporan terbaru bertajuk Securing Retirement: What Builds a Strong Pension System, Manulife menilai bahwa pensiun kini bukan lagi fase singkat setelah masa kerja berakhir. Sebaliknya, masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun sehingga membutuhkan perencanaan yang lebih matang untuk menjamin keberlanjutan pendapatan dan ketahanan finansial jangka panjang.
Manulife mengungkapkan bahwa banyak sistem pensiun yang saat ini berlaku, baik di negara maju maupun berkembang, masih dibangun berdasarkan asumsi lama, yakni pekerjaan yang stabil, jalur karier yang dapat diprediksi, serta usia harapan hidup yang lebih pendek.
Akibatnya, sejumlah tantangan masih membayangi sistem pensiun global. Tingkat penggantian pendapatan saat pensiun (retirement replacement rate) dinilai masih rendah, sementara kesenjangan partisipasi program pensiun masih terjadi, terutama pada kelompok pekerja informal.
Selain itu, individu kini semakin dituntut mengambil keputusan finansial yang kompleks dengan panduan yang terbatas. Di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, kesenjangan pendapatan pada masa pensiun juga masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius.
Dalam laporannya, Manulife mengidentifikasi lima elemen utama yang menjadi fondasi sistem pensiun yang tangguh, yaitu kecukupan (adequacy), akses (access), fleksibilitas (flexibility), nasihat (advice), dan akuntabilitas (accountability).
Kelima elemen tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih progresif dalam membangun sistem pensiun, tidak hanya berfokus pada akumulasi aset, tetapi juga memperhatikan aspek inklusivitas, perilaku peserta, serta kepercayaan terhadap sistem.
Laporan ini menegaskan bahwa sistem pensiun yang kuat tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui desain kebijakan yang tepat, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Di tengah perubahan tersebut, Manulife menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia solusi pensiun, tetapi juga sebagai kontributor dalam pengembangan sistem pensiun yang lebih berkelanjutan.
Melalui pengalaman global, riset, serta kapabilitas di bidang asuransi, manajemen aset, dan solusi kekayaan, perusahaan berupaya membantu masyarakat menjembatani kesenjangan antara kontribusi selama masa kerja dan kebutuhan pendapatan saat pensiun.
Elvin Tharm, Head of Emerging Markets Asia Retirement, Manulife, berbagi pandangannya mengenai tantangan, peluang, serta prioritas strategis dalam membangun sistem pensiun yang lebih kuat kepada Bisnis. Berikut petikannya:
Laporan terbaru Manulife menunjukkan bahwa ekosistem pensiun di Asia tengah berada pada titik infleksi yang krusial. Dengan tingkat pendapatan di masa pensiun (retirement replacement rate) yang umumnya berada di bawah 50% dari pendapatan sebelum pensiun, jutaan orang berisiko menghadapi ketidakcukupan finansial di masa tua. Dalam konteks ini, bagaimana membangun ekosistem pensiun yang lebih tangguh ke depan?
Urgensi tersebut semakin nyata di pasar seperti Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penggantian pendapatan pensiun di Indonesia baru berada di kisaran 10–15% dari pendapatan sebelum pensiun. Ini jauh di bawah ambang kecukupan sekitar 40% yang diacu secara internasional, termasuk oleh ILO. Kesenjangan ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural yang signifikan antara kebutuhan finansial di masa pensiun dan kemampuan sistem saat ini dalam memenuhinya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pembangunan ekosistem pensiun yang tangguh memerlukan pergeseran mendasar: dari sekadar fokus pada “akumulasi” aset menuju “keberlanjutan pendapatan”. Seiring dengan masa pensiun yang kini dapat berlangsung 30 hingga 40 tahun, langkah ke depan perlu difokuskan pada tiga prioritas utama.
Pertama, desain yang dirancang untuk menghadapi umur panjang. Sistem pensiun perlu keluar dari pendekatan lama yang didesain untuk karier linear dan usia harapan hidup yang lebih pendek.
Ke depannya, diperlukan strategi investasi “through-retirement” yang tetap mempertahankan eksposur pada pertumbuhan aset, bahkan setelah memasuki masa pensiun, alih-alih sepenuhnya beralih ke portofolio konservatif.
Kedua, integrasi nasihat investasi sebagai infrastruktur inti. Ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besaran kontribusi peserta program pensiun, tetapi juga oleh kualitas pengambilan keputusan.
Akses terhadap panduan profesional - baik melalui platform digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya - menjadi kunci untuk menyederhanakan kompleksitas dan menerjemahkan desain sistem menjadi hasil yang lebih optimal bagi individu.
Hal ini juga mencakup penetapan tujuan keuangan yang tepat, seperti membedakan antara kebutuhan jangka pendek dan aspirasi jangka panjang, agar perencanaan pensiun tetap menjadi prioritas.
Ketiga, percepatan agenda reformasi pensiun. Sistem pensiun yang tangguh perlu dikembangkan secara struktural untuk membantu masyarakat menghadapi risiko umur panjang dan ketidakpastian ekonomi.
Di Indonesia, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat. Regulator dan pembuat kebijakan terus mendorong reformasi untuk memperkuat tabungan sukarela, termasuk langkah menuju perluasan cakupan wajib dan harmonisasi sistem pensiun.
Dekade mendatang akan mendefinisikan ulang makna pensiun, baik bagi individu, keluarga, maupun perekonomian secara luas. Kita memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk membangun sistem yang tidak hanya memberikan pendapatan, tetapi juga menghadirkan ketahanan, keadilan, dan rasa percaya diri bagi generasi mendatang.
Bagaimana kecenderungan memilih portofolio konservatif dapat menurunkan pendapatan bulanan di masa pensiun?
Temuan ini menyoroti adanya opportunity cost yang signifikan ketika pendekatan investasi terlalu berhati-hati dalam horizon jangka panjang. Analisis kami menunjukkan beberapa hal berikut.
Pertama, kesenjangan imbal hasil (growth gap). Dalam tiga dekade terakhir, indeks S&P 500 mencatatkan imbal hasil rata-rata sekitar 9% per tahun, dibandingkan dengan sekitar 4% untuk obligasi AS.
Ketika sistem pensiun secara default menempatkan peserta pada portofolio yang terlalu konservatif - terutama di tahap awal - efek bunga-berbunga dari imbal hasil yang lebih rendah dapat secara signifikan menggerus hasil akhir investasi.
Kedua, kondisi di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, baik saham maupun obligasi di Indonesia mencatatkan imbal hasil rata-rata di atas 10% per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan deposito bank sekitar 4,5% dan instrumen pasar uang di kisaran 4–5%.
Namun demikian, dengan profil demografi di mana 59% tenaga kerja berada pada usia produktif (15–44 tahun), sekitar 57% aset pensiun justru ditempatkan pada instrumen pasar uang, sementara 39% berada di obligasi dan hanya sekitar 4% di saham.
Ketiga, kesenjangan pendapatan pensiun (income shortfall). Dengan kinerja pasar modal Indonesia sebagai ilustrasi, seorang peserta program pensiun dengan horizon investasi 30 tahun dan kontribusi rutin sebesar Rp1 juta per bulan, melalui portofolio dengan alokasi saham dan obligasi yang seimbang sesuai siklus usia (glidepath), berpotensi mengumpulkan dana sekitar Rp2,6 miliar.
Sebaliknya, jika sejak awal seluruh dana hanya ditempatkan pada instrumen pasar uang yang sangat konservatif, nilai yang terkumpul hanya sekitar Rp1 miliar. Perbandingan ini menunjukkan hilangnya potensi hasil yang signifikan, khususnya bagi generasi pekerja muda di Indonesia.
Keempat, mitigasi melalui diversifikasi. Untuk mengatasi hal ini, penting untuk menerapkan diversifikasi lintas kelas aset dan sektor. Penyebaran investasi dapat membantu meredam fluktuasi pasar sekaligus tetap memberikan peluang pertumbuhan, sehingga risiko dapat dikelola tanpa mengorbankan hasil jangka panjang.
Bagaimana cara memperluas partisipasi pekerja lepas dan perempuan - yang selama ini masih kurang terakomodasi - ke dalam skema tabungan pensiun formal?
Inklusi merupakan fondasi dari ketahanan ekonomi. Untuk mendorong kelompok ini masuk ke dalam sistem, diperlukan upaya sistematis dalam mengurangi hambatan struktural, memperluas akses, serta memberdayakan individu agar dapat mulai menabung lebih dini dan secara konsisten.
Skema kontribusi sukarela. Program tabungan sukarela tambahan dapat membantu menutup kesenjangan di berbagai bentuk pekerjaan, terutama bagi pekerja yang berpindah-pindah antar perusahaan, industri, maupun platform.
Sebagai contoh, Employees Provident Fund (EPF) di Malaysia menyediakan inisiatif kontribusi sukarela yang lebih terarah, seperti i-Saraan untuk pekerja gig dan i-Suri untuk ibu rumah tangga, yang menawarkan cara fleksibel untuk mulai berpartisipasi dan membangun tabungan pensiun secara bertahap.
Perluasan cakupan jaminan sosial nasional. Pembuat kebijakan dan regulator memiliki peran kunci dalam memperluas partisipasi dalam sistem jaminan sosial nasional.
Beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina, mulai memperluas cakupan agar mencakup pekerja mandiri dan sektor informal, sehingga membantu individu dengan riwayat kerja yang tidak kontinu tetap dapat membangun tabungan pensiun secara berkelanjutan.
Peningkatan kesadaran dan literasi. Banyak individu yang belum sepenuhnya memahami keberadaan skema sukarela maupun insentif pajak pada program pensiun.
Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku industri perlu memperkuat upaya edukasi keuangan, meningkatkan sosialisasi, serta membangun kepercayaan diri masyarakat dalam merencanakan masa depan finansial jangka panjang.
Mengapa industri dana pensiun perlu beralih dari fokus pada “saldo simpanan pensiun” menuju solusi “pendapatan berkelanjutan” yang mampu menopang masa pensiun hingga 40 tahun?
Saldo akun yang besar sejatinya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Di era ketika masa pensiun dapat berlangsung hingga empat dekade, terlalu berfokus pada “lump sum” justru dapat menyesatkan karena beberapa alasan utama.
Tantangan fase dekumulasi. Pertama, ujian sesungguhnya dari sebuah sistem pensiun adalah kemampuannya mengubah tabungan menjadi aliran pendapatan rutin - atau retirement income - yang mampu mengikuti inflasi serta bertahan di tengah volatilitas pasar.
Mengelola risiko setelah pensiun. Kedua, risiko seperti usia panjang, inflasi, dan biaya kesehatan tidak berhenti saat seseorang pensiun. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pendapatan berkelanjutan mendorong industri untuk merancang solusi sejak awal yang juga memperhitungkan fase dekumulasi, bukan hanya akumulasi.
Mendefinisikan ulang hasil akhir (outcome). Ketiga, kepercayaan merupakan fondasi dari setiap sistem pensiun. Individu menempatkan tabungan seumur hidup mereka dengan harapan bahwa sistem yang ada transparan, adil, dan selaras dengan kesejahteraan jangka panjang mereka.
Mendorong penggunaan alat dan kalkulator yang menerjemahkan tabungan menjadi proyeksi pendapatan pensiun dapat membantu individu memahami posisi keuangan mereka secara lebih akurat, serta mengambil keputusan yang lebih tepat terkait penganggaran, tingkat kontribusi, dan waktu pensiun.
Sistem yang dibangun di atas transparansi yang lebih baik dan ukuran berbasis hasil (outcome-based) pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan dan keyakinan di setiap tahap perjalanan pensiun.
Apa saja syarat utama dari sistem pensiun yang kuat?
Menurut laporan terbaru Manulife mengenai pensiun, sebuah sistem pensiun yang kuat memiliki lima karakteristik utama.
Pertama, kecukupan dan perlindungan terhadap usia panjang. Dirancang untuk menghasilkan pendapatan yang bertahan sepanjang masa pensiun, serta mampu menghadapi inflasi dan volatilitas pasar.
Kedua, akses dan inklusi. Menjangkau populasi seluas mungkin, termasuk mereka dengan pola kerja yang tidak linear atau terus berubah.
Ketiga, fleksibilitas yang disertai perlindungan. Menyeimbangkan kebebasan individu dalam mengambil keputusan dengan mekanisme perlindungan, seperti program default yang cerdas dan memberikan dorongan perilaku positif, untuk mencegah habisnya tabungan secara prematur.
Keempat, kepercayaan melalui nasihat. Memanfaatkan panduan berbasis digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya untuk menyederhanakan kompleksitas finansial menjadi langkah yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.
Kelima, transparansi dan akuntabilitas. Membangun kepercayaan melalui tata kelola yang kuat serta pelaporan yang berfokus pada hasil nyata, terutama kesiapan pendapatan di masa pensiun.
Nilai tukar rupiah yang terus berada dalam tekanan, bahkan menembus Rp18 ribu per dolar AS, membuat sebagian masyarakat mulai melirik investasi valuta asing (valas).
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak pasar keuangan, dolar AS maupun mata uang asing lainnya kerap dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven).
Namun, apakah kondisi saat ini menjadi momentum yang tepat untuk masuk ke investasi valas?
Perencana keuangan membagikan tips apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum berinvestasi valas saat ini:
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menilai saat ini belum menjadi waktu ideal untuk masuk ke instrumen valas secara agresif.
Menurutnya, masih banyak faktor yang membuat pergerakan kurs sulit diprediksi, mulai dari kondisi ekonomi domestik, arah kebijakan fiskal pemerintah, sentimen investor asing terhadap Indonesia, hingga potensi intervensi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Menurut saya pribadi sih sekarang belum jadi waktu yang tepat buat masuk valas ya apalagi secara agresif. Masih banyak ketidakpastian," ujarnya.
Dandy mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, investor tidak seharusnya mengambil keputusan hanya berdasarkan tren pelemahan kurs saat ini.
Pandangan berbeda disampaikan Perencana Keuangan Andi Nugroho. Menurutnya, investor masih bisa mulai masuk ke aset valas, tetapi dengan strategi yang lebih terukur.
Ia menyarankan penggunaan metode dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli valas sedikit demi sedikit secara berkala dalam jangka waktu tertentu.
Strategi tersebut dapat membantu mengurangi risiko membeli pada harga yang terlalu tinggi sekaligus meredam dampak fluktuasi kurs.
"Masuknya bisa mulai dari sekarang, bisa mulai masuk dengan membeli sedikit demi sedikit secara periodik," katanya.
Dengan cara ini, investor tidak perlu menebak kapan titik tertinggi atau terendah nilai tukar terjadi.
Banyak investor identik menganggap investasi valas sama dengan membeli dolar AS. Padahal, diversifikasi mata uang juga penting dilakukan.
Andi menyarankan investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu mata uang saja. Selain mengurangi risiko, langkah ini juga memberi peluang memperoleh keuntungan dari pergerakan beberapa mata uang sekaligus.
"Berinvestasi jangan hanya di satu mata uang, tapi bisa di dua atau tiga mata uang berbeda," imbuhnya.
Menurutnya, mata uang yang relatif kuat dan stabil seperti dolar Australia, dolar Singapura, dan yen Jepang dapat menjadi alternatif untuk melengkapi portofolio.
Senada, Dandy melihat beberapa mata uang lain yang layak dipertimbangkan bagi investor yang memang ingin memiliki aset valas.
Ia menilai franc Swiss dan dolar Singapura masih menarik karena dikenal memiliki stabilitas yang relatif baik.
Meski demikian, pemilihan mata uang tetap harus disesuaikan dengan tujuan investasi, profil risiko, serta kondisi ekonomi global yang terus berubah.
Bagi investor yang belum yakin mengambil posisi di pasar valas, menunggu perkembangan situasi juga bukan keputusan yang salah.
Dandy justru menyarankan masyarakat untuk mempertahankan likuiditas dan bersikap wait and see hingga terdapat kepastian yang lebih jelas terkait arah ekonomi dan pasar keuangan.
Sebagai alternatif, dana dapat ditempatkan sementara pada instrumen yang lebih konservatif seperti deposito atau reksa dana pasar uang.
"Tapi saran saya, better keep cash dulu wait and see sampai sudah ada kepastian benar. Sebagai alternatif bisa switch ke yang aman dulu seperti deposito atau reksadana pasar uang," katanya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Investasi berkala dinilai bisa menjadi strategi menjaga kesehatan finansial generasi muda di tengah meningkatnya penggunaan pinjaman online dan layanan buy now pay later. Kemudahan akses kredit digital mendorong kebutuhan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin sejak dini.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan 48,65 persen kredit macet pinjaman online per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun. Pada periode yang sama, outstanding pinjol nasional mencapai Rp101,03 triliun atau tumbuh 26,25 persen secara tahunan, sementara total utang buy now pay later menyentuh Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengatakan investasi berkala dapat menjadi pendekatan sederhana bagi generasi muda untuk mulai membangun aset secara konsisten. “Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital. Namun di saat yang sama, banyak yang belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten. Padahal, membangun kondisi finansial yang sehat tidak selalu harus dimulai dari nominal besar. Langkah sederhana seperti menyisihkan setidaknya 5 persen dana dingin dari penghasilan untuk investasi rutin dapat membentuk disiplin finansial dalam jangka panjang,” kata Aloysia, Rabu (20/5/2026).
Metode investasi berkala atau dollar-cost averaging (DCA) memungkinkan investor menempatkan dana secara rutin dengan nominal tetap sehingga risiko fluktuasi harga dapat lebih terkelola. Strategi ini dinilai relevan bagi investor pemula yang ingin membangun kebiasaan investasi tanpa harus menunggu modal besar.
Di tengah meningkatnya akses layanan kredit digital, perilaku konsumtif menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Data OJK mencatat rasio kredit bermasalah pinjol atau TWP90 per Maret 2026 mencapai 4,52 persen, menunjukkan pengelolaan utang konsumtif masih menjadi pekerjaan rumah dalam ekosistem keuangan digital.
Riwayat pembayaran dan kedisiplinan finansial juga berperan dalam menentukan akses pembiayaan di masa depan, mulai dari kredit rumah, kendaraan, hingga pembiayaan usaha. “Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan. Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten,” lanjut Aloysia.
Pelaku industri menilai edukasi finansial dan pemanfaatan teknologi investasi otomatis menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan finansial individu di era ekonomi digital.
Rupiah melemah, Dollar AS menguat. Perlukah Anda investasi Dollar AS? Perencana keuangan beri tips penting: jangan FOMO! Pahami tujuan dan risiko investasi valas. [422] url asal
Thinkstockphotos.com/ThamKC Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar AS
Tabungan dollar AS memang kerap dianggap sebagai cara aman menjaga nilai aset saat rupiah melemah.
Namun, perencana keuangan Andi Nugroho mengingatkan bahwa menyimpan dana dalam instrumen ini harus dengan tujuan lindung nilai (hedging), bukan sekadar ikut tren.
Ia menjelaskan, keputusan menaruh dana dalam dollar AS sebenarnya sangat bergantung pada kebutuhan dan profil risiko masing-masing individu.
"Jadi boleh enggak kemudian berinvestasi di dollar AS, ya tergantung kita sendiri, apakah kita memang mau diversifikasi investasi kita di dollar AS atau enggak. Karena enggak semua orang kemudian merasa nyaman untuk berinvestasi di dollar AS," jelasnya kepada Kompas.com, ditulis pada Minggu (17/5/2026).
Dia menuturkan, jika memang ingin melakukan diversifikasi aset investasi dengan memiliki dollar AS, maka keputusan tersebut harus tidak berdasarkan perasaan takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).
Sebab, investasi valas pada dasarnya lebih cocok untuk jangka menengah hingga panjang, bukan untuk mencari keuntungan instan dalam waktu singkat.
"Jangan karena dollar AS lagi naik terus kemudian FOMO ikut-ikutan beli dollar. Kalau tidak sesuai profil risiko dan tujuan investasi, yang ada nanti justru bisa rugi," ucap dia.
PIXABAY/PASJA1000 Ilustrasi dollar AS.
Andi mengingatkan, investor setidaknya perlu menyiapkan jangka waktu investasi sekitar satu hingga tiga tahun agar bisa memperoleh potensi keuntungan yang optimal, sehingga tidak bisa langsung instan cuan.
Maka dari itu, ia menekankan perlunya memahami risiko dari instrumen investasi yang ingin dimiliki.
"Hanya karena sekarang dollar AS-nya menguat seperti itu, ya kita belum tahu juga beberapa bulan ke depan akan seperti apa kondisinya. Kalau syukur-syukur misalnya dapat cuan dari situ, kalau enggak kan berarti kita harus hold lagi lebih lama," kata dia.
Jika memang ingin mulai membeli dollar AS, Andi juga menyarankan, untuk melakukannya secara bertahap guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Strategi tersebut dikenal dengan istilah dollar cost averaging, yakni membeli sedikit demi sedikit secara berkala.
"Kalau punya uang dingin dan mau beli dollar AS, jangan langsung semua dibelikan sekaligus. Bisa dicicil, misalnya minggu ini 30 persen dulu, minggu depan beli lagi. Jadi belinya sedikit demi sedikit, untuk memecah risiko juga," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saat Rupiah melemah, jangan panik! Investasi valas dan reksadana dolar AS bisa jadi peluang. Kenali strategi cerdas untuk lindungi aset Anda. [843] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat dapat memanfaatkan momentum pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS untuk memulai perjalanan menabung atau investasi berbasis valuta asing (valas).
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak panik ataupun buru-buru mengambil keputusan ekstrem saat dollar AS naik.
"Fokus utama tetap pada tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot hari ini ditutup pada level 15.595 per dollar AS.
Angka ini masih melemah 67,5 poin atau setara 0,39 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Rista menjelaskan, ketika kebutuhan sehari-hari dan dana darurat sudah aman, maka kenaikan dollar AS bisa menjadi momentum untuk mulai diversifikasi aset.
"Termasuk mempertimbangkan instrumen berbasis dollar AS secara bertahap," imbuh dia.
Reksadana berbasis dollar AS jadi pilihan
Dalam kondisi pelemahan rupiah, masyarakat kerap berpikir untuk mulai mengakumulasi instrumen investasi seperti reksadana berbasis dollar AS.
Rista bilang, untuk investasi seperti reksadana berbasis dollar AS, strategi yang lebih bijak adalah mencicil secara berkala atau dollarcostaveraging (DCA).
"Bukan membeli sekaligus dalam jumlah besar karena berharap kurs akan terus naik," ungkap dia.
Dengan cara bertahap, Rista menyebut, risiko membeli di harga puncak bisa lebih ditekan.
Di sisi lain, sikap waitandsee boleh dilakukan, terutama bagi masyarakat yang profil risikonya konservatif.
Namun demikian, terlalu lama menunggu juga bisa membuat seseorang kehilangan momentum untuk membangun aset dalam mata uang asing.
Kesalahan keputusan finansial ketika kurs rupiah loyo
Masyarakat juga diharapkan tidak terjerembah pada kesalahan-kesalahan yang lazim terjadi dalam perencanaan keuangan di tengah tren pelemahan rupiah terhadap dollar AS.
Rista menjabarkan, kesalahan finansial yang paling sering terjadi adalah panicbuyingdollar AS hanya karena takut rupiah terus melemah.
Masyarakat yang tidak memiliki tujuan finansial juga cenderung akan menukar seluruh tabungan rupiah ke dollar tanpa perencanaan.
Hal tersebut merupakan akar dari kebiasaan masyarakat yang sering berinvestasi dengan hanya ikut tren.
Lebih parah lagi, ada juga masyarakat yang menggunakan dana kebutuhan harian atau dana darurat untuk spekulasi kurs.
Rista menekankan, pergerakan nilai tukar sangat fluktuatif dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.
"Sehingga keputusan finansial sebaiknya tetap berbasis tujuan jangka panjang," ungkap dia.
Strategi membeli dollar AS sebagai investasi
Rista mengatakan membeli aset dollar saat rupiah melemah bisa tepat, tetapi sangat bergantung pada waktu.
Ketika pembelian dilakukan saat rupiah sudah berada di level lemah, lalu terjadi penguatan kembali, nilai dollar dalam rupiah bisa turun.
Sebagai ilustrasi, pembelian dollar di level Rp 16.500 yang kemudian diikuti penguatan rupiah ke Rp 15.800 dapat menimbulkan kerugian sekitar 4 persen.
Oleh karena itu, strategi yang lebih aman adalah membeli secara bertahap (dollarcostaveraging) dan tidak menempatkan seluruh dana pada aset dollar AS.
“Karena itu biasanya lebih baik membeli bertahap atau dollarcostaveraging dan tidak menaruh seluruh dana di dollar AS,” ucap dia.
freepik ilustrasi investasi
Manfaat menabung valas
Menabung memang merupakan salah satu strategi penting dalam mengelola keuangan.
Menabung bertujuan untuk mempersiapkan dana cadangan di masa depan dan memberikan jaminan kestabilan finansial jika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Dalam menabung, terdapat berbagai pilihan produk tabungan yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan preferensi individu.
Beberapa produk tabungan tersebut di antaranya tabungan konvensional, tabungan berjangka, tabungan rencana, hingga tabungan untuk investasi.
Salah satu pilihan tabungan investasi, yaitu tabungan dalam mata uang asing atau valuta asing (valas).
Menabung valas dapat menjadi salah satu pilihan masyarakat di tengah kondisi pelemahan rupiah yang saat ini terjadi.
Sama seperti tabungan pada umumnya, tabungan valas dapat membantu menyimpan uang dan melakukan transaksi keuangan nontunai.
Tabungan valas merupakan satu alternatif produk investasi karena kurs mata uang asing setiap tahunnya cenderung menguat sehingga memiliki potensi imbal hasil yang kompetitif.
Anda akan mendapatkan keuntungan dari fluktuasi pasar valas dan saldo pada tabungan akan bertambah saat dikonversikan.
Alasan nilai tukar terus melemah
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan kurs rupiah disebabkan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal.
Untuk internal, adanya perdebatan terkait data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tercatat 5,61 persen.
Angka itu berada di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia (BI), maupun mayoritas ekonom dan analis.
“Nah dari segi internal ya, kita tahu bahwa ada perdebatan tentang data pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama yang di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia maupun para ekonom atau analis yang semuanya itu adalah di bawah 5,61 persen,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi Kompas.com.
Di sisi lain, tekanan global meningkat akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi energi karena konflik di Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz hingga potensi perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan indeks dollar.
“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan,” ucap Ibrahim.
Di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, masih menjadi momok utama pasar keuangan global.
Ketegangan meningkat setelah muncul informasi mengenai penyerangan terhadap instalasi minyak Iran yang disebut melibatkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Para analis pasar modal menganjurkan agar investor Tanah Air bisa tetap tenang namun tetap selalu waspada akan kemungkinan yang bisa terjadi ke depan. [690] url asal
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tren penurunan sepanjang April 2026. Selama periode ini, IHSG turun 3,17 persen atau 227,64 poin ke level 6.956.
Tekanan IHSG datang dari berbagai sentimen, mulai dari pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, hingga ketidakpastian global.
Kondisi tersebut tentu membuat sebagian investor kelimpungan untuk menentukan strategi yang tepat saat tekanan datang dari kondisi internal maupun eksternal Tanah Air.
Meskipun begitu, para analis pasar modal menganjurkan agar investor Tanah Air bisa tetap tenang namun tetap selalu waspada akan kemungkinan yang bisa terjadi ke depan.
Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa diterapkan investor untuk tetap tenang dan waspada di situasi saat ini.
1. Jangan Terburu-buru Cut Loss
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menyarankan investor menahan (hold) saham yang dimiliki. Namun, keputusan tersebut harus disertai sejumlah pertimbangan, terutama dari sisi fundamental.
"Kami berpandangan dengan kondisi saat ini maka keputusan hold saham untuk penurunan lebih dari 30 persen harus memiliki pondasi fundamental yang solid, baik dari operasional hingga kesehatan neraca," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (1/5).
Selama statusnya masih unrealized loss (kerugian belum direalisasikan), investor dinilai masih berpotensi untuk memperoleh keuntungan saat pasar mengalami technical rebound.
Ia juga menekankan agar investor lebih selektif dalam memilih emiten, khususnya yang tetap kuat secara fundamental, serta mampu bertahan di tengah tekanan pasar.
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji yang menyarankan investor untuk menahan saham dan fokus pada manajemen risiko.
"Hold saja karena yang paling penting adalah risk management, bisa pakai strategi dollar cost averaging atau averaging down," katanya.
Ia menilai strategi tersebut lebih baik dibandingkan cut loss karena masih berada pada posisi unrealized loss. Jika pasar berbalik arah dan mengalami rebound, investor berpotensi memperoleh keuntungan.
"Kalau misalnya IHSG bisa mengalami pullback atau technical rebound, tentunya bisa dapat profit gain," ujar Nafan.
2. Terapkan Dollar Cost Averaging (Cicil Bertahap)
Strategi lain yang bisa diterapkan adalah tidak menggunakan seluruh "peluru" atau modal secara sekaligus. Ini mengingat kondisi pasar cenderung masih volatil (naik-turun secara tajam), sehingga membutuhkan strategi pembelian secara bertahap.
Strategi ini dapat membantu investor untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik. Selain itu, investor disarankan menghindari saham dengan eksposur tinggi terhadap dolar AS, baik dari sisi utang maupun impor.
"Sehingga, keputusan strategi Dollar cost averaging masih rasional di tengah tekanan pasar, tetapi lebih selektif," ujar Oktavianus.
Investor juga perlu memerhatikan seberapa besar emiten terpapar dampak volatilitas nilai tukar Dolar AS. Itu termasuk menghindari emiten dengan catatan utang dalam mata uang asing dan kinerja perusahaan bergantung pada bahan baku impor.
"Jangan gunakan semua peluru karena IHSG masih volatil, maka lakukan pembelian secara bertahap (averaging). Kita tidak pernah tahu di mana bottom sebenarnya sampai ia sudah lewat," ujar Nafan.
3. Selektif Memilah Saham
Keputusan untuk menahan saham harus dibarengi riset mendalam. Untuk itu, Oktavianus menekankan pentingnya memastikan pondasi operasional emiten yang solid, disertai neraca keuangan yang sehat.
Sementara itu, Nafan menyarankan investor untuk menerapkan strategi value investing dengan memilih saham yang secara fundamental masih murah, tetapi memiliki prospek pertumbuhan.
Diversifikasi juga menjadi hal penting dengan mengombinasikan saham defensif seperti perbankan dan konsumsi non-siklikal, dengan saham berbasis pertumbuhan seperti pertambangan.
[Gambas:Youtube]
4. Lakukan Rotasi Saham Sektoral
Oktavianus menyatakan tekanan IHSG saat ini dipicu berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.
Domestik, tekanan berasal dari pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, penurunan outlookrating dari beberapa lembaga pemeringkat global, kekhawatiran akan tekanan fiskal, hingga kebijakan MSCI terhadap saham Indonesia.
Sementara dari eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memengaruhi pasar, terutama melalui sektor energi.
"Maka pasar cenderung terjadi rotasi sektoral dari yang sensitif terhadap ekonomi makro ke sektor yang berkorelasi positif dengan kondisi geopolitik, seperti energi dan komoditas," ujar Oktavianus.
Adapun Nafan mengingatkan bahwa ketidakpastian merupakan hal yang wajar di pasar setiap tahun. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi kunci untuk meminimalkan dampak terhadap portofolio.
5. Incar Dividen dan Value Investing
Nafan memaparkan sejumlah strategi investasi yang bisa dipertimbangkan pada 2026. Salah satunya fokus pada saham dengan dividen tinggi, dengan kisaran imbal hasil sekitar 4-7 persen.
Di samping itu, investor perlu memilah saham yang secara fundamental masih murah (undervalued) namun memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang cerah.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pergerakan pasar kripto yang cenderung datar mendorong investor mencari strategi yang lebih stabil. Pendekatan investasi bertahap dinilai bisa membantu mengelola risiko di tengah volatilitas.
Indodax menilai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) relevan digunakan, terutama bagi investor pemula. Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan, kondisi pasar sideways bisa dimanfaatkan untuk akumulasi aset secara konsisten tanpa bergantung pada waktu pasar.
“Banyak investor masih mencoba menebak titik terendah, padahal strategi DCA memungkinkan pembelian aset secara bertahap saat harga terkoreksi sehingga portofolio lebih siap ketika pasar kembali menguat,” kata Antony, Kamis (30/4/2026).
DCA merupakan metode investasi dengan membeli aset secara rutin dalam jumlah tetap tanpa memperhatikan fluktuasi harga. Pendekatan ini membantu menciptakan rata-rata harga beli yang lebih seimbang dalam jangka panjang.
Ia menambahkan, strategi ini juga membantu investor menghindari keputusan emosional dan membangun disiplin dalam berinvestasi.
“DCA dapat membantu para investor dalam mengelola risiko volatilitas, tetapi tidak menghilangkan risiko sepenuhnya,” kata Antony.
Indodax mengingatkan investor tetap menggunakan dana dingin dan menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing. Evaluasi portofolio secara berkala juga dinilai penting.
Seiring meningkatnya minat terhadap aset kripto, edukasi strategi investasi menjadi kunci agar investor lebih memahami risiko dan peluang pasar.
JAKARTA, KOMPAS.com - Strategi investasi Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai kembali relevan di tengah pergerakan pasar kripto yang cenderung bergerak dalam rentang terbatas atau sideways dalam beberapa waktu terakhir.
Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan, kondisi pasar seperti saat ini dapat dimanfaatkan investor, khususnya pemula, untuk menerapkan strategi investasi yang lebih disiplin dan terukur.
"Dalam kondisi pasar yang cenderung sideways, banyak investor cenderung wait and see atau bahkan mencoba menebak titik terendah. Padahal, strategi seperti Dollar Cost Averaging dapat menjadi pendekatan yang lebih realistis, karena tidak bergantung pada market timing," ujar Antony dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
DOK. INDODAX Vice President Indodax Antony Kusuma.
Menurut dia, melalui pendekatan tersebut investor berpeluang mengakumulasi aset lebih optimal ketika harga terkoreksi, sehingga portofolio lebih siap ketika pasar kembali bullish.
"Investor dapat masuk ke pasar secara konsisten tanpa tekanan emosional yang berlebihan," kata Antony.
DCA bantu kelola risiko
Dollar Cost Averaging (DCA) merupakan strategi investasi dengan membeli aset secara rutin dalam nominal yang sama pada periode tertentu, tanpa bergantung pada kondisi harga.
Pendekatan ini memungkinkan investor mengakumulasi aset secara bertahap sekaligus membantu meredam dampak fluktuasi harga.
Antony menjelaskan, strategi ini juga dapat membantu investor pemula dalam mengelola risiko.
Saat harga turun, investor berpotensi memperoleh aset dalam jumlah lebih banyak, sementara saat harga naik, pembelian tetap berjalan dengan jumlah yang lebih kecil.
PEXELS/RDNE STOCK PROJECT Ilustrasi aset kripto.
Menurut dia, mekanisme tersebut secara alami dapat membantu menciptakan rata-rata harga beli yang lebih seimbang sekaligus membuka potensi pertumbuhan portofolio dalam jangka panjang.
Selain itu, DCA dinilai dapat membantu membangun kebiasaan investasi yang lebih disiplin dan mengurangi kecenderungan pengambilan keputusan berbasis emosi, yang kerap menjadi tantangan bagi investor pemula.
Namun, Antony mengingatkan strategi ini tetap memiliki risiko dan perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing investor.
"Dollar Cost Averaging (DCA) dapat membantu para investor dalam mengelola risiko volatilitas, tetapi tidak menghilangkan risiko sepenuhnya. Investor tetap perlu menggunakan dana dingin dan memastikan strategi yang digunakan sesuai dengan profil risiko masing-masing," tambahnya.
Tiga hal yang perlu investor perhatikan
Untuk memaksimalkan strategi DCA, investor disarankan memperhatikan beberapa hal.
Pertama, menentukan alokasi dana secara rutin dan konsisten agar strategi berjalan sesuai rencana.
Kedua, menghindari keputusan investasi berdasarkan emosi atau fear of missing out (FOMO), terutama di tengah volatilitas pasar.
Ketiga, melakukan evaluasi portofolio secara berkala guna menyesuaikan strategi dengan tujuan investasi.
Antony mengatakan, edukasi mengenai strategi investasi yang tepat menjadi semakin penting seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto.
Ia menyebut INDODAX terus mendorong literasi melalui berbagai kanal edukasi, termasuk INDODAX Academy, untuk membantu pengguna memahami dinamika pasar dan menentukan strategi yang sesuai dengan tujuan investasi.
Dorong investasi kripto yang lebih bijak
Sebagai crypto exchange yang telah terdaftar dan diawasi OJK, INDODAX menyatakan berkomitmen menghadirkan ekosistem investasi yang aman, transparan, dan edukatif.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berharap dapat mendukung pertumbuhan investor kripto yang lebih bijak dan berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. [506] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Strategi Systematic Investment Plan (SIP) atau investasi rutin dinilai cocok diterapkan dalam pasar modal, khususnya reksa dana, di tengah pertumbuhan investor yang telah mencapai 26 juta orang.
Momentum tersebut diperkuat melalui peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Program ini melibatkan pemerintah dan pelaku industri dalam mendorong masyarakat memahami investasi reksa dana sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Sejumlah pejabat hadir dalam pencanangan tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Sejalan dengan itu, pelaku industri seperti Bibit.id menegaskan komitmennya dalam mengembangkan fitur SIP atau nabung rutin.
Direktur Bibit, Hilmawan Kusumajaya, menyebut investasi berkala menjadi pendekatan paling relevan bagi masyarakat karena tidak mensyaratkan modal besar, tetapi menekankan konsistensi dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Hilmawan menjelaskan, konsep SIP menggabungkan kekuatan compounding dan strategi dollar cost averaging, yakni investasi dalam jumlah tetap secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. Dengan pendekatan ini, investor dapat membangun portofolio secara bertahap sekaligus mengurangi risiko akibat volatilitas.
“Metode ini mendorong disiplin karena investor menyisihkan dana secara rutin sesuai tujuan keuangan. Misalnya, untuk membeli rumah dalam 10 tahun, SIP membantu investasi dilakukan secara konsisten, fleksibel, dan terdiversifikasi,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (27/4/2026).
Strategi the power of compounding adalah konsep di mana hasil investasi yang ditanamkan dapat ikut diinvestasikan kembali, sehingga menghasilkan keuntungan baru di atas keuntungan sebelumnya. Jadi, bukan hanya uang awal yang bertumbuh, tapi juga hasilnya ikut berkembang.
Adapun, Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor menanamkan dana dalam jumlah yang sama secara rutin (misalnya tiap bulan) di suatu aset, tanpa melihat kapan harga pasar sedang murah atau mahal.
Menurut Hilmawan, kunci keberhasilan investasi tidak hanya terletak pada pemilihan instrumen, tetapi juga pada konsistensi dan komitmen jangka panjang.
SIP mengedepankan kebiasaan menabung investasi secara berkala serta menahan godaan untuk mencairkan dana sebelum target tercapai. Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi guna menekan risiko.
“SIP bukan soal investasi besar, melainkan disiplin. Ini strategi jangka panjang yang relatif aman dan terbukti efektif,” tambahnya.
Pengalaman India menjadi salah satu referensi keberhasilan penerapan strategi ini. Kampanye “Mutual Fund Sahi Hai” yang digagas Association of Mutual Funds in India sejak 2017 berhasil mendorong lonjakan signifikan pada industri reksa dana.
Chief Executive AMFI Venkat N. Chalasani mengungkapkan bahwa dalam periode Februari 2017 hingga Maret 2019, rata-rata dana kelolaan (AAUM) tumbuh 33%, bahkan meningkat hingga 600% sejak kampanye tersebut dimulai.
Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari dukungan teknologi finansial yang mempermudah akses masyarakat terhadap produk investasi, termasuk penerapan SIP secara digital. Model serupa dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi di Indonesia.
Hilmawan optimistis, dengan jumlah investor pasar modal yang kini telah melampaui 26 juta, strategi investasi rutin dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan berikutnya.
Melalui sinergi regulator, industri, dan platform digital, SIP diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan sekaligus membangun basis investor yang lebih kuat dan berorientasi jangka panjang.
Investor disarankan mengelola risiko di tengah lonjakan harga minyak dan fluktuasi rupiah dengan strategi DCA dan akumulasi Bitcoin saat pasar dalam zona Extreme Fear. [487] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Investor diminta mencermati dinamika global yang memicu lonjakanharga minyak dunia dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko.
Menurutnya strategi yang paling relevan adalah menjaga likuiditas dan memanfaatkan momentum koreksi untuk masuk secara bertahap pada aset-aset berpotensi besar yang sedang terdiskon akibat kepanikan makro.
Dia juga menyarankan investor menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar, sekaligus membangun portofolio secara lebih terukur dalam jangka panjang.
"Manajemen risiko menjadi kunci utama,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
Fahmi juga menambahkan bahwa meski korelasi Bitcoin dengan Nasdaq saat ini masih cukup tinggi di angka 85,4%, kondisi pasar yang berada di zona Extreme Fear justru seringkali menjadi sinyal akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang.
"Ketika Fear & Greed Index menyentuh level Extreme Fear, sejarah mencatat bahwa ini adalah zona akumulasi bagi mereka yang memiliki nafas panjang, bukan waktu untuk panic selling," lanjut Fahmi.
Di tengah badai ini, Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$67.000-69.000 atau sekitar 46% di bawah rekor tertingginya, fondasi institusional justru semakin kokoh.
Namun demikian langkah Morgan Stanley yang menunjuk BNY Mellon sebagai kustodian aset kripto, serta investasi besar dari pemilik NYSE di bursa kripto, menandakan transisi Bitcoin dari instrumen spekulatif semata menjadi bagian dari infrastruktur keuangan global yang semakin strategis.
Ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17–18 Maret. Dengan memburuknya data ketenagakerjaan AS, terdapat peluang bank sentral AS memberikan sinyal kebijakan yang lebih dovish melalui proyeksi suku bunga dalam dot plot.
Meski demikian, pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga, dengan data inflasi tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
Adapun volatilitas pasar keuangan global kembali meningkat tajam setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia.
Situasi ini tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hampir menyentuh US$120 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global. Namun, harga kemudian terkoreksi ke kisaran US$85–US$90 per barel setelah muncul sinyal de-eskalasi dari Presiden AS Donald Trump.
Gejolak global tersebut langsung terasa di pasar domestik. Nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga ke level Rp16.935–Rp16.970 per dolar AS, mendekati rekor terlemahnya. Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh keputusan lembaga pemeringkat internasional Fitch dan Moody’s yang memangkas outlook kredit Indonesia.
Di saat bersamaan, perekonomian Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Data ketenagakerjaan Februari 2026 mencatat hilangnya 92.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%, sementara utang nasional AS kini membengkak hingga US$38,43 triliun.
Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stagflasi, yaitu situasi ketika ekonomi mengalami perlambatan di tengah inflasi yang tinggi.
Bisnis.com, JAKARTA — Bibit.id mengajak masyarakat untuk bijak dalam mengelola Tunjangan Hari Raya (THR) jelang Hari Raya Idulfitri 2026.
Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William mengatakan biasanya THR hanya menjadi numpang lewat dan cepat habis untuk kebutuhan konsumtif sesaat. Padahal, sebagian THR bisa menjadi langkah awal untuk memulai investasi.
"Momen menerima THR adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi, tanpa harus menunggu nanti kalau sudah siap. Kalau kita sisihkan sebagian untuk investasi, dampaknya bisa besar untuk jangka panjang,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (3/3/2026).
Dia menjelaskan terdapat sejumlah pilihan produk investasi yang tersedia seperti reksa dana, saham, hingga obligasi negara Fixed Rate (FR) bisa membantu masyarakat berinvestasi sesuai profil risiko masing-masing.
Menurutnya, salah satu instrumen yang banyak diminati adalah obligasi FR. Selain menawarkan imbal hasil yang kompetitif, instrumen ini 100% dijamin negara dan memiliki pajak yang lebih rendah dibandingkan deposito konvensional.
Dia menuturkan investor bisa mendapatkan potensi hasil yang lebih optimal dengan tingkat keamanan yang tinggi.
“Kami ingin memastikan THR tidak hanya habis untuk belanja, tapi juga menjadi modal produktif. Dengan obligasi FR, uang bisa bekerja lebih keras untuk kita,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin tetap berinvestasi sesuai prinsip syariah selama Ramadan, lanjutnya, investor bisa memilih beragam reksa dana syariah dengan nominal terjangkau mulai dari Rp10.000.
Bibit mendorong penggunaan strategi Systematic Investment Plan (SIP) yang menggabungkan kekuatan compounding dan Dollar Cost Averaging (DCA). Melalui fitur autodebit yang terintegrasi dengan RDN Wallet, GoPay, dan Bank Jago, pengguna dapat secara otomatis menyisihkan dana, termasuk dari THR, untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak, pernikahan, hingga pensiun.
Sepanjang 2025, Bibit mencatat dua juta investor baru, naik 37% dibandingkan tahun sebelumnya, dan kini mengelola lebih dari 1,7 juta portofolio investasi. Sebanyak 38.000 tujuan keuangan berhasil tercapai, melanjutkan tren positif tahun sebelumnya di mana lebih dari 32.000 tujuan investor terwujud.
Pertumbuhan investor berusia di bawah 30 tahun meningkat 24%, sementara yang berusia di atas 30 tahun tumbuh 11%. Di sisi lain, hampir 1,2 juta investor juga berhasil merealisasikan keuntungan sepanjang 2025.
Ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan emas, sementara kripto masih dianggap berisiko. Investor disarankan waspada. [534] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak, sementara emas melesat hingga menembus US$5.500 per troy ons sebelum stabil di kisaran US$5.300. Naik sekitar 80% dalam setahun terakhir.
Di tengah reli besar aset safe haven tersebut, apakah Bitcoin mampu memainkan peran serupa emas?
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan kripto memang memiliki karakteristik unik karena tidak terikat pada sistem keuangan atau negara tertentu. Namun hingga kini, mayoritas investor masih menganggap kripto sebagai aset berisiko (risk-on), sehingga fungsinya sebagai safe haven masih terbatas.
“Jika narasi pasar bergeser dan kripto mulai dipandang sebagai aset penyimpan nilai layaknya emas, dinamika yang sangat berbeda bisa terjadi," ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Untuk saat ini, Fahmi menyarankan investor berpengalaman memanfaatkan volatilitas secara aktif, sementara investor pemula dapat menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian.
Lebih jauh, Fahmi menilai konflik yang melibatkan Iran secara langsung mendorong permintaan aset lindung nilai ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, gangguan besar di Selat Hormuz hampir selalu membuat harga komoditas melesat melampaui proyeksi pasar.
“Tren ini berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik belum mereda. Namun investor perlu lebih disiplin dalam manajemen risiko karena valuasi mulai meninggi,” kata Fahmi.
Namun demikian risiko terbesar berikutnya dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah adalah inflasi. Jika harga minyak menembus US$100 per barel, tekanan harga bisa menyebar ke berbagai sektor ekonomi global.
Dalam skenario tersebut, bank sentral menghadapi dilema menjaga pertumbuhan atau menekan inflasi. Ketidakpastian ini berpotensi memicu volatilitas lebih luas di pasar obligasi, saham, hingga mata uang.
Sementara itu, Tokocrypto menyebut pasar kripto kembali menunjukkan pola volatilitas yang kerap dikaitkan dengan fenomena musiman Ramadan Effect. Perubahan intensitas investasi hingga aksi ambil untung mewarnai pasar kripto tanah air selama bulan Ramadan.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana mengatakan meski bukan faktor fundamental, data historis menunjukkan bahwa dalam enam dari tujuh Ramadan terakhir (2019–2025), Bitcoin cenderung mengalami pergerakan tajam di awal periode, diikuti fase naik-turun, lalu melemah atau kehilangan momentum di penghujung bulan.
Pola ini bukan berarti Bitcoin selalu reli saat Ramadan. Dalam lima tahun terakhir, misalnya, Bitcoin justru sempat mencatat koreksi cukup dalam selama bulan suci, seperti -21,71% (2021),-16,00% (2022), -3,73% (2023), dan -4,14% (2024).
“Pola yang lebih konsisten bukan arah kenaikannya, melainkan struktur pergerakannya volatilitas terkonsentrasi di awal, kemudian pasar memasuki fase kelelahan sebelum menentukan arah berikutnya,” ujarnya .
Dari sisi on chain, indikator menunjukkan gambaran campuran. Beberapa sinyal seperti tekanan beli di exchange yang mulai melemah menjadi indikasi peluang relief bounce.
Namun di sisi lain, aktivitas jaringan yang masih relatif rendah dan tekanan jual dari investor jangka pendek yang masih merugi menunjukkan bahwa struktur permintaan belum sepenuhnya pulih. Artinya, potensi kenaikan tetap ada, tetapi cenderung rapuh dan penuh resistensi.
Riset internal Tokocrypto juga mencatat adanya perubahan perilaku investor ritel selama Ramadan. Aktivitas transaksi biasanya melambat di siang hari dan meningkat kembali pada malam hari setelah berbuka hingga menjelang sahur. Selain itu, aksi ambil untung menjelang Ramadan juga kerap memicu tekanan jual di fase awal bulan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.