Jemari Tuti Susanti (34) bergerak pelan menyelipkan helai demi helai rotan berwarna hitam dan cokelat. Di hadapannya, selembar bidai hampir rampung dianyam. ... [1,669] url asal
Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan
Bengkayang (ANTARA) - Jemari Tuti Susanti (34) bergerak pelan menyelipkan helai demi helai rotan berwarna hitam dan cokelat. Di hadapannya, selembar bidai hampir rampung dianyam. Motif khas Dayak mulai membentuk pola yang rapi dan indah.
Di sudut rumahnya di Dusun Preges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, tampak tumpukan rotan yang baru didatangkan dari Kalimantan Tengah. Bahan baku itu menjadi bagian penting dari aktivitas yang telah dikenalnya sejak kecil, jauh sebelum dirinya menjadi seorang guru.
Kini kesehariannya terbagi dalam dua peran. Pada pagi hingga siang hari, ia mengajar di SD Negeri 15 Malayang, Dusun Rahadja, Desa Mayak, Kecamatan Seluas. Untuk mencapai sekolah, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor.
Ketika aktivitas belajar mengajar usai, Tuti kembali menekuni pekerjaan yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya, yakni membuat bidai, anyaman rotan khas Dayak yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat di perbatasan dengan Malaysia itu.
"Saya belajar membuat bidai sejak kelas enam SD. Setiap pulang sekolah kami membantu orang tua menganyam. Dari situlah lama-lama bisa membuat sendiri," kata ibu tiga anak itu kepada ANTARA, akhir minggu pertama Juni.
Keterampilan itu diwarisinya dari kedua orang tua yang sejak lama menekuni kerajinan bidai. Sembari melanjutkan anyaman, Tuti mengenang masa kecilnya yang lebih sering dihabiskan untuk memperhatikan orang tuanya bekerja dibanding bermain bersama teman-teman seusianya.
Dari kebiasaan itulah ia mengenal berbagai motif, cara memilih rotan berkualitas, hingga teknik menyusun anyaman yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Menurut Tuti, tidak semua orang mampu membuat bidai. Selain membutuhkan ketekunan, setiap motif memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang harus dikuasai.
"Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan," kata dia.
Pada masa lalu, hasil anyaman keluarganya lebih banyak dipasarkan ke Pasar Serikin, Malaysia, yang berada tidak jauh dari kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Saat itu, peminat bidai justru lebih banyak datang dari negeri jiran dibandingkan dari dalam negeri.
Dari rumahnya, perjalanan menuju Pasar Serikin hanya sekitar satu jam. Waktu tempuh itu lebih singkat dibandingkan menuju Kota Bengkayang yang membutuhkan sekitar dua jam perjalanan. Sementara untuk menuju Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, diperlukan waktu lebih dari lima jam perjalanan darat.
Setiap akhir pekan, hasil anyaman orang tuanya dibawa ke Serikin untuk dijual kepada para pembeli yang tertarik dengan keunikan dan kualitas bidai Dayak.
"Dulu peminatnya lebih banyak dari Malaysia. Hari Sabtu dan Minggu biasanya hasil bidai dibawa ke sana untuk dijual," kata Tuti.
Sempat terhenti
Aktivitas menganyam sempat terhenti ketika Tuti melanjutkan pendidikan tinggi di Salatiga, Jawa Tengah, pada 2012 hingga 2016. Selama kuliah, ia tidak lagi membuat bidai.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke kampung halaman, kerinduan terhadap pekerjaan yang telah dikenalnya sejak kecil kembali muncul. Ia mulai membeli bahan baku dan memproduksi bidai secara mandiri.
Semangat itu semakin kuat setelah menikah pada 2018. Bersama sang suami yang juga seorang guru dan memiliki keterampilan menganyam, Tuti kembali menghidupkan usaha keluarga.
Suami Tuti Susanti sedang mengayam bidai di rumahnya di Dusun Preges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang (ANTARA/Narwati)
Kini kedua orang tuanya tidak lagi menganyam. Sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya yang telah lanjut usia juga mengalami kondisi kesehatan yang menurun.
Bagi pasangan guru tersebut, membuat bidai menjadi pekerjaan sampingan yang memberi nilai tambah bagi keluarga. Selain menjaga tradisi, hasil penjualan bidai juga membantu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
"Kami berpikir daripada pulang sekolah tidak ada aktivitas lain, lebih baik membuat bidai. Ada tambahan penghasilan juga untuk keluarga," kata Tuti.
Penghasilan dari bidai menjadi penopang di sela menunggu gaji bulanan sebagai guru. Hasil penjualan biasanya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan, membeli sayuran, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Kalau menunggu gaji sebulan sekali kan lumayan lama. Jadi hasil bidai bisa membantu kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Seiring perkembangan teknologi, pemasaran bidai kini tidak lagi bergantung pada pasar perbatasan. Tuti memanfaatkan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Messenger untuk menawarkan hasil anyamannya.
Cara itu terbukti efektif menjangkau pembeli dari berbagai daerah. Pesanan datang dari Bengkayang, Singkawang, Pontianak, Ngabang hingga Sekadau. Sebagian pembeli menggunakan bidai untuk kebutuhan pribadi, sementara sebagian lainnya membeli untuk dijual kembali.
"Banyak yang bertanya motif, ukuran dan harga. Ada juga yang meminta dibuatkan motif tertentu sesuai pesanan mereka," katanya.
Tingginya permintaan bahkan sering membuat mereka kewalahan memenuhi pesanan. Dalam satu bulan, Tuti dan suaminya rata-rata hanya mampu menghasilkan enam hingga delapan lembar bidai berukuran 4 x 4 meter karena proses pembuatannya cukup panjang.
Rotan harus dipilih dan dibersihkan terlebih dahulu. Sebagiannya kemudian diolah menjadi warna hitam alami melalui proses perebusan menggunakan daun kayu tertentu selama dua hingga tiga hari. Setelah itu masih ada tahapan pengeringan, penyortiran, hingga penganyaman yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Saat ini, satu lembar bidai bermotif dijual sekitar Rp1,4 juta. Harga tersebut bervariasi bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan motif.
Harga jual juga dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku. Rotan yang digunakan didatangkan dari Kalimantan Tengah dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram. Untuk membuat satu lembar bidai dibutuhkan sekitar delapan hingga sepuluh kilogram rotan.
Sementara itu, tali tumbaran yang digunakan sebagai pengikat anyaman kini juga semakin mahal dan sulit diperoleh.
BRILink bantu kelancaran usaha
Untuk membeli bahan baku, Tuti biasanya memanfaatkan layanan BRILink yang tersedia di wilayahnya. Melalui layanan tersebut, ia dapat mengirim uang kepada pemasok rotan dan tali dengan lebih mudah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Sebagai perajin yang tinggal di kawasan perbatasan, kemudahan akses layanan keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi. Dengan adanya BRILink, kebutuhan transaksi usaha dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menyisihkan waktu dan biaya tambahan untuk bepergian ke pusat layanan perbankan yang lebih jauh.
Kemudahan transaksi itu sangat membantu keberlangsungan usaha kecil yang dijalankannya bersama suami.
"Layanan ini tentu sangat membantu pelaku usaha kecil seperti kami untuk melakukan transaksi keuangan dengan mudah sekaligus menghemat waktu dan biaya perjalanan," ujarnya.
Meski permintaan terus meningkat, jumlah perajin bidai di kampungnya justru semakin berkurang. Sebagian besar warga kini memilih bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih praktis dan menjanjikan pendapatan yang lebih pasti.
Akibatnya, hanya tersisa sekitar tiga hingga empat rumah tangga yang masih aktif membuat bidai.
Padahal, menurut Tuti, minat masyarakat terhadap bidai terus meningkat karena produk tersebut dikenal kuat, awet, mudah dibersihkan, dan mampu bertahan hingga puluhan tahun.
Kini, setelah memiliki seorang bayi, Tuti tidak lagi seaktif dulu dalam membuat bidai. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus anak. Meski demikian, ia masih sesekali membantu suaminya yang kini lebih banyak melanjutkan proses produksi.
"Bikin bidai sekarang tidak sesering dulu karena harus mengurus bayi. Tapi kalau ada waktu saya tetap membantu suami," katanya.
Di tengah kesibukannya sebagai ibu, guru, sekaligus perajin, Tuti menyimpan harapan sederhana. Ia ingin keterampilan membuat bidai yang diwariskan orang tuanya tidak berhenti pada generasinya.
Suatu saat nanti, ia berharap anak-anaknya juga mengenal dan mencintai kerajinan khas daerahnya sendiri.
"Saya ingin keterampilan ini tetap ada. Mudah-mudahan nanti bisa diwariskan lagi kepada anak," ujarnya.
Bagi Tuti, setiap helai rotan yang dianyam bukan sekadar kerajinan untuk dijual. Di dalamnya tersimpan cerita tentang keluarga, ketekunan, identitas budaya, dan perjuangan masyarakat perbatasan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Nilai guna tinggi
Salah seorang pelanggan setia kerajinan bidai Tuti Susanti, Suandi, menilai anyaman tradisional tersebut masih memiliki nilai guna yang tinggi di tengah maraknya produk modern yang beredar di pasaran.
Menurut dia, bidai tidak hanya berfungsi sebagai alas atau tikar untuk menerima tamu, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai aktivitas masyarakat sehari-hari.
"Saya senang membeli bidai karena bisa digunakan untuk banyak hal, terutama sebagai tikar untuk tamu, kegiatan kumpul keluarga, dan berbagai acara lainnya," kata Suandi, yang merupakan Kepala Sekolah SDN 11 Saparan Jagoi Babang.
Bidai hasil anyaman Tuti Susanti (ANTARA/Narwati)
Menurut dia, hingga kini bidai masih dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian. Selain digunakan sebagai alas berkumpul, bidai juga kerap dipakai untuk menjemur padi dan lada atau sahang yang menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat Kalimantan Barat.
Suandi menilai keberadaan bidai sebagai warisan budaya leluhur harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Menurutnya, kemampuan menganyam bidai seperti yang dimiliki Tuti dan suaminya tidak dapat dipelajari secara instan karena membutuhkan keterampilan, ketelitian, serta pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun.
"Banyak sekali manfaat bidai bagi masyarakat. Karena itu, warisan nenek moyang ini harus tetap dilestarikan. Menganyam bidai tidak mudah dan perlu keterampilan khusus yang harus terus diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha para perajin, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih melalui bantuan permodalan, program usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maupun akses pinjaman dengan bunga ringan. Selain itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk memperluas pemasaran hingga tingkat nasional dan internasional.
Menurut dia, promosi yang lebih luas akan membantu meningkatkan permintaan produk bidai sekaligus mendorong masyarakat untuk tetap mempertahankan tradisi menganyam.
Suandi juga menyoroti tantangan yang saat ini dihadapi para perajin, yakni semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku. Untuk itu, ia mendorong adanya upaya pelestarian lingkungan melalui penanaman kembali tanaman yang menjadi bahan utama pembuatan bidai.
"Harapan saya para perajin tetap berkarya dan jangan putus asa meskipun harus bersaing dengan berbagai jenis tikar modern. Untuk bahan baku, selain mencari pasokan dari daerah lain, masyarakat juga perlu menanam kembali pohon-pohon yang menjadi bahan utama pembuatan bidai. Program satu orang satu pohon perlu digalakkan lagi," katanya.
Sebagai pelanggan yang telah membeli bidai sejak 2017, Suandi mengaku terus memilih produk anyaman lokal karena kualitasnya yang baik serta memiliki motif khas yang tidak ditemukan pada produk pabrikan.
Ia mengatakan sejumlah kerabat dan kenalannya bahkan kerap meminta bantuan untuk membelikan bidai dari perajin yang sama karena tertarik dengan corak dan keunikan motif yang dihasilkan.
"Saya sudah membeli bidai sejak tahun 2017. Banyak keluarga dan kerabat yang juga meminta dibelikan. Selain anyamannya bagus, motifnya berbeda dan unik. Pembeli juga bisa memesan sesuai ukuran yang diinginkan. Ada yang memesan ukuran empat kali empat meter agar sesuai dengan ruang tamu mereka," ujar Suandi.
Menurut Suandi, fleksibilitas ukuran, kualitas anyaman, serta nilai budaya yang melekat menjadikan bidai tidak sekadar produk kerajinan, tetapi juga simbol identitas masyarakat yang patut dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi.
IDAI menilai kebijakan pemberian susu formula massal di MBG yang tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu berhenti menyusui. [520] url asal
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya merespons surat terbuka dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai kebijakan distribusi susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sony menegaskan program MBG tidak mengganggu proses pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi. Ia mengatakan MBG juga tidak menyediakan opsi susu formula bagi bayi.
"Untuk bayi 0-6 bulan, tidak ada intervensi formula bayi dalam program MBG. Tidak ada. MBG tidak menyediakan opsi sama sekali untuk formula bayi. Itu yang perlu dipahami," kata Sony di SMAN 28, Jakarta Selatan, Jumat (22/5).
Sony menduga munculnya kekhawatiran tersebut karena petunjuk teknis atau juknis program tidak dibaca secara menyeluruh.
"Ini kebanyakan mungkin ada (di) juknis. Juknis itu jadikan dasar, tapi tidak dibaca secara full," ujarnya.
Menurutnya, kebijakan MBG sudah disusun sesuai dengan regulasi kesehatan yang berlaku serta rekomendasi internasional terkait perlindungan ASI eksklusif.
"Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 tahun 2023, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang kesehatan, rekomendasi WHO tentang perlindungan ASI eksklusif. Itu prinsip-prinsip program MBG," ucap Sony.
[Gambas:Instagram]
Ia mengatakan BGN juga melibatkan sejumlah ahli dan profesor yang memahami persoalan susu dan pemberian ASI dalam penyusunan program MBG.
Sony akan segera berkomunikasi dengan IDAI untuk menyamakan pemahaman terkait kebijakan ini. BGN membuka ruang bagi IDAI untuk memberikan masukan apabila ditemukan pelaksanaan program yang dinilai kurang tepat.
"Insyaallah minggu depan, secepatnya, kami akan berkomunikasi dengan IDAI supaya kita menyamakan pemahaman," ujar Sony.
Dalam akun resmi Instagram @idai_ig, IDAI mengunggah surat terbuka kepada Kepala BGN Dadan Hindayana beserta tiga wakilnya mengenai penggunaan susu formula di MBG.
IDAI mengatakan tidak ada yang bisa menggantikan manfaat utama ASI untuk bayi dan anak. Oleh karena itu, asosiasi dokter anak menyatakan kebijakan distribusi susu formula massal yang berjalan hari ini, tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu Indonesia berhenti menyusui.
"Dan begitu seorang ibu berhenti menyusui, hampir tidak ada jalan untuk kembali," tulis surat tersebut.
IDAI menyatakan ASI bukan sekadar makanan. Mereka menyebut di dalamnya ada ratusan hingga ribuan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi, zat kekebalan tubuh dari Ibu, bakteri baik untuk usus, serta sinyal pertumbuhan otak.
Mereka menyebut formula adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia hari ini, tapi tidak ada satu pun dari komponen ASI yang bisa digantikan olehnya.
"Anak-anak kita butuh ASI. Jangan sampai kebijakan kita hari ini membuatnya kehilangan sesuatu yang penting," tulis surat tersebut.
IDAI juga menyinggung sisi regulasinya. Mereka menyebut UU Nomor 17 tahun 2023 dan PP Nomor 28 tahun 2024 yang mengatur formula hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter dan indikasi medis.
Mereka turut menyinggung bagaimana Kementerian Kesehatan juga sudah mengingatkan BGN dua kali secara resmi
"Kami berharap BGN segera memperbaiki kebijakannya ke arah yang benar," tulis surat tersebut.
IDAI pun memberikan empat rekomendasi. Pertama, harmonisasi kebijakan publik Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan. Kedua, mengembalikan peruntukan susu formula sesuai rekomendasi dokter & indikasi medis.
Ketiga, memprioritaskan Kemandirian Pangan Lokal. Keempat, melakukan telaah ulang dan sinkronisasi petunjuk teknis intervensi gizi Nasional BGN agar sesuai dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2023, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, Pedoman Standar Gizi Kemenkes RI, serta Kode Internasional WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI.
Kasus penyakit menular anak meningkat akibat rendahnya cakupan imunisasi. IDAI menyoroti pentingnya edukasi dan peran posyandu dalam pencegahan. [428] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti kembali meningkatnya kasus penyakit menular pada anak yang sebelumnya sempat terkendali melalui program imunisasi. Kondisi ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya celah dalam sistem perlindungan kesehatan anak di Indonesia.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr Piprim Basarah Yanuarso, menyebut fenomena ini sebagai re-emerging disease, yakni penyakit yang kembali muncul setelah sebelumnya berhasil ditekan. Menurutnya, kemunculan kembali penyakit ini tidak terlepas dari menurunnya cakupan imunisasi di masyarakat.
“Ini yang disebut re-emerging disease, penyakit yang dulu sudah bisa dikendalikan, tapi sekarang muncul kembali,” ujarnya saat ditemui di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit menular di masa lalu sangat bergantung pada imunisasi. Contohnya, penyakit seperti polio dan campak yang dulu banyak menyebabkan kecacatan hingga kematian, kini bisa ditekan setelah adanya vaksin.
“Kalau penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi muncul lagi, itu artinya program imunisasinya tidak berjalan sesuai target,” tegasnya.
Menurut Piprim, penyakit seperti campak termasuk dalam kategori penyakit dengan tingkat penularan tinggi sehingga membutuhkan cakupan imunisasi yang sangat luas. Untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen.
Namun, dia menilai saat ini banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan tersebut. Salah satunya adalah meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin yang dipicu oleh informasi yang tidak akurat di media sosial.
“Ketika masyarakat mulai ragu terhadap vaksin dan tidak percaya pada pemerintah, program yang sebenarnya baik jadi ikut tidak dipercaya,” tambahnya.
Selain itu, dia juga menjelaskan adanya ketimpangan fokus dalam sistem layanan kesehatan yang lebih mengarah pada layanan kuratif dibandingkan promotif dan preventif. Padahal, upaya pencegahan melalui imunisasi dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyakit menular.
Menurutnya, layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan dalam program imunisasi. Namun, saat ini peran tersebut dinilai belum diperkuat secara optimal, baik dari sisi sumber daya maupun dukungan kebijakan.
“Kader posyandu sebagai ujung tombak imunisasi belum mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai,” ujarnya.
Piprim menilai kondisi ini harus menjadi peringatan bagi semua pihak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan. Dia menegaskan bahwa peningkatan kasus penyakit menular bukanlah hal yang bisa dianggap biasa.
“Ini harus jadi alarm untuk kita semua agar kembali memperkuat upaya promotif dan preventif, jangan sampai ada anak yang sakit atau meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
Dia juga menekankan pentingnya peran media dalam membantu menyebarkan edukasi yang benar kepada masyarakat. Dengan informasi yang tepat, diharapkan kepercayaan publik terhadap program imunisasi dapat kembali meningkat.
“Ayo kita galakkan kembali imunisasi dan perkuat layanan kesehatan dasar agar anak-anak terlindungi sejak dini,” tutupnya.
Balita 1,5 tahun alami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran. IDAI imbau orang tua prioritaskan keselamatan anak dan hindari aktivitas ekstrem. [605] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kasus balita berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak mendaki Gunung Ungaran menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak, terutama balita, sangat rentan mengalami penurunan suhu tubuh sehingga faktor keselamatan harus menjadi prioritas dalam aktivitas luar ruang.
Video kejadian tersebut diunggah oleh akun Instagram @kabaruangaran yang memperlihatkan kondisi balita yang mengalami penurunan suhu tubuh. Dalam keterangan unggahannya, disebutkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Semarang melakukan penanganan darurat pada Sabtu (11/4/2026).
Kronologi kejadian bermula ketika satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak mendaki hingga mencapai puncak Bondolan. Namun, hujan yang turun di lokasi membuat suhu tubuh balita menurun hingga mengalami gejala hipotermia.
Tim SAR gabungan yang berada di lokasi langsung memberikan penanganan awal berupa penghangatan dan perlindungan dari cuaca. Setelah kondisinya mulai stabil, balita tersebut dievakuasi ke Basecamp Perantunan untuk penanganan lanjutan.
Korban berhasil dievakuasi dalam kondisi sadar dan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat mengajak anak dalam aktivitas berisiko tinggi.
Menanggapi kejadian tersebut, IDAI menyebut bahwa anak, khususnya balita, memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perubahan suhu lingkungan. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah mengalami hipotermia dibandingkan orang dewasa.
Selain itu, dokter anak juga mengingatkan bahwa anak bukanlah “dewasa kecil” sehingga tidak bisa disamakan dalam hal ketahanan fisik. Orang tua perlu memahami keterbatasan tubuh anak sebelum memutuskan aktivitas di alam terbuka.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Dia menjelaskan bahwa balita sangat mudah kehilangan panas tubuh, terutama dalam kondisi hujan dan lingkungan dingin seperti pegunungan.
“Dari sisi anak itu kan kita pertama safety first ya. Anak-anak itu, apalagi usia satu setengah tahun, sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa, apalagi kalau naik gunung jaraknya jauh, ada potensi hujan, dan evakuasinya lama, ini harus dipikirkan sebelumnya,” ujarnya saat ditemui di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, membawa balita ke medan ekstrim seperti gunung tidak direkomendasikan karena berisiko tinggi. Dia menyarankan agar orang tua memilih aktivitas yang lebih ringan dan aman jika ingin mengenalkan anak pada alam.
“Lebih aman kalau mengajak batita atau balita ke alam itu jangan yang ekstrem seperti gunung tinggi, mungkin sekadar hiking ringan, yang mudah diakses untuk evakuasi dan cuacanya tidak ekstrem,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, menambahkan bahwa tubuh anak memiliki mekanisme berbeda dari orang dewasa. Anak lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh, sehingga perlu perhatian ekstra selama beraktivitas di luar ruangan.
“Anak itu bukan dewasa kecil, jadi jangan diasumsikan sama tahan dengan orang tua. Anak lebih mudah kehilangan cairan dan panas, apalagi saat bernapas frekuensinya lebih tinggi,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya kesiapan orang tua dalam menghadapi kondisi darurat. Penanganan awal seperti menjaga tubuh tetap hangat hingga metode skin to skin bisa dilakukan sebelum mendapatkan bantuan medis.
“Kalau kondisi emergensi seperti hipotermia, bisa dilakukan skin to skin, jadi kulit ditempelkan langsung agar membantu menghangatkan, pastikan juga pakaian dalam kondisi kering,” tambahnya.
IDAI juga memberikan tips dan anjuran yang perlu diperhatikan orang tua saat mengajak anak ke alam terbuka. Berikut tips dan anjurannya:
- Hindari membawa balita ke aktivitas ekstrim seperti pendakian gunung tinggi. - Pilih kegiatan ringan seperti hiking dengan jalur aman dan mudah dijangkau. - Perhatikan kondisi cuaca dan hindari hujan lebat atau suhu ekstrem. - Gunakan pakaian berlapis dan lapisan luar yang tahan air. - Pastikan anak tetap hangat, kering, dan tidak kedinginan. - Penuhi kebutuhan cairan anak untuk mencegah dehidrasi. - Kenalkan alam secara bertahap, mulai dari aktivitas ringan. - Siapkan penanganan darurat sederhana seperti metode skin to skin.
Lonjakan kasus campak di Indonesia disebabkan cakupan imunisasi yang rendah dan persepsi keliru. IDAI menekankan pentingnya imunisasi untuk mencegah KLB. [534] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia kini menghadapi lonjakan kasus campak yang serius akibat cakupan imunisasi belum merata dan persepsi keliru tentang penyakit ini.
Menurut data yang dihimpun oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berdasarkan standar konfirmasi laboratorium World Health Organization (WHO), sepanjang 2025 lebih dari 11.000 kasus campak terkonfirmasi laboratorium dan lebih dari 60.000 kasus suspek tercatat di Indonesia.
Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT, menegaskan penurunan cakupan imunisasi menjadi faktor utama munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di berbagai daerah.
“Kalau cakupan imunisasinya turun katakanlah 60% saja, itu sudah muncul KLB-nya di mana-mana,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (28/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan target imunisasi nasional belum tercapai secara merata di masyarakat. Dia menilai keberadaan tenaga dokter tidak cukup apabila distribusi dan ketersediaan vaksin terganggu di lapangan.
“Mungkin dokternya banyak ya, dikirim ke sana sini. Tetapi ketika vaksinnya tidak ada, rusak, atau apapun yang menyebabkan tidak bisa diberikan vaksinasi, maka ini juga bisa berdampak terhadap timbulnya kasus campak di mana-mana,” tegas Anggraini.
Secara global, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua dalam enam bulan terakhir berdasarkan laporan berbasis konfirmasi laboratorium. Seluruh data Indonesia telah melalui verifikasi laboratorium, berbeda dengan sejumlah negara yang melaporkan berdasarkan kasus klinis.
Sepanjang 2025, hampir 50.000 spesimen diperiksa dengan positivity rate mencapai 24,6%. Pada 2026, jumlah konfirmasi terlihat lebih rendah, namun IDAI menyebut kapasitas laboratorium yang terbatas membuat pemeriksaan tidak mampu mengejar lonjakan kasus suspek.
Campak merupakan penyakit yang sangat menular melalui udara dan dapat bertahan lebih dari dua jam di ruang tertutup. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang yang belum memiliki kekebalan.
Anggraini menekankan bahwa persepsi campak sebagai penyakit ringan merupakan anggapan keliru yang berbahaya, karena masih banyak masyarakat yang meremehkan risikonya. Dia mengingatkan agar campak tidak lagi dianggap sepele karena penyakit ini telah terbukti dapat menyebabkan kematian pada anak-anak.
“Jangan lagi dianggap remeh, karena sudah terbukti bisa menyebabkan kematian pada anak-anak kita,” katanya.
Dia menjelaskan komplikasi campak dapat berupa pneumonia, diare berat, radang otak, hingga immune amnesia yang menurunkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang. Bahkan, dalam kasus tertentu dapat muncul Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) beberapa tahun setelah infeksi awal dengan risiko kematian tinggi.
Menurutnya, hingga kini belum tersedia obat antivirus spesifik untuk campak sehingga terapi bersifat suportif, termasuk pemberian vitamin A dosis tinggi. Oleh karena itu, pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian.
IDAI mendorong penguatan layanan kesehatan primer serta percepatan imunisasi kejar bagi anak yang belum lengkap vaksinasinya.
Dia menambahkan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan organisasi profesi serta masyarakat dalam menghadapi lonjakan kasus campak. Dia menegaskan bahwa situasi ini merupakan persoalan serius yang tidak boleh lagi diabaikan, sehingga penguatan pelayanan kesehatan primer dan peningkatan cakupan imunisasi harus menjadi tanggung jawab bersama semua pihak.
“Ini sesuatu yang serius, tidak bisa lagi diabaikan oleh pemerintah bahwa penguatan pelayanan kesehatan primer, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi, ini butuh dilakukan oleh kita semua,” ujar Anggraini.
Tingkat penularan yang sangat tinggi serta cakupan imunisasi yang belum merata membuat IDAI memandang percepatan vaksinasi sebagai langkah strategis untuk menekan risiko meluasnya KLB campak di berbagai daerah Indonesia.
IDAI peringatkan risiko malnutrisi anak korban banjir akibat konsumsi mi instan berhari-hari di pengungsian, sarankan makanan retort untuk nutrisi lebih baik. [320] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan potensi risiko malnutrisi pada anak-anak korban banjir yang mengonsumsi mi instan sebagai menu utama selama berhari-hari di pengungsian.
Sebab, mi instan bukanlah makanan yang ideal jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan kondisi darurat kerap membuat pilihan pangan menjadi terbatas, tetapi asupan gizi yang tidak seimbang dapat berdampak serius terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak, terutama pada masa pemulihan pascabencana.
Terlebih, katanya, anak-anak, terutama yang berusia di bawah satu tahun, kebutuhan nutrisinya berbeda dengan orang dewasa. Daya tolerir terhadap asupan tersebut juga berbeda.
"Dalam kondisi darurat, misalnya tiga hari pertama, jika hanya tersedia makanan instan, itu masih bisa diterima untuk survival. Namun, kondisi darurat seharusnya tidak boleh berlangsung lama," katanya di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin, (22/12/2025).
Piprim menyebut begitu akses sudah mulai terbuka, idealnya sebuah pengungsian memiliki dapur umum untuk menyediakan makanan yang lebih baik bagi para korban bencana. Selain itu, ketika di dalam pengungsian terdapat anak-anak, maka seharusnya juga dibuatkan dapur MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).
Jika itu semua belum memungkinkan, dirinya lebih menyarankan anak-anak untuk mengonsumsi makanan retort, yakni makanan siap santap yang diawetkan dengan proses sterilisasi suhu dan tekanan tinggi dalam kemasan kedap udara (pouch atau kaleng) khusus.
Jenis makanan ini lebih direkomendasikan karena memungkinkan asupan nutrisi yang lebih baik. Kemudian, makanan retort juga tanpa penggunaan pengawet kimia.
"Sebab, makanan seperti ini bisa mengandung protein hewani, lemak, dan karbohidrat, serta siap santap tanpa proses rumit," imbuhnya.
Sementara itu, mi instan sebaiknya menjadi pilihan terakhir dalam kondisi darurat dan sebaiknya tidak dimakan selama berhari-hari. Sebab, dalam jangka panjang, jika nutrisinya tak terpenuhi, bisa berdampak pada tumbuh kembang anak.
"Mi instan itu kan umumnya hanya tinggi karbohidrat dan garam, tetapi minim serat. Ini membuat risiko malnutrisi akan meningkat, terutama pada balita yang membutuhkan protein hewani dan lemak untuk tumbuh kembang," jelasnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56