Meski menjanjikan, implementasi CNG menghadapi tantangan regulasi dan keamanan. Pengembangan CNG diharapkan menekan subsidi energi hingga 30%. [998] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Rencana pemerintah mengembangkan compressed natural gas (CNG) 3 kilogram (kg) sebagai alternatif dari liquified petroleum gas (LPG) 3 kg subsidi diproyeksi menghadapi sejumlah hambatan yang harus dimitigasi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pengembangan CNG 3 kilogram kg bukan ditujukan untuk menggantikan liquified petroleum gas (LPG) 3 kg subsidi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut, CNG hanya difungsikan sebagai alternatif dari LPG. Laode juga menyebut implementasi program CNG akan dilakukan secara bertahap.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan, artinya sama, tetapi kalau kita bilang pengganti itu berarti masif dan besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. Yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” jelas Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Minggu (17/5/2026).
Laode melanjutkan, saat ini pemerintah tengah menganalisis beragam aspek dalam pengembangan tabung gas CNG 3 kg. Salah satu aspek yang dibahas adalah terkait keamanan mengingat CNG memiliki tekanan yang lebih tinggi dibandingkan LPG.
Dia menambahkan, kajian tersebut melibatkan kementerian/lembaga seperti Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, hingga Badan Standarisasi Nasional (BSN).
"Selain itu, ada juga Kementerian Ketenagakerjaan yang menerbitkan standarnya. Ini semua kita sedang konsolidasikan semua agar aspek ini bisa kita handle,” jelas Laode.
Laode melanjutkan, pemerintah juga akan melakukan proyek percontohan (pilot project) untuk penerapan CNG 3 kg mulai tahun ini.
Praktisi migas Hadi Ismoyo mengatakan pemanfaatan CNG sebagai substitusi LPG subsidi perlu diapresiasi sebagai langkah alternatif pemerintah di tengah membengkaknya subsidi LPG yang kini mencapai sekitar Rp87 triliun per tahun. Meski demikian, dia mengatakan implementasi di lapangan membutuhkan persiapan panjang dari sisi regulasi maupun operasional.
“Secara komersial sangat menjanjikan, namun perlu tata kelola yang baik dan benar sesuai dengan standar keselamatan kerja. Budaya kita itu seeing is believing,” katanya.
Warga mengantre LPG 3KG
Menurut Hadi, penggunaan CNG berpotensi menekan subsidi energi hingga lebih dari 30% apabila dijalankan secara masif dan terstruktur. Namun, statusnya sebagai energi alternatif membuat dampaknya terhadap penurunan impor LPG tidak akan signifikan apabila implementasinya tidak dilakukan secara serius.
Hadi menilai penggunaan CNG cukup realistis karena teknologi pendukungnya sudah tersedia dan dapat diintegrasikan dengan infrastruktur gas yang ada saat ini. Selain itu, peralatan CNG tube dan aksesorinya dinilai kompatibel dengan kompor rumah tangga yang sudah digunakan masyarakat.
Adapun, sejumlah keuntungan penggunaan CNG diantaranya adalah harga yang lebih murah dibanding LPG, tidak bergantung pada impor, hingga emisi karbon yang lebih rendah.
Menurutnya, pengembangan CNG juga dapat diintegrasikan dengan jaringan pipa gas Trans Jawa ruas Gresik–Cirebon melalui pembangunan mother station di sepanjang jalur pipa.
Di sisi lain, Hadi mengingatkan bahwa penggunaan CNG memiliki risiko tinggi lantaran tekanan gas mencapai sekitar 250 bar. Kondisi tersebut membuat implementasinya tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa prosedur operasi standar (SOP) yang matang.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menambahkan pengembangan CNG rumah tangga masih terkendala kesiapan teknologi dan standar keselamatan yang belum sepenuhnya matang.
Dia mengatakan dalam kondisi saat ini, penggunaan database dan teknologi yang tersedia tetap dapat menciptakan efisiensi subsidi energi sekitar 5%—10%. Efisiensi tersebut diperkirakan akan meningkat seiring dengan penguatan investasi dan terciptanya skala ekonomi industri CNG nasional.
“Minimal dengan database yang sekarang, teknologinya sudah oke, akan terjadi penghematan 5% sampai 10%,” katanya.
Menurutnya, efisiensi penggunaan CNG dapat meningkat di atas 10% apabila investasi infrastruktur dan pengembangan teknologi sudah berjalan optimal.
Yayan menilai pengembangan CNG dalam tahap awal lebih realistis dilakukan di wilayah yang dekat dengan jaringan infrastruktur energi eksisting milik Pertamina, khususnya di kawasan Pantai Utara Jawa. Wilayah tersebut mencakup Tangerang, sebagian Jakarta, Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon hingga Semarang.
Sementara itu, daerah lain masih membutuhkan investasi besar untuk pembangunan infrastruktur seperti high pressure storage dan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
Dia mengingatkan pengiriman CNG menggunakan tabung seperti pola distribusi LPG saat ini memiliki risiko keselamatan yang tinggi apabila tidak dibarengi standar keamanan yang memadai.
“Mungkin saat ini bisa dilakukan deployment lewat tabung seperti SPBU, tapi sangat berisiko tinggi dari sisi keselamatan dan keamanan,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Yayan juga mendorong pemerintah merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No 28/2025 terkait penerbitan lisensi bisnis berisiko tinggi melalui online single submission (OSS). Menurutnya, penyederhanaan perizinan diperlukan agar investasi di sektor storage, transportasi, dan perdagangan gas dapat bergerak lebih cepat.
Dia menyebut jumlah izin yang saat ini mencapai sekitar 320 perlu dipangkas menjadi sekitar 140 izin agar pengembangan industri CNG lebih kompetitif.
Di sisi lain, pemerintah juga dinilai perlu mempercepat adaptasi standar sertifikasi untuk tabung CNG 3 kilogram, termasuk penggunaan teknologi metal organic framework (MOF) yang mampu menyimpan metana pada tekanan rendah sehingga lebih aman dibanding teknologi konvensional.
Yayan menjelaskan sertifikasi silinder CNG juga perlu diperkuat karena tekanan penyimpanannya sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan LPG dengan tekanan minimum mencapai 8.100 psi.
Menurutnya, pengembangan industri CNG tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik karena harga gas relatif lebih kompetitif dibandingkan LPG.
Dia menyebut harga CNG saat ini berkisar Rp6.800—Rp7.600 per meter kubik, sedangkan harga keekonomian LPG 3 kilogram telah mencapai sekitar Rp42.750 per tabung.
Selain itu, CNG dinilai lebih stabil terhadap gejolak harga minyak dunia karena Indonesia memiliki cadangan gas yang besar. Meski begitu, efisiensi harga tetap bergantung pada kesiapan rantai pasok domestik.
“Kalau rantai pasoknya tidak efisien, tetap akan mahal. Jadi yang harus dibereskan terlebih dahulu adalah rantai pasoknya,” katanya.
Sementara itu, Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengingatkan adanya ancaman stranded asset untuk infrastruktur CNG di masa depan. Hal tersebut seiring dengan arah transisi energi global yang bergerak menuju elektrifikasi dan energi rendah karbon.
“Oleh karena itu, CNG harus diposisikan sebagai bridge fuel, bukan tujuan akhir,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dalam roadmap transisi energi global, gas masih dibutuhkan dalam 15 hingga 20 tahun ke depan sebagai energi transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.
Meski demikian, pembangunan infrastruktur CNG secara agresif dengan asumsi sebagai solusi permanen justru dinilai berisiko menciptakan ketergantungan karbon (carbon lock-in) ketika dunia mulai meninggalkan energi fosil pasca-2035.
Menurut Yusuf, pemerintah perlu memastikan kebijakan energi transisi tidak hanya berorientasi pada pengurangan impor energi dalam jangka pendek, tetapi juga selaras dengan arah transformasi energi global dalam jangka panjang.
Wacana LPG diganti CNG kembali mencuat. Simak perbedaan LPG dan CNG dari sisi harga, keamanan, penggunaan hingga alasan pemerintah mendorong gas bumi. [654] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Wacana penggantian liquefied petroleum gas (LPG) dengan compressed natural gas (CNG) kembali mencuat setelah pemerintah mulai mengkaji penggunaan CNG tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan impor energi sekaligus mengurangi beban subsidi yang terus meningkat setiap tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun dan sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.
Kondisi itu membuat pemerintah harus mengeluarkan devisa hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan LPG domestik.
Di tengah rencana tersebut, masyarakat mulai mempertanyakan apa sebenarnya perbedaan LPG dan CNG, mulai dari harga, keamanan, hingga penggunaannya untuk rumah tangga.
Apa Itu CNG dan Bedanya dengan LPG?
LPG dan CNG sama-sama digunakan sebagai bahan bakar gas, tetapi keduanya berasal dari sumber energi yang berbeda.
LPG merupakan singkatan dari liquefied petroleum gas, yakni gas hasil olahan minyak bumi yang terdiri dari campuran propana dan butana. Gas ini disimpan dalam bentuk cair di dalam tabung bertekanan rendah.
Sementara itu, CNG atau compressed natural gas berasal dari gas alam yang mayoritas mengandung metana atau etana. Berbeda dari LPG, CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi.
Secara sederhana, perbedaan utama LPG dan CNG terletak pada sumber energi dan metode penyimpanannya. LPG lebih banyak bergantung pada impor dan rantai distribusi berbasis minyak bumi, sedangkan CNG memanfaatkan gas alam domestik yang jumlahnya relatif melimpah di Indonesia.
Selain itu, melansir Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, tekanan penyimpanan CNG jauh lebih tinggi dibanding LPG. Jika LPG disimpan dalam tekanan rendah agar berubah menjadi cair, CNG disimpan pada tekanan sekitar 200–250 bar agar volumenya lebih ringkas.
Harga CNG vs LPG, Mana yang Lebih Murah?
Salah satu alasan utama pemerintah mendorong penggunaan CNG adalah potensi efisiensi biaya. Pemerintah menilai penggunaan gas bumi domestik dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini membebani APBN.
Bahlil bahkan menyebut penggunaan CNG berpotensi lebih murah sekitar 30% hingga 40% dibanding LPG subsidi.
Harga LPG selama ini sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah karena sebagian besar pasokan berasal dari impor. Ketika harga energi global naik, beban subsidi pemerintah ikut meningkat.
Sebaliknya, CNG memanfaatkan pasokan gas bumi dalam negeri sehingga dinilai lebih stabil dalam jangka panjang. Pemerintah berharap pemanfaatan CNG dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran subsidi.
Meski begitu, penggunaan CNG masih menghadapi tantangan dari sisi infrastruktur. Distribusi CNG memerlukan sistem penyimpanan dan jaringan khusus yang belum tersedia secara merata di seluruh daerah.
Mana yang Lebih Aman, LPG atau CNG?
Dari sisi keamanan, LPG dan CNG memiliki karakteristik berbeda.
LPG memiliki massa jenis lebih berat daripada udara. Karena itu, jika terjadi kebocoran, gas LPG cenderung mengendap di lantai atau ruangan tertutup sehingga risiko ledakan bisa meningkat apabila terkena sumber api.
Sementara itu, CNG lebih ringan daripada udara. Saat terjadi kebocoran, gas cenderung cepat menguap dan menyebar ke udara terbuka. Karakteristik tersebut membuat CNG dinilai memiliki risiko akumulasi gas lebih rendah dibanding LPG.
Namun, CNG memiliki tekanan penyimpanan jauh lebih tinggi sehingga membutuhkan tabung dengan spesifikasi keamanan khusus. Pemerintah saat ini masih melakukan uji coba terhadap desain tabung CNG ukuran 3 kilogram agar aman digunakan rumah tangga.
Meski memiliki perbedaan karakteristik, baik LPG maupun CNG tetap aman digunakan selama instalasi, regulator, dan sistem penyimpanan memenuhi standar keselamatan.
Tantangan Penggunaan CNG untuk Rumah Tangga
Di balik berbagai keunggulannya, penggunaan CNG untuk rumah tangga masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah infrastruktur distribusi yang belum merata. Tidak semua wilayah memiliki akses jaringan gas bumi atau fasilitas pengisian CNG.
Selain itu, masyarakat juga perlu menyesuaikan peralatan rumah tangga, mulai dari regulator hingga kompor gas. Proses konversi tersebut membutuhkan biaya tambahan dan sosialisasi yang tidak sedikit.
Pemerintah saat ini masih berada pada tahap kajian dan uji coba terhadap tabung CNG ukuran 3 kilogram sebelum diterapkan secara luas.
Meski begitu, rencana pemanfaatan CNG dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk mengurangi impor energi sekaligus memaksimalkan pemanfaatan gas bumi domestik.
Pemerintah dorong CNG gantikan LPG 3 kg untuk hemat biaya dan devisa. CNG lebih murah, namun butuh investasi besar dan infrastruktur memadai. [58] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah kian serius mendorong rencana pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram (kg) alias gas melon.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga CNG bisa 30% lebih murah dibanding LPG. Pasalnya, sumber gas untuk CNG tersedia di dalam negeri sehingga tidak bergantung pada impor.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56