Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto telah mengungkapkan bahwa pupuk Indonesia kini telah menjadi daya tarik di tengah kondisi krisis pupuk global. Permintaan pupuk dari berbagai negara pun datang.
Hal itu diungkapkan Prabowo saat pidato di Rapat Paripurna DPR pekan lalu Rabu (20/5/2026). Prabowo menyatakan saat ini negara-negara dunia sangat menghormati Indonesia. Menurutnya, hal ini tampak ketika ia melakukan kunjungan luar negeri dan bertemu para pemimpin negara lain.
Bahkan, menurutnya, sejumlah negara seperti Australia, Brasil, hingga Filipina meminta bantuan ke Indonesia. Salah satunya bantuan pupuk urea karena produksi Indonesia surplus.
“Mereka sekarang banyak negara minta bantuan ke kita. Mereka minta bantuan pupuk ke kita karena produksi pupuk kita lebih. Kita diminta bantuan oleh Australia, kita berikan. India, Brasil, Filipina. Saudara-saudara bayangkan, Indonesia sekarang bisa membantu negara-negara lebih kaya dari kita,” katanya.
Saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pekan sebelumnya (16/5/2026), Prabowo pun menjelaskan bahwa sejumlah negara kini menghadapi kepanikan akibat dampak perang di Timur Tengah, termasuk ancaman terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
"Banyak negara yang kesulitan dan panik karena perang di Timur Tengah Selat Hormuz ditutup, 20% BBM dunia lewat Selat Hormuz berarti pupuk terpengaruh, karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas," kata Prabowo.
Dia mengatakan kondisi tersebut membuat permintaan pupuk dari Indonesia meningkat, terutama untuk komoditas urea yang dibutuhkan banyak negara untuk menjaga produksi pertanian mereka.
"Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian banyak negara minta pupuk dari Indonesia. Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada di pihak yang bisa memberi bantuan," ujarnya.
Progres Ekspor Pupuk
Sejumlah negara memang telah meminta pasokan pupuk ke Indonesia. Salah satu negara yang meminta pasokan pupuk Indonesia adalah Australia.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa Perdana Menteri Australia Anthony Albanese telah berkomunikasi dengan Presiden Prabowo. Dalam komunikasi tersebut, PM Albanese menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia memulai ekspor pupuk urea ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap awal.
“PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama,” katanya.
Selain Australia, Indonesia juga tengah memperluas jangkauan pasar ekspor pupuk dengan menjajaki pengiriman ke sejumlah negara lain sebagai bagian dari penguatan peran Indonesia dalam rantai pasok global. Total komitmen ekspor tersebut mencapai sekitar 1 juta ton.
"Ke depan, sebagian pupuk urea juga akan diekspor ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil, dengan total komitmen ekspor mencapai kurang lebih 1 juta ton,” lanjut Teddy.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ekspor dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri, seiring kapasitas produksi nasional yang memadai. Saat ini, jumlah produksi urea nasional berada di atas kebutuhan dalam negeri.
PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur kemudian telah melaksanakan ekspor perdana produk urea ke Australia dalam skema government-to-government (G2G), sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan rantai pasok pupuk kawasan Asia-Pasifik pada pertengahan bulan ini (14/5/2026).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor perdana 47.250 ton merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton. Volume ekspor akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai mencapai sekitar Rp7 triliun.
“Ini mencetak sejarah, karena Indonesia akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia,” kata Amran dalam keterangan resminya, Jumat (15/5/2026).
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi juga mengatakan pengiriman urea ke Australia memiliki makna lebih besar dibandingkan sekadar aktivitas perdagangan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari diplomasi pangan Indonesia di tengah tekanan rantai pasok pangan dan pupuk global.
“Pengiriman urea ke Australia hari ini bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Rahmad.
Rahmad menegaskan ekspor tetap dilakukan dengan mengutamakan kebutuhan pupuk domestik. Pada 2026, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri diperkirakan sebesar 6,3 juta ton.
Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk pasar ekspor tanpa mengganggu pasokan nasional.
“Pupuk Indonesia tetap mampu menjaga kebutuhan domestik sekaligus mempertahankan fleksibilitas ekspor secara terukur dan bertanggung jawab,” katanya.
Catatan Ekspor
Mengacu data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) kinerja ekspor pupuk Indonesia dengan kode HS 31 sampai Maret 2026 telah mencapai 185.284 ton. Negara tujuan ekspor pupuk dari Indonesia terbesar ke Australia, India, Filipina, hingga Brazil.
Berkaca pada tahun sebelumnya atau 2025, ekspor pupuk Indonesia telah mencatatkan lonjakan signifikan yakni 2,14 juta ton, naik dari 1,7 juta ton pada 2024.
Berikut adalah rincian data volume ekspor pupuk Indonesia dalam lima tahun terakhir:
| Tahun | Volume |
| 2021 | 2,3 juta ton |
| 2022 | 1,91 juta ton |
| 2023 | 1,84 juta ton |
| 2024 | 1,7 juta ton |
| 2025 | 2,14 juta ton |
Sumber: BPS, diolah