Bisnis.com, JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah healing semakin akrab di tengah masyarakat. Aktivitas yang dahulu dianggap sebagai kebutuhan sesekali kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.
Perubahan perilaku tersebut turut membuka peluang ekonomi baru. Berbagai layanan dan produk yang menawarkan relaksasi, pemulihan diri, serta pengalaman yang mendukung kesehatan fisik dan mental semakin diminati. Konsepnya pun beragam, dari wisata alam, staycation, spa, hingga kelas kebugaran.
Kebutuhan masyarakat akan aktivitas healing tersebut turut ditangkap oleh Fransisca Herin, Pendiri Forest Therapy Indonesia yang berbasis di Yogyakarta. Melalui pendekatan forest therapy atau terapi hutan, dia menawarkan pengalaman yang mengajak peserta untuk terhubung kembali dengan alam sebagai sarana relaksasi dan pemulihan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Menurut Fransisca, forest therapy berbeda dengan sekadar aktivitas rekreasi atau berjalan-jalan di kawasan alam. Metode ini merupakan rangkaian perjalanan yang dirancang secara khusus dengan pendekatan terstruktur dan didukung oleh berbagai penelitian medis dan praktisi profesional. Karena itu, setiap sesi memiliki tujuan dan tahapan tertentu untuk membantu peserta mendapatkan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.
"Ini adalah metode healing berbasis alam tropis yang holistik, mempertemukan riset ilmiah, praktik transpersonal, terapi ekologi, dan kearifan tradisional nusantara dalam satu ekosistem penyembuhan yang utuh," katanya.
Dalam dua tahun terakhir, pihaknya rutin melaksanakan forest therapy di kawasan Sapu Angin, Klaten, tepatnya di bawah kaki gunung Merapi. Rangkaian kegiatannya dimulai dengan berjalan menyusuri hutan, menikmati pemandangan alam, yoga, hingga forest bathing.
Peserta juga diajak melakukan kegiatan reflektif seperti menulis jurnal, meditasi pernapasan, makan dengan penuh kesadaran, serta menikmati pengalaman meracik dan menyeduh kopi bersama barista.
Sejauh ini, katanya, minat masyarakat terhadap forest therapy terus menunjukkan peningkatan. Dirinya menilai tren ini sejalan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Ketertarikan terhadap terapi hutan juga tidak hanya datang dari peserta dalam negeri, tetapi mulai menarik perhatian wisatawan dan peserta dari berbagai negara.
“Peserta yang mengikuti forest therapy tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Selandia Baru, Belanda, Kanada, hingga Prancis. Bahkan, beberapa di antaranya merasakan pengalaman emosional yang cukup mendalam setelah mengikuti sesi terapi hutan di Indonesia,” ujar Fransisca.
Menurut Fransisca, sejumlah negara telah lebih dahulu mengadopsi forest therapy sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Jepang, Korea Selatan, dan Finlandia menjadi contoh negara yang telah mengintegrasikan terapi hutan ke dalam sistem kesehatan mereka.
Di Indonesia, pendekatan ini masih relatif baru, namun mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan aktivitas yang mendukung kesehatan mental dan pemulihan diri. Namun, peluang Indonesia mengembangkan praktik ini cukup besar, mengingat negara ini memiliki banyak hutan yang masih asri.
Hal berbeda dilakukan oleh Mahatma Putra yang mendirikan Kebun Meditasi di Padang Sambian, Denpasar Barat. Tempat ini dirancang sebagai area hijau yang memberikan suasana tenang dan nyaman, sehingga pengunjung dapat beristirahat sejenak dari rutinitas serta tekanan kehidupan sehari-hari.
Sesuai dengan namanya, Kebun Meditasi menggabungkan unsur alam dengan berbagai elemen yang merangsang indera untuk menciptakan pengalaman relaksasi yang lebih mendalam.
berkebun merupakan salah satu aktivitas yang memiliki efek terapeutik karena dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan terhubung dengan alam. Setelah beraktivitas di kebun, pengunjung dapat menikmati suasana yang lebih tenang dengan bersantai di saung, sambil memandangi hamparan tanaman dan mendengarkan berbagai suara alami yang menenangkan.
Di area kebun tersebut, berbagai jenis tanaman dibudidayakan, mulai dari markisa, bunga telang, tomat, gambas, labu, cabai, hingga kemangi. Keberagaman tanaman itu tidak hanya memperkaya pengalaman berkebun, tetapi juga menciptakan lingkungan yang asri dan mendukung terciptanya suasana yang nyaman untuk relaksasi maupun refleksi diri.
"Iya, praktik healing seperti ini belakangan memang makin digemari. Karena tren gaya hidup sehat yang juga lagi diminati," imbuhnya.
Selain menyediakan ruang hijau untuk berkebun dan relaksasi, Mahatma juga secara rutin mengadakan berbagai program meditasi di Kebun Meditasi. Kegiatan tersebut melibatkan beragam praktisi holistik, mulai dari fasilitator profesional hingga biksu, yang membimbing peserta dalam berbagai metode meditasi dan pengembangan kesadaran diri.
Menurutnya, sebagian besar pengunjung memilih menginap untuk merasakan suasana tenang dan mengikuti rangkaian kegiatan secara lebih mendalam. Meski demikian, tidak sedikit pula yang datang hanya untuk sejenak menjauh dari kesibukan sehari-hari, menikmati ketenangan lingkungan kebun, kemudian kembali melanjutkan aktivitas mereka.
Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari menilai bahwa forest therapy, kebun meditasi, maupun berbagai layanan healing lainnya pada dasarnya merupakan bagian dari tren wellness tourism. Segmen ini belakangan memang lagi banyak diminati secara global.
Menurut Azril, terdapat empat aspek utama yang menjadi perhatian dalam wellness tourism, yakni mindfulness, spiritualitas, perpaduan antara kesehatan fisik dan ketenangan batin, serta gastronomi. Dalam kerangka tersebut, aktivitas seperti meditasi dan retret spiritual termasuk ke dalam kategori mindfulness dan spiritualitas karena membantu peserta meningkatkan kesadaran diri, memperoleh ketenangan, serta memperkuat hubungan dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Azril menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan wellness tourism karena didukung oleh kekayaan alam dan budaya yang melimpah. Menurutnya, layanan seperti forest therapy, kebun meditasi, maupun berbagai bentuk healing lainnya relatif mudah dikembangkan karena berangkat dari potensi yang sudah tersedia. Dengan bentang alam yang beragam, mulai dari pegunungan, hutan, pesisir, hingga pedesaan, berbagai lokasi dapat diolah menjadi ruang meditatif yang menawarkan pengalaman unik.
Selain itu, Indonesia juga memiliki warisan rempah yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu, bahkan menjadi bagian penting dari sejarah jalur rempah dunia. Kekayaan tersebut dinilai dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan destinasi dan program retret berbasis alam. Perpaduan antara lingkungan alami, tradisi lokal, serta pemanfaatan rempah dan tanaman herbal dapat menciptakan pengalaman wellness yang khas dan sulit ditemukan di negara lain.
