Bisnis.com, JAKARTA — Rentetan kecelakaan antara kereta api dengan kendaraan kembali terjadi. Dalam satu hari, Rabu (21/1/2026), terdapat dua kejadian kereta api tertemper truk dan minibus, yakni di Cirebon dan Tebing Tinggi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menegaskan bahwa setiap insiden di perlintasan sebidang merupakan persoalan sosial yang menyangkut disiplin, kepedulian, dan keselamatan bersama.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba Anne menekankan, perlintasan sebidang merupakan ruang bersama yang menuntut kesadaran dan kepedulian antar pengguna jalan.
“Berhenti sejenak, mematuhi rambu, dan memastikan kondisi aman merupakan sikap yang mencerminkan kepedulian terhadap keselamatan nyawa bersama,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Kamis (22/1/2026).
Sebagai pengingat, perlintasan kereta api di Indonesia telah diatur secara ketat dalam peraturan perundang-undangan. Pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 23/2007 tentang Perkeretaapian serta UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Meski demikian, KAI mencatat berdasarkan evaluasi keselamatan hingga Desember 2025, masih terdapat 276 titik rawan di seluruh jaringan perkeretaapian.
Untuk menekan risiko kecelakaan, KAI bersama pemerintah pusat dan daerah, kepolisian, TNI, serta kementerian dan lembaga terkait pun sebelumnya telah menutup 316 perlintasan sebidang berisiko tinggi sebagai langkah perlindungan keselamatan publik.
Selain pengamanan fisik, KAI secara konsisten membangun budaya keselamatan melalui pendekatan edukatif. Sepanjang tahun 2025, KAI melaksanakan 2.016 kegiatan sosialisasi keselamatan di sekitar jalur kereta api, 212 kegiatan edukasi ke sekolah, pemasangan 687 spanduk keselamatan, serta 655 kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di lingkungan stasiun dan masyarakat sekitar.
Anne mengingatkan, ketika terjadi pelanggaran di perlintasan sebidang, risiko yang muncul dapat mengancam keselamatan petugas yang sedang bertugas serta mengganggu kelancaran perjalanan kereta api dan keselamatan pengguna jalan.
KA Tertemper di Cirebon
Salah satu kejadian terbaru terjadi pada Rabu (21/1) pukul 02.47 WIB, ketika KA 177B (Menoreh) relasi Semarang Tawang–Pasarsenen tertemper kendaraan truk di perlintasan sebidang JPL 329 (resmi dan tidak dijaga) pada petak jalan Babakan–Waruduwur Km 201+400 jalur hilir.
Akibat insiden tersebut, masinis dan asisten masinis mengalami luka parah saat menjalankan tugas, dengan kondisi yang membahayakan keselamatan jiwa.
Proses penggantian lokomotif kereta api Menoreh pun baru selesai dilakukan pada pagi hari dan kereta diberangkatkan kembali pada pukul 06.52 WIB.
KA Tertemper Minibus di Tebing Tinggi
Pada hari yang sama, KAI Divisi Regional (Divre) I Sumatra Utara melaporkan peristiwa nahas yang terjadi antara KA Sribilah Utama relasi Stasiun Rantau Prapat–Stasiun Medan dengan sebuah minibus.
Insiden tersebut terjadi di perlintasan tidak terjaga di kilometer 83+300, tepatnya pada petak jalan antara Stasiun Laut Tador—Stasiun Tebing Tinggi, pada pukul 18.24 WIB.
Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatra Utara Anwar Yuli Prastyo menyampaikan rasa duka cita atas kondisi para korban dan mengajak seluruh pengguna jalan untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan bersama.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat di sekitar lokasi, sebelum melintas masinis KA Sribilah Utama sudah membunyikan suling lokomotif berulang kali. Minibus tiba-tiba muncul dari arah samping melintas di lokasi perlintasan sebidang tanpa palang pintu tanpa sempat berhenti, diduga supir tidak sempat menengok ke kanan dan kiri, sehingga insiden tidak terhindarkan.
"Dampak atas kejadian tersebut, lokomotif KA Sribilah Utama mengalami kerusakan dan tidak dapat melanjutkan perjalanan sehingga harus dikirim lokomotif penolong dari Stasiun Tebing Tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi.
Sedangkan masinis, para kru yang bertugas, dan para penumpang KA Sribilah Utama selamat dan tidak mengalami luka-luka.
Sementara penumpang minibus yang berjumlah delapan orang dan satu orang pengemudi meninggal dunia dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Tebing Tinggi.