Kemnaker RI menyiapkan langkah antisipasi gelombang PHK akibat konflik global yang menekan sejumlah sektor industri dalam negeri. Apa saja langkahnya? [508] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi gelombang PHK di industri dalam negeri imbas memanasnya kondisi geopolitik.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemnaker, Indah Anggoro Putri mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan di level provinsi hingga kabupaten/kota.
Selain itu, Kemnaker juga membahas upaya-upaya terkait pencegahan PHK dengan Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional (LKS Tripnas) yang beranggotakan perwakilan serikat pekerja dan pengusaha.
“Berikutnya, Kementerian Keuangan sendiri punya satgas debottlenecking bisnis itu. Kalau ada pengaruh katakanlah yang berdampak ke PHK, kami selalu dilibatkan untuk membahas. Jadi kami pantau,” kata Indah di DPR, Kamis (9/4/2026).
Sementara itu, sepanjang periode Januari-April 2026, Kemnaker mencatat jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 8.389 orang. Data ini berdasarkan laporan dari Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang).
“Januari sampai April 2026 sudah ada, datanya [PHK] 8.389 orang dari Barenbang, sampai hari ini,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya belum memiliki perincian jumlah PHK per provinsi maupun terkait sektor penyumbang PHK terbanyak hingga pekan pertama April 2026.
Adapun, mengacu pada laman Satu Data Ketenagakerjaan di situs web Kemnaker, data PHK teranyar yang dipublikasikan masih mencakup periode Januari 2026.
Pada bulan pertama tahun ini, Kemnaker mencatat total pekerja terdampak PHK mencapai 359 orang, yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
PHK paling banyak terjadi di Jawa Barat dan Sumatra Selatan yang masing-masing tercatat sebanyak 49 orang, atau mencakup 13,65% dari total tenaga kerja ter-PHK yang dilaporkan.
Ancaman PHK Besar-besaran
Sebelumnya, Kalangan buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan adanya potensi PHK besar-besaran dalam 3 bulan mendatang, lantaran kenaikan harga komoditas energi akibat konflik geopolitik global hingga kebijakan perekonomian dalam negeri.
Presiden KSPI Said Iqbal menyampaikan bahwa perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel telah membuat harga bahan bakar minyak (BBM) industri melambung. Meningkatnya harga energi disebutnya membuat biaya produksi juga membengkak, sehingga perusahaan akan punya pertimbangan untuk menekan biaya ketenagakerjaan.
“Kalau dia sudah menekan labor cost atau biaya buruh, maka ujung-ujungnya efisiensi. Ini yang sudah disampaikan oleh para pimpinan perusahaan kepada serikat-serikat pekerja di tingkat perusahaan. Ancaman PHK sudah di depan mata, besar-besaran,” kata Said dalam konferensi pers secara daring, dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Dia melanjutkan, risiko ini kian besar mengingat BBM industri tidak bersubsidi, di samping pemerintah yang memutuskan belum akan meningkatkan harga BBM baik subsidi maupun nonsubsidi.
Apabila perang berlangsung lebih panjang, maka Said menyebut biaya bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin di industri akan lebih besar dibandingkan keuntungan suatu perusahaan dari sisi penjualan produk.
Pihaknya lantas menyinggung kebijakan dalam negeri yakni impor ratusan ribu mobil operasional Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dari India. Menurut Said, apabila pengadaan unit kendaraan itu dikerjakan oleh industri otomotif dalam negeri, maka justru akan menyerap 20.000 hingga 50.000 tenaga kerja.
“Kalau mobil impor yang dari India tadi dikerjakan di Indonesia, maka akan memperpanjang kontrak, juga menambah tenaga kerja yang baru. Di tengah ancaman perang ini, ancaman PHK akan terjadi besar-besaran dalam 3 bulan ke depan,” tuturnya.
Gelombang PHK melanda sektor teknologi, Amazon, Meta, dan Microsoft memangkas ribuan karyawan untuk efisiensi di tengah adopsi AI yang meningkat. [557] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda industri teknologi global. Raksasa e-commerce Amazon hingga perusahaan Meta melakukan perampingan besar-besaran tahun ini.
Sejumlah raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, Intel, hingga Meta melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap puluhan ribu karyawan di seluruh dunia.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya efisiensi dan restrukturisasi perusahaan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Amazon menjadi salah satu perusahaan yang paling banyak melakukan pemangkasan tenaga kerja. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu berencana memangkas sekitar 14.000 karyawan korporat di seluruh dunia.
Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran seiring meningkatnya adopsi teknologi AI di berbagai lini bisnis perusahaan.
Mengutip laporan Reuters, Rabu (29/10/2024), jumlah karyawan yang terdampak berpotensi meningkat hingga 30.000 orang.
Meski belum dikonfirmasi secara resmi, Amazon dalam surat elektronik kepada seluruh karyawan menyebutkan bahwa pemangkasan lanjutan akan dilakukan dalam waktu dekat. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan jumlah tenaga kerja setelah terjadi kelebihan rekrutmen selama masa pandemi, sekaligus menekan biaya operasional menjelang musim belanja akhir tahun.
Langkah serupa juga dilakukan Microsoft Corp., yang kembali mengumumkan PHK terhadap sekitar 9.000 karyawan dalam gelombang kedua pada tahun ini. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan menekan biaya di tengah peningkatan investasi di sektor AI.
Seorang juru bicara Microsoft menyatakan langkah ini akan berdampak pada kurang dari 4% total tenaga kerja global perusahaan. PHK akan dilakukan lintas tim, wilayah, serta tingkat jabatan sebagai bagian dari upaya merampingkan proses dan memangkas lapisan manajemen.
“Kami terus melakukan penyesuaian organisasi yang diperlukan agar perusahaan dan tim kami berada dalam posisi terbaik untuk sukses di pasar yang dinamis,” ujar juru bicara tersebut dikutip dari Bloomberg, Kamis (3/7/2025).
Sebelumnya, Microsoft telah melakukan PHK massal pada Mei lalu yang berdampak pada 6.000 karyawan, terutama di posisi produk dan rekayasa teknis.
Di sisi lain, Intel Corp. juga mengonfirmasi akan melakukan PHK massal terhadap 15% tenaga kerja globalnya pada kuartal terakhir tahun ini.
Berdasarkan laporan pendapatan terbaru, sebagian besar pemangkasan tersebut telah dimulai, terutama di unit Folsom dan Santa Clara di California, serta di fasilitas Oregon, Arizona, Texas, dan Israel.
Intel berharap hanya memiliki 75.000 karyawan inti pada akhir tahun ini, turun signifikan dari 99.500 karyawan pada akhir 2024. Dengan demikian, perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerjanya hingga 24.500 orang.
Selama beberapa tahun terakhir, Intel kehilangan pangsa pasar akibat meningkatnya dominasi pesaing seperti TSMC dan kesulitan memenuhi tuntutan industri AI. Tahun lalu, Intel juga telah memangkas sekitar 15.000 karyawan.
“Perubahan ini dirancang untuk menciptakan organisasi yang bergerak lebih cepat, lebih datar, dan lebih gesit,” kata Intel.
Tak ketinggalan, Meta Platforms Inc. turut melakukan pemangkasan tenaga kerja. Perusahaan induk Facebook itu berencana memangkas sekitar 600 karyawan di divisi AI Superintelligence Labs pada bulan depan. PHK ini melibatkan tim Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR), divisi produk AI, dan infrastruktur AI.
Menurut data dari akun analis pasar The Kobeissi Letter di X, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah perusahaan besar juga mengumumkan rencana PHK besar-besaran.
Berikut daftanya:
-UPS sebanyak 48.000 karyawan,
-Nestle 16.000 karyawan,
-Accenture 11.000 karyawan,
-Ford 11.000 karyawan,
-Novo Nordisk 9.000 karyawan,
-PwC 5.600 karyawan,
-Salesforce 4.000 karyawan,
-Paramount 2.000 karyawan,
-Kroger 1.000 karyawan,
-dan Applied Materials 1.444 karyawan.
“Pasar tenaga kerja jelas melemah,” tulis The Kobeissi Letter dalam unggahan di X.
Exxon Mobil akan merumahkan 2.000 pekerja global, terutama di Kanada dan Eropa, sebagai bagian dari restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi hingga 2027. [670] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan minyak besar AS, Exxon Mobil mengumumkan akan memberhentikan 2.000 pekerja di seluruh dunia, terutama di Kanada dan di seluruh Uni Eropa.
Keputusan ini sebagai bagian dari rencana restrukturisasi jangka panjang yang akan memengaruhi sekitar 3% hingga 4% dari total tenaga kerja perusahaan.
Dilansir Reuters, pihak Exxon mengungkapkan sekitar 1.200 posisi akan dipangkas di Norwegia dan Uni Eropa pada akhir tahun 2027.
Menghadapi penurunan harga minyak mentah global seiring peningkatan produksi kelompok produsen minyak OPEC+, perusahaan-perusahaan energi telah mengumumkan ribuan PHK tahun ini untuk mengendalikan biaya sekaligus menghadapi penurunan laba.
Exxon yang berbasis di Houston mengatakan pihaknya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dengan menempatkan karyawan di lokasi yang sama.
Tak hanya di Kanada dan Eropa, Exxon Singapura juga mengumumkan akan memangkas 10% sampai 15% pekerja pada akhir 2027.
PHK tersebut kemungkinan akan berdampak pada sekitar 500 pekerja dari sekitar 3.500 karyawan Exxon di Singapura, tetapi perusahaan menolak menyebutkan angka spesifiknya. Karyawan yang terdampak akan diberitahu pada Desember mendatang.
Pendiri ExxonMobil
Dilanda efisiensi, ExxonMobil sudah berdiri lebih dari 140 tahun. Sejarah awalnya dimulai pada tahun 1859 ketika Kolonel Edwin Drake dan Billy Smith mengebor sumur minyak pertama yang berhasil di Titusville, Pennsylvania. Penemuan sang kolonel memicu ledakan minyak yang serupa dengan demam emas satu dekade sebelumnya.
Pada 1970, John D. Rockefeller dan rekan-rekannya membentuk Standard Oil Company (Ohio), dengan fasilitas gabungan yang merupakan kapasitas penyulingan terbesar di antara perusahaan mana pun di dunia.
Awalnya, perusahaan tersebut diberi nama Standard Oil dipilih untuk menandakan kualitas yang tinggi dan seragam. Standard Oil bahkan menjadi bahan bakar sistem pembangkit listrik pusat pertama Thomas Alpha Edison.
Pada tahun yang sama, Standard Oil Trust dibentuk, yang mencakup Standard Oil Company of New Jersey (Jersey Standard) dan Standard Oil Company of New York (Socony).
Pada 1885. Standard Oil Trust memindahkan kantor pusatnya ke 26 Broadway, New York City. Gedung perkantoran sembilan lantai ini menjadi landmark.
Kemudian pada 1972 Jersey Standard resmi berganti nama menjadi Exxon Corporation. Sedekade kemudian, pada 1982 Exxon merayakan 100 tahun berdirinya Standard Oil Trust.
Dalam 100 tahun pertamanya, perusahaan ini berkembang dari perusahaan penyuling dan distributor minyak tanah domestik menjadi perusahaan multinasional besar yang terlibat di setiap tingkat eksplorasi, produksi, penyulingan dan pemasaran minyak dan gas, serta manufaktur petrokimia.
Pada 30 November 1999, Exxon dan Mobil kemudian bergabung membentuk Exxon Mobil Corporation. dan menunjuk Lee Raymond sebagai CEO.
Sebelum menjadi CEO, Raymond menjabat sebagai ketua dan CEO Exxon Corporation. Dia berasal dari Watertown, South Dakota dan merupakan lulusan University of Wisconsin pada 1960 dengan gelar sarjana teknik kimia.
Kemudian, pada tahun 1963, beliau meraih gelar Ph.D. dalam bidang yang sama dari University of Minnesota. Beliau bergabung dengan Exxon pada tahun yang sama sebagai insinyur riset produksi di Tulsa, Oklahoma.
Selama 16 tahun berikutnya, beliau memegang posisi dengan tanggung jawab yang semakin meningkat di Exxon Company, AS, di antaranya Creole Petroleum Corporation, yang merupakan afiliasi operasional Exxon di Venezuela sebelum fasilitas tersebut dinasionalisasi; Exxon International Company, yang bertanggung jawab atas pasokan dan transportasi internasional produk minyak bumi dan minyak mentah Exxon; dan Lago Oil & Transport Company, Limited, afiliasi Exxon di Aruba.
Raymond juga pernah menjadi presiden Exxon Nuclear Company, Inc. pada tahun 1979, dan pindah ke New York pada tahun 1981, ketika beliau diangkat sebagai wakil presiden eksekutif Exxon Enterprises.
Pada tahun 1983, Raymond diangkat sebagai presiden dan direktur Esso Inter-America Inc., dengan tanggung jawab atas operasi Exxon di Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Raymond juga pernah menjabat sebagai wakil presiden senior dan terpilih menjadi anggota dewan direksi perusahaan tersebut pada tahun 1984. Beliau menjadi presiden perusahaan tersebut pada tahun 1987.
Di samping itu, Raymond juga merupakan direktur J.P. Morgan Chase & Co. dan United Negro College Fund. Beliau adalah direktur dan anggota Komite Eksekutif dan Komite Kebijakan American Petroleum Institute, serta direktur dan anggota Komite Perencanaan Strategis JASON Foundation for Education.
Kekayaan bersih Lee Raymond diperkirakan mencapai sekitar US$400 juta saat memasuki masa pensiunnya pada tahun 2006, yang terdiri dari paket pensiun yang signifikan yang mencakup uang pensiun yang besar dan penghargaan saham.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56