Bisnis.com, JAKARTA – PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM) sukses mencatat pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang lima tahun terakhir. Manajemen melihat prospek industri logistik pelabuhan dan pelayaran di Indonesia cukup menjanjikan meski tak lepas dari tantangan.
Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk. Shanti Puruhita memaparkan bahwa sepanjang 2020-2025, perseroan mencatat compound annual growth rate (CAGR) pendapatan sebesar 16,22%, sementara CAGR laba bersih perseroan dalam 5 tahun di level 19,61%.
Shanti mengatakan bahwa perseroan mampu menjaga kinerja fundamentalnya meskipun sempat dihantam pandemi covid-19 yang efeknya masih terasa di 2020 hingga 2021. Hal ini menjadi bukti sektor bisnis ini punya posisi strategis yang memiliki demand besar bahkan di momen krisis.
"Walaupun terjadi covid, namun karena kebutuhan dasar akan energi tetap ada, modal vital transportasi di seluruh dunia tetap melalui pelabuhan. Walaupun terjadi pembatasan di sektor udara, sektor pelabuhan tidak akan terjadi pembatasan. Begitu pula barang-barang energi yang sudah terjadwal untuk keluar," ujarnya dalam online public expose, Selasa (9/6/2026).
Berbicara ihwal outlook dan potensi industri ini ke depan, Shanti memaparkan bahwa Indonesia memiliki 947 Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) dan 1.402 Terminal Khusus (Tersus) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Manajemen melihat hal ini menjadi peluang besar bagi IPCM untuk berkolaborasi memberikan pelayanan jasa pemanduan dan penundaan kapal di setiap titik.
Belum lagi, Indonesia memiliki jalur strategis Selat Malaka yang menjadi titik perdagangan global yang dilalui 22% lalu lintas global.
"Kami mencatat kurang lebih di tahun 2025 ada 102.500 kapal yang bergerak hilir mudik melewati jalur selat malaka ini, karena selat ini menghubungkan 300 lebih pelabuhan internasional yang ada di dunia," jelasnya.
Sementara dari sisi tantangan, lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor yang dirasakan seluruh perusahaan di sektor logistik. Disulut perang Timur Tengah, minyak mentah WTI saat ini berada di level US$90,28 per barel. Kondisi ini memicu kenaikan bahan bakar domestik.
"Karena buat kami harga BBM memang menjadi major, karena cost kami yang utama adalah bahan bakar ini," pungkasnya.
Berdasarkan laporan keuangan triwulan I/2026 yang tidak diaudit, IPCM membukukan total beban pokok pendapatan sebesar Rp252,12 miliar. Dari angka itu, 30,9% atau Rp82,85 miliar adalah untuk penggunaan bahan bakar, pelumas, air dan makanan.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.