Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang ... [407] url asal
Denpasar (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang rendah emisi dan berkelanjutan.
Direktur Bidang Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Fajar Nuradi di Denpasar, Rabu, mengatakan keberhasilan pengurangan emisi di sektor pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada kemampuan petani sebagai pelaku utama di lapangan.
"Petani bukan hanya objek kebijakan, tetapi aktor utama dalam transformasi ini. Karena itu pembangunan kapasitas petani menjadi sangat penting," ujar Fajar dalam forum internasional pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Denpasar, Bali.
Penguatan kapasitas petani, dukungan teknologi, dan akses pembiayaan iklim dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pangan yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Menurutnya, petani perlu didukung dengan kemampuan mengoperasikan teknologi modern sekaligus memahami pemanfaatan data untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Pemerintah saat ini terus mendorong penggunaan berbagai inovasi seperti drone, sensor jarak jauh, serta sistem pemantauan digital untuk mendukung pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Fajar menjelaskan, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam pengembangan pertanian rendah emisi mengingat beras merupakan fondasi ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, budidaya padi juga menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar di sektor pertanian.
Karena itu, penerapan teknologi rendah emisi dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan air, dan ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Selain penguatan kapasitas petani, pemerintah juga mendorong peningkatan akses pembiayaan iklim.
Menurut Fajar, hingga saat ini porsi pembiayaan iklim global yang mengalir ke petani kecil dan sektor pertanian masih sangat terbatas.
Untuk memperluas akses pendanaan, Indonesia mengembangkan G20 Bali Global Blended Finance Alliance (GBFA) yang bertujuan menghimpun sumber pembiayaan dari pemerintah, sektor swasta, filantropi, hingga lembaga internasional guna mendukung berbagai program aksi iklim.
"Kita membutuhkan dukungan pembiayaan yang lebih besar agar inovasi dan teknologi dapat benar-benar diterapkan oleh petani di lapangan," katanya.
Ia menambahkan, transformasi pertanian masa depan juga membutuhkan sistem pemantauan emisi yang lebih akurat melalui teknologi digital, termasuk pemanfaatan blockchain untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program.
Fajar menegaskan upaya membangun sistem pangan berkelanjutan harus dilakukan secara kolaboratif dengan menempatkan petani sebagai pusat perubahan.
"Transformasi ini bukan hanya soal teknologi dan keuangan, tetapi bagaimana membangun kepercayaan dan kerja sama untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan," ujarnya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital dalam sektor pertanian guna mempercepat upaya ... [345] url asal
Denpasar (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital dalam sektor pertanian guna mempercepat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu, menilai pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang lebih efisien dan rendah emisi.
"Berbagai inovasi saat ini telah tersedia untuk membantu petani mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani," kata Puji dalam acara pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR - Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Bali.
Beberapa teknologi yang mulai berkembang antara lain metode pengairan berselang pada sawah, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, pemanfaatan varietas unggul, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem pemantauan emisi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Berita baiknya, berbagai alat dan teknologi untuk mendukung pertanian rendah emisi saat ini sudah tersedia dan semakin mudah diakses," ujarnya.
Puji menjelaskan teknologi digital juga dapat mendukung sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi atau Monitoring, Reporting and Verification (MRV) yang lebih akurat dan mudah diterapkan, termasuk oleh petani skala kecil.
Meski demikian, ia mengingatkan keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada ketersediaan inovasi, tetapi juga dukungan investasi, penyesuaian terhadap kondisi lokal, serta kebijakan yang mampu memperluas penerapan teknologi dari tahap percontohan menuju skala yang lebih besar.
Menurutnya, salah satu tantangan utama saat ini adalah masih terbatasnya pengetahuan dan kapasitas petani dalam mengakses serta memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Selain itu, sistem pelaporan emisi yang masih beragam antarnegara juga menjadi kendala dalam mengukur dampak pengurangan emisi secara lebih terstandarisasi.
Melalui forum tersebut, BRIN mendorong kolaborasi negara-negara Asia dan Afrika untuk saling berbagi pengalaman dalam penerapan teknologi pertanian rendah emisi, termasuk pengembangan sistem digital yang mendukung pencapaian target iklim global.
Puji menegaskan inovasi teknologi harus mampu menjangkau petani secara langsung agar transformasi pertanian rendah emisi dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.
Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo akan menjadi ajang transfer teknologi dengan menampilkan berbagai inovasi budidaya tanaman pangan, ... [258] url asal
Gorontalo (ANTARA) - Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo akan menjadi ajang transfer teknologi dengan menampilkan berbagai inovasi budidaya tanaman pangan, hortikultura, hingga perikanan yang dapat dipelajari langsung oleh petani dari seluruh Indonesia.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian Tedy Dirhamsyah di Gorontalo, Kamis, mengatakan sejumlah teknologi yang dipamerkan dirancang untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan perikanan.
"Di setiap petak, baik padi, jagung, kedelai, kacang hijau, kemudian hortikultura termasuk ikan itu ada semuanya," kata Tedy.
Ia menjelaskan peserta dapat melihat secara langsung penerapan teknologi budidaya berbagai komoditas strategis yang selama ini dikembangkan untuk meningkatkan hasil produksi.
Selain tanaman pangan, teknologi perikanan juga akan ditampilkan selama pelaksanaan PENAS XVII. Menurut Tedy, teknologi tersebut mampu meningkatkan kecepatan pertumbuhan ikan dalam luasan tertentu sehingga hasil panen menjadi lebih tinggi.
Ia menjelaskan, ajang pameran teknologi itu juga menghadirkan petani-petani berprestasi atau champion dari berbagai daerah di Indonesia yang telah berhasil menerapkan inovasi pertanian di lapangan.
"Champion-champion petani dari seluruh Indonesia untuk bisa melihat, bukan hanya padi tapi juga kedelai, kacang hijau," katanya.
Menurut dia, kehadiran petani berprestasi tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi peserta dalam menerapkan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas usaha tani.
Tedy mengajak peserta memanfaatkan pelaksanaan PENAS XVII untuk belajar dan berdiskusi langsung mengenai teknologi yang dipamerkan selama kegiatan berlangsung.
"Teman-teman manfaatkan dalam waktu satu minggu untuk bisa belajar dan bertanya kepada para ahlinya yang ada secara teknis di lapangan," katanya.
PENAS XVII Petani Nelayan akan berlangsung di Gorontalo dan diikuti peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Kemensos menggunakan mekanisme digitalisasi data penerima bansos. Salah satunya menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition untuk verifikasi. Kementerian... | Halaman Lengkap [308] url asal
JAKARTA - Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat kepercayaan publik melalui mekanisme digitalisasi data penerima bantuan sosial (bansos). Salah satunya dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition untuk verifikasi.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa penguatan perlindungan sosial perlu bertumpu pada tiga hal utama, yaitu data akurat, sasaran tepat, dan Sekolah Rakyat.
“Kalau datanya tidak akurat, maka sasarannya juga tidak tepat,” ujar Gus Ipul dalam keterangannya, dikutip Minggu (14/6/2026).
Nantinya, penerima akan terdeteksi keaktifan wajah atau liveness detection. Teknologi ini digunakan untuk memastikan bahwa orang yang melakukan verifikasi benar-benar berada di depan kamera, bukan menggunakan foto, rekaman video, atau manipulasi digital.
Dia menilai teknologi penting untuk memperkuat validasi penerima manfaat bantuan sosial. Teknologi seperti ini, menurutnya, mendukung proses penyaluran bantuan sosial semakin akurat dan tepat sasaran. “Kita dorong, kita setujui ini,” ujar ujarnya.
Gus Ipul mengungkapkan bahwa teknologi ini bekerjasama dengan GoTo. Pada tahap awal, GoTo memberikan dukungan sebanyak 5 juta hits atau verifikasi untuk mendukung digitalisasi bantuan sosial. Dukungan tersebut menjadi bagian dari uji coba layanan verifikasi bagi penerima manfaat.
“Terima kasih dikasih bantuan 5 juta ini. Tapi kita juga harus cek cost dan biayanya. Mulai sekarang dibuat perencanaan. Nanti 5 juta ini habis, kita ke mana,” kata Gus Ipul.
Uji coba layanan yang telah dikembangkan sejak 2022 tersebut dilakukan di 42 kabupaten/kota. Dalam paparan yang disampaikan, layanan telah digunakan terhadap 28.961 percobaan dengan tingkat keberhasilan sekitar 98,4% persen.
Selain bantuan sosial, Mensos juga berharap ada dukungan teknologi untuk pengelolaan Sekolah Rakyat. Dukungan tersebut dapat mencakup sistem manajemen sekolah, pemantauan aktivitas siswa, atau pengelolaan transaksi.
“Sekolah Rakyat ini bagus sekali, Pak. Ini untuk orang paling miskin. Yang jelas saya butuh sistem yang aman,” ujarnya.
Mensos mengatakan bahwa teknologi yang aman dan tepat sangat dibutuhkan untuk membantu pemerintah memastikan bantuan sosial sampai kepada masyarakat yang benar-benar berhak sehingga tepat sasaran.
Terik mentari di pesisir Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5) pagi itu terasa garang. Panasnya terlalu menyengat dan membuat orang tak betah ... [1,833] url asal
Kenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya jelas. Sayang kalau potensi alam di Indramayu tidak dilirik. Kejar swasembada itu benar dan bisa terealisasi
Indramayu (ANTARA) - Terik mentari di pesisir Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5) pagi itu terasa garang. Panasnya terlalu menyengat dan membuat orang tak betah berlama-lama di sana.
Kendati demikian, suasana berbeda justru terlihat di dalam tunnel garam di kawasan itu. Para petani tampak asyik menyerok kristal-kristal putih, komoditas yang sudah lama mereka dambakan.
Hamparan geomembran hitam membuat warna garam semakin putih, nyaris tanpa semburat kecokelatan yang lazim terlihat pada garam tambak tradisional.
Kilau kecil memantul ke mana-mana saat cahaya matahari masuk dari sela plastik, menyulap tunnel itu seperti ladang kristal.
Di area tersebut, Sujitno berdiri sambil menunjuk endapan garam yang mulai mengeras di dasar petak produksi.
Butir keringat pun mengalir di pelipisnya. Wajahnya tampak tenang, meski usaha yang sedang dilakoninya sebenarnya masih sangat baru.
Beberapa bulan lalu, lelaki tersebut lebih banyak menghabiskan waktu sebagai petani padi dan peternak.
Ide membuat garam muncul, seusai dirinya mendapat dorongan dari beberapa rekannya yang melihat potensi di kawasan pesisir.
“Kawasan Juntinyuat itu bagus. Ada sawah, ada laut, ada peternak juga bisa,” kata Sujitno saat berbincang dengan ANTARA.
Ia lalu membangun tunnel bersama teman-temannya secara bertahap. Pengerjaannya tidak dilakukan sekaligus karena mereka harus mengurus sawah.
Satu tunnel, membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk selesai dibangun dengan biaya sekitar Rp40 juta.
Sistem tunnel garam di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Ia melihat usaha garam sebagai investasi jangka panjang, karena sistem produksinya bisa terus digunakan setelah selesai dibangun.
Produksi perdana mereka baru berjalan sekitar setengah bulan. Hasil panen garam mencapai sekitar lima kuintal atau setara 10 karung.
Kristal garam yang sudah dipanen, nantinya akan dijemur kembali sebelum dikemas untuk dipasarkan.
Sujitno mengatakan garam dari lokasi tersebut mulai dilirik untuk kebutuhan konsumsi, karena warnanya lebih putih dan bersih dibanding garam biasa.
Bahkan, kata dia, ada permintaan dari pengolah teri nasi di kawasan Dadap, Indramayu, karena kualitas garam dianggap mampu menjaga warna ikan tetap cerah.
Ia meyakini di tengah perubahan cuaca yang makin sulit ditebak dan biaya pertanian yang terus naik, garam memberi warga pesisir pilihan baru untuk mendulang rezeki.
Inovasi
Di dekat area tunnel, suara mesin diesel meraung pendek. Selang-selang air menjulur menuju bak penampungan berwarna gelap. Di sanalah Afwan (19) bekerja.
Pemuda itu menjadi operator mesin sea water reverse osmosis atau SWRO, yang digunakan untuk menyaring air laut sebelum masuk ke petak garam.
Afwan menjelaskan proses itu dengan santai. Mulanya, air dari laut didiamkan hingga lima hari agar kotorannya mengendap sebelum masuk ke mesin penyaring.
Setelahnya, alat SWRO membelah air laut menjadi dua bagian yakni air tawar dan air tua berkadar garam tinggi.
Afwan saat menunjukkan mesin SWRO di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Penggunaan mesin ini membuat hasil produksi jauh lebih bersih dibanding metode manual, karena seluruh aliran air sudah melalui tahap penyaringan. Sehingga tidak tercemar lumpur atau kotoran.
Afwan mengaku baru sekitar dua bulan bekerja di usaha garam tersebut. Meski demikian, ia optimistis aktivitas ini punya prospek yang baik.
Hal tersebut karena harga garam berkualitas tinggi, bisa mencapai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram dengan kadar natrium klorida (NaCl) mencapai 98 persen.
Dari penjelasan Afwan, proses produksi garam kristal di Juntinyuat memerlukan beberapa tahapan, hingga butiran garam terbentuk sempurna.
Ketua Koperasi Sae Nalendra Darma Raga Carmadi kemudian memaparkan metode SWRO yang digunakan di lokasi tersebut, secara lebih teknis.
Pria yang akrab disapa Dadi itu mengatakan dalam satu jam, mesin tersebut mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air, dengan sekitar 1.000 liter di antaranya menjadi bahan kristalisasi garam.
Satu tunnel produksi memiliki ukuran sekitar 25 meter x 4 meter dengan tinggi air sekitar 20 sentimeter. Air hasil penyaringan itu kembali diendapkan selama 21 hari sebelum diuji laboratorium.
Untuk menghasilkan garam standar industri dengan kadar NaCl mendekati 98 persen, proses pengendapan bahkan bisa mencapai 40 hari.
“Kalau konsumsi rumah tangga sekitar 30 hari sudah cukup, tetapi kalau mau masuk industri pangan, waktunya lebih panjang,” katanya.
Saat ini, terdapat 11 tunnel di Juntinyuat, dengan satu unit mampu menghasilkan sekitar tiga ton garam per bulan.
Sistem produksi tersebut, membuat petani tidak terlalu bergantung pada musim panas seperti pola tambak garam tradisional.
“Mereka belajar, dapat ilmu, sekaligus dapat penghasilan,” katanya.
Wujudkan gagasan
Dadi mengaku ide pengembangan garam kristal itu muncul setelah mencoba mencari tahu potensi pengolahan air laut melalui internet.
Dari situ, ia mulai mempelajari sistem penyaringan air hingga akhirnya merakit mesin SWRO bersama mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra), dan beberapa teknisi.
Sebelum memulai produksi, ia sempat mengkaji kualitas air laut di beberapa titik pesisir Indramayu, seperti kawasan Tirtamaya.
Dari sejumlah lokasi itu, Juntinyuat dinilai paling memenuhi syarat karena tingkat kepekatan air laut atau Baume (BE) cukup bagus sebagai bahan baku garam kristal.
Koperasi tersebut kini telah memiliki tujuh anggota utama, termasuk Sujitno, yang masing-masing memiliki tunnel produksi sendiri.
Dadi mengatakan koperasi sengaja dibentuk dengan pola berbagi hasil agar anggotanya ikut memiliki usaha, bukan sekadar pekerja.
Dalam industri garam rakyat, kata dia, tidak ada istilah petani senior maupun junior karena yang menentukan hasil adalah teknik pengolahan.
Diakuinya pula pengembangan garam kristal itu berangkat dari kegelisahaan, melihat Indonesia masih melakukan impor garam.
Pasar garam kristal di Indramayu cukup besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa, kebutuhan garam rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar 10 ton per hari.
“Kenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya jelas. Sayang kalau potensi alam di Indramayu tidak dilirik. Kejar swasembada itu benar dan bisa terealisasi,” ujarnya.
Permintaan garam industri pun sangat menjanjikan. Ia mengaku pernah menerima permintaan hingga 200 ribu ton dari luar daerah.
Petani saat menunjukkan kristal garam hasil produksi memakai sistem tunnel dan mesin SWRO di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Saat ini, garam kristal yang diproduksi anggota koperasinya sudah diminati pembeli dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram. Namun, angka tersebut belum mencerminkan kualitas produk yang dihasilkan.
Oleh karenanya, koperasi mulai menyiapkan hilirisasi produk melalui pengemasan ukuran kecil agar nilai jual meningkat di pasar ritel.
Ia memperkirakan satu kemasan 250 gram dapat dijual sekitar Rp3.000, sehingga nilai satu kilogram garam bisa mencapai Rp12.000 di tingkat konsumen.
“Maka koperasi harus bertanggung jawab mengemas. Dari petani Rp3.000, koperasi olah lagi, distribusi lagi, itu masih untung,” katanya.
Selain garam konsumsi, koperasinya mulai mengembangkan garam spa setelah hasil laboratorium menunjukkan produknya memenuhi syarat untuk kebutuhan tersebut.
Harga garam spa dapat mencapai Rp60 ribu per kilogram. Bahkan di lokapasar, untuk kemasan 250 gram bisa dijual Rp30 ribu-Rp40 ribu.
Komoditas garam pun memiliki banyak turunan industri, mulai dari kebutuhan tekstil, minyak dan gas, hingga bahan baku cairan infus.
Ditegaskannya, seluruh proses itu harus berputar di lingkungan koperasi dan warga sekitar.
Istri para anggota koperasi dapat dilibatkan dalam proses pengemasan produk. Anak-anak muda desa pun diharapkan ikut masuk ke industri garam modern.
Dilanjutkan
Inovasi yang dikembangkan di Indramayu menghadirkan asa baru, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang menggantungkan hidup dari butiran garam.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, mengatakan inovasi tersebut menjadi terobosan penting, di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi garam nasional.
Menurutnya, selama ini produksi garam di Indonesia masih didominasi metode penguapan konvensional dengan produktivitas sekitar 70 ton per hektare per tahun.
Dalam 10 tahun terakhir, kata dia, pemerintah telah mencoba sejumlah teknologi lain seperti geomembran dan teknik ulir, yang mampu meningkatkan hasil hingga sekitar 120 ton per hektare per tahun.
Ia melihat banyak teknologi hanya ramai pada awal penerapan, lalu perlahan ditinggalkan karena tidak memiliki kesinambungan ekonomi. Maka inovasi yang dilakukan di Indramayu perlu dipertahankan.
Petani saat memanen garam hasil produksi memakai sistem tunnel dan mesin SWRO di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
“Mudah-mudahan inovasi yang sangat baik ini akan sustain, akan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan penerapan teknologi serupa di Indramayu masih terbatas dan belum masif. Oleh karena itu, inovasi garam yang berkembang di Juntinyuat tidak boleh berhenti pada tahap uji coba lapangan.
Dukungan pemerintah dan keterlibatan industri jadi faktor penting, agar teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas lagi.
Perhatian
Indramayu telah lama tersohor sebagai daerah penghasil garam rakyat di pesisir utara Jawa Barat. Bahkan, nama daerah ini, berkali-kali muncul dalam arsip surat kabar Hindia Belanda.
Selama masa penjajahan, komoditas garam di Indramayu menjadi sumber ekonomi penting, sampai peredarannya diawasi ketat oleh pihak kolonial.
Menilik peristiwa pada 1913, sebagaimana dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, pejabat gudang garam di Indramayu diadili karena menggelapkan dana hasil penjualan garam mencapai 1.400 gulden.
Upaya pengawasan tak berhenti di situ. Pihak kolonial membentuk satuan “polisi garam” untuk menekan maraknya aktivitas produksi garam ilegal. Warga di Indramayu berulang kali ditangkap akibat kebijakan tersebut.
Pada periode 1930-an, krisis ekonomi membuat warga memproduksi garam ilegal. Aktivitas ini berdampak pada pendapatan pihak kolonial yang kala itu menerapkan sistem monopoli pasar.
Laporan dari De Indische Courant, menunjukkan penurunan drastis dalam penjualan garam di Jawa Barat hingga 25 persen.
Di Indramayu, penjualan garam anjlok dari sekitar 13.000 kemasan pada 1932 menjadi hanya sekitar 4.000 kemasan di awal tahun 1933.
Berkat pengawasan ketat, kondisi penjualan komoditas ini kembali membaik. Menariknya, pihak kolonial mulai mengubah pendekatan dari represif menjadi lebih struktural melalui reorganisasi distribusi garam.
Catatan sejarah tersebut, menjadi penanda bahwa komoditas garam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir di Indramayu.
Tak mengherankan, kalau pemerintah menaruh perhatian besar terhadap sektor pergaraman di daerah tersebut.
Sujitno saat menunjukkan garam hasil produksi memakai sistem tunnel dan mesin SWRO di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Sebagai contoh, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menjalankan sejumlah program untuk memperkuat sektor garam rakyat, melalui intensifikasi dan penerapan teknologi modern di daerah sentra produksi, termasuk Indramayu.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung target swasembada garam nasional pada 2027, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.
Untuk di Indramayu, program intensifikasi mencakup revitalisasi tambak, perbaikan saluran air hingga penguatan sarana produksi garam rakyat.
KKP pun membangun gudang rakyat berkapasitas 100 ton serta gudang garam berkapasitas 2.000 hingga 7.000 ton di kawasan program intensifikasi.
Pengembangan sektor garam di Indramayu pun, dilakukan melalui penerapan berbagai inovasi teknologi seperti tunnel yang dipadukan dengan sistem SWRO.
Metode tersebut, seperti di Juntinyuat, membantu petani menjaga produksi tetap berjalan meski musim hujan berlangsung lebih panjang.
Upaya itu bisa membantu agar garam rakyat memenuhi standar industri nasional, yakni kualitas K1 dengan kandungan NaCl minimal 97 persen.
Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Indramayu Edi Umaedi mengatakan dukungan pemerintah pusat melalui program intensifikasi tambak telah membantu peningkatan kualitas garam di daerahnya.
Keberadaan fasilitas tersebut sangat penting untuk menjaga kualitas garam setelah panen, sekaligus memperlancar distribusi hasil produksi.
Penerapan teknologi tunnel-SWRO di tambak garam Indramayu, mulai menunjukkan hasil yang positif karena mempercepat peningkatan kadar garam dan menjaga mutu produksi.
Dengan dukungan teknologi serta pembangunan infrastruktur tersebut, Indramayu dapat menjadi salah satu motor penggerak dalam mewujudkan target swasembada garam nasional pada 2027.
Panen perdana garam di Juntinyuat pun, merupakan pintu masuk untuk merealisasikannya.
Perum Bulog akan mengadopsi teknologi hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan kualitas penyimpanan beras di gudang ... [320] url asal
Teknologi itu bisa mampu memelihara beras di gudang hampir sampai dua tahun tanpa harus adanya fumigasi dan lain sebagainya
Jakarta (ANTARA) - Perum Bulog akan mengadopsi teknologi hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan kualitas penyimpanan beras di gudang baru.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan teknologi tersebut memungkinkan beras disimpan hingga sekitar dua tahun tanpa menggunakan bahan kimia.
“Teknologi itu bisa mampu memelihara beras di gudang hampir sampai dua tahun tanpa harus adanya fumigasi dan lain sebagainya,” kata Ahmad usai rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan teknologi tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara Bulog dan BRIN yang telah dilakukan beberapa bulan terakhir.
Menurut dia, penggunaan teknologi tersebut akan membuat beras yang disimpan menjadi lebih sehat dan higienis.
“Sehingga beras itu akan semakin sehat, semakin higienis, dan lebih layak untuk dikonsumsi karena tidak menggunakan campuran kimia,” ujarnya.
Ahmad mengatakan teknologi tersebut akan diterapkan secara bertahap pada gudang-gudang baru yang sedang disiapkan pemerintah.
“Nanti kita bertahap, harapannya nanti bisa 100 (titik) semuanya,” ucapnya.
Selain pada gudang baru, Bulog juga berencana melakukan renovasi gudang lama dengan teknologi serupa guna meningkatkan kualitas penyimpanan beras nasional.
Ia menilai inovasi tersebut merupakan hasil karya anak bangsa yang perlu dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Potensi ini hasil kreasi anak bangsa Indonesia sendiri, ini harus kita wujudkan,” tutur Ahmad.
Sebelumnya, Perum Bulog menyatakan sebanyak 100 titik pembangunan infrastruktur pascapanen telah rampung ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka penguatan ketahanan pangan nasional.
Ia menyebut penetapan tersebut mencakup seluruh tahapan perencanaan, termasuk studi kelayakan dan pertimbangan teknis di masing-masing wilayah.
Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan pendekatan berbasis tipologi wilayah agar sesuai dengan potensi komoditas di daerah, termasuk penyediaan gudang di wilayah kepulauan serta fasilitas pengolahan di sentra produksi pangan.
Langkah penguatan infrastruktur pascapanen tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan efisiensi penanganan hasil pertanian sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menegaskan komitmen Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk mendukung pengembangan pertanian yang tetap ... [284] url asal
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menegaskan komitmen Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk mendukung pengembangan pertanian yang tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan perkembangan teknologi.
“Ke depan kami dari Kementerian Kehutanan siap untuk mendukung dan siap untuk berkolaborasi untuk kita pulihkan ekosistem tetapi juga kita bisa mewujudkan swasembada pangan,” kata Wamenhut Rohmat dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Sebagai langkah konkret, ia mengatakan optimalisasi pemanfaatan lahan juga menjadi perhatian, khususnya pada area yang tidak berhutan.
“Lahan yang masih terbuka, tidak berhutan itu kemudian bisa dioptimalkan sebagai sumber benih, hilirisasi pertanian, dan konsep agroforestri yang menjadi salah satu program prioritas kami di Kementerian Kehutanan,” ujar dia.
Hal itu untuk menindaklanjuti Rapat Pembahasan Pengembangan Pertanian Berbasis Artificial Intelligence (AI) di Kawasan Danau Toba yang diselenggarakan oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di kawasan Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2), Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, awal pekan ini.
Rapat yang dipimpin oleh Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menekankan pentingnya integrasi seluruh ekosistem, mulai dari lahan, teknologi, sumber daya manusia, hingga kemitraan global untuk mempercepat transformasi pertanian berbasis teknologi di kawasan strategis.
Pembahasan mencakup pengembangan komoditas strategis seperti bawang putih serta penguatan sistem pertanian berbasis data melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Pendekatan itu, lanjut Rohmat, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta mendukung stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan.
Selain itu, pemanfaatan AI juga didorong dalam sistem pengumpulan dan analisis data pertanian secara real-time guna mendukung pengambilan kebijakan yang lebih akurat dan responsif terhadap dinamika di lapangan.
“Melalui kolaborasi lintas kementerian/lembaga dan dukungan teknologi, pemerintah mendorong pengembangan Kawasan Danau Toba sebagai model pertanian modern yang terintegrasi, produktif, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Rohmat.
UGM bersama PT East West Seed Indonesia (Ewindo) mengembangkan Bank Sumber Daya Genetik Sayuran. Langkah tersebut untuk menjaga keberlanjutan sistem pangan. Universitas... | Halaman Lengkap [557] url asal
YOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama PT East West Seed Indonesia (Ewindo) mengembangkan Bank Sumber Daya Genetik Sayuran. Langkah tersebut untuk menjaga keberlanjutan sistem pangan.
Melalui kerja sama yang telah berlangsung sejak 2018 dan diperkuat kembali pada 1 April 2026, kedua institusi berkomitmen untuk mencegah erosi genetik, menjaga kekayaan genetik tanaman asli Indonesia (plasma nutfah), sekaligus mendorong hilirisasi guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Langkah ini menjadi semakin penting di tengah laju erosi genetik yang terjadi secara global akibat modernisasi pertanian dan hilangnya varietas lokal. Hingga saat ini, sebanyak lebih dari 2.000 aksesi kekayaan genetik tanaman lokal Indonesia berhasil dikoleksi, mencakup berbagai jenis sayuran seperti tomat, timun, wortel, pare, terong, seledri, paprika, labu, okra, dan cabai.
Koleksi ini menjadi representasi penting dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang perlu dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Setiap aksesi yang tersimpan merepresentasikan potensi solusi bagi tantangan pertanian—mulai dari ketahanan terhadap iklim ekstrem hingga peningkatan produktivitas pangan.
Bank Genetik Sayuran tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih, tetapi juga sebagai pusat konservasi aktif yang memastikan benih-benih lokal tetap lestari melalui proses perbanyakan dan evaluasi. Keberadaannya menjadi benteng penting dalam menghadapi ancaman erosi genetik yang dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional.
Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan penguatan sektor hulu melalui konservasi genetik merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Langkah ini menjadi penting di tengah modernisasi pertanian dan hilangnya tanaman varietas lokal.
“Dengan memahami rantai pasok dari sumber, kita akan bisa memastikan kualitas dan gizi komoditas. Sumber daya genetik tanaman perlu kita lestarikan bersama-sama,” katanya, Rabu (1/4/2026).
Ke depan, UGM dan Ewindo akan memperkuat dan memperluas program ini melalui kegiatan collecting di berbagai daerah di Indonesia dengan melibatkan mahasiswa dalam program kuliah kerja nyata (KKN). Mahasiswa akan dibekali pelatihan terkait teknik pengumpulan benih sesuai standar operasional prosedur, serta melakukan eksplorasi dan identifikasi kekayaan genetik tanaman lokal di wilayah penugasan.
Langkah ini tidak hanya memperkaya koleksi genetik nasional, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya konservasi sumber daya genetik. Keterlibatan generasi muda ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya pelestarian benih terus berlanjut di masa depan.
Presiden Direktur Ewindo Glenn Pardede menekankan bahwa investasi pada benih merupakan investasi jangka panjang bagi sistem pangan Indonesia. Sistem pangan nasional sangat bergantung pada kualitas benih yang dimiliki.
“Indonesia memiliki kekayaan genetik tanaman yang luar biasa, namun tanpa upaya konservasi yang sistematis, kekayaan ini bisa hilang. Melalui kolaborasi ini, kami berupaya memastikan bahwa sumber daya genetik tersebut tidak hanya terlindungi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan varietas unggul yang adaptif, produktif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Glenn menjelaskan pendekatan 3C (collect, conserve, convey ) menjadi dasar dalam pengelolaan Bank Genetik. Tahapan collect dilakukan melalui eksplorasi dan pengumpulan benih lokal dari berbagai daerah. Selanjutnya, conserve memastikan benih disimpan, diperbanyak, dan dievaluasi agar tetap hidup dan tidak punah. Sementara convey bertujuan memperluas pemanfaatan benih bagi riset, pemuliaan, hingga pengembangan produk pertanian.
“Dengan pendekatan ini, Bank Genetik tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga secara aktif menciptakan solusi untuk masa depan sistem pangan Indonesia,” ungkap Glenn.
Melalui sinergi antara dunia akademik dan industri, Bank Genetik Sayuran diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga keberagaman hayati Indonesia sekaligus memastikan ketersediaan benih unggul yang berkelanjutan.
Upaya ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing di masa depan, sekaligus wujud kontribusi lebih dari benih Ewindo untuk terus membersamai kehidupan.
Perkembangan teknologi digital kini menghadirkan solusi yang memungkinkan rumah tetap dapat dipantau dari mana saja di tengah aktivitas silaturahmi yang padat ketika... | Halaman Lengkap [319] url asal
JAKARTA - Perkembangan teknologi digital kini menghadirkan solusi yang memungkinkan rumah tetap dapat dipantau dari mana saja di tengah aktivitas silaturahmi yang padat ketika hari raya atau libur panjang. Menjawab kebutuhan ini, SmartHome Plus , hadirkan layanan berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemilik rumah mengontrol dan memantau berbagai perangkat rumah tangga secara terintegrasi melalui satu aplikasi.
"Dengan SmartHome Plus, berbagai perangkat seperti lampu pintar, CCTV, smart door lock, smart doorbell, hingga sensor keamanan dapat dikendalikan dengan lebih mudah dari smartphone," kata Direktur Utama PLN Icon Plus , Chipta Perdana dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Konsep smart home kini semakin populer di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan laporan Statista (2024), jumlah pengguna teknologi smart home di dunia diperkirakan mencapai lebih dari 785 juta rumah tangga pada tahun 2028, menunjukkan bahwa teknologi ini semakin menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Sementara itu, laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa penggunaan sistem otomasi rumah dapat membantu efisiensi konsumsi energi rumah tangga hingga 10-30% melalui pengaturan perangkat listrik yang lebih efisien.
Kini lewat SmartHome Plus denngan fitur pemantauan real-time memungkinkan pengguna tetap mengetahui kondisi rumah meskipun sedang berada di luar kota atau tengah bersilaturahmi bersama keluarga. Pengguna dapat melihat kondisi rumah melalui kamera, memastikan pintu dalam keadaan terkunci, hingga menyalakan atau mematikan perangkat listrik dari jarak jauh.
Selain meningkatkan keamanan, lanjut dia, teknologi smart home juga membantu pengelolaan energi yang lebih bijak. Melalui pengaturan otomatis dan kontrol jarak jauh, perangkat listrik yang tidak digunakan dapat dimatikan dengan mudah sehingga membantu menghindari pemborosan energi.
"Melalui SmartHome Plus, kami berupaya menghadirkan pengalaman rumah yang lebih aman, nyaman, dan terhubung secara digital. Layanan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi digital di sektor rumah tangga sekaligus menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini," ucapnya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan perangkat teknologi pengolahan sampah untuk kebutuhan daerah dapat masuk ke katalog elektronik ... [427] url asal
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan perangkat teknologi pengolahan sampah untuk kebutuhan daerah dapat masuk ke katalog elektronik (e-katalog) dalam waktu satu bulan ke depan guna mempercepat penanganan darurat sampah.
“Ini kita target (teknologi pengolahan sampah) satu bulan untuk bisa masuk e-katalog, sehingga masyarakat bisa membeli atau mempergunakan itu,” kata Zulkifli Hasan yang biasa disapa Zulhas usai rapat koordinasi terbatas lintas kementerian di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan rapat koordinasi yang dipimpinnya membahas dua agenda utama, salah satunya percepatan penerapan teknologi pengolahan sampah menyusul arahan Presiden Prabowo Subianto yang menilai persoalan sampah telah berada pada kondisi darurat.
Zulhas menyebut pemerintah tetap melanjutkan program pembangkit listrik tenaga sampah (waste to energy/WTE) melalui fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang kini ditetapkan di 33 kota, berkurang dari sebelumnya 34 kota.
“PSEL tetap, tadinya 34 sekarang ada di 33 kota,” ujar dia.
Untuk DKI Jakarta, ia mengatakan bahwa penerapan PSEL dirancang di tiga lokasi meski berada dalam satu wilayah administrasi, yakni dua fasilitas di kawasan Bantar Gebang di Kota Bekasi, Jakarta Barat dan satu fasilitas di Sunter, Jakarta Utara.
Namun, menurut Zulhas, penerapan WTE di 33 kota tersebut diproyeksikan baru dapat menyelesaikan sekitar 20 persen persoalan sampah nasional, sehingga pemerintah menyiapkan langkah lanjutan untuk menangani 80 persen sisanya.
“Kalau waste to energy itu jalan semua di 33 kota, baru 20 persen masalah sampah selesai. Masih ada 80 persen lagi yang belum kita selesaikan,” katanya.
Ia menyampaikan rapat memutuskan penanganan sisa 80 persen sampah dibagi ke dalam empat kategori teknologi, yakni tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) non-refuse derived fuel (non-RDF), TPST RDF, tempat pengolahan sampah reduce-reuse-recycle (TPS 3R), serta pengolahan sampah organik dari sumber atau masyarakat langsung.
Menurut Zulhas, pihaknya telah berkoordinasi dan meminta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Menteri Lingkungan Hidup untuk segera merumuskan jenis dan spesifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan.
Ia menambahkan pemerintah akan terus menegakkan larangan praktik pembuangan sampah terbuka (open dumping) secara konsisten, sehingga penertiban harus diikuti dengan penyediaan solusi teknologi yang dapat diakses pemerintah daerah.
“Open dumping tidak boleh lagi, tapi harus ada solusinya,” katanya menegaskan.
Pemerintah menargetkan dalam dua tahun ke depan mulai terlihat perubahan nyata dalam pengelolaan sampah nasional, termasuk penanganan lokasi-lokasi pembuangan terbuka berskala besar, dengan sasaran penyelesaian pada akhir 2027 atau awal 2028.
“Dua tahun lagi kita akan melihat hasil nyata perubahan besar. Akhir 2027 atau awal 2028 ini bisa kita selesaikan,” kata Zulhas.
Peran teknologi pengenalan wajah, liveness detection, dan deteksi deepfake dalam membangun kepercayaan nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis perbankan... | Halaman Lengkap [357] url asal
JAKARTA - VisionLabs, salah satu perusahaan teknologi terkemuka di dunia, menegaskan eksistensinya dalam ekosistem transformasi perbankan digital global melalui partisipasinya dalam 10DX Summit Indonesia 2026 yang diselenggarakan di Pullman Jakarta Thamrin CBD pada Selasa (10/2). Kehadiran VisionLabs sejalan dengan rencana perusahaan untuk memperluas jangkauannya di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dalam waktu dekat.
Forum strategis bertema “The Architecture of Advantage: Building the Next Decade of Indonesian Banking” ini diselenggarakan oleh 10DX dan mempertemukan para pemimpin industri perbankan, inovator fintech, regulator, serta pemimpin teknologi untuk merancang arah masa depan perbankan digital di Indonesia dan dunia.
Viola Meiryan, Indonesia Country Director VisionLabs, membawakan topik “From Trust to Growth: How DeepFake Recognition Levels Up Your Experience on Liveness Detection.” Dalam sesinya, Viola menjelaskan peran teknologi pengenalan wajah, liveness detection, dan deteksi deepfake dalam membangun kepercayaan nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis perbankan digital.
“Transformasi perbankan digital bukan hanya soal kecepatan dan kemudahan, tetapi juga tentang kepercayaan. Kami memahami bahwa kebutuhan penggunaan produk biometric bukan hanya cukup Face Recognition dan Liveness detection saja, tetapi juga harus di tambahkan Deepfake detection agar mencegah adanya penyalahgunaan data pribadi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung,” ujar Viola.
VisionLabs dikenal sebagai perusahaan internasional dengan lebih dari 14 tahun pengalaman dalam mengembangkan teknologi pengenalan wajah, tubuh, gestur, dan biometrik. Solusi VisionLabs telah digunakan di berbagai sektor, termasuk perbankan, pemerintahan, transportasi, ritel, dan telekomunikasi, dengan implementasi di berbagai negara seperti Rusia, Uni Emirat Arab, Eropa, Amerika, dan Asia.
Secara global, algoritma VisionLabs telah meraih pengakuan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, VisionLabs menempati peringkat pertama dalam pengujian NIST (National Institute of Standards and Technology) pada berbagai kategori perbandingan biometrik 1:1 dan 1:N.
Selain itu teknologi presentation attack detection milik VisionLabs juga telah memenuhi standar ISO/IEC 30107-3, yang merupakan tolak ukur global dalam pencegahan penipuan biometrik, serta mampu mengidentifikasi serangan liveness maupun deepfake secara efektif.
Melalui partisipasi aktif dalam forum ini, VisionLabs menegaskan posisinya sebagai mitra teknologi strategis bagi industri perbankan dan keuangan dalam membangun sistem digital yang aman, tepercaya, dan berkelanjutan untuk dekade mendatang.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto untuk mempercepat pemanfaatan teknologi pengolahan ... [388] url asal
Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto untuk mempercepat pemanfaatan teknologi pengolahan sampah skala mikro yang saat ini telah dikembangkan oleh beberapa kampus di Indonesia.
Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu, Brian memaparkan sejumlah teknologi pengolahan skala mikro itu kepada Presiden, mengingat program pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) merupakan salah satu isu yang dibahas saat rapat.
"Bapak Presiden memberikan arahan, selain tentu waste-to-energy yang tetap terus berjalan, beberapa teknologi pengolahan sampah skala mikro yang memang sudah dikembangkan di beberapa kampus, tadi diminta oleh Bapak Presiden untuk dilakukan percepatan," kata Brian Yuliarto menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana, Jakarta, selepas rapat.
Oleh karena itu, Brian menjelaskan kementerian akan mempercepat tahapan pengembangannya, termasuk uji coba teknologi buatan beberapa kampus itu sehingga pengolahan sampah skala mikro dapat segera dilakukan.
Brian menargetkan uji coba itu dapat dilakukan di beberapa kelurahan dan desa pada tahun ini.
"Ada beberapa teknologi tadi dibicarakan. Kita akan segera pilih. Ada juga (yang) akan berjalan bersama Danantara sehingga nantinya penanganan sampah juga akan berjalan di level-level mikro, di tingkat kelurahan, lebih efektif," ujar Brian.
Beberapa teknologi pengolahan sampah yang dibahas itu di antaranya menggunakan metode gasifikasi, kemudian plasma-assistend, dan reaktor plasma dingin.
"Kami akan kaji lagi mana yang paling baik," tambahnya.
Teknologi tersebut, Brian melanjutkan akan dirancang untuk mengolah sampah hingga 10 ton, mengingat rata-rata sampah yang dihasilkan di tingkat kelurahan mencapai 10 ton per hari.
Jika nantinya teknologi skala mikro itu dapat dimanfaatkan, Brian berharap ke depan mobilisasi sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) pun berkurang, karena sampah rumah tangga telah habis diolah di tingkat desa/kelurahan.
"Jadi, sampah tidak perlu dibuang jauh-jauh ya. Jadi, semuanya bisa ditangani di tingkat kelurahan," katanya.
Brian kemudian menambahkan kementeriannya juga akan bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memastikan teknologi yang digunakan itu nantinya tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.
"Kami akan segera melakukan rapat dengan (Kementerian) Lingkungan Hidup, dengan Danantara untuk pengembangan teknologinya lebih massal ya sehingga standarnya juga lebih baik, dan juga tadi dengan pemerintah daerah kami akan segera uji coba di beberapa kota. Harapannya juga bisa mempercepat penanganan sampah sambil menunggu (proyek) waste-to-energy yang sedang dijalankan Danantara (juga) berjalan," katanya.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56