#30 tag 24jam
Turis Malaysia Boikot RM Pagi Sore Usai Dituduh Tak Bayar Rp900 Ribu
Rombongan turis asal Malaysia mengaku dituduh makan tanpa membayar tagihan senilai Rp907.500. [394] url asal
#turis-malaysia #rm-pagi-sore #malaysia #turis #restoran-padang #boikot-restoran #wisata-kuliner #rumah-makan-padang-pagi-sore-cabang-pantai-indah-kapuk #jakarta-utara #tripadikberadik #detikfood
(CNN Indonesia - Ekonomi) 18/05/26 15:46
v/223841/
Rumah makan Padang Pagi Sore cabang Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, menjadi sorotan setelah rombongan turis asal Malaysia mengaku dituduh makan tanpa membayar tagihan senilai Rp907.500.
Insiden itu memicu seruan boikot terhadap RM Pagi Sore di media sosial sebelum pihak restoran akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada wisatawan tersebut.
Peristiwa itu pertama kali diungkap oleh akun Threads milik turis Malaysia bernama Norain Yunus. Ia menceritakan dirinya bersama lima orang rombongan singgah ke RM Pagi Sore cabang PIK pada Rabu (13/5) usai tiba di Bandara Soekarno-Hatta sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung.
"Ceritanya sebelum ke Bandung, kita memutuskan untuk makan di Pagi Sore semenjak ini menjadi restoran tempat orang Malaysia makan kalau ke Jakarta," tulis Norain dalam unggahannya, melansir Detikfood.
Menurut pengakuannya, rombongan memesan sembilan lauk makanan dan membayar total tagihan sebesar Rp907.500 menggunakan kartu pembayaran pada hari yang sama.
Namun beberapa hari kemudian, tepatnya Sabtu (16/5), sopir dari agen perjalanan yang membawa rombongan itu menghubunginya dan meminta bukti pembayaran restoran.
[Gambas:Youtube]
Norain mengaku terkejut setelah mengetahui rombongannya disebut viral karena dituduh meninggalkan restoran tanpa melunasi pembayaran.
Ia kemudian memeriksa mutasi pembayaran dan mencari struk transaksi yang masih tersimpan di dalam tasnya. Bukti pembayaran tersebut lalu dikirimkan kepada pihak agen perjalanan untuk diteruskan ke restoran.
"Setelah kami mencari di dalam tas, ketemu bukti pembayarannya. Bayangkan kalau kami membayar secara tunai dan bukti pembayarannya tidak ditemukan," tulisnya lagi.
Setelah bukti transaksi diperlihatkan, pihak RM Pagi Sore cabang PIK akhirnya menyampaikan klarifikasi. Dalam video permintaan maaf yang dikirimkan kepada agen perjalanan, pihak restoran menyebut insiden tersebut terjadi karena miskomunikasi.
"Kejadian ini murni karena miskomunikasi dan bukan unsur kesengajaan dari pihak manapun. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanannya yang telah terjadi dan berharap hubungan baik tetap terjaga dengan baik ke depannya," ujar perwakilan RM Pagi Sore cabang PIK.
Meski sudah ada klarifikasi, insiden tersebut tetap memicu reaksi di media sosial Malaysia. Salah satu akun agen perjalanan bernama @tripadukberadik bahkan menyerukan boikot terhadap RM Pagi Sore.
"Demi marwah Malaysia, kami dari Tripadikberadik akan boikot restoran Pagi Sore. Kami akan mendukung tempat makan lain yang lebih enak di Indonesia," tulis akun tersebut.
Sejumlah warganet juga mempertanyakan sistem pembayaran restoran yang dinilai seharusnya bisa langsung memverifikasi transaksi pelanggan sebelum tuduhan disebarkan.
RM Pagi Sore sendiri dikenal sebagai salah satu rumah makan Padang yang cukup populer di kalangan wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Jakarta maupun Bandung.
Industri Pangan Nasional Didorong Perluas Akses Pasar Global
Bisnis pangan Indonesia bisa moncer di kancah global [370] url asal
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri makanan dan minuman nasional terus didorong memperluas akses pasar internasional di tengah persaingan global yang kian ketat. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan pameran bisnis pangan internasional SIAL Interfood 2026 yang akan digelar pada 4-6 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Pameran business-to-business (B2B) itu diharapkan menjadi ruang penguatan jejaring perdagangan pangan internasional sekaligus mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman dengan pembeli potensial dari berbagai negara. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian dan diselenggarakan Seven Event bersama Comexposium.
SIAL Interfood merupakan bagian dari jaringan global SIAL Network yang dikenal sebagai salah satu barometer inovasi pangan dunia sejak 1964. Secara global, jaringan tersebut mencatatkan partisipasi sekitar 17 ribu peserta pameran dan lebih dari 700 ribu pengunjung profesional dari 205 negara melalui berbagai ajang di sejumlah kawasan dunia.
Indonesia mulai menjadi bagian dari jaringan SIAL sejak 2015 dengan menyasar potensi pasar Asia Tenggara. Pada penyelenggaraan perdananya, SIAL Interfood diikuti lebih dari 800 perusahaan dari 22 negara. Tahun ini, pameran kembali digelar di area hall B dan C JIExpo Kemayoran.
CEO Food and Beverage Division of Comexposium, Rodolphe Lameyse, mengatakan penguatan kualitas pertemuan bisnis menjadi fokus utama penyelenggaraan tahun ini. Menurut dia, SIAL terus mempertegas perannya sebagai platform perdagangan nyata bagi industri makanan dunia dengan menghadirkan pengunjung yang lebih profesional dan memperkuat posisi acara di pasar global.
"Peserta SIAL Interfood 2026 disebut berasal dari lebih dari 25 negara, mencakup kawasan Asia-Pasifik, Eropa, Timur Tengah, hingga Tiongkok. Berbagai sektor yang akan ditampilkan meliputi makanan beku, industri kopi dan teh, hingga teknologi pengolahan pangan," ujar Rodolphe.
Selain pameran produk dan teknologi, ajang tersebut juga menghadirkan sejumlah program seperti SIAL Innovation, International Cooking Competition, Barista Championship, seminar industri, hingga business matching. Program-program itu diarahkan untuk memperkuat inovasi sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis secara lebih efektif.
Presiden Direktur Seven Event, Andy Wismarsyah, mengatakan efektivitas pertemuan bisnis menjadi inti dari penyelenggaraan SIAL Interfood di Indonesia. Menurut dia, penyediaan fasilitas dan area pameran yang komprehensif diharapkan mampu menciptakan kolaborasi nyata bagi pengembangan industri makanan dan minuman nasional.
"Melalui penyelenggaraan ini, industri pangan nasional diharapkan semakin kompetitif di pasar global, sekaligus membuka ruang pertukaran teknologi dan pengetahuan antar pelaku industri dari berbagai negara," ujar Andy
Mudik Ceria Saloka Kombinasikan Wisata Kuliner dan Tematik
Saloka Theme Park gelar "Mudik Ceria Saloka" 18-19 Maret 2026, tawarkan hiburan tematik dan kuliner. Tiket Rp150.000, buka 09.00-19.00 WIB. [361] url asal
#mudik-ceria #saloka-theme-park #wisata-kuliner #wisata-tematik #lebaran-2026 #puncak-arus-mudik #baru-klinthing #pertunjukan-teatrikal #legenda-lokal #teknologi-panggung #sanggar-saloka #harga-tiket-s
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/03/26 18:49
v/172672/
Bisnis.com, SEMARANG - Saloka Theme Park meluncurkan program bertajuk "Mudik Ceria Saloka" guna menangkap potensi lonjakan kunjungan wisatawan pada periode libur Lebaran 2026. Manajemen menargetkan peningkatan volume pengunjung dengan menawarkan paket wisata terintegrasi yang mencakup hiburan tematik dan wisata kuliner.
Event "Mudik Ceria Saloka" berlangsung pada 18-19 Maret 2026, bertepatan dengan puncak arus mudik dan liburan keluarga nasional. Dalam periode ini, pihak pengelola menerapkan kebijakan perluasan jam operasional, di mana taman rekreasi akan mulai melayani publik pada pukul 09.00 hingga 19.00 WIB. Perpanjangan durasi ini bertujuan untuk mendistribusikan kepadatan pengunjung sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang tiket harian selama masa puncak kunjungan.
Operational General Manager Saloka Theme Park, Agustinus Haryanto, menyatakan bahwa inovasi konten menjadi pilar utama dalam menarik minat pasar tahun ini. Salah satu daya tarik yang diunggulkan adalah pementasan "Baru Klinthing Special Edition", sebuah pertunjukan teatrikal yang dikembangkan secara lebih atraktif dan spektakuler dibandingkan versi reguler. Pertunjukan ini dirancang untuk memadukan unsur legenda lokal dengan teknologi panggung modern guna menarik minat lintas generasi.
“Pertunjukan ini menjadi highlight yang mengangkat cerita legenda dengan sentuhan hiburan modern yang cocok dinikmati oleh seluruh pengunjung,” ujar Agustinus, dikutip Rabu (25/3/2026).
Selain pementasan utama, manajemen juga melibatkan talenta lokal melalui Sanggar Saloka (SAKA) untuk memberikan performa interaktif yang memperkuat aspek budaya dan keterlibatan komunitas dalam ekosistem bisnis Saloka selama musim liburan kali ini.
Dari sisi kebijakan harga, Saloka menerapkan strategi "all-in" sebesar Rp150.000 per orang, yang memungkinkan akses penuh ke seluruh wahana tanpa biaya tambahan. Skema harga ini dinilai kompetitif untuk kategori taman rekreasi tematik berskala besar selama musim puncak liburan (peak season). Strategi penetapan harga yang transparan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Saloka sebagai destinasi utama bagi segmen keluarga yang ingin berhemat di tengah tren kenaikan harga jasa transportasi dan akomodasi.
Selain pendapatan dari tiket masuk, Saloka juga mengoptimalkan pendapatan nontiket melalui sektor kuliner tradisional. Pihak pengelola menghadirkan kurasi kuliner legendaris dan jajanan khas dengan harga mulai dari Rp15.000.
“Melalui Mudik Ceria Saloka, Saloka Theme Park berharap dapat menjadi destinasi pilihan utama bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga di momen Lebaran, dengan perpaduan hiburan, budaya, dan kuliner dalam satu tempat,” pungkas Agustinus.
JELAJAH LEBARAN 2026: Kisah Mereka yang Setia Mudik di Jalur Pantura...
Meski Tol Trans-Jawa mendominasi, banyak pemudik tetap setia mudik lewat jalur Pantura untuk menikmati perjalanan dan mendukung ekonomi lokal. [993] url asal
#jalur-pantura #mudik-lebaran #tol-trans-jawa #perjalanan-mudik #suasana-kota #wisata-kuliner #kendaraan-roda-dua #arus-mudik #ekonomi-lokal #empal-gentong #perputaran-uang #transportasi-lebaran #jalur
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/03/26 00:09
v/169992/
Bisnis.com, JAWA BARAT – Di tengah dominasi Tol Trans-Jawa yang memangkas jarak Banten–Banyuwangi pada momentum mudik Lebaran 2026, masih ada denyut jalur legendaris Pantura yang belum sepenuhnya ditinggalkan pemudik.
Sebagian pemudik masih memilih setia pada rute lama untuk menolak tunduk pada efisiensi jalan bebas hambatan. Alasannya beragam, mulai dari kebiasaan hingga keinginan mencoba hal baru.
Nanang (46) menjadi salah satu pemudik yang masih setia dengan jalur Pantura. Bepergian bersama tiga orang anak dan seorang istri, Nanang memilih menggunakan mobil di luar jalur tol menuju Nganjuk, Jawa Timur.
Kebiasaan pulang kampung menggunakan jalur arteri telah biasa dilakukan Nanang dan keluarga saban tahun. Bukan lantaran biaya tol mahal, melainkan demi mengedukasi anak-anaknya.

Nanang (46) saat ditemui di posko mudik Dishub Kota Cirebon, Jumat (20/3/2026) / JIBI - Rama Paramahamsa
"Ingin menikmati suasana saja, suasana tiap kota. Itu kan berbeda-beda. Nah, setiap kota kadang-kadang keliling. Ngenalin ke anak-anak saja, ‘oh ini kota ini nih’," katanya kepada Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Selain itu, menggunakan mobil di jalur arteri, Nanang mengaku dapat menikmati waktu lebih lama bersama istri dan anak-anaknya yang masih belia. Dia juga kerap melakukan wisata kuliner di daerah tertentu saat melintas.
Ihwal biaya, Nanang tidak ambil pusing. Hanya untuk membeli BBM, Nanang membutuhkan Rp700.000 dan masih tersisa setelah pulang-pergi. Memori bersama keluarga adalah hal yang sangat ia pentingkan.
"Justru momen menikmati perjalanan itu yang susah didapat. Coba misalkan langsung sampai tujuan, perjalanannya itu tidak ada nikmatnya," katanya.
Hal serupa dilakukan oleh Tri Joko Susilo (45). Pemudik dengan tujuan akhir Klaten, Jawa Tengah, ini memilih menggunakan sepeda motor untuk pulang ke kampung halaman.
Jarak yang biasanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama tujuh jam perjalanan kini membengkak menjadi sekitar 16 jam lantaran tidak menggunakan jalan bebas hambatan. Alasannya sederhana: mudik dengan sepeda motor telah menjadi kebiasaannya.
"Kalau saya lebih suka menikmati perjalanan saja. Jadi menikmati apa yang dilihat di kanan-kiri. Jadi kadang kita tahu dengan melihat sendiri," katanya saat ditemui Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Joko berangkat seorang diri menggunakan Honda Beat. Ia membiarkan anak dan istrinya mudik terlebih dahulu menggunakan transportasi umum. Meskipun begitu, perjalanan sepanjang 545 kilometer tetap ia nikmati.
Alasan lainnya, Joko menikmati perjalanan karena adanya kesempatan untuk mengunjungi kawan lama di sepanjang perjalanan mudik.
Belum lagi, dia mengaku banyak mendapatkan pelajaran baru sepanjang perjalanan, seperti gestur tubuh pengendara untuk memberi tahu pengendara lain mengenai kondisi jalan.
"Dibandingkan capek, ya tidak apa-apa, demi mendapat pengalaman baru. Kalau capek, semua juga capek. Naik mobil juga capek," katanya.
Mudik kali ini menandai 20 tahun Joko pulang ke Klaten menggunakan sepeda motor. Ia mengaku masih berencana melakukan hal serupa di kemudian hari, selama kondisi fisiknya masih memungkinkan.
Namun, Joko tidak sendirian. Dinas Perhubungan Kota Cirebon mencatat terdapat 142.370 unit kendaraan yang melintas pada Kamis (19/3/2026).
Dirinci, sekitar 130.000 unit merupakan kendaraan roda dua, 9.335 unit kendaraan roda empat, 647 angkutan umum, dan sisanya angkutan barang. Indra menegaskan bahwa torehan tersebut merupakan puncak arus mudik di Kota Cirebon.
"Nah itu jumlahnya kalau dibandingkan dengan 2025 ada sedikit penurunan. Namun dibandingkan dengan hari sebelumnya, di H-3, terjadi peningkatan sekitar 12%," kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Indra Setiaman, saat ditemui Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Indra menjelaskan bahwa meski secara tahunan (year-on-year/YoY) terdapat koreksi, intensitas kendaraan yang melintasi jalur arteri Cirebon tetap menunjukkan kepadatan yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Kenaikan 12% dari hari sebelumnya menandakan pergerakan pemudik, khususnya pengguna sepeda motor, masih mendominasi arus lalu lintas menuju arah timur Jawa.
Menjaga Denyut Ekonomi
Aksi ratusan ribu masyarakat yang tetap setia pada jalur Pantura turut memberikan kontribusi terhadap denyut ekonomi masyarakat di daerah sekitar. Kehadiran lebih dari seratus ribu orang dalam satu momen berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan di kawasan tujuan pemudik.
Empal Gentong Mang Darma di Cirebon menjadi salah satu UMKM yang meraup berkah dari periode mudik Lebaran 2026. Berada di dekat jalur arteri Cirebon, rumah makan ini diperkirakan mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada periode mudik.
Adis, pengelola kedai Empal Gentong Mang Darma, mengaku jumlah pengunjung meningkat hingga 70% pada periode mudik tahun ini. Selama sepekan terakhir, pengunjung dari luar kota telah berdatangan.
Namun, lonjakan ini disebut belum sebesar biasanya. Berbagai spekulasi muncul, salah satunya kebijakan one way yang diterapkan di Tol Trans-Jawa.
"Baru 70% [pertumbuhan pengunjung]. Biasanya lebih ramai, cuma mungkin tahun ini belum terlalu ada lonjakan karena di tol-nya one way. Agak berkurang dibandingkan tahun lalu," katanya.
Namun, ia berharap arus balik dapat mendorong pertumbuhan jumlah pengunjung lebih tinggi.
"Kemungkinan di arus balik, karena jalur ini juga bisa jadi jalur alternatif. Kalau di tol one way, biasanya pemudik akan mengikuti jalur ini untuk ke Indramayu dari arah Jakarta," katanya.
Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri Indonesia memperkirakan potensi perputaran uang mencapai Rp148,39 triliun selama periode Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026, di tengah jumlah pemudik yang mengalami penurunan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menilai penurunan jumlah pemudik tidak serta-merta menekan perputaran uang.
Dengan asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga mencapai Rp4,125 juta atau naik 10% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp3,75 juta, total perputaran uang selama periode Lebaran diperkirakan mencapai Rp148,39 triliun atau meningkat sekitar 8% dibandingkan tahun lalu.
Perputaran uang tersebut bahkan berpotensi menembus Rp161,88 triliun jika rata-rata pengeluaran per keluarga mencapai Rp4,5 juta.
“Angka perputaran uang ini berpotensi naik. Hitungan ini di angka yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp161,88 triliun dengan asumsi rata-rata per keluarga membawa uang sebesar Rp4.500.000,” kata Sarman dalam keterangan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Adapun, perputaran uang tersebut diperkirakan tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta sebagian ke wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali.
Menurut dia, belanja masyarakat selama Lebaran mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari transportasi, bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga konsumsi rumah tangga seperti makanan, pakaian, dan oleh-oleh.
Ekonomi Kreatif Semarang Tetap Tumbuh di Tengah Penurunan Daya Beli Masyarakat
Ekonomi kreatif Semarang tumbuh di 2025 meski daya beli turun, didukung sektor kuliner dan konten digital. AI diprediksi jadi subsektor baru yang mendorong kreativitas. [563] url asal
#ekonomi-kreatif #ekonomi-kreatif-semarang #daya-beli-masyarakat #subsektor-kuliner #konten-digital #pariwisata-semarang #umkm-semarang #produk-tersier #wisata-kuliner #konten-promosi-kreatif #subsekto
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/01/26 12:12
v/90510/
Bisnis.com, SEMARANG — Tahun 2025 menjadi tahun yang cukup berat untuk sektor perekonomian Indonesia. Meski turut merasakan dampak dari penurunan daya beli masyarakat, kinerja sektor ekonomi kreatif di Kota Semarang tidak sepenuhnya terdampak justru tetap tumbuh yang ditopang oleh sejumlah sektor. Sektor ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata dan konten digital mampu menunjukkan ketahanan hingga pertumbuhan.
Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Semarang Fandhi Nugroho Lufti mengatakan bahwa penurunan daya beli masyarakat pada tahun 2025 ini cukup berdampak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Semarang. Meski demikian, Fandhi menyebut bahwa dampak signifikan hanya dirasakan oleh sejumlah segmen tertentu, khususnya produk tersier.
“Kalau yang kami lihat itu tidak terlalu berdampak signifikan, hanya beberapa segmen-segmen UMKM tertentu yang memang sangat-sangat signifikan. Untuk subsektor yang terdampak itu lebih berkaitan dengan produk-produk tersier, seperti contohnya mungkin teman-teman UMKM Sentra Logam, itu mungkin tidak terlalu dibutuhkan,” jelas Fandhi, dikutip Rabu (31/12/2025).
Di sisi lain, Fandhi menyebut bahwa subsektor kuliner kini menjadi salah satu sektor yang sedang mengalami kebangkitan sekaligus pertumbuhan seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di Kota Semarang menjelang periode liburan akhir tahun. Menurutnya, saat ini wisatawan lebih mencari pengalaman dalam menikmati destinasi wisata dan kuliner dibandingkan berbelanja produk lain. “Karena mereka ingin menikmati wisatanya, jadi kuliner-kuliner di Kota Semarang malah justru tumbuh,” tambah Fandhi.
Tidak hanya di subsektor kuliner, Fandhi mengungkap bahwa kebutuhan terhadap konten digital juga mengalami peningkatan selama periode liburan. Permintaan terhadap konten digital ini disebut datang dari berbagai pihak yang membutuhkan materi promosi kreatif. “Sektor konten digital itu juga ada demand yang cukup tinggi karena di momentum liburan seperti ini, ternyata konten-konten digital juga cukup dibutuhkan bagi beberapa agensi dan partner untuk mempromosikan hal-hal kreatif yang mereka punya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fandhi melihat bahwa selama satu tahun ini ekosistem ekonomi kreatif di Kota Semarang menunjukkan perkembangan yang positif. Sepanjang tahun 2025, kinerja ekonomi kreatif tidak lepas dari program Pemerintah Kota Semarang, salah satunya adalah program prioritas untuk meningkatkan daya saing lokal, sehingga ekonomi kreatif di Kota Semarang semakin berkembang dan variatif.
Tunjukkan perkembangan yang positif, beberapa subsektor ekonomi kreatif seperti animasi, game, dan ilustrasi kini makin terlihat menonjol, di mana sebelumnya subsektor tersebut tidak terlalu terlihat. Selain subsektor yang sudah ada, Fandhi menyebut bahwa Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan menjadi subsektor tambahan seiring dengan perkembangan teknologi saat ini. Kehadiran AI pada perkembangan teknologi, dinilai Fandhi bisa menjadi sebuah pendorong kreativitas dan produktivitas, bukan sebagai ancaman yang perlu dihentikan.
“Saya rasa AI itu mendominasi sekarang hampir di semua subsektor, mulai dari film, konten-konten digital, ilustrasi, animasi, hingga musik. Kemarin kami sudah berbicara dengan teman-teman komunitas musik pun mereka tidak terlalu terganggu dengan AI. justru kami sepakat bahwa tren AI ini harus menjadi support, harus menjadi pendorong kreativitas, bukan malah yang kita lihat ini sebagai ancaman yang harus kita cut, kita tidak seperti itu,” jelasnya.
Menutup tahun 2025, Fandhi menyebut bahwa KEK Kota Semarang telah melakukan evaluasi internal seiring dengan arahan sinkronisasi kebijakan dari pemerintah pusat. Fandhi juga menegaskan bahwa KEK akan memperkuat peran mereka sebagai orkestrator dengan mendorong komunitas ekonomi kreatif agar dapat kembali aktif berkolaborasi, sementara aspek teknis dijalankan langsung oleh pelaku komunitas di tingkat grassroots. Terkait perencanaan ekonomi kreatif, penyusunan program prioritas akan diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang agar pengembangan ekonomi kreatif pada tahun 2026 dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.(Fadya Jasmin Malihah)
Dari Dapur Pelantar Belakangpadang, Cerita Keripik Rustini Menyebrang ke Lidah Negeri Jiran
Rustini, seorang ibu rumah tangga di Belakangpadang, sukses mengembangkan usaha keripik singkong "Camilan Kak Ros" yang kini diminati wisatawan Singapura. [2,800] url asal
#umkm-batam #bank-indonesia-batam #kepri #berita-batam #keripik-singkong #camilan-kak-ros #wisata-belakangpadang #umkm-batam #wisata-singapura #keripik-rustini #bisnis-keripik #wisata-kuliner #umkm-kep
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/11/25 20:12
v/48644/
Bisnis.com, BATAM - Air laut sore itu tampak tenang, seolah ikut mengantar sang mentari kembali ke peraduannya.
Angin senja berhembus semilir, membawa gemerisik suara pompong yang hilir mudik memecah lautan lepas di sekitar Pulau Belakangpadang.
Gelombang buyar oleh hantaman lambung perahu yang mengangkut warga pulau, mereka yang setiap hari menyeberang bekerja ke Batam, lalu kembali saat langit mulai meremang.
Dari kejauhan, dermaga Pelabuhan Kuning berdiri gagah, menyambut kedatangan pompong terakhir bak penjaga setia pulau yang dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu itu.
Saat mentari turun perlahan, cahaya dari penjuru pulau mulai menyala satu per satu, berpadu dengan kilau lampu Singapura yang tampak jelas dari kejauhan. Sebuah pemandangan yang hanya dimiliki tempat yang berada di garis depan, di batas negeri.
Di satu sudut pulau seberang Batam itu, dari dapur sederhana di sebuah rumah pelantar di pinggir laut, aroma keripik singkong yang tengah digoreng menjadi saksi perjalanan panjang Rustini. Perempuan berusia 39 tahun asal Bondowoso, Jawa Timur, yang kini berhasil membawa usaha rumahan miliknya dikenal wisatawan mancanegara.
Brand "Camilan Kak Ros", yang lahir dari tangan dinginnya sejak awal pandemi Covid-19, kini menjadi salah satu buah tangan favorit turis Singapura ketika berwisata ke Pulau Belakangpadang.
"Orang Singapura suka keripik singkong original. Sekali datang kesini, mereka bisa beli sampai 5 kg, terkadang ada juga yang pesannya dari reseller," kata ibu dari dua orang anak ini saat ditemui di rumahnya, Sabtu (22/11/2025).
Dari logat Melayu yang khas, wanita asli Jawa Timur ini tampak sudah menyatu dengan budaya dan kearifan lokal di Pulau Penawar Rindu.
Perjalanan Rustini tidak dimulai dari ambisi prestisius. Ia datang membawa asa besar ketika pergi merantau mengikuti kakaknya ke Batam sekitar 20 tahun silam.
Saat itu, ia mengingat pengalaman pertamanya adalah bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan industri yang ada di Batam
Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama, karena takdir membawanya ke jalan yang berbeda.
Ia kemudian bertemu tambatan hatinya, Edi yang merupakan orang asli Belakangpadang dan tak lama setelah itu mereka menikah. Rustini pun berhenti bekerja demi mengurusi keluarga kecilnya.
Lantaran merasa bosan dan tidak ingin menganggur, Rustini mencoba berkreasi seadanya, lahirlah keripik keluarga bermerk "Mak Iyah" pada tahun 2007.
"Saya mulai tertarik berwirausaha karena dulu mertua jualan keripik," katanya lagi.
Namun, hasratnya untuk mulai berwirausaha harus dipendam dulu karena kehamilan anak pertama. Ia baru kembali aktif sekitar 2011–2012.
"Saat itu, saya hanya buat keripik singkong kecil-kecilan di rumah yang dulu berlokasi di Puskopkar Batuaji. Saat itu niatnya bantu ekonomi keluarga, tapi malah keterusan," ungkap wanita berhijab ini.
Lantaran kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Rustini harus membagi waktu antara usaha keripiknya dan keluarganya. Alhasil, Keripik Mak Iyah pun hanya jalan di tempat.
Semuanya berubah tatkala suaminya, yang seorang pegawai kantor pos dipindahkan ke Pulau Belakangpadang pada tahun 2020 tepat sebelum pandemi Covid-19.
Saat itu, anaknya sudah mulai besar, sehingga ia memutuskan untuk memulai lembaran baru dalam berwirausaha.
Di pulau yang berlokasi tak jauh dari Singapura itu, Rustini sering dipanggil dengan nama Ros. Karena sudah melekat dengan kesehariannya, ia memutuskan rebranding merk keripiknya dengan nama baru yakni "Cemilan Kak Ros".
Namun, pandemi Covid-19 yang menyisakan banyak cerita kelam beberapa tahun lalu bukanlah sebuah lagu pengantar yang indah bagi sebuah awal yang baru.
Cemilan 'Kak Ros' pun ikut merasakannya, rasa yang sama yang juga dirasakan oleh banyak pelaku industri rumahan di Batam.
"Saat aktivitas ekonomi melambat dan wisatawan sepi pas Covid-19, saya justru memutuskan membangun brand baru bernama Camilan Kak Ros yang terinspirasi dari panggilannya sendiri. Di situlah tantangannya," tuturnya saat mengingat masa-masa sulit tersebut.
Di masa sulit itu, ia masih mengolah singkong jadi keripik. Namun melihat perkembangan yang ada, ia melihat harus ada sedikit sentuhan perubahan, terutama untuk variasi rasa.
"Di Belakangpadang, saya buat variasi yang baru, tambah keripik ubi jalar, pisang dan sukun karena takut orang bosan, dan juga biar ada pilihan," ungkapnya.
Meski sempat terpukul karena pembeli hampir tidak ada saat pandemi, Rustini tetap bertahan. Tak ada kata menyerah dalam kamusnya.
Satu disiplin yang tetap ia jaga hingga saat ini, yakni tidak pernah menggunakan penyedap rasa. Orisinalitas dari sisi rasa itu menurutnya penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
"Orang Singapura itu suka rasa yang orisinal tanpa bumbu-bumbu tambahan. Orang-orang vegetarian juga suka. Inilah yang jadi keyakinan saya untuk tetap menjaga kualitas rasa, tanpa perlu penyedap rasa," tuturnya.
Ketika pembatasan pandemi mulai longgar pada 2021, penjualan langsung melonjak.
Produksi yang dulu hanya menghabiskan 50 kilogram singkong seminggu, kini meningkat drastis menjadi 50 kilogram per hari, bergiliran dengan jenis keripik lain.
Melihat produksi harian yang semakin meningkat, bahkan suami Rustini pun memutuskan pensiun dini demi membantu istrinya.
Jadilah pasangan suami istri ini bersama dua orang anaknya yang mulai beranjak dewasa menjadi kuartet lengkap dari tim produksi Camilan 'Kak Ros'.
Rustini dan keluarganya sekarang mampu memproduksi 300 bungkus camilan setiap hari, dan hingga 600–700 bungkus untuk pesanan besar.
Satu bungkus berisi 1 ons, sementara pesanan kiloan, terutama singkong original bisa mencapai harga 70 ribu rupiah per kilogram.
Pembelinya pun semakin beragam, mulai dari warga Batam, penjual yang menitipkan dagangan, reseller, hingga pelanggan Singapura yang membeli langsung dalam jumlah besar.
Beberapa pelanggan dari Batam bahkan rela menanggung biaya kapal speedboat jika pesanan yang diminta cukup besar, termasuk pelanggan tetap dari komunitas Tionghoa.
"Dari hotel di Batam juga ada pelanggan saya, Hotel Pacific itu, sudah cocok di rasa dan harga," katanya sumringah.
Setiap hari setelah Subuh, Rustini memulai rutinitas produksi, mulai dari mengupas, memarut secara manual, mencuci, menyaring, hingga menggoreng tanpa bahan pengawet.
Proses produksi hingga pengemasan ini bisa berlangsung sepanjang hari. Meski begitu, proses manual masih menjadi tantangan, terutama karena Rustini belum menemukan mesin parut yang sesuai kebutuhan produksi.
"Proses yang paling lama itu mengupas. Saya pernah makai mesin parut listrik, tapi tak bertahan lama. Makanya sekarang masih manual, dan itu yang buat lama," paparnya.
Suplai bahan baku adalah kendala lain, terutama keladi dan ubi jalar. Hampir semua bahan didatangkan dari Batam, kecuali pisang yang berasal dari kebun-kebun di Belakangpadang.
Rustini menyebut biasanya ia memesan dari orang-orang di pasar untuk mengambilkan bahan baku dari Batam, yang kemudian langsung diantarkan ke rumahnya dalam jumlah yang cukup besar.
"Keladi dan ubi jalar paling langka, sementara singkong harus dipesan harian karena tidak bisa disimpan terlalu lama. Dalam sehari, mungkin saya membutuhkan lebih dari 100 kilogram bahan baku agar bisa produksi," katanya sambil menghitung-hitung estimasi produksi.
Pelatihan Bank Indonesia
Meski kerja kerasnya dilakukan dari dapur sederhana, nama Camilan 'Kak Ros' mulai mencuat setelah ikut dalam kegiatan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau (Kepri) Berlayar di Alun-Alun Belakangpadang, 16 November 2025 kemarin.
Berlayar merupakan event yang mempertemukan UMKM dengan pasar yang lebih luas. Pengunjungnya sangat banyak berasal dari Batam, pulau-pulau sekitar dan negeri jiran.
Event yang menghadirkan artis Iyeth Bustami ini membuat dagangan Rustini laku keras.
"Biasa sehari itu, produk saya itu laku 200-300 bungkus. Tapi saat Berlayar kemarin, laku 700 bungkus. Saya sampai harus bolak-balik dari rumah ke alun-alun untuk isi stok kembali," ungkapnya.
Di balik usahanya yang terus berkembang pesat, ada sedikit kecemburuan. Selama ini, usaha yang ia geluti belum mendapatkan sentuhan pembinaan dari stakeholder terkait, seperti dari pemerintah daerah.
Rustini sering mendengar pelaku UMKM seperti dirinya di Batam banyak mendapat pembinaan dan bantuan modal untuk mengembangkan usaha.
Namun, ia belum sempat berpikiran ke arah sana, karena kegiatan produksi hariannya sudah cukup menyita waktu.
Hatinya mulai tergugah saat mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) secara mandiri ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam.
Saat bertandang ke rumahnya, petugas Dinkes cukup kaget karena dengan produksi harian mencapai 50 kg per hari, tidak banyak orang pemerintahan yang tahu tentang eksistensi Cemilan Kak Ros.
Dari titik tersebut, ia bertekad untuk semakin mempromosikan produknya agar lebih banyak dikenal orang.
Langkah nyata dimulai dari BI Berlayar, dan berikutnya nanti saat event rutin tahunan di Belakangpadang, yakni Sea Eagle Bot Race (28-30 November 2025) akan menjadi ajang Rustini untuk kembali unjuk gigi.
Selain berinovasi dalam menambah varian rasa, Rustini juga sudah mulai menggunakan digitalisasi dalam transaksi.
"Saya sudah pakai QRIS sejak enam bulan terakhir. Banyak orang belanja kesini selalu menanyakan 'ibu ada QRIS' ketika mau membayar. Jadi segera saya buat, dan ternyata sangat membantu saya dalam mengembangkan usaha karena proses transaksi lebih cepat dan mudah," katanya mantap.
Apalagi sekarang Belakangpadang terus berbenah untuk menarik kunjungan wisatawan lebih banyak lagi, baik lokal maupun mancanegara. Rustini optimistis bahwa Cemilan Kak Ros akan terus tumbuh dan berkembang.
Dari usaha yang awalnya lahir karena Rustini ingin membantu ekonomi keluarga, kini Camilan Kak Ros tumbuh menjadi kebanggaan kecil Belakangpadang dan dikenal pelancong dari negeri jiran.
"Alhamdulillah, dari yang dulu cuma coba-coba, sekarang makin banyak yang kenal. Saya ingin terus jaga kualitas, biar keripik Belakang Padang makin dikenal luas," pungkasnya.
Belakang Padang: UMKM Jadi Denyut Nadi Baru Ekonomi Pesisir
Saat malam tiba dan lampu-lampu kecil kembali memantulkan sinarnya ke permukaan laut, Belakangpadang tampak seperti pulau kecil yang sederhana namun penuh daya hidup.
Ia bukan sekadar kawasan penyeberangan menuju Batam atau Singapura. Ia adalah nadi ekonomi bagi ratusan pulau kecil lainnya, tempat tradisi dan modernitas saling menyesuaikan diri.
Dari geliat pasar, dari nelayan yang berangkat sebelum fajar, dari tekong yang setia mengantar warga melintasi selat, hingga peluang besar pariwisata maritim yang sedang tumbuh, Belakangpadang perlahan menegaskan posisinya sebagai sebuah etalase batas negeri yang kaya cerita, berpotensi besar, dan terus bertumbuh bersama warganya.
Belakangpadang bukan hanya satu pulau, tapi merupakan salah satu kecamatan di Batam yang menaungi 166 pulau kecil, tiga di antaranya Pulau Nipa, Pelampong, dan Batu Berenti yang merupakan pulau terluar Indonesia. Dari sisi historis, Pulau Penawar Rindu merupakan pusat pemerintahan awal Kota Batam sekitar tahun 1960-an.
Total luas wilayahnya mencapai 581,55 kilometer, dihuni lebih dari 20 ribu jiwa dengan keberagaman suku seperti Jawa, Melayu, Padang, Tionghoa, dan pendatang lainnya yang sejak lama menjadikan pulau ini rumah.
Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan pembudidaya hasil laut. Sementara banyak anak muda menjadi pekerja di Batam, pagi menyeberang dengan perahu pancung, sore kembali ke pangkuan keluarga.
Di daratan, becak menjadi kendaraan khas yang setia membawa warga dari dermaga ke rumah atau pasar.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi. Warga dari pulau-pulau sekitar seperti Kasu dan Terung rutin menyeberang untuk berbelanja kebutuhan pokok, membayar listrik, hingga mengurus asuransi.
Kini, Belakangpadang tidak hanya dikenal sebagai daerah nelayan dan penyeberangan. Ia mulai menjadi etalase pariwisata maritim.
Kehadiran resort di Pulau Nirup, sekitar lima kilometer dari Belakangpadang menjadi pemantik geliat wisatawi mancanegara, khususnya dari Singapura yang berlayar dengan kapal ferry.
"Tidak mungkin wisatawan hanya diam di satu pulau. Di sini ada tiga jenis wisata, kuliner, budaya, dan sejarah. Semuanya alami, otentik, dan hidup dari keseharian masyarakat," kata Camat Belakangpadang, Hanafi.
Kemenarikannya memang tidak dibuat-buat. Wisatawan dapat mencicipi laksa khas, menyaksikan kehidupan nelayan, berkeliling kampung tua, hingga merasakan keseruan naik becak menyusuri jalanan kecil pulau.
Dalam satu dasawarsa terakhir, Belakangpadang memang terus menunjukkan diri sebagai daerah sadar wisata. Pembenahan demi pembehanan terus dilakukan, mulai dari infrastruktur hingga destinasi wisata.
Warga setempat sadar dengan semakin cepatnya perubahan zaman, mereka tidak hanya bisa mengandalkan laut untuk menopang hidup.
Kolaborasi UMKM dan pariwisata dianggap menjadi senjata ampuh yang tengah didorong untuk membawa Pulau Penawar Rindu memiliki daya tawar yang tinggi di mata wisatawan.
Tidak heran, beragam UMKM terus tumbuh menjadi denyut ekonomi baru yang menopang pulau yang berjarak hanya 15 menit dengan speedboat dari Pulau Batam ini.
Hanafi mengungkapkan bahwa kawasan ini kini berada pada fase percepatan pengembangan ekonomi berbasis pariwisata dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Di Batam termasuk juga Kecamatan Belakangpadang, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kota Batam mencatat ada sebanyak 1.748 pelaku UMKM berada di bawah binaan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, dan lebih dari 75% merupakan UMKM di sektor kuliner.
Secara keseluruhan, UMKM di Batam terdiri dari 1.376 pelaku usaha kuliner, 199 pelaku industri kreatif, 88 pelaku usaha jasa, 46 pelaku usaha obat tradisional, 11 pelaku usaha pertanian dan peternakan dan satu pelaku usaha perikanan.
Menurut Hanafi, setiap kali ada gelaran acara atau akhir pekan panjang, kawasan pusat jualan warga selalu dipadati pedagang.
"Yang daftar jualan bisa sampai 40 UMKM, sebagian memakai tenda. Banyak toko ikut buka, suasananya ramai sekali," ujarnya.
UMKM kuliner Melayu, keripik, dan berbagai makanan khas semakin diminati, termasuk oleh pengunjung dari Singapura yang datang secara individu maupun rombongan kecil.
Tak hanya kuliner, jasa transportasi lokal juga ketiban rezeki.
"Becak dan ojek sering habis disewa ketika kunjungan meningkat," kata Hanafi.
Bahkan penyewaan perahu pancing dan layanan wisata singkat keliling pulau juga ikut tumbuh.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa wisata Belakangpadang mulai menjadi alternatif destinasi tanpa perlu perjalanan jauh.
"Wisatawan sekarang cari tempat yang tak suntuk, dekat, tapi punya suasana lain. Belakangpadang bisa menawarkan itu," tambahnya.
Pihak kecamatan juga mendorong tumbuhnya usaha penginapan, dari homestay hingga wisma sederhana. Beberapa di antaranya diminati untuk longstay, terutama oleh warga dari luar negeri yang tertarik merasakan suasana kampung tepi laut yang tenang.
Hanafi menyebut ada potensi besar jika penginapan dan spot foto dapat dikembangkan lebih rapi dan terintegrasi dengan jalur wisata.
Pembenahan destinasi wisata juga terus dilakukan sebagai bagian dari perluasan kawasan wisata. "Kita sedang titik-titik wisata lainnya agar lebih tertata. UMKM juga harus ikut bergeliat, karena mereka tulang punggung ekonomi Belakangpadang," katanya.
Meski demikian, Hanafi mengakui pelaku UMKM masih menghadapi kendala, terutama saat lonjakan wisatawan terjadi mendadak. Namun dengan dukungan pemerintah, ia optimistis ekonomi lokal dapat terus tumbuh.
"Kita ingin Belakangpadang bukan hanya ramai saat Imlek atau momen tertentu. Tapi menjadi destinasi harian yang hidup, didukung UMKM kuat, wisata bahari yang tertata, dan layanan yang siap menyambut wisatawan siapa saja—termasuk dari luar negeri," tegas Hanafi.
Dengan dinamika yang terus meningkat—mulai dari kuliner, perikanan, rekreasi, transportasi lokal, hingga wisata laut, Belakangpadang bergerak menuju wajah baru sebagai kawasan pesisir yang maju, mandiri, dan semakin diperhitungkan dalam peta pariwisata Batam.
QRIS di Belakangpadang, Langkah Baru Dongkrak UMKM dan Wisata
BI Perwakilan Kepri mendorong percepatan digitalisasi transaksi di wilayah hinterland Batam melalui gelaran "Berlayar di Pulau Belakangpadang", yang merupakan sebuah agenda edukasi dan sosialisasi penggunaan QRIS serta layanan pojok digital bagi pelaku usaha dan masyarakat setempat, 16 November 2025.
Pulau Belakangpadang yang berlokasi di sebelah utara Pulau Batam dipilih sebagai lokasi perdana kegiatan ini karena memiliki nilai historis sebagai salah satu kawasan awal pengembangan Kota Batam, sekaligus berada di posisi strategis yang berhadapan langsung dengan Singapura.
BI melihat potensi besar ekonomi kawasan tersebut, terutama dari arus wisatawan asing dan domestik yang rutin berkunjung.
"Kami ingin mengenalkan kembali bahwa Belakangpadang punya sejarah penting dan potensi ekonomi yang besar. Kedekatan dengan Singapura menjadi peluang untuk memperkuat pemanfaatan cross-border QRIS bagi wisatawan mancanegara," kata Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus.
Melalui program berlayar, BI memperkenalkan lebih luas penggunaan QRIS di berbagai sektor ekonomi lokal—mulai dari pedagang pasar, rumah makan, hingga transportasi tradisional seperti pom-pom dan becak motor.
Sejauh ini, BI belum mengompilasi data lengkap jumlah transaksi digital di Belakangpadang, namun menilai potensinya sangat besar.
"Kita tidak mewajibkan, tetapi menganjurkan agar semakin banyak pelaku usaha menggunakan QRIS. Ini langkah awal untuk meningkatkan literasi dan inklusi digital," jelasnya.
BI menegaskan bahwa sebelum dapat menggunakan QRIS, pelaku usaha tetap harus membuka rekening terlebih dahulu untuk diterbitkan kode QR resmi.
Dari kegiatan berlayar ini, fokus utama BI Kepri adalah edukasi, peningkatan literasi, dan pembukaan akses bagi masyarakat agar semakin familier dengan ekosistem pembayaran digital.
"Ini merupakan langkah awal. Ke depan, kami akan mengidentifikasi sekitar 28 pulau lain di wilayah hinterland Batam yang berpotensi dikembangkan melalui program serupa," ujarnya.
Melalui penguatan digitalisasi, BI berharap aktivitas ekonomi Belakangpadang semakin bergairah dan mampu menarik manfaat lebih besar dari pergerakan wisatawan maupun aktivitas perdagangan lintas batas.
UMKM Kepri Kian Digital Berkat QRIS
Sejak diluncurkan Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2019, hingga saat ini QRIS telah menjadi pilihan utama dari retail besar, pelaku UMKM hingga para pedagang kaki lima di Provinsi Kepri.
Berdasarkan data terakhir dari BI Perwakilan Kepri, jumlah pengguna baru QRIS hingga September 2025 sudah mencapai 539.337 pengguna.
Sedangkan jumlah merchant pengguna QRIS pada periode yang sama sudah mencapai 653.192, dimana sekitar 80% berada di Batam.
Sementara itu, volume dan nominal transaksi QRIS hingga September 2025 telah mencapai 64,94 juta transaksi dengan nilai nominal Rp 7,71 triliun.
Kepala BI Kepri Rony Widijarto mengatakan nilai tersebut meningkat pesat dari transaksi QRIS tahun 2024 sebesar 33,94 juta transaksi.
"Secara keseluruhan peningkatannya mencapai 181,93% (yoy) dari tahun 2024," katanya di Batam.
Secara nominal transaksi, totalnya telah mencapai Rp 7,71 triliun atau mengalami peningkatan 140,62% dari tahun 2024 yang mencapai Rp 5,03 triliun.
"Peningkatan akseptasi QRIS di Kepri menjadi indikasi kuat bahwa masyarakat dan pelaku usaha semakin nyaman bertransaksi secara digital. Ekosistem QRIS terus berkembang, terutama di sektor perdagangan dan jasa," katanya lagi.
Pertumbuhan jumlah merchant di Kepri sebagian besar berasal dari sektor UMKM, ritel, dan usaha kuliner yang kini mulai mengandalkan transaksi nontunai sebagai metode pembayaran utama.
BI mencatat sejumlah faktor pendorong utama pertumbuhan ini, di antaranya kemudahan proses registrasi merchant, edukasi publik mengenai transaksi digital, serta kehadiran fitur QRIS Tuntas, yang memungkinkan transaksi secara cepat dan efisien antarbank dan antar wilayah.
Joglosemarkerto Jadi Kereta dengan Penumpang Terbanyak Sepanjang 2025
KAI sebut kenaikan 7 persen penumpang jadi bukti kepercayaan publik terhadap layanan. [345] url asal
#kereta-api-indonesia #pelanggan-kereta-api #transportasi-publik #peningkatan-layanan-kereta #rute-kereta-api #pariwisata-jawa-tengah #konektivitas-antarkota #wisata-kuliner #ekonomi-lokal #inovasi-kai
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 total 45.814.270 pelanggan telah menggunakan layanan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal. Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, mengatakan angka ini meningkat 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebanyak 42.767.667 pelanggan.
“Peningkatan tersebut menjadi indikator kuat kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api yang kian nyaman, aman, dan terjangkau,” ujar Anne dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Anne menjelaskan, pertumbuhan jumlah pelanggan didorong peningkatan minat perjalanan lintas kota dengan rute populer di Pulau Jawa. Ia membeberkan, sepuluh layanan kereta api komersial tercatat memiliki volume pelanggan tertinggi sepanjang periode Januari–Oktober 2025.
Urutan pertama ditempati KA 187 Joglosemarkerto relasi Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan–Semarang Tawang dengan 409.725 pelanggan. Selanjutnya KA 193 Joglosemarkerto relasi Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan dengan 397.893 pelanggan. Di peringkat ketiga terdapat KA 269 Matarmaja relasi Malang–Pasarsenen dengan 296.601 pelanggan.
Anne menjelaskan, dominasi KA Joglosemarkerto pada dua posisi teratas menunjukkan potensi besar jalur lingkar Jawa Tengah dan DIY dalam menopang konektivitas antarkota. Menurutnya, rute Joglosemarkerto menghadirkan pengalaman perjalanan yang menarik dengan menghubungkan kota-kota wisata seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Purwokerto.
“Banyak pelanggan memanfaatkan layanan ini untuk menikmati wisata kuliner, heritage, dan alam,” ujar Anne.
Ia menambahkan, keberadaan jalur tersebut turut memperkuat pergerakan ekonomi dan pariwisata regional. Jalur Joglosemarkerto dikenal sebagai rute dengan panorama sawah, gunung, dan pesisir yang indah, menjadikannya favorit bagi wisatawan domestik.
“Kota-kota seperti Purwokerto dengan wisata Baturaden, Semarang dengan Lawang Sewu, serta Yogyakarta dengan Malioboro menjadi destinasi unggulan yang ramai dikunjungi,” lanjut Anne.
Anne menilai, pertumbuhan pelanggan ini menjadi dorongan bagi KAI untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kenyamanan dan ketepatan waktu. KAI, sambung Anne, juga terus memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku wisata agar kereta api semakin berperan dalam menggerakkan ekonomi lokal.
“Peningkatan jumlah pelanggan di 2025 menunjukkan kepercayaan publik yang terus tumbuh terhadap KAI sebagai penyedia transportasi publik yang andal dan berorientasi pada pengalaman pelanggan,” kata Anne.
Daikoku Suteki International Kerja Sama Strategis dengan Plaza Convill Apple 3
PT Daikoku Suteki International, perusahaan yang bergerak di industri kuliner, resmi menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan Plaza Convill Apple 3.... | Halaman Lengkap [439] url asal
#industri-kuliner #gaya-hidup #wisata-kuliner #industri-hiburan #kerja-sama-bisnis
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/10/25 19:05
v/14948/
JAKARTA - PT Daikoku Suteki International, perusahaan yang bergerak di industri kuliner , resmi menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan Plaza Convill Apple 3. Salah satu proyek komersial dan hunian unggulan milik PT Diamond Citra Propertindo Tbk. Penandatanganan kerja sama dihadiri oleh Bongso Suharmin, Direktur PT Daikoku Suteki International, dan Bayu Setiawan, Direktur PT Diamond Citra Propertindo Tbk, di Jakarta, Jumat (24/10/2025).Kolaborasi ini menjadi tonggak penting sebagai langkah ekspansi kedua belah pihak. Melalui dua brand kuliner ternama di bawah naungan PT Daikoku Suteki International yakni Daikoku dan Pappajack akan menjadi mitra kuliner utama yang hadir di kawasan Plaza Convill Apple 3. Kehadiran keduanya diharapkan mampu menghadirkan pengalaman gastronomi berkualitas bagi para penghuni dan pengunjung kawasan. Dongkrak Ekspor Kuliner, Indonesia Harus Terapkan Gastrodiplomacy
Plaza Convill Apple 3 dikembangkan sebagai kawasan destinasi gaya hidup modern yang memadukan hunian, bisnis, dan hiburan dalam satu kawasan terpadu. Kehadiran brand kuliner populer seperti Daikoku dan Pappajack diyakini akan memberikan nilai tambah signifikan, baik bagi tenant, investor, maupun masyarakat sekitar.
Direktur PT Diamond Citra Propertindo Tbk Bayu Setiawan melihat potensi besar dalam sinergi antara Daikoku, Pappajack, dan Plaza Convill Apple 3. Kedua brand ini memiliki reputasi kuat dalam menghadirkan konsep kuliner premium dengan harga terjangkau dan sangat digemari masyarakat urban.
“Kolaborasi ini tentunya akan memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus memperkuat posisi Apple 3 sebagai pusat gaya hidup baru di kawasan Jakarta dan sekitarnya,” kata Bayu melalui keterangan persnya.
Sebagai proyek unggulan PT Diamond Citra Propertindo Tbk, Plaza Convill Apple 3 mengusung konsep modern lifestyle mixed-use development yang menggabungkan pusat bisnis, hunian, dan hiburan dalam satu lingkungan yang dinamis dan nyaman.
“Dengan keberadaan Daikoku, Pappajack, di Plaza Convill Apple 3, kami berharap dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan properti di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi keduanya sebagai pelaku industri yang inovatif, adaptif, dan visioner,” tuturnya.
Sementara itu, bagi PT Daikoku Suteki International, kemitraan ini merupakan bagian dari strategi ekspansi nasional yang berfokus pada penetrasi di kawasan properti strategis dan destinasi gaya hidup modern. Mereka menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah penting dalam memperluas jangkauan Daikoku dan Pappajack. Diplomasi Kuliner Warnai Pertemuan Bilateral Prabowo dengan Presiden Afsel di Istana
”Kami percaya kolaborasi ini akan membawa sinergi positif, baik bagi pertumbuhan brand kami maupun bagi Plaza Convill Apple 3 sebagai proyek properti yang dinamis dan berorientasi pada pengalaman pelanggan,” ungkap Bongso Suharmin, Direktur PT Daikoku Suteki International.
Penandatanganan perjanjian ini menandai komitmen jangka panjang kedua perusahaan untuk menciptakan nilai bersama. Selain menghadirkan pengalaman kuliner berkelas, kerja sama ini juga membuka peluang untuk kolaborasi lanjutan, seperti kegiatan promosi bersama, event tematik, serta pengembangan konsep lifestyle dan entertainment yang inovatif di kawasan Plaza Convill Apple 3.
Wisatawan hingga Travel Agent Kini Lebih Mudah Rancang Wisata Kuliner di Jawa Barat
Buku pola perjalanan gastronomi 'Wisata Rasa di Bumi Pasundan'.mempermudah pelaku wisata hingga travel agent dalam merancang wisata kuliner di Jawa Barat. [317] url asal
(WE Finance - Ekbis) 20/10/25 16:20
v/9992/
Warta Ekonomi, Jakarta -Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meluncurkan buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan" yang mempermudah pelaku wisata hingga travel agent dalam merancang wisata kuliner di Jawa Barat.
Buku tersebut merupakan upaya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam memperkuat pengembangan produk wisata tematik berbasis kekayaan kuliner nusantara khususnya di Jawa Barat.
Ini disampaikan Menpar saat meluncurkan buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan" di Bandung, Minggu (19/10/2025).
"Buku ini dapat menjadi panduan praktis bagi para pelaku wisata, tour operator, travel agent, serta masyarakat dalam merancang pola perjalanan wisata rasa yang autentik, berkarakter lokal dan berdaya saing global. Dari gurihnya nasi tutug oncom, segarnya karedok, manisnya burayot, setiap hidangan menghadirkan narasi tunggal yang kaya dan bermakna," ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenpar, Senin (20/10).
"Wisata Rasa di Bumi Pasundan" menyajikan kumpulan data atau lokasi yang telah dikurasi dari sisi pengalaman berwisata gastronomi. Buku ini menyajikan panduan yang memungkinkan wisatawan menikmati wisata rasa otentik sekaligus berkelanjutan Jawa Barat.
Penyusunan buku ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas gastronomi, akademisi dan konsultan kreatif. Peluncuran buku ini sejalan dengan program quality tourism atau pariwisata naik kelas yang menjadi fokus Kementerian Pariwisata melalui pengembangan gastronomi dan juga wellness serta wisata bahari.
Gastronomi bagi Indonesia bukan sekadar kuliner tapi sebuah ekosistem yang melibatkan pihak-pihak. Mulai dari petani, peternak, nelayan, pengrajin, chef hingga masyarakat.
Dari ladang hingga meja makan (from farm to table), gastronomi berperan penting dalam menggerakkan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan memperkuat pariwisata berbasis komunitas. Pendekatan ini memperkuat rantai nilai pariwisata untuk menarik lebih besar banyak wisatawan berkualitas yang memberikan dampak ekonomi.
Menteri Pariwisata mengatakan, kuliner Indonesia dalam beberapa waktu terakhir juga semakin dikenal dan dikagumi masyarakat internasional. TasteAtlas dalam publikasinya menempatkan kuliner Indonesia di peringkat ke-7 dunia dan pertama di Asia Tenggara. Enam kota di Indonesia termasuk Bandung, bahkan tercatat masuk dalam daftar 100 Best Food Cities.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56