Bisnis.com, JAKARTA — Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara sejak akhir bulan lalu telah menewaskan lebih dari 1.300 orang serta memicu kerugian ekonomi sedikitnya US$20 miliar.
Melansir Bloomberg pada Kamis (4/12/2025), rangkaian tiga topan siklon tropis yang terjadi bertepatan dengan musim angin timur laut memicu curah hujan tertinggi dalam beberapa dekade terakhir di sejumlah lokasi.
Hal tersebut memicu gelombang kehancuran dari Sri Lanka hingga Indonesia, merusak rumah, jalan, serta jalur rel kereta api, menghancurkan hasil panen, memperlambat produksi pabrik, hingga menenggelamkan kawasan wisata.
Di Sri Lanka, Topan Ditwah yang menewaskan sedikitnya 465 orang diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 500 miliar rupee Sri Lanka atau sekitar US$1,6 miliar.
Kepala Strategi CAL Group, Udeeshan Jonas, menyebut kerugian itu mencakup potensi penyusutan output ekonomi sebesar 1% terhadap produk domestik bruto (PDB) serta kerusakan fisik infrastruktur.
Sementara itu, di Thailand selatan, Topan Senyar memicu salah satu banjir terburuk dalam sejarah negara tersebut. Bencana itu melumpuhkan pusat teknologi dan pariwisata utama, dengan perkiraan kerugian sementara melampaui US$15 miliar.
Kementerian Perdagangan Thailand menyatakan arus ekspor bernilai tinggi, termasuk komponen elektronik dan suku cadang otomotif, praktis terhenti. Jika kondisi berlanjut, potensi tambahan kerugian dapat mencapai US$400 juta per bulan. Kunjungan wisatawan diperkirakan juga anjlok total dalam waktu dekat, menurut Universitas Kamar Dagang Thailand.
Di Indonesia, badai dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 700 orang serta memicu banjir dan tanah longsor di Sumatra, wilayah utama penghasil batu bara, kopi, dan minyak sawit.
Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan total kerugian ekonomi Indonesia menembus US$4 miliar atau sekitar 0,29% dari PDB, seiring dengan kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan, hilangnya pendapatan rumah tangga, serta turunnya produksi pertanian.
Padahal, sebelum badai November melanda, Thailand dan Indonesia sudah lebih dulu menyiapkan paket stimulus senilai miliaran dolar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, yang meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal negara. Kedua negara juga tengah menghadapi pelemahan konsumsi domestik serta lingkungan ekspor yang lebih berat akibat tarif Amerika Serikat.
Tekanan serupa turut dirasakan Vietnam, yang selama ini relatif lebih tangguh menghadapi dampak perang dagang dan menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.
Badai hebat bulan lalu memperlambat kinerja sektor manufaktur akibat keterlambatan pengiriman serta meningkatnya inflasi, yang mendorong perusahaan menaikkan harga jual.
Kerusakan akibat badai diperkirakan telah menggerus perekonomian Vietnam sekitar US$3,2 miliar sepanjang tahun ini, mendekati rekor US$3,5 miliar pada 2024 saat negara tersebut diterjang Topan Yagi.
Total kerugian US$20 miliar selama bulan lalu dihimpun dari estimasi pemerintah dan analis, yang masih mungkin direvisi seiring berjalannya proses penilaian kerusakan. Sebagai perbandingan, banjir musiman sepanjang 2024 menimbulkan kerugian sekitar US$25 miliar di kawasan Asia-Pasifik, menurut kajian pialang asuransi Aon Plc.
Dampak Perubahan Iklim
Para ilmuwan menyoroti peran perubahan iklim sebagai faktor utama yang memperparah banjir, diperburuk oleh deforestasi, kegagalan sistem pertahanan banjir, serta minimnya pendanaan untuk peningkatan ketangguhan bencana.
“Perubahan iklim tanpa diragukan telah memicu banjir yang semakin parah di Asia Tenggara,” ujar Direktur Riset Fisika Iklim di French National Center for Scientific Research, Davide Faranda, yang memimpin penelitian terkait banjir Vietnam pada November lalu.
Lembaga riset BMI, unit usaha Fitch Solutions, menyebut kawasan Asia Tenggara berisiko lebih sering mengalami bencana majemuk, yaitu rentetan peristiwa cuaca ekstrem dalam waktu berdekatan yang menghasilkan dampak kerusakan lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
BMI juga mencatat proporsi penduduk yang tinggal di wilayah rawan banjir tergolong tinggi, antara lain 21% di Malaysia, sekitar 20% di Indonesia, serta sekitar 15% di Singapura, Vietnam, Filipina, dan Sri Lanka.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertengahan hingga akhir 2010-an dan diproyeksikan terus naik seiring percepatan pemanasan global serta pertumbuhan populasi di area rentan.
Menurut Germanwatch, organisasi pemantau hak asasi manusia independen, sejumlah negara Asia Tenggara secara konsisten masuk dalam daftar wilayah paling terdampak perubahan iklim, dengan Filipina, Myanmar, dan Vietnam termasuk 10 negara teratas yang paling terdampak pada tahun lalu.
Profesor teknik lingkungan Universitas Illinois Urbana-Champaign, Helen Nguyen mengatakan, upaya membangun ketangguhan iklim di sejumlah negara dinilai tertinggal dibanding kawasan lain. Hal tersebut sebagian karena prioritas pemerintah yang lebih menekankan pertumbuhan ekonomi ketimbang perencanaan dan adaptasi lingkungan.
“Pembangunan berlangsung terlalu cepat, dan itu mengorbankan lingkungan,” ujarnya.
Situasi paling kompleks terlihat di Filipina, di mana kemarahan publik meningkat menyusul skandal korupsi bernilai miliaran dolar terkait dana proyek mitigasi banjir pemerintah.
Skandal tersebut memicu penundaan proyek infrastruktur, merusak kepercayaan investor, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Filipina ke level terendah dalam empat tahun terakhir.
Dampak Terhadap Industri
Meski sejauh ini dampak badai terhadap produksi industri relatif terbatas, total kerusakan secara keseluruhan masih belum sepenuhnya terukur.
Analis Capital Economics mencatat pusat-pusat komersial dan industri utama kawasan relatif tidak terdampak signifikan, berbeda dengan banjir Thailand pada 2011 yang menghantam kawasan industri Bangkok dan menyebabkan kontraksi PDB dua digit.
Gangguan terhadap rantai pasok dan manufaktur diperkirakan hanya bersifat kecil dan sementara, meskipun tetap ada risiko kenaikan harga pangan akibat kerugian hasil panen.
Di Vietnam, produsen kopi masih berada pada jalur peningkatan produksi dan ekspor meski panen sempat tertunda akibat banjir meluas.
Namun, upaya tanggap darurat dan pemulihan tetap akan memakan biaya besar bagi negara seperti Thailand dan Indonesia yang tengah berjuang mendorong perekonomian tanpa membebani anggaran, serta bagi Sri Lanka yang masih dalam fase pemulihan pascakrisis gagal bayar 2022.
Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann, menilai frekuensi dan skala gangguan cuaca ekstrem di kawasan terus meningkat.
“Semakin banyak anggaran fiskal yang harus dialihkan untuk memperkuat infrastruktur dan membangun ketangguhan iklim. Terutama bagi negara-negara miskin, kondisi ini memaksa adanya pilihan sulit berupa pemangkasan belanja penting di sektor lain,” katanya.
Sementara itu, Chief Operations Officer perusahaan analisis risiko banjir berbasis di Inggris, Fathom, Andrew Smith, menyebut Asia Tenggara sebagai kawasan paling terekspos banjir di dunia karena besarnya populasi di wilayah dataran rendah dan padat bangunan.
“Seiring tekanan iklim dan demografi yang terus meningkat, masyarakat di kawasan ini menghadapi risiko yang makin besar dan kian sulit dihindari,” ujarnya.