#30 tag 24jam
Rapor Kinerja Laba Bank Jumbo Per Januari 2026, Siapa Paling Moncer?
Bank jumbo di Indonesia mencatat kinerja positif pada Januari 2026. BCA memimpin dengan laba bersih Rp4,99 triliun, diikuti Mandiri, BRI, dan BNI. [571] url asal
#bank-jumbo #kinerja-laba-bank #laba-bank-2026 #bank-kbmi-4 #bca-laba-bersih #bank-mandiri-laba #bri-pertumbuhan-laba #bni-laba-bersih #ojk-data-bank #kredit-bank-bca #dpk-bank-mandiri #bri-kredit-tumb
(Bisnis.Com - Finansial) 11/03/26 12:29
v/161630/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank-bank penghuni Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 alias bank jumbo membukukan kinerja positif pada awal 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba tahun berjalan sesudah pajak untuk KBMI 4 tercatat sebesar Rp178,43 triliun pada kuartal IV/2025. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, perolehan laba KBMI 4 menyusut 2,54% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp183,08 triliun.
Kendati begitu, bank penghuni KBMI 4 yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada Januari 2026.
Jika diurutkan menurut nilainya, BCA menjadi bank dengan laba bersih terbesar dalam kelompok ini, dengan raihan laba sebesar Rp4,99 triliun. Posisi selanjutnya ditempati oleh Bank Mandiri dengan perolehan laba senilai Rp4,65 triliun, disusul oleh BRI Rp3,72 triliun, dan BNI Rp1,68 triliun.
Sementara itu bila melihat dari sisi pertumbuhan, BRI menempati posisi puncak dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan yakni sebesar 85,40% YoY, diikuti Bank Mandiri 16,18% YoY, BCA 5,76% YoY, dan BNI 3,45% YoY dibandingkan Januari 2025.
Berikut rinciannya:
BCA
Bank swasta terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp4,99 triliun pada Januari 2026. Realisasi itu tumbuh 5,76% YoY dibandingkan Januari 2025 yang sebesar Rp4,72 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit bank milik Djarum Group itu mencapai Rp948,95 triliun, meningkat 6,26% YoY dari realisasi Januari 2025 yang sebesar Rp893,02 triliun.
Pada saat yang sama, total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan mencapai Rp1.225,42 triliun, tumbuh 9,37% YoY dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp1.120,46 triliun.
Bank Mandiri
Bank Mandiri berada di posisi selanjutnya dengan raihan laba bersih sebesar Rp4,65 triliun pada Januari 2026. Capaian itu naik signifikan 16,18% YoY dibandingkan perolehan Januari 2025 yang senilai Rp4,00 triliun.
Pada awal tahun, perseroan tercatat menyalurkan kredit senilai Rp1.511,41 triliun tumbuh 15,62% YoY dari realisasi 2024 yang sebesar Rp1.307,18 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, bank dengan logo pita emas itu mencatatkan DPK sebesar Rp1.635,48 triliun pada Januari 2026, meningkat 17,29% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.394,40 triliun.
BRI
BRI menempati posisi ketiga dengan perolehan laba sebesar Rp3,72 triliun pada awal 2026. Raihan tersebut tumbuh signifikan 85,40% YoY dari realisasi laba pada Januari 2025 yang sebesar Rp2,00 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, kredit bank wong cilik itu tumbuh 11,95% YoY menjadi Rp1.354,08 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1.209,51 triliun.
Pada saat yang sama, total DPK BRI mencapai Rp1.495,69 triliun, meningkat 9,96% YoY dibandingkan Januari 2025 yang sebesar Rp1.360,16 triliun.
BNI
Terakhir, ada BNI yang membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,68 triliun pada Januari 2026. Pada Januari 2025, bank dengan logo 46 itu mencetak laba sebesar Rp1,62 triliun. Itu artinya, laba bersih perseroan pada awal 2026 tumbuh 3,45% YoY dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun, total kredit yang disalurkan BNI tumbuh signifikan 19,27% YoY menjadi Rp894,29 triliun pada Januari 2026 dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp749,82 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, total DPK BNI meningkat 35,80% YoY dari raihan pada 2024 yang sebesar Rp774,28 triliun menjadi Rp1.051,49 triliun pada Januari 2026.
Adu Kinerja 10 Bank dengan Laba Terbesar RI Berdasarkan Lapkeu 2025
Industri perbankan RI catat laba bersih Rp262,18 triliun di 2025, naik 2,74% YoY. Berikut 10 bank dengan laba terbesar sepanjang 2025. [1,381] url asal
#bank-terbesar #laba-bank #kinerja-bank #laba-bersih #pertumbuhan-laba #pendapatan-bunga #kredit-bank #dana-pihak-ketiga #simpanan-bank #bca-laba #bri-laba #bank-mandiri-laba #bni-laba #bsi-laba #cimb
(Bisnis.Com - Finansial) 04/03/26 08:30
v/154241/
Bisnis.com, JAKARTA — Industri perbankan Tanah Air membukukan kinerja yang beragam hingga akhir 2025. Kendati mayoritas bank yang masuk dalam daftar ini membukukan pertumbuhan, tidak sedikit yang mencatatkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan Portal Data Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa bank umum mengantongi laba bersih senilai Rp262,18 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 2,74% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal IV/2024 yang sebesar Rp255,19 triliun.
Perolehan laba perbankan pada periode tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,09% YoY, dari kuartal IV/2024 sebesar Rp549,75 triliun menjadi Rp572,21 triliun hingga Desember 2025.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank mencapai Rp707,46 triliun pada kuartal IV/2025. Realisasi itu meningkat 5,01% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp673,72 triliun.
Pada saat yang sama, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun bank umum tumbuh 6,62% YoY dari Rp247,27 triliun pada kuartal IV/2024 menjadi Rp263,64 triliun pada kuartal IV/2025.
Pertumbuhan DPK pada periode tersebut didorong oleh simpanan giro bank umum yang meningkat 12,67% YoY menjadi Rp68,05 triliun per Desember 2025. Simpanan tabungan dan berjangka juga mencatatkan kinerja positif, masing-masing tumbuh sebesar 6,31% YoY dan 4,47% YoY.
Berikut rangkuman 10 bank pencetak laba terbesar di Indonesia sepanjang 2025:
BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan raihan laba konsolidasian sepanjang 2025 senilai Rp57,56 triliun. Realisasi itu meningkat 4,94% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp54,85 triliun.
Perolehan laba sebesar Rp57,56 triliun pada 2025 turut menempatkan BCA sebagai bank dengan laba terbesar di Indonesia.
Dari sisi intermediasi, total kredit perseroan mencapai Rp979,69 triliun, meningkat 7,53% YoY dari realisasi 2024 yang sebesar Rp911,10 triliun. Pada saat yang sama, DPK BCA tumbuh 10,18% YoY dari Rp1.133,61 triliun pada 2024 menjadi Rp1.249,04 triliun.
BRI
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Pada 2024, perseroan membukukan laba senilai Rp60,30 triliun sehingga terjadi koreksi sebesar 5,26% YoY.
“Hingga akhir 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,13 triliun,” ungkap Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
Kinerja keuangan dan profitabilitas positif BRI didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai. Hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio atau LDR yang bank berada di level yang ample sebesar 91,4%. Angka ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.
BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berada di urutan berikutnya dengan perolehan laba konsolidasian sebesar Rp20,11 triliun. Raihan laba pada 2025 menyusut 7,19% YoY dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp21,66 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan DPK sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama dalam keterangannya.
BSI
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) berada di posisi kelima dengan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun, meningkat 8,02% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp7,00 triliun.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, kinerja solid BSI sepanjang 2025 ditopang oleh berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi.
“Didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Anggoro.
CIMB Niaga
Urutan keenam diisi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp6,93 triliun pada 2025. Realisasi itu tumbuh tipis 0,53% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,89 triliun.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa hasil kinerja CIMB Niaga pada 2025 mencerminkan konsistensi performa serta kesehatan fundamental bisnis bank.
“Di tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent, menjaga kualitas aset, memperkuat basis dana murah, serta menjalankan pengelolaan biaya yang disiplin,” ungkap Lani dalam keterangannya.
OCBC NISP
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp5,05 triliun sepanjang 2025. Dengan raihan tersebut, OCBC NISP berada di posisi ketujuh dalam daftar ini. Realisasi laba pada 2025 meningkat 3,92% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,86 triliun.
Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, pihaknya tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent.
“Sepanjang 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi,” kata Parwati dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Parwati mengungkapkan, penguatan DPK dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja OCBC NISP ke depan.
Permata Bank
Selanjutnya, ada PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp3,58 triliun sampai dengan akhir 2025. Raihan laba tersebut naik tipis 0,59% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,56 triliun.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan, di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang 2025.
Dia mengatakan, kinerja Permata Bank sepanjang 2025 mencerminkan fundamental yang resilien. Hal ini tecermin dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari -hari, bisnis, dan keluarga mereka,” kata Meliza dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).
Bank Danamon
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berada di urutan selanjutnya dengan perolehan laba konsolidasian senilai Rp3,58 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu naik tipis 0,59% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,56 triliun.
Sepanjang 2025, Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengatakan bahwa Danamon telah mengimplementasikan prioritas strategisnya dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas, dengan kualitas aset yang tetap terjaga.
“Danamon menyambut 2026 dengan tekad yang lebih kuat untuk menjadi penyedia solusi finansial yang terus berupaya mendapatkan kepercayaan nasabah serta untuk terus berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Daisuke.
BTN
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menutup daftar ini dengan perolehan laba bersih konsolidasian senilai Rp3,50 triliun sepanjang 2025. Dibandingkan tahun sebelumnya, raihan laba tersebut meningkat 16,42% YoY dari sebelumnya Rp3,00 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini.
“Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon, Senin (9/2/2026).
Rekap Kinerja Cuan Bank Jumbo 2025 (BCA, BRI, Mandiri, & BNI), Siapa Paling Moncer?
Bank jumbo seperti BRI, BCA, Bank Mandiri, dan BNI telah merilis kinerja sepanjang 2025. Simak rangkumannya. [1,092] url asal
#bank-jumbo #kinerja-bank #laba-bersih #pertumbuhan-laba #bca-laba #bri-laba #mandiri-laba #bni-laba #kredit-perbankan #dpk-perbankan #ojk-perbankan #bca-pertumbuhan #bri-pertumbuhan #mandiri-pertumbuh
(Bisnis.Com - Finansial) 26/02/26 10:30
v/147918/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank-bank jumbo RI dengan modal inti di atas Rp70 triliun telah merilis kinerja keuangan sepanjang tahun lalu. Kinerjanya beragam, ada yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih, tetapi terdapat pula yang mengalami tekanan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, BCA membukukan laba terbesar sepanjang tahun lalu dengan raihan senilai Rp57,5 triliun. Disusul oleh bank pelat merah, BRI yang mencetak laba bersih Rp57,13 triliun dan Bank Mandiri sebesar Rp56,3 triliun. Lalu BNI meraih laba bersih senilai Rp20,11 triliun.
Dari sisi pertumbuhan, selain mencatatkan peraih laba terbesar, BBCA juga melaporkan pertumbuhan laba tertinggi di antara bank jumbo lainnya, yaitu sebesar 4,9% YoY.
Di sisi lain, terdapat pula bank yang mengalami tekanan pada kinerja sepanjang tahun lalu, seperti BNI dan BRI yang membukukan penyusutan laba bersih.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kondisi global masih menjadi tantangan dan mempengaruhi kinerja perbankan pada 2025. Meskipun diliputi ketidakpastian, OJK memprediksi kinerja penyaluran kredit perbankan masih positif sepanjang tahun lalu.
Adapun, realisasi pertumbuhan kredit perbankan hingga Desember 2025 sebesar 9,69% YoY dan berada pada kisaran prakiraan Bank Indonesia (BI) yang sebesar 8%-11% YoY. Sementara himpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,83% YoY.
Berikut rangkuman kinerja bank jumbo (BCA, BRI, Mandiri, dan BNI) sepanjang 2025:
BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025.
Selain itu, BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% secara year on year (YoY) menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. BCA juga menyampaikan giro dan CASA naik 13,1% YoY hingga mencapai Rp1.045 triliun.
Per Desember 2025, total DPK BCA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp1.249 triliun. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% YoY mencapai 42 miliar. Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari.
Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY. Pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY. Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4% YoY.
Lalu, rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun.
BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang terbit di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (26/2/2026), laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp207,78 triliun, meningkat 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada 2024. Sementara, pada tahun sebelumnya, laba bersih BRI mencapai Rp60,3 triliun.
Dari sisi beban bunga, tercatat senilai Rp57,28 triliun atau terdapat kenaikan sebesar 1,20% dari Rp56,61 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) senilai Rp150,50 triliun, naik 5,52% dari Rp142,65 triliun pada tahun sebelumnya.
Jika termasuk pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih mencapai Rp151,79 triliun, meningkat 5,54% dari Rp143,82 triliun.
Bank berkapitalisasi jumbo tersebut, tetap menjaga ekspansi fungsi intermediasi sepanjang 2025. Secara konsolidasian, kredit yang diberikan dan pembiayaan syariah tercatat Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.348,2 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit yang diberikan yang mencapai Rp1.460,72 triliun, meningkat 12,5% dari Rp1.298,31 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pembiayaan syariah tercatat Rp56,35 triliun, naik 12,9% dibandingkan Rp49,88 triliun.
Kinerja penghimpunan dana BBRI tercatat tetap solid sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, dana pihak ketiga (DPK) yang berasal dari giro, tabungan, dan deposito mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.365,45 triliun.
Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat senilai Rp106 triliun atau naik 4,38% YoY dengan pendapatan non-bunga senilai Rp48,5 triliun atau naik 14,5% YoY.
Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 0,96% secara bank only dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan ikut tumbuh sebesar 16,6% YoY dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.
Angka margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.
BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Raihan tersebut menyusut 7,15% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.
Dikutip dari laporan kinerja perseroan yang dipublikasikan, bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga sebesar Rp69,39 triliun, meningkat 4,22% YoY dari tahun sebelumnya Rp66,58 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga juga naik 11,33% YoY menjadi Rp29,06 triliun.
Dengan realisasi tersebut, pendapatan bunga bersih yang diperoleh BNI sepanjang 2025 mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,36% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp40,48 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Sepanjang 2024, BNI menyalurkan kredit senilai Rp775,87 triliun.
Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BNI menyusut dari 21,40% menjadi 20,66% hingga akhir 2025. Untuk kualitas kredit, NPL gross tercatat turun dari 1,97% menjadi 1,93%, dan NPL Net turun menjadi 0,70% dari 0,74%.
Adapun, pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) menyusut menjadi 3,80% dari periode yang sama tahun lalu 4,24%, sedangkan biaya operasional terhadap pendapatan operasional meningkat dari 70,05% sepanjang 2024 menjadi 72,94% hingga akhir 2025.
Top 10 Bank RI Pencetak Laba Terbesar Kuartal III/2025, Cek Juaranya!
Simak top 10 bank pencetak laba terbesar di Indonesia hingga kuartal III/2025. [2,087] url asal
#bank-laba-terbesar #bank-laba-kuartal-iii-2025 #bca-laba-terbesar #bank-mandiri-laba #bri-laba #bni-laba #bsi-laba #cimb-niaga-laba #ocbc-nisp-laba #bank-danamon-laba #bank-permata-laba #btn-laba #ban
(Bisnis.Com - Finansial) 11/11/25 10:30
v/34848/
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank telah merilis laporan keuangan pada kuartal III/2025. Kinerja laba bersih tahun berjalan masing-masing bank pun beragam, ada yang membukukan pertumbuhan, ada pula yang mencatatkan penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di antara bank-bank yang telah melaporkan kinerja keuangannya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp43,41 triliun hingga September 2025. Capaian ini menjadikan BCA sebagai bank dengan laba terbesar pada kuartal III/2025. Realisasi itu tumbuh 5,66% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41,08 triliun.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menduduki posisi kedua dalam daftar ini dengan perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,37 triliun pada kuartal III/2025. Kendati begitu, raihan laba pada periode ini turun 10,22% YoY dibanding kuartal III/2024 yang sebesar Rp46,08 triliun.
Di posisi selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati urutan berikutnya dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,23 triliun hingga September 2025. Angka itu turun 9,10% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp45,36 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menduduki urutan keempat dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp15,23 triliun. Bila dibandingkan dengan kuartal III/2024, capaian pada kuartal III/2025 turun 7,32% YoY dari sebelumnya Rp16,43 triliun.
Posisi kelima ditempati oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), menjadikannya satu-satunya bank syariah yang berada dalam daftar ini. Hingga September 2025, bank syariah terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,56 triliun, tumbuh 9,04% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,10 triliun.
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) berada di posisi selanjutnya dengan raihan laba Rp5,33 triliun, disusul PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP), PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), PT Bank Permata Tbk. (BNLI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).
Berikut daftar top 10 bank dengan laba terbesar pada kuartal III/2025:
BCA

Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Bank swasta terbesar di Indonesia ini menempati posisi pertama sebagai bank dengan laba bersih tahun berjalan terbesar pada kuartal III/2025. Dalam laporan keuangannya, bank milik Djarum Group itu membukukan laba bersih sebesar Rp43,41 triliun, tumbuh 5,66% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41,08 triliun.
Perolehan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,93% YoY menjadi Rp64,09 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,08 triliun.
Hingga September 2025, BCA tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp931,87 triliun, tumbuh 7,52% YoY dibanding kuartal III/2024 yang mencapai Rp866,66 triliun.
Pada saat yang sama, bank dengan kode emiten BBCA itu menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.204,73 triliun hingga September 2025, meningkat 7,03% YoY dari kuartal III/2024 sebesar Rp1.125,58 triliun.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BCA meningkat dari 29,31% menjadi 29,94% pada kuartal III/2025. NPL gross tercatat turun dari 2,11% menjadi 2,10%, sedangkan NPL nett meningkat dari 0,72% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 0,77% pada kuartal III/2025.
Bank Mandiri

Gedung Bank Mandiri/Bisnis-Annisa S. Rini
Bank Mandiri berada di urutan kedua dalam daftar ini. Bank berlogo pita emas itu mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,37 triliun, turun 10,22% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,08 triliun.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat tumbuh 3,50% YoY menjadi Rp78,55 triliun. Pada kuartal III/2025, bank pelat merah ini membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp75,90 triliun.
Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 11,56% YoY menjadi Rp1.720,25 triliun hingga September 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, kredit yang disalurkan perseroan mencapai Rp1.541,98 triliun.
DPK Bank Mandiri mencatatkan kinerja positif. Pada kuartal III/2025, DPK Bank Mandiri tumbuh 13,00% YoY, dari periode yang sama tahun lalu Rp1.667,49 triliun menjadi Rp1.884,18 triliun.
KPMM bank pelat merah itu menyusut dari 20,08% menjadi 19,04% pada kuartal III/2025. NPL gross tercatat meningkat dari 0,97% menjadi 1,03%, dan NPL nett meningkat dari 0,33% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 0,40% pada kuartal III/2025.
BRI

Gedung Bank BRI Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Bank spesialis kredit wong cilik menduduki posisi ketiga dengan raihan laba Rp41,23 triliun hingga September 2025. Capaian itu menurun 9,10% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp45,36 triliun.
Perolehan laba bersih tahun berjalan pada periode tersebut didorong oleh capaian pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp111,97 triliun, tumbuh 1,93% YoY dari kuartal III/2024 sebesar Rp109,85 triliun.
Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp1.379,68 triliun. Angka itu tumbuh 7,65% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp1.281,67 triliun.
Pada saat yang sama, DPK bank pelat merah itu tumbuh 8,25% YoY menjadi Rp1.474,78 triliun. Pada kuartal III/2024, DPK BRI tercatat mencapai Rp1.362,41 triliun.
Sementara itu, KPMM bank dengan kode emiten BBRI itu turun dari 24,96% menjadi 23,01%. NPL gross tercatat meningkat dari 3,04% menjadi 3,29%, dan NPL nett naik dari 0,84% menjadi 1,04%.
BNI

Nasabah melakukan transaksi menggunakan anjungan tunai mandiri di kantor cabang BNI, Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp15,23 triliun pada kuartal III/2025 menempatkan BNI dalam daftar keempat dengan laba terbesar di Indonesia. Raihan itu turun 7,32% YoY bila dibandingkan kuartal III/2024 yang sebesar Rp16,43 triliun.
Bank dengan logo 46 itu membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp29,25 triliun hingga September 2025. Angka itu menyusut 0,63% YoY dibanding kuartal III/2024 yang sebesar Rp29,43 triliun.
Dari sisi intermediasi, BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp812,19 triliun pada kuartal III/2025. Angka itu tumbuh 10,50% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp735,01 triliun.
Pada saat yang sama, DPK yang berhasil dihimpun oleh BNI mencapai Rp934,32 triliun tumbuh 21,38% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp769,73 triliun.
Sementara itu, KPMM BNI turun dari 21,83% menjadi 21,09%. NPL gross tercatat menyusut dari 1,97% menjadi 1,96%, dan NPL nett meningkat dari 0,63% menjadi 0,78%.
BSI

Nasabah bertransaksi di salah satu pusat anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Senin (9/1/2022). /Bisnis-Arief Hermawan P
BSI meraih laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,56 triliun, menempatkannya pada posisi kelima dalam daftar ini. Perolehan laba pada kuartal III/2025 itu tumbuh 9,04% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp5,10 triliun.
Capaian positif ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 13,99% YoY menjadi Rp15,33 triliun hingga September 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, BSI membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp13,45 triliun.
Adapun BSI membukukan pembiayaan bagi hasil sebesar Rp134,53 triliun. Angka itu tumbuh 22,72% YoY dari kuartal III/2024 yang mencapai Rp109,62 triliun. Pada saat yang sama, dana simpanan wadiah tercatat mencapai Rp77,07 triliun, tumbuh 9,12% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp70,63 triliun.
Sementara itu, KPMM BSI tercatat meningkat dari 21,38% menjadi 21,59% pada kuartal III/2025. NPF gross BSI menyusut dari 1,97% menjadi 1,84%, dan NPF nett turun dari 0,56% menjadi 0,55%.
CIMB Niaga

Nasabah bertransaksi menggunakan Super App OCTO milik PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) di Jakarta, Rabu (19/1/2022). Bisnis/Abdurachman
CIMB Niaga menempati urutan keenam dengan perolehan laba sebesar Rp5,33 triliun hingga September 2025. Angka itu tumbuh 2,93% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,18 triliun.
Kinerja positif itu salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 0,71% YoY menjadi Rp10,07 triliun. Pada kuartal III/2024, pendapatan bunga bersih CIMB Niaga mencapai Rp10,00 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank dengan kode emiten BNGA itu telah menyalurkan kredit sebesar Rp170,42 triliun pada kuartal III/2025. Angka itu tumbuh 7,97% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp157,85 triliun.
Pada saat yang sama, DPK yang berhasil dihimpun oleh BNGA mencapai Rp278,01 triliun tumbuh 8,61% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp255,97 triliun.
Sementara itu, KPMM CIMB Niaga naik dari 23,44% menjadi 24,73%. NPL gross tercatat menyusut dari 2,00% menjadi 1,98%, dan NPL nett meningkat dari 0,72% menjadi 0,80%.
OCBC NISP

Petugas berbincang dengan nasabah di kantor cabang PT Bank OCBC NISP Tbk di Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Dedi Gunawan
Bank OCBC NISP membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp3,82 triliun pada kuartal III/2025, tumbuh tipis 0,17% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,81 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih OCBC NISP mencapai Rp8,10 triliun, turun 0,10% YoY dibandingkan kuartal III/2024 mencapai Rp8,11 triliun.
Hingga September 2025, OCBC NISP tercatat telah menyalurkan kredit senilai Rp158,52 triliun. Angka itu tumbuh 2,00% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp155,42 triliun.
Pada saat yang sama, DPK OCBC NISP tumbuh 15,41% YoY menjadi Rp230,12 triliun. Pada kuartal III/2024, DPK OCBC NISP tercatat mencapai Rp199,40 triliun.
Sementara itu, KPMM bank dengan kode emiten NISP itu meningkat dari 23,50% menjadi 24,88%. NPL gross tercatat meningkat dari 1,79% menjadi 2,00%, dan NPL nett juga naik dari 0,72% menjadi 0,77%.
Bank Danamon

Karyawati melayani nasabah di salah satu kantor cabang Bank Danamon, Jakarta, Rabu (21/2/2024)./Bisnis - Arief Hermawan.
Selanjutnya, ada Bank Danamon dengan perolehan laba bersih tahun berjalan senilai Rp2,90 triliun. Capaian itu tumbuh signifikan 20,08% YoY dari kuartal III/2024 yang sebesar Rp2,41 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih Bank Danamon menyusut 0,10% YoY menjadi Rp11,91 triliun. Pada kuartal III/2024, Bank Danamon membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp11,93 triliun.
Dari sisi intermediasi, Bank Danamon tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp151,08 triliun hingga September 2025. Realisasi itu tumbuh 7,23% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp140,89 triliun.
Pada saat yang sama Bank Danamon berhasil membukukan DPK sebesar Rp167,71 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu tumbuh 14,52% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp146,44 triliun.
Sementara itu, KPMM Bank Danamon meningkat dari 26,14% menjadi 26,56%. NPL gross tercatat turun dari 2,05% menjadi 1,83%, dan NPL nett juga turun dari 0,37% menjadi 0,25%.
Bank Permata

Logo Bank Permata (BNLI)./Istimewa.
Bank Permata menempati posisi kesembilan. Pada kuartal III/2025, Bank Permata membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,88 triliun, tumbuh 3,49% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp2,78 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, bank dengan kode saham BNLI itu mencatatkan penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 0,45% YoY menjadi Rp7,57 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan bunga bersih Rp7,60 triliun.
Hingga September 2025, Bank Permata menyalurkan kredit sebesar Rp134,71 triliun, meningkat 7,17% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp125,69 triliun.
Pada saat yang sama Bank Permata berhasil membukukan DPK sebesar Rp195,87 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu tumbuh 6,87% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp183,28 triliun.
Sementara itu, KPMM Bank Permata tercatat meningkat dari 33,15% menjadi 34,96%. Adapun NPL gross meningkat dari 2,05% menjadi 2,14%, dan NPL nett turun dari 0,36% menjadi 0,35%.
BTN

Gedung Bank Tabungan Negara (BTN)/dok. BTN
BTN membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,30 triliun, tumbuh 10,58% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp2,08 triliun. Raihan laba bersih tersebut menempatkan BTN di posisi kesepuluh dalam daftar ini.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, bank pelat merah itu mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp12,76 triliun hingga September 2025. Capaian itu tumbuh 43,55% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp8,89 triliun.
Tercatat hingga September 2025, BTN menyalurkan kredit sebesar Rp329,92 triliun, tumbuh 5,29% YoY dari kuartal III/2024 yang mencapai Rp313,35 triliun. Pada saat yang sama, DPK perseroan tumbuh 15,96% YoY menjadi Rp429,92 triliun dari sebelumnya Rp370,75 triliun.
Melihat indikator keuangan, KPMM Bank Permata tercatat menurun dari 18,70% menjadi 18,00%. Adapun NPL gross meningkat dari 3,24% menjadi 3,45%, dan NPL nett naik dari 1,57% menjadi 2,00%.
Anak Usaha Bank Pelat Merah Panen Kontribusi di Kuartal III/2025
Anak usaha BRI, Mandiri, dan BNI berkontribusi signifikan pada laba kuartal III/2025, dengan BRI memimpin. Meski BNI alami penurunan, aset anak usaha tetap tumbuh. [799] url asal
#bank-pelat-merah #anak-usaha-bank #kontribusi-anak-usaha #bri-laba-bersih #bank-mandiri-laba #bni-laba-bersih #pegadaian-kontribusi #pnm-kontribusi #bri-life-kontribusi #bank-syariah-indonesia #axa-ma
(Bisnis.Com - Finansial) 04/11/25 14:11
v/26964/
Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha menjadi mesin laba bagi tiga bank besar milik negara, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) pada kuartal III/2025.
Dalam catatan Bisnis, BRI menegaskan dominasinya sebagai kelompok perbankan dengan kontribusi anak usaha paling besar. Menurut data perusahaan, hingga akhir kuartal III/2025, BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp41,23 triliun, dengan anak usaha menyumbang hampir 20% terhadap total laba grup.
Wakil Direktur Utama BRI, Agus Noorsanto, menyampaikan bahwa 10 anak usaha BRI, meliputi Pegadaian, PNM, BRI Life, BRI Insurance, Bank Raya, BRI Finance, BRI Danareksa Sekuritas, BRI Manajemen Investasi, BRI Ventures, dan BRI Global Financial Services, seluruhnya memberikan kontribusi positif.
“Kinerja 10 perusahaan anak BRI tersebut tercatat semakin baik dan memberikan kontribusi positif terhadap BRI,” ujar Agus dalam konferensi pers paparan kuartal III/2025 belum lama ini.
Secara detail, Pegadaian menjadi penyumbang laba terbesar dengan kontribusi 69,2%, disusul oleh PNM sebesar 13,4%, BRI Life 9,5%, BRI Insurance 5,8%, dan entitas lain 2,1%.
Total aset anak usaha BRI per September 2025 mencapai Rp244,5 triliun, tumbuh 15% dibandingkan Rp212,6 triliun setahun sebelumnya. Loan & financing anak usaha juga naik 16,6% menjadi Rp169,7 triliun dari Rp145,5 triliun.
Kontributor utama aset masih berasal dari Pegadaian dan PNM dengan masing-masing Rp128,9 triliun dan Rp55,7 triliun, setara 52,7% dan 22,8% dari total aset anak usaha.
Lalu disusul BRI Life dengan aset Rp27,6 triliun, Bank Raya Indonesia Rp13,6 triliun, serta entitas lainnya seperti BRI Insurance, BRI Finance, BRI Ventures, BRI Danareksa Sekuritas, BRI Manajemen Investasi, dan BRI Global Financial Services.
Bank Mandiri
Dari sisi kinerja konsolidasi, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp37,7 triliun hingga September 2025, sedikit menurun dibandingkan Rp42,01 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, kinerja anak usaha masih menjadi salah satu sumber kekuatan utama bagi grup.
Total laba bersih anak usaha Bank Mandiri mencapai Rp8,46 triliun, sedikit turun 0,95% dibandingkan tahun lalu. Namun, kontribusi laba berdasarkan kepemilikan justru naik 3% menjadi Rp4,62 triliun dari Rp4,49 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) menjadi penyumbang laba terbesar dengan Rp5,56 triliun, naik dari Rp5,1 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Disusul AXA Mandiri Financial Services Rp887 miliar, Mandiri Taspen Rp540 miliar, serta gabungan Mandiri Utama Finance dan Mandiri Tunas Finance Rp1,14 triliun.
Total aset anak usaha Bank Mandiri mencapai Rp593,83 triliun, tumbuh 9,05% YoY. BSI menjadi kontributor terbesar dengan total aset Rp416,56 triliun, tumbuh 4,14% per kuartal (QoQ) dan 12,4% YoY, setara 70,1% dari total aset anak usaha Mandiri Group.
Mandiri Taspen mencatatkan total aset Rp69,79 triliun, naik 5,08% QoQ dan 8,23% YoY, sedangkan Bank Mandiri Europe Limited menorehkan kenaikan 10,2% menjadi Rp4,82 triliun.
Dari segmen multifinance, Mandiri Utama Finance mencatatkan pertumbuhan aset 6,78% QoQ menjadi Rp17,09 triliun dan 16,2% YoY, sementara Mandiri Tunas Finance justru turun 6,81% QoQ menjadi Rp28,8 triliun dengan penurunan tahunan 19,4%.
Pada lini asuransi, AXA Mandiri Financial Services menorehkan peningkatan aset 2,48% QoQ menjadi Rp43,83 triliun, naik 2,61% YoY, sedangkan Mandiri Inhealth tidak lagi dikonsolidasikan setelah kepemilikan Mandiri turun menjadi 20%.
Dari sektor sekuritas dan modal ventura, Mandiri Sekuritas membukukan kenaikan aset 29,4% QoQ menjadi Rp6,57 triliun (meski turun 1,53% YoY), sementara Mandiri Capital mencatatkan Rp6,30 triliun, naik 2,46% QoQ dan 8,32% YoY. Adapun Mandiri Remittance meningkat 7,29% menjadi Rp37 miliar, meski turun 0,49% secara kuartalan.
BNI
Berbeda dengan dua bank pelat merah lainnya, BNI mencatatkan pelemahan kontribusi anak usaha hingga kuartal III/2025. Laba bersih konsolidasian BNI tercatat Rp15,12 triliun, turun dari Rp16,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski total aset entitas anak naik 17,3% YoY menjadi Rp63,2 triliun, laba bersih anak usaha justru turun tajam 56,9% menjadi Rp146,1 miliar, dari Rp339,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Alhasil, total kontribusi anak usaha terhadap BNI Group melemah menjadi Rp1,82 triliun, turun 2,4% dari Rp1,87 triliun tahun lalu.
Anak usaha BNI meliputi BNI Finance (99,99%), BNI Sekuritas (75%), BNI Life Insurance (60%), BNI Remittance (100%), Hibank (63,92%), dan BNI Ventures (99,98%).
Selain itu, BNI juga memiliki cucu usaha di bawah BNI Sekuritas dan BNI Finance seperti BNI Asset Management (99,9%) dan BNI Sekuritas (100%).
Pendapatan bunga BNI tercatat Rp51,16 triliun, tumbuh 4,77% YoY dari Rp48,83 triliun, dengan beban bunga Rp21,91 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih mencapai Rp29,25 triliun.
Kinerja kuartal III/2025 menegaskan bahwa anak usaha bank pelat merah tidak hanya memperkuat sumber laba konsolidasi, tetapi juga menjadi penopang utama diversifikasi bisnis.
Rapor Kinerja Laba Bank Jumbo Kuartal III/2025, Siapa Paling Moncer?
Simak rapor kinerja bank-bank penghuni KBMI 4 (BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI) per kuartal III/2025. [809] url asal
#bank-jumbo #laba-bank #kuartal-iii-2025 #bca-laba #bri-laba #bank-mandiri-laba #bni-laba #kinerja-bank #ekspansi-kredit #pertumbuhan-casa #kredit-korporasi #kredit-ukm #aset-bri #pinjaman-bank-mandiri
(Bisnis.Com - Finansial) 01/11/25 10:00
v/23652/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank-bank jumbo di Indonesia yang masuk kategori bank dengan modal inti (KBMI) 4 telah merilis kinerja keuangan hingga kuartal III/2025. Siapa peraih laba terbesar di antara Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA)?
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari tiga bank Himbara dan satu swasta besar yang masuk KBMI 4, hanya satu yang berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih.
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) mencatat laba bersih terbesar di industri sepanjang sembilan bulan tahun ini, mencapai Rp43,4 triliun atau naik 5,7% dibandingkan Rp41,1 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
"Kinerja ini ditopang oleh ekspansi kredit yang berkualitas dan terjaganya likuiditas perseroan," ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam paparan kinerjanya.
Dari sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) per akhir September 2025, terdapat pertumbuhan sebesar 7% secara tahunan yang ditopang utamanya oleh pendanaan murah atau current account saving account (CASA).
Lebih rinci terkait penyaluran kredit, sektor korporasi menjadi yang tertinggi dibanding segmen lain, tumbuh 10,4% YoY mencapai Rp436,9 triliun per September 2025.
Kredit komersial naik 5,7% YoY menjadi Rp142,9 triliun, dan kredit UKM tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp129,3 triliun. Pertumbuhan kredit konsumer menyentuh 3,3% YoY menjadi Rp223,6 triliun, didorong kenaikan KPR sebesar 6,4% YoY menjadi Rp138,8 triliun.
Adapun, CASA BCA tumbuh 9,1% YoY mencapai Rp999 triliun. "Pertumbuhan CASA selaras dengan total frekuensi transaksi BCA yang naik 78% dalam tiga tahun terakhir," kata Hendra.
BRI
Di bawahnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasi sebesar Rp41,23 triliun hingga akhir kuartal III/2025. Raihan laba tersebut tidak lepas dari kontribusi anak usaha BBRI.
Wakil Direktur Utama BRI Agus Noorsanto menyampaikan kinerja 10 perusahaan anak BRI, Pegadaian, PNM, BRI Life, BRI Insurance, Bank Raya, BRI Finance, BRI Dana Sekuritas, BRI Manajemen Investasi, BRI Ventures, dan BRI Global Financial Services memberikan kontribusi positif terhadap BRI.
“Kinerja 10 perusahaan anak BRI tersebut, tercatat semakin baik dan memberikan kontribusi positif terhadap BRI,” kata Agus dalam konferensi pers Paparan Kinerja Kuartal III/2025, Kamis (30/10/2025).
Agus mengatakan laba bersih perusahaan anak BRI mencapai Rp8,19 triliun pada kuartal III/2025. Capaian itu meningkat 27,6% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp6,42 triliun.
Dalam paparan yang disampaikan Agus, total kontribusi laba bersih Pegadaian terhadap BRI mencapai 69,2%, disusul oleh PNM 13,4%, BRILife 9,5%, BRI Insurance 5,8%, dan lainnya sebesar 2,1%.
Sementara itu hingga September 2025, Agus menyebut bahwa total aset perusahaan anak BRI tumbuh 15,0% YoY menjadi Rp244,5 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp212,6 triliun.
Bank Mandiri
BMRI melaporkan raihan laba bersih konsolidasian kuartal III/2025 senilai Rp37,7 triliun. Laba ini di atas konsensus para analis yang dihimpun Bloomberg. Meski demikian, sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun sebelumnya, bank dengan logo pita emas itu membukukan penurunan laba bersih 10,25% dari Rp42,01 triliun.
Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri mengatakan perusahaan menyalurkan pinjaman konsolidasi Rp1.764,24 triliun per September 2025, tumbuh 11% secara tahunan atau year on year (YoY).
Adapun, capaian ini disebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,70% YoY menurut data Bank Indonesia.
"Hasilnya, hingga akhir September 2025, total aset konsolidasi Bank Mandiri turut meningkat dan mencapai Rp2.563 triliun, naik 10,3% secara YoY. Kinerja ini mencerminkan keunggulan intermediasi Bank Mandiri dalam memperluas pembiayaan yang berorientasi pada produktivitas dan penciptaan nilai tambah ekonomi," kata Novita dalam konferensi pers laporan keuangan Bank Mandiri, Senin (27/10/2025).
BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan laba Rp15,12 triliun, terkoreksi dari Rp16,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BBNI mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp51,16 triliun hingga September 2025, tumbuh 4,77% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp48,83 triliun dengan beban bunga tercatat Rp21,91 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih BBNI tercatat sebesar Rp29,25 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap tangguh menghadapi volatilitas, sekaligus menjaga keseimbangan pertumbuhan di seluruh segmen bisnis.
“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangannya, Jumat (24/10/2025).
BNI mencatat rasio permodalan cukup solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat.
Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Kualitas aset pun tetap terjaga. BNI melaporkan rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%.
Laba Sejumlah Bank Tertekan pada Kuartal III/2025, Inikah Biang Keladinya?
Laba sejumlah bank mengalami tekanan pada kuartal III/2025. Begini penjelasan pakar. [494] url asal
#bank-laba #kuartal-iii-2025 #penurunan-laba-bank #bank-mandiri-laba #bni-laba #paninbank-laba #beban-operasional-bank #biaya-pegawai-bank #biaya-promosi-bank #impairment-aset-bank #laporan-keuangan-ba
(Bisnis.Com - Finansial) 29/10/25 09:18
v/19586/
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank telah merilis kinerja keuangan pada kuartal III/2025. Beberapa di antaranya mencatatkan penurunan laba bersih tahun berjalan tetapi ada pula yang melaporkan pertumbuhan.
Dari beberapa bank yang telah mengumumkan kinerja laba, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) mencatatkan penurunan laba hingga September 2025.
Perinciannya, laba bersih BMRI mencapai Rp37,7 triliun pada kuartal III/2025, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp42,01 triliun. Kemudian, BBNI membukukan laba bersih sebesar Rp15,12 triliun, dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp16,42 triliun.
Adapun, PNBN membukukan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,11 triliun, turun 3,14% dibandingkan Rp2,18 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyampaikan penurunan kinerja tersebut lebih disebabkan oleh peningkatan beban operasional bank.
“Kalau saya melihat penurunan kinerja lebih disebabkan karena peningkatan beban operasional bank,” kata Trioksa kepada Bisnis, Selasa (28/10/2025).
Trioksa mengungkap bahwa terlihat adanya peningkatan biaya pegawai, biaya promosi, dan biaya lainnya dalam laporan keuangan kuartal III/2025. “Seperti Bank Mandiri, terlihat adanya peningkatan biaya pegawai, biaya promosi, dan biaya lainnya,” ujarnya.
Berdasarkan laporan keuangan triwulanan yang dipublikasikan, BMRI mencatatkan beban operasional selain bunga bersih secara konsolidasian sebesar Rp27,12 triliun pada kuartal III/2025. Angka itu meningkat 46,00% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18,57 triliun.
Kondisi serupa juga dialami oleh BBNI. Bank berlogo 46 itu mencatatkan peningkatan beban operasional selain bunga bersih sebesar 4,90% YoY menjadi Rp11,28 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, beban operasional selain bunga bersih tercatat sebesar Rp10,75 triliun.
Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) BBNI juga tercatat naik 7,46% YoY menjadi Rp5,55 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, impairment tercatat sebesar Rp5,16 triliun.
Berbeda dengan BMRI dan BBNI, beban operasional selain bunga bersih PNBN justru menyusut pada kuartal III/2025. Meski tak signifikan, beban operasional nonbunga Bank Panin mencapai Rp3,727 triliun, turun 0,05% YoY dari sebelumnya Rp3,729 triliun.
Penurunan beban operasional nonbunga itu salah satunya disebabkan oleh menurunnya beban promosi sebesar 53,36% YoY menjadi Rp24,87 miliar pada kuartal III/2025. Beban tenaga kerja juga tercatat turun 2,50% YoY menjadi Rp1,90 triliun dan beban lainnya turun 3,67% YoY menjadi Rp2,35 triliun.
Sementara itu, impairment Bank Panin tumbuh 35,12% YoY menjadi Rp1,22 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, PNBN mencatatkan impairment sebesar Rp902,98 miliar. Presiden Direktur PaninBank Herwidayatmo pun menjelaskan alasan laba bersih pada kuartal III/2025 terkoreksi.
"Laba bersih terkoreksi karena pada tahun 2025 sebab PaninBank meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas portfolio kredit dengan membukukan biaya cadangan sebesar Rp1,22 triliun, atau naik 35,12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 2024," kata Herwidayatmo dalam keterangan tertulis, Senin (27/10/2025).
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56