#30 tag 24jam
Pemerintah Akan Percepat Perpres Ojol, Merger GOTO-Grab Berpengaruh
Pemerintah mempercepat Perpres ojol, dipengaruhi merger GOTO-Grab. Pembahasan melibatkan lintas kementerian untuk menjaga industri transportasi daring. [415] url asal
#perpres-ojol #merger-goto-grab #pemerintah-percepat-perpres #layanan-ojek-online #perpres-ojek-online #goto-gojek-tokopedia #grab-dan-goto #menteri-sekretaris-negara #pembahasan-perpres-ojol #penggabu
(Bisnis.Com - Ekonomi) 15/01/26 18:09
v/104726/
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah akan mempercepat proses Peraturan Presiden (Perpres) mengenai layanan ojek online (ojol). Sementara, Pemerintah menilai Perpres tersebut akan dipengaruhi oleh merger PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan Grab.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pihaknya akan mengecek keberlangsungan pembahasan mengenai Perpres ojol.
"Perpres ojol nanti aku cek dulu ya, karena kemarin diminta kepada teman-teman di Danantara untuk mempercepat prosesnya. Proses mergernya [GOTO-Grab], karena itu mempengaruhi perpresnya," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan dalam agenda pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan 1.200 rektor hingga guru besar di Istana Negara pada hari ini, Kamis (15/1/2025).
Sebagaimana diketahui, Perpres Ojol akan mengatur sejumlah aspek penting, termasuk pembagian komisi mitra pengemudi dan skema penggabungan antara dua raksasa aplikasi transportasi daring yakni Grab dan GOTO.
Terpisah, Prasetyo menjelaskan sejumlah kementerian dan lembaga ikut terlibat dalam pembahasan tersebut.
“Dalam hal ini macam-macam. Karena kemudian ada juga Danantara juga ikut terlibat di situ, karena ada proses korporasinya juga yang menjadi bagian dari yang dibicarakan,” katanya.
Prasetyo juga membenarkan bahwa isu penggabungan antara Grab dan GoTo menjadi bagian dari diskusi lintas kementerian.
“Ya salah satunya,” ujarnya saat dikonfirmasi mengenai isu merger. Ketika ditanya apakah benar Grab akan dibeli oleh GoTo, Prasetyo menjawab singkat dan mengamini.
Prasetyo menegaskan langkah merger GOTO dan Grab bukan untuk menciptakan monopoli, melainkan untuk menjaga keberlanjutan industri transportasi daring nasional.
Sebelumnya, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menekankan merger Grab dan GOTO harus memperhatikan aspek business-to-business (B2B). Sebab itu, nanti pihaknya bersama pemerintah akan terus melihat dan memantau prosesnya.
"Nantinya kami pasti akan support. Karena yang penting juga dari sisi commercial return harus ada dan kita harus juga menjaga itu, tetapi kita tentu mendengarkan masukan pemerintah itu pasti sangat baik,” jelas Pandu.
Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) ini mengaku hati-hati dalam memberikan pandangan soal merger GOTO dan Grab. Baginya, dua perusahaan ini adalah perusahaan transportasi digital yang terkemuka.
Sementara itu, GOTO memberikan klarifikasi bahwa hingga saat ini belum terdapat keputusan apapun mengenai aksi korporasi tersebut. Direktur Legal dan Group Corporate Secretary GoTo Gojek Tokopedia RA Koesoemohadiani menjelaskan hingga saat ini belum ada suatu keputusan ataupun kesepakatan terkait hal tersebut.
“Setiap langkah yang diambil oleh GoTo akan senantiasa patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi perusahaan publik, dengan tetap memprioritaskan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham serta menjaga kepentingan terbaik bagi mitra pengemudi, mitra UMKM, pelanggan, serta seluruh pemangku kepentingan,” kata Koesoemohadiani dalam keterangannya.
Merger GOTO dan Grab, Urun Tangan Pemerintah dan Potensi Monopoli
Isu penggabungan perusahaan atau merger antara aplikasi super PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Holdings Lbd atau Grab kembali mencuat. [1,433] url asal
#goto #saham-goto #grab #merger-grab-dan-goto #merger-goto-dan-grab
(Kompas.com - Money) 12/11/25 13:31
v/36259/
JAKARTA, KOMPAS.com - Isu penggabungan perusahaan atau merger antara aplikasi super PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Holdings Lbd atau Grab kembali mencuat.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara mengenai kabar penggabungan dua raksasa teknologi yakni Grab dan GoTo (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk).
Prasetyo membenarkan adanya rencana merger Grab dan GoTo, yang kini menjadi pembahasan pemerintah.
PEXELS/MIKHAIL NILOV Ilustrasi merger dan akuisisi, kesepakatan bisnis."Salah satunya," kata dia saat ditanya kebenaran isu penggabungan Grab dan GoTo, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dalam proses penggabungan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) direncanakan akan terlibat.
Prasetyo bilang, bentuk konkret dari penggabungan itu, apakah dalam skema merger atau akuisisi, masih dalam tahap pembahasan. Ia hanya memastikan bahwa keduanya akan digabung.
Menanggapi hal tersebut, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyatakan akan mengikuti arahan pemerintah terkait rencana penggabungan antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dan Grab.
“Kalau soal itu (penggabungan GoTo dan Grab) kita serahkan ke perusahaan masing-masing. Pemerintah juga sudah memberikan masukan, kita pasti ikuti,” kata dia udai pembukaan Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Pandu menegaskan Danantara akan mendengarkan arahan pemerintah sekaligus memantau proses bisnis antarperusahaan tersebut.
Ia menyebut hal terpenting dari potensi konsolidasi itu adalah menjaga hubungan business-to-business (B2B) yang sehat.
SHUTTERSTOCK/MANG KELIN Ilustrasi ojek online Gojek. Mitra pengemudi ojol Gojek akan mendapatkan THR 2025 berupa bonus hari raya jika memenuhi syarat tertentu.Rumor merger Grab dan GOTO, isu yang berulang
Rumor merger antara GOTO dan Grab sebenarnya bukan hal baru. Isu ini pertama kali berembus sejak Februari 2020.
Kabar merger ini bahkan jauh sebelum GOTO melantai di Bursa Efek Indonesia.
Kabar serupa sempat kembali muncul ke permukaan pada Februari 2024. Kini rumor tersebut semakin menguat sejak awal Februari 2025.
Banyak pihak mengatakan, merger di antara dua perusahaan teknologi tersebut akan melanggar regulasi anti monopoli.
Euromonitor International memproyeksikan, penggabungan Grab dan GOTO akan menguasai hampir 90 persen pangsa pasar di Singapura dan lebih dari 91 persen di Indonesia.
Merger Grab dan Goto rawan jadi monopoli
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy menilai merger antara Grab dan GOTO masih sulit terealisasi karena kompleksitas kepemilikan dan potensi pelanggaran regulasi anti monopoli.
Sebagai catatan, merger GOTO dan Grab berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Salah satu alasannya adalah BPI Danantara tidak memiliki kewenangan untuk memaksa para investor GOTO menyerahkan kepemilikannya.
Selain itu, bila merger benar terjadi, langkah tersebut berpotensi menabrak aturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena dapat menimbulkan dominasi pasar dan berujung pada praktik monopoli di sektor transportasi dan layanan digital.
SHUTTERSTOCK/JAVAISTAN Ilustrasi Grab Indonesia, mitra pengemudi Grab.Budi enggan merinci lebih jauh ketika diminta penjelasan soal potensi pelanggaran kebijakan KPPU.
Kendati begitu, ia menegaskan bahwa Gojek berpotensi menjadi pemain tunggal di pasar transportasi daring dan layanan pesan-antar di Indonesia, bila penggabungan dua entitas itu dilakukan.
Kondisi tersebut akan menciptakan situasi monopoli, dalam arti tidak ada lagi kompetitor besar yang mampu menandingi skala dan jangkauan bisnis Gojek.
Akibatnya, dominasi tersebut bisa mempengaruhi persaingan harga, kualitas layanan, serta pilihan konsumen di pasar digital nasional.
Di sisi pasar modal, Budi menilai skema buyout atau pembelian saham dalam proses merger juga tidak akan mudah.
Ia menilai kemungkinan terjadinya buyout dalam proses merger Grab dan GOTO bakal sangat bergantung pada harga yang disepakati.
Jika pembelian saham dilakukan di harga pasar saat ini, investor yang sebelumnya hanya menanggung unrealized loss atau kerugian di atas kertas akan mengalami realized loss, karena kerugiannya menjadi nyata setelah saham dijual.
Kendati demikian, jika pembelian dilakukan dengan mengacu pada harga perolehan awal seperti ketika Telkomsel dulu masuk sebagai investor GOTO, maka investor lain juga berhak menuntut perlakuan yang sama agar saham mereka dibeli di harga perolehan tersebut.
Hal inilah yang membuat skema buyout semacam itu kecil kemungkinannya untuk terjadi, karena akan memunculkan konsekuensi finansial yang kompleks bagi seluruh pemegang saham.
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.“Buy out kembali tergantung harga berapa? Kalau di harga pasar, artinya dari unrealized loss menjadi realized loss. Kalau dibeli PW (Private Placement) pada harga pembelian TLKM dulu, investor yang lain harus punya hak yang sama untuk minta PW beli dengan harga perolehan, ini kecil kemungkinannya,” ujar dia.
Pemerintah diminta tidak ikut campur merger Grab dan GOTO
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai langkah tersebut sudah keluar dari peran pemerintah.
“Langkah pemerintah itu sudah offside. Seharusnya pemerintah tidak perlu ikut campur dalam aksi korporasi yang dilakukan dua aplikator, apalagi sahamnya sebagian besar dikuasai investor asing,” ujar Trubus dalam keterangan tertulis.
Ia bahkan mencurigai adanya kepentingan tertentu di balik dorongan pemerintah tersebut.
“Saya curiga, jangan-jangan ada kepentingan tertentu sehingga pemerintah mendorong terjadinya merger ini. Saya menduga ada pihak yang diuntungkan jika merger Grab dan Gojek ini terjadi,” kata Trubus.
Trubus juga mengkritik rencana pelibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam aksi korporasi tersebut.
Menurut dia, karena sumber dana Danantara berasal dari dividen BUMN, penggunaan dana publik untuk menjadi pemegang saham di perusahaan hasil merger GOTO-Grab tidak tepat.
“Danantara berasal dari uang publik yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Aksi korporasi Grab dan GOTO tidak memberikan manfaat terhadap kepentingan publik secara luas. Jangan sampai uang publik dihambur-hamburkan. Kalau sumber dana Danantara bukan dari uang publik, bebas saja melakukan investasi,” kata dia.
"Kalau nanti investasi yang dilakukan Danantara di Grab dan GOTO mengalami kerugian, siapa yang akan bertanggung jawab? Namun jika menguntungkan, siapa yang akan menikmati keuntungan, sementara sebagian besar sahamnya dikuasai asing?” ujar dia.
Trubus mengingatkan agar pemerintah berhati-hati mengelola dana publik, mengingat sudah ada pengalaman buruk dari investasi BUMN di sektor digital.
Ia mencontohkan kasus dana publik yang hilang dalam investasi PT Telkom (melalui PT PINS Indonesia) di PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE), yang dinyatakan pailit.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung investasi Telkomsel di saham GOTO yang hingga kini masih membukukan potensi rugi besar.
Berdasarkan laporan keuangan Telkom, Telkomsel memiliki 89.125 lembar saham GOTO (sebelum stock split) dengan nilai 450 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,4 triliun pada saat harga saham Rp 375 per lembar.
Kini, harga saham GOTO berada di bawah Rp 100 per lembar.
“Sudah dapat dihitung berapa banyak uang publik yang hilang,” ujar Trubus.
GOTO dan Grab buka suara soal rencana merger
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) buka suara terkait rencana penggabungan dengan PT Grab Teknologi Indonesia (Grab).
Direktur Legal dan Group Corporate Secretary PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, R. A Koesoemohadiani mengatakan saat ini belum tercapai kesepakatan apapun terkait penggabungan tersebut.
"Terkait potensi transaksi antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dan Grab, GoTo menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada suatu keputusan ataupun kesepakatan terkait hal tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/10/2025).
Ia pun memastikan bahwa penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang direncanakan berlangsung pada 17 Desember 2025 mendatang, tidak berkaitan dengan rencana aksi korporasi apa pun.
Ketentuan dan peraturan mengenai RUPSLB akan disampaikan pada pemanggilan resmi yang akan dilakukan pada 25 November 2025.
Menurut dia, sebagai perusahaan publik, penyelenggaraan RUPSLB merupakan bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran.
"Agenda RUPSLB ini tidak berkaitan dengan rencana aksi korporasi apa pun dan informasi lebih lanjut akan disampaikan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku pada saat perseroan melakukan pemanggilan RUPSLB pada tanggal 25 November 2025," ucap dia.
Pada pertengahan tahun ini, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, memberikan respons saat ditanya soal kelanjutan kabar yang pernah beredar mengenai merger antara PT Grab Teknologi Indonesia (Grab Indonesia) dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Menurut Tirza, sebelumnya sudah ada pernyataan resmi dari Grab mengenai isu tersebut. Sampai akhir Juli 2025 ini, belum ada kabar pernyataan terbaru dari Grab.
"Kami tidak ada pernyataan baru dan semua aksi korporasi sudah ada tupoksi dari setiap institusi ya. Jadi silakan bertanya langsung kepada institusinya," ujar Tirza usai menghadiri acara Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Menyapa di Kantor BRIN Pusat, Jakarta, Senin (28/7/2025).
Sementara itu, merujuk pernyataan resminya tertanggal 5 Juni 2025, Grab Holdings menyatakan pihaknya dan GoTo belum terlibat dalam diskusi apa pun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Saham GOTO Berpeluang Menguat di Tengah Rencana Merger dengan Grab
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan pasar modal menyusul kabar rencana penggabungan (merger) dengan Grab. [785] url asal
#goto #harga-saham-goto #saham-goto #merger-grab-dan-goto #merger-goto-dan-grab
(Kompas.com - Money) 10/11/25 13:38
v/33740/
JAKARTA, KOMPAS.com - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan pasar modal menyusul kabar rencana penggabungan (merger) dengan PT Grab Teknologi Indonesia (Grab.
Merger GoTo dan Grab disebut telah dibahas di internal pemerintah pusat, bahkan dalam pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto.
Rencana penggabungan dua perusahaan raksasa teknologi ini memunculkan optimisme baru di kalangan investor pasar modal terhadap prospek bisnis GOTO, terutama memperkuat posisi perusahaan di sektor ekonomi digital dan transportasi daring alias online.
SHUTTERSTOCK/MANG KELIN Ilustrasi ojek online Gojek. Mitra pengemudi ojol Gojek akan mendapatkan THR 2025 berupa bonus hari raya jika memenuhi syarat tertentu.Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan penguatan harga saham GOTO saat ini masih sejalan dengan analisis teknikal yang sebelumnya disampaikan.
Ia memperkirakan harga saham GOTO berpotensi menguji rata-rata pergerakan (MA) 200 di level Rp 68 per saham, yang menjadi titik penting untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.
“Penguatan GOTO masih cenderung in line dengan analisis teknikal yang kami sampaikan pada 28 Oktober (2025) lalu, dimana area konsolidasi sudah tertembus dan diperkirakan masih berpeluang menguat. Saat ini, posisi GOTO kami perkirakan berpeluang menguji MA200 di level 68,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Senin (10/11/2025).
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai momentum merger telah memberikan dorongan sentimen positif terhadap saham GOTO. Ia merekomendasikan accumulative buy untuk saham GOTO dengan target harga (TP) Rp 74.
Menurutnya, kenaikan harga saham GOTO dalam beberapa hari terakhir merupakan refleksi dari ekspektasi pasar terhadap potensi sinergi besar antara dua entitas digital tersebut.
SHUTTERSTOCK/TY LIM Ilustrasi Grab yang dikabarkan akan merger dengan Gojek Tokopedia (GOTO).Saat ini proses merger GOTO dan Grab masih dalam tahap kajian mendalam, terutama terkait dengan bentuk dan skema penggabungan usaha.
Meski demikian, kabar pembahasan tersebut telah mencapai level strategis menunjukkan keseriusan kedua perusahaan untuk memperkuat posisi mereka di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
“Karena memang kebenarannya ada. Kebenarannya itu seperti ini, bahwa terdapat pembahasan yang serius antara GOTO dengan Grab misalnya ya, atau Grab dengan GOTO, tentu dalam hal merger, ya kan? Tapi memang prosesnya masih dikaji, begitu kan?” papar Nafan.
Jika merger benar-benar terwujud, penggabungan antara GOTO dan Grab berpotensi menciptakan entitas teknologi besar dengan sinergi yang meliputi layanan transportasi daring, pembayaran digital, hingga e-commerce.
Para pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada perkembangan rencana merger. Mereka menantikan kejelasan mengenai seperti apa bentuk kerja sama strategis itu akan diwujudkan dan kapan realisasinya akan dimulai.
Harapannya, proses kajian yang sedang berlangsung dapat segera menghasilkan keputusan konkret dengan target waktu yang jelas, mengingat penggabungan dua perusahaan besar di sektor ekonomi digital ini berpotensi membawa dampak signifikan terhadap industri teknologi dan pasar modal Indonesia.
“Jadi sebenarnya itu para pelaku pasar juga menantikan terkait dengan proses mergernya itu seperti apa? dan juga berharap sekali bahwasannya rencana strategis tersebut juga bisa harus segera direalisasikan. Karena yang namanya proses yang dikaji tersebut pasti juga harus ada penentuan target waktunya dalam hal merger di antara kedua perusahaan raksasa ekonomi tersebut,” paparnya.
Kompas.com/Dian Erika Mensesneg Prasetyo Hadi usai rapat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (22/10/2025).Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, sebelumnya mengaku bahwa merger Grab dan GoTo kini menjadi pembahasan pemerintah.
"Salah satunya," kata dia saat ditanya kebenaran isu penggabungan Grab dan GoTo, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dalam proses penggabungan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) direncanakan akan terlibat.
Prasetyo mencatat, bentuk konkret dari penggabungan itu, apakah dalam skema merger atau akuisisi, masih dalam tahap pembahasan. Ia hanya memastikan bahwa keduanya akan digabung.
“Kira-kira begitu (Danantara terlibat). Rencananya begitu (Grab dibeli Goto)," ungkapnya.
Ia menuturkan, tidak ada batas waktu (deadline) yang spesifik dalam rencana ini, meski begitu pemerintah akan bekerja secepatnya untuk menyelesaikan pembahasan tersebut.
"Enggak ada (deadline). Secepatnya kita kalau kerja kan secepatnya ya," kata Prasetyo.
Menurutnya, tujuan pemerintah terlibat dalam penggabungan kedua perusahaan layanan transportasi daring dan pesan-antar makanan ini, adalah untuk memastikan kelangsungan operasi kedua perusahaan.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Pemerintah Ungkap Rencana Penggabungan Grab-GoTo
Pemerintah membenarkan adanya rencana penggabungan Grab dan GoTo, yang kini menjadi pembahasan pemerintah. [275] url asal
#jakarta #merger-grab-dan-goto #penggabungan-grab-dan-goto
(Kompas.com - Money) 08/11/25 13:14
v/32121/
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi buka suara mengenai kabar penggabungan dua raksasa teknologi yakni Grab dan GoTo (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk).
Prasetyo membenarkan adanya rencana penggabungan Grab dan GoTo, yang kini menjadi pembahasan pemerintah.
"Salah satunya," kata dia saat ditanya kebenaran isu penggabungan Grab dan GoTo, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dalam proses penggabungan tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) direncanakan akan terlibat.
Prasetyo bilang, bentuk konkret dari penggabungan itu, apakah dalam skema merger atau akuisisi, masih dalam tahap pembahasan. Ia hanya memastikan bahwa keduanya akan digabung.
"Kira-kira begitu (Danantara terlibat). Rencananya begitu (Grab dibeli Goto)," ungkapnya.
Kompas.com/Dian Erika Mensesneg Prasetyo Hadi usai rapat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (22/10/2025)."Enggak ada (deadline). Secepatnya kita kalau kerja kan secepatnya ya," kata Prasetyo.
Menurutnya, tujuan pemerintah terlibat dalam penggabungan kedua perusahaan layanan transportasi daring dan pesan-antar makanan ini, adalah untuk memastikan kelangsungan operasi kedua perusahaan.
Ia bilang, perusahaan ojek online (ojol) memberikan layanan yang sangat vital dan menciptakan banuak lapangan kerja, yang kini diakui sebagai pahlawan ekonomi yang menggerakkan roda perekonomian.
"Bagaimanapun perusahaan ini adalah pelayanan yang di situ tercipta tenaga kerja saudara-saudara kita, yang menjadi mitra itu jumlahnya cukup besar. Dan sekarang kita tersadar bahwa ojol adalah pahlawan ekonomi, menggerakkan ekonomi. Jadi tujuan utamanya arahnya ke situ," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56