JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan biaya medis atau inflasi medis Indonesia disebut sebagai yang tertinggi di Asia.
Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana mengatakan, peningkatan biaya medis merupakan tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi.
Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi layanan kesehatan.Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya layanan kesehatan, mengingat sebagian komponen obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor.
"Apa respons industri terhadap inflasi medis? Nah jawabannya adalah memang repricing. Jadi inflasi biaya medis menyebabkan penyesuaian premi di asuransi kesehatan, tidak hanya di Allianz, namun seluruh pelaku di industri asuransi," ujar Rina dalam Media Workshop Allianz: Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis, Rabu (17/6/2026).
Laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits mencatat, inflasi medis di Indonesia diprediksi mencapai 17,8 persen, jauh melampaui proyeksi inflasi umum sebesar 2,5 persen.
Inflasi medis di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia, atau melampaui rata-rata kawasan sebesar 12,5 persen.
Dalam laporan yang sama, inflasi medis di Indonesia tercatat sebesar 15,9 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 17,9 persen pada 2025.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi layanan kesehatan.Rina menambahkan, ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini.
Lebih dari itu, perusahaan asuransi perlu memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang
Repricing industri asuransi, jaga perlindungan nasabah
Rina menjelaskan, penyesuaian di industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kecukupan manfaat dan keberlanjutan perlindungan.
Hal ini bermanfaat agar nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan di tengah dinamika biaya medis yang terus berubah.
Menurut dia, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Penyakit kritis dapat berdampak tidak hanya pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta tindak lanjut medis dalam jangka panjang.
"Tanpa persiapan finansial yang memadai, satu kejadian medis serius seperti penyakit kritis itu mampu mengganggu stabilitas keuangan keluarga," ucap dia.
Pasalnya, biaya kesehatan kerap kali tidak hanya berbentuk tindakan seperti operasi, tetapi juga biaya rawat jalan, pengobatan jangka panjang, hingga pemeriksaan medis lanjutan.
Asuransi sebagai bagian dari perencanaan keuangan
Ke depan, Rina menyebut, tantangan industri asuransi bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan.
Saat risiko kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi semakin penting sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga.
SHUTTERSTOCK/VALERI LUZINA Ilustrasi asuransi kesehatan."Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dan kesiapan yang lebih baik agar masyarakat dapat terus memperoleh akses pada layanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa mengorbankan kestabilan finansial di masa depan," kata Rina.
Asuransi pada dasarnya berfungsi sebagai mekanisme risk pooling atau penggabungan berbagai risiko ke dalam satu wadah yang sama.
Semakin banyak nasabah yang bergabung, premi akan semakin stabil dan mendukung keberlanjutan perlindungan jangka panjang bagi seluruh peserta.
Sepanjang tahun 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp 6,3 triliun, dengan Rp 3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan.
Sebagai gambaran, klaim kesehatan di Allianz Indonesia pada 2023 berada di kisaran Rp 2,9 triliun.
Dari sisi industri, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan, rata-rata klaim kesehatan per orang dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan.
Pada 2023, rata-rata klaim kesehatan per orang berada di kisaran Rp 27 juta.
Angka itu meningkat menjadi Rp 48,4 juta pada 2025.
Secara umum, AAJI mencatat klaim asuransi kesehatan meningkat sekitar 9,1 persen dengan total nilai Rp 26,74 triliun sepanjang 2025.
Secara total, industri asuransi jiwa membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp 146,73 triliun sepanjang 2025.
Nilai tersebut diberikan kepada sekitar 9,59 juta penerima manfaat.
Shutterstock/Hananeko_Studio Ilustrasi penyakit jantung, penyakit kritis.Penyakit kritis serang anak muda, tetapi usia harapan hidup naik
Kondisi yang terjadi di industri asuransi jiwa tecermin dari temuan pada industri kesehatan.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bayushi Eka Putra menjelaskan, penyakit tidak menular kini menyumbang 75 persen dari total kematian di Indonesia.
"Penyakit kardiovaskular ini merenggut hampir 800.000 nyawa per tahun," ucap dia.
Ia bilang, penyakit tidak menular bukan lagi menjadi penyakit orang tua.
Pasalnya, penyakit ini sekarang paling sering muncul pada masyarakat berusia 30-40 tahun.
Uniknya, di tengah peningkatan penyakit jantung pada usia muda, angka harapan hidup orang Indonesia justru meningkat.
Saat ini, angka harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 74 tahun.
"Rahasianya ada di teknologi medis yang makin meningkat. Jadi alat-alat canggih, alat medis yang baru itu terbukti meningkatkan hingga 35 persen kenaikan usia harapan hidup manusia modern," ungkap dia.
Hal ini membawa konsekuensi yang menjadikan biaya kesehatan semakin tinggi.
Belum lagi, faktor seperti inflasi medis yang mencapai 17,8 persen turut mendorong biaya kesehatan naik.
"Inflasi medis itu tidak bisa kita tekan secara mudah, karena rumah sakit wajib beli alat-alat teknologi yang baru. Teknologi yang terbaru dengan kemampuan yang terbaru supaya apa? Supaya peranannya makin bagus," ucap dia.
Inflasi medis bergerak tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan gaji rata-rata pekerja.
"Makanya kalau kita hanya mengandalkan tabungan biasa itu sangat berbahaya, karena secara cost, saya sudah melihat sendiri bagaimana kondisinya di lapangan," ucap dia.
Dua lapis perlindungan risiko kesehatan
Untuk itu, Bayushi mengimbau masyarakat untuk memiliki gaya hidup sehat.
Kebiasaan hidup sehat dapat mengurangi risiko penyakit jantung hingga 80 persen.
Selain itu, masyarakat juga perlu memikirkan terkait lapisan perlindungan kedua yakni proteksi medis seperti BPJS Kesehatan atau asuransi swasta.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi asuransi kesehatan."Asuransi swasta fungsi sebagai akselerasi agar pasien bisa langsung dapat teknologi terbaik, tidak terbatas misalnya pada tindakan yang standar," tutup dia.
Sebagai informasi, Allianz Indonesia sendiri mencatat terjadi peningkatan pada rata-rata biaya per kasus pada beberapa penyakit pada periode 2020-2025.
Rata-rata biaya penyakit jantung meningkat 219 persen, diikuti oleh peningkatan biaya stroke hingga 169 persen.
Daftar penyakit lain yang juga mengalami kenaikan biaya adalah kanker yang mencapai 179 persen, DBD meningkat 183 persen, dan typhoid meningkat 116 persen.
Kenaikan biaya kesehatan juga terlihat dari meningkatnya pengeluaran kesehatan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Data World Bank menunjukkan pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia meningkat dari sekitar 118 dollar AS pada 2019 menjadi sekitar 132 dollar AS pada 2023.
Angka tersebut setara Rp 2,09 juta hingga Rp 2,34 juta dengan asumsi kurs Rp 17.794 per dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang