#30 tag 24jam
BTN JAKIM 2026 Pecah Rekor, 45.000 Pelari Bawa Jakarta ke Panggung Maraton Dunia
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN telah menuntaskan penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon atau BTN Jakim 2026 yang berlangsung selama dua hari pada 13–14 Juni 2026. [793] url asal
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN telah menuntaskan penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon atau BTN Jakim 2026 yang berlangsung selama dua hari pada 13–14 Juni 2026.
Memasuki hari kedua sekaligus penutupan kategori Marathon (42K) dan Half Marathon (21K), digelar dengan diikuti puluhan ribu pelari dari dalam maupun luar negeri.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Jakarta yang telah mendukung penyelenggaraan BTN Jakim 2026 sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung aman dan lancar.
“Hari ini BTN Jakim berjalan dengan 45.000 pelari yang luar biasa. Mudah-mudahan ini menjadi kalender kegiatan setiap tahun,” ujar Rano usai Flag Off BTN Jakarta International Marathon di Monas, Jakarta, Minggu (14/6).
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai penyelenggaraan BTN JAKIM 2026 menunjukkan peran olahraga yang tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan sport tourism dan industri olahraga nasional.
Menurut Erick, ajang yang diikuti 45.000 peserta tersebut turut menciptakan dampak ekonomi signifikan melalui pergerakan sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi pendukung lainnya. Ia berharap manfaat ekonomi dari penyelenggaraan event olahraga berskala besar dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Erick juga mengungkapkan Indonesia bersama sejumlah negara Asia Tenggara tengah menjajaki pembentukan sirkuit marathon regional demi meningkatkan daya saing olahraga lari. Sekaligus memperkuat posisi kawasan sebagai destinasi penyelenggaraan ajang lari internasional.
“Kalau di dunia ada Boston Marathon dan Tokyo Marathon, kenapa Asia Tenggara tidak punya event bersama? Mudah-mudahan pada 2027 atau 2028 Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filipina bisa memiliki sirkuit marathon Asia Tenggara yang menjadi ajang bersama bagi para pelari terbaik di kawasan,” katanya.
Adapun BTN Jakim 2026 diikuti sebanyak lebih dari 45.000 peserta, yang terdiri atas sekitar 5.500 pelari kategori 5K, 10.000 pelari kategori 10K, 21.300 pelari kategori Half Marathon (21K), dan 8.200 pelari kategori Marathon (42K). Ajang ini juga diikuti 1.012 pelari internasional, menjadikan BTN Jakim sebagai salah satu ajang marathon dengan partisipasi pelari mancanegara terbesar di Indonesia.
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Danny Oskaria menegaskan komitmen Danantara dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan olahraga yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Dampak ekonominya juga besar, dan kami berharap Jakarta International Marathon dapat berkembang menjadi salah satu major marathon di masa depan,” ujar Danny.
Pelari Kenya dan Ethiopia Dominasi Kategori Open Marathon
Persaingan di kategori Open Marathon BTN JAKIM 2026 didominasi pelari asal Kenya dan Ethiopia. Pada nomor Open Marathon Putra, Kennedy Njogu Muhia keluar sebagai juara setelah membukukan waktu 2 jam 16 menit 23 detik.
Kennedy mengaku kondisi cuaca menjadi tantangan terbesar selama mengikuti BTN Jakarta International Marathon 2026. Meski demikian, pelari asal Kenya tersebut mampu mempertahankan performanya berkat persiapan yang telah dilakukan sejak awal tahun.
Kennedy mengatakan telah menjalani program latihan intensif sejak Januari usai mengikuti Hong Kong Marathon. Menurut dia, suhu udara yang panas dan tingkat kelembapan yang tinggi menjadi tantangan utama di Jakarta. Kendati demikian, ia mengaku bangga dapat meraih gelar juara pada ajang marathon terbesar di Indonesia tersebut.
“Berkat latihan yang disiplin bersama pelatih dan rekan satu tim, saya akhirnya bisa meraih kemenangan di Jakarta,” ujar Kennedy.
Posisi kedua ditempati sesama pelari Kenya, Ezekiel Kemboi Omullo, dengan catatan waktu 2:16:43, sementara pelari Ethiopia Abdi Asefa Kebede finis di peringkat ketiga dengan waktu 2:20:04.
Di kategori Open Marathon Putri, gelar juara diraih pelari Kenya Alemnesh Herpha Guta yang mencatatkan waktu 2:36:54. Meseret Dinke Meleka dari Ethiopia menempati posisi kedua dengan waktu 2:37:50, sedangkan peringkat ketiga diraih pelari Kenya Eunice Nyawira Muchiri dengan catatan 2:39:17.
Robi Syanturi Juara Marathon Nasional Putra
Sementara itu, pada kategori Marathon Nasional Putra, Robi Syanturi berhasil menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 2 jam 27 menit 58 detik. Ia unggul atas Nofeldi Petingko yang finis di posisi kedua dan Sedilta Pilon Nubatonis di peringkat ketiga.
Sementara itu, gelar juara Marathon Nasional Putri diraih Isania Tarigan dengan waktu 3:08:47, diikuti Cilpia Manalu dan Sharfina Sheila Rosada.
Robi mengatakan torehan itu memiliki makna tersendiri karena tetap dapat menjalankan ibadah di tengah perlombaan. Ia mengungkapkan sempat menghentikan lari selama beberapa menit untuk menunaikan salat Subuh sebelum kembali melanjutkan lomba.
Menurut Robi, konsistensi dalam berlatih menjadi faktor utama yang mengantarkannya meraih gelar juara BTN Jakarta International Marathon 2026. Ia juga mengapresiasi dukungan penyelenggara yang dinilainya membuat para pelari dapat mengikuti lomba dengan baik dan nyaman.
“Rahasianya latihan, istirahat, dan ibadah. Saya sudah berlatih sekitar sepuluh tahun. Rute BTN Jakim cukup menantang, tetapi justru menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi para pelari. Saya juga senang melihat penyelenggaraannya berjalan aman dan lancar,” ujarnya.
Kolaborasi antara BTN, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Danantara Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan semakin memperkuat posisi BTN Jakim sebagai ajang lari berkelas dunia sekaligus memperkuat ekosistem sport tourism dan industri olahraga nasional.
Jangan Asal Lari, Ini Cek Kesehatan yang Perlu Dilakukan Sebelum Ikut Maraton
Sebelum ikut maraton, lakukan cek kesehatan untuk cegah risiko jantung dan cedera. Penting bagi pelari muda dan di atas 35 tahun dengan faktor risiko. [531] url asal
#lari-maraton #kesehatan-maraton #persiapan-maraton #risiko-kesehatan #dokter-olahraga #pemeriksaan-kesehatan #gangguan-jantung #cedera-berlari #pelari-muda #pelari-berusia-35-tahun #faktor-risiko-kard
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/04/26 02:10
v/202345/
Bisnis.com, JAKARTA - Mengikuti lari maraton kini semakin populer sebagai gaya hidup sehat sekaligus ajang menantang diri. Namun, di balik euforia tersebut, ada risiko kesehatan yang kerap diabaikan jika persiapan tidak dilakukan dengan matang.
Dokter Spesialis Olahraga, Maria Lestari, menyebut lari merupakan salah satu olahraga yang relatif mudah dilakukan dan bisa dijalani oleh hampir semua orang. Namun, ketika sudah masuk ke kategori lari jarak jauh seperti maraton, dibutuhkan kesiapan fisik dan mental yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
Selain fokus pada jadwal latihan, ada satu hal yang sering luput dari perhatian para pelari, yakni pemeriksaan kesehatan. Padahal, tanpa evaluasi medis yang tepat, risiko seperti gangguan jantung hingga cedera saat berlari jarak jauh dapat meningkat.
"Ada dua pendekatan terkait pemeriksaan medis sebelum maraton. Pertama untuk pelari muda tanpa risiko dan pelari di atas usia 35 tahun," katanya kepada Bisnis, Jumat, (24/4/2026)
Untuk pelari muda yang tidak memiliki keluhan maupun faktor risiko, pemeriksaan kesehatan biasanya dimulai dengan anamnesis atau wawancara medis secara menyeluruh. Dokter akan menanyakan beberapa hal penting, seperti riwayat pingsan saat berolahraga, adanya nyeri dada ketika beraktivitas, jantung yang berdebar tidak teratur, serta riwayat henti jantung mendadak atau kematian mendadak di usia di bawah 50 tahun dalam keluarga.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, termasuk pengecekan tekanan darah serta penilaian kondisi sistem muskuloskeletal. Jika seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi normal dan jarak lomba masih sesuai dengan kemampuan latihan yang dimiliki, maka umumnya pelari dinilai aman untuk mengikuti lomba dengan tetap diberikan edukasi yang tepat.
Untuk pelari berusia 35 tahun ke atas atau mereka yang memiliki faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, maupun riwayat penyakit jantung dalam keluarga, pemeriksaan yang dilakukan biasanya lebih lengkap dibanding pelari muda tanpa risiko.
Dokter Maria menyebut evaluasi awalnya tetap mencakup anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik, pengukuran tekanan darah, serta penilaian kondisi sistem muskuloskeletal. Namun, pada kelompok ini pemeriksaan juga perlu dilengkapi dengan EKG istirahat 12 sadapan untuk melihat aktivitas listrik jantung.
Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan laboratorium dasar seperti profil lipid, kadar gula darah, serta fungsi ginjal guna memastikan kondisi tubuh benar-benar aman sebelum menjalani aktivitas lari jarak jauh seperti maraton.
“Guideline ESC 2020 tentang sports cardiology serta beberapa konsensus Asia Pasifik menekankan bahwa tujuan utama pre-participation examination (PPE) adalah untuk mendeteksi dini penyakit jantung yang berisiko memicu henti jantung saat berolahraga, terutama penyakit arteri koroner pada usia di atas 35 tahun serta kelainan jantung bawaan atau aritmia pada usia yang lebih muda,” imbuhnya.
Namun, dokter Maria menyebut meski sudah dilakukan, publik perlu memahami bahwa proses screening bukan berarti menghilangkan risiko secara 100 persen. Pemeriksaan ini, katanya, lebih dimaksudkan untuk menurunkan risiko kejadian yang tidak diinginkan serta membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum mengikuti event lari jarak jauh.
Dokter Maria mengatakan seiring dengan semakin populernya olahraga lari, tidak sedikit orang yang mengabaikan aspek-aspek penting dalam persiapannya. Kondisi ini membuat kabar kasus pelari yang mengalami kolaps, bahkan hingga meninggal dunia lebih sering terdengar dalam sejumlah event lari dalam beberapa tahun terakhir.
Padahal, berbagai risiko tersebut sebenarnya dapat diminimalkan jika persiapan dilakukan secara lebih menyeluruh. Tidak hanya fokus pada kesiapan fisik melalui latihan, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan melalui pemeriksaan medis yang memadai sebelum mengikuti ajang lari.
Panduan Pola Makan Ideal untuk Pelari Marathon Agar Gizi Tetap Terpenuhi
Pemenuhan gizi yang tepat, seperti karbohidrat, protein, dan lemak sehat, penting bagi pelari maraton untuk mengoptimalkan performa dan mencegah cedera. [579] url asal
#maraton #pelari-maraton #gizi-pelari #nutrisi-maraton #karbohidrat-pelari #protein-pelari #lemak-sehat-pelari #vitamin-pelari #mineral-pelari #hidrasi-pelari #suplemen-pelari #carbo-loading #strategi
(Bisnis.Com - Terbaru) 18/12/25 11:10
v/77072/
Bisnis.com, JAKARTA - Pemenuhan gizi merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan performa pelari marathon, terutama sejak masa persiapan hingga hari perlombaan.
Kebutuhan nutrisi pelari tidak dapat disamakan dengan orang pada umumnya. Proses latihan yang berlangsung selama berbulan-bulan menuntut penerapan strategi makan yang tepat dan berkelanjutan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Mayapada Hospital Kuningan, Oki Yonatan Oentiono, menjelaskan bahwa pola makan ideal bagi pelari marathon selama masa persiapan perlu menitikberatkan pada asupan karbohidrat kompleks, protein untuk pemulihan otot, serta lemak sehat. Porsi makan pun harus disesuaikan dengan intensitas latihan.
“Semakin berat latihannya, semakin besar kebutuhan energi. Konsistensi jauh lebih penting dibandingkan pola makan ekstrem. Tubuh perlu dibiasakan menerima jenis makanan yang sama seperti saat menjalani latihan panjang,” tuturnya.
Untuk komposisi harian, karbohidrat berperan sebagai sumber energi utama dengan porsi sekitar 55–65 persen dari total kalori. Asupan protein dianjurkan sebesar 1,2–1,6 gram per kilogram berat badan per hari, sementara lemak tak jenuh berada di kisaran 20–30 persen. Selain itu, pelari juga memerlukan vitamin dan mineral penting seperti zat besi, vitamin D, kalsium, magnesium, serta antioksidan yang berasal dari buah dan sayuran berwarna.
Terkait kebutuhan kalori, perhitungannya dimulai dari Basal Metabolic Rate (BMR) yang dikalikan dengan tingkat aktivitas untuk menghasilkan Total Energy Expenditure (TEE). Penggunaan kalkulator BMR/TEE atau pengukuran komposisi tubuh dapat membantu menentukan kebutuhan masing-masing individu.
Pelari yang berlatih 1–2 jam per hari umumnya membutuhkan sekitar 2.500–3.500 kkal, bergantung pada berat badan, usia, jenis kelamin, dan intensitas latihan. Pemantauannya dapat dilihat dari performa, tingkat kelelahan, serta kestabilan berat badan.
Pada hari perlombaan, strategi makan perlu dibuat lebih terarah. Pelari disarankan mengonsumsi sarapan tinggi karbohidrat dan mudah dicerna, seperti roti tawar, oatmeal, pisang, atau minuman olahraga.
Selama berlari, tubuh memerlukan asupan 30–60 gram karbohidrat per jam yang dapat diperoleh dari gel, gummy, atau minuman isotonik. Setelah melewati garis finis, kombinasi karbohidrat dan protein menjadi penting untuk mempercepat proses pemulihan otot.
Salah satu kendala yang kerap muncul pada hari-H adalah gangguan pencernaan. Kondisi ini umumnya terjadi karena pelari mencoba makanan atau gel baru yang belum pernah dikonsumsi sebelumnya, atau akibat asupan serat dan lemak berlebihan menjelang lomba.
“Kuncinya adalah train the gut, semua makanan dan gel yang akan digunakan saat lomba harus diuji coba saat latihan, serta hindari makanan tinggi serat, pedas, atau berminyak dalam 24 jam sebelum lomba,” jelasnya.
Hidrasi juga memegang peranan penting. Kehilangan cairan sebesar 2 persen dari berat badan saja dapat berdampak pada penurunan performa. Oleh karena itu, pelari perlu minum sesuai rasa haus dan menjaga keseimbangan elektrolit, khususnya natrium, untuk mencegah kram maupun hiponatremia.
Overhidrasi dapat terjadi jika mengonsumsi air berlebihan tanpa elektrolit, sehingga kadar natrium dalam darah menurun. Minuman isotonik umumnya cukup untuk menjaga keseimbangan cairan selama lomba.
Sementara itu, untuk penggunaan suplemen, sebaiknya memilih yang memiliki bukti ilmiah dapat membantu meningkatkan fokus dan performa, seperti kafein, elektrolit, multivitamin bila asupan harian kurang, serta creatine bagi sebagian pelari yang membutuhkan daya tahan tambahan.
Namun, suplemen tidak dapat menggantikan makanan utama dan penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing atlet.
Menjelang perlombaan, strategi carbo-loading juga perlu dilakukan sekitar 2–3 hari sebelumnya dengan meningkatkan porsi karbohidrat hingga kurang lebih 70 persen dari total kalori. Langkah ini bertujuan memaksimalkan cadangan glikogen agar pelari mampu mempertahankan kecepatan lebih lama.
Dengan pemenuhan gizi yang tepat, pelari maraton dapat mengoptimalkan performa sekaligus menekan risiko cedera dan kelelahan berlebih. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, pemantauan kebutuhan individu, serta kedisiplinan menjalankan strategi nutrisi sejak masa latihan hingga hari perlombaan.
Pemanasan Global Jadi Tantangan Baru bagi Peserta Maraton Global
Berolahraga dalam suhu yang lebih tinggi memberikan tekanan lebih besar pada tubuh, terutama dalam kelembapan tinggi. Dalam hal ini, strategi hidrasi atlet menjadi semakin krusial. [1,004] url asal
#pemanasan-global #cuaca-ekstrem #lari-maraton #give-me-perspective #ekonomi-karbon #perubahan-iklim
(Katadata - Ekonomi Hijau) 04/11/25 16:25
v/27190/
Para pelari menghadapi tantangan yang menakutkan saat mereka berdiri di garis start maraton. Kini, mereka harus menghadapi hambatan baru: pemanasan global.
Sebuah studi baru menyatakan kenaikan suhu di seluruh dunia akan membuat para atlet elite semakin sulit untuk memecahkan rekor dunia maraton. Para pelari rekreasi juga bakal sulit mencapai target waktu mereka.
Dari 221 balapan yang dianalisis dalam laporan Climate Central yang dirilis pekan lalu, 86% di antaranya kemungkinan besar tidak akan memiliki kondisi balapan optimal bagi para pelari pada tahun 2045. Termasuk di antaranya adalah New York City Marathon yang digelar Minggu (2/11) lalu dan enam maraton besar lainnya di seluruh dunia — London, Berlin, Tokyo, Chicago, Boston, dan Sydney.
Bagi para pelari, konsekuensi berlari dalam kondisi panas bisa sangat ekstrem.
“Kami telah melihat berulang kali bagaimana atlet pingsan akibat dehidrasi dan kelelahan karena panas selama balapan dan membutuhkan bulan-bulan untuk pulih,” kata pelari jarak jauh Skotlandia Mhairi Maclennan kepada CNN Sports.
“Hal ini memiliki dampak yang sangat signifikan pada kekentalan darah Anda, seberapa cepat tubuh Anda dapat pulih, tingkat hidrasi Anda selama berhari-hari, serta kemampuan Anda untuk berlatih setelah pengalaman seperti itu, yang kemudian dapat menunda pencapaian dan tujuan lain yang Anda kejar.”
Menurut studi tersebut, suhu optimal untuk pelari maraton pria elite adalah 4 derajat Celsius dan 9 derajat Celsius untuk pelari wanita elite.
Tahun ini, Tokyo Marathon memiliki peluang 69% untuk suhu ideal pada hari balapan bagi atlet pria elite. Namun, peluang tersebut diperkirakan akan turun menjadi 57% dalam 20 tahun. Peluang Boston Marathon diperkirakan akan turun dari 61% menjadi 53% untuk kategori yang sama dalam periode waktu yang sama, sementara London akan turun dari 22% menjadi 17%.
Bagi atlet wanita elite, kemungkinan kondisi optimal juga diperkirakan akan menurun di lima dari tujuh maraton besar pada tahun 2045. Peluang kondisi optimal pada Maraton Sydney dan Berlin masing-masing berkurang sebesar 10% dan 11%.
Menurut data dari badan pemantauan iklim Copernicus, 2024 adalah tahun terpanas dalam catatan dengan 1,6 derajat Celsius lebih panas daripada periode praindustri. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya yang ditetapkan pada 2023.
Berolahraga dalam suhu yang lebih tinggi memberikan tekanan lebih besar pada tubuh, terutama dalam kelembapan tinggi. Dalam hal ini, strategi hidrasi atlet menjadi semakin krusial.
Selama Berlin Marathon pada bulan September, suhu mencapai 24 derajat Celsius, yang merupakan suhu yang tidak biasa hangat untuk musim tersebut. Sementara itu, Tokyo Marathon dan London Marathon mengalami kenaikan suhu di atas 20 derajat Celsius.
Suhu yang Lebih Hangat Membuat Atlet Sulit Capai Rekor Pribadi
Menjelang maraton tahun ini di Berlin, panitia mengatakan suhu yang lebih hangat akan “membuat atlet lebih sulit untuk mencapai rekor pribadi”. Panitia menyarankan para pelari untuk “mengalihkan fokus dari mengejar rekor dan sebaliknya menikmati atmosfer unik sepanjang rute.” Mereka juga memberikan saran tentang hidrasi, strategi pendinginan, pakaian, dan pemulihan.
“Beberapa suhu ekstrem yang dialami di Maraton Berlin dan Tokyo 2025 mendorong suhu jauh melampaui kondisi optimal untuk performa puncak,” kata Maclennan, yang menjadi pelari wanita Inggris dengan peringkat tertinggi di London Marathon tahun lalu dengan waktu 2:29:15.
“Itu sulit karena pada akhirnya, olahraga adalah bisnis, dan menghasilkan pendapatan dari penonton. Jika penonton datang untuk menyaksikan pertunjukan yang cepat dan hal itu tidak terjadi karena perubahan iklim, itu menjadi masalah bagi sektor ini.”
Maclennan, yang tinggal dan berlatih di iklim yang seringkali dingin di Skotlandia, mengatakan berlari di cuaca panas selalu menjadi tantangan baginya. Dia menjelaskan bagaimana atlet elite yang berkompetisi di kondisi panas mungkin mengikuti kamp latihan di cuaca panas, melakukan latihan di kamar panas, atau mandi sauna dan air panas langsung setelah latihan untuk menjaga suhu tubuh tetap tinggi dalam periode yang lebih lama.
Mencari Cuaca yang Mendukung
Setelah hujan deras dan banjir di Kota New York pekan lalu, kondisi cuaca untuk maraton pada Minggu (2/11) lalu cukup baik, dengan lebih dari 55.000 pelari ikut serta. Jika maraton besar terus digelar di cuaca panas, hal itu mungkin akan menimbulkan masalah penjadwalan bagi panitia.
“Kami mengadakan maraton pada musim semi dan musim gugur di belahan bumi utara, karena itulah waktu-waktu ketika kami mendapatkan suhu yang sejuk dan ideal untuk performa lari yang baik,” kata Andrew Pershing, yang memimpin tim ilmuwan Climate Central dan terlibat dalam studi baru tersebut, kepada CNN Sports.
“Seiring dengan pemanasan iklim, jika Anda memiliki perlombaan yang berlangsung pada minggu yang sama setiap tahun, iklim yang baik itu akan berlalu dan menjauh dari Anda. Kondisi yang baik itu menjadi semakin jarang terjadi.”
Salah satu solusi bagi penyelenggara mungkin adalah menjadwalkan waktu start yang lebih awal untuk maraton.
Contoh ekstrem dari hal itu adalah Kejuaraan Atletik Dunia 2019 di Doha, ketika maraton pria dan wanita dimulai pada tengah malam waktu setempat untuk mengompensasi cuaca panas di siang hari. Namun, saat itu suhu untuk balapan wanita mencapai 31 derajat Celsius dengan kelembapan 77%.
Seperti yang dijelaskan Maclennan, atlet jarang memiliki kemewahan untuk memilih kapan dan di mana mereka berkompetisi, terutama dalam acara seperti kejuaraan dunia dan maraton besar.
Maclenna mengatakan Olimpiade 2028 di Los Angeles mungkin menjadi contoh lain di mana atlet harus melakukan banyak penyesuaian. “Hal yang sama berlaku untuk setiap kompetisi di mana lingkungan berbeda dari tempat Anda berlatih. Ada pertimbangan yang perlu dilakukan mengenai cara Anda beradaptasi dan cara Anda melatih tubuh Anda untuk berkompetisi dalam kondisi tersebut,” ujarnya.
Rekor dunia maraton telah dipecahkan beberapa kali baik di kategori pria maupun wanita dalam beberapa tahun terakhir, meskipun banyak yang mengaitkan waktu yang lebih cepat ini dengan kemajuan teknologi sepatu.
Ruth Chepngetich, yang saat ini sedang menjalani larangan doping selama tiga tahun, memecahkan rekor wanita dengan waktu 2:09:56 di Chicago tahun lalu. Sementara itu, Kelvin Kiptum yang telah meninggal dunia memecahkan rekor pria di Chicago, dengan waktu 2:00:35 pada tahun 2023.
Namun, dengan meningkatnya suhu global, atlet dan pakar iklim sama-sama memperkirakan jenis-jenis prestasi seperti itu mungkin akan semakin langka di masa depan.
“Ada lebih banyak maraton dengan kondisi yang semakin buruk, yang mengurangi peluang bagi atlet wanita elite untuk memecahkan rekor. Secara keseluruhan, hal itu mengurangi kualitas acara … Saya yakin gelombang panas sudah mulai mengubah sejarah balapan,” ujar Maclenna.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56