JAKARTA, KOMPAS.com — Menjadi kelas menengah di Indonesia saat ini terasa semakin tidak mudah.
Ketika nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi melonjak, kelompok yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga nasional menghadapi ujian baru.
Kenaikan harga Pertamax per Rabu (10/6/2026) menjadi salah satu simbol paling nyata dari tekanan tersebut. Harga BBM RON 92 itu naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
KOMPAS.COM/DHARMA HARISA Sejumlah pengendara mengantre untuk mengisi BBM non-subsidi jenis Pertamax di SPBU Ampang, Kelurahan Ampang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Rabu (10/06/2026). Meski harga Pertamax naik menjadi Rp 17.000 per liter, antrean konsumen masih terpantau normal.Penyesuaian harga Pertamax dilakukan seiring pelemahan rupiah dan tekanan biaya pengadaan energi yang semakin besar.
Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga BBM mungkin sekadar tambahan biaya transportasi.
Namun bagi kelas menengah, dampaknya jauh lebih luas karena memengaruhi hampir seluruh pengeluaran rumah tangga, mulai dari transportasi, logistik, harga pangan, hingga biaya pendidikan dan kesehatan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah kelas menengah Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat untuk bertahan?
Kelas menengah yang kian rentan
Dalam beberapa tahun terakhir, kelas menengah Indonesia sebenarnya sudah menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 46,7 juta orang.
ANTARA FOTO/Salma Talita Ilustrasi kelas menengah, Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026)Angka ini mencakup sekitar 16,6 persen dari total populasi penduduk nasional dan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 47,9 juta jiwa.
Dikutip dari Kontan, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut posisi kelas menengah pada 2026 berada dalam fase yang rentan karena kenaikan biaya hidup berlangsung lebih cepat dibanding kemampuan pendapatan rumah tangga untuk menyesuaikan diri.
Menurut dia, kenaikan harga BBM nonsubsidi, harga pangan, biaya transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga cicilan berpotensi mendorong sebagian kelompok kelas menengah bawah turun ke kelompok rentan.
Fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Selama beberapa tahun terakhir, banyak rumah tangga kelas menengah mengalami situasi ketika pendapatan relatif stagnan, sementara pengeluaran terus meningkat.
Akibatnya, ruang untuk menabung, berinvestasi, atau melakukan konsumsi non-esensial menjadi semakin sempit.
"Masalahnya bukan hanya pendapatan yang stagnan, tetapi biaya hidup yang naik lebih cepat daripada kemampuan rumah tangga menyesuaikan diri," ujar Josua.
Rupiah lemah, beban hidup bertambah
Pelemahan rupiah menjadi faktor yang memperberat tekanan tersebut.
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan importir atau pelaku pasar keuangan. Pada akhirnya, pelemahan rupiah akan merembet ke biaya hidup masyarakat melalui berbagai jalur.
Indonesia masih mengandalkan impor untuk sejumlah kebutuhan industri, bahan baku, hingga energi. Ketika kurs rupiah melemah, biaya impor meningkat.
Kenaikan biaya tersebut kemudian diteruskan ke harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.Ini termasuk kemudian harga BBM nonsubsidi yang diumumkan naik pada hari ini. Kenaikan harga Pertamax merupakan buntut lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan kurs rupiah.
Masalahnya, kenaikan harga energi hampir selalu memiliki efek berantai.
Biaya transportasi meningkat. Ongkos distribusi barang naik. Harga bahan pangan berpotensi terdorong lebih tinggi.
Pada akhirnya, rumah tangga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mempertahankan standar hidup yang sama.
Ketika tabungan mulai terkikis
Salah satu indikator yang mulai menunjukkan tekanan terhadap kelas menengah adalah perlambatan pertumbuhan tabungan masyarakat.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan rekening dengan saldo di bawah Rp 100 juta hanya tumbuh 1,8 persen secara tahunan pada Maret 2026.
Angka tersebut turun tajam dibanding pertumbuhan 4,4 persen pada Februari 2026 dan 6,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Rizal Taufikurahman menilai kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih berada dalam tekanan.
Menurut dia, banyak rumah tangga terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan biaya hidup, harga pangan yang tinggi, pelemahan rupiah, beban cicilan, serta pendapatan yang belum sepenuhnya pulih.
Fenomena ini sering disebut sebagai "makan tabungan".
SHUTTERSTOCK/FARKNOT ARCHITECT Ilustrasi tabungan, menabung.Bagi rumah tangga kelas menengah, tabungan selama ini berfungsi sebagai bantalan ketika menghadapi guncangan ekonomi. Namun ketika tabungan terus tergerus untuk membiayai kebutuhan rutin, kemampuan rumah tangga menghadapi risiko di masa depan menjadi semakin lemah.
Risiko tersebut bisa berupa kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan mendadak, maupun kenaikan biaya hidup yang lebih besar.
Konsumsi mulai berubah
Tekanan terhadap kelas menengah biasanya tidak langsung terlihat dari angka kemiskinan. Gejalanya lebih dahulu muncul melalui perubahan pola konsumsi.
Menurut Josua, ketika tekanan ekonomi meningkat, rumah tangga kelas menengah mulai mengurangi pengeluaran non-pokok, menunda pembelian rumah dan kendaraan, menarik tabungan, hingga menambah utang konsumtif.
Porsi pengeluaran untuk makanan juga cenderung meningkat.
Josua menyebut porsi belanja makanan bisa naik dari sekitar 42 persen menjadi 56 persen bahkan 62 persen dari total pengeluaran rumah tangga ketika kelas menengah mengalami penurunan kesejahteraan.
Konsekuensinya, alokasi dana untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi, investasi, dan tabungan menjadi semakin terbatas.
Padahal, salah satu karakteristik utama kelas menengah adalah kemampuan mengalokasikan pendapatan tidak hanya untuk kebutuhan dasar, tetapi juga untuk peningkatan kualitas hidup dan mobilitas sosial.
Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan pokok, karakteristik tersebut perlahan memudar.
Penopang konsumsi nasional
Persoalan kelas menengah bukan sekadar isu rumah tangga.
HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.Dalam struktur ekonomi Indonesia, kelompok ini merupakan motor utama konsumsi domestik. Ketika daya beli kelas menengah melemah, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi.
Penjualan ritel melambat. Permintaan properti menurun. Pembelian kendaraan tertunda. Industri jasa ikut terpengaruh.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga selama ini menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Artinya, kesehatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan kelas menengah mempertahankan daya belinya.
Di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga Pertamax, tantangan terbesar kelas menengah bukan hanya bagaimana menyesuaikan pengeluaran hari ini.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mempertahankan posisi sosial-ekonomi mereka agar tidak tergelincir ke kelompok rentan.
Data mengenai penyusutan jumlah kelas menengah, melambatnya pertumbuhan tabungan masyarakat, hingga meningkatnya tekanan biaya hidup menunjukkan tantangan tersebut bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Bagi jutaan keluarga Indonesia, pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM mungkin hanya tampak sebagai angka-angka dalam berita ekonomi.
Namun di tingkat rumah tangga, angka-angka itu diterjemahkan menjadi keputusan sehari-hari: mengurangi rekreasi, menunda membeli rumah, menahan belanja, mengurangi tabungan, atau bahkan mengubah pola konsumsi.
Dan dari keputusan-keputusan kecil itulah, nasib kelas menengah Indonesia sedang ditentukan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang